[FF Freelance] Misunderstanding

5231753324_ce6ba4721d_z

 

Author: Ghina

Title: Misunderstanding

Main Cast: Kim Jongwoon – Jang Soobin

Genre: Romance

Rating: PG-14

Length: Oneshoot

 

Note: Awalnya bingung milih cast antara Kim Jongwoon dan Kim Kibum. Dan akhirnya pilihan aku jatuh pada Si Abang Tampan Bersuara Emas *halah* Soalnya menurut aku, imej cool itu lebih cocok ke Yesung daripada Kibum (._.)v Sudah pernah di post di blog pribadi aku: specialoves.wordpress.com ^^ Selamat menikmati~

 

***

 

Kim Jongwoon mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Tumpukan berkas yang ada dihadapannya benar-benar membuat kepalanya berdenyut pusing. Sebenarnya, Jongwoon bisa saja langsung membubuhkan tanda tangannya diatas kertas-kertas itu tanpa harus membacanya terlebih dahulu. Tapi, dia tidak ingin mempertaruhkan perusahaan ini. Dia belum mau dipecat dari pekerjaannya dan hidup sebagai pengangguran yang selalu mendapatkan masalah keuangan.

 

Jongwoon mengerjapkan matanya beberapa kali. Menghela napas sejenak sebelum kembali fokus pada pekerjaannya sebagai direktur disebuah perusahaan tekstil terkemuka di Seoul. Dia bisa bertahan di lima menit pertama, tapi tidak bisa menahan rasa frustasinya pada lima menit berikutnya dan berakhir dengan kepala terkulai lemah diatas meja.

 

Suara ketukan pintu membuatnya terlonjak kaget. Dia segera membenarkan posisi duduknya dan berpura-pura sibuk dengan berkas-berkasnya. Hatinya menunggu dengan gelisah, takut kalau yang datang berkunjung adalah ayahnya. Inspeksi mendadak, mungkin. Mengingat dia bisa dikategorikan anak pembangkang karena tidak pernah menuruti permintaan ayahnya untuk datang ke kantor di hari kerja.

 

“Hai, lama tidak bertemu.”

 

Jongwoon mendongakkan kepalanya dan mendapati wajah tampan Kim Kibum yang dipenuhi senyum. Pria itu masuk ke dalam tanpa seizinnya dan duduk seenaknya di sofa kesayangannya. Melihat hal itu membuatnya mendengus pelan.

 

“Ternyata Amerika membuatmu tidak memiliki sopan santun,” kata Jongwoon ketus, tapi tetap tidak bisa menutupi wajah berbinarnya ketika melihat Kibum berdiri beberapa meter dihadapannya. Kibum hanya terkekeh geli menanggapi perkataan Jongwoon.

 

“Kenapa kau menemuiku?” tanya Jongwoon sembari beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil tempat duduk diseberang Kibum. Dia menekan salah satu tombol pada telepon yang diletakkan diatas meja itu dan berbicara dengan tegas, “Kopi, dua. Jangan lama.”

 

“Kau tidak berubah, hyung,” ujar Kibum tanpa sedikitpun menghilangkan senyumnya.

 

“Tentu saja. Aku tidak melakukan operasi plastik,” jawabnya sinis.

 

“Bagaimana kabarmu?”

 

Jongwoon menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. “Seperti yang kau lihat.”

 

Kibum memperhatikan sekeliling ruangan dengan takjub. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk, mengagumi keindahan interior yang ada didalamnya. “Ruanganmu benar-benar bagus. Apa kau sendiri yang merancangnya?”

 

Senyum separuh muncul di bibir Jongwoon, membuat wajahnya nampak sepuluh kali lipat lebih tampan. “Aku tidak pernah mau campur tangan orang lain, kau tahu?”

 

“Sepertinya begitu. Ruangan ini benar-benar menunjukkan pribadimu,” ujar Kibum, merujuk pada sebuah lukisan gadis setengah telanjang yang dipajang besar-besar disamping meja kerjanya. Tawa Kibum terdengar setelahnya, membuat Jongwoon mendesis kesal.

