[OneShot] One Day with Unexpected (Special) Girl

One Day with Unexpected (Special) Girl

One day with Unexpected (Special) Girl

ChoaiAK

Main cast: Sungjae BTOB, Han Chia (OC), etc | Genre: friendship, general |

Duration: one shot | Rating: T

Summary :

Mungkin memang hanya sekali ini, namun ingatan itu mungkin akan lebih lama dari saat mereka bertemu. ‘Karena kamu tiba-tiba menjadi urusan (spesial) tak terduga…’

***********************************

# sebelumnya udah pernah di post di sini

*********

Berjalan terburu-buru pemuda tinggi dengan rambut hitam gelapnya menuju bangunan bertingkat bermodelkan klasik yang dikelilingi taman. Hampir sampai di pintu depan bangunan tersebut mendadak dia berhenti saat mendengar suara yang sangat dikenalnya memanggil dari arah disekitarnya.

“Yook Sungjae!”

Beberapa pemuda dengan seragam sekolah mereka berjalan cepat mendekati Sungjae yang menunggu mereka tepat di depan pintu. Dia melihat kearah teman-teman sekelasnya dengan wajah bersemangat. Setelah cukup lama di sibukkan dengan jadwal yang padat bersama groupnya bisa datang kesekolah menjadi penyegaran sendiri untuknya. Terutama dengan tiga pemuda yang sekarang berdiri di hadapannya.

“lama tidak melihatmu. Tidak ada schedule hari ini?” Baekho, pemuda tampan yang memakai kacamata bertanya.

Sungjae mengangguk menjawab pertanyaan temannya tersebut. “sore nanti. kenapa kalian masih disini? bukannya sudah masuk dari tadi?”

Ya, makanya kamu harus sering-sering datang kesekolah.” Yeongbin meninju pelan lengan Sungjae sembari tertawa samar. “ada tamu dari sekolah lain, anak-anak lari kesana melihat beberapa murid perempuannya.”

“mereka cantik-cantik?” tanya Sungjae tertarik.

Dengan mengarahkan kedua ibu jari mereka, Baekho dan Daehan mengungkapkan pendapat mereka tentang beberapa siswa dari sekolah lain tersebut. “kamu mau melihatnya?” Yeongbin menawarkan.

“tidak, terima kasih. Sebaiknya aku masuk kelas saja.” tolak Sungjae. “kalian belum mau kembali ke kelas?”

“menurutmu kenapa kami disini? hanya untuk menyambutmu?” canda Daehan.

Mereka semua tertawa dengan candaan yang dilontarkan pemuda dengan rambut coklat tersebut. Meski berbeda dari Sungjae yang seorang idol, ketiga pemuda itu termasuk deretan murid dengan wajah tampan yang diidolakan banyak murid-murid perempuan disekolah mereka. Bahkan terkenal sampai keluar sekolah. Yoon Baekho, selalu menjadi ketua kelas dan anggota organisasi tertinggi sekolah sejak kelas satu ditambah dengan segudang prestasi akademisnya. Lee Yeongbin, seorang atlet muda, kapten tim sepak bola dari sekolah mereka, perempuan mana yang tidak mengidolakannya jika sudah melihat karismanya saat bermain di lapangan. Dan Baek Daehan, si pianist tampan dengan julukan Baek-toven yang langsung membuat semua gadis bertekuk lutut hanya saat mendengar dentingan note dari piano yang dimainkannya.

* * * * *

Keempatnya berjalan bersama menuju kelas mereka di tingkat dua. Untung saja ini sudah jam belajar, bisa dibayangkan jika mereka melalui koridor kelas saat sebelum jam pelajaran dimulai atau saat jam istirahat. Perjalanan menuju kelas mereka yang harusnya lima menit bisa menjadi setengah jam. Karena hampir semua murid perempuan berusaha mendapatkan perhatian mereka dan murid lak-laki berusaha menjadi teman mereka.

“Ah,” Sungjae menoleh pada Yeongbin sesaat mengingat sesuatu. “bukankah kemarin sekolah kita bertanding sepak bola?”

“ehm.” Yeongbin mengangguk.

“mereka benar-benar terobsesi ingin menang, kamu tau? Seolwan bahkan hampir saja berkelahi dengan salah satu pemain mereka.” ujar Daehan.

“benarkah? Lalu bagaimana hasilnya?” tanya Sungjae lebih tertarik pada hasil akhirnya daripada mendengarkan cerita tengahnya.

“tentu saja kita yang menang. 3-1.” Jawab Yoengbin bangga.

“segitu senangnya, kah?”

