Pray For Love (Part 2)

pray-for-love

Title: Pray For Love Part 2 || Author: Keyindra || Cast: Taeyeon SNSD , Yesung Super Junior,Victoria f(x), Kyuhyun Super Junior. || Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment || inspirate by novel, K-drama, music, MV, etc || Dont copy paste them without my permission. So please don’t be a silent readers. ||

 

Love is not what the mind thinks but what the heart feels

Cinta itu bukan apa yang dipikirkan oleh akal; tapi cinta adalah apa yang dirasakan oleh hati”

Love makes the time pass. Time makes love pass

“Cinta bisa membuat waktu terlewati. Dan Waktu pun bisa membuat cinta terlewati”

*&*&*&*&*&*&*

Desember, sebuah bulan dimana puncak musim dingin sedang dialami oleh belahan bumi utara. Musim dingin yang menyelimuti kota Paris. Angin sedikit agak kencang. Song Qianie mengibaskan rambut panjangnya kebelakang agar tidak menghalangi pandangan, sementara ia bergegas menyusuri  jalan disekitar Champs Elysees yang ramai akan pasangan muda yang juga tengah dimabuk asmara. Victoria sedikit menggigil mengeluarkan uap putihnya karena rasa dingin yang mulai menembus jacket dan sweaternya tebalnya. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Kim Jongwoon, karena hari ini sama sekali ia belum bertemu dengan lelaki itu baik di kampus ataupun menghubunginya. Mungkin pria itu sedang sibuk dengan tugas akhir strata duanya?. Maybe?.

Victoria kembali melirik arloji yang melingkar ditangannya. Baru 10 menit yang lalu ia tiba ditempat janjian mereka. rencananya malam ini mereka akan menghabiskan malam bersama, lebih tepatnya mereka berdua berkencan. Namun Jongwoon belum tampak batang hidungnya sama sekali hingga saat ini. atau mungkin ia yang terlalu dini untuk datang?. Mata Victoria memandang sekitarnya, memandang deretan pohon gundul ditepi jalan lalu beberapa detik kemudian berpusat pada sebuah gelang yang berada pada tangan kanannya. Sebuah gelang pemberian Jongwoon setahun lalu saat mereka berdua baru saja resmi menjalin sebuah hubungan, tepatnya satu tahun lalu.

Kim Jongwoon. Lelaki yang mengisi hidupnya kini.

“hay..”

Lamunan Victoria buyar seketika, ia  melompat terkaget dan berputar cepat. Matanya terbelalak melihat dua orang manusia yang berada dibelakangnya. Ternyata itu bukan Jongwoon, begitu mengenali wanita itu sebagai teman dekatnya, Cathline Palmer. Victoria menghembuskan napas lega.

“Oh My God. Kau membuat jantungku ingin melompat saja.” Victoria mendesah sambil memegang dada. “kau mengagetkanku setengah mati.”

            Cathline mendecakkan lidah dan tersenyum lebar. “kau gampang sekali terkejut.” Ejeknya.

“apa yang kau lakukan sendirian disini?.” Lanjut Catline. Terkesan menginterogasi memang tapi gadis itu membawanya dengan supel.

“euhmm..hanya menikmati musim dingin seperti biasa.” Ujar Victoria terkesan canggung dan kikuk, tapi wanita itu sepertinya sudah tahu jika gadis bernama Song Qianie yang berdiri didepannya itu tengah menunggu seseorang. Ia sudah tahu siapa sebenarnya yang ditunggu oleh Victoria. Gadis itu menyipitkan matanya sejenak sebelum sebuah senyuman usil melengkung dari bibir cantiknya.

“aku sudah tahu jika kau sedang menunggu Kim Jongwoon!.” Tebak wanita itu.

“eh..”

“apa kau sedang menunggu penyiar bersuara indah itu?. Tadi pagi aku sempat bertemu dengannya di radio. Dia begitu terlihat berbeda dari hari biasanya. sepertinya ia terkena amukan atasan sama sepertiku beberapa hari yang lalu. lalu setelah siaran, seperti biasa ia langsung pergi kekampus.” wanita bernama Cathelin itu terkekeh pelan menatap raut wajah kebingungan Victoria. Wanita yang juga berprofesi sama dengan Jongwoon sebagai salah satu penyiar radio swasta yang terkenal dinegara tersebut.

“benarkah?. Ia terkena amukan dari atasan kalian?. Dan jika pun Jongwoon oppa pergi kekampus, aku tak melihatnya sama sekali. Bahkan hingga malam ini, ketika kami bersepakat untuk bertemu ia sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.”

“yeah. Baiklah aku pergi dulu. Sampai bertemu dikampus besok. Bye.”

Victoria tersenyum masam, Daripada ia menunggu Jongwoon seperti orang hilang, lebih baik ia menunggu saja didalam cafe. Sambil menyelam minum air pula, Victoria menunggu Jongwoon sambil mencari ganjalan untuk perutnya.

Victoria memilih meja kosong di pojok dan memandang berkeliling mencari pelayan. Victoria mengangkat sebelah tangan ke arah pelayan yang sedang berjalan ke meja dekat pintu. Ternyata si pelayan sedang mengantarkan pesanan laki-laki berambut hitam yang menempati meja di sana. Victoria mengerjapkan mata. sepertinya ia pernah melihat orang itu.

Karena sibuk mengamati si laki-laki berambut hitam, Tara tidak menyadari pelayan lain menghampiri mejanya dan menanyakan pesanan. Ia melompat berdiri dan nyaris menabrak pelayan yang berdiri di dekatnya.

“Maaf,” kata Victoria buru-buru setelah si pelayan mundur selangkah karena terkejut. “Saya ingin menyapa teman saya dulu di sana.

Pelayan itu mengangguk acuh tak acuh dan pergi. Victoria segera menghampiri meja Kyuhyun.

“permisi.” Katanya ragu.

“laki-laki itu mengangkat wajah dan menatapnya dengan bingung.” Ya?.”

Senjata utama untuk menghadapi orang-orang adalah senyum yang manis dan sopan. Karena itulah Victoria memasang “kuda-kuda”-nya dengan menyunggingkan senyum ramah. “Cho Kyuhyun bukan?.” Tanyanya.

“Benar, saya sendiri,” jawab Kyuhyun. Raut wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

“masih ingat padaku?.” Tanya Victoria hati-hati, takut jika lelaki itu tak mengenalinya. Kalau itu sampai terjadi ia berharap ia punya rencana cadangan.

Kyuhyun masih terlihat bingung sesaat, lalu wajahnya berubah cerah. “Oh, benar, bukankah kau Victoria Song. Wanita yang kutolong itu?.”

Victoria lega laki-laki itu masih mengingatnya. Ia menjabat tangan Kyuhyun yang terulur. Kali ini ia menyadari jika lelaki itu senang juga bertemu dengannya. Ia juga baru menyadari laki-laki itu punya lesung pipi yang membuat senyumannya terlihat hangat dan bersahabat.

“sendirian disini?.” Atau menunggu seseorang?.” Tanya Kyuhyun setelah menarik tangannya kembali.

Victoria mengangguk. “iya sebenarnya aku sedang menunggu seseorang, tapi sepertinya orang itu tak datang. sudah dua jam lebih aku menunggu kedatangan orang tersebut. tapi sampai sekarang…”Victoria menghembuskan napas panjang. Lelaki didepannya tahu lanjutan dari omongan Victoria tersebut. “bagaimana denganmu?.”

Kyuhyun menyunggingkan senyum termanisnya.  “Aku juga sendirian.”

“Kalau begitu, silakan bergabung saja denganku,” Kyuhyun menawarkan sambil menunjuk kursi di hadapannya.

“Terima kasih,” sahut Victoria dan menerima ajakannya dengan senang hati karena itulah yang ia harapkan. Ia sedang benar-benar tidak ingin makan sendirian. “Aku baru saja datang ketika melihatmu. Jadi kuputuskan untuk menyapamu karena sewaktu pertama kali bertemu kita belum sempat bicara banyak.”

“Tidak apa-apa,” kata Kyuhyun. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memanggil pelayan. Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. mereka menyebutkan pesanannya dan pelayan itu pun berlalu.

“jadi apa rencana ada setelah ini?.” tanya Kyuhyun pada Victoria.

“mungkin setalah makan aku akan pulang.”

“pulang?..eehhmm….”

“w..wae?.” tanya Victoria heran.

“bolehkah aku meminta tolong hanya untuk sekedar berjalan-jalan sebentar, menemaniku mengelilingi kota Paris. Karena aku belum sepenuhnya mengerti tentang kota ini. jadi sebagai imbalan balas budiku. Bolehkah aku meminta anda mengantarkanku berkeliling sebentar di kota ini?.”

“tidak masalah.” Balas Victoria tersenyum. Laki-laki didepannya sungguh sangat tampan dan ramah.

