[FF Freelance] Can You Love Me Sehun? (Chapter 1)

ghy

Can you love me Sehun? Chapter 1

 

Author             : @yenykristina

Genre             : romance, sad, married life

Rating             : PG-15

Length             : Chaptered

Cast                 : Oh Sehun, Park Chanyeol, Jung Sena

Disclaimer       : This is pure my imagination, do not plagiat!

 

 

Hidup akan lebih berarti jika kita dikelilingi orang orang yang menyayangi kita. Namun bagaimana jika mereka menghilang dari kehidupan kita untuk selamanya? Tentu saja hidup akan sangat mengerikan. Dalam waktu sekejap semuannya lenyap. Hanya meninggalkan duka  yang teramat dalam.

 

Hey ingat Tuhan yang membuat kita ada di dunia ini dengan segala kenikmatan yang dilimpahkan kepada kita. Dunia ini milik Tuhan dan Tuhanlah yang berhak mengatur jalannya kehidupan ini. Tuhan telah membuat skenario untuk kita, kita hanya perlu menjalankan peran tersebut dengan baik.

 

Tapi masalahnya mengapa Tuhan memilihnya  untuk menyandang status sebagai yatim piatu? Apakah dalam hal ini  Tuhan yang patut kita salahkan?  Bukankah semua manusia pada akhirnya akan mati? Gadis itu, Jung Sena termenung menatap hujan yang kian lebat di depan jendela kamarnya. Terlalu sibuk memikirkan nasibnya yang hidup sebatang kara tanpa orang yang ia sayangi.

 

Tiga bulan  lalu, Ia dan keluarganya berniat berlibur ke negeri sakura.

 

 

Flaskback on

Senyum cerah jelas terlukis di bibirnya. Hari ini ia dan keluargannya hendak berlibur ke Jepang. Sudah lama ia menginginkan berlibur ke negeri itu. Hiruk pikuk orang yang berlalu lalang di bandara tidak membuat gadis itu menghilangkan senyumannya barang sedikit. Ia sudah tak sabar ingin melihat bunga sakura bermekaran. Ia terkekeh memikirkan apa saja yang akan ia lakukan di sana, pasti akan sangat menyenangka.

 

Pikirannya melayang entah kemana sampai ia menabrak seseorang didepannya. “ceroboh” guman orang itu datar terlukis jelas diwajahnya ekspresi tidak suka. Ia segera bangkit dan menundukkan badanya. “Jesonghamnida” ucapnya gugup. Bagaimana bisa ia melamun saat seperti ini “bodoh” pikirnya.

 

 

Ia memberanikan diri menatap orang itu. Hanya tatapan dingin yang ia dapatkan, tapi sungguh ia ingin waktu berhenti berputar saat itu juga. Entah apa yang membuat ia tidak ingin beralih menatapnya.  Ia terlalu sibuk meneliti wajah lelaki tersebut sampai ia tidak mendengarkan apa yang lelaki itu katakan. “Dasar aneh” hanya kata itu yang dapat ia dengarkan, setelah itu Ia berjalan melawatinya.

 

Gadis itu masih terpaku ditempatnya sampai seseorang menyadarkannya.

“Ibu” kata gadis itu setelah mengetahui orang yang menyadarkan dari lamunan adalah Ibunya. “Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya  lembut sambil mengelus puncak kepala putrinya. “Tidak ada Ibu, ayo kita masuk. Sebentar lagi pesawat berangkat, ahh bahkan bau sakura sudah mulai tercium” senyumannya kembali mengembang tatkala mengingat bunga sakura bermekaran yang sedikit lagi dapat ia lihat.

