[FF Freelance] Expect

EXPECT (1)

Author : peterpanwendy

Tittle : [Ficlet] Expect

Cast : Park Chanyeol

           EXO Members

           Jung Hanna (OC)

Genre : Sad, angst, romance

PG/rating : T

WARNING!

FF ini murni buatan saya. Jika kalian menemukan cerita yang serupa, ini ketidaksengajaan. Chanyeol milik Tuhan, orangtuanya  dan SMENT, ff ini milik saya seorang(?)

FF ini pernah dipublish di blog pribadi saya peterpanwendy.wordpress.com  dan exofanfiction.wordpress.com dengan judul da cast yang sama.

Happy reading~

 

Suasana dorm EXO pagi ini sangat sunyi. Kesebelas member tengah duduk di ruang tengah dorm mereka dalam diam. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mungkin, ini bukanlah hal baru di dorm mereka. Pasalnya sudah hampir dua minggu sejak kejadian itu, dorm mereka mendadak sepi. Sangat berbanding terbalik dengan banyaknya member yang ada di dalamnya.

Sang leader dari EXO-K maupun M sama-sama frustasi karena kejadian itu. Bagaimanapun juga kejadian itu benar-benar berdampak besar bagi  EXO. Hampir di setiap show mereka tidak bisa berkonsentrasi. Bahkan Kai yang biasanya selalu total dalam setiap penampilannya, kini ikut uring-uringan.

Terdengar suara decitan pintu dari salah satu kamar. Kesebelas member yang sedang melamun itu langsung menolehkan kepalanya menuju sumber suara. Dengan langkah santai, sang pembuka pintu berlalu dari hadapan rekan-rekannya.

“Park Chanyeol, mau kemana?” tanya Kris dengan datar. Semua member hanya bisa diam. Tanpa Kris bertanya semua tau apa jawabannya.

“Ke tempat biasa,” jawab Chanyeol dengan datar pula. Tak ada guratan sedih maupun senang yang ditunjukkan olehnya. Sangat datar. Bahkan teman sekamarnya—Baekhyun—seperti tak mengenal Chanyeol. Dia nampak berbeda.

Setelah semua diam dan tak ada lagi yang bertanya, Chanyeol kembali berjalan menuju pintu dorm mereka lalu keluar dari sana. Suho hanya mampu menghela nafas pelan.

“Kapan dia akan sadar?” gumamnya dengan pelan.

***

Gereja yang terletak tak jauh dari Myeongdong itu terlihat sepi. Pagi ini memang tidak ada kegiatan apapun di gereja itu. Chanyeol memasuki gereja itu lalu duduk di deretan kursi paling depan. Diam. Dia hanya diam sambil memandangi altar yang ada di depannya.

Perlahan dadanya sesak. Darahnya seperti berhenti mengalir. Airmatanya sudah siap untuk meluncur. Kenangan itu kembali mengoyak pikirannya. Duduk di barisan paling depan bukanlah impiannya. Melainkan bisa berdiri di altar bersama yeoja yang ia cintai, itu adalah mimpinya sejak dulu.

Tapi dimana yeoja itu? Chanyeol hanya mampu terdiam. Hatinya bahkan tak bisa meyakinkan dirinya sendiri tentang semua fakta yang sudah ada. Dirinya masih tak percaya. Semua telah hilang dengan cepat.

“Aku tau kau ada disini. Aku tau kau pasti menepati janjimu untuk bersanding di altar bersamaku. Aku tau kau masih menginginkanku. Aku tau kau sangat mencintaiku. Aku tau ini hanya mimpi buruk. Tuhan, aku mohon bangunkan aku! BANGUNKAN AKU TUHAN!” teriak Chanyeol dengan airmata yang sudah mengalir dengan deras.

“Jung Hanna, aku tau kau disini. Keluarlah Jung Hanna, aku mohon! Kenapa kau meninggalkanku secepat itu? Bagaimana kau bisa pergi bahkan sebelum kita berdiri diatas altar? Kenapa kau tega?!” gumamnya lagi.

Hatinya bagai tersayat pisau ketika nama Jung Hanna kembali menghantui otaknya. Nama seorang yeoja yang sudah empat tahun ini ada di hatinya. Yeoja yang selalu mengisi hari-harinya, yeoja cantik yang sangat dia cintai.