Mereka tertawa melihat Yeongbin yang seolah membusungkan dada setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sungjae. Masing-masing dari mereka memang punya tujuan masing-masing yang sangat ingin mereka capai. Berteman baik sejak awal masuk sekolah membuat mereka saling mendukung satu sama lain dalam mencapai keberhasilan. Sambil menceritakan banyak hal yang terlewatkan oleh Sungjae selama dia tidak masuk sekolah tanpa disadari mereka sampai di depan kelas mereka. Setelah masuk kedalam kelas baru Sungjae baru menyadari kalau ternyata kehadiran beberapa murid perempuan dari sekolah lain bisa membuat kelas mereka yang sebagian besar laki-laki hanya tinggal beberapa murid perempuan didalamnya.

“apa murid perempuannya benar-benar semenarik itu?”

“jangan bandingkan dengan banyak girlgroups yang sering kamu lihat. Untuk ukuran anak sekolah biasa seperti kami, mereka memang cantik. Beberapanya manis dan beberapanya sangat cantik.” Jelas Daehan mengomentari rasa penasaran Sungjae.

Sambil meletakkan tasnya keatas meja, Sungjae memandang kesekeliling kelasnya lalu menuju jendela yang menghadap ke lapangan belakang sekolah. Baru beberapa saat memandang keluar, dia melihat seorang murid perempuan dengan seragam yang berbeda dari seragam sekolahnya berjalan sendiri dengan santai seperti sedang menikmati suasana. Dia memperhatikan murid perempuan dengan rambut coklat kemerahannya itu berjalan lalu seperti sadar sedang diperhatikan murid perempuan itu menoleh keatas tepat kearahnya. Sontak Sungjae melangkah mundur menjauhi jendela.

“kenapa aku harus mundur?” bisiknya. Sebelum kembali maju mendekati jendela.

Dia melihat murid perempuan itu masih berdiri disana. Dengan kepala sedikit dimiringkan murid perempuan itu melihat heran kearahnya lalu tersenyum dan menganggukan samar menyapanya.  Tidak tau harus membalas senyum itu atau tetap memasang wajah datar, pada akhirnyanya Sungjae hanya tersenyum kaku. Sekilas dia melihat murid perempuan itu tertawa kecil menunjukkan sederet giginya lalu kembali melanjutkan perjalanannya yang tidak tau mau kemana.

Berbalik membelakangi jendela, Sungjae menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping jendela. Meletakkan tangannya di dada dan merasakan jantungnya yang berdetak dengan cepat. Kenapa dia harus merasa gugup seperti itu? pekerjaannya sebagai idol membuatnya bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Mulai dari perempuan biasa saja sampai yang sangat cantik semua sudah pernah dia temui, bahkan dari jarak sangat dekat tapi tidak pernah dia merasa segugup ini dengan detak jantung yang mendadak berdetak dengan cepat setelah melihat gadis itu tersenyum kearahnya. Mungkin murid perempuan itu mengenalinya sebagai seorang idol. Sebelum beranjak dari sana, sekali lagi Sungjae melirik keluar jendela dan hanya menatap tempat kosong dimana murid perempuan itu tadi berdiri dan tersenyum padanya sebelum pergi.

* * * * *

Berencana menonton permainan basket teman-temannya di dalam gedung olahraga, Sungjae berjalan melewati taman sekolahnya yang memang cukup luas. Beberapa kali dia harus berbalik dan mencari jalan lain hanya untuk menghindari kerumunan murid perempuan. Hanya antisipasi kalau mereka melakukan hal yang sama setiap kali melihatnya berjalan sendiri. Sebagai seorang idol, sudah resikonya jika dikejar-kejar penggemar. Tapi terkadang hal itu membuatnya merasa jenuh. Menghindar menjadi satu-satunya jalan yang bisa dia lakukan daripada harus kelepasan emosi saat berada di depan mereka.

Saat sedang melewati dua gedung sekolahnya yang saling bersebelahan dia melihat seorang murid perempuan dengan seragam yang berbeda dari seragam murid perempuan disekolahnya melirik kekanan dan kirinya sambil sesekali menggigit jarinya. Seperti orang tersesat.

“rambut  coklat kemerahan? Bukannya itu gadis di bawah tadi?” Sungjae hanya menuruti kakinya yang melangkah menghampiri murid perempuan itu.

“hai.” Sontak murid perempuan itu terlihat terkejut mendengar sapaan Sungjae.

“oh, kamu mengagetkanku.” Gumam murid perempuan itu setelah berbalik melihatnya. “hai.” Balasnya sambil tersenyum.

Memang dia, batin Sungjae. Senyum yang sama. “tersesat?”

