Lovebirds

5248413092_d426d61eb3_z1 copy

LOVEBIRDS

by

brokenpetals

Main Casts: Im YoonA & Lee Jong Hyun, Tiffany Hwang & Nichkhun Horvejkul, Lee Taemin & Son Naeun || Genre: Romance, Angst, Fluff || Length: Oneshot – (Omnibus) || Rating: G ||

Disclaimer: Inspired by The Lover’s Dictionary (2011)

Summary:

Tiga cerita, tiga cinta, di tiga tempat yang berbeda.

 ♥

-LOVEBIRDS-

Chapter 1.

Quando?

Our love does live. It grows up, but it won’t get old.

.

Mereka yakin bahwa malam itu malam Sabtu. Hujan tumpah dari langit tanpa pakai aba-aba. Tiba-tiba saja, awan gelap menelan temaram bulan lalu menggantinya dengan jeprat kilat.

YoonA duduk di sofa, membaca buku setebal kitab sedangkan Jong Hyun masih asyik di depan komputer mengedit film pendek miliknya.

“Jong Hyun?”

Gelegar guntur terdengar samar. Lelaki itu menoleh serta mengangkat dua alisnya pada si gadis kurus yang kini menatapnya lembut. Di balik tatap itu bersembunyi sebuah kalimat tanya, namun suara bass milik Michael Bublé yang mengalun harmonis dengan suara sopran Nelly Furtado membungkam mulutnya.

Tell me when will you be mine?

Lelaki itu bangkit dari duduknya, berjalan mendekati YoonA yang masih duduk menikmati lagu.

Would you, Miss?” tawarnya sambil mengulurkan tangan.

Tanpa paksa pun YoonA meraihnya. Senyumnya mengembang seraya ia ikut bangun lalu menyandar di dada Jong Hyun. Pada menit pertama lagu itu tangannya saling bertaut, tubuhnya memeluk dan bibirnya tersenyum. Keduanya saling jatuh cinta serasa ini masih hari pertama.

Slow-dancing di ruang tamu, memang tidak melulu jadi hal yang buruk. Kepala yang tinggi menunduk dan yang pendek mendongak, terus bergerak pelan mengikuti irama seraya pipinya saling bersentuhan.

“Kapan kita akan menikah?” tanya YoonA, tiba-tiba.

‘Tell me quando, quando, quando.’

Pada detik itu Jong Hyun hanya tertawa ringan, kalimat tanya itu keluar dengan nada paling naif bin polos dan rasanya itu cukup menampar.

YoonA mendongak padanya, “Kapan?” ia mengulangnya.

Senyumnya terkembang, masih tanpa jawaban Jong Hyun menarik kepala YoonA kembali ke dadanya. Dan gadis itu pun melesakkan kepalanya. Keduanya saling mendekap sambil berdansa, menikmati setiap detik seraya Jong Hyun mengusap lembut punggung gadisnya.

“Besok? Lusa? Siapa yang tahu?” jawabnya singkat.

YoonA pun spontan berhenti. Ia menarik diri lalu mundur satu langkah. Wajahnya nampak tak senang. “Kenapa bisa begitu?”

Jong Hyun menatapnya lekat. Gadis itu terlihat marah dan susah diraih. Karena jika bicara tentang pernikahan, semua orang pasti punya outlook sendiri-sendiri. Dan bagi Jong Hyun yang sebenarnya sama sekali belum punya pengalaman, pernikahan itu bukan perkara lima-menit-diskusi-lalu-kelar.

“Menikah itu ‘kan masalah keyakinan, komitmen sampai mati. Harus dipikir matang-matang.”

“Jadi selama ini kau tak pernah memikirkan sampai kesana?”

“Tentu aku—”

“Lima tahun, Lee Jong Hyun,” potongnya dengan dengus sebal. Gadis itu memaksakan tawa hambarnya.