 

Cuaca saat itu sedikit berawan, Ia sudah duduk manis disamping ibunya menunggu pesawat lepas landas. Ia menautkan jemarinya dengan jemari Ibunya dan tersenyum hangat. Gadis itu menepuk nepuk tempat duduk yang ada didepannya. Tak lama sebuah kepala muncul di balik kursi penumpang dan menatapnya penuh tanda tanya. “Berdoalah agar kita semua selamat sampai tujuan” ia pun menjawab ekpresi adikknya yang tertulis jelas “Ada apa?” di wajahnya itu.

 

Senyuman itu tersungging diwajah kecilnya “Aku baru saja berdoa agar ayah, ibu, nenek, dan juga kita berdua dilindungi Tuhan sampai tujuan”.

Sebuah usapan kecil mendarat di rambut hitamnya “bersiaplah, sebentar lagi pesawat lepas landas, dan jangan lupa kantung muntahmu” sebuah senyuman mengejek ia tujukan kepada adiknya, menjahili adikknya merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan.

 

“Seharusnya kau yang membawa kantung muntah. Kau tidak ingat tahun lalu kau membuat kita kita semua cemas, wajahmu bahkan seperti mayat hanya karena mabuk perjalanan” sebuah tawa terukir di wajah gadis kecil itu,  membuat kedua mata bulatnya terpejam sempurna.

 

“Baiklah kau menang” dan satu hal yang sangat ia hafal, gadis kecil itu selalu menggunakan titik lemahnya untuk membalasnya. Entah kenapa pikiran dan perasaan Sena tidak tenang. Ia menerawang keluar jendela dan menemukan bahwa cuaca diluar masih sama seperti tadi, berawan. Ia menundukkan kepala dan berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan kepadanya dan keluargannya. Sebuah guncangan kecil di pesawat dapat ia rasakan, pertanda pesawat sudah lepas landas.

 

“Apa kau baik baik saja? Kau terlihat pucat” wanita itu bertanya dengan raut wajah khawatir. “Tak apa ibu, telingaku hanya sedikit berdengung” jawabnya memastika bahwa ia tidak apa apa. “istirahatlah, nanti Ibu bangunkan” kata ibunya.

 

Tiba tiba kejadian beberapa menit lagu mengusik pikiran Sena, saat ia tak sengaja menabrak seorang lelaki di bandara tadi. Tampang lelaki itu begitu familiar di ingatan Sena. Mungkinkah dia….. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Tidak mungkin itu dia. Untuk apa dia kembali ke Korea? Bukankah keluarganya sudah pindah ke Amerika 5 tahun lalu. Senyuman kecil terukir di wajahnya. Ia teringat masa masa SMA nya dulu. Saat itu ada seorang murid laki laki yang telah kembali dari program pertukaran pelajar di Jepang dan dia kembali bersekolah di sekolah asalnya. Ia adalah Oh Sehun, yang terpaut 2 tahun lebih tua darinya. Itu berarti ia adalah sunbae Sena disekolah. Ia tak ingin munafik bahwa ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Kedatangan laki laki itu di kehidupannya  membuat Sena dapat merasakan satu kata yang bernama cinta.

 

Lelaki imut sekaligus tampan dalam waktu bersamaan membuat Sena tidak pernah berfikir untuk berhenti menatapnya, menatapnya dalam diam adalah kegiatan yang menyenangkan untuk melepas penat setelah berkutat dengan buku buku tebalnya. Sena mengaggumi lelaki itu dalam diam, ia tidak ingin Sehun mengetahui perasaannya. Ia takut jika ia mengunggapkan perasaannya penolakanlah yang ia terima. Memamng siapa dia? Berani beraninya gadis lugu yang sangat kuper mencoba mengungkapkan cinta di depan seorang pangeran tampan dan sangat populer di sekolahnya,  pasti banyak cemoohan yang ia terima. Ia pun lebih memilih menyembunyikan perasaannya.

 

Sudah hampir 1 jam pesawat mengarungi angkasa, perasaan Sena semakin kacau. Ia merasa sesuatu hal buruk akan terjadi, berulang kali ia meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik baik saja.