 

Lukisan itu dibeli oleh Kibum dari California dan dia sendiri yang memasangkannya kemarin sore tanpa sepengetahuan Jongwoon. Dan sialnya, Jongwoon baru menyadarinya ketika Kibum memberitahunya secara tersirat tadi. Beruntung belum ada satupun orang yang masuk ke ruangannya kecuali dia dan sekertarisnya saat memberikan tumpukan berkas.

 

“Aku akan membakarnya sampai hangus nanti,” ucap Jongwoon dengan nada final.

 

“Wah, sayang sekali. Aku membelinya mahal-mahal dan khusus untukmu.”

 

“Sialan kau.”

 

Sekertarisnya datang membawakan dua cangkir kopi sehingga percakapan mereka terhenti sejenak. Gadis itu meletakkannya ke atas meja. Lalu membungkuk kecil sebelum keluar dari ruangannya. Jongwoon bisa melihat tatapan mata Kibum yang tertuju pada sekertarisnya itu, mengamati sampai gadis itu tak terlihat lagi. Benar-benar tipikal seorang playboy sejati.

 

“Hati-hati matamu.”

 

Kibum mengabaikan ucapan Jongwoon. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Jongwoon, memajukan wajahnya lalu berbisik pelan, “Apa sekertarismu itu sedang menjalin hubungan dengan seorang lelaki?”

 

“Memangnya itu urusanmu?”

 

“Sebenarnya tidak, hanya saja aku—“

 

“Aku tertarik padanya. Dia cantik. Tubuhnya juga sangat bagus. Menjadikannya teman bermain di ranjang sepertinya tidak buruk,” potong Jongwoon cepat lalu tersenyum mengejek. “Bukankah itu yang ingin kau katakan, Sepupu?” tanya Jongwoon dengan nada yang kentara sekali dimanis-maniskan.

 

Kibum menjauhkan wajahnya dan terkekeh pelan. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. “Wah, wah, wah. Ternyata kau masih sangat mengenalku, ya.”

 

“Menurutmu?” balas Jongwoon acuh. Dia mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya pelan-pelan. Menikmati cairan hitam nan pahit itu melewati tenggorokannya. Tak salah memilih kopi sebagai minuman kesukaannya, rasanya nikmat sekali.

 

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah memiliki kekasih?”

 

Jongwoon meletakkan cangkir kopinya dan menatap Kibum dengan malas. Tingkah sepupunya yang mau tahu segalanya itu selalu berhasil membuatnya muak.

 

“Tentu saja. Apa kau pikir aku tidak selaku dirimu?”

 

“Hei, hei. Ada puluhan gadis yang mau berkencan denganku asal kau tahu saja.”

 

Jongwoon mendecak pelan. “Sesukamu sajalah.”

 

“Jadi, siapa kekasihmu sekarang? Biar kutebak. Dia pasti sangat cantik. Dan mengingat selera kita yang tidak terlalu jauh, gadis itu pasti golongan atas. Baju seksi, perhiasan mewah, rambut panjang bergelombang…”

 

Kibum mengucapkannya dengan mata berbinar, membuat Jongwoon mual melihatnya. Mendadak, Kibum teringat akan sesuatu. Dia memelankan suaranya dan menatap Jongwoon dengan mata disipitkan. “Apa kau mengikuti kencan buta yang disarankan ibumu lagi?”

 

“Aku tidak sepenurut itu.”

 

“Lalu siapa gadis itu? Kau membuatku penasaran.”

 

“Jang Soobin. Seorang pelayan disalah satu kafe didaerah Myeongdong.”

 

Kibum menatapnya dengan mata membelalak syok. Wajahnya menunjukkan ketertarikan pada topik ini. Pasalnya, Jongwoon tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis seperti itu. Mengingat dia sangat  menjaga harga dirinya sebagai salah satu pewaris utama di perusahaan keluarganya.

 

“Bagaimana bisa? Maksudku—hei, aku sangat mengenalmu.”

