[FF Freelance] Love is Only You (1/2)

love is only you posters

Title : (1/2) Love is only you

Author : Upleize

Genre : AU,Romance, Family, Friendship

Length : two shoot

Ratings : PG

Cast :

Im Yoona

Lee Jonghyun

Lee Jungshin

Park Jiyeon

Desclaimer : Cerita asli milik author dan hanya fiksi belaka. Terinspirasi dari drama I hear your voice, AOA (Love is only you), Jazon miraz (Geek in pink), and our friendship (Uple, Don, Genta, Buntel, dan abang mekanik)

Note : Annyeong readers.. salam kenal. Why? Yep ini ff pertama yang aku  publish disini. Mian kalo ceritanya agak aneh, semoga kalian suka. Warning Typo and Happy Reading guys.

 

Love is only you

                Im Yoona

“Siapa pria bermotor itu?” Tanyaku pada Jiyeon—saat aku di kamarnya. Dia melangkah ke jendela mengintip sebentar, sembari menghadapku.

“Dia temanku Onnie. Jungshin” Katanya sembari tersenyum. Cih. Lagi-lagi berbohong, dia pikir aku tidak bisa membaca pikirannya? Dia memang temannya, tapi Jiyeon menyukai pria itu. Aku tahu.

“Bilang saja dia pacarmu” Kugunakan kesempatan ini untuk menggodanya. Aku terkekeh melihat keterkejutannya.

Itu yang aku harapkan Onnie. Bisiknya dalam hati. Dan aku mengetahui segala isi pikirannya.

“Pergilah, jangan sampai terlambat! Kapan-kapan ajaklah temanmu kemari, akan aku traktir makanan enak!” Jiyeon keluar dari kamarnya meninggalkanku sendiri.

Asal tahu saja, aku punya kemampuan untuk membaca pikiran orang lain. Mungkin hal ini yang membuatku susah sekali mendapat pasangan. Aku terlalu selektif, dengan membaca pikiran mereka—para pria—aku jadi tahu sifat asli mereka. Apa yang mereka inginkan—apa mereka memanfaatkanku?—atau—apa mereka benar-benar tulus menyukaiku. Terdengar aneh, tapi ini hadir secara alamiah, sejak aku beranjak remaja.

 

Hal ini dimulai sejak aku pertemu dengannya. Dialah laki-laki yang ingin aku temui selama ini, sayangnya kami tidak pernah bertemu kembali semenjak hari itu—hari pertama kali kami bertemu. Waktu itu, aku baru pulang dari pesta kelulusan SMP bersama teman-teman, saat di persimpangan jalan, kami berpisah dan aku harus berjalan sendirian ke rumah di siang hari yang sangat terik.

                “Hei… kau Im Yoona?” Seseorang memanggilku. Aku berbalik tapi sama sekali tidak mengenalnya. Dia cukup tampan dengan kulit yang sangat putih melebihiku, tersenyum padaku. Lesung pipit-nya menjadi sangat dalam. Tapi aku? Sama sekali tidak tersenyum. Kulanjutkan langkahku tanpa peduli tegurannya. Hingga akhirnya dia sendiri mengkutiku—mensejajarkan langkahnya denganku.

                “Ada apa?” Tanyaku ketus. Aku tahu orang-orang seperti ini. Bisa kutebak jalan pikirannya, dia pasti mau menggodaku atau semacamnya, pikirku. Aku cukup popular di antara anak-anak seusia kami. Banyak sekali yang menyukaiku. Hahaha.

                “Aku ingin….”

                “Maaf! Hari ini aku lelah sekali, lain kali saja” Potongku sebelum dia melancarkan aksinya. Kulanjutkan langkahku tanpa mempedulikannya. Dan dia terus saja mengikutiku.

                “Hei.. tunggu!”

                “Apa lagi sih? Aku sudah bilang aku lelah, tolong jangan ikuti aku!” Bentakku marah. Wajahnya tampak sedikit menyesal. Bagus! Tapi Dia tetap berdiri menghalangi jalanku.

                “Minggir!” Aku mendorong perutnya. Tapi tangan mungilku pasti tidak mampu mendorong tubuhnya yang lebih tinggi dariku.

                “Maafkan aku yang mengganggumu, aku cuma mau mengembalikan ini” Dia menunjukkan sebuah map dokumen padaku.

                “Ini?”

                “Ini punyamu kan?” Dia meletakkannya baik-baik di tanganku. Aku terdiam menatapnya.