Sambil menyisipkan rambut sebahunya kebelakang telinga dia menyunggingkan senyum salah tingkah dan mengangguk lalu menggeleng dengan cepat. “ah, tidak. Sebenarnya tadi aku mencari kantin sekolah kalian. Tapi aku memang payah dalam penunjuk arah. Jadi aku tidak tau kearah mana aku harus pergi. aku bahkan sudah berjalan di sini tiga kali.”

Dengan kening berkerut, Sungjae menatap tidak percaya pada perempuan di depannya. Memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Berdiri berhadapan dengannya membuat Sungjae menyadari kalau anak perempuan itu cukup mungil jika dibandingkan dengan girl idols yang dikenalnya, tingginya bahkan tidak lebih dari pundaknya. Terpaksa membuat gadis itu mendongak keatas untuk bisa melihat wajah Sungjae.

“siapa namamu?”

“huh? Aku?” masih terdengar canggung gadis itu balik bertanya dan menjawab setelah Sungjae mengangguk. “Chia. Han Chia.”

“Han Chia. Kalau kamu mau ke kantin kamu jalan melalui koridor ini di ujung sana di tangga kedua kamu belok ke kanan lalu setelah sampai di aula kamu ke kiri jalan terus sampai keluar dari situ kamu bisa langsung melihat kantinnya.”

Seakan mengerti, Chia mengangguk lalu tersenyum dengan raut tidak cukup meyakinkan bagi Sungjae. “baiklah. Terima kasih atas bantuannya-“

“Sungjae.”

“yah, terima kasih atas bantuannya, Sungjae.” Lalu melambaikan tangannya sebelum berjalan melewati Sungjae.

“Chia.”

Gadis itu kembali menoleh kebelakang. “ehm?”

“kearah sini.” Tunjuk Sungjae pada arah yang berlawanan dari yang dituju Chia.

“kesana?” tanya Chia balik. Sungjae mengangguk. “baiklah. Terima kasih sekali lagi.”

Apa anak perempuan ini benar-benar payah dalam penunjuk arah? Sedikit merasa khawatir Chia mungkin akan tersesat lagi, akhirnya Sungjae memutuskan untuk mengikuti gadis itu dari belakang. Memang benar dugaannya, sampai di ujung koridor yang diberitahukannya Chia berhenti dan berdiri cukup lama sambil melirik kekanan dan kekiri sebelum akhirnya kembali berjalan melewati tangga pertama dan kembali berhenti di tangga kedua. Kali ini dia benar-benar kebingungan. Saat Chia baru akan berbelok kearah kanan yang sebenarnya menuju kolam renang sekolah, Sungjae berseru menunjukkan arah yang benar.

“kiri!”

Mendengar suaranya, Chia sontak menoleh kebelakang dan memandangnya. Sekilas Sungjae melihat wajah Chia memerah sebelum gadis itu menundukkan kepala. Dengan kedua tangan di dalam saku celananya Sungjae berjalan menghampiri Chia dan berhenti tepat di hadapan gadis itu.

“kamu memang benar-benar payah dalam navigasi.” Gumam Sungjae. “ayo, aku akan antarkan kamu kesana.”

“tidak. Tidak usah. Sungguh. Jangan repot-repot, aku-“

“sebaiknya ada orang yang menunjukkan arah padamu. Atau kalau tidak nanti semua yang datang dari sekolahmu kebingungan mencari keberadaan muridnya yang tersesat dalam sekolah yang sedang mereka kunjungi. Cerita itu terdengar tidak lucu.” Potong Sungjae.

Dia berjalan lebih dulu sebelum berhenti kembali dan menoleh kebelakang, “ayo.”

Tanpa menolak lagi, Chia menuruti Sungjae dan berjalan selangkah dibelakang pemuda itu. Belum beberapa lama berjalan Sungjae kembali berhenti dan melihat kebelakang. Melihat Chia yang berjalan menunduk mengikutinya yang tidak sadar kalau dia sudah berhenti dan berdiri tepat menghadap gadis itu. Benar saja, dua langkah setelah dia berbalik dan berdiri diam menunggu, Chia menabrak tubuhnya.

“oh,” setelah mundur selangkah Chia menoleh keatas melihat wajah Sungjae. “maaf.” Lalu kembali menunduk.

“aku tidak akan tau apa kamu akan tersesat lagi atau tidak kalau jalannya dibelakangku.” Ujar Sungjae. “ayo jalan sama-sama.”

Dia melihat Chia menyinggungkan senyum manis kearahnya dan mengangguk mengerti. setelah itu mereka berjalan berdampingan tanpa mengeluarkan sepatah katapun sampai di aula. Sungjae berhenti dan melihat Chia yang juga ikut berhenti.

“kamu jalan terus kesana. Pintu yang bisa dilihat dari sini, itu pintu masuk kantin.”

Chia mengangguk semangat sebelum melangkah pergi dan berbalik lagi. “terima kasih, Sungjae.” ujarnya pada pemuda itu dan kembali pergi.