 

“Apalagi yang harus kau herankan?” ujar Jongwoon tak habis pikir.

 

Kibum menggelengkan kepalanya sesaat. Lalu menatap Jongwoon serius. “Bagaimana dengan Shin Minhee? Kau sudah memutuskannya? Bukankah kau sangat menyukainya? Gadis itu tipemu sekali, kan? Dia kaya, pintar, cantik, dan yang terpenting sangat seksi. Kau tidak mungkin membuangnya demi gadis desa seperti Jang Soo—siapalah itu, kan?”

 

Jongwoon memutar bola matanya dengan kesal. Dia tidak suka ditanya macam-macam begitu. Tapi, sepertinya sepupunya itu sangat tahu bagaimana cara yang paling tepat untuk membuat kesabarannya habis.

 

“Apa kau sedang menginterogasiku sekarang?”

 

Mendadak, Kibum tersadar akan sikapnya yang berlebihan. Dia memperbaiki posisi duduknya dan menghela napas secara perlahan. Kemarahan pria itu bisa sangat mengerikan. Dan dia belum mau hanya berupa nama saja besok.

 

“Baiklah. Maafkan aku. Tapi, kumohon ceritakan sedikit saja.”

 

Jongwoon luluh. Melihat wajah Kibum yang memelas seperti itu membuatnya sedikit merasa bersalah. Dia menjilat bibir atasnya dan berdehem pelan.

 

“Aku hanya menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan saja. Dan jangan katakan aku mencampakkan Minhee karena dialah yang sebenarnya menelantarkanku.”

 

***

Jang Soobin masuk ke dalam kafe dengan wajah pucat. Dia baru saja dari kantor Jongwoon, berniat mengantarkan makan siang yang selalu ia buatkan untuk kekasihnya itu sebelum indera pendengarannya mendengar sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya. Kadang Soobin memang berpikir kalau Jongwoon hanya ingin memanfaatkannya saja. Tapi, dia tidak tahu bahwa sesuatu yang ia pikirkan itu benar-benar terjadi.

 

Gadis itu masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan setelan baju pelayan. Pikirannya masih tertuju pada hal tadi. Dan dia masih tidak menyangka kalau Jongwoon sejahat itu padanya. Soobin menatap masakannya yang ia letakkan di wadah khusus dan tidak jadi ia berikan pada kekasihnya. Dia mengambil tempat itu dan menatapnya dengan wajah sedih. Seharusnya dia merasa curiga ketika Jongwoon tiba-tiba memintanya menjadi kekasihnya. Lagipula, orang seperti Jongwoon tidak mungkin jatuh cinta padanya.

 

Soobin menghela napas dengan pelan. Mendadak saja matanya terasa panas. Dan belum sempat ia cegah, setetes air mata sudah jatuh membasahi wajahnya. Bodoh. Dari awal memang sudah menjadi kesalahannya. Salahnya karena membiarkan pria itu mangambil alih hatinya begitu saja. Dan salahnya pula karena mempercayai semua ucapan pria itu. Lihat, saat dia tahu kalau semuanya hanya kebohongan semata yang merasa sakit hanya dia sendiri, kan?

 

Gadis itu menghapus air matanya dengan kasar. Dia meletakkan tempat yang berisi masakannya ke dalam loker dan menguncinya rapat-rapat. Lantas dia berjalan ke dalam restoran dan melakukan tugasnya seperti biasa—mengantarkan pesanan dan menyambut para pelanggan—bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

 

Soobin menghentikan kegiatannya mengelap meja ketika lonceng dipintu berbunyi, menandakan kalau ada orang yang datang. Dia membalikkan tubuhnya dan memberi salam.

 

“Selamat dat—“

 

Ucapannya terputus saat dirasanya seseorang menarik lengan atasnya. Soobin mendongak dan terkejut mendapati Jongwoon berada tepat dihadapannya. Rahang pria itu nampak mengetat sedangkan raut wajahnya datar-datar saja. Sekilas tidak ada yang aneh mengingat pria itu selalu bersikap dingin, tapi Soobin terlalu mengenal Jongwoon. Pria itu sedang kesal. Dan dia tidak tahu alasannya.