 

“Ibu kurasa aku ingin ke kamar mandi” Ia meminta izin kepada ibunya, mungkin dengan membasuh muka akan membuat perasaan gadis itu membaik. “Mau Ibu temani?” tawar Ibunya. “tidak usah Ibu, aku bisa sendiri” jawab Sena meyakinkan.

 

Ia berjalan melewati deretan kursi penumpang. Tak sengaja ia melihat sepasang anak kecil kembar yang sedang memperebutkan mainan, ia hanya tersenyum kecil dan meneruskan jalannya. Ia memasuki sebuah ruangan yang menandakan bahwa ruangan itu merupakan kamar mandi. Suara gemercik air terdengar jelas memenuhi ruangan kecil tersebut. Ia mengambil air di tangannya dan mengusapkan ke wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum kecil meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik baik saja.

 

Sebuah guncangan hebat mengagetkan Sena. Pikiran negatif menyelimuti benakknya. Ia sangat panik dan memutuskan kembali ke kursi penumpang untuk melihat keadaan Ibu dan keluargannya. Namun tidak bisa. Semua usaha telah ia kerahkan, pintu tersebut tidak dapat terbuka. Ia terus menyerukan Ibu dan Ayahnya berharap mereka baik baik saja.

 

Kali ini sebuah guncangan yang sangat hebat mendera pesawat yang ia tumpangi, kepalanya terbentur sebuah lemari kecil di sampingnya. Ia sangat kacau, pandangannya mulai berkunang kunang dan tidak ada yang bisa ia lihat, semuannya gelap. Dentuman besar membuat badan gadis itu terhempas ke sisi kamar mandi. Ia merasakan sakit mendera kepalannya, ia mencoba bangkit tapi ia tidak bisa, ia pasrah apa yang akan terjadi padanya. Ia sadar sekarang ia berada dalam zona abu abu antara hidup dan mati.

 

 

Ooo

 

Saat ia terbangun, ia menemukan dirinya berada di sebuah ruang bernuansa putih. Dengan sebuah infus melekat di tangan kirinya. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, namun sepasang tangan menahan pundaknya agar tetap berbaring. Gadis itu menatap sendu kedua orang yang ada di depannya. Mereka adalah Tuan Oh dan istrinya, sahabat dekat  sang ayah. “Kau sudah sadar? Jangan terburu buru bangun Sena-ya kau masih lemah” suara lembut seorang wanita paruh baya memenuhi ruangan serba putih yang sekarang ditempati Sena.

 

Sena tidak memperdulikan perkataan Nyonya Oh, Ia tetap bersikeras bangun dari ranjangnya “Bagaimana dengan keluargaku? Apakah mereka baik baik saja?”gurat cemas tergambar jelas di wajah pucatnya berharap kedua orang di depannya mengatakan bahwa keluargnya baik baik saja. Kedua orang itu hanya diam dan saling memandang, mereka khawatir jika mereka memberitahu keadaan yang sebenarnya kepada Sena.

 

Sera cemas karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Bibi dan Tuan Oh.

“Mereka baik baik saja kan?” Ia mengulangi pertanyaannya lagi air mata sudah terkumpul di pelupuk matanya dan siap jatuh kapan saja. Nyonya  Oh duduk di tepi ranjang yang ditempati Sena, Ia meraih tangan Sena dan menggenggamnya erat dan menceritakan semuannya kepada Sena. Sebuah kenyataan yang sangat pahit harus ia terima. Dalam kecelakaan pesawat itu hanya beberapa orang yang selamat, termasuk Sena. Ayah, ibu, adik dan nenek menjadi korban dalam kecelakaan maut tersebut. Ia tak kuasa menahan tangis, air mata nya tumpah begitu saja setelah mendengar penuturan Nyonya Oh. Suara tangisan yang memilukan keluar dari bibir mungil Sena, membuat siapa saja yang mendengarkannya seolah ikut merasakan apa yang Sena rasakan.