            *0*0*0*0*

Kim Jongwoon masih saja berkonsentrasi menatap layar monitor sebuah laptop dengan wajah sedikit lelah. Sejak tadi siang tak henti-hentinya ia berkonsentrasi dengan buku-buku keuangan sialan. Kalau tidak karena profesor pembimbing thesis nya lah yang meminta bantuannya untuk membuat sebuah penelitian maka ia tak akan melakukan itu dengan baik. Dan yang lebih penting lagi ia akan cepat diluluskan dalam ujian membuat thesis untuk meraih gelar tersebut.

Frustasi dan penat. Tentu saja. karena hari ini sungguh sangat menyebalkan bagi Jongwoon. Perasaan Jongwoon tak kunjung membaik sepanjang sisa hari ini. ditambah lagi ia terpaksa harus menerima omelan sialan dari atasannya George Damian Gaulle, atasannya yang sudah berusia lebih dari setengah abad dan superkeras, karena penampilannya dinilai buruk saat siaran. Damian Gaulle bukan orang yang suka bertanya-tanya tentang masalah pribadi bawahannya dan ia juga tidak peduli. Yang penting baginya adalah seorang penyiar harus selalu terdengar ceria, profesional, dan tanpa beban begitu masuk ke ruang siaran. Ini adalah akibat dari dirinya terlalu memikirkan project pemberian dosennya agar thesis yang ia susun segera cepat selesai.

Ini bukan pertama kalinya Jongwoon harus berada diperpustakaan kampus hingga malam, tapi hari ia mau tak mau harus bekerja extra keras lagi. Ia sudah memutuskan untuk terjun dan menekuni dunia keuangan public. Pekerjaan tambahan yang harus bergulat dengan buku-buku tebal sungguh-sungguh memakan waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari.

Ia berhenti sejenak dari aktivitas memainkan jarinya pada huruf-huruf di Keyboard.  “Bisa gila aku.” Gumamnya pada diri sendiri.

Jongwoon memandang sekelilingnya dari kaca besar di dalam perpustakaan La Sorbone University. Kota Paris masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan dan lampu-lampu penerangan disepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim dingin di ibukota Perancis yang menakjubkan itu. Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Paris, Jongwoon masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, ia rasa jika sudah saatnya mengakhiri tugas sialannya dan sejenak mengenyahkan diri dari dunia perkuliahan.

Jongwoon menghembuskan napas panjang. Ia rasa hari ini cukup sampai disini otak dan raganya sudah tak mau berhubungan kembali hanya untuk sekedar melirik buku dengan nilai persen-persen dan potongan-potongan yang entahlah apa artinya itu. Baginya sudah tidak ada mood lagi untuk melihatnya dan. Baginya hal yang terpenting adalah segera keluar dari perpustakaandan  Setelah ini ia bakal bisa bergegas pulang dan bertemu dengan kasur empuk dikamarnya untuk tidur. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam lima belas menit terakhir.

Langkah kaki Jongwoon menuntun kakinya menuju sebuak halte bus terdekat. Tempat yang ingin ditujunya saat ini adalah Montparnasse. Jongwoon duduk dibangku panjang yang tersedia di halte bus sambil memandangi langit malam yang cerah. Ia menggosok-gosokkan kedua tanganya agar merasa sedikit hangat dan memerhatikan uap putih yang keluar dari mulutnya seperti asap rokok. Ia menggigil kedinginan. Selang beberapa menit kemudian sebuah bus berhenti di halte dan beberapa penumpang turun.

“Eiffel..” gumamnya pelan. Ternyata bus yang sedang berhenti tersebut akan berhenti pada halte didekat menara Eiffel. Sedangkan ia seharusnya menaiki bus Jurusan Seine. Oh, mungkin ini rezeki yang didapatnya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam dan bus inilah yang terakhir beroperasi. Jadi mau tak mau ia harus menaikinya, meskipun jarak Eiffel-Seine lumayan memakan waktu 15 menit setelah sampai dipemberhentian.

Bus berhenti tepat beberapa ratus meter tak jauh dari menara eiffel. Beberapa orang termasuk Jongwoon turun dari bus dekat lokasi adanya menera eiffel tersebut. dengan langkah pelan bak seorang lelaki yang lelah dan frustasi dengan kepala masih tergiang-ngiang dengan uang-uang dalam buku keuangan sialan tersebut hanya bisa berjalan seperti orang yang tak mempunyai semangat hidup dengan wajah terlihat lelah.

Mata Jongwoon memandang sekeliling jalanan yang berada disekitar lokasi menara Eiffel tersebut. hampir sepi memang suasana disekitar menara tertinggi didunia itu, hanya cahaya lampu malam disekitar yang membuat kota masih hidup. Jongwoon menyipitkan matanya karena silauan sinar lampu malam. Saat kedua manik mata Jongwoon menatap sesosok gadis yang sedang berjongkok dan mengorek-ngorek tanah bersalju dengan ranting disebuah taman tak jauh dari jalan yang Jongwoon lalui. Sepertinya gadis itu sedang mencari sesuatu. Sesekali ia meniup tangannya yang tidak bersarung tangan. Dan sepertinya gadis itu sedang sangat kebingungan sekali.

Jongwoon masih saja memperhatikan gadis itu dengan jarak dekat, gadis dengan rambut kecoklatan sebahu yang diikat dengan ikat pita berwarna putih. Daripada berdiam dan memperhatikan gadis tersebut dan memandangnya kosong lebih baik ia membantu gadis itu. Siapa tahu mungkin?.

 

“être ce printemps.” (sedang apa nona?.) Tanyanya.

Gadis itu mendongak. Matanya menyipit menatap Jongwoon. Dari dekat Jongwoon sedikit terkejut. Ternyata ia mengenal yeoja itu. Yeoja yang baru ia temui beberapa waktu yang lalu dan lebih tepatnya yeoja itu pernah ia selamatkan dari sebuah kecelakaaan dalam hidupnya.

Kim Taeyeon.

Jongwoon menyadari jika yeoja yang sedari tadi ia perhatikan adalah dirinya. Jongwon juga baru tahu jika raut wajah Taeyeon sepertinya berbeda. Ia hampir menangis. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“sedang apa Kim Taeyeon-sshi?.” Tegur Jongwoon sekali lagi. Kali ini ia menggunakan logat asli orang Korea agar gadis itu mengerti.

“oh, anda Kim Jongwoon-sshi!.” wajah Taeyeon sedikit terangkat menatap Jongwoon. Namun selanjutnya ia kembali pada aktivitas semula, yaitu mengorek tanah bersalju untuk mencari benda miliknya.

Setelah ragu sejenak, akhirnya Taeyeon pun mendesah kecil  dan bergumam pelan “Mencari sesuatu.”

Alis Jongwoon terangkat dan keningnya menggerut bingung. “ mencari apa?.” Tanyanya kembali.

“sebuah kalung.” Tanpa mempedulikan Jongwoon kembali Taeyeon kembali menunduk dan mengorek-orek tanah.

Kalung?. Tanpa bertanya lebih jauh Jongwoon pun ikut mencarinya. Ia baru mulai mencari dengan posisi berlutut. Saat itu pula sudut mata Jongwoon menangkap sesuatu yang berkilau. Ia memungut benda itu mengamatinya secara detail. kalung yang sederhana, tetapi indah, dengan liontin kalung tersebut berbentuk sebuah kunci kecil dari perak dan ukiran dewa amor yang memanahkan panah cintanya.

“ ini milikmu Kim Taeyeon-sshi?.” Tanya Jongwoon. Lelaki itu memegang sebuah benda berkilau tersebut seraya menghembuskan napas panjang. Kembali Taeyeon menoleh kearah dan memandang ragu Jongwoon yang mengacungkan sebuah kalung. Taeyeon sedikit terkejut karena kalung miliknya itu dengan gampang ditemukan oleh lelaki bernama Kim Jongwoon tersebut padahal ia sejak satu jam yang lalu masih saja berada ditaman ini untuk mencari benda berharganya itu.

Jongwoon kembali tersenyum puas dan mengacung-acungkan kembali kalung milik Taeyeon tersebut kembali. “lihatlah apa yang kupegang!. Ketemu.”

Beberapa detik kemudian wajah Taeyeon mendadak berubah menjadi cerah dan tersenyum sangat manis sekali. Entah Taeyeon memiliki senyum seperti apa, tiba-tiba Jongwoon merasa melihat senyuman yang tak pernah ia lihat sebelum. Taeyeon terlihiat begitu cantik saat ia tersenyum hangat seperti itu.  “benarkah?.” Dengan cepat Taeyeon pun segera berlari menghampiri Jongwoon dengan mata berkilat-kilat senang dan pipinya semakin merah.

Jongwoon berdeham dan menyerahkan kalung dengan liontin berbentuk sebuah kunci kecil tersebut. pada Taeyeon. “jaga baik-baik. Jangan sampai hilang lagi. Apakah kalung itu sangat berharga bagimu?.”

