Kilauan Senja – Chapter 2

Kilauan Senja

Kiran storyline

Title  :  Kilauan Senja – Chapter 2  ||  Cast  :  Lee Junho (2PM) & Kim Sohyun (Actress)  ||  Support  Cast  :  Nickhun Horvejkul (2PM), Ok Taecyeon (2PM)  ||  Genre  :  Angst, Romance, Action  ||  Rating  :  PG-16 ||  Length  :  Chapter

Summary:

Saat sudah waktunya ingat, kau akan mengingatnya. Saat sudah waktunya lepas, kau berusaha menahannya. Saat sama sekali tak ada hujan, kau terbuai dalam kilauan senja. Lalu kau akan tahu sebenarnya ke mana jalanmu diberhentikan olehNya. —Lee Junho, untuk Sohyun. 14 Juni 2011, di Ambang Batas Senja Terlihat.

Previous Part  :

Prolog | 1

Background Music:

Yiruma – Moonlight

*****

“Sebenarnya, siapa kau di hidupku?”

Junho terdiam. Sebenarnya ini adalah pertanyaan ringan. Tapi, bagaimana ya? Apa Sohyun mau menerima penjelasan yang pasti tak bisa diterima oleh nalarnya?

“Seberapa besar pengaruhmu di hidupku?” desaknya lagi. Jawaban pertama saja belum bisa diutarakan Junho. Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan kedua?

Kalau objek pertanyaannya di balik, mungkin Junho masih bisa menjawabnya.

Karena pada kenyataannya, memang satu-satunya yang tampak berpengaruh di hidupnya memang adalah hanya perempuan ini. Tapi apa hal itu bisa djelaskan dengan terang-terangan?

Junho menunduk. Ia memegang ujung pundak Sohyun dengan salah satu tangannya. “Tidurlah. Kau kelihatan masih lelah.” Junho mengangkat tubuhnya. Melangkah keluar.

Bagi seseorang yang punya jiwa ingin tahu, jelaslah ini sama sekali bukan penyelesaian yang baik. Dan keingintahuan itu benar-benar ada pada diri Sohyun, “Tunggu—“ ucap Sohyun bermaksud menahan kepergian Junho dari tempat ini.

“Kenapa kau menolak pertanyaan itu? Apa ada yang salah dengan diriku? Atau tiba-tiba kau menyadari sesuatu yang—“

“Mungkin kalau kau mengingatku, aku akan mencoba menambahi penjelasan yang muncul di otakmu.” Junho tersenyum ringan. Lalu benar-benar menghilang di balik pintu.

“Ahh!” pekik Sohyun untuk memancing Junho datang lagi ke tempatnya semula. Dan benar, Junho datang lagi dengan ekspresi khawatir yang tak biasa. Sebenarnya berapa lama pria itu selalu menahan perasaannya hingga terlihat terlalu berlebihan saat hanya mendengar sebuah pekikan?

“Kau kenapa?” ucap Junho langsung memegang tangan Sohyun. “Apa ada bagian yang sakit?” ucapnya lalu meraba-raba pundak, lengan, dan leher gadis itu.

Sohyun menangkap jemari Junho tepat di telapak tangannya. “Apa kau membeliku dari pria yang mencarimu setengah mati itu?”

“Aku tidak papa kalau kau lebih suka mengartikannya begitu.” Kenyataannya memang begitu kan? Bukankah kemarin dia memberikan perusahaan kepada Taecyeon agar gadis ini bebas dari kondisi yang sama sekali tak dimengerti olehnya?

“Kalau aku sudah lebih baik, apa aku boleh pergi dan melanjutkan aktivitasku seperti biasa?” tanya Sohyun penuh harap. Ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tidak dijual.

“Kalau kubilang jangan, apa kau mau menurutinya?” balasnya datar. Lee Junho—kau berhasil membuat gadis di hadapanmu resah.

