Radio — 2nd Chapter

radio1

RADIO

“Sometimes love just ain’t enough.”

By

PSEUDONYMOUS

CAST: 2PM’s Chansung & SECRET’s Jieun || GENRE: Romance & Life || LENGTH: Chapter || RATING: PG-16 || DISCLAIMER: Inspired by Just Married (2003) & My Darling is a Foreigner (2010) || CREDIT POSTER: Springeous

PREVIOUS CHAPTER:

Prologue, 1st Chapter

***

2nd CHAPTER

Minjun berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil selimut. Dia menekan saklar untuk menyalakan lampu dan memutari kamar untuk mencarinya. Minjun mencari di antara bantal di atas tempat tidur, tapi tidak bisa menemukan selimutnya di mana-mana.

“Di mana selimutnya?”

Minjun bergerak ke depan lemari dengan harapan dia bisa menemukan selimutnya di sana. Dia membuka salah pintu lemari dan melihat susunan baju Chansung yang kacau serta mengenali bagian yang lengang di sampingnya, yang dulunya pasti ditempati oleh baju-baju milik Jieun sebelum wanita itu pergi. Minjun membungkuk di antara rak, mencari-cari. Lagi-lagi, dia mendapati dirinya melengos kecewa karena tidak melihat selimut di dalam sana.

Minjun berkacak pinggang dan meneliti seisi lemari. Dia menatap laci lemari yang tertutup dan entah mendapat dorongan dari mana, Minjun menarik lacinya begitu saja tanpa seizin si pemilik. Tentu saja dia tidak mengekspektasi akan menemukan selimut di dalam laci yang sempit, namun setidaknya dia berkehendak untuk menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan sesuatu mengenai segala kekacauan yang terjadi pada Chansung.

Minjun membongkar isi lacinya. Buku catatan, pulpen, kertas-kertas kusut, uang recehan, kacamata yang lensanya telah buram, serta bungkus obat-obatan penenang yang telah kadaluarsa bertumpuk seperti sampah di sana. Minjun mengangkat salah satu bungkus obat-obatan ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan saksama. Minjun ingat Chansung pernah bercerita sesuatu tentang masa lalunya. Tentang Chansung yang terkadang mengalami kesulitan untuk menahan diri dari rasa gelisah dan perasaan sakaunya. Tentang Chansung yang dulunya adalah bekas pengguna narkoba.

***

Jieun tidak percaya intuisi macam apa yang telah membawanya datang kemari. Dia berdiri di depan pintu apartemen neneknya di pinggir kota. Tangannya dengan erat mencengkeram tali tasnya. Tidak seharusnya dia merasa begitu gugup hanya untuk menemui keluarganya sendiri, terutama neneknya, yang selama ini sudah berperan luar biasa dalam membesarkan dirinya. Setelah melakukan beberapa tarikan napas untuk menenangkan diri, Jieun mengangkat lengannya ke depan untuk mengetuk pintu.

“Siapa?”

Jieun tercengang saat mendengar suara neneknya menyahut dari dalam. “Ini aku, Jieun, Nek.”

“Jieun?”

Terdengar kunci yang dimasukkan ke lubang, lalu beberapa kali putaran ke kanan dan klik. Pintu digeser ke belakang dengan pelan dan tampaklah sosok tua itu berdiri di belakang pintu dengan sorot waspada. Rambut kelabunya yang pendek bergelombang, serta tubuh bungkuknya menunjukkan dengan jelas bahwa wanita itu telah menghabiskan seabad lebih dari waktunya dalam manis dan pahitnya kehidupan.

“Jieun, apakah itu kau?”

Jieun tersenyum pada neneknya. “Ya, ini aku, Nek.”

“Oh, tunggu sebentar.” Neneknya merogoh saku celananya dan mengeluarkan kacamata. Dia buru-buru mengenakan kacamata itu dan memandangi Jieun sekali lagi. “Astaga, Jieun! Cucuku!”

“Ya, ini aku.”

Nyonya Song merentangkan kedua tangannya dan tertawa. “Kemarilah, Nak.”

Jieun berlari-lari kecil ke dalam pelukan neneknya. Keduanya berpelukkan sangat erat. Jieun menghirup aroma tubuh neneknya yang wangi dan tersenyum. Ternyata dia merindukan neneknya lebih dari yang dikiranya

“Ayo, masuklah, Sayang,” kata wanita tua itu setelah melepas pelukannya. “Kebetulan sekali, Nenek baru saja membuat sepoci teh. Mari minum bersama dengan Nenek.”

“Terima kasih, Nek.”

Nyonya Song mengantar Jieun duduk di meja makan sementara dia berdiri di depan pantry untuk menyiapkan cangkir.

“Bagaimana keadaan Nenek?” tanya Jieun sambil mengamati seisi apartemen. Rapi dan cukup bersih. “Sepertinya Nenek bisa melakukannya dengan baik tanpa aku,” lanjut Jieun dengan wajah cemberut, berpura-pura kecewa.