Taeyeon mendongak kembali memandang sekilas wajah Jongwoon sementara tangan kanannya menerima kalung tersebut dari tangan Jongwoon. “jeongmal gamshamida. Aku tak tahu harus berterima kasih kembali pada anda karena telah  menolongku untuk kedua kalinya. Kalung ini sangat berharga bagiku, aku tak tahu jika harus kehilangan benda berhaga ini.”

Jongwoon tertawa kecil menanggapinya. Ia rasa Taeyeon sepertinya gadis lugu. “pasti orang itu juga sangat berarti bagimu!.”

“ne. Bagaimanapun juga. Dia yang yang sudah membuatku seperti ini.” ujar Taeyeon sendu. Ia lalu kemudian memakai kalung itu dilehernya, tapi saat memakainya entah mengapa ia merasa kesulitan mengaitkan kalung tersebut pada lehernya.

“sini kupakaikan!.” Tawar Jongwoon.

“mwoya?!!.” Pekik Taeyeon terkaget. Percaya diri sekali lelaki ini dengan menyentuh kalung miliknya dan memakaikannya pada dia.

Jongwoon berdecak kecil lalu merebut kalung tersebut dari tangan Taeyeon. Belum sempat gadis itu akan mengomel karena lelaki itu seenaknya sendiri Taeyeon justru diam seketika. Dengan cekatan Jongwoon memakaikan kalung berliontin kunci tersebut pada leher putih nan jenjang Taeyeon.

“kkaau!!..”

Untuk beberapa detik kemudian mereka berdua terdiam sejenak dalam suasana hening malam musim dingin yang menyelimuti mereka berdua, terlihat canggung memang. Jongwoon kembali mencairkan suasana diantara mereka berdua dengan berdeham kecil kembali.

“ehm.. Kim Taeyeon-sshi.” mata Jongwoon menangkap keadaan Taeyeon yang sedikit menggigil ditengah salju yang turun. Taeyeon menggosok-gosokkan kedua tangannya agar sedikit hangat. Seharusnya ia memakai sarung tangan. Taeyeon menggigil dan menjejalkan kedua tangannya kedalam saku mantel. Uap putih keluar dari hidung dan mulutnya seiring dengan hembusan napas. Dingin sekali. Sepertinya malam ini akan salju akan turun sedikit lebat.

“ne.” Taeyeon menoleh kearah suara dan melihat Jongwoon mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantelnya pula. “pakailah!.” Perintahnya. Ternyata Jongwoon mengeluarkan sepasang sarung tangan yangterbuat dari bahan soft cotton dengan sulaman bergambarkan sebuah daun pohon mapple.

“pakailah!.kau jauh lebih membutuhkannya dibandingkan diriku.” Ujar lelaki itu ringan dan santai. Sementara Taeyeon hanya bisa terdiam sesaat karena tak tahu harus melakukan apa. Tangan Jongwoon tak berhenti sampai disana. Karena ia merasa kesal dengan gadis itu mau tak mau ia akhirnya bereaksi dan memakaikan sarung tangan tersebut pada kedua tangan Taeyeon.

“hei.. Kim Taeyeon-sshi.!.” Jongwoon mendadadakan tangannya tepat didepan wajah Taeyeon hingga gadis itu sadar jika kini kedua tangannya dalam keadaan hangat.

“ne?.”

“kau mau pulang kan?. Ayo kita jalan sama-sama.”

Refleks Taeyeon tak sengaja mengangguk pelan tanda ia menyetujuinya. Entah setan apa yang merasuki dirinya kini dengan mudahnya ia menerima ajakan pulang bersama dengan lelaki yang bar saja ia kena, setelah lelaki itu dengan lancang memakaikannya kalung miliknya itu.  “mengapa kau baik padaku?.” Ucap Taeyeon ragu. Ia berhenti sejenak dibelakang langkah Jongwoon dan menatap punggung lelaki itu.

Jongwoon berhenti melangkah dan membalikkan badannya lalu menatap Taeyeon bingung dan tersenyum. “Tentu. Bukankah kita sesama manusia harus saling tolong-menolong  bukan?.” Entah mengapa disaat yang tak terduga seperti ini ia bisa dipertemukan dengan gadis yang beberapa waktu yang lalu ia tolong. Rasa suntuk, lelah dan frustasinya mendadak hilang.

“ne. Gamshamida Kim Jongwoon-sshi.”

 

“sudahlah. Ngomong-ngomong kau tinggal dimana?. Dimana alamatmu?.” Rententan pertanyaan Jongwoon yang diperuntukkan untuk Taeyeon satu persatu keluar dari mulutnya bersamaan dengan langkah kakinya. Namun Jongwoon menyadari jika pertanyaannya tak ada satu pun yang dijawab Taeyeon. Lelaki itu heran juga karena ia sama sekali mendengar derap langkah kaki Taeyeon.

Mata Jongwoon berbalik arah saat kedua manik matanya berpusat pada Kim Taeyeon yang sedang terduduk dijalan dengan rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya. Ia  terjatuh dan terduduk di tanah bersalju yang dingin.

“appo..sshh..appo..” Taeyeon mengerang pelan sambil mengusap dan meniup-niup pelan ujung lututnya yang menjadi sasaran empuk batu tak berbentuk yang ia sandung.

“kau terluka?.” Jongwoon menatap kaki kiri Taeyeon yang masih mengeluarkan darah segar. Namun Teyeon tak menganggap ucapan itu ia justru memaksakan dirinya untuk berdiri.

“aniyo. Aku tidak apa-apa?.”

Bruk..

Kaki Taeyeon kembali kehilangan kendali untuk menopang tubuh Taeyeon. Hingga akhirnya ia terjatuh kembali. menyadari jika ia melihat darah yang mengucur deras, lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna soft brown yang kemudian ia ikatkan pada lutut Taeyeon agar bisa membuat darah itu sedikit berhenti.

Diam. Keduanya sama-sama terdiam. Mendadak bibir Teyeon berubah menjadi biru dan wajahnya pucat. Namun apa yang terduga Jongwoon justru masih diam dan berdiri. Ia berjalan lagi dididepan, memunggungi Taeyeon.

Jongwoon menoleh dan menepuk punggungnya sendiri. “naiklah. Tak baik jika memaksakan diri untuk berjalan dalan keadaan seperti itu. Kau pasti susah untuk berjalan dalam keadaan seperti itu. Aku akan mengantarkanmu hingga kestasiun terdekat disini.”

“tidak usah.” Tolak Taeyeon halus.

“sudahlah. Kau sedang kesusahan untuk berjalan. Cepat naiklah!.” Paksa Jongwoon sekali lagi. Yang mau tak mau membuat Taeyein hanya bisa pasrah dan menurut. Taeyeon menarik napas panjang lalu berdo’a dalam hati semoga ia tak menyusahkan orang ini. ia berharap semoga laki-laki itu tidak ambruk karena berat badannya. Setelah memantapkan hati, Taeyeon merangkulkan kedua lengannya di leher Jongwoon dan membiarkan laki-laki itu menggendongnya.

“gomawo.” Lirih Taeyeon yang hampir tak didengar oleh Jongwoon. Tapi lelaki itu justru tersenyum manis mendengar suara lirih itu dan menganggukkan kepalanya pelan.

“ngomong-ngomong anda tinggal dimana?.”

“oh ya apa yang membuatmu hingga sampai ditempat seperti ini sendirian malam-malam seperti ini?!.”

Merasa tak mendapat respon kembali dari Taeyeon, Jongwoon sedikit menggoyang-goyangkan badannya untuk mendapat respon dari Taeyeon. Namun nihil sepertinya Taeyeon sedang tertidur. Pikirnya. Mendadak Jongwoon merasakan jika napas Taeyeon menjadi semakin berat dan satu tangan Teyeon yang sedari tadi memegang erat leher Jongwoo, jatuh menguntai. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.

“Kim Taeyeon­-sshi.” panggilnya sekali lagi.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Masih juga tak mendapat respon. Akhirnya mau tak mau Jongwoon memeriksa keadaan Taeyeon. Ia menurunkan Taeyeon sejenak. Dan apa yang ia dapati?. Taeyeon dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Kim Taeyeon-sshi!. bangunlah..jeball bangunlah!!.”

*0*0*0*0*

Gadis itu terlihat Bosan. Song Qianie atau yang lebih akrab dipanggil Victoria kini terduduk bersama seorang laki-laki yang tak jauh dibangku sebuah taman. Sudah hampir 3 jam ia menunggu Jongwoon untuk bertemu, karena lelaki itu mengajaknya untuk pergi berdua. Tapi hingga saat ini Jongwoon pun sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Ia rasa sepertinya kekasihnya itu sedang berhalangan untuk datang. tidak biasanya lelaki itu tak memenuhi janji yang telah disepakati oleh mereka berdua.

Victoria kembali melirik lelaki disampingnya yang sedari dua jam yang lalu menemaninya ditempat ini. setelah mereka berdua puas dengan acara berkelilingnya, mereka memutuskan untuk duduk-duk ditaman. Menikmati suasana malam.