Sohyun meluruskan tubuhnya di kasur. Jawaban Junho sama sekali tak memberikan kepuasaan. Apa ia benar-benar dibeli oleh pria di hadapannya ini? Jadi apa bedanya sekarang? Terlepas dari aksi pemukulan, ia malah menjadi hak milik seorang pria tanpa persejutuan? Lalu inikah keadilan yang menjadi hak milik perseorangan?

Dan dia hanya menangis di balik selimut yang diangkatnya sampai sebatas kepala. Memang apa lagi yang bisa dilakukannya? Mengelak? Di antara kepincangan yang mungkin dilalui tubuhnya? Bukankah lebih baik begini? Setidaknya ia masih bisa memikirkan bagaimana baiknya nanti. Yah.. nanti.

~k~

Sohyun melangkahkan kakinya yang masih penuh perban itu lebih dekat ke sumber suara. Ia mengintip dari celah dinding artistik—kebetulan dinding itu punya lubang pada bagian-bagian tertentu—yang paling dekat dengan posisinya.

Di sana ia melihat Junho yang tampak kesal. Ia menendang kursi di hadapannya sampai melesat jauh dari posisi semula. Dan dua orang yang berhadapan dengannya memang tampak menunduk, menghindari tatapan beracun Junho yang siap dilemparkan kepada mereka kapan saja.

“Hyung, kurasa kita harus menyerah untuk mendapatkannya.” ucap salah satunya. Ia mengangkat sedikit wajahnya. Ini adalah solusi yang sangat dibenci Junho. Bagaimanapun menyerah bukanlah sebuah pengakhiran masalah.

“Kurasa Woobin benar. Sudah saatnya menyerah. Celah yang kita miliki memang tidak terlalu bisa kita masuki. Mereka hanya terus mengulurnya sampai saat kita mengakhirinya.” tambah yang lainnya. Pria itu juga terlihat takut bahkan sampai tak berani melirik bosnya yang tampak tegang.

“Pergilah,” ucapnya hampir berbisik. Mereka menunduk memberi hormat lalu meninggalkan Junho yang tampak berpikir tentang penyelesaian yang lebih manis daripada menyerah.

Sohyun tidak lagi memperhatikan kejadian itu. Lagipula ia sama sekali tidak mengerti tentang objek pembicaraan yang terlihat sukar itu. Ia berbalik, menuju dapur tanpa diketahui Junho.

Beberapa menit berlalu. Sohyun terduduk di depan minibar dan masih menggenggam gelas kaca yang sudah tak berisi air. Ia hanya merasa ia pernah mengalami kejadian ini. Selalu begitu. Hanya merasa, tanpa detail. Rasanya begitu kering dan memuakkan. Kenapa kalau bukan de javu yang datang pasti selalu bersisa ilusi yang belum tentu benar?

“Kau sudah bisa jalan?” ucap pria bermata sipit itu mengagetkannya. la menarik kursi di sebelah Sohyun lalu mendudukinya. “Apa lukamu sudah baikan?”

“Ya,” jawabnya dingin.

“Jawabanmu dulu juga seperti ini,” ucap Junho datar lalu berdiri dan membuat kopi di balik minibar dapur itu. “Hanya saja ada beberapa bagian yang kau lupakan,”

“Maksudmu?” tanya Sohyun tak mengerti. Dari awal, ia memang tidak mengerti motif pria ini. Pria yang punya ekspresi datar, dingin, kelam dan—syukurnya—memikat itu selalu saja berusaha mempengaruhi pemikirannya. Ia selalu berbicara masa lalu. Ya, masa lalunya dengan seseorang. Dengan Sohyun.

Dari uraian kata-kata yang diucapkannya itu, hanya ada dua kemungkinan; Sohyun yang benar-benar melupakannya atau Junho yang benar-benar berharap kejadian itu nyata.

“Dulu kau meneriakiku saat kau melihatku seperti tadi.” Lagi-lagi bukan hanya debu yang dilemparkan ke udara, tapi partikel koloidnya. Ucapannya benar-benar ringan seolah meremehkan keadaan.