“Tentu saja tidak, Sayang.” Nyonya Song tertawa pelan. Suaranya terdengar begitu rapuh, menggambarkan usianya. “Segala sesuatunya akan lebih baik saat kau tinggal bersama Nenek.”

“Ya, tapi segala sesuatunya tampak lebih rapi dan bersih setelah aku pergi,” ujar Jieun, memindai sekelilingnya sekali lagi.

Nyonya Song mendatangi Jieun di meja makan sambil membawa nampan dengan sepoci teh serta dua cangkir untuk mereka. “Tapi, Jieun-ku sudah cukup besar untuk tinggal seorang diri, bukan?” kekeh Nyonya Song seraya menuangkan teh ke cangkir. Dia mendorong tatakan cangkir ke depan Jieun. “Kau sendiri, bagaimana dengan kehidupanmu? Kau sudah jarang menemui Nenek akhir-akhir ini. Apakah kau begitu sibuk dengan kehidupanmu sampai-sampai sudah melupakan nenekmu yang sudah tua ini?”

“Tidak juga,” jawab Jieun. Dia menghirup tehnya dan mendesah. “Aku sedang sibuk mencari pekerjaan akhir-akhir ini. Dan meski begitu, kehidupanku tetap baik-baik saja. Hm, tidak,” ralat Jieun, “justru bertambah lebih baik.”

“Masih mencari pekerjaan lagi? Bukankah kau pernah bilang sudah melamar kerja ke beberapa tempat? Apakah mereka menolakmu?” Nyonya Song memegang cangkirnya dan menyipitkan mata dengan curiga saat melihat wajah Jieun memerah. “Atau apakah ada sesuatu yang tidak Nenek tahu?”

Jieun menyesap tehnya sekali lagi dan meletakkannya di atas tatakan. “Sebenarnya, aku datang kemari untuk mengabarkan ini pada Nenek.”

“Mengabarkan apa?”

“Berita pernikahanku.”

Nyonya Song mengerutkan alis. “Berita apa?”

“Pernikahanku,” ulang Jieun dengan mata berbinar-binar. “Sebentar lagi aku akan menikah. Chansung sudah melamarku dan kami akan segera menikah dalam waktu dekat. Kami bahkan sudah tinggal serumah dan—”

“Tahan sebentar, Nak,” Nyonya Song menyela dengan mata menyipit. “Kau sudah dilamar oleh Chansung? Pria itu? Yang pernah menggunakan narkoba itu? Bukankah Nenek sudah mengatakan padamu untuk segera memutuskan hubungan kalian?”

Air wajah Jieun berubah murung. “Nek, dia sudah berubah,” katanya, berusaha tersenyum.

Nyonya Song mengerjap-ngerjap dan bersandar pada kursinya. Dia menggeleng dan berkata, “Entahlah, Jieun, Nenek tidak yakin pada pernikahan kalian.”

“Nek,” Jieun mengulurkan tangan untuk menggapai tangan neneknya, “Chansung bukan lagi seorang pengguna narkoba. Dia sudah berubah dan sehat sekarang.”

“Ya, tapi tetap saja,” suara Nyonya Song naik satu oktaf. “Bukan hanya Chansung yang bermasalah. Apakah kau lupa bahwa ayahnya juga sekarang di penjara karena menjadi seorang penipu?”

“Nek…”

“Nenek tidak akan menyetujui pernikahanmu dengan Chansung, Jieun. Tidak akan pernah. Bayangkan, kau akan menikah dengan menjadi bagian dari keluarga mafia! Apa kau tidak khawatir dengan apa yang orang-orang akan katakan nanti?”

Jieun menggeleng resah. “Tapi kami saling mencintai. Lagipula, Chansung tidak seperti yang Nenek bayangkan. Dia pria yang baik dan dia peduli padaku. Dia mencintaiku. Dia dan ayahnya mungkin pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi bukan berarti mereka tidak bisa memperbaikinya, Nek. Kesalahan adalah sesuatu yang lumrah terjadi pada seseorang, bukan begitu?”

Nyonya Song mulai terlihat tidak senang. Acara minum teh itu tidak lagi terlihat menyenangkan. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” gumam Nyonya Song sinis. “Kau sama saja keras kepalanya dengan ibumu, Jieun. Kalian berdua sama-sama tidak ingin mendengarkan Nenek. Apa kau tidak bisa melihat dan belajar dari akibat pembangkangan yang dilakukan ibumu saat Nenek menolak pernikahannya dengan ayahmu? Pernikahan mereka gagal. Mereka terlibat dalam pertengkaran hebat saat dalam perjalanan dan meninggal dalam kecelakaan. Mereka meninggalkanmu seorang diri dan mengutus Nenek untuk merawatmu.”

“Nenek tidak seharusnya berkata seperti itu soal orangtuaku,” lirih Jieun sedih.