                “Kau begitu ceroboh meninggalkannya di Bus, disimpan baik-baik” Ya ampun! Aku  malu sekali saat itu. Andai dia tahu apa yang ada di pikiranku—habislah. Laki-laki itu menggunakan seragam sekolah, sepertinya seumuran denganku. Dia berbalik pergi setelah menyerahkan dokumen itu padaku. Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh. Tiba-tiba langkahnya terhenti, dan kemudian di kembali berbalik.

                “Apa yang kau lihat tidak sama dengan apa yang kau pikirkan loh!” Ujarnya sembari pergi. Wajahku mungkin sudah seperti udang saat itu, saking memerah—malu. Dokumen yang dia berikan adalah dokumen untuk beasiswaku ke luar negeri. Kalau saja waktu itu hilang, mungkin saat ini  aku tidak akan seberhasil ini—tinggal di rumah mewah, punya mobil sendiri, dan bisa punya usaha Kafe and Boutique ternama di Seoul.

                Sejak hari itu, aku terus memikirkan kata-katanya —dia benar, tak selamanya sesuatu yang kita lihat akan sama dengan yang kita pikirkan. Sepertinya sejak saat itulah aku mulai mencintai orang itu, orang yang tak pernah aku kenal namanya. Aku hanya terlalu jatuh cinta dengan kata-katanya yang sederhana. Yang membuatku sadar, untuk tidak lagi menilai seseorang dari tampilan luar saja. Dan mengenai kemampuanku membaca pikiran orang lain saat melihat mata mereka, perlahan muncul. Aku jadi bisa mendengar pemikiran dan perasaan setiap orang dan tidak ada yang tahu. Sungguh tidak ada. Kalaupun aku bilang, mereka akan menertawakanku—tidak ada yang akan percaya. Ini kutukan kah? Saat aku harus mendengar cercaan pedas dari orang lain tentangku? Hah!

*

 

 

 

 

Normal POV

“Apa yang kita lakukan disini? Tumben mengajakku ke kafe mahal. Biasanya Cuma memberiku minuman soda murah” Celetuk Jiyeon membolak balik menu super mahal—menurutnya.

“Cepat pesan saja yang kau inginkan!” Jungshin melayangkan tangan besarnya menyapu wajah Jiyeon dari jidat hingga bibir.

Ya!”

PLUK!

Jiyeon membalas menggetok Jungshin dengan sendok yang tersedia di meja.

“Hari ini aku memakai Lip-gloss baru! Kau baru saja menghapusnya dengan tangan jelekmu itu” Rengek Jiyeon mengamati cermin yang tiba-tiba sudah ada di tangannya. Mendengar hal itu Jungshin langsung meneliti tangannya—apakah ada bekas Lip-gloss atau tidak.

“Ohhhhh” Pekik Jungshin menjauhkan tangannya. “Aku harus ke kamar mandi! Bisa-bisa aku alergi nih!”

“Jangan berlebihan! Pakai tissue ini!” Jiyeon melempar sebungkus Tissue.

“Jangan kau habiskan tissue itu, mahal tauk!” Jiyeon memperingati. Itulah kegiatan kedua anak aneh ini—menurut orang-orang. Mereka sangat sensitif dengan sesuatu yang berbau uang. Padahal keduanya hidup di keluarga yang cukup berada. Jiyeon tinggal bersama kakaknya Im Yoona yang kaya raya, dan Jungshin? Dia adalah anak direktur perusahaan yang cukup besar. Mungkin karena sama-sama irit dan pelit, keduanya bisa jadi dekat seperti ini.

“Kau belum jawab aku, apa hari ini ulang tahunmu? Mengajakku ke tempat mahal seperti ini? atau jangan-jangan kau mengerjaiku ya? Memintaku mentraktirmu? Ya Lee Jungshin! Apa kau gila?” Jiyeon melontarkan pertanyaan bertubi-tubi tanpa ada celah Jungshin untuk menjawab.

“Hei tutup mulutmu! Cih! Mana mungkin aku meminta orang pelit sepertimu untuk mentraktirku di tempat mahal begini? Dasar pelit!”

“Kau pikir kau tidak pelit? Kau itu yang pelit!”

“Kau pelit, punya ponsel tapi pinjam punyaku!”

“Hei waktu itu batreiku habis, jadi aku meminjamnya darimu!”

“Bilang saja, kau ingin menggunakan creditku agar credit ponselmu tidak berkurang.. Lee Jungshin kau ini picik sekali! Ckckckc”

“Im Jiyeon… berapa kali aku bilang, aku tidak pelit! Kau pikir siapa yang mengantarmu kemana-mana selama ini?”