 

“Kenapa kau tidak mengantarkan makan siangku?” pertanyaan Jongwoon biasa-biasa saja, namun nada tajam yang ia gunakan itu membuat Soobin menatapnya takut.

 

Sejak mereka berpacaran, Jongwoon selalu meminta Soobin membuatkan makan siang untuknya. Dia menyukai masakan Soobin tapi tidak mau mengakuinya didepan gadis itu. Biasanya, Soobin akan memasakkan makan siang dan mereka makan bersama di kafe ini. Tapi, dia sedang sibuk hari ini. Jadi, dia meminta gadis itu datang ke kantornya.

 

“Jawab aku, Jang Soobin,” ujar Jongwoon dengan suara yang ditekankan sehingga nyali Soobin menciut. Soobin berniat berbohong pada kekasihnya itu dan pura-pura tidak tahu akan kebusukannya selama ini. Tapi, hatinya mengatakan lain dan dia berusaha mengikutinya.

 

“Aku bukan pembantumu.”

 

Jawaban Soobin membuat Jongwoon terkejut meskipun ia masih bisa mengendalikan raut wajahnya dengan baik. “Apa maksudmu?” Cengkeraman tangannya di lengan Soobin semakin mengerat, membuat tubuh gadis itu menempel sempurna ditubuhnya.

 

Soobin diam dan menyentakkan tangan Jongwoon yang melingkari lengannya. Dia  mendorong dada pria itu menjauh darinya. Soobin mengibaskan tangannya diatas celemeknya yang menjadi kusut karena desakan tubuh Jongwoon tadi.

 

“Ada apa denganmu?”

 

“Kita akhiri saja hubungan ini.”

 

“Apa?”

 

“Berhenti bertingkah seolah-olah kau tuli, Kim Jongwoon!” teriak gadis itu, menarik perhatian seluruh pengunjung kafe, termasuk teman-temannya—Han Jinhye dan Lee Sungmin—yang sedang bekerja. Soobin memejamkan matanya sesaat lalu memutar tubuhnya menghadap para pelanggan. Dia menunjukkan senyum bersalahnya sembari membungkukkan badannya berulangkali.

 

“Maafkan saya. Maafkan saya. Maaf—YAK!”

 

Lagi-lagi Jongwoon menarik tangannya. Kali ini pria itu membawanya keluar kafe.

 

“Lepaskan.”

 

Jongwoon menuruti permintaan Soobin dan melepaskan gadis itu. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Lalu menundukkan kepalanya sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Soobin. Menatap gadis itu lekat-lekat, mengintimidasinya.

 

“Jelaskan maksud perkataanmu yang terakhir.”

 

Soobin menahan napasnya saat merasakan hembusan napas Jongwoon menyapu wajahnya. Pria itu ingin membuatnya lemah rupanya. Dia memberanikan diri untuk balik menatap Jongwoon. “Kurasa kau cukup pintar untuk mengerti, Tuan Penipu,” ujar Soobin dengan nada sinis. Ini satu-satunya keputusan yang paling tepat.

 

Nampak raut terkejut dari wajah Jongwoon yang tidak bisa ia tutupi lagi. Selama pria itu masih sibuk mencerna perkataan Soobin baik-baik, gadis itu mengambil kesempatan ini untuk menjauhkan wajahnya dari Jongwoon. Lantas dia masuk ke dalam dan mengambil masakannya di dalam loker. Dia kembali ke depan kafe dan menyodorkan kotak makannya tepat didepan dada Jongwoon.

 

“Kau ingin ini, kan? Ambil saja. Kita sudah putus. Jadi, jangan pernah menemuiku lagi.”

 

“Yak, Jang Soobin.”