Untuk sejenak lelaki itu hanya mengangguk, berlagak mafhum sambil memasang tampang keren dengan memasukkan tangannya ke saku celana. “Pasti. Bahkan dari hari pertama kenal denganmu aku sudah memikirkannya.”

YoonA tertawa kecut. “Lantas?”

‘Say it’s me that you adore.’

‘And then darling tell me when.’

Outro lagu manis itu mengalun seraya keduanya memejamkan mata. Ini lah yang disebut sebagai ‘Our Song’ nya para couple. Jong Hyun membuka mata duluan, diam-diam memandangi wajah cantik YoonA yang lembut dan tenang.

Oh darling, tell me when,”

Itu lah bunyi bait terakhir lagunya. YoonA ikut menyanyikan sambil tetap memejam rapat, sedangkan Jong Hyun disana hanya menggumam menyenandung.

Hujan diluar semakin deras saat lagunya benar-benar berakhir. YoonA membuka matanya pelan, membawa seulas senyum dan Jong Hyun membalasnya dengan hati ikhlas.

Dan detik berikutnya pun keduanya kembali berpisah dari tengah ruang, Jong Hyun kembali ke meja kerja dan YoonA pergi ke arah kulkas. Seolah tak pernah terjadi apa-apa, percakapan tadi serasa tertelan lubang hitam. Entah terlupakan atau dilupakan. Mereka sama-sama tak peduli.

Ephemeral.

Inilah yang disebut dengan ‘sejenak’—Lasting a very short time.

.

Dan pada detik selanjutnya suara getar kulkas samar terdengar. YoonA menenggak habis segelas air dinginnya, lalu mengumpat, “Kalau kau bukanlah kau aku tak akan mau repot-repot jatuh cinta padamu, tahu?”

Lalu Jong Hyun terbatuk dari ruang kerjanya. Benar, ia pasti keselek saat YoonA menyumpahinya.

“Dasar kecoak.”

Beberapa kertas resep terlihat menempel di pintu kulkas. Koleksi lengkap dari mulai resep membuat pancake sampai resep cara mengolah gurita. YoonA mengedarkan pandangannya, lalu berhenti pada satu spasi di bagian teratas, tepat pada tempat satu stiker berwarna kuning spotlight menempel tak sempurna.

Gadis itu mengerutkan dahinya, terlebih saat sadar bahwa ada sebundar cincin terikat oleh benang di kertas mungil itu. Dengan tulisan tangan Jong Hyun yang perlu diakui tak terlalu bagus, tulisan itu berbunyi.

Will you marry me?

P.S: I don’t take No as an answer.

Chapter 2.

Elegy

Love is the only thing in this world that could covers up all the pains.

.

Keduanya duduk berhadapan, di kedai ramai itu mereka ditemani dua cangkir kopi dan suara riuh orang bercakap. Yang satu nampak murung dan yang satu lagi kelihatan kebingungan. Hari itu hujan turun sangat deras, seperti sudah sepakat dengan langit mendung bahwa hawa dingin ini akan menginap sampai besok.

“Tiffany.”

Kini jam menunjukkan pukul 6.15 sore. Deru klakson mobil dan suara orang marah-marah terdengar samar seraya macet menguntai sampai 2 kilometer.

“Bicaralah,” ujarnya pasrah.

Lelaki itu menyeret bangkunya mendekat ke arah meja, seraya dengan semerbak harum wangi kopi yang memanjakan penciumannya ia tampak mengusap wajahnya pelan. Namun begitu tetap saja, sang lawan bicara hanya diam menatap lurus noda di meja, wajahnya linglung dan penasaran, dalam hati bertanya pada si noda; ‘Kenapa rasanya seperti ini?’ Tapi sayang, si noda diam saja.

“Ceritalah padaku.”

“Tentang apa?”

“Apa saja. Kakekmu, misalnya.”

.

.

.

Baru pagi ini kakeknya meninggal dunia. Kata ibunya, pagi tadi sang kakek terkena serangan jantung lalu jatuh di kamar mandi. Tiffany yang notabene cucu kesayangan kakek pun kini menjadi yang paling terpukul atas kepergian mendadak itu. Ia nampak seperti kehilangan sebelah badannya lalu harus rela hidup dengan tubuh separuh. Begitu durja dan kosong melompong.

