Belated Remorse

belated-remorse

Belated Remorse

by

Nox

Main Cast: Jiyeon (T-ARA), Eunjung (T-ARA) || Genre: Life, Friendship, Dark || Rating: PG 13 || Lenght: Ficlet (about 679 words)

“Siapa yang peduli dengan masa depan. Yang penting kita harus bertahan hidup!”

.

 

Aku bersusah payah bangkit dari sudut ruangan. Dengan keringat yang mengucur deras, kulangkahkan kakiku yang bergetar. Ini bukanlah ketakutan, tapi tubuhku sungguh tengah berantakan. Lemari, kursi, tempat tidur, segalanya kujadikan tumpuan supaya kakiku lebih ringan menopang.

TOK! TOK! TOK!

Bunyi pintu yang digedor itu terdengar semakin kencang. Rasanya aku ingin berteriak, memberitahu kakakku bahwa sebentar lagi aku akan membuka pintu untuknya. Bahwa di rumah minim kebutuhan premier ini aku masih hidup. Masih bernapas walau tersekat.

“Jiyeon-ah..” Samar-samar, suara perempuan yang teramat kukenal terdengar merintih kesakitan. Cenderung putus asa.

Kembali aku ingin berteriak, memberitahu aku masih di sini. Namun, membuka mulut pun rasanya aku tak sanggup. Mulutku kering. Tenggorokanku sakit. Dan sekujur tubuhku luar biasa nyeri.

Klek.

Aku tak sungguh melihat kenop pintu yang kuputar. Pandanganku semakin buram, semakin remang.

“Jiyeon-ah..”

Eunjung, kakakku tergopoh-gopoh melesat ke dalam rumah dengan rambut panjangnya yang kusam pula berantakan. Perempuan itu segera menuju lemari di sudut ruang tamu, mengobrak-abrik isinya layaknya seorang perompak kelaparan yang mencari makan. Dan aku tahu benar apa tujuan Eunjung.

“Jangan..”

Kuhampiri perempuan yang membelakangiku itu, setengah menarik pundaknya. Eunjung mendelik, tetapi bukan ekspresi garang yang nampak. Aku justru kasihan. Kantung matanya hitam legam, dua bibirnya kering, pucat dan menyerupai kertas. Sedang tatapannya sungguh sayu, terlihat beberapa bulir air mata yang menggenang di sudut matanya. Itu pula yang terjadi padaku. Itu pula yang terjadi pada wajahku.

“Diam, Jiyeon. Aku tahu apa yang aku lakukan,” ucapnya tegas. Dan aku bersumpah bahwa suara perempuan itu benar-benar parau.

“Tak ada yang dapat kita jual lagi, eonnie.” Aku menukas.

“Pasti ada. Pasti ada!” Kali ini Eunjung berteriak. Langkahnya cepat, menyisir setiap sudut ruangan dan mengacaukan seluruh tatanan. Segala barang ia lempar ke tengah ruangan. Tapi tiada yang berharga. Hanya beberapa bungkus plastik dan koran lama.

“Apa yang harus kita jual? Apa yang harus kita jual?!” Eunjung mengulang kalimatnya laksana mantra. Sedang irisku hanya mengikuti ke mana langkah kaki membawanya. Aku tahu Eunjung tak dapat menemukan apapun.

“Cukup, eon! Kita harus berhenti!” Aku mencoba berteriak. Kali ini tubuku sudah tak berdiri tegap, melainkan duduk sembarang di atas ubin dingin di pinggir ruangan.

Eunjung melangkah cepat menuju arahku. Tak dapat kupastikan bagaimana air mukanya lantaran pandanganku kembali buram. Yang pasti, suaranya mendengung di gendang telingaku.

“Apa yang kau katakan, Jiyeon-ah?! Dalam enam sampai delapan jam, kita bisa lebih parah dari ini bila tak mengonsumsi obat itu! Sakau, kemudian mati, Jiyeon-ah. MATI!”