 

***

Kim Jongwoon menggerak-gerakkan pulpen yang ada ditangannya dengan malas. Ingatannya mengulang kejadian seminggu lalu saat gadis itu berbicara aneh dan tiba-tiba mengakhiri hubungan mereka. Jongwoon tidak merasa melakukan satu kesalahan pun. Seminggu terakhir ini dia memang disibukkan oleh berbagai macam kegiatan kantor sehingga jarang bertemu dengan Soobin. Maka dari itu, tidak mungkin Jongwoon bisa menyakiti hati gadis itu kalau saling bertatap muka saja hanya sesekali.

 

Pria itu menggeram kesal lalu mengacak-acak rambutnya dengan ganas. Masalah di kantor sudah cukup banyak. Tapi, gadis itu malah menambahnya satu lagi. Membuat beban pikiran Jongwoon menjadi lebih berat. Mereka bahkan sudah dua hari ini tidak bertemu. Jongwoon berulangkali menghubungi Soobin, tapi gadis itu dengan kurang ajarnya menolak panggilannya. Benar-benar membuatnya naik darah.

 

“Hyung~”

 

Jongwoon mendongakkan kepalanya dan mendecak pelan saat mendapati adiknya—Jongjin berdiri dihadapannya. “Sejak kapan kau disana?”

 

“Baru saja,” balas Jongjin lalu duduk di sofa.

 

Jongwoon mengabaikan adiknya itu dan mengambil salah satu berkas yang ada diatas mejanya. Dia langsung mencoretkan tanda tangannya tanpa mau repot-repot membacanya terlebih dahulu. Persetan dengan kerugian. Jongwoon sedang dalam mood yang sangat buruk dan tidak berniat melakukan apapun yang menurutnya tidak penting.

 

“Kau ada masalah, hyung?”

 

“Kurasa.”

 

“Kali ini apa?”

 

Jongwoon mendesis kecil. Dia selalu kalah jika sudah menyangkut adiknya itu. Hanya kepada Jongjin dia bercerita mengenai hari-harinya yang melelahkan. Sekaligus menyenangkan jika gadis itu berada disisinya.

 

“Kami putus.”

 

“Apa?”

 

“Aku yakin kau mendengarnya.”

 

“Tapi, kenapa?” ucap Jongjin tak terima. Dia begitu menyukai Soobin karena gadis itu terlihat manis dan cantik dalam waktu yang bersamaan. Soobin juga lembut dan baik sekali. Benar-benar cocok jika disatukan dengan Jongwoon yang berkebalikan sifat itu.

 

“Entahlah.”

 

“Apa kau melakukan kesalahan?”

 

“Mungkin.”

 

Jongjin menghela napas keras lalu mendecak kesal. Jawaban Jongwoon tidak membantu sama sekali. “Kau membuatku emosi,” ucap Jongjin, sedikit membentak. Dia menggaruk keningnya yang tidak gatal. “Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

 

Jongwoon mengalihkan pandangannya ke arah Jongjin, menatap adiknya itu dengan wajah datar. “Memaksanya kembali padaku. Memangnya apalagi?” tandasnya santai lalu kembali sibuk pada berkas-berkasnya. Tidak sadar kalau adiknya sedang melihatnya dengan mulut yang terbuka lebar.

 

Hyungnya itu pasti sudah gila.

 

***

Soobin melepaskan celemek yang melekat di tubuhnya lalu melipatnya sembari melamun. Seminggu belakangan Soobin suka sekali melakukan hal itu. Pikirannya melayang pada kejadian menyakitkan yang terjadi di kafe ini. Setiap kali teringat, Soobin akan langsung menghela napas dengan susah payah, seolah beban berat sedang ia pikul. Seperti sekarang.

 

“Wajahmu pucat. Apa kau kurang tidur, eonni?”

 

Suara Han Jinhye—penjaga kasir—membuat Soobin tersadar dan cepat-cepat menampilkan senyum tipisnya. Gadis itu meletakkan celemek yang sudah ia lipat rapi ke atas meja kasir untuk kemudian disimpan oleh Jinhye. “Aku baik-baik saja.”

 

“Tapi, wajahmu mengerikan sekali. Lihat, kantung tebal dibawah matamu.”