Namun untungnya pemakaman hari itu berlangsung lancar. Nampak dari banyaknya tamu yang datang dan memberi ucapan belasungkawa. Tetapi sang cucu kesayangan hanya sempat menyumbang lima menit eulogi, sebuah puisi sendu tentang kematian yang dipandang dari kacamata seorang penulis surealis yang tak percaya adanya surga.

Gema tawanya masih menggema di telingaku, membawa rasa sakit yang tak pernah kuharapkan kedatangannya. Rasa kehilangan ini begitu menyumsum, bahkan eulogi ini hanya separuh dari apa yang aku pendam di dalam hati.

Entah bagaimana Tuhan akan menjelaskan kekosongan ini, kekosongan yang menggerogotiku hampir dari setiap sudut. Namun sebagaimana aku menyaksikan kembali foto-foto kami di hari yang lalu, aku sadar bahwa kenangan itu kelak akan menjadi healing weed yang membantuku sembuh dari sakitnya.

Karena aku tahu bahwa suatu hari nanti kesedihan ini akan mereda. Waktu akan memisahkan rasa kehilangan dan kenangan indah kami pada bejana yang berbeda. Terpendam pada tempat dimana aku bisa mengunjunginya sekali-sekali.

Dan seperti yang kutahu bahwa Joseph adalah orang yang penyayang. Maka dengan kepergiannya ini pula aku tak akan membuat diriku sebagai jangkar yang membebani jiwanya pergi ke tempat yang lebih baik. Karena aku percaya bahwa kami akan bertemu lagi di tempat yang kekal, bertemu dengan membawa sebuah senyum bangga. Ia akan mengingatku kelak.

Tak setetes pun air mata perempuan itu meleleh dari pelupuknya, bahkan ia tetap begitu setelah para tamu pulang dan meninggalkannya berdua dengan sang ibu.

Sedangkan Nichkhun, ia terasing di pojokan. Merasa sekasta dengan supir para tamu yang tak tahu banyak tentang kakek.

Karena sejujurnya, yang ia tahu hanyalah bahwa ia pernah sekali waktu bertemu dengannya, dan kakek adalah sosok orang yang baik. Maka itu pula satu-satunya yang bisa ia kontribusikan pada pemakaman hari itu, bahwa ia pernah sekali waktu bertemu dengannya, dan kakek adalah sosok orang  yang baik.

.

Namun selepas pemakaman, tak sedetikpun Tiffany melepaskan tautan tangannya dengan tangan Nichkhun. Ada rasa takut dan gelisah di setiap sapuannya. Apalagi saat mereka duduk di kamar mungil tempat Tiffany kecil dulu sering menginap. Di kamar bernuansa merah muda itu mereka duduk di ranjang putih. Lemari, meja, bahkan letak pigura fotonya masih nampak persis dengan ingatannya akan kamar ini dua puluh tahun yang lalu.

Namun sayang kini perempuan itu masih belum mau bicara, nampak begitu menikmati kilasan memori masa lalu yang diberikan oleh kamar ini. Dan pada saat itu pula genggaman tangannya terlepas, perempuan itu bangkit lalu pergi mengusap permukaan meja belajar di sudut kiri ruangan, di sudut kiri tepat di samping jendela kaca.

“Demi Tuhan, sekarang kau boleh menangis, Tiffany Hwang.” Nichkhun mendekapnya dari belakang.

Perempuan itu menggeleng. “Kakek tak suka jika melihatku begitu.”

Lalu tubuh itu bergetar.

Tiffany kembali menggenggam tangan Nichkhun, erat sekali. Karena ia tahu hanya dengan begitu ia bisa menarik kembali air matanya.

Dan di belakang, lelaki itu hanya bisa diam, ia pun menarik satu keputusan.