Nyonya Song menggeleng lagi. Dia mengurut dahinya dan melepas kacamatanya. Wanita tua itu menegaskan kembali ucapannya, “Pokoknya jangan, Jieun. Jangan menikah dengan pria itu. Dia pria tidak benar. Dia bekas pengguna narkoba. Dan lagipula, apa pekerjaannya? Bukankah kau bilang dia bekerja sebagai penyiar radio? Penyiar radio, benar? Astaga, pekerjaan itu tidak akan bisa membiayai kehidupan kalian!”

“Nek, cukup!” Jieun melabrak meja makan hingga cangkir-cangkir bergetar di atasnya. Tangannya gemetaran dan matanya tampak berkilauan oleh lapisan tipis air mata. “Aku ke sini ingin meminta restu Nenek atas pernikahanku dengan Chansung. Bukan sebuah pertengkaran.”

“Lihat apa yang sudah dilakukan pria itu padamu, Jieun!” Nyonya Song naik pitam. “Kau bahkan sudah berani melawan nenekmu sendiri. Nenek yang membesarkanmu. Jika kau ingin mendapatkan restu, jawaban Nenek adalah tidak. Kalian tidak bisa menikah. Memangnya Chansung akan memberimu makan apa nanti setelah menikah? Cinta? Atau bahkan narkoba? Nenek tidak ingin melihat pernikahanmu gagal. Lalu, setelah ini apa? Kau akan datang ke sini tiga bulan kemudian, membawa anakmu yang harus Nenek rawat, kemudian kau tertatih-tatih bekerja untuk membiayai kehidupan kalian berdua, sementara Chansung melepas tanggung jawabnya begitu saja, begitu? Itu yang kau mau?”

Jieun menyeka air matanya. Bukan ini yang diinginkannya. Dia menyambar tasnya di atas kursi dan berdiri. “Mungkin Nenek mengenal Chansung sebagai seorang pengguna narkoba, ayahnya adalah seorang penipu, Nenek mungkin mengenali Chansung yang dulu. Tapi,” dengan suara merintih, Jieun melanjutkan, “Nenek tidak kenal dengan orang yang sedang Chansung upayakan sekarang ini. Chansung bukanlah masa lalunya.”

Begitu menyelesaikan kalimatnya, Jieun keluar dari apartemen neneknya. Masih dengan terisak.

***

Minjun menyenggol lengan Chansung. “Apa kau tidak ingin ikut makan siang bersama kami?”

Chansung melirik arlojinya. Dia melepas headphone pada telinganya dan berdiri dari kursinya. “Tidak,” tolaknya sopan. Dia meraih ranselnya di atas kursi. “Aku sudah bawa makan siang.”

“Makan siang?” Taecyeon yang berdiri di seberang meja siar melompat ke arah Chansung. “Mana? Biar kulihat!”

“Tidak, tidak. Jangan,” kata Chansung. Dia menarik tasnya saat Taecyeon berusaha membongkar isinya.

“Kau ini pelit sekali, dude!” keluh Minjun dengan logat Amerika yang dibuat-buat. “Biarkan kami melihatnya sebentar. Jika rasanya enak, siapa tahu kau bisa berbagi bersama kami, jadi tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan siang. Benar begitu, Taecyeon?”

“Tentu saja!” timpal Taecyeon, tak kalah semangat.

“Hei, sudah kubilang, jangan!”

Chansung tidak berdaya ketika Minjun dan Taecyeon menyerbunya. Minjun bertugas merampas ranselnya, sementara Taecyeon menahan lengannya. Minjun berhasil mengeluarkan kotak bekal makan siangnya dan membukanya di atas meja.

“Wow, omelet!” seru Minjun. Pria itu menyendoknya dengan tangan kosong dan langsung menyuapnya ke dalam mulut.

“Hei!” Chansung meronta di lengan Taecyeon. “Tanganmu kotor!”

Taecyeon menatap Minjun penasaran. “Bagaimana rasanya?”

Lima detik pertama, Minjun menghabiskannya dengan mengunyah. Detik berikutnya, wajahnya berubah merah. Dia meludahkan omeletnya ke atas tissue dan melemparnya ke tong sampah begitu gumpalan asin itu menyapu lidahnya.

“Astaga. Omelet ini rasanya benar-benar bencana!” pekik Minjun.

“Benarkah?” Mata Taecyeon membulat dengan penasaran. Dia mencicipi omelet yang dibawa Chansung dan tidak butuh waktu lama, Taecyeon bereaksi sama seperti Minjun. Pria itu terbatuk-batuk sambil berkata, “Astaga, asin sekali.”

Chansung mendorong tubuh Minjun dan Taecyeon untuk menjauh, dan segera menyelamatkan kotak bekal makan siangnya. “Brengsek. Makan siangku jadi kotor gara-gara kalian.”

“Apakah Jieun yang benar-benar membuat omelet itu?” tanya Minjun setelah meneguk sebotol air untuk menyingkirkan rasa asin dari alat pengecapnya.

“Bukan urusanmu!” sungut Chansung kesal.

“Sudah jelas Jieun yang membuatnya,” timpal Taecyeon sambil berdecak. “Kau akan menikahi wanita yang salah, Chansung.”