 

Flashback off

 

 

 

– –

 

Ya kecelakaan itu yang telah merenggut nyawa mereka. Orang orang yang selalu mendampingi Sena disaat suka maupun duka. Mungin menurut kalian gadis itu sangat beruntung dapat selamat dari maut, tapi ia murka, marah dan juga frustasi. Tidak ada rasa syukur sedikitpun dalam hatinya. Ia selalu menggerutu dan menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan tidak sekalian mengambil nyawanya?. Mengapa Tuhan memberikan cobaan ini kepadanya?.

Hidup sebatang kara di dunia ini sangat mengerikan. Tidak ada lagi Ibu yang selalu mendengarkan curahan hatinya, tidak ada lagi ayah yang selalu menjadi motivasi hidupnya, tidak ada lagi adik kecil yang selalu menemani hari harinya, dan tidak ada lagi nenek yang selalu membuatkan cookies kesukaan Sena. Setelah kematian orang tua nya gadis itu kehilangan semangat hidupnya. Tidak ada lagi Sena yang ceria. Tidak ada lagi senyuman yang dulu selalu menghiasi wajah cantiknya, tidak ada lagi kehangatan dalam tatapan matanya. Sekarang hanya ada sena yang dingin, pendiam, dan terpuruk.

 

Gadis itu bangkit dan berjalan keluar kamarnya. Ia berhenti sejenak menatap kosong ruangan yang dahulu ia gunakan untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Canda tawa yang dulu hadir seolah terputar kembali di kepalanya bagaikan sebuah film.

 

Ia melihat Ibu dan ayahnya sedang bercengkrama di depan televisi. Gadis itu mendekat, berjalan kearah sofa tempat ayah dan ibunya duduk. Dengan tangan yang bergetar ia mencoba meraih pundak Ibunya hanya untuk memastikan apakah ini nyata atau tidak. Sena berhasil menyentuh pundak ibunya yang terasa dingin. Wanita itu menoleh dan terpancar senyuman cerah menyapanya. Dengan ragu Sena duduk di sebela Ibunya. Air mata mengalir begitu saja , Sena memeluk  ibunya dengan badan yang bergetar seakan tak mau kehilangannya lagi. Ia mengeluarkan seluruh pikirannya selama ini dengan menangis dipundak ibunya.

 

Ia sadar dan membuka matanya, Ia mengedarkan seluruh pandangannya. Tidak ada Ibu yang dipeluknya tadi. Tidak ada Ibu yang tersenyum hangat kepadanya. Ia  mencari ibu dan ayahnya kesegala arah, tapi nihil. Gadis itu benci menyadari ini adalah halusinasi. Ia terus meneriakan ibu dan ayahnya, berlari ke seluruh ruangan berharap menemukan orang tuanya. Gadis itu jatuh tersungkur dan menangis dengan kuat di lantai yang dingin itu. Suaranya melemah seiring dengan pandangannya yang mengabur.

 

 

Sena membuka matanya dan menyadari bahwa sekarang ia idak berbaring di kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan sungguh ini bukan kamar Sena. “Aku ada dimana?” pikir gadis itu.

 

Sebuah pintu yang ada di depannya terbuka dan muncul seorang wanita dengan pakaian maidnya membawa nampan yang berisi makanan “bagaimana keadaan Nona? Sudah baikan?” tanya wanita tersebut.

 

 

“Saya membuatkan bubur untuk Nona, silakan dimakan” sera menatap binggung wanita yang ada dihadapannya itu.

 

 

“Ne, khamsahamnida” ucap Sena. Wanita itu tersenyum dan berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.

 

 

“Chogio” ucap Sena membuat wanita itu berhenti dan berbalik mendekati Sena.