“Tetap saja kau minta dibelikan bensin kan? Ckckckc Picik!”

“Aaaaaaaa aku tidak dengar!”

“aaaaaa.. aku tidak dengar!” Jungshin belum terima dikatai pelit. Dia tetap melontarkan kata-kata. Jiyeon menutup telinganya sembari mengejek Jungshin yang kesal. Ini memang lagu lama, mereka sering sekali saling hitung kebaikan.

“Hei… apa yang kalian ributkan?” Suara seseorang langsung menghentikan perdebatan mereka. Jungshin dan Jiyeon menoleh.

“Hyung!” Ujar Jungshin. Jiyeon menatap Jungshin curiga. Pria yang dipanggil Hyung langsung duduk.

“Apa yang kalian lakukan? Semua orang memperhatikan kalian dari tadi!” Kata Hyung-nya Jungshin. Jiyeon dan Jungshin saling memandang ketus.

“Oh.. arrasseo, aku mengerti—kalian pasti sedang menghitung kebaikan masing-masing kan? Hahahaha!” Jiyeon membulatkan matanya—bagaimana dia bisa tahu?

“Dan kau pasti Jiyeon kan? Temannya Jungshin?” Jiyeon mengangguk tersenyum.

“Lee Jonghyun, kakaknya Jungshin!”

“Oh? Annyeonghasseyo!” Jiyeon langsung membungkuk, dia merasa malu sekali. Ini kan kakaknya Jungshin—yang baru pulang dari luar negeri.

“Hyung kenapa lama?”

“Aku baru dari kantor wali kota”

“Ngapain disana?”

“Melaporkan kepulanganku. Tentu saja!”

“Oh” Jungshin mengangguk.

“Chaaa… Ayo pesan yang banyak… aku akan mentraktir kalian hari ini” Jonghyun menyodorkan daftar menu pada keduanya.

“Aku bahkan mengajaknya untuk ditraktir olehmu, dia masih mengatai aku pelit?” cibir Jungshin. Jiyeon langsung menutup buku menunya. Memandang malu kearah Jungshin dan menyematkan jarinya di jari kelingking Jungshin—permintaan maaf. Jonghyun tertawa dengan keanehan kedua orang ini. beberapa saat kemudian mereka melupakan apa yang sudah diributkan seolah tidak terjadi apapun.

“Bagaimana kalau…. Kita…” Jiyeon angkat bicara di tengah proses makan. Jungshin dan Jonghyun menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Kita kenapa?” Tanya Jungshin antusias

“Kita berhenti jadi pelit saja?” Jiyeon mengedipkan kedua matanya.

“Ya! Im Jiyeon! Kau pikir sudah berapa kali kita membuat kesepakatan itu? Dan kau selalu melanggarnya!” Jungshin marah.

“Hei… hei.. ayo lanjutkan makan kalian” Jonghyun terkekeh sebisanya. Kedua orang ini terlewat lucu—menurutnya.

*

                Im Yoona

Aku pulang larut lagi. Akhir-akhir ini kenapa banyak sekali orang yang ingin menikah. Pesanan baju pengantin menumpuk. Aku harus kerja lembur tiap hari untuk menyelesaikan semuanya agar bisa tepat waktu. Walau punya karyawan yang cukup telaten. Kepercayaanku tidak mudah turun begitu saja. Ditambah lagi dengan kemampuanku yang spesial ini—membaca pikiran orang lain. Maka aku akan bekerja semaksimal mungkin untuk kepuasan pelangganku.

Seperti biasa, aku akan ke kamar Jiyeon. Membetulkan selimutnya yang berantakan. Dia adikku satu-satunya. Dan satu satunya yang kumiliki—kami yatim-piatu. Orang tuaku meninggal saat Jiyeon masih di sekolah dasar. Beruntung saat itu aku sudah kembali dari beasiswa luar negeriku, dan bisa menjaganya. Dan ini sudah tahun ketujuh semenjak kepergian mereka. Aku seperti merasa belum cukup memberikan kebahagiaan padanya. Dia sudah belajar keras selama ini.

“Onnie…” Jiyeon memanggilku saat aku hendak keluar dari kamarnya. Aku berbalik menatapnya.

Kasihan Onnie.. pasti lelah sekali

                “Kau belum tidur?” Dia mengangguk—mengkhawatirkanku.

“Apa kau sudah makan?” Tanyaku. Dia kembali mengangguk. Apa Onnie sudah makan?