“Kau memancing ingatanku?” Sohyun melepas pegangannya pada gelas kaca. Ia berbalik menatap Junho. “Kenapa tidak kau katakan saja siapa aku di hidupmu? Kenapa kau seolah-olah mengatakan kalau aku terkena amnesia parsial?”

Junho tersenyum hangat, senyum yang tak pernah ditunjukkan kepada orang lain. “Kurasa itu yang disebut kebetulan,” ucapnya memecah kata-kata yang tampak sedang berputar di kepala Sohyun.

Sohyun diam. Ia berpikir lagi mana yang sekiranya harus ia ingat dengan baik. Tapi nihil. Saat ia memaksakan diri, ia memang tak bisa menemukan apapun.

“Jangan memikirkannya,” ucap Junho saat menyadari perubahan air muka Sohyun. “Saat sudah waktunya ingat, kau akan mengingatnya.”

Sohyun terdiam. Ia merasa hanya punya paranoid yang terlalu tinggi terhadap suatu keadaan. Saat sudah waktunya ingat, kau akan mengingatnya. Saat sudah waktunya lepas, kau berusaha menahannya. Ya, ia yakin pernah menemukan kata itu. Tapi di mana? Di mana sisa-sisa penggalan kata itu? Ia yakin kata-kata itu belum berakhir.

“Kadang-kadang saat aku sedang memikirkan sesuatu, ada beberapa kejadian yang terlintas begitu saja di otakku. Sesuatu yang tidak kukenal tapi terasa sangat dekat. Sesuatu yang terasa nyata sampai-sampai aku berpikir kalau aku punya kepribadian ganda.”

Sohyun menurunkan daya akomodasi di matanya. Sekarang tatapannya sama sekali tak fokus. Sebenarnya arah mana yang ingin dia lihat? Lukisan di belakang Junho atau malah pria itu sendiri?

Sohyun kembali membuka pikirannya, “sebelum bertemu denganmu, aku mengabaikannya. Dan entah karena apa, sekarang saat melihatmu aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.” ujarnya kepada pria yang sama sekali tak terlihat peduli itu. Tapi di balik tangan pria yang sedang sibuk membuat garnish dua cangkir kopi itu, ada sesuatu yang bergetar. Harmonis. Membuat kopi itu terlihat lebih indah.

“Mungkin ingatanmu akan segera kembali,” responnya saat ia sudah kembali ke bentuk aslinya. Datar.

Ia mengangkat cangkir itu ke depan Sohyun dan memegang salah satunya untuk dirinya sendiri. “Ini, minumlah. Capuccino. Kesukaanmu.”

“Hei—apa kau seorang barista?” tanya Sohyun tak percaya saat melihat cream yang dituangkan pria itu terlihat sangat artistik. Junho menggambar bunga mawar dari sisi melintang. Sangat cantik.

“Kali ini kau mengatakannya persis.” ujarnya pelan. Sohyun jadi menyadari keadaannya sendiri dan membuang ekspresi terkesima dari wajahnya. Ia sadar, terlalu banyak yang dilupakan dengan pria itu. Apa kau benar-benar mengingatnya sampai sedetail itu?, batinnya.

Jadi ia mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apa benar Lee Junho terlalu menyakitkan sampai ia melupakan pria itu tanpa sisa? Apa mungkin pria itu membuatnya merana di tengah kejadian-kejadian kecil yang tampak bahagia? Lalu, yang paling penting, bagaimana bisa hal ini terjadi padanya? Kecelakaan kah? Bunuh diri yang gagal mungkin? Atau malah pernah sakit jiwa? Lalu mana yang tampak benar diantara kenormalan-kenormalan kehidupan yang dilaluinya?