“Makanan buatan Jieun baik-baik saja!” Chansung bersikeras membela. “Indra pengecap kalian yang salah!”

“Uh,” Minjun mengeluarkan suara-suara aneh, “lihat Taecyeon, beginilah jadinya orang jika sedang kasmaran. Rasa asinnya bisa berubah jadi rasa cinta.”

Taecyeon tertawa terpingkal-pingkal. “Benar juga. Omeletnya sudah dibumbui dengan cinta dan hanya Chansung yang bisa merasakannya.”

“Hentikan!”

Minjun dan Taecyeon semakin terbahak, mendapati wajah Chansung kini bersemu merah.

“Jadi, apakah kau yakin tidak mau ikut bersama kami untuk makan siang di luar?” Minjun menawari sekali lagi. “Mengingat omelet itu—”

“Tidak ada yang salah dengan omeletnya!” kilah Chansung marah. “Kalian pergi saja!”

“Uh,” Minjun menggoda lagi. “Baiklah. Semoga omelet-bumbu-cinta itu bisa mengenyangkanmu, Chansung. Bon appétit.

Chansung menggeleng-gelengkan kepala ke arah Minjun dan Taecyeon. Keduanya pergi meninggalkannya sendiri di ruangan siar dengan tawa mengejek. Meski begitu, kini dia akhirnya merasa lega bisa bebas dari kedua manusia usil itu. Tangan Chansung kini menggenggam erat kotak makan siangnya dan memandanginya lama sekali.

***

Minggu pertama musim panas. Chansung dan Jieun berada dalam sebuah kereta menuju desa Hanok. Tadinya Chansung berpikir dia akan menghabiskan akhir pekannya dengan melakukan terapi dan tidur di rumah. Namun sebuah telepon yang diterimanya dari Jieun pada tengah malam, memaksanya datang ke stasiun kereta untuk bertemu dan pergi piknik bersama pada keesokan paginya.

“Hari yang cerah untuk piknik, bukan?” Jieun menyikut lengan Chansung dan mendongak ke pemandangan luar jendela. Bukit-bukit, pepohonan, rumah-rumah melewati jendela dengan cepat.

Chansung menoleh pada Jieun dan menjumpai wanita itu diliputi rasa semangat yang membara, layaknya udara musim panas yang menyengat; namun dengan cara yang menyenangkan, tentu saja. Chansung mengangguk pada Jieun dan memaksakan sebuah senyum. Bibirnya yang pucat bergetar. Dia merasa agak kurang sehat. “Kurasa begitu.”

Senyum di wajah Jieun luntur dengan cepat saat melihat air wajah Chansung. “Aku minta maaf karena harus mengajakmu keluar di hari sepanas ini. Tapi, aku pikir piknik akan menjadi pengalaman yang baru untukmu dan bagus untuk kejiwaanmu. Bukan begitu?”

Chansung kali ini tersenyum tulus, merasa haru atas perhatian Jieun. “Ya, terima kasih. Sejujurnya, pasti juga sangat membosankan menghabiskan waktu di rumah.”

“Kalau begitu,” Jieun berseru ringan. Wanita itu membungkuk ke bawah kursi dan mengeluarkan isi ranselnya. Jieun mengangkat sebuah kotak makan siang dari dalam sana dan menyodorkannya pada Chansung, “aku membawakan buah-buahan untukmu. Ada apel, anggur, dan stroberi. Aku tidak begitu pandai dalam memasak, jadi aku hanya membawa buah-buahan untukmu. Cobalah. Rasanya sangat segar dan cocok untuk musim panas.”

Chansung menatap kotak buah-buahan itu dengan bingung. Untuk beberapa saat, dia tampak lupa bagaimana harus membuka kotak itu ketika melihat wajah Jieun yang berseri-seri.

“Biar kusuapkan untukmu.” Jieun membuka kotaknya dan menusuk potongan apel dengan garpu kecil, lalu menyuapkannya pada Chansung. Pria itu menerima dengan ragu-ragu. “Bagaimana?” tanya Jieun. “Apakah rasanya manis?”

Chansung mengangguk tanpa melepaskan matanya dari wajah Jieun. Jieun menyuapkan potongan apel untuk dirinya sendiri dan tertawa pelan. “Rasanya benar-benar manis.”

Chansung mendesah. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa wanita seperti Jieun rela menghabiskan banyak waktu dengan pria seperti dirinya?

***

Jieun sampai di rumah pukul satu siang. Dia melempar tas tangannya ke atas sofa, meninggalkan plastik belanjanya di samping pot bunga, lalu menghempaskan diri bersama tasnya ke atas sofa. Jieun mendesah panjang, kemudian melirik belanjaannya sekali lagi. Karena terlalu dibawa perasaan emosional setelah beradu mulut dengan neneknya, Jieun baru sadar bahwa dia terlalu banyak membeli bahan makanan yang tidak diperlukan.

Jieun tidak menampik bahwa ucapan neneknya sangat mengganggunya dan benar-benar di luar dugaan. Dan yang terpenting sekarang adalah bagaimana dia harus menjelaskannya pada Chansung nanti?