 

 

“Apa ada sesuatu yang Nona butuhkan?” tanya wanita itu. “Dimana ini?” sebuah pertanyaan yang sejak tadi mengelayuti pikirannya akirnya ia lontarkan kepada wanita itu, ruangan ini begitu asing baginya.

 

 

“Kediaman keluarga Oh, saat ia datang ke rumah nona, nyonya menemukan anda dalam keadaan pingsan tergeletak di lantai. Nyonya sangat khawatir saat itu dan memutuskan untuk merawat nona di rumah ini” wanita itu menjawab kebingungan Sena yang terbanguun dari pingsannya.

 

“Ah, geureyeo. Apa nyonya dan tuan Oh ada dirumah?” Sena bertanya kembali kepada wanita itu.

 

“Mereka baru pergi 30 menit yang lalu, dan nyonya Oh berpesan agar Nona jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan”

 

“Ne, kamshahamnida ahjuma” hanya senyuman kecil yang menghiasi wajahnya, sungguh ia tidak ingin merepotkan keluarga Oh dengan kehadirannya di rumah ini, ia ingin kembali secepatnya ke rumah. Tapi setelah mendengar penuturan wanita itu, ia mengurungkan niatnya untuk pulang. Sungguh tidak sopan jika ia pulang begitu saja, setidaknya ia dapat menyampaikan terima kasih kepada nyonya dan tuan Oh setelah kembali ke rumah.

 

“Diluar cuacanya sangat cerah, nona bisa berjalan jalan di taman jika mau” wanita itu membuka gorden yang menutupi jendala kamar yang di tempati Sena, perlahan cahaya mulai memasuki pupil matanya dan terpampang sebuah taman bunga yang sangat indah. Beberapa bunga sedang bermekaran dengan banyak kupu kupu yang berlalu lalang menghinggapi bunga dan hei jangan lupakan air mancurnya, sangat indah dengan beberapa burung yang bergerumul di tepiannya.

 

 

Sena berpikir tidak ada salahnya jika ia menikmati fasilitas yang ada dirumah ini, hey jangan berpikiran yang macam macam. Ia hanya berniat untuk menjernihkan pikirannya dengan berjalan jalan ditaman.

 

Ia berjalan menuju sebuah taman yang berada tak jauh dari rumah tersebut. Ia hanya bisa mematung menyaksikan sebuah taman yang luas dengan bermacam bunga warna warni yang bermekaran. Sebuah jalanan kecil  yang dihiasi dengan berbagai macam warna batu yang sangat indah menyambut Sena. Ia berjalan mengikuti alur batu bersebut, bunga lili yang berwarna tumbuh ditepian jalan yang ia lalui. Gadis itu tak tak tahan untuk tidak menyentuh bunga bunga tersebut. Ia memetik sebuah bunga lili berwarna kuning, kesukaan ibunya.

 

Tak jauh dari tempat ia berada, ada sebuah kursi taman berwarna coklat dari kayu. Ia memutuskan untuk sekedar duduk dan menikmati pemandangan yang ada. Ia masih menggenggam lili kuning ditangannya. Ia menatap lili tersebut secara seksama. Tatapannya mensiratkan kepedihan mendalam yang melanda gadis itu. Setetes cairan bening jatuh di mahkota bunga yang ia genggam tadi, air mata yang ia bendung sedari tadi akhirnya roboh. Sena tak kuasa menahan tangis, Ia mengusap air matanya kasar. ia benci menangis, ia benci pada dirinya sekarang yang sangat rapuh.  Ia meruntuki dirinya sendiri. Kemana Sena yang dulu ceria?

 

Sebuah tangan terjulur di hadapannya dengan menggenggam sapu tangan. Ia menatap bingung saputangan yang kini sudah perpindah ke tangannya.  Gadis itu mendongak dan menfokuskan pandangannya ke sebuah objek yang ada di depannya. Ia membulatkan matanya, nyaris saja rahangnya jatuh jika saja seseorang didepannya tidak segera duduk di sampingnya. Sena masih bingung ada apa yang terjadi barusan. Bukankah ia pria yang dulu ia temui di bandara?