Ucapannya seperti menampar wajahku, mencoba mengembalikan kesadaran. “Tapi apa lagi yang harus kita jual? Harta, perhiasan, barang elektronik, segalanya telah hangus hanya untuk obat sialan itu.” Kutatap bola matanya lekat-lekat. “Dan jika ini terus berlanjut, tak lama lagi kita akan tinggal di bawah kolong jembatan, eon!”

Eunjung mendengus, berdiri dan menurunkan pandangannya agar bisa menatap wajah sayuku. Aku sedikit menggigit bibir tatkala rasa nyeri sekonyong-konyong membuat detak jantung berpacu.

“Siapa yang peduli dengan masa depan. Yang penting kita harus bertahan hidup!” bentaknya kencang.

“Cukup, eon! Kita harus berhenti menggunakan heroin, benda itu sudah merusak kita. Merusak segalanya! Aku tak mau terus-menerus seperti ini! Lebih baik aku mati!”

PLAK!

Panas. Sungguh terasa panas setelah telapak tangan Eunjung mendarat di pipi kananku. Tiba-tiba, Eunjung bersimpuh dan merengkuhku erat, terlampau erat. Dia terisak di atas bahuku. Dapat kurasakan air matanya berjatuhan mengenai rambutku yang kusam.

Aku tak mengerti.

“Maaf.”

Suara Eunjung lembut, nyaris menyerupai suaranya yang dulu. Beberapa tahun yang lalu sebelum hidupnya bergantung pada obat-obatan terlarang. Suara lembut yang aku rindukan.

Sungguh, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bahkan tak tahu mengapa ia menangis, mengapa mendadak ia memelukku dan mengucap permohonan maaf. Ragu, tangan bergetarku membelai punggung Eunjung.

Dia mendekapku makin kuat, isaknya terdengar semakin jelas.

“Maaf, Jiyeon-ah. Maaf telah melibatkanmu, turut menjerumuskanmu di lubang yang salah. Harusnya, dulu tak kupaksa kau menelan obat itu. Maaf telah menghancurkan hidupmu, Jiyeon-ah. Maaf.”

Setelah ucapan itu berakhir, baru kusadari bahwa sedari tadi air mataku mengalir. Kembali kuusap punggung Eunjung lembut. Tak ragu, dan aku tahu mengapa aku melakukan ini. Jari-jari tanganku membalas rengkuhannya erat. Kudekatkan kepalaku ke telinganya, berbisik, “Tak apa.”

-Belated Remorse-

 

HNote:

Diadaptasi dari sebuah cerpen yang pernah kubaca beberapa tahun lalu, tapi aku lupa judul dan pengarangnya. Fakta-fakta tentang Heroin aku dapet dari seminar KRR di sekolahku.

Err, gimana? Biasa aja, ya fanficnya :/

Do leave your comment :)

11 thoughts on “Belated Remorse

  1. Hmmm,pertama kupikir kakaknya jiyeon yg ketuk pintu itu org jahat ternyata bukan. Bagus ceritanya gak ketebak klau mrk itu pencandu narkoba,feelnya cukup dapatlah bisa merasakan keresahan mrk 🙂
    P.S: posternya bagus 🙂

  2. Huahhh keren..
    Kasian Jiyi & eunjung eonnie., kenapa mereka harus jadi pecandu sih tapi aku suka ceritanya..

    Next FF Jiyeon lainnya ditunggu yah 😉

  3. sama sekali ga nyangka cast utamanya pecandu narkoba 😡 deskripsinya menarik, dan misterius. jadi jiyeon dan eunjung kakak beradik yang sama2 make narkoba (heroin). mereka sakau, dan yeah.. ngejual apapun asal dapat barang haram itu. akhirnya itu yang bikin gemes. dua kata ‘tak apa’ sungguh tak sebanding dengan hidup sengsara yang jiyeon terima.. och.. good job ><

  4. menegangkan sekaligus mengharukaaaaan T.T Jiyi………….Jungie………………..!!
    SAY NO TO NARKOBA 😉

    FFnya bagus thor, keep writing^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s