Memperhatikan cara Chia berjalan sambil membelakanginya, Sungjae langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan mengarahkannya pada Chia yang sedang melihat lukisan yang ada di dinding aula dengan sebelah tangan di pipi dan terlihat sangat lucu dan menggemaskan bagi Sungjae. Setelah mendapatkan foto Chia sedang mendongak keatas melihat lukisan di sampingnya, Sungjae memperhatikannya dengan seksama dan tersenyum-senyum sendiri sampai tiba-tiba foto tersebut hilang dan digantikan dengan nama Yoon Baekho di layar ponselnya.

“Yoon-ssi?”

“Kalau tidak salah tadi aku dengar kamu akan ke lapangan. Dimana kamu sebenarnya, Yook Sungjae?”

“Setelah aku pikir-pikir sebaiknya aku absen permainan kali ini.” Jawab Sungjae sambil tetap melihat Chia yang sudah masuk kedalam kantin. “Aku ada sedikit urusan.”

“Ya aku mengerti, kamu terlalu jarang masuk sekolah jadi sedikit-sedikit urusanmu harus segera diselesaikan. Apa? Tandatangan untuk penggemar? Atau foto bersama?” Canda Baekho yang disambut tawa Sungjae.

“Tidak satupun dari itu. Dan aku tidak akan memberitahumu.” Balas Sungjae.

Kemudian Sungjae mendengar tawa samar Baekho yang khas, “sayang sekali, padahal banyak penggemarmu sudah berkumpul disini dengan membawa banyak poster dan spanduk.”

“Mereka kesana untuk melihat kalian. Anggap saja begitu.”

“YA! Mereka juga datang untuk melihat kami. Kamu tau itu!” Baekho berteriak dengan kesal. “Baiklah, cepat selesaikan sedikit urusanmu itu lalu datang kemari sesegera mungkin. Mengerti!”

“Siap Ketua!” Jawab Sungjae lantang sebelum disambut tawa keduanya.

Foto Chia kembali muncul di layar ponselnya setelah pembicaraan dengan Baekho berakhir, dan tepat saat tiba-tiba sekaleng minuman dingin muncul di depannya. Dengan cepat dia menyembunyikan ponselnya takut siapapun itu melihat foto seorang perempuan di ponselnya, memandang heran kearah Sungjae untuk beberapa saat, Chia lalu tersenyum dan menyodorkan minuman dingin padanya sekali lagi.

“Aku bisa melihatmu masih berdiri disini dari dalam kantin. Jadi sebagai ungkapan terima kasih aku belikan kamu ini. Kamu bisa minum cola, kan?”

“Tentu saja.” Jawab Sungjae sambil meraih cola dingin tersebut. “Terima kasih.”

* * * * *

Mereka duduk di tangga yang terhalang dari pandangan sambil menyesap minuman mereka masing-masing. Tangga tersebut memang jarang di lewati karena terletak di ujung koridor sementara murid-murid lebih sering menaiki tangga utama di tengah aula.

“Kamu, kelas berapa?”

“Aku?” Tanya Chia memastikan. “Sama sepertimu, tiga.”

“Oowwhh, darimana kamu tau?” Sungjae menatap Chia dengan wajah dibuat kagum.

“Kelihatannya.” Namun Chia hanya menjawab asal.

“Ngomong-ngomong, kamu kenal siapa aku?” Meski tanpa make-upnya, Sungjae yakin perbedaan wajahnya dengan make-up ataupun tanpa make-up tidak jauh berbeda.

Chia mengangguk. “Sungjae.”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Mungkin kamu pernah melihatku di majalah, atau TV-“

“Aahh…aku tau maksudmu.” Sungjae tersenyum harap melihat ekspresi Chia. “Aku tau. Idol, kan? Ya aku tau. Lalu?”

“Lalu? ​​ lalu, ya-” dia mulai kebingungan dengan apa yang harus dikatakan selanjutnya. Tidak mungkin dia bertanya apa kamu bukan salah satu penggemarku? Atau apa kamu tidak senang bertemu denganku seperti kebanyakan gadis-gadis lain?

“Aku bukan penggemarmu jadi aku tidak terlalu tau mengenaimu. Sorry.” Jawab Chia blak-blakan.

“Tidak apa, jangan pasang tampang seperti itu.” Melihat ekspresi merasa bersalah Chia yang lucu membuat Sungjae tanpa sadar mengacak-acak rambut gadis itu seakan mereka sudah lama kenal.

“YA!” Chia menghindar dan merapikan rambutnya dengan mulut manyun.