 

Jinhye menggelengkan kepalanya khawatir sembari berdecak pelan. Wajahnya serius, membuat Soobin ingin tertawa.  Gadis yang setahun lebih muda darinya itu memang selalu terlihat imut dan menggemaskan.

 

“Berhenti mengomentari orang lain dan lihat dirimu sendiri.”

 

Lee Sungmin tiba-tiba muncul membawa nampan berisi piring kotor. Sungmin menatap Jinhye sinis yang dibalas kekasihnya itu dengan bibir mengerucut kesal. “Seharusnya kau bercermin dan memperhatikan wajahmu yang terlihat seperti hantu.”

 

“Apa?” teriak Jinhye murka. Sungmin yang mendengarnya bergegas masuk ke dalam dapur. Menghindari kemarahan Han Jinhye. “Lee Sungmin, berhenti kau!”

 

Soobin mengulum senyum. Perdebatan sepasang sejoli itu selalu terasa menyenangkan untuk di dengar. Bukan karena mereka tidak saling mencintai, tapi memang begitulah cara mereka menunjukkan perasaan masing-masing. Soobin masuk ke dalam ruang ganti dan mengambil tasnya. Dia berpamitan pada Jinhye sebelum keluar dan berjalan menuju halte.

 

“Heh, gadis bodoh.”

 

Langkah Soobin terhenti saat seseorang memanggilnya. Soobin memandang sekitar dan terkejut mendapati Jongwoon sedang bersandar pada mobilnya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Sialnya, masih membuat Soobin terpesona. Jongwoon menghampiri Soobin dan langsung berada dihadapan gadis itu dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

 

“Mau apa kau?” tanya Soobin ketus tepat setelah ia berhasil menguasai kegugupannya. Seminggu tidak bertemu mampu membuat Soobin merasa kalau Jongwoon jauh lebih tampan. Sepertinya pria itu masih bisa menikmati hidupnya dengan baik.

 

“Menemuimu.”

 

Soobin memutar bola matanya kesal. “Bukankah sudah kubilang jangan menemuiku lagi?”

 

Jongwoon menyeringai kecil “Apa kau pikir aku akan mengabulkan permintaanmu yang tidak masuk akal itu?”

 

“Tidak masuk akal apanya, kita sudah putus.”

 

“Kuberitahu, ya, Nona Jang,” kata Jongwoon dengan suara berat. Dia mencengkeram kedua bahu Soobin dan menatap gadis itu tajam. “Hanya aku yang boleh memutuskan akan bagaimana hubungan kita ke depannya. Dan kau,” tunjuknya tepat di depan hidung Soobin. “tetap menjadi kekasihku.”

 

“Lihat betapa egoisnya dirimu.”

 

“Kau pikir aku peduli?”

 

Soobin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, merasa emosi. Jongwoon benar-benar seenaknya sendiri. Setelah menipunya, pria itu malah memaksanya untuk tetap melanjutkan hubungan mereka. Jongwoon mungkin tidak sadar kalau Soobin sudah mengetahui segalanya, tapi akan jauh lebih mudah jika pria itu menerima keputusannya.

 

“Lepaskan aku.”

 

“Tidak akan.”

 

Gadis itu menggeliat gelisah dalam cengkeraman Jongwoon, membuat Jongwoon terpaksa harus membawa Soobin dalam pelukannya. Dia tidak pernah suka menunjukkan kemesraannya di depan umum seperti ini. Tapi, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membuat gadis itu tetap berada disisinya. Tangan Jongwoon yang melingkari pinggang ramping Soobin terasa semakin mengerat.

 

“Kau mau mati, hah?”

 

Jongwoon hanya mendengus geli sebagai balasan. Pria itu membiarkan Soobin memberontak selama beberapa saat sebelum gadis itu kelelahan dan pasrah didekap oleh Jongwoon. Membuat Jongwoon bersorak penuh kemenangan di dalam hatinya.

 

“Kenapa kau ingin putus dariku?” tanya Jongwoon tiba-tiba. Tidak ada jawaban dari Soobin sehingga Jongwoon mendecak pelan. “Baiklah. Beri aku satu alasan dan kau kulepaskan.”