 

Gadis itu sadar dan menoleh cepat ke arah samping, tepat saat pria itu juga menolah kepadanya. Tatapan mereka bertemu, ia menatap pria yang berada di sampingnya itu. Kali ini ia tidak menghayal atau semacamnya, pria itu benar benar sama dengan cinta pertamanya dulu, Oh Sehun.

 

“Oh Sehun” sebuah kata meluncur dari bibir mungilnya, ia memstikan bahwa yang ia lihat bukan sebuah khayalan belaka.

 

“Jung Sena” kata Sehun

 

“Ba..bagaimana kau namaku?” tanya sena terkejut.

 

“i..itu “ kata Sehun menggantung, raut wajahnya panik seketika. Ia menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal

“Dari kalung yang kau kenakan” Sehun bernafas lega setelah menemukan sebuah alasan.

 

“Ah kalung ini” raut wajah Sena kembali ke ekspresi semula. Memang apa yang Sena harapkan? Tentu saja Sehun mengetahui namanya dari kalung yang melekat indah di leher putihnya itu.

 

“Lalu bagaimana bisa kau mengetahui namaku?” Sehun bertanya balik

 

“iitu dari..a aku” sekarang giliran Sena tergagap akibat pertannyaan Sehun. Ia tak kunjung menemukan alasan yang tepat dan lelaki yang duduk disampingnya sukses terkekeh melihat perilaku sena yang salah tingkah.

“Aku tidak tahu bahwa aku sangat terkenal” senyuman jahil tersungging di bibirnya. Gadis itu tak pernah menyangka bahwa Sehun senarsis ini, ia hanya mengetahui bahwa dulu Sehun adalah orang yang pendiam meskipun mempunyai banyak teman.

 

Gadis itu diam, ia terlalu bingung untuk sekedar membalas perkataan Sehun. Degup jantungnya terpacu, ia tidak menyangka perasaan ini datang lagi kepadanya. Persis seperti yang ia rasakan saat jatuh cinta dulu.

 

“apa kau sudah baikan? Semalam kami cemas melihatmu pingsan. Tak ku sanga kau pingsan selama itu” ia terkekeh setelah menyelesaikan kalimatnya.

 

Atmosfer cangung tercipta di antara mereka berdua. Sehun sadar bahwa ia telah salah melontarkan guyonan. “Ah…b.bukan masksudku..” belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, gadis itu terlebih dahulu menyela perkataannya.

 

“Ma..maafkan aku. Karena aku kalian jadi repot dan maaf telah membuat kalian cemas. Tenang saja setelah tuan dan nyonya Oh kembali aku akan segera pulang” ia berkata seperti itu sambil menundukan kepalanya. Yang ada dipikirannya sekarang ini ia telah membuat repot orang lain.

 

“Bukan itu maksudku. Hei aku hanya bercanda, sungguh kau tidak merepotkan kami sama sekali” Sehun menyesal telah berkata seperti tadi, seharusnya ia tahu bahwa keadaan gadis itu masih terpuruk setelah kematian keluarganya. Orang tua Sehun yang memberitahu bahwa gadis ini adalah anak dari sahabat baik ayahnya, keluarganya meninggal dalam kecelakaan pesawat dimana Sena juga terlibat.

 

 

Sena duduk di sebuah ruangan bergaya klasik menghadap sebuah meja kayu besar yang dikelilingi beberapa kursi. Ia tak sendiri di ruangan itu, Sehun juga juga terlihat duduk berhadapan dengan Sena. Keheningan tercipta diantara mereka, tidak ada salah satu pun yang berniat memecah keheningan ini walaupun hanya sekedar berbasa basi. Kedua orang ini masih bergelut dengan pikiran masing masing. Terlalu kaget mungkin, mendengar perkataan tuan dan nyonya Oh beberapa menit lalu.