“Tidurlah.. besok akan kubuatkan bekal enak untukmu!” Aku keluar setelah mematikan lampu kamarnya. Jiyeon mengkhawatirkanku. Aku tahu pikirannya. Terima kasih Jiyeon.

*

                Keesokan harinya—seperti janjiku, aku bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkan bekal Jiyeon. Aku membuat semua menu kesukaannya—sebisaku.

“Onnie..” Tegur Jiyeon saat tiba di ruang makan.

“Annyeong! Duduklah. Makan dulu, baru ke sekolah” Sambutku. Onnie membuatkanku bekal? Wah! Daebak! Aku akan pamer pada Jungshin. Dan pastinya tak akan kubagi. Hehehe. Bisik Jiyeon dalam hati. Ternyata adikku ini mewarisi sifat dari ibuku—pelit.

“Apa Jungshin akan menjemputmu?” Tanyaku. Jiyeon menghentikan makannya. “Kenapa Onnie bertanya tentang Jungshin?” Bisiknya lagi. Aku tersenyum tipis. Menyenangkan sekali untuk membaca pikiran orang lain saat ini. Jiyeon mengangguk.

“Baguslah.. aku sudah membuatkan bekal untuknya juga!” Aku mengeluarkan dua buah kotak makan siang dan menaruhnya di atas meja. Jiyeon membulatkan matanya menuai protes.

“Onnie! Kenapa membuatkan juga untuknya?” gerutunya. “Sial! Jungshin pasti senang sekali

“Jangan terlalu pelit!” Kataku padanya sembari melanjutkan makan. Belum lagi Jiyeon ingin menjawab pernyataanku.

Tiiin tiiiinn tiiinn..

Kami menoleh bersamaan. ada bunyi klakson mobil. Aku menatap Jiyeon curiga. Nyatanya dia sama bingungnya denganku. Jungshin? Apa dia menjemputku pakai mobil? Pikirnya. Dan aku tahu. Aku melesat mengintip di jendela. Entah kenapa hal ini jadi begitu menarik.

Ternyata benar, aku bisa melihat Jungshin bersandar di sebuah mobil mewah. Aku baru tahu kalau anak itu kaya juga. Aku mengkode Jiyeon untuk ikut melihat. Jiyeon terkejut sekali.

“Tumben Jungshin pelit itu menjemputku pakai mobil—biasanya motor butut” bisiknya. Dengan malas Jiyeon kembali ke tempat duduknya. Dan aku masih heboh sendirian. Aku berlari keluar rumah—bermaksud untuk menyuruh Jungshin masuk.

“Jungshin!” Teriakku. Jungshin tentu saja bingung dengan teriakanku. Aku bahkan tidak pernah menyapanya selama tiga tahun dia berteman dengan Jiyeon. Dia berlari menghampiriku. Oh? Ada orang lain di mobil itu? DEG! Kenapa ini? jantungku bedebar begitu kencang. Aku melihat Jungshin mendekatiku, namun mataku tetap fokus pada sosok yang ada di mobil.

“Annyeonghasseyo!”

“Oh? Annyeong!” Aku tersadar dan mengajaknya masuk ke rumah.

“Ya! Apa yang kau lakukan di rumahku? Dan mobil siapa yang kau bawa?” Jiyeon mengiterogasi Jungshin.

“Hei, aku yang menyuruhnya!” Kataku menepuk bahu Jiyeon. “Hah! Ngapain ahjumma ini mengajaknya masuk?” pikir Jiyeon. Sialan. Adikku sendiri menyebutku Ahjumma?

“Jungshin aku membuatkan bekal untuk kalian berdua loh!” Aku pamer, sengaja untuk membuat Jiyeon kesal.

“Wah! Daebak!”

“Hei kau lihat?” Jungshin pamer pada Jiyeon.

“Onnie! Jangan buatkan bekal ini untuknya!” Gerutunya.

“Jangan pelit kah…” Kataku. Jungshin! Anak ini malah menunjuk Jiyeon dengan telunjuknya sembari tertawa.

“Kau lihat? Kakakmu saja menyebutmu pelit… hahahah..” Katanya. Sialan. Lee Jungshin ini. anaknya memang bandel. Tanpa aba-aba, aku dan Jiyeon menggetok kepalanya dengan kepalan tangan kami. Membuatnya terdiam dan langsung melongo ke luar rumah.

TOS!

Aku-Jiyeon melakukan Tos.