Ah, mengingat tentang kehidupan, ia jadi merindukan pekerjaannya. Walaupun ini bukan restoran terkenal, tapi menjadi koki di usia yang muda terlihat sangat hebat kan? Sayang sekali hal itu sama sekali tak bisa dirasakannya lagi. Pasti restoran itu akan mengeluarkannya bahkan saat ia sama sekali belum memberikan konfirmasi kronologi ketidakhadirannya. Jadi bolehkah ia sedikit menyalahkan pria di hadapannya itu?

Menyebalkannya, pria itu memang hanya memasang ekspresi dingin. Dan sepertinya sama sekali tak tertarik dengan keluhannya. Sohyun mengangkat tubuhnya tanpa mencicipi kopi yang menggiurkan itu. Ia melangkah menjauh. Pergi meninggalkan Junho yang masih dengan kepribadian sama.

~k~

“Jadi sekarang kau sudah menemukanku kan?” jawab Junho sedikit bercanda.

Junho menyukai pria ini. Benar-benar menyukai kepribadiannya yang cerah. Bukankah dia satu-satunya yang punya humor lumayan tinggi di  antara beribu-ribu kegelapan yang dijalaninya?

“Hyung, kau bercanda ya? Kau kan invinsible.” Nickhun memang tak pernah berhenti memuji pria yang kelihatan dingin di depan siapapun itu. Ia hanya tahu ia selalu kagum dengan Lee Junho.

“Aku punya beberapa wine baru yang lumayan enak.” Ia mengajak Nickhun yang tampak antusias menuju minibar. Junho menuangkan dua gelas wine dan bersulang.

“Kau mendapatkannya dari mana? Ini enak sekali.” ucap Nickhun saat wine itu sudah jatuh ke dalam mulutnya. “Berapa usianya?”

“Rumania. 12 tahun.” jawab Junho singkat.

“Ngomong-ngomong, kenapa hyung menyuruhku datang?” tanya Nickhun saat Junho kelihatan sedang memikirkan sesuatu.

“Ah itu,” ucap Junho sedikit berpikir. Mungkin karena memikirkan peristiwa beruntut yang tak menyenangkan, Junho jadi lebih sering tidak fokus dan melamun. Kenyataan ini sama sekali bukan dirinya.

“Ada apa?” tanya Nickhun saat membaca mimik wajah Junho. “Apa ada yang tak menyenangkan?”

“Taecyeon menemukan gadis itu,” ucap Junho yang tampak berusaha menyusun kata pengantar yang lebih baik. Ia meletakkan gelasnya di atas meja. “Dan sekarang dia ada padaku dan sama sekali tak mengingatku.”

“Hyung—“ ucap Nickhun mulai simpatik. “Kau masih menyukainya?”

“Lebih dari itu.” Junho menghela napasnya. “Aku kecanduan hingga aku merasa sedih karena rasa berlebihan ini. Tapi aku besyukur dia tak mengingatku. Akan lebih baik untuknya jika ia tak mengingat masa lalunya denganku.”

Nickhun terdiam. Ia tidak berani memasuki kisah elegi dari seorang Lee Junho.

“Bantulah dia melepaskan diri dariku. Kau tahu kan aku hanya seorang pria tak berguna yang berusaha memburunya? Parahnya, lagi-lagi ia kehilangan impiannya karena aku.”

~k~

Sohyun bergerak mendekat ke tirai yang setengah terbuka itu. Ia terduduk, meringkuk, lalu mempelkan bahunya pada dinding kaca di balik tirai itu. Ia memejamkan matanya, sesekali ia menghembuskan napasnya pada kaca di sampingnya. Ia mengabaikan hamparan malam yang tenang. Dan…

Ia ingat lagi, pada kejadian yang hanya membuatnya berputar-putar di tempat yang sama. Ya, Lee Junho. Selalu saja hanya pria itu yang tampak fokus di dalam ingatannya yang rumit.

Saat ia kembali mengingat kronologi terpentalnya dirinya di sisi lain kehidupan ini. Ia baru menyadari ada yang telewatkan dari pikirannya.

Anak.