Drt, drt, drt. Ponselnya bergetar di bawah bokongnya. Jieun mengambil tas yang ditindihnya dan merapatkan ponsel ke telinganya.

“Halo?”

“Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” Suara Chansung terdengar cemas. “Kau tidak mengangkat teleponku.”

“Oh ya?” Jieun menatap layarnya sebentar dan mengenali tiga miss call yang masuk. “Maafkan aku,” katanya sedih. “Aku sedang dalam perjalanan pulang dari supermarket tadi, maka dari itu aku tidak mendengarkan teleponmu. Bagaimana pekerjaanmu?”

“Baik-baik saja.”

“Apakah kau sudah makan siang? Aku tidak terlalu banyak berharap kau akan—”

“Aku sudah menghabiskan bekal makan siang buatanmu,” sahut Chansung. “Jangan terlalu mencemaskannya.”

Jieun tersenyum. “Aku merindukanmu.”

“Aku juga.”

Senyap sejenak.

Chansung berdeham. “Jieun, aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Aku harap kau tidak terlalu memaksakan diri untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kita akan menjalaninya secara perlahan-lahan, dan kau tidak perlu merasa terburu-buru. Kau mengerti?”

Jieun terkekeh pelan. “Aku baik-baik saja.”

“Tapi cara bicaramu terdengar berbeda. Apakah terjadi sesuatu? Apakah kau sakit? Sudah kubilang, kau seharusnya istirahat, tapi—”

“Ini bukan soal pekerjaan rumah tangga,” sela Jieun. Dia menelan ludah. Apakah aku harus mengatakannya saja sekarang? Melalui telepon?

“Lalu?”

Jieun mengedikkan bahu. Dia menunda untuk menjelaskannya. Melalui telepon rasanya tidak cocok. “Entahlah, Chansung. Mungkin saja karena aku terlalu merindukanmu,” kata Jieun pada akhirnya. Berbohong.

Chansung tertawa. “Jika benar begitu, aku akan segera pulang ke rumah seusai pulang kerja nanti. Apakah kau ingin kubelikan sesuatu?”

Jieun menyahut dengan lembut, “Tidak usah. Aku baik-baik saja.”

“Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu nanti malam. Jaga dirimu baik-baik.”

Begitu sambungan terputus, Jieun terdiam. Dia meringis pelan, lalu menendang-nendangkan kakinya ke udara. Dalam keraguannya, pertanyaan itu terus menghantuinya, bagaimana dia akan menjelaskannya pada Chansung?

***

Chansung duduk di ruang tunggu bersama para pengunjung lainnya. Mereka duduk di meja-meja yang tersebar di seluruh ruangan. Ruang tunggu itu tampak seperti sebuah kantin sekolahan yang sangat luas. Bedanya, penjagaan ketat ada di mana-mana dan udaranya sangat lembap. Para petugas polisi berdiri di masing-masing pintu masuk dan bangunan, mengawasi para pengunjung dan tahanan yang tengah mengobrol.

Tidak berselang lama kemudian, Chansung mendongak ketika salah satu pintu besi digeser. Seorang petugas muncul, membawa Tuan Hwang bersamanya. Chansung tersenyum pada ayahnya, dan pria paruh baya itu balas tersenyum. Mereka berpelukan sebentar, kemudian duduk di kursi masing-masing.

“Bagaimana kabar Ayah?” tanya Chansung. Dia mengamati wajah tirus ayahnya dan berdecak, “Sepertinya Ayah tidak makan dengan benar.”

Tuan Hwang mengeluarkan suara tawa yang tertahan di tenggorokannya. “Sejujurnya, makanan di sini tidak terlalu enak. Rasanya hambar. Ayah tidak bisa memaksakan diri untuk mengunyah makanan hambar itu.”

Chansung mengangguk maklum. “Tapi tidak seharusnya Ayah bersikap seperti ini. Ayah tahu, kan, bahwa Ayah tidak boleh banyak menuntut di sini.”

“Ya, ya, kau benar.” Tuan Hwang mengusap rambut kelabunya ke belakang. Pria itu menatap satu per satu petugas polisi di dalam ruangan dan menggumam dengan sebal, “Ayah begitu ingin mengisap sebatang rokok sekarang.”

Chansung mengenali gerak gelisah ayahnya di seberang meja dan berharap para petugas polisi tidak terlalu menaruh perhatian pada mereka.

“Bagaimana kabar Sunmi? Apakah dia mengabarimu?” lanjut Tuan Hwang setelahnya.

“Dia meneleponku dari asrama dua minggu yang lalu, meminta dikirimkan uang untuk membeli perlengakapan sekolah.”

“Baguslah,” angguk Tuan Hwang. “Itu artinya dia belajar dengan benar di sekolah. Aku merasa tidak becus menjadi seorang ayah karena tidak bisa mengawasi perkembangan Sunmi sejak masuk SMU.”