Cho Kyuhyun masih memandangi sebuah patung air mancur tanpa ekspresi. Mereka sudah berada di taman romantis bernama Cheateau de Marqueyssac  selama lebih dari dua jam dan walaupun jelas-jelas tidak tertarik pada seni patung, mungkin lelaki itu tertarik pada seni memahat patung?.

“kau tak bosan Cho Kyuhyun-sshi sedari tadi melihat benda tak bergerak itu?.”

Kyuhyun tersenyum dan melipat kedua tangannya dan membalikkan wajahnya menghadap Victoria. “tidak. aku baru tahu jika ada Patung sebagus itu. Aku baru pertama kali melihatnya. Lalu bagaimana dengan kekasihmu itu?. Kapan ia akan datang?. ini sudah jam hampir jam sebelas malam.”

“aku tak tahu. Sedari tadi ponselnya tidak aktif. Ah mungkin saja ia sedang mengurusi kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai.”

“eeuuhmm..nona Song… “ Kyuhyun berucap pelan namun ragu. Ia menelan ludahnya ragu sebelum memberanikan diri bertanya pada Victoria. Namun sabelum ia menyelesaikan omongannya Victoria sudah terlebih dahulu memotongnya.

“aku bosan!. Sepertinya dia tak akan datang. huh..sudahlah, mungkin besok ia akan pergi ke kampus.” Victoria menghela napas panjang. Sebenarnya ia berbicara pada dirinya sendiri namun terdengar keras oleh telinga Kyuhyun. Maka omongan itu terdengar lebih seperti beberbicara pada dirinya.

“anda bosan?.” Tanya Kyuhyun bingung.

Victoria tersenyum lalu melipat kedua tangannya didada menghadap Kyuhyun lalu kemudian tertawa kecil. “kau kan orang baru di Paris. Bagaimana kau kita jalan-jalan lagi di Paris?.” Ajak Victoria. Terkesan lancang memang. Tapi apa mau dikata daripada Victoria duduk diam bosan ditaman sendirian lebih baik ia mengajak orang yang menganggur ini jalan-jalan. Toh, ini tak seperti biasanya Jongwoon lupa akan janjinya sendiri. Sifat alami manusia mungkin?.

“Bagaimana kalau ke Jardin du Luxembourg?” tanya Victoria yang mulai berpikir lagi. Atau kau mau belanja? Kita bisa ke Boulevard Saint-Germain atau rue de Grenelle. Tidak, laki-laki tidak suka berbelanja…. Ah, benar! Aku harus menunjukkan tempat kesukaanku! Sudah pernah melihat kota Paris dari ketinggian?” Tawar Victoria. Sepertinya Kyuhyun menyetujui ide Victoria itu. Dan mengapa tiba-tiba Victoria memberi kesan berbeda pada diri Kyuhyun?.

Kyuhyun mengangguk. Ia baru menyadari ia senang mendengar celotehan gadis itu. Ia suka mendengarkan suara Victoria. Seolah menjadi tour Guide bagi para turis, Victoria terus berceloteh panjang-lebar.

“apa selain Eiffel ada tempat yang indah lagi untuk melihat pemandangan kota Paris?.” Tanya Kyuhyun bingung sambi terus memandangi wajah Victoria. Ia tak tahu jika kini ia sudah sampai pada tempatnya.

“sudah sampai!. Aku suka sekali melihat pemandangan kota Paris dari puncak Arc de Triomphe,” katanya dengan mata berbinar-binar.

Sekali lagi Kyuhyun tak dapat berkutik. Ia melihat keindahan kota tersebut dari atas ketinggian. Benar-benar menakjubkan. Ternyata wanita disampingnya ini memiliki selera yang benar-benar menakjubkan. “ini pertama kalinya aku melihat pemandangan seindah itu.”

“Benar-benar menakjubkan! Banyak orang lebih suka melihat kota Paris dari puncak Eiffel, tapi menurutku pemandangan dari puncak Arc de Triomphe adalah yang terbaik. Bisa membuatmu sulit bernapas.” Victoria kembali berucap. Ya, malam ini ia gagal untuk berkencan, tapi setidaknya ia bisa sedikit melupakannya akibat pertemuannya yang tak sengaja dengan lelaki bernama Cho Kyuhyun itu.

“Aku paling suka berada di tempat yang tinggi, karena aku akan merasa… mm, bagaimana mengatakannya, ya? Rasanya begitu jauh dari peradaban. Kau mengerti maksudku? Rasanya seperti meninggalkan beban di tanah dan kita melayang bebas.”

“jinjayo?.” Victoria berusaha menahan senyum. Gadis itu sanggup bercerita terus kalau memang diperlukan. Gadis yang menarik.

“sejak kecil aku tak boleh pergi kemana pun oleh semua anggota keluargaku. Hanya karena aku menderita sebuah penyakit. Sebenarnya impianku adalah bisa mendaki tempat yang tinggi. Tapi impian itu hilang seiring berjalannya waktu. ya, setidaknya dengan naik ketempat ini aku bisa memenuhi keinginanku untuk pergi ketempat yang tinggi.” Kyuhyun mendesah kecil memandang sendu pemandangan didepannya. Ia sudah bosan dengan hidupnya kini.

“sudahlah nikmati saja hidup ini.” Victoria tersenyum lebar lalu menepuk-nepuk bahu Kyuhyun agar lelaki itu semangat menjalani hidupnya. Meski sebenarnya ia tak tahu sama sekali apa masalah hidup Kyuhyun. Gadis itu tidak mendesaknya lagi. Victoria memang suka berceloteh panjang lebar, tetapi ia tidak suka memaksa, meskipun sebenarnya dia penasaran.

Setelah menikmati keindahan kota Paris dari atas ketinggian, Victoria membawanya berkeliling kota, dengan penuh semangat menunjukkan tempat-tempat menarik, seperti pemandu wisata berpengalaman. Kyuhyun menyadari Victoria menyadari Tara gadis yang ekspresif. Ia tidak hanya bercerita dengan kata-katanya, tapi juga dengan mata dan gerakan tubuhnya.

Mungkin karena ini ia melewati musim dingin tak dinegaranya dan angin malam ini sepertinya bagus untuk diajak kompromi tidak sedikit kencang, meski rintik salju mulai turun dan berjatuhan. atau mungkin juga karena ia mendapat teman seperjalanan yang menyenangkan, Kyuhyun merasa santai hari itu. Gembira dan santai. Sudah lama sekali ia tidak mengalami perasaan seperti ini. Kapan terakhir kalinya ia merasa gembira? Pasti sebelum kedua orang tuanya meninggal dunia atau saat Jongwoon meninggalkannya secara diam-dia. Dan sudah pasti sebelum ia tahu rahasia itu.

*0*0*0*0*

“keluarga Nona Kim Taeyeon.”

Mendengar nama Kim Taeyon disebut, Jongwoon segera mengangkat kepla dan berdiri dari kursi yang ia duduki. Jongwoon menghampirinya dengan raut wajah cemas.

“ne..aku temannya. Bagaimana keadaannya?.” Tanya Jongwoon dengan panik dan napas terengah

Dokter berkewarganegaraan Perancis itu berambut putih dan berkaca mata itu menghela napas panjang dan dengan seksama menatap Jongwoon secara teliti dari atas hingga bawah. Lalu sedetik kemudian dokter tersebut tersenyum menenangkan. “dia baik-baik saja. ia hanya menderita animea cukup parah, namun keadaannya kini sudah kembali stabil dan luka dikakinya sudah bisa diatasi dan dibalut karena ia luka tersebut meski kecil tapi cukup dalam.”

“merci. Boleh aku melihatnya sekarang?.” Jongwoon membungkukkan badan tanda berterima kasih banyak pada dokter.

“Silakan saja,” sahut sang dokter. “Tetapi dia belum sadarkan diri. Biarkan saja dia beristirahat sebentar.”

Tanpa berkata apa-apa, Jongwoon ke kamar tempat Taeyeon dirawat. Sebelum ia masuk untuk menemui Taeyeon. Dokter itu sempat menghentikan langkah Jongwoon dan bertanya kembali.  “kau sudah menghubungi keluarganya Monsieur?.”

Taeyeon terbaring di tempat tidur dengan selang infus ditangan kirinya. Jongwoon berdiri ditepi ranjang, tak mau membangunkan yeoja itu. Kelihatnnya gadis itu baik-baik saja. napasnya teratur dan hanya menunggunya sadar saja. ternyata gadis didepannya menderita animea yang cukup parah.

“bodoh,” gumamnya pada Taeyeon yang sedang tertidur. “kenapa kau bisa terluka jika kau menderita animea, jika lukamu cukup parah kau pasti akan membutuhkan transfusi darah!.”

Yang ditanya hanya diam dengan mata terpejam.

“Kau taruh di mana matamu? Kenapa tidak hati-hati?” gumam Jongwoon lagi. “Kau tahu aku sangat ketakutan jika terjadi apa-apa heh?.” Jongwoon mengamati Taeyeon yang terbaring dengan mata terpejam Dadanya turun-naik dengan teratur seiring dengan napasnya.