Ya, apa benar—tentang anak itu—anaknya—anak Junho—anak yang disinggung Taecyeon waktu itu, pernah benar-benar ada? Tapi baik di rumah ini maupun di pertama kali saat ia terbangun di suatu pagi musim panas sama sekali tak ada anak. Apa jangan-jangan karena anak itu bukan anaknya… Sohyun dibuang Junho dan dianggap masa lalu? Lalu, kemana perginya anak itu?

Ah, seandainya ingatannya berfungsi. Ia pasti tidak akan tergelincir ke tempat yang penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban semacam ini.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Junho mengagetkannya. Sudah berapa lama pria itu ada di sana dan hanya mengamatinya? Ia mendekat dan meletakkan sebuah tas besar berisi pakaian di atas kasur. Junho menghampiri Sohyun yang terduduk di samping dinding kaca lalu duduk di hadapannya, “Kalau kau tidak bisa tidur, biasanya kau mendengarkan musik dan membuatku selalu mematikannya.”

“Benarkah? Apa aku semelankolis itu?” ucap Sohyun malas-malasan. Ia sudah terlalu lelah membahas dirinya di masa lalu.

“Apa sekarang kau begitu ceria?”

“Lumayan. Tergantung konteksnya.” Sohyun membuka matanya. Ia mamposisikan dirinya duduk tegap menghadap Junho yang sama sekali tak menatapnya. “Ngomong-ngomong musik apa yang kusukai?”

“Yiruma. Moonlight.”

“Musik yang seperti apa?” tanya Sohyun mulai sedikit tertarik dengan pembicaraan ini.

Junho berdiri. Ia mendekat ke arah music player yang ada di kamar yang ditinggali Sohyun itu. “Seperti ini,” jawabnya lalu kembali duduk di hadapan Sohyun.

Junho memejamkan matanya  dan ikut menyenderkan tubuhnya ke dinding kaca. Ia menyenderkan punggungnya pada dinding kaca itu sehingga Sohyun bisa melihat tubuhnya dari samping. Sedangkan gadis itu, ia malah semakin rapat menekuk lututnya dan menempelkan bahunya pada kaca yang jadi tumpuannya.

Lee Junho memang benar-benar tampan. Tapi lagu ini lebih mengusik pikirannya. Ia sangat mengenal nada-nada ini. Suara menenangkan yang datang dari piano ini…

Ia ingat bagaimana biasanya ia mendengarkan lagu ini. Lee Junho. Tiba-tiba saja pria itu menjadi jelas di ingatannya karena lagu ini.

Entah karena apa Sohyun meneteskan air mata. Dadanya sesak seiring ingatan itu bermunculan. Ia mendekat ke arah Lee Junho, menyentuh pipinya dengan tangannya yang bergetar. Junho hanya melenguh.

“Aku ingat,” ucapnya parau.

Junho membuka matanya, bersiap tentang kemungkinan terburuk.

Tapi, ia malah dihadapkan pada kenyataan yang tak dibayangkan sebelumnya. Sohyun mencium bibirnya sekilas.

*****

to be continued

49 thoughts on “Kilauan Senja – Chapter 2

  1. aku suka bahasa nya author >.< bener deh kayak berasa baca novel2 penulis terkenal hoho . di tunggu next chap nya

  2. Demi Junho yang manis. surat Junho untuk Sohyun manis banget. Dan demi Junho suamiku semoga aku juga bisa mendapatkan surat itu.

    Bener. baca ff eonni itu berasa baca novel. Novel terjemahan. Cukup berat, tapi disitulah kesenangannya.

    Semangat buat karya karyanya ^^

  3. Oh amnesia toh? Apa bukan? Nah itu soal masa lalu, bener yang dibilang Taec ya? #jleb, memdadak sesak hati ini :O….. Sebenernya Junho mau Sohyun ingen ngga sih? Dia usaha tapi bilang ke Khun ‘lebih baik—-[kepanjangan kalo dijabarin -_-]…… sama terakhir, Khun called Ho ‘hyung’, hhhaha ngga kebayang…….. ps: aku ngetik komen ini ngga pake semangat 45, maklum mata tinggal 5watt… jadi ngga ada suara getrokan keyboard vs jari xD…. Fighting kiiii ><

    • Bentar bentar… aku baca satu satu dulu ajaa yah biar aku selamat sampe akhirat *eh

      Wheleeh… kenapa sih jil sensitif sama anak.
      Jangan jangan…. *ehem anaknya diculik kamu ya?