Bahwa ia tak akan keluar ruangan kecuali Tiffany juga keluar bersamanya. Karena kini gadis itu serapuh besi berkarat, ia bisa hancur kapan saja.

.

.

.

“Aku mau pulang saja.”

“Tunggu lima belas menit lagi.”

Pelan-pelan antrean mobil di jalan raya mulai mengurai, namun hujan yang turun deras menahan mereka keluar kedai. Perempuan itu masih memilih untuk diam, sambil menyeruput kopi hitamnya yang sudah mendingin sejak tadi.

“Sejujurnya aku tak suka melihatmu seperti ini,” ujar Nichkhun.

Tiffany mendongak, “Memangnya aku seperti apa?”

“Pucat, seperti zombie.”

“Aku hanya tak sempat memakai blush on,” sisipnya enteng.

Nichkhun pun tertawa kecil, suaranya renyah seperti biskuit. Dan disela kecanggungan yang menyerang itu ia meraih tangan Tiffany, menggenggamnya hangat dan tanpa ragu. Mereka saling tersenyum sampai pada detik dimana mata mereka akhirnya bertemu. Perbedaan itu nampak kontras, yang satu terlihat kosong dan yang satu lagi terasa hangat. Lalu Nichkhun memulai, “Aku ingin dengar cerita tentang kakek. Katanya, ia penyayang, ya? Seperti apa orangnya? Musik seperti apa yang ia suka?”

Nada itu begitu bersemangat. Untuk sejenak urat-urat ragu nampak keluar di kening Tiffany. Perempuan itu menyesap lagi kopinya. Lalu akhirnya ia berbicara.

.

.

Untuk yang pertama semenjak tadi pagi akhirnya ia mau menyinggung tentang kakek pada lelaki bertubuh semampai itu.

Akhirnya ia berani meleburkan memorinya sampai meluber menjadi kata-kata.

Dan akhirnya pada hari dimana hujan tumpah ruah itu ia menangisi kesedihannya.

Keduanya menangis.

Namun senyum di wajahnya mengembang sampai ke telinga.

Keduanya bahagia.

Keduanya nampak bangga.

Chapter 3.

Sweetest Downfall

Because there is none of those vocabs that could ever define the feels when you fall in love. You fall. You just fall. That’s it.

.

“Kau yakin dia mampu?”

“Garizahku sejauh ini belum pernah salah. Dia yang paling pantas memegang peran ini.”

Di sudut ruangan sana seorang gadis duduk di kursi, wajahnya datar dan tubuhnya kurus ramping. Ia hanya diam mengamati, sambil memeluk tiga buah buku yang setebal manuskrip kuno. Tak lupa di depan kakinya, meja rias tegak berdiri, menyangga sebidang kaca dengan beberapa lampu di sekitarnya yang menyala kuning terang.

Gadis itu bergeming dan termenung. Matanya menatap kosong dirinya sendiri, dirinya yang bahkan tak bisa ia kenali. Matanya besar, pipinya merah, dan seulas pewarna bibir membuat kulitnya semakin segar. Tubuhnya terbalut kostum gaun putri salju, lengkap dengan satu buah apel yang disajikan di piring kecil.

“Halo,” sapa seorang pemuda.

Gadis itu pun menoleh ke arah si pemilik suara, kemudian disambut oleh senyum seorang pria berkulit putih dengan tinggi yang semampai. Dengan senyum ramahnya pemuda itu berjalan mendekat, diam-diam menguarkan wangi maskulin khas parfum dari Christian Dior. Kostum pangeran berkuda putih itu begitu pas di badannya, ditambah dengan tatanan rambut rapi yang ditarik ke belakang. Ia bagai perak yang berpendar diantara balok bata, mentereng dan wajahnya begitu rupawan.

“Halo, Taemin,” balasnya, singkat sekali.