“Ayah tidak perlu khawatir,” Chansung tersenyum lembut, “aku akan memastikan segala sesuatunya akan berjalan baik untuk Sunmi.”

“Hm, baguslah.”

Chansung menautkan jemarinya satu sama lain. Dia menarik napas panjang sebelum berkata, “Ada yang ingin kusampaikan juga padamu, Yah.”

Tuan Hwang tampak lebih santai sekarang, tidak lagi dibuat gelisah oleh sebatang rokok. “Katakan saja.”

“Aku akan menikah dengan Jieun dalam waktu dekat.”

Tuan Hwang mengangkat alis. “Menikah?”

“Benar.”

Tuan Hwang berdeham dan memandang sekeliling sebelum akhirnya membungkuk dan berbisik pelan seolah-olah hal ini bersifat sangat rahasia, “Apakah kau yakin? Menikah butuh biaya yang banyak. Kau tahu, kan? Apalagi kau masih punya Sunmi untuk kau tanggung.”

“Ayah tidak perlu khawatir,” ujar Chansung menenangkan. “Aku mendapat posisi baru di tempat kerjaku. Aku akan menjadi penyiar tetap untuk sebuah acara. Gajiku akan dinaikkan, dengan begitu, aku bisa membiayai Sunmi dan juga kehidupan rumah tanggaku.”

Sebuah perasaan lega melintas di depan wajah Tuan Hwang. Pria itu menghela napas. “Kalau begitu, aku tidak perlu mencemaskannya lagi, kan? Dan ngomong-ngomong, kapan kalian akan menikah? Kau seharusnya mengajak Jieun bertemu dengan Ayah.”

“Segera,” sahut Chansung. “Aku akan mempertemukannya dengan Ayah begitu kami berdua sudah sama-sama siap untuk tanggal pernikahannya.”

Tuan Hwang tersenyum. Keriput berkumpul di sudut bibir dan tulang pipinya. “Ayah sangat bangga padamu, Chansung. Jika saja Ayah bisa melakukan sesuatu untuk membantu keadaan.”

***

“Jieun?”

Chansung berdiri di depan pintu apartemen, melepas sepatunya, lalu menyalakan lampu. Dia melongok ke dapur dan mendengar sebuah lagu samar-samar berdendang dari arah sana.

“Jieun?”

Chansung menjinjit ke dapur dan mengamati Jieun memunggunginya di depan pantry. Sebuah radio tua berdiri dengan tegak di samping rak bumbu, memutar sebuah lagu Jepang, By Your Side yang dibawakan oleh Kanami Makino. Di meja makan, sebuah laptop milik Jieun menyala tanpa disentuh.

Staying by your side, feeling warm inside. Hm, hm, hm…” Jieun bersenandung ringan, tampaknya tidak mendengar Chansung yang mengendap-endap di belakangnya. Tangannya bergerak dengan teratur, menggerakkan pisau untuk memotong wortel di atas papan iris hingga menimbulkan suara tak, tak, tak yang berisik.

Chansung terkikik-kikik di belakang Jieun. Dia mengulurkan kedua lengannya di bawah pinggul Jieun dan menangkap tubuh wanita itu dengan cepat. Jieun menjerit kencang hingga wortel yang dipegangnya melompat ke atas wadah cuci. Chansung tertawa melihat reaksi Jieun dan melepaskan wanita itu.

“Kau mengagetkanku!” Jieun memukul lengan Chansung dengan sebal, lalu melirik ke pintu depan. “Sejak kapan kau ada di situ? Aku tidak mendengarmu masuk.”

Chansung mengecilkan suara radio, lalu menyandarkan pinggulnya di pinggir pantry. “Kau mendengarkan musiknya terlalu keras.”

“Oh.” Jieun menuju wastafel, menyalakan keran, kemudian mencuci ulang wortel yang jatuh ke sana. “Bagaimana pekerjaanmu di kantor?”

“Baik-baik saja.” Chansung melepaskan tasnya ke atas meja makan. “Bagaimana denganmu? Kau pergi berbelanja siang tadi, bukan?”

“Hm, ya.” Jieun menahan napas. Apakah sudah saatnya dia memberitahu soal pendapat neneknya mengenai pernikahan mereka?

Chansung mencuri pandang ke atas pot yang berisi air mendidih seusai mengambil segelas minuman bersoda dari dalam kulkas. “Apa yang kau masak?”

“Pokoknya jangan terlalu berharap tinggi,” sahut Jieun tanpa memandangi Chansung. Menit berikutnya, tangannya sudah sibuk memotong-motong wortel lagi. “Aku menemukan sebuah resep dari internet, dan ini pertama kalinya aku memasaknya, jadi…”

Chansung meneguk minuman sodanya dan duduk di belakang laptop. Dia menggeser kursinya untuk mendekat ke layar dan menggerakkan tetikus. Sebuah halaman muncul di depan wajahnya dengan gambar lengkap dengan resep Bibimbap dan Kimchi stew. Chansung menggerakkan tetikus lagi ke halaman baru, namun berhenti di tengah jalan saat sesuatu berkedip di sudut kanan bawah laptop.