      Whahaha… jadi ini nggak ada bunyi ceprok ceprok dong *apasih

      • iya silahkan dibaca dan dicermati komen saya ini /hah?/… aku sensitif sama anak gara-gara kamu ki, setelah kamu buat Chansung punya anak di ff mu sebelumnya, sekarang Junho /gulingguling/….. tapi berkat kamu juga sekarang aku lebih tertarik sama ff yang konfliknya semacem ini hhaha….. iya maaf ya ngga ada bunyinya, tapi kapan-kapan kalo perlu aku nyalain petasan pas komen biar ada bunyinya #ehhh -_-

      • Whuehehe aku ternyata mind changer ya haha~
        Muehehe… punya anak ya? Hm… susah juga yaa genrenya. Eh ini minta kode dibuatin FF yang kayak gini? *hm

        Eh denger nggak tadi ada bunyi apa?

      • hhahahah iya—emm emang mind charger itu apa ya??? u.u….. susah gimananya? bukannya kamu udah bikin yang genre begitu…. Eh emm, ngga kok ki, aku ngga minta, tapi kalo nantinya kamu bikin ya aku baca xD
        apa? mana? bunyi apaan? aku pake in-ear nih seharian, jadi ngga denger :p

      • Pengubah pikiran (?) *ehem

        Susah nyarinya maksudnyaa. Makanya bikin sendiri huehe.

        In-ear apa ya? Semacam earphone dan headset kah? Huahaha kasihan yaa gak denger apa-apa

      • aku kira pengisi-ulang pikiran /lirik charger hp/ *plakk…..iyyyaaa susah bingit, palingan di asianfanfic pake english *facepalm >< lanjutkan jeunggg, mweheheh

        yepyep headset… aku dengerin lagu koo :p

      • Wekeke, that must be phone addict ya! Situ nunggu SMS dari siapa sih?

        Sebenernya ada, tapi.. you know what I mean lah.

        yaudah dehnya lagipula bunyinya udah berlalu huahaha

      • aku ngga suka smsan laa hhaha…aku-nunggu-telpon-dari-Chan /rollaround/ -_-
        apa? apa? idk what u mean? tell meh juseyoh :O

  4. Aku tertarik sama dialog juneo sama khun.. ini khun di buat lebih muda dari juneo ya.. Berasa agak aneh sih sama panggilan “hyung” dari khun ke juneo cuma ya gpp lah sekali2 khun dibikin jd maknae xD /jd ngomentarin khun kan/ /efek bias/
    Juneo kecanduan sama sohyun.. hmn, wondering gimana masala lalunya mereka. Apa sohyun seaddictive itu sampe juneo gak bisa lepas.. dan apa maksud “bantulah dia melepaskan diri dariku.” itu ke khun? Permintaan tolong yg sesungguhnya atau omongan numpang lewat pemanis kata2..
    daaaaaaan… sohyun udh mulai inget. Okesip. Bagian mana dalam hidupnya yg dia inget. Yg manis sama juneo atau yg pahit sama juneo.. tapi sih kalo dari sohyun nyium bibir juneo sekilas kek nya yg manis ya.. but, we’ll see..

    P.S: aku suka scene terakhir yg junho sendetan di kaca sama sohyun ngeliatin side profile nya.. beuh ngebayangin jadi sohyun aku disitu.. junho emang benar2 tampan *_*

    • Kekeke~
      Iyaa nih Kiran nakal banget yah masa Khun sama Junho tuaan Junho. Dasar inih author amatiran.