“Gumawo Onnie!” Dia memelukku. Kami bertiga keluar rumah. Dan tentu saja—aku kembali melihat sosok yang ada di mobil Jungshin itu. Jantungku sudah tidak berdebar hebat lagi. Aku akan bertanya pada Jiyeon nanti.

*

                Entah kenapa hari ini begitu sulit mendapatkan konsentrasi di boutique. Aku meninggalkan semua pekerjaanku dan pergi ke sekolah Jiyeon—menjemputnya. Pensilku mengetuk perlahan di  stir kemudi. Aku sedang menunggu bel pulang Jiyeon di depan pagar sekolahnya. Sekolah terbaik yang Korea miliki. Tak lama kemudian bel berbunyi, aku keluar dari mobil dan bersandar di sisi pagar sekolah sambil mencari sosok Jiyeon. Sangat mudah bagiku untuk menemukan Jiyeon di kerumunan anak-anak sekolah. Jiyeon pastinya akan berjalan dengan Jungshin. Dan menurutku Jungshin adalah siswa dengan ukuran Tubuh tertinggi di sekolahnya. Aku bisa melihat kepala bulatnya—bahkan dari jauh. Dan Jiyeon ada di sampingnya.

“Jiyeon!” Panggilku sembari melambai. Keduanya mendekatiku.

“Nuna!” Kata Jungshin ceria.

“Onnie! Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Jiyeon heran. Aku memang jarang sekali menjemputnya. Apalagi tanpa bilang dulu.

“Ayo kita makan siang bersama!” Ajakku

“Jinjja?” Jiyeon tidak percaya. Bahkan dalam pikirannya. Aku mengangguk sembari menatap Jungshin. “benarkah ini? waaaahhh”

“Kau ikut?”

“Hari ini aku dijemput Jonghyun Hyung!” Dia tampak kecewa karena akan berpisah dengan Jiyeon. Sepertinya aku sudah merusak acara mereka. Tidak sepenuhnya, Jiyeon sangat senang aku mengajaknya makan siang. Ini momen jarang untuknya.

“Jonghyun hyung?” Tanyaku

“Iya.. Jonghyun hyung, kakaknya Jungshin! Yang tadi pagi itu Onnie” Jelas Jiyeon. Jonghyun? Siapa dia, kenapa begitu berkesan bagiku hingga jantungku rasanya ingin keluar saat melihatnya pertama kali.

“Ada apa dengan Onnie?” bisik Jiyeon. Mungkin dia melihat ekspresiku yang berubah tiba-tiba—saat mereka menyebut tentang Jonghyun. Aku buru-buru tersenyum menyamarkan kebingunganku.

*

 

Aku mencoba membangun hubungan baik dengan Jiyeon. Selama ini pekerjaan seakan membuatku melupakannya. Berusaha pulang lebih awal atau sekedar bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal untuknya serta pergi berbelanja di hari  minggu bisa jadi bentuk usaha-usaha kecilku untuk mencapai hal itu. Aku tahu. Dia bahagia. Aku tahu pikirannya.

“Jadi? Apa sudah berapa lama kau menyukai Jungshin?” Tanyaku padanya setelah dia menyelesaikan—mungkin— kalimat terakhirnya tentang Jungshin. Tak ada topik yang tak ada kaitannya dengan Jungshin. Hah!. Jiyeon hampir memuntahkan minumannya dari mulut begitu mendengar ucapanku. “Onnie tahu dari mana?” bisiknya. Dan aku tahu—tentu saja.

“Apa maksudmu Onnie… mana mungkin aku menyukai pria pelit itu?” Elaknya. Cih! Ya! Im Jiyeon? Beraninya kau berbohong pada Onniemu sendiri? Ckckckc.

“Kau pikir apa? Membicarakan Jungshin…Jungshin… dan lagi-lagi Jungshin.. kalau bukan berarti menyukainya? Bahkan anak TK dan nenek-nenek pikun plus Ompong juga tahu..” Aku berhenti bicara sesaat menatap Jiyeon. Membaca pikirannya.

“Omo… apa begitu kentara? Kalau aku menyukai Jungshin?”

Jiyeon semakin terlihat panic “kalau kau menyukai Jungshin…” lanjutku. Dia terdiam tak mengelak.

“Tenanglah, Jungshin pasti menyukaimu juga. Onnie yakin!” Kataku menyemangati. Dia tersenyum kecut melanjutkan makannya.