“Jieun, kau mendapatkan satu e-mail baru,” serunya dari balik laptop.

“Oh ya?” Jieun menyahut. “Dari siapa?”

“Tunggu sebentar.” Chansung membuka e-mail tersebut. “Dari Hyosung,” lanjutnya. “Dia bilang, kau diundang untuk menghadiri acara reuni kampus kalian minggu depan.”

“Oh, oke. Aku akan segera membalasnya setelah makan malam nanti.”

Chansung menurut, menutup laptop, dan menyingkirkannya ke sisi meja makan yang lain. Jieun menyusul setelahnya, membawa dua porsi Bibimbap dan semangkuk Kimchi stew ke atas meja. Chansung mengamati makanannya dengan mata lapar dan tanpa berkedip.

“Sudah kubilang, jangan terlalu berharap tinggi dengan hasilnya,” kata Jieun mengingatkan.

Tapi Chansung sama sekali tidak peduli. Dia menarik mangkuk Bibimbap-nya dan mulai mencampurnya. Jieun tidak berkomentar apa-apa saat Chansung mulai melahap makanan buatannya. Pikirannya mulai campur aduk serta diiringi rasa cemas sampai-sampai untuk memikirkan komentar Chansung soal makanannya saja tidak sempat. Apakah aku harus mengatakannya saja pada Chansung? Yang membuatnya khawatir adalah bagaimana Chansung akan bereaksi serta bagaimana kejelasan kehidupan mereka selanjutnya.

“Chansung, ada yang ingin kukatakan padamu—”

“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu—”

Keduanya tersentak. Jieun tersenyum.

“Kau saja duluan.”

Chansung balas tersenyum. “Aku lupa menyampaikannya padamu tadi pagi. Aku mendapat posisi baru di kantor sebagai penyiar solo di sebuah acara baru. Mulai lusa nanti, aku akan mulai menyiar. Kau tahu itu artinya apa?”

Jieun mengulum sendoknya dan menggeleng tanpa petunjuk. “Apa?”

Chansung terkekeh. “Itu artinya gajiku akan naik. Bukankah itu berita yang baik? Dengan begitu, kehidupan rumah tangga kita bisa lebih terjamin. Bagaimana menurutmu?” Chansung memandang sekitarnya dan melanjutkan, “Tidakkah kau berpikir bahwa kita harus mengganti beberapa perabotan? Oh, dan juga,” Chansung mengedikkan dagu ke atas pantry, “aku akan membelikan radio baru untukmu. Dengan begitu kau bisa mendengarkanku menyiar.”

Jieun tersenyum lega. Kini, kekhawatiran terbesar neneknya sudah teratasi. Chansung tampaknya mampu menafkahi dirinya dan keluarga kecilnya kelak. Tinggal satu lagi.

“Oh ya,” Chansung berujar dengan mulut penuh, “kau ingin menyampaikan apa tadi?”

Jieun menggeleng samar. Dia memandangi wajah Chansung yang riang dan rasanya dia tidak begitu tega untuk menghancurkan suasana bahagia itu. “Hm, bukan apa-apa.”

***

Jieun duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan radio di lengannya. Dia memutar-mutar tombol radio untuk mendapatkan frekuensi yang tepat. Tidak jarang, pencariannya berakhir dengan decakan kesal dari mulutnya. Chansung masuk ke kamar setelahnya, selepas menggosok gigi dan berganti pakaian di kamar mandi.

“Seharusnya kalian lebih banyak membuat acara yang menyenangkan di tengah malam,” keluh Jieun tiba-tiba, “bukannya menyiarkan lagu-lagu lawas, iklan atau berita yang disiarkan ulang.”

Chansung melirik radio yang dipeluk Jieun dan tertawa pelan. “Lagipula ini tengah malam. Seharusnya kau tidur, bukannya mendengarkan radio.”

“Aku tidak bisa tidur! Aku butuh lagu untuk didengar sebagai lullaby.”

Chansung merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Jieun. “Mau kunyanyikan lagu pengantar tidur untukmu?”

Jieun tertawa mencemooh dan menjulurkan lidah. “Yang benar saja. Suaramu kan jelek.”

“Hei, suaraku bagus!” seru Chansung tersinggung. “Apa kau tidak tahu bahwa penyiar radio dipilih karena suaranya yang bagus?”

Jieun memutar bola matanya dan tertawa lagi. “Iya, iya.”

Chansung menarik selimut, menutupi kakinya dan milik Jieun. Dia mengawasi Jieun yang masih saja mencari-cari frekuensi. Saat sebuah lagu yang familiar terdengar dari pengeras suara radio, Jieun melonjak girang.

“Ini lagu kesukaanku!”

Chansung terkekeh. “Oke, oke, Nona Manis. Kau sepertinya sudah menemukan lagu pengantar tidurmu, bukan? Saatnya tidur kalau begitu. Biar kuletakkan radio itu di atas meja tidur.”