      Huekekeke~ rasanya pengen ngasih tau karena nggak kuat nampung segala sesuatunya sendirian. Tapi nggak boleh kan yaa.

      Itu beneran kok. Nanti yah kita buka perasaannya Junho.

      Whehe… sebenernya lebih uhhh banget kalo sama dengerin lagunya pas itu.

      • amatiran? ini mah bukan amatiran. ini semi pro 🙂
        gpp kok Khun dibikin lbh muda dari Junho, asal jangan di tindas aja ya Suami saya tuh (?) /asah golok kali2 di tindass/ xD
        pengen ngasih tau semuanya? woah, boleh sini2 aku siap mendengarkan curhatanmu (?) ‘-‘)r
        jangan nanti dong perasaan Junho di bukanya.. sekarang aja yuk /ngelunjak/ xD

        well, apapun yang ada di hati Junho itu pasti cinta buat sohyun. tapi, jangan di realisasiin aja itu omongan ke khun yg di minta junho /feeling gak enak authornya udh acc itu beneran/
        kalo mau ngelindungin sohyun jangan lepasin sohyun. karna cara terbaik melindungi seseorang adalah dengan berada di sampingnya..

        ah iya.. anaknya mereka begimana ceritanya itu.. sapa namanya, cewek apa cowok? ganteng apa cantik? umurnya berapa? waktu lahir beratnya berapa? anjangnya berapa xD /nanya kek polisi/ /abaikan/ jawab juga boleh/ eh, tapi beneran ada gak itu anak…

        yerp, gegara baca ini aku langsung download Moonlight nya.. abis biasa dengerin yg Kiss The Rain sama Love me tok -_-v

        (ini komen apa bikin ff mini.. -_-v xD)

      • Well selamaat ya kamu memecahkan best record of comment post on my ff 🙂
        Ini comment subhanallah bangeet buat aku. Panjangnyaa bikin semangat luar biasa menulis ueh hehe

        Beuh.. lupa aku mau curhat apaa. Kayaknya tentang suami deh *eh apa coba

        Ehem… nggak siap kenyataan nih readers yang satu ini.

        Anak? Anakku sama Taecyeon yaa? Hm… lucu kok. Kami bertiga bahagia banget 🙂 *sebenarnya kemana arah pembicaraan ini berlabuh?

        Wuehe… Moonlight fav aku hehe

        Ayooo tunjukin ff kamu juga dong 🙂

      • uyeah, Alhamdulillah banget kalo kayak gitu8.. /syukuran/ /potong tumpeng/ xD
        yah gak jadi deh curhatnya, ayo inget2 lagi mau curhat ttg apa.. ttg kiis scene Taec di who are you kah /out of topic/ xDv

        bukannya gak siap sih sebenernya cuma lebih gak rela menghadaoi kenyataan yang terpamp0ang jelas di depan mata yg sudah tertulis jelas dan minta di baca trus di scroll kebawah .. /bahasanya/

        oalah, kamu udh punya anak ama Taec toh.. sama dong aku juga udh mau punya anak dari khun /elus2 perut/ .makin ngaco ini obrolan/ mwahahaha

        ff buatanku? hmm, udh pernah di publish sih. judulnya Painkiller. ada di tumblr temenku sama wp ff selain ini..

      • Hm… gapeduli sih yaa tentang hal-hal itu. Mungkinkah itu sebuah hasutan halus hehe

        Hm… oke. Aku ngerti nih maksudnyaa. Tapi…. kayaknya belum sampe situ deh ya, mau fokus ke hal-hal penting #kode eah

        Wauw… selamaat 🙂

        Coba coba aku baca yaa. Tapi ini masih sibuk bangeet skolahnyaa. Nggak janji juga ceritanya bisa tepat waktu. Huhu -_-