Suara Chia terdengar kekanakan di telinganya. Melihat cara gadis itu merapikan rambutnya dengan jari-jari lentiknya sekilas Sungjae melihat sesuatu di jari-jari pada tangan kanannya.

“Kamu bisa bermain gitar?”

Menoleh pada Sungjae, Chia menunjukkan kedua tangannya. Ada banyak bekas luka samar hampir di semua ujung jari kedua tangannya. “Harpa.”

“Harpa?” Kenapa dia terdengar seakan tidak percaya kalau Chia bermain harpa. Lain hal dengan Chia yang tertawa ringan melihat ekspresi keget sekaligus tidak percaya di wajahnya.

“Ah, ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan di sekolah kami?” Sungjae baru ingan tujuan Chia berada disini.

“Kamu akan percaya kalau aku bilang aku sama sekali tidak tau?”

“Huh?”

Chia tersenyum lebar melihatnya lalu menghadap kedepan kemudian menundukkan kepalanya, “aku sangat ingin menjadi biasa-biasa saja. Tapi kadang apa yang di inginkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Melakukan apa yang aku suka, menunjukkan yang aku punya ternyata menyeretku untuk dikenal seperti ini. Dan itu sangat melelahkan.”

Sungjae memandang Chia tidak mengerti mendengar jawabannya. Apa hubungannya antara tidak tau tujuan mereka datang kemari dengan ucapannya yang terakhir.

Jageun Chia!”

Mereka berdua serentak menoleh keasal suara. Melihat dua pemuda dengan seragam sekolah yang mirip dengan yang dikenakan Chia namun dalam versi laki-lakinya sedang berjalan menghampiri mereka. Dengan senyum terkembang di wajahnya Chia berdiri menunggu kedua murid lelaki dengan wajah tampan itu sampai di tempat mereka.

“YA! Aku sudah bilang bawa ponselmu kemanapun kamu pergi jadi kami bisa tau kamu dimana. Aku dan Jeongsuk sampai harus mencarimu kesekeliling sekolah karena yakin kamu tersesat.” Pemuda tampan satu yang mengenakan sweater seragam mereka langsung menegur keteledoran Chia.

“Aku lupa. Tadi aku memang tersesat, sorry Oppa” Gumam Chia. “Dia menolongku.”

Sungjae tersenyum dan membungkuk sekilas kearah dua pemuda yang hampir sama tinggi dengannya itu yang juga di balas dengan sikap ramah yang sama dari mereka, jika dilihat baik-baik mereka cocok untuk ukuran seorang idol, sangat cocok malah. Tiba-tiba dia ingat mendengar Chia memanggil pemuda itu dengan sebutan Oppa. Bukankah tadi dia bilang kalau dia kelas tiga?

“Kamu memanggilnya dengan sebutan Oppa. Bukankah kamu kelas tiga?” Tanya Sungjae pada Chia.

“Kamu juga kelas tiga, kan? Anak ini dua tahun lebih cepat dari kita. Meskipun badannya kecil seperti ini dia punya otak encer.” Jelas murid bernama Jeongsuk. “Oh, kamu Sungjae dari group ‘B’, benarkan?”

Tersenyum samar Sungjae mengangguk membenarkan. “Aku suka lagu terbaru kalian.” Lanjut Jeongsuk.

“Aahh, yang sering Oppa nyanyikan di kelas?” Tanya Chia. “Yaahh, karena itu Oppa sampai mau menyatakan cinta dua kali pa-“

“YA! YA! Han Chia, kamu benar-benar tidak bisa tutup mulut.” Joengsuk mencoba meraih Chia yang menghindar dan bersembunyi di balik tubuh tinggi tegap Sungjae.

Mereka tertawa melihat kelakukan keduanya sampai pemuda pertama kembali bicara. “Sebaiknya kita kembali ke ruang konfrensi sekarang. Jeongsuk, Chia.”

Jeongsuk dan Chia mengangguk dan mengikuti ajakan murid itu. Mereka kembali melihat kearah Sungjae dan membungkuk samar sambil tersenyum ramah.

“Terima kasih sudah menunjukkan arah pada anak tersesat ini. Meski dengan jarak yang biasanya hanya 5 menit dia bisa berjalan berputar-putar selama setengah jam.” Ujar Jeongsuk.

“Oppa berhenti mempermalukanku karena navigasiku yang payah. Setidaknya Yeongju-Oppa tidak pernah mengatakannya secara gamblang pada orang lain.” Sela Chia kesal.

Murid lelaki yang mengenakan sweater bernama Yeongju itu tertawa melihat keduanya sebelum melihat kearah Sungjae. “Kalau begitu kami permisi. Terima kasih atas bantuannya.”

“Bye, Yook Sungjae. Senang berkenalan denganmu.” Dengan wajah ceria dan senyum lebar Chia melambaikan tangannya pada Sungjae.