Kelihatannya tenang dan damai. Jongwoon merasa sangat lega.

Saat kedua mata Jongwoon menatap Taeyeon, sinar lampu yang terpantul dari kalung perak Taeyeon memantul silau dan sedikit mengganggu penglihatannya. Perlahan tangan Jongwoon bergerak memegang liontin berbentuk kunci tersebut dan tanpa sengaja pula liontin itu terlepas begitu saja dari leher Taeyeon.

“ditengah rintik salju yang turun kau rela mencari kalung ini. berarti ini adalah benda berharga bagimu huh?. Kau beruntung karena kau masih punya orang yang peduli padamu tidak sepertiku.” Gumam Jongwoon lirih. Ia tertawa getir jika pikirannya kembali pada masa lalunya.

“ahhh..”

Jongwoon menarik napas panjang lalu pelan’-pelan menghembuskannya, ia mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Ada kalanya Jongwoon mengingat masa lalunya saat ia sebelum pergi dari Seoul, tapi apa mau dikata saat melihat gadis ia kembali ingat dengan kehidupannya di Seoul, meski tak bahagia Jongwoon ingin memperbaiki semuanya. ia yakin semuanya akan baik-baik saja dan kembali seperti semula. Dan ia rasa pula hari ini sangat melelahkan, sepertinya tidur sejenak akan membuatnya jauh lebih tenang.

Keesokan Harinya…..

Sinar matahari masuk dari celah-celah ruangan seakan menyuruh Taeyeon untuk bangun, dahi Kim Taeyeon mengernyit pelan, matanya mulai bergerak untuk membuka. Saat pertama ia membuka matanya, seberkas sinar putihlah yang pertama kali ia lihat. Kepalanya terasa pusing. Taeyeon mengerjap pelan saat bau rumah sakit menguar menusuk hidungnya. Pandangan mata Taeyeon masih saja menelusuri ruangan ini dan terhenti saat kedua bola matanya terhenti dan berfokus pada seorang namja yang sedang tertidur disebelah ranjangnya. Kaget. tentu saja. yang ia ingat terakhir kali ia sedang mencari kalung kesayangannya ditaman, tapi mengapa mendadak ia kini berada dirumah sakit.

“kalungku?.” Taeyeon meraba-raba lehernya merasa dirinya kini teringat kembali dengan kalung pemberian seseorang 8 tahun lalu. ia mendadak panik saat itu juga ia tak menemukan kalungnya. Namun raut wajah panik itu berubah seketika saat Taeyeon menemukan kalung yang ia cari kini berada pada genggaman seseorang yang tertidur disampingnya dengan posisi terduduk. Seketika itu ia ingat jika beberapa jam yang lalu dirinya tengah bersama dengan lelaki bernama Kim Jongwoon itu dan kini kalungnya tengah dipegang oleh Kim Jongwoon.

Taeyeon tersenyum manis saat lelaki itu tidur dengan nyamannya sambil memgang benda kesayangan Taeyeon itu. Padahal sama sekali tidak pernah memperbolehkan siapapun orang untuk memegang kalungnya, tapi entah mengapa saat lelaki tampan itu memegang kalungnya ia justru merasa hangat dan ada sesuatu yang berbeda yang ia padang terhadap lelaki itu. Ia masih ingat saat mendapatkan kalung tersebut.

 

“hehe…terlalu kebesaran ya ukuran sepatunya.” Lelaki itu tersenyum malu sambil menggaruk tengkuk lehernya. Ia menjadi semakin salah tingkah saat Tayeon mencoba sepatu yang ia berikan lalu berjalan didepan anak lelaki itu.

 

“gomawoyo. Ini ahadiah pertamaku dari seorang teman yang berarti dalam hidupku. Terlalu besar memang. Tapi ya sudahlah besok sepertinya bisa dipakai.”

 

“kau gila memakai sepatu kebesaran itu?!.” Pekiknya yang mendadak raut wajahnya berubah menjadi kesal.

 

“tap..tapi..ini..”

 

“ya!. Tunggu dulu.” lelaki itu berlari sejenak dan saat ia kembali ia sedang membawa sebuah kotak yang bisa dibilang berukuran besar.

 

“sudah kubilang jangan dipakai sepatu itu!. Kau terlihat jelek jika memakai sepatu kebesaran itu!.” Dengan cepat tangan anak lelaki tersebut segera merebut sepatu itu dari tangan Taeyeon.

 

“ya! Kau!.” Pekik Taeyeon keras karena kesal karena hadiahnya diminta kembali. dengan cepat pula Taeyeon segera mengejar lelaki itu namun langkahnya terhenti seketida saat lelaki itu meneriakinya.

 

“stop!!.”

 

“wae. aku punya rencana yang lebih bagus daripada kau mempermalukan dirimu dengan memakai sepatu itu!.”

 

 

“cepat ambil sekop!.” Perintahnya pada Taeyeon.

 

“apa yang akan kau lakukan dengan sekop itu?!.” Tanpa mempedulikan Taeyeon lelaki itu masih saja menggalli lubang tanah dengan sekop yang Taeyeon bawa untuk dirinya.

 

“masukkan sepatumu dalam kotak ini!.” perintahnya.

 

“mwo?.”

 

“sudah cepat lakukan!.” dengan cekatan anak lelaki tersebut segera memasukkan sepatu tersebut dalam kotak kayu itu. “aku akan menyimpan sepatu ini pada kotak kayu ini dan menguburnya ditempat ini. suatu saat jika kakikmu sudah memenuhi ukuran sepatu itu kita akan membuka kotak itu. Dan aku akan melihat bagaimana dirimu saat mengenakan kedua sepatu itu.” Tangan lelaki itu kemudian memberikan sebuah kunci pada Taeyeon memnggegamkannya pada telapak tangannya.

 

“peganglah. Suatu saat kita pasti akan membuka kotak tersebut.”

 

Mata Taeyeon masih saja memperhatikan dengan detail lelaki yang didepannya. Dari sudut pandangnya, sepertinya ada yang berbeda dari sosok Kim Jongwoon. Mata taeyeon kembali melihat sesuatu yang beberbeda dari Jongwoon. Saat kedua manik mata Taeyeon menatap sebuah luka kecil dikepala Jongwoon, disela-sela rambut Jongwoon. Bahkan meski tertetup oleh rambut. Tapi Taeyeon secara kasat mata dapat melihat luka tersebut. ia tak tahu luka apa itu, tapi Taeyeon entah mengapa tertarik dengan luka dikepala tersebut dan ingin menyentuhnya. Namun sebelum Taeyeon sempat menyentuh luka tersebut, ia dikagetkan dengn sebuah suara.

“kau sudah sadar?.” Tanya Jongwoon datar padanya lalu tersenyum kecil menatap wajah Taeyeon.

“terima kasih karena telah menolongku.” Ujar Taeyeon lirih. Jongwoon cepat menggeleng. “Jangan bicara dulu. Kau masih lemah. Tunggu sebentar, kita harus memanggil dokter.”

Jongwoon menekan tombol merah di dekat tempat tidur dan kembali memandangi Taeyeon. Kelihatannya gadis itu masih setengah terjaga, karena matanya sesekali terpejam, lalu terbuka lagi, tapi dari matanya Jongwoon tahu jika Taeyeon masih dalam kondisi lemah.

Tidak lama kemudian, terdengar pintu dibuka. Jongwoon menoleh dan melihat dokter dan perawat bergegas masuk. Ia menoleh kembali kepada Taeyeon dan berkata “dokter sudah datang. aku akan pergi sebentar untuk menghubungi keluargamu. Kau sudah tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.”

*0*0*0*0*

“akhirnya kau jawab juga teleponmu. Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali semalaman penuh Hyung!.”

Kata-kata itu menerjang gendang telinga Kim Jongwoon bahkan sebelum ia sempat berkata “halo”. Ia bahkan belum juga sempat benar-benar menempelkan ponselnya ditelinga. Mengenali suara diujung sana, Jongwoon mendengus dan berkata “aku sedang ada urusan yang harus kuselesaikan. Siang ini aku akan pulang.”

“apa kau semalamn penuh berada dikampus Hyung?. Atau kau menginap di kantor radiomu itu?.” Desak Kyuhyun dengan berbgai rentetan pertanyaan tersebut. mendengar kata nama kantor Radio, pikiran Jongwoon langsung saja berpusat jika pagi ini ia ada siaran dan sialnya lagi siaran tersbut akan dimulai 1 jam lagi. Ia mengutuk dirinya kembali, kenapa ia bisa melupakan hal yang sangat penting seperti siaran dipagi hari.

“Kyuhyun-aa. Sepertinya aku harus cepat pergi untuk siaran. Nanti saja kita lanjutkan dirumah.” Ucap Jongwoon mengakhiri pembicaraannya cepat.

Klik…

Jongwoon mematikan ponselnya secara otomatis yang membuat Kyuhyun yang lawanan arah darinya mendengus kesal.