 

“Kau benar-benar ingin tahu?”

 

“Hmm.”

 

Terdengar helaan napas lelah dari gadis itu. “Mau sampai kapan kau terus menipuku?”

 

“Apa?”

 

“Berhentilah berpura-pura polos, Kim Jongwoon. Aku sudah tahu semuanya.”

 

Jongwoon melepaskan dekapannya dan menatap Soobin ingin tahu. “Apa yang baru saja kau katakan?”

 

“Aku hanya pelampiasan. Iya, kan?”

 

“Jang Soobin, bagaimana bisa kau—“

 

Tawa Soobin keluar bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh di pipinya, otomatis menghentikan kalimat yang ingin diutarakan Jongwoon. “Aku mendengar percakapanmu dengan sepupumu itu. Maaf karena aku telah lancang melakukannya.”

 

“Percakapan? Percakapan ap—Oh!”

 

Soobin menghapus air matanya lalu mendongakkan kepalanya. “Alasan yang cukup untuk membuatku meninggalkanmu, kan?”

 

Gadis itu menatap Jongwoon dengan mata sembab. Membuat Jongwoon bingung harus melakukan apa untuk menghibur Soobin. Jongwoon tidak pernah terdesak dalam situasi seperti ini. Selama dia menjalin hubungan, tidak pernah ada gadis yang terang-terangan menunjukkan airmatanya di depan Jongwoon. Jadi, jangan salahkan Jongwoon jika dia malah terdiam kaku ditempat dan membiarkan Soobin pergi menjauh.

 

Soobin tidak tahu sudah berapa meter langkah yang ia ambil untuk sekedar memberi jarak pada Jongwoon. Setengah berharap, Jongwoon akan memintanya kembali. Dan jika pria itu melakukannya, Soobin bisa berpikir ulang mengenai keputusannya yang mendadak ini. Tapi, hingga Soobin sampai di halte pun, Jongwoon tak kunjung menghentikannya. Jadi, dia menganggap hal itu sebagai persetujuan. Sepertinya sekarang mereka sudah resmi putus.

 

Bus datang. Soobin bangkit dari duduknya dan berniat masuk ke dalam. Tapi, seseorang menarik pergelangan tangannya dengan kuat, memutar tubuhnya dan mencumbunya dengan ganas. Soobin belum bisa berpikir jernih bahkan setelah ia menyadari bahwa Jongwoon baru saja melepaskan tautan bibir mereka.

 

“A—apa yang b—baru saja k—kau lakukan?” tanya Soobin terbata-bata sembari memegangi bibirnya yang basah dan sedikit membengkak. Gadis itu memundurkan tubuhnya, memberi jarak selangkah dengan Jongwoon. Melihat itu justru membuat Jongwoon kesal dan menarik pinggang Soobin mendekat sehingga wajah mereka kembali berjarak beberapa senti saja.

 

“Bodoh.”

 

“Apa?”

 

“Kau salah paham, gadis bodoh.”

 

Kening Soobin berkerut bingung. “Apa?”

 

“Bisakah kau mengucapkan kata lain?” ujar Jongwoon gusar, dengan sengaja memajukan wajahnya sehingga ujung hidung mereka saling bersentuhan..

 

“Kim Jongwoon, apa maksudmu?” tanya Soobin lalu mendorong dada Jongwoon menjauh, membuat tubuh mereka tidak lagi lengket seperti permen karet.

 

Jongwoon menghembuskan napasnya dengan kasar dan melepaskan pelukannya di pinggang Soobin. “Aku malas menjelaskannya.”

 

“Tidak boleh! Kau harus menjelaskannya padaku.”

 

“Suaraku terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.”

 

“Jadi, kau ingin aku terus salah paham?”

 

“Bukankah sudah kuberitahu tadi? Tidakkah itu cukup?”

 

Kening Soobin berkerut semakin dalam. “Memberitahu apa?”