Dari tempatnya masih berdiri, Sungjae memperhatikan ketiganya berjalan membelakanginya. Dia melihat murid bernama Yeongju mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celana dan memberikannya pada Chia sebelum mendorong gadis itu untuk berjalan di tengah-tengah mereka. Dia bahkan terlihat sangat mungil saat berjalan diantara kedua pemuda itu.

* * * * *

Sungjae kembali pada tujuan awalnya untuk pergi ke gedung lapangan olahraga. Permainan masih berlangsung saat hiruk pikuk lapangan dari yang menyemangati pemain kesukaan mereka berubah menjadi kehebohan saat melihat Sungjae berjalan memasuki ruangan dengan sebelah tangan berada dalam saku. Murid perempuan berlari menghampirinya sampai dia berhenti di dekat Baekho yang duduk manis di tepi lapangan menonto Daehan dan Yeongbin yang ikut bermain di lapangan.

“Dari mana saja kamu?”

“Aaahhh.” Sungjae duduk di samping Baekho sambil tersenyum penuh arti. Wajah Chia kembali muncul di kepalanya. “Urusan tidak terduga.”

“Ch,” sambil mendecakkan lidahnya Baekho kembali melihat kearah lapangan. “Kamu pergi ke ruang konfrensi? Penasaran dengan murid perempuan dari sekolah yang sedang bertamu?”

Mereka berdua lalu tertawa ringan. “Kenapa kamu tidak ikut main?” Sungjae mengalihkan pembicaraan.

“Aku sedang tidak ingin berkeringat.” Alasan singkat Baekho. “Kenapa kamu tidak ikut main?” lalu membalikkan pertanyaan yang dilontarkan Sungjae padanya.

“Aku harus segera ke salah satu stasiun TV setelah dari sekolah.” Sungjae juga menyebutkan alasannya.

Ikut bersemangat menonton Yeongbin dan Daehan di lapangan, hiruk pikuk berhenti beberapa saat ketika sekumpulan anak-anak dari tamu sekolah masuk ke ruangan. Sungjae menangkap sosok Chia masih berada diantara dua pemuda yang menghampirinya di tangga aula tadi saat bersama Chia. Gadis itu melambai kearahnya sekali sesaat setelah melihatnya. Tidak datang menghampiri namun tetap berada di antara teman-temannya. Salah seorang guru mereka yang dikenal sebagai Mr. Choi datang menghampiri murid-muridnya dan memperkenalkan mereka pada tamu sekolah mereka itu.

“Kalian sedang bermain? Mereka adalah murid-murid dari Korean International High School.” Mr. CHoi memperkenalkan mereka lalu menoleh pada pria tegap salah satu guru sekolah Chia. “Seperti yang bisa anda lihat gedung ini khusus untuk ruangan olah raga. Lapangan tenis dan bulutangkis, basket, voli dan senam fisik.”

“Kebetulan beberapa murid kami adalah yang pandai dalam bidang olah raga, bagaimana kalau kalian ikut bermain bersama mereka beberapa saat?” Lelaki itu menawarkan pada murid-muridnya.

“Apa aku boleh ikut main?” Suara Chia muncul kepermukaan melebihi murid lain yang lebih tinggi darinya.

Sungjae melihat heran kearah gadis itu, jelas-jelas semua yang bermain adalah murid laki-laki tapi dengan suara nyaring dia menawarkan diri untuk ikut ambil bagian.

“Tidak kali ini, Han Chia.” Tolak gurunya.

“Lain kali.” Tambah seorang murid perempuan pada Chia sambil menarik mundur pundak Chia. “Kali ini kamu duduk saja.”

Terlihat Jeongsuk menepuk-nepuk kepala Chia yang cemberut. Kemudian Enam murid laki-laki dari sekolah itu langsung melepaskan jas sekolah dan juga sweater yang mereka kenakan. Menggulung lengan kemeja sekolah mereka hingga ke siku juga menyampirkan dasi mereka. Sungjae melihat dua pemuda bernama Jeongsuk dan Yeongju termasuk dalam enam orang tersebut.

“Kamu ingin ikut main?” Tanya Baekho.

“Kamu ikut?” Sungjae balik bertanya.

“Aku ingin tau kemampuan mereka.”

“Baiklah, ayo.”

Daehan dan Yeongbin yang tadi datang menghampiri mereka saat Mr. Choi dan tamunya memasuki ruangan berkoordinasi mencari pemain untuk permainan basket mereka. Termasuk Sungjae dan Baekho. Di tambah dengan pemain andalan basket sekolah mereka Seunghun dan Jaejin.