Sementara Chansung melakukannya, Jieun merunduk di bawah selimutnya. Begitu Chansung kembali pada posisinya semula, Jieun memeluk pinggang pria itu dan menyandarkan kepalanya di atas dada Chansung. Pria itu tersenyum, mengusap pelan Jieun, mulai dari rambut hingga lengannya. Keduanya memejamkan mata dan mendengar lagu By Your Side itu sekali lagi sebagai pengantar tidur.

Jieun mengintip dari balik dada Chansung dan melihat wajah damai pria itu. “Chansung-ah.”

“Hm?”

Jieun menahan napas saat mengatakan, “Kita akan bahagia, kan? Maksudku, dengan pernikahan kita nanti. Kita akan bahagia, kan?”

Chansung mengeratkan pelukannya pada Jieun. “Tentu saja. Kita pasti akan bahagia dan akan selalu begitu.”

Ada sebuah suara kecil dari dalam hati Jieun yang berbisik syukurlah. Jieun merasa lega. Chansung mendekapnya sangat erat. Dan dekapan yang hangat dan lembut itu sudah menjadi satu dari sekian bukti bahwa Chansung serius dengan perkataannya. Dan dengan seiring waktu, Jieun merasa tidak perlu lagi mencemaskan perkataan neneknya. Dia akan membuktikannya nanti bahwa mereka akan benar-benar bahagia.

Seiring dengan lagu yang terus berdendang melalui radio, Jieun turut merapatkan tubuhnya pada Chansung dan mulai jatuh terlelap. Suara lembut Kanami Makino membiusnya ke alam bawah sadar.

“Darling by your side, feels so special.”

“Will this last forever?”

“I don’t want to miss even a moment.”

“Darling, you show me happiness.”

“If I could make a wish, I’d stop time just for now.” []

 

18 thoughts on “Radio — 2nd Chapter

  1. Nggak kaget deh kalau Chansung pernah pake narkoba, tampangnya mendukung banget /ditabok/
    Ini ceritanya maju mundur dari kejadian Minjun buka-buka lemari Chansung yang nyambung sama part 1 kemarin bukan? Apa akhirnya Jieun pergi sebelum atau sesudah nikah gitu ya? .___.
    Aku penasaran sama acara yang bakal dibawain Chansung di radio bakal gimana ih xD, apa Jieun bakal sering ngirim pesan waktu Chansung lagi nyiarin acara gitu ya? Aahaha.
    Aku tunggu next part ya!😀

    • cerita ini emang alurnya maju-mundur & berbasis pada interpretasi dari pembaca, bagaimana si pembaca cerdas-cerdas dalam menangkap di bagian mana alur maju & mundur sedang berlangsung.
      saya sebenernya ingin memberikan perbedaan antara mana yang flashback & kejadian sekarang, tapi karena saya mikirnya pembaca sudah cukup bisa membedakan, ya akhirnya nggak jadi deh. soalnya agak mengganggu juga sih kalo dibedain. kurang nyaman aja nulisnya hehe.
      kalo emang banyak pembaca yang ngerasa kesulitan ngebedain, mungkin akan saya pertimbangkan lagi kritikannya.
      thank you.🙂

  2. Oh alurnya maju mundur ya, seru seru jadi ada tantangan (?) buat pinter pinter ngebedainnya hehe
    Awalnya sih nggak oaham kalo alurnya maju mundur, tapi makin kebawah jad paham sendiri
    Next part soon

  3. See? Mana ada ex-junkies yang manisnya seperti diaaa? ><
    di part ini aku bener2 sukses menjadi Jieun. Menutupi suatu masalah pada pasangan dengan embel2 "i miss you" emang cara yg paling ampuh… ampuh bikin tambah nyesek bingung gimana jelasin yg sebnernya nanti.
    Dilihat dari kemesraan yg bikin iri, mereka pisahnya kenapa dong kalo gitu? ._.

  4. komenku yg kemarin ak tarik. apa ji eun ninggalin chanana ada hubungannya sama masa lalu chansung? apa kayak yg ak bilang kemaren, gara2 pekerjaan barunya chan?

    next chap ditunggu! ^^

  5. Ceritanya bagus thooor, bahasanya juga oke (y)
    Cuma rada bingung sama bagian minjun itu, alurnya ngacak kah? Hehe
    Lanjutin author! Fighting😀

  6. Jd chansung bks pmake narkoba..ya ga apa” yg pnting udah berubah..cerita nya makin seru walaupun alur nya maju mundur tp ga bikin pusing krn cr penulisan nya rapi. sikap mrk st sama lain so sweet bgt..

  7. chansung dulunya pengguna narkoba u,u pantes dia kayak frustasi(?) gitu u,u
    oh ya mau nanya bagian sesudah chansung makan bekal sama sebelum jieun pulang abis belanja itu itu flashback juga apa kejadian sekarang? lanjutannya dari minjun nyari selimut?

  8. Hihi parah deh disini chansung dibikin jadi bekas pemakai narkoba kekeke
    trus gimana kedepannya sama hubungan mereka ?
    Bener” pisah ya ?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s