 

1 jam kemudian @ Chérie FM dan Rire & Chansons

Kim Jongwoon menghentikan langkah kakinya saat dirinya kini berada tepat didepan ruangan Damian Gaaulle, selaku atasannya yang setengah terbuka. Dari celah pintu tersebut ia dapat melihat atasannya sedang duduk dikursinya denga satu tangan berpegang pada ponsel sambil tertawa. Tumben sekali bujang lapuk yang sudah tua itu tertawa, padahal setiap harinya jika Jongwoon harus berhadapan pada leleki tua yang ingin sekali mencekiknya.

“Jongwoon.” Panggil sebuah suara. Jongwoon dapat merasakan jika ada seseorang yang menepuk punggungnya pelan. Ia tahu bahkan hafal suara yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Cathline, rekan satu penyiar Jongwoon di radio swata ini.

“mm?.” Gumam Jongwoon tanpa mengangkat wajah.

Catheline baru  membuka mulut, lalu mengurungkan niat. Ia tahu dan ingat betul bahkan pernah mengalaminya ketika menerima omongan pedas dari atasannya tersebut. Jongwoon menautkan sebelah alisnya, lalu memandang gadis berambut pirang sebahu itu dengan tatapan mengherankan.

“Cath..” panggil Jongwoon.

“jangan terlalu dipikirkan. Bukankah kau sudah hafal sifat dari situa bangka itu. Tuan perfectionist itu mengharapkan semua orang juga sempurna seperti dirinya saat siaran.” Ujar gadis itu mencoba menghibur Jongwoon. Ia tahu jika atasannya sebentar lagi akan mengamuk.

“Cath..bukankah ada yang berbeda dari si tua itu?. apa pagi ini ada hujan salju yang lebat?. Kenapa pria tua itu tak henti-hentinya tersenyum lebar.” Tanya Jongwoon heran, lelaki itu masih saja mengintip atasannya yang, eer.. Gila mungkin lebih tepatnya.

“sepertinya si tua itu sedang gembira. Mungkin hari ini mood killernya sedang menghilang entah kemana.”  Lanjut Jongwoon yang langsung membuat mata orang disebelahnya tersebut segera mengintip dari celah pintu yang terbuka, seakan ingin mengetahuinya. Jongwoon menoleh kearah temannya yang sedang memandangi atasan mereka sambil tersenyum. Ia mengangkat bahu. “tumben sekali.” Ia tak peduli.”

Mendadak atasan mereka tiba-tiba saja berjalan cepat keluar ruangan dan menghampiri mereka berdua. “Allô, semuanya,” sapanya. “Bukankah dunia terlihat indah saat acara kita mendapat rating tinggi?.”

Cathlein tersenyum sopan sedangkan Jongwoon meringis. Brengsek memang kemarin si tua atasannya itu. Susah-susah ia siaran bahkan dimarahi habis-habisan karena pendapatnya tentang siaran Jongwoon yang tergolong tak bagus dan salah kaprah, tapi hasilnya siaran itu justru malah mempunyai rating yang tinggi.

Atasan mereka bertepuk tangan meminta perhatian. “Aku akan mentraktir kalian semua minum malam ini. Bagaimana?.” Semua orang berseru setuju dan bertepuk tangan. Jarang-jarang atasan mereka ini mau berbaik hati seperti itu. Jarang-jarang orang tua itu tak kikir.

“sepertinya hari ini hari keberuntungan kita semua.” Bisik Cathelin yang mendapat kekehan kecil dari Jongwoon.

“hei Jongwoon Kim. Ngomong-ngomong bagaimana acara kencanmu tadi malam dengan Victoria?.” Tanya Cathlein tiba-tiba. Ia menyenggol tubuh Jongwoon pelan. Aslinya Cathelin hanya ingin menggoda lelaki itu saja karena tumben sekli lelaki itu terlambat untuk acara siarannya.

“kencan?!. Siapa yang….ken..”

Mendadak raut wajah Jongwoon berubah, pikirannya tiba-tiba teringat sesuatu. Ya, ia ingat jika ia melupakan sesuatu. Dan berkat kata ‘kencan’ yang dilontarkan temannya itu pikiran Jongwoon langsung saja tertuju pada seseorang. Ia ingat jika kemarin ia berjanji untuk bertemu dengannya, namun karena alasan tugas yang diberikan dosennya belum selesai ia pun lupa jika ia ada janji dan dengan seenaknya ia malah berkutat dengan tugasnya hingga malam diperpustakaan kampus.

Ia meruntuki kebodohannya sendiri. Kenapa ia lupa jika ia tengah punya janji utuk berkencan dengan Song Qianie. bahkan tadi malam ia jutru menginap dirumah sakit menunggui orang korea yang baru dikenalnya beberapa tempo waktu yang lalu. pasti Qianie akan kecewa padanya.

“jadi, mumpung si tua itu belum berubah pikiran. Sepertinya Dark Chocolate cake bis..”

“maaf Cathe..sepertinya ada ang lebih penting daripada itu. Aku pergi dulu. Kau saja yang menggantikanku siaran nanti. Bye..”

Ah, sial..sial..mengapa ia bisa sebodoh ini. ia bahkan melupakan acara kencannya pada Victoria. Dan sepertinya Victoria akan mendiamkannya untuk sejenak.

*0*0*0*0*

Setengah jam pun berlalu saat dimana Jongwoon kini sudah berdiri tepat didepan gedung apartement Victoria. Lelaki itu masih ragu untuk sekedar menekan tombol up  pada lift yang akan mengantarnya tepat pada apartemen milik ictoria tersebut. jongwoon menunggu cukup lama  bergelut dengan perasaan bersalahnya pada Victoria, ia rasa gadis itu pantas mendiamkannya untuk beberapa saat. Terbukti jika ponsel milikya saat dihubungi hanya operator saja yang menjawab.

Sementara itu didalam lift sosok gadis yang Jongwoon cari tengah bersiap-siap untuk keluar dari lift menuju lantai dasar. Victoria menunggu sampai pintu lift menutup dan  membalikkan badan. Ia baru saja akan melangkah ketika melihat seorang laki-laki yang ia kenal bahakan ia hafal betul berdiri di dekat meja resepsionis di lobi gedung.

Langkah kakinya terhenti dan ia menahan napas, tapi hanya sesaat. Ia lalu memutuskan mengabaikan orang itu dan kembali melangkah.

Laki-laki itu melihat Victoria berjalan terburu-buru ke arah pintu utama. Ia tersenyum dan melambai, Tapi Victoria mengabaikannya dan mempercepat langkah. Agak sedikit kikuk memang karena ia adalah penyebab dari diamnya Victoria.

“Song Qianie.”

Victoria mendengar panggilan lelaki itu, tapi pura tidak mendengar. Ia keluar dari gedung dan melangkah cepat ke tempat mobilnya diparkir, berusaha keras mengabaikan bunyi langkah kaki yang menyusulnya. Angin musim dingin menerpa wajahnya dan Victoria mulai merapatkan jaket yang dikenakannya.

“ya!. Nona Song!. tunggu sebentar!.”

Ketika ia hampir sampai di tempat parkir Mercedes hitam kecilnya, Victoria mengeluarkan kunci mobil. Terdengar bunyi pip dua kali tanda pintu mobil sudah terbuka dan ia cepat-cepat masuk. Ia baru akan menutup pintu ketika gerakannya tertahan.

“chakkanman, Qianie!.” henti Jongwoon. Lelaki itu menahan pintu mobil yang sudah dibuka oleh Victoria. “kenapa terburu-buru?.”

“Mau apa?” tanya Victoria dengan nada sama sekali tidak ramah. Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang dia harap berkesan tajam dan menusuk.

Victoria sedikit marah memang, karena lelaki yang berstatus sebagai kekasihnya itu justru melupakan kencan berharga mereka. tapi anehnya ia tak bisa merah pada lelaki itu, ia menganggap laki-laki tinggi berambut hitam yang berdiri disampinya ini menarik.

Laki-laki itu terkekeh pelan dan menunduk. Rambutnya yang dipotong rapi jatuh menutupi dahinya. “Aku sedang bertanya-tanya apakah kau mau menemaniku makan siang untuk hari ini sebgai ganti atas kegagalan kencan kita tadi malam?.”

Dasar pria Asia aneh!. Victoria menggerutu dalam hati Ia mendengus kesal dan melirik orang di sampingnya. Laki-laki itu sedang membetulkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya dan seulas senyum penuh percaya diri tetap tersungging di bibirnya, seakan yakin jika pria ini pandai sekali merebut hati wanita. Dasar Playboy.

Karena Victoria tak menjawab, pria itu meambahkan. “Mianhae, jeongmal mianhae. Jujur semalam aku lupa jika kita mempunyai janji. Karena aku masih harus berkutat hingga malam dengan tugas akhirku. Tidak mungkin Jongwoon bilang pada Victoria bahwa sebenarnya jika semalaman ia tertidur dirumah sakit karena menemani seorang gadis kenalannya. Apa nantinya pendapat Victoria?. Akan lebih parah lagi ia didiamkan Victoria seperti ini. “baikalah kita makan siang dimana kau yang suka. Aku akan menuruti semua keinginanku, asal kau mau memaafkanku.”