Empat tahun dirasa sangat cepat. Tapi kenapa dua minggu belakangan ini terasa seperti dua abad baginya? Kenapa dua minggu setelah kepergian Hanna untuk selamanya, Chanyeol masih belum bisa merelakan semuanya? Bahkan dia masih merasa jika Hanna itu ada.

Dua minggu semenjak Hanna meninggal, Chanyeol selalu menghabiskan waktu di gereja ini dan bukit dekat sekolahnya dulu. Entah kenapa, menyendiri membuatnya sedikit tenang. Walau member EXO yang lain telah menyuruhnya untuk istirahat di dorm, tapi dia selalu menolaknya.

Sikap Chanyeol inilah yang membuat semua member bingung dan sedih. Tak ada lagi si Happy Virus EXO. Tak ada lagi orang yang akan membuat lelucon di dorm ketika mereka bosan. Jalankan menghibur orang lain, mengibur dirinya sendiri Chanyeol tidak sanggup.

Terdengar suara desahan pelan dari mulut Chanyeol. Namja itu berdiri lalu kembali menatap altar di depannya dalam diam. “Aku masih mengharapkanmu, Jung Hanna.”

***

Angin berhembus tak begitu kencang dari atas bukit ini. Chanyeol hanya mampu diam sambil duduk, kembali mengingat kenangannya bersama Hanna. Tempat ini adalah saksi dimana Chanyeol menyatakan perasaannya pada Hanna.

Jung Hanna, lagi-lagi nama itu muncul di kepalanya. Melupakan nama itu terasa sangat berat bagi Chanyeol. Semua memori itu masih melekat dengan jelas di pikirannya, tak akan pernah bisa terhapus.

Chanyeol tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya. “Jung Hanna!” serunya sambil membalikkan badan. Senyum yang ada di bibir Chanyeol perlahan memudar ketika menyadari bahwa orang itu bukanlah Hanna. “Baekhyun. Sedang apa disini?” tanyanya dengan pelan.

Perlahan Baekhyun duduk disebelah Chanyeol lalu memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. “Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini? Mengingat kembali kenangan kalian, eo?” tanya Baekhyun.

Diam. Chanyeol hanya mampu tersenyum miris mendengar pertanyaan teman satu grupnya itu.

“Disini begitu banyak kenanganku bersamanya. Disini pertama kali aku bertemu dengan Hanna. Disini pula aku menyatakan cintaku padanya. Aku benar-benar menyukai tempat ini,” jawab Chanyeol. Baekhyun menghela nafasnya pelan.

“Ya, aku tau. Tapi ini sudah dua minggu Park Chanyeol. Apa kau tak bisa meyakinkan dirimu jika dia sudah tiada? Apa kau tak lelah dengan sikapmu itu?”

“Jangan sebut dia meninggal. Dia disini. Aku tau dia akan selalu bersamaku. Aku bisa merasakannya,” elak Chanyeol. Baekhyun mengacak rambutnya frustasi.

“Park Chanyeol, dengarkan aku. Kau ingat bukan saat dia bilang kalau dia lelah dengan segala penyakitnya? Kau juga masih ingat saat dia menghembuskan nafas terakhirnya? Kau ada di sebelahnya! Sekarang kenapa kau mengatakan itu?” tanya Baekhyun sedikit keras. Chanyeol menepis kedua tangan Baekhyun yang ada di bahunya.

“Tidak! Aku tidak percaya dengan semuanya! Dia masih hidup! Dia masih hidup! Dia—“

Bugh! Sebuah pukulan berhasil mendarat di pipi Chanyeol. Namja itu memegang pipinya yang berdenyut. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Perih.

“Itu agar kau sadar Park Chanyeol. Sekarang terserah padamu. Kami lelah melihatmu seperti ini. Kau tau, Kris hyung dan Suho hyung tidak bisa berhenti menangis karena melihatmu yang masih menganggap Hanna hidup. Kau bahkan melihat pemakamannya, tapi kenapa kau masih meragukan kepergiannya? Aku yakin, Hanna bahkan tak mau melihatmu terus menerus sedih seperti ini. Sudahlah, jika kau merasa baik, kembalilah ke dorm,” kata Baekhyun lalu meninggalkan Chanyeol sendirian.

Airmata Chanyeol kembali jatuh. Kini dia benar-benar sadar jika Hanna telah pergi. Pergi untuk selamanya. “Maafkan aku Hanna. Maaf.”

End

2 thoughts on “[FF Freelance] Expect

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s