Kedua belas murid lelaki dari dua sekolah yang berbeda berdiri berhadapan di tengah lapangan dengan salah satu dari murid laki-laki memegang bola basket di antara mereka. Sekilas dia melihat kearah Chia yang dengan sebelah tangannya menyemangati mereka dengan menggerakkan mulutnya mengucapkan ‘fighting’.

Baru beberapa menit mulai, permainan mulai semakin seru saat murid lelaki bernama Jeongsuk berhasil memasukkan bola dalam jarak cukup jauh dengan tepat.

“Yaaeee…Jeongsuk-Oppa!!!”

Sungjae mau tidak mau melirik kearah gadis mungil dengan rambut coklat kemerahannya berteriak kegirangan dengan kedua tangan terangkat tinggi. Meski baru mengenal gadis itu kenapa dia merasa kecewa saat Chia bukan meneriaki namanya. Menggelengkan kepalanya dengan cepat, Sungjae mengusir pikiran tentang Chia yang bahkan baru dia kenal beberapa jam yang lalu. Permainan terus berlangsung seru, sekolah mereka juga berhasil mencetak skor dari Yeongbin, Sungjae dan Jaejin namun memang pada akhirnya mereka harus mengakui kehebatan murid-murid KIHS dengan skor seri.

Bersikap sportif, keenam murid KIHS menyalami satu persatu murid yang menjadi lawan mereka. Tidak ada raut sombong ataupun angkuh di wajah mereka. Malah Yeongju sempat memuji permainan murid sekolah mereka,

“kali ini benar-benar kunjungan spesial ke sekolah kalian. Kalian bermain bagus sekali.”

Yeongbin yang memang dikenal pintar dalam bidang olah ragapun menyambutnya dengan ramah. “Kalian juga bermain dengan sangat bagus.”

Dari kerumunan teman-temannya Sungjae melihat Yeongju dan Jeongsuk mengambil jas dan sweater mereka dari tangan Chia. Kenapa keduanya terlihat sangat akrab dengan gadis itu menjadi pertanyaannya.

“Dari tadi kamu melihat kearah murid KIHS, ada yang menarik perhatianmu?” Tanya Daehan.

“Kenapa?”

“Biar aku bisa menjual beritamu pada media.” Jawab Daehan asal. “Penasaran. Yang mana satu?”

“Aku bisa menebaknya.” Tiba-tiba Baekho berdiri di dekat mereka.

“Aku juga.” Timpal Yeongbin tidak lama kemudian.

“YA! Kalian, bukan siapa-siapa.” Hindar sungjae.

“Siapa?” Daehan yang penasaran bertanya pada dua temannya yang lain.

“Yang rambut coklat kemerahan.” Tunjuk Yeongbin dengan matanya.

“Yang bertubuh mungil?” Daehan melihat Chia dengan tatapan tidak percaya. “Bukankah tadi dia yang bicara di podium?”

“Bicara di podium?” Sungjae melirik Daehan heran.

“Tadi kami juga ikut masuk ke dalam ruang konfrensi, dia mewakili sekolahnya dan memberikan kata sambutan.” Jelas Baekho. “Aku bahkan tidak percaya kalau dia benar-benar sejenius itu sampai bisa loncat dua kelas.”

“Kalian sedang membicarakan si mungil dari KIHS?” Tiba-tiba Yong Eunji, salah satu murid perempuan yang terkenal update dengan semua berita  muncul di antara mereka.

Keempat pemuda itu melihat Eunji dengan alis terangkat, bagaimana bisa dia ikut mendengarkan perbincangan mereka. “Namanya Han Chia. Dia memang pintar, cukup jenius tepatnya. Dengar-dengar dia juga salah satu anggota group musik klasik di sekolah mereka, pemain harpa, mereka juga sering main di beberapa acara besar. Katanya juga, seharusnya dia sudah lulus tahun kemarin, tapi karena kerjasama sekolah mereka dengan sekolah internasional di Amerika, dia salah satu kandidat yang pergi kesana selama hampir satu tahun jadi dia baru pulang dari Amerika dan meneruskan sekolahnya disini selama setahun lagi.”

“Wah, Yong Eunji. Aku tidak tau kalau kamu bisa seupdate itu.”

Bangga, senyum lebar mengembang di wajah manis gadis itu. “Oh satu lagi, kalau yang ini aku tidak tau pasti. Dua murid laki-laki itu.” Mereka semua melihat dua pemuda yang di tunjuk Eunji. Namun Sungjae mengenali mereka, Yeongju dan Jeongsuk.

“Keduanya selalu bersama-sama dengan Han Chia. Tidak jelas apa hubungan mereka, apakah salah satunya adalah kekasih Chia atau bukan yang jelas mereka selalu kemana-mana bertiga. Apa kalian mau dengar informasi keduanya?”