*

                Aku memperhatikan Jiyeon yang terus saja makan. Semenjak aku menyinggung tentang Jungshin dia hanya diam terbenam dalam pikirannya sendiri. Aku memilih untuk tidak membaca pikirannya—privasi. Kudengar adikku ini cukup popular di sekolah. Selain pintar, Jiyeon juga banyak disukai para pria di sekolahnya. Salah satunya mungkin—Jungshin. Untuk urusan cinta aku sendiri mungkin tidak akan banyak membantu. Semenjak kejadian bertemu anak laki-laki itu, aku lebih menutup diri dan tidak lagi seenaknya menjadi percaya diri bahwa orang lain banyak yang menyukaiku—terutama para pria. Terlebih lagi dengan kemampuanku membaca pikiran orang lain, aku jadi tahu betul mana yang tulus dan tidak. Sejak saat itu tak sekalipun aku jatuh cinta hingga umurku yang sekarang. Entahlah, rasa cintaku pada anak laki-laki itu sudah mewakili kepuasan hatiku sendiri. Cintaku padanya membuatku kuat, walau aku tahu semua ini tidak pasti. Dari sana aku belajar bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Aku mencintainya seiring bertambahnya umurku. Harapan yang selalu aku kunci rapat di sudut hatiku tapi tetap ada—harapanku untuk bertemu kembali dengannya.

“Onnie! Onnie!” Jiyeon melambai di depan mataku. Membuyarkan segala kronologi lamunan yang sudah tersusun. Aku mendengus kesal—walau hanya di dalam hati. Aku menatapnya kemudian bergantian menatap orang lain yang sudah duduk bersama kami.

“Jungshin? Kau?” Kataku kaget saat melihat Jungshin sudah duduk di hadapanku. Pantas saja Jiyeon kegirangan seperti itu.

“Annyeonghasseyo Nuna!”

“Annyeong!” Sapaku

“Annyeonghasseyo..” Apa? Ada suara lainnya? Ternyata ada seseorang yang lain duduk di dekat Jiyeon. Aku menatap pria itu. Aku tahu, dia pria yang baik. Semua terpancar dari senyum tulusnya. Lesung pipitnya yang dalam. Eh? Tunggu dulu. Sepertinya wajah ini tak asing bagiku.

“Onnie…. kenalkan.. ini Jonghyun oppa… Lee Jonghyun, kakaknya Jungshin” Pria itu menyalamiku. Ternyata ini Lee Jonghyun, pria asing waktu itu. Aku familiar dengan wajahnya. tangannya—hangat.

“Im Yoona-imnida” Kataku pelan. Aku bisa melihat sorot matanya, mencoba membaca pikirannya. Tapi entahlah—tidak bisa.

“Im Yoona?” Katanya.  Aku benar-benar tidak bisa membaca pikirannya. Aku tidak tahu. Ini pertama kali terjadi.

Lee Jonghyun tersenyum. Hanya itu yang dia punya untuk kesan pertama. Dan aku yakin, setiap gadis akan jatuh cinta padanya sejak pertama kali. Kecuali Jiyeon yang sudah mencintai Jungshin dan aku? Tunggu dulu…. Apa aku juga jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pria ini? tidak mungkin. Bagaimana bisa? Entahlah.

*

                “Boss…. Ini kartu namanya!” Jimin menyerahkan selusin kartu nama padaku—lagi-lagi kencan buta! HAH!

“Taruh saja di meja, aku akan mengubungi mereka” Kataku cuek sembaru terus menggoreskan pensilku. Jimin sahabatku ini tak akan berhenti menjodohkanku di acara kencan buta yang diaturnya hingga aku bisa mendapat pasangan yang pas—menurutnya dan menurutku.

“Ya! Sampai kapan kau akan mengharapkan pria kecil yang bahkan kau sendiri tak tahu asal usul dan namanya?” Geramnya.

“Jimin-ah… kali ini aku akan ikut aturan mainmu oke? Tenanglah!”

“Ayolah… coba pria ini, mapan, tinggi, dan sukses!” Dia menunjukkan sebuah foto padaku—pria yang cukup menarik menurutku. Demi membuat Jimin puas, aku langsung mengambil ponselku dan menekan nomor ponsel pria itu.

Dan……………….

Kami janjian di sebuah restoran mewah. Bukan. Sangat mewah. Aku yakin, saat menikah dengannya aku akan bisa tidur di atas gunungan uang.

“Annyeonghasseyo!” Sapaku menatapnya.

“Kau sedikit terlambat nona!” Pria ini melongo ke jam tangan—mahalnya.

“Maafkan aku!” Aku langsung duduk. Seperti di foto pria ini keliatan sangat mapan dan berkelas.