Victoria berusaha untuk tidak peduli. tapi akhirnya ia tidak tahan lagi dan berseru, “Brengsek kau Kim Jongwoon!. Kupikir terjadi apa-apa degan dirimu karena kau tak datang tadi malam?. Kenapa tidak meneleponku?. Membuatku khawatir saja.”

Senyum Kim Jongwoon melebar sama sekali tak berpengaruh dengan omelan Victoria.

“aku mau makan jjangmyeon, samgyupsal, dubokki, bibimbap!.” kata Victoria ketus. Ia bersedekap dan menatap lurus ke mata Jongwoon yang emmebuat Jongwoon lega. Akhirnya gadis itu memaafkannya juga, meski tak terlontar secara langsung dari mulutnya.

“kajja.”

*0*0*0*0*

 

3 hari kemudian @Centre Hopistalier Universitaire de Rouen. Paris. Perancis

“aku sudah bilang pada keluargamu jika aku yang bertenggung jawab atas dirimu hingga kau sembuh. Lagipula aku ayang salah karena telat mengantarkanmu pulang.” Kata Jongwoon sambil merapikan beberapa pakaian Taeyeon kedalam tas dan melengkapi semua administrasi selama Taeyeon berada dirumah sakit ini.

Hari ini Taeyeon Taeyeon sudah boleh  meninggalkan rumah sakit. Keadaannya sudah membaik walaupun tubuhnya masih agak lemah, tapi kadar hemoglobin yang sempat turun drastis kini sudah berangsur-angsur membaik. Lagi pula setelah dua hari yang lalu siuman dirumah sakit, Taeyeon merasa bosan setengah mati.

“Kim Jongwoon-sshi.” panggil Taeyeon pelan.

“ne.”

“terima kasih untuk semuanya.” ujar Taeyeon tulus. Ia tak tahu apa yang terjadi jika penyakit animeanya kembali karena kadar hemoglobin dalam darhnya menurun kembali. “llagi-lagi aku berhutang budi padamu.” Lanjut Taeyeon.

“tak enak hati seperti itu. Aku ikhlas menolongmu. Mau kuambilkan kursi roda?.”

“aniyo. Tidak usah.” Tolak Taeyeon halus.

“tapi kau masih lemah.”

“aku seorang calon dokter. Jadi aku mengetahui bagaiman keadaan diriku sendiri dan bagaimana cara menanganinya. Aku ingin pulang naik bus saja. sambil menikmati suasana kota Paris.” Ucap Taeyeon, sebelum ia berjalan pelan menjauhi Jongwoon.

Taeyeon memandang pemandangan yang terlintas disekitar Paris dari dalam jendela bus yang sedang berjalan. Tak henti-hentinya ia tersenyum dan memandang senang kearah luar. Sedangkan Jongwoon hanya bisa memandang Taeyeon dengan senyum kecil.  Sepertinya hari ini cuaca tak bersahabat dengannya.

Ting….

Pintu yang dilengkapi sensor tersebut, terbuka secara otomatis yang menandakan jika mereka berdua telah sampai pada tujuan mereka dan beberapa penumpang turun sambil memegang payung masing-masing. Jongwoon meringis. Sepertinya hanya iadan Taeyeo saja yang tak membawa payung. Ia memperhatikan oarang-orang yang baru turun dari bus itu membuka payung dan langsung berjalan menembus hujan. Pulang kerumah masing-masing, mengingat jika hari ini adalah hari natal. Jongwoon memandang Taeyeon bingung. Sejujurnya ia merasa bersalah pada Taeyeon. Ia yang bertanggung jawab atas kepulangan Taeyeon, namun hingga detik ini Taeyeon belum juga samapai rumah. Tertahan karena hujan di hari natal seperti ini. tumben sekali dihari natal seperti ini hujan turun.

“tunggu sebentar, aku akan dapatkan payung dengan segera!.” Ujarnya pada Taeyeon. Sedangkan ia segera berlari dengan menggunakan mantel tebal untuk melindunginya dari derasnya air langit yang turun.

“chakakaman. Kim Jongwoon-sshi. kau mau pergi kemana?.” Henti Taeyeon. Sebelum Jongwoon pergi ia menarik tangan lelaki itu.

“tunggulah sebentar aku akan mencarikan payung untuk kita. Kau tak mau kan basah kuyup saat sampai rumah. Terlebih lagi kau menderita animea. Kau mau aku panik setengah mati kembali karena kau pingsan mendadak lagi seperti waktu itu?. Heh?.”

“tunggulah.,”

Degh..Taeyeon tertegun seketika saat lelaki itu berkata seperti ini. ini seperti De Javu baginya ia merasa jika ia pernah mengalami kejadian ini sebelumnya dimasa lalu. lelaki itu sama persis mengatakan apa yang dikatakan oleh Jongwoon saat ini. tapi apakah bisa dua orang yang mempunyai rentan waktu lama dan sifat maupun karakter berbeda bisa berucap sama persis nada bicaranya.

           

Beberapa saat kemudian….

Jongwoon berjalan cepat sambil mencoba bersiul untuk menghibur diri, tetapi tidak berhasil. Cuaca yang dingin dan flu membuat siulannya seperti bunyi balon kempes. Ia sudah hampir sampai di halte bus tempat pemberhentiannya dengan Taeyeon tadi. Tepat di belokan jalan itu.

“Nan itu Kim Taeyeon-sshi.” gumam Jongwoon pada dirinya sendiri ketika membelok dan melihat sosok Taeyeon yang berdiri dihalte bus. Jongwoon melihat gadis itu mendongak memandangi hujan terus menerus turun. Taeyeon bahakan tak sadar jika lelaki itu menghampirinya.

Taeyeon menoleh dengan cepat. Alisnya terangkat begitu menyadari Jongwoon sudah berdiri didekatnya. Senyumannya mengembang. “aku sudah mendapatkan payungnya. Mari ku antar pulang.”

Taeyeon merapatkan matel yang membalut tubuhnya itu. Satu payung yang digunakan untuk dua orang. Tidak terlalu parah memang. Tapi apa au dikata lagi daripada mereka berdua kebasahan karena hujan-hujanan, lebih baik satu payung berdua.

“lebih baik kita segera pulang saja.”

“ne.. mungkin itu jauh lebih baik.”

Dalam diam kini keduanya tengah berkutat dengan pemikiran masing-masing. Sementara Jongwoon memayungi mereka berdua. Saat ini mereka sudah sampai dikawasan elite bernama Real Estate Paris yang  tengah ramai akan benyaknya orang. Kanan kiri jalan penuh dengan warna-warni natal. Berbagai orang bahagia dapat merayakan natal secara bbersama-sama.

“ini rumahku.” Ucap Taeyeon yang membuka suara. Menghentikan keheningan diantara mereka berdua.

“nde?.”

“terima kasih banyak. Jenongmal Gamshamida. Kau mau menjagagu beberapa hari ini. kau tak mau masuk?. Keluargaku pasti akan senang jika bertemu dengan anda.”

“lain kali saja.” tolak Jongwoon halus. “jika ada waktu senggang aku pasti mampir kerumahmu. Bukankah kita berteman?.”

“ne. Gamshamida.”

Sebelum Jongwoon pergi menjauh dari gerbang rumah elit milik Taeyeon tersebut. suara Taeyein kembali menghentikan langkahnya. “ maaf jika merepotkan anda selama ini. Lusa aku kan pulang ke Seoul. Liburanku telah usai. Terima kasih atas semuanya.”

Mendengar nama Seoul, lelaki itu kemudian berhenti sejenak. Seoul. Sebenarnya dalam hati kecilnya ia merindukan kota kelahirannya tersebut. ia ingin sekali pulang. 6 tahun sudah ia menetap di Pari tanpa memberi kabar bagi orang rumah. Ia ingin sekali bertemu dengan anggota keluarganya itu. Meski kini Kyuhyun sudah menemaninya di Paris.

“semoga kita bertemu kembali.” ujar Jongwoon tanpa menatap Taeyeon. Ia yakin saat ini juga Jongwoon sangat merindukan kota kelahirannya tersebut. ia tak mau tampak sedih dihadapan orang lain jika orang tersebut menyebut nama kota Seoul. Baginya melarikan diri itu adalah suatu hal salah besar untuknya.

Taeyeon mentap punggung Jongwoon yang dengan langkahnya pergi meninggalkannya semakin menjauh. Namun saat Jongwoon berada didekatnya ia bisa merasakan sebuah reinkarnasi kehidupan atas kembalinya sebuah masa lalu yang menurutnya tak bisa terlupakan sama sekali. Andai dia msih ada tak mungkin Taeyeon kesepian seperti ini. dan alasan utamanya mempertahankan opinya untuk tinggal di Seoul adalah demi lelaki masa lalunya itu. Sudah 10 tahun berlalu. Tapi Taeyeon tetap tak akan pernah bisa melupakan kejadian itu kejadian dimana lelaki masa lalunya menyelamatkan hidupnya.

bogoshipeo Yesung-ah.” Lirih Taeyeon pada rintik hujan. Ia ingin sekali kembali ke masa lalunya dan bertemu dengan lelaki itu.