“Tidak. Terima kasih.” Mereka berempat langsung menolak jika mendengar informasi tentang sesama lelaki.

“Kalau begitu, segitu saja infonya. Sampai jumpa.”

“Aku tidak tau kalau dia tau semua hal.” Daehan masih memperhatikan Eunji yang kembali menghampiri teman-temannya.

“Kalau kamu butuh informasi cari Yong Eunji.” Kata Yeongbin dengan gaya mempromosikan.

“Jadi Han Chia, urusan tidak terduga?” Tuduh Baekho. “Aku tau aku benar.”

Mereka menertawai Sungjae yang terdiam karena salah tingkah. Tidak bisa menahan diri untuk menoleh kearah murid-murid KIHS, ketiga temannya menangkap basah sungjae tengah memandang Chia yang tertawa bersama teman-temannya lalu balas memandang kearah mereka dan tersenyum manis. Sontak ketiga temannya bersorak heboh.

“Ooowwaaaa!!!”

“Sungjaee…!!” Ketiganya lantas mulai menjahili Sungjae sementara yang lain memperhatikan mereka dengan pandangan bingung.

Tidak ada yang tau apa yang terjadi dalam kepala dan hatinya hari ini. Setelah sekian lama jarang datang kesekolah dan bertemu teman-temannya, namun dia bersyukur karena manager dan membersnya yang lain memaksanya untuk tetap datang kesekolah hari ini karena semalaman kemarin dia sama sekali tidak ada jadwal apapun sampai siang ini.

Banyak gadis yang bertemu dengannya, mengidolakannya bahkan sampai memujanya. Tapi hari ini dia bertemu dengan gadis yang sempat membuatnya tidak bisa menahan diri untuk terus melirik kearah gadis itu.

Han Chia.

Gadis mungil dengan rambut coklat kemerahannya. Payah dalam navigasi. Si jenius KIHS. Kandidat kerjasama sekolahnya dengan sekolah di Amerika selama hampir setahun. Juga gadis yang selalu tersenyum ramah pada semua orang.

Kunjungan Chia dan teman-temannya berakhir beberapa saat setelah istirahat jam makan siang. Sebelumnya di dalam kantin mereka semua bergabung satu sama lain, mengakrabkan diri setelah permainan basket beberapa saat lalu. Kali ini Sungjae melihat Chia tidak duduk diantara Yeongju dan Jeongsuk, tapi duduk di dekatnya teman-temannya yang lain. Terlihat jelas semua bisa langsung akrab dan merasa nyaman saat berada di dekat gadis itu. Caranya bicara, mendengarkan setiap orang lain bicara semuanya terdengar wibawa dan bijaksana namun terlihat santai. Chia dan teman-temannya juga suka melontarkan pujian dan candaan satu sama lain.

Setelah berpamitan dan mengungkapkan rasa terima kasih mereka dengan sambutan yang mereka terima, guru dan murid KIHS sempat mengambil foto bersama dengan beberapa murid, termasuk Sungjae dan ketiga temannya. Meski tidak bisa meminta nomor ponsel gadis itu, tapi dia sempat berfoto dengannya atas paksaan dari teman-teman mereka.

Chia dan teman-temannya pergi dari sekolah mereka. Sungjae sendiri tetap melanjutkan kegiatan disekolahnya hingga selesai sampai sekarang sudah berada dam mobil van agencynya menuju salah satu stasiun TV tempat semua personil groupnya berkumpul untuk jadwal mereka selanjutnya. Bersandar di kursinya sementara managernya mengemudi, Sungjae berniat untuk tidur. Baru saja memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya terkesiap keras. Sambil menggerutu dia segera menempelkan ponsel ketelinga.

“Hyung?…sebentar lagi. Tadi aku baru keluar dari sekolah…​​​​‎​​hmm.” Dia berhenti sejenak mendengarkan apapun yang di bicarakan Ilhoon. “Aku mengerti. Bye.” Lalu menjatuhkan ponsel ke atas pangkuannya.

Sesaat kemudian dia menegakkan kepalanya dan melihat ponselnya. Melihat foto-foto yang tadi di ambilnya selama berada disekolah. Jarinya berhenti menyentuh layar untuk melihat foto selanjutnya saat wajah Chia yang memandang lukisan memenuhi layar ponselnya. Tanpa sadar dia tersenyum sambil mengamati wajah cantik Chia. Mungkin memang hanya sekali ini dia bertemu gadis seperti ini. Gadis bernama Chia. Han Chia. Namun ingatannya tentang gadis itu mungkin akan lebih lama dari saat mereka bertemu.

 

*** END ***

 

2 thoughts on “[OneShot] One Day with Unexpected (Special) Girl

Leave a Reply to Choai AK Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s