      • Asik, dikasih kode /eaa/
        Tp udh gak jaman ah kode.. /berasa abg lagi gw/ -_-v
        Ya sudahlah kalo mau fokus ke hal2 penting dulu, asal khun sama Junho sohyun jangan di otakatik ya.. /alh, sapa gw/ xDv
        Mau baca ff ku nih ceritanya? Woah, silahkan dibaca. Tp masih amatiran buanget aku. Kalo emang mau beneran baca, cast nya Wooyoung sama Song Ji Hee, authornya S.E.A /ngapa jadi promo/ /abaikan/
        Last, di tunggu selanjutnya ya. Semoga kejutannya gak bikin kena serangan jantung (?) Hahaha fighting ^^

      • lhoo emang sekarang usia berapa? ini berasa chat sama oenni eonni u.u

        masalahnya fokusnya kee… UHT. Jadi 2 mingguan ini bakal sibuk uah uah bangeetlah. Maka Kiran minta maaf sekali tentang ini u.u

        Okee nanti aku liat yaa kalau udah nggak begitu sibuk *kapan woy kapan elu nggak sibuk *tueng

        Hah? Serangan jantung? Ini jantungnya lemah atau gimana? Hehehe

      • Belom tua2 banget kok. Masih 21th kok umurku..
        Oke, no prob. Take your time.
        Ya, kadang2 suka kena serangan jantung kalo ‘jalan takdir’ di ff yg aku baca bikin hati mencelos + gregetan + sedih. Hahaha

      • Huaaa… sebelumnya kukira anak sekolahan sama seperti saya. Ini bahkan lebih tua dari kakak saya muekeke 😀

        Stay young nih Eonni 😀

        Iyaa.. itu aku banget kalo lagi nonton drama korea hua hua

      • Oya? Emang kamu sama kakak mu umur berapa? O_o /serasa jadi yg paling tua disini/
        Harus stay young dong :p

        Pecinta drama korea selalu punya ekspresi yg sama (?) :p

      • umur dua puluh hehe 😀
        ini hrus “kakak” atau “kamu” ?
        Tapi dua satu masih young kan yaa hehe

        Wauw… nemu nih. Nemu pairing yang bikin haha banget di dunia perffan k-pop u.u
        seneng rasanyaa 😀

  5. makin penasaran ma junhonya lothor..? dan anak junho ma sohyun itu..? beneran ada? kok g dimunculin di part ini
    nextnya palli thor…. jebbal.. he8

  6. anak? anaknya siapa????

    Saat sudah waktunya ingat, kau akan mengingatnya. Saat sudah waktunya lepas, kau berusaha menahannya.

    jiaaahhhh…. next chap anaknya dikasih tau yaaa… #berharap..

    terus berkarya yaaa…

  7. HAHAHAHAHA…!! itu kenapa khun manggil junho hyung? *ngakak ak beneran gak bisa bayangin adegan itu :”D dan ak malah baca memburunya jadi membunuhnya –”

    ini.kenapa.bagus.banget
    kenapa sohyunnya nyium junho? dia inget bagian apa dari junho?

    “Aku tidak papa kalau kau lebih suka
    mengartikannya begitu.”
    koreksi dikit ya. kata papa itu lebih baik diganti jadi ‘apa-apa’. soalnya artinya udah beda. emang sih, kalo kita ngomong kayak gitu, tapi karena ini bentuknya tulisan, mending ngikutin eyd aja, biar enak 🙂 overall udah bagus kok 😀

    semangat ya ^^9

    • Iyaaa…
      Habis di ceritanya gitu.
      Sohyun 22 tahun.
      Junho & Taecyeon 32 tahun.
      Khun 28 tahun.
      OOC banget emang umurnya.

      Whaaa senang-senang dapet koreksi 🙂
      Mungkin waktu itu lagi banyak ide yang bertebaran di otak saya maka jadi begini deh.

  8. Setuju baca ff ini km kyk lg baca novel..pemilihan bahasa nya bagus..
    Khun panggil junho hyung, hhihi bodor ngebayanginnya…trus knp sohyun malah nyium junho?..bnrkah mrk punya anak…penasaraan…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s