 

Jongwoon memutar bola matanya jengah. Merasa sangat kesal karena kebodohan Soobin kumat disaat yang tidak tepat. “Ini,” setelah itu Soobin hanya bisa merasakan hembusan napas Jongwoon diwajahnya dan bibir basah Jongwoon yang menciumnya. Soobin mengerjapkan matanya beberapa kali, masih merasa terkejut. Setelahnya, Soobin malah menutup kedua kelopak matanya, menikmati setiap kecupan Jongwoon dibibirnya dan membalasnya.

 

Ciuman Jongwoon dan hangatnya tangan pria itu yang melingkar erat dipinggang Soobin seolah berbicara, berusaha menyampaikan sesuatu yang tidak bisa dikatakan Jongwoon karena berbagai alasan tidak masuk akal. Sebuah kata sederhana yang mematahkan keraguannya akan perasaan Jongwoon dan membuat perutnya terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayapnya secara bersamaan.

 

“Saranghae.”

 

***

Prolog

 

“Aku menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan saja. Dan jangan katakan aku mencampakkan Minhee karena dialah yang sebenarnya menelantarkanku,” ujar Jongwoon dengan suara berat, menandakan kalau dia benar-benar serius dengan ucapannya.

 

“Ah, ternyata hanya pelampiasan.”

 

“Awalnya.”

 

“Apa?”

 

Jongwoon mengambil kopinya dan meminumnya lagi. Dia tidak meletakkan cangkir itu ke tempat semula setelah selesai membasahi tenggorokannya yang kering dan malah memutar-mutar cangkir itu, memainkannya.

 

“Aku memang menjadikannya pelampiasan. Tapi itu dulu, setahun yang lalu. Minhee meninggalkanku begitu saja sedangkan seperti yang kau tahu, dia benar-benar tipeku. Lalu aku bertemu gadis itu. Dia polos, manis, baik, dan sangat sopan. Kupikir, gadis seperti ini sangat cocok untuk dipermainkan. Aku sudah berencana membuatnya jatuh cinta padaku lalu meninggalkannya begitu saja. Yah, awalnya aku berhasil. Tapi, ternyata aku juga terjebak. Gadis itu, entah sejak kapan aku sudah jatuh dalam pesonanya.”

 

Suara tepuk tangan Kibum yang membahana membuat Jongwoon mendongakkan kepalanya dan menatap sepupunya itu dengan raut wajah aku-memiliki-saudara-gila. Dia meletakkan cangkir kopi itu lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Membiarkan Kibum melakukan aksi anarkisnya.

 

Gadis itu, entah sejak kapan aku sudah jatuh dalam pesonanya,” ujar Kibum dengan suara yang dicoba semirip mungkin. Kibum bertepuk tangan sekali lagi, kali ini diiringi tawa kerasnya yang menggema. “Astaga. Bagaimana bisa kau mengucapkan kata sebagus itu? Aku tidak tahu kalau kau juga memiliki sisi romantis.”

 

“Diam kau.”

 

“Jang Soobin benar-benar hebat. Kau tidak ingin mengenalkannya padaku?”

 

“Aku masih cukup waras untuk melakukan hal itu.”

 

Kibum tertawa lebih keras lagi. Ternyata, Jongwoon yang sedang jatuh cinta bisa menjadi bahan hiburan yang menyenangkan. Dan tentu saja membuat Kibum semakin semangat untuk merecokinya. “Wah, kau protektif sekali, Sepupu.”

 

“Kau ingin aku mematahkan tangan kananmu atau kaki kirimu terlebih dahulu, Kibum ssi?”

 

***

8 thoughts on “[FF Freelance] Misunderstanding

  1. Suka dengan gaya bahasanya, kata-katanya juga ringan.

    Sepertinya aku bakal berkunjung keblog-nya author. See You…

  2. nice.. kirain beneran cuma bt pelampiasan.. ternyata ada kelanjutannya ya 😀
    jang soobin.. klo nguping jagan setengah-setengah ya.. lanjutin ampe tumtas biar g salah paham.. 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s