“KimJongsuk imnida”

“Im Yoona imnida”

Hah! Sudah kuduga. Pria ini sama saja dengan yang lain. Aku baru tahu, kalau aku secantik itu. Pria ini tidak akan menyukaiku, dia hanya menyukai tubuhku saja. Dan aku tidak akan bermimpi untuk menikah dengannya. Ingat! Aku bisa membaca segala isi otaknya. Yang menurutku—cukup kotor.

“Sekarang anda ikut dengan saya!” Pria ini mulai melancarkan aksinya. Ingin mengajakku ke sebuah hotel dengan iming-iming uang banyak. Dia pikir aku tidak punya uang apa?

“Maaf Tuan, aku rasa aku tidak bisa mengikuti anda saat ini, kita bertemu di lain waktu saja” Sergahku tegas dan hendak berdiri. Dia bahkan punya pengawal—pria ini pasti mafia. Aku yakin.

Ini terakhir kalinya aku menuruti ucapan Jimin untuk kencan buta.

Pria itu menangkap tanganku, mencegahku pergi.

“Tolong lepaskan tuan!” Oh baiklah, aku menyesal menggunakan pakaian Dress setumit yang span ini. aku akan susah ketika berlari nanti. Sebelum berhasil meloloskan diri, aku sudah dihadang oleh pengawalnya. Bahkan para tamu yang duduk juga merupakan pengawalnya. Restoran mewah ini sudah disewa olehnya. Matilah kau Im Yoona. Runtukku sendirian.

*

 

Normal POV

Jonghyun baru saja keluar dari ruangan hotel bersama beberapa kliennya. Dia dipakai untuk menangani sebuah kasus penyelundupan illegal oleh perusahaan mafia raksasa—Jonghyun seorang pengacara.

“Kumpulkan semua bukti yang bisa kita peroleh!” Kata Jonghyun berbicara dengan seseorang di telpon. Dia bersandar di sebuah tiang sembari melihat kea rah restoran hotel. Merasa penasaran, Jonghyun langsung mendekat.

“Lepaskan tangan saya!” Im Yoona menjerit marah. Merasa Yoona dalam kesulitan Jonghyun langsung mendekat.

“Apa yang kalian lakukan?” Teriaknya lantang sembari mendekat. Tangan Yoona sudah dilepaskan oleh mafia itu. Buru-buru Jonghyun menarik Yoona menjauh.

“Pria kencan buta Yoona memberikan kode pada salah satu pengawalnya untuk menangani Jonghyun.

“Siapa kau?”

“Lee Jonghyun!” Kata Jonghyun lantang.

“Saat kalian menganiaya wanita, kalian akan dapat hukuman dengan pasal berat!” Jonghyun menarik Yoona. Tangannya bergetar. Dia tahu, mereka adalah mafia ternama yang terkenal berbahaya—dia menggali lubang kuburnya sendiri.

*

                Lagi-lagi Im Yoona mencoba membaca pikiran Lee Jonghyun tapi nihil—tidak bisa.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Jonghyun bertanya. Membuat Yoona salah tingkah dan memalingkan wajahnya.

“Aku rasa kita dalam masalah besar!” Katanya lagi.

“Maksudmu?”

“Kau tahu, siapa mereka?” Yoona menggeleng.

“Mereka mafia ternama di Negara ini! dan pria teman kencan butamu adalah ketuanya!” Jelas Jonghyun. Sesaat Yoona terdiam. Dia sudah membahayakan nyawa Jonghyun.

“Tenanglah… mereka tidak gampang membunuh seseorang” Jonghyun berusaha menenangkan Yoona seakan bisa membaca pikiran Yoona yang kalut. Jonghyun menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian.

“Ayo kita ganti bajumu”

“Eh?”

“Ayo turun!”

*

                Jonghyun meminta Yoona untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman—Jeans, kaos putih berbalut cardigan.

“Kenapa tidak mengantarku pulang saja?”

“Malam ini kita tidak bisa pulang, kau lihat mobil di belakang kita itu?” Jonghyun menunjuk sebuah mobil. Yoona mengangguk.

“Itu mobil mereka yang sedari tadi mengikuti kita, kalau kita pulang, mereka akan melukai Jungshin dan Jiyeong juga!” Kata Jonghyun. Im Yoona menjadi semakin ngeri. Dia tidak menyangka imbasnya bisa separah ini. dia hanya terdiam. Membenamkan diri dalam pikirannya.

“Aku sudah menelpon Jiyeon dan Jungshin. Tenanglah!” Jonghyun berusaha menenangkan Yoona.