*0*0*0*0*

 

“mianhae, sepertinya hari ini kita tak bisa merayakan natal secara bersama. Aku ada siaran langsung sore ini. kau bisa kan merayakan natal bersama-sama temanmu tanpa aku.”

Song Qianie tertawa masam saat dirinya kini tengah menerima telepon dari Jongwoon. Kembali acaraya bersama Jongwoon gagal lagi. Ia mendesah berat menghembuskan napas kesalnya. “Ya. Sudah selamt bersiaran. Semoga sukses dan punya rating yang tinggi.”

Dari ujung telepon Jongwoon mengakhiri pembicarannya dengn Victoria tersebut. ia sedikit lega meski diiringi degan sebuah penyesalan. Lagi-lagi ia mengecewakan Victoria. Tapi kali ini ia memberitahu pada Victoeia, bukan seperti waktu ia tanpa kabar sama sekali melupakan kencan mereka berdua. Toh, Victoria tak akan kesepian mengingat pesta kecil yang diadakan Victoria untuk merayakam natal tak hanya dirinya saja yang diundang. Banyak teman-temannya yang datang. karena Victoria termasuk gadis supel yang mudah untuk bergaul.

“Victoria-sshi.” panggil sebuah suara yang seketika itu membuyarkan lamunan Victoria. Meskipun kesal pada kekasihnya itu Victoria mencoba memaksakan senyumannya untuk semua teman-temannya.

“hmm.”

“ini bola lampu yang kau minta. Tinggal dipasang saja.” ujarnya sambil menyerahkan sebuah benda tersebut.

“merci.”

“hey. Kau kenapa lagi?. Wajahmu sepertinya terlihat suntuk?.” Tanya lelaki itu heran layaknya orang yang menginterogasi.

“apa kekasihmu tak bisa hadir lagi?.” Tebaknya.

Victoria tersenyum memaksakan senyuamnnya, meski terkesan kikiuk tapi itu merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh lelaki itu. “dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi terpaksa ia tak datang lagi.”

“ee..ngomong-ngomong Kyuhyun-sshi. Apa kau bisa memasangkan bola lampu ini. jujur aku tak bisa” ucap Victoria mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau terlalu lama bergulat dengan kekesalnnya sendiri.

“lihat!.” Tinggal diputar begini sja.” Kata Kyuhyun sambil menunjukkan cara memasang bola lampu didapur apartement Victoria. Keadaan apartemen Victoria kini sedkit ramai dengan bbebrapa orang yang hadir pada pesta kecilnya itu.  ““Kau benar-benar harus belajar. Masa pekerjaan segampang ini tidak bisa dilakukan? Harus menunggu orang lain melakukannya untukmu?.”

Victoria yang memgangi senter hanya bisa cemberut mengerucutkan bibirnya lucu. “aku takut kesetrum, dulu kekasihku yang membantuku memasangkannya.” Gerutunya pelan.

“Tidak akan kesetrum kalau kau hati-hati.”

Victoria mencibir.

“Nah, selesai,” kata Kyuhyun sambil turun dari kursi. “Coba nyalakan.”

Victoria menjetikkan saklar lampu. Tidak ada yang terjadi. Dapur Victoria tetap saja tak berlampu alias sedikit gelap.

Kyuhyun mendongak menatap bola lampu yang baru dipasangnya dengan kening berkerut. “Sepertinya ini bukan masalah bola lampu yang rusak,” katanya. “Ada masalah dengan kabel listrikmu.”

“Lalu”

“Kalau memang itu masalahnya, aku tidak bisa membantu.”

”mworago?.”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Aku bukan tukang listrik. Sebaiknya kau memberitahu tukang listrik saja.

“Tapi… Tapi…“

Kenapa?” Kyuhyun berbalik menghadap Victoria.

“Bagaimana denganku?”

“Bagaimana denganmu?”

“Itu…” Victoria  menautkan jari-jarinya di depan dada dan tersenyum salah tingkah.

“Aku tidak suka gelap. aku takut jika nanti malam saat terbangun untuk mengambil minuman ada sesuatu dibelakangku. ”

Walaupun ruangan itu hanya disinari lampu senter yang remang-remang ditambah dengan lampu ruangan lainnya, Victoria bisa melihat senyum yang tersungging di bibir Kyuhyun. Sudah pasti laki-laki itu menertawakannya.

“Kalau kau takut gelap, diam di kamar tidur saja. Di sana kan lampunya masih bisa menyala,” kata Kyuhyun sambil menahan tawa

DASAR!!!.

*0*0*0*0*

            Cho Kyuhyun menghempaskan tubuhnya kasar disofa besar diruang tengah apartement Jongwoon. Meski hari ini ia lelah tapi ia senang. Bisa betemu dan berteman dengan Victoria Song. Orang Asia pertama yang ia temui dinegara antah berantah ini. ia dan teman-teman Victoria baru saja menyelesaikan pesta kecil yang diadakan dirumah Victoria tersebut.

“Cho Kyuhyun!.”

Sambil memasang wajah polos tak berdoa, Kyuhyun menoleh dan mendapati Hyung yang beberapa hari ini tak pulang berjalan santai memasuki apartementnya. Raut wajah lelah tampak sangat dari wajahnya itu.

Tak kalah dengan Kyuhyun, Jongwoon dengan seenknya sendiri menghempaskan tubuhnya pada sofa yang diduduki Kyuhyun pula. Jaket tebal dan syalnya sudah dilepas. “kau kemana saja hari ini?. aku mencoba menghubungimu tapi kau tak angkat.” Ia merebahkan dirinya ke sofa dan menyalakan televisi dengan remote control, kemudian ia menoleh ke arah Kyuhyun yang beranjak berdiri untuk mengambil sebotol ai minum. “ponselku low Batery. Aku belum sempat mengisinya kembali.”

“Kyuhyun-aa.” Panggil Jongwoon sekali lagi.

“hmm.”

“seperinya aku tak bisa pulangdenganmu kembali ke Seul minggu depan.” ucapan tersebut spontan membuat Kyuhyun tersedak setengah mati. Ia menatap kakak lelakinya tersebut dengan tatapan sulit diartikan.

“w..waeyo Hyung?.”

“kau tahu pekerjaanku disini tak dapan ditoleri  dan tugas akhirku belum selesai?.”

“tapi Hyung..kkau..”

“aku tahu. Tunggulah 6 bulan kedepan. Aku akan pulang ke Seoul. Tunggulah sampai,,,”

“tapi sampai kapan Hyung?!.” Sentak Kyuhyun tiba-tiba. Mendadak ia menjadi emosi seketika.

“6 tahun Hyung. Kau meninggalkan mereka tanpa kabar. 6 tahun pula eommonim Kim kesepian. Aku tak tahu persis apa masalahmu dengan Abeojie Kim. Tapi yang pasti ini semua aku lakukan demi mereka.” lanjutnya. Mata Kyuhyun menatap Jongwoon dengan amarah. Ia rasa batas kesabaranya sudah habis.

“tapi Kyu..”

“kau Egois Hyung!. Kau tak pernah memikirkan perasaan orang lain!.”

*0*0*0*0*

TBC—

 

Hai Readers, balik lgi ketemu autor geje nan amatiran di RFF..ada yg kangen?. #plakk *readers: gak ada, emg siapa loe?.* hehehe..part 2 kal ini aku mulai buka konfliknya, emg belum jelas sih, tap next part pasti uda kebuka masalahnya. gimana hubungan Taeyein-Yesung-Victoria-Kyuhyun. adakah rahasia masallau diantara mereka berempat ato gimana?. *tebak sendiri aja ya*

uda thu kan cerita ini terinspirasi sm apa?. iyap.. Autumn in Paris nya Illana Tan, jd g usah heran jika ceritanya mirip..#hehehe

oh, ya maksh bgt ya atas responnya kmren. author cm bisa ngucapin termakasih aja..
responnya silahkan..kalo bisa ngasih kritik dan saran,

oh, ya untuk part ini autor mematok 25 comment agar bisa lanjut secepatnya ke next part.

sekian..paii..pai..#tebar cium..#big hug.

24 thoughts on “Pray For Love (Part 2)

  1. penasaran dengan kelanjutannya
    sudah 1thn dr posting semoga ad kabar baik postingn selanjutnya,

    suka dgn karakter jongwoonie disini…

    cerita nya bagus, penulisan dan bahasa ny jg mudah dmengerti,
    penasaran sangat dgn kelanjutan kisah mereka, dn konfliknya blm muncul kn, tp ceritanya bner2 bikin penasaran
    authornim dtgu part selanjutnya bahkan klo bs langsung ber part2, hehehee
    semangat ya author…
    fighting…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s