“Atas dasar apa kau menerima semua ini?” sebuah kalimat datar sekaligus dingin terlontar dari mulut Sena. Ia menatap Sehun dengan pandangan herannya.

 

“Selama ini apa yang aku inginkan selalu terkabul. Mereka, kedua orang tuaku adalah malaikat yang di anugrahkan Tuhan kepada ku. Sungguh tak sopan sebagai putra satu satunya menolak permintaan dari orang tuanya. Baru kali ini mereka meminta sesuatu kepada ku, kurasa memang sekaranglah waktu yang tepat untuk berbalas budi atas apa yang mereka berikan selama ini” jawab Sehun tenang. Atmosfer tegang sungguh kentara melalui kontak mata yang mereka ciptakan, perbincangan yang sangat Sehun benci, sebuah perjodohan. Ia tak suka jika seseorang mengatur kehidupan pribadinya. Sebuah skenario yang telah Tuhan ciptakan untuk mereka yang berjudul takdir.

 

“Apa..rasa kasihan yang membuatmu menerima perjodohan ini?” Sena menundukkan kepalanya. ia ingin menolak perjodohan ini, tapi gadis itu masih punya hati untuk tidak mengecewakan tuan dan nyonya Oh  yang selama ini sangan baik terhadapnya.

 

“aku menerima perjodohan ini bukan atas dasar rasa kasihan terhadapmu. Aku tidak ingin membuat orang tua ku kecewa dan menilaiku sebagai anak durhaka.” Jawab Sehun masih dengan tatapan datarnya.

 

“Dalam sebuah pernikahan bukankah cinta sangat berperan dalam hal ini? pernikahan adalah hal sakral yang dilakukan hanya sekali seumur hidup, tanpa cinta bagaimana kita dapat membangun sebuah keluarga yang bahagia? Kau tahu apa yang terjadi jika sebuah tanaman tidak disiram? Tentu saja tanaman itu akan layu dan kemudian mati. Seperti itulah cinta, ketidakhadirannya cinta akan membuat sebuah rumah tangga hancur”. Sera menahan pedih ketika mengatakan ini. Ia berpikir  bagaimana bisa sebuah keluarga dapat berdiri kokoh tanpa sebuah pondasi yang kuat dari cinta kedua belah pihak?

 

“Bukankah kau menyukaiku, Jung Sena?”

 

DEG

 

“A..apa maksudmu Sehun?”

 

 

tbc

Visit yenoxoxoworld88.wp.com for more fanfiction J

 

18 thoughts on “[FF Freelance] Can You Love Me Sehun? (Chapter 1)

  1. woho.. daebak ceritanya.. dunia itu selebar daun kelor!
    teernyata orang yg disuka sena itu putra keluarga oh, yg udah nolongin sena
    klo diliat dr cerita di atas si.. kayakya sehun juga diam-diam suka ma sena, merhatiin gitu 😀

    nextnya palli thor.. he8

  2. Kapan chap 8 nya thor ko’ lama banget ₪G̶̲̥̅̊
    @̤̥̣̈̊̇
    k updatenya ???

    Truss chap 7 kan di protect tuch !!! Dah comment tp ko’ ₪G̶̲̥̅̊
    @̤̥̣̈̊̇
    k juga masuk2 passwordnya….

    Ħhadoº°˚˚˚˚°ºohhԊ
    Padahal keren ffnya…

  3. Wahhh……. FF-nya keren thor. Nasib Sena kasian banget….. Tapi keluarga Oh baik juga. Mau ngebantu Sena yang sebatang kara. Jadi Sehun mau nikah sama Sena cuma gara-gara ga mau disebut anak durhaka ya ? Jahat amat Sehun nya. Nice.

    Maaf kalau komentar saya ada yang menyakiti perasaan author. Keep spirit ya !! 😉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s