Yoona akhirnya mengerti, kenapa Jonghyun membelikannya baju seperti ini. kalau-kalau mungkin mereka harus lari? dia kan tidak mungkin bebas bergerak dengan long dressnya!

“Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti” Yoona mengatur tempat duduknya hingga nyaman untuk dipakai tidur.

“Pakai ini!” Jonghyun menyerahkan sebuah selimut yang ada di Jok belakang.

*

Im Yoona

Apa ini? ini bukan di kamar? Tapi di Mobil? Ahhh… benar, aku di mobil Jonghyun. Kuintip seseorang di sebelahku yang masih tertidur tenang—Lee Jonghyun. Kuamati wajahnya sebentar, menebak-nebak apa yang sedang diimpikannya. Cuma dia satu-satunya orang yang tidak bisa kubaca pikirannya. Aku tidak yakin kenapa seperti itu. Bahkan tidurpun wajahnya memang menenangkan.

Eh? Dia bergerak? Aku harus pura-pura tertidur.

“Im Yoona?” Katanya sembari menyentuh bahuku. Aku berpura-pura menggeliat dan membuka sedikit mataku.

“Hei berhenti pura-pura! Cepat bangun!” Jonghyun tahu kalau aku pura-pura? Wah Gawat!

“Hmm… kita dimana?” Tanyaku sambil memperhatikan keadaan sekitar.

“Apa kau tidak ingat? Jalan ini?” Eh? Jonghyun?

“Maksudmu?” Tanyaku bingung. Aku memang familiar dengan jalan ini sih. tapi ini dimana? Jonghyun turun dari mobil dan merenggangkan otot-ototnya. Aku menyusulnya.

“Loh? Ini kan jalan………….”

“Jalan menuju rumahmu yang dulu kan?” Lanjut Jonghyun. Bagaimana dia bisa tahu?

“Kau? Bagaimana kau tahu? Apa kita di Daegu sekarang?” Jonghyun mengangguk. Apa? Apa dia gila? Menyetir semalaman untuk ke Daegu?

“Hei Im Yoona… aku tidak gila kok!” What? dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Jonghyun tersenyum menatap wajahku.

“Apa kau ingat aku?” Tanyanya lekat-lekat. Aku bisa memperhatikan detil wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku. Aku terdiam sejenak, semenjak bertemu Jonghyun aku tahu. Dia familiar dengan seseorang.

“Ya! Apa kau benar-benar tidak ingat aku?” Dia melambai. Aku ingat. Aku ingat dia. Tapi aku tetap diam. Jantungku menderu begitu kencang sama seperti ketika pertama kali melihatnya. Jonghyun berhenti melambai dan tersenyum lagi. Kurasakan panas menggenangi seluruh mataku dan membuatnya kabur.

Aku memeluk Jonghyun dengan segenap perasaan rinduku padanya. Aku tahu. Dia adalah Jonghyun—anak laki-laki itu adalah Jonghyun. Inilah alasan kenapa dia mengajakku ke Daegu dan di jalan pertama kali aku bertemu dengannya dan mulai jatuh cinta padanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Melupakan rasa malu yang seharusnya ada. Jonghyun tidak pernah tahu, selama ini aku begitu mencintainya. Bahkan sebelum mengenal siapa dia—dimana rumahnya.

Aku tidak peduli lagi apa yang dia ucapkan. Aku tinggal dalam pelukannya dalam waktu yang cukup lama. Entah apa ini? aku sangat bahagia saat itu. Tidak peduli sejauh apa mafia itu mengejar kami, yang terpenting aku sudah bertemu kembali dengan laki-laki itu—Lee Jonghyun, iya itu namanya Lee Jonghyun. Nama yang akan aku ukir di benakku hingga takkan kulupakan.

“Im Yoona, ada apa denganmu?” Katanya begitu sadar aku menangis. Dia melepaskan pelukanku, memperhatikan wajahku. Aku menggeleng sempurna. Dan kembali memeluknya.

“Aku mohon jangan pergi lagi”Batinku.

*

                To be Continued

               

                Gumawo ^_^

25 thoughts on “[FF Freelance] Love is Only You (1/2)

  1. aah..so sweet..Jonghyun kau sungguh Kereeeen…
    Suka sama nich couple ‘DeerBurning’..next di tunggu Fighting!!

  2. Apa kemampuan membaca pikiran yoona itu ketularan jonghyun. Jd jonghyun menyalurkan chakra nya ke yoona gitu? #plak! Hehehe…
    Apa jonghyun jg suka yoona ?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s