Pemuda itu duduk di bangku kosong tepat di sisi kiri Naeun. Senyumnya mengembang semanis gula, tak bercakap apa-apa demi mengagumi cantik sang gadis yang kini tertunduk dalam duduknya. Dan jika harus dikilas balik sekali lagi, belum pernah sekali saja Taemin mengobrol dengannya, mungkin karena selama ini gadis itu tak pernah mau bersikap terbuka. Pertemanannya hanya dicukupkan sebatas dialog drama si pangeran dan tuan putri.

“Aku gugup sekali,” ujar Taemin. Menyengir canggung sambil menggesek-gesekan telapak tangannya.

Lantas Naeun akhirnya mengangkat kepalanya, ia tertawa, lalu menoleh padanya sekali lagi. Namun pemuda itu malah mati kutu, tak disangkanya gadis itu bisa berubah sebegini drastis. Wajah itu bukan lagi wajah kumel yang biasa ia saksikan saat latihan drama sepulang sekolah. Kini ia benar-benar seperti putri salju, sorot itu membunuh nyalinya.

“Kenapa gugup?” ia bertanya.

Taemin hanya tersenyum, dalam hati penasaran kapan tepatnya semua bermula. Kapan tepatnya hatinya sadar bahwa gadis itu secantik bunga.

Karena tiba-tiba saja, hatinya bergemuruh tiap ia berdekatan dengannya.

Tiba-tiba saja, tubuhnya lupa bagaimana cara bekerja dengan benar.

“Kau.. cantik sekali.”

Dasar laki-laki.

Naeun langsung membuang muka, menyengir, lalu memutar matanya yang besar. “Oh ya?” tanyanya.

“I-iya..”

“Baru sadar, ya?” tembaknya balik.

Gadis itu tersenyum simpul, sedangkan Taemin tertawa lebar. Debar di dadanya terasa dua kali lipat lebih kasar, menggesek tulang rusuknya yang sepertinya akan pecah.

Dan pada satu titik, Naeun juga merasa ada yang salah, ada yang beda pada dirinya, ada yang ganjil saat pemuda itu tertawa bersamanya. Rasanya seperti ada sebuah senyawa korosif yang meradang di pipinya, membakar kulitnya lalu meninggalkan sebuah tanda.

“Kau tahu? Nanti kepala sekolah dan ketua yayasan akan datang, lho.”

Naeun pun mengangguk cepat. “Aku juga dengar begitu.”

“Lalu, kau sudah siap?”

“Tentu saja, kita ‘kan sudah berlatih tiga bulan penuh,” jawabnya percaya diri.

Lantas pemuda itu pun menatapnya lekat, ia mencibir lalu berkata. “Kau terdengar begitu yakin? Bagaimana kalau tiba-tiba kau demam panggung dan tidak bisa mengucap dialognya? Dialogmu ‘kan banyak?”

“Tak mungkin. Aku ini pintar seperti cenayang.”

“Cenayang?”

Gadis itu mengangguk mantap.

“Buktinya?”

Gemuruh bunyi kipas angin terdengar selaras dengan suara lembaran-lembaran naskah yang dibolak-balik cepat. Pemuda itu menarik sebelah alisnya, terlihat meragu namun tertantang. Sedangkan Naeun hanya tersenyum sambil melipat kedua tangannya. “Hari ini akan hujan.”

“Mustahil!” Lelaki itu spontan mencibir.

Lho? Kenapa mustahil?”

“Sekarang terik sekali, bagaimana bisa hujan?” tanyanya.

Kemudian bunyi microphone pun terdengar sember. Pembukaan acara itu sudah mulai dilakukan. Kata sambutan, kata sambutan, lalu kata sambutan lagi, barulah sampai ke inti acara.

Bu Yebin nampak kusut berlari kesana-kemari, mengatur antrean para pohon yang menunggu naik ke atas panggung.

“Lihat saja nanti,” ujar Naeun yakin.

Taemin pun menganggukkan kepalanya, menepuk pundak Naeun sambil tersenyum penuh canda. “Aku percaya padamu, bu Cenayang. Sekarang ayo kita siap-si—”

“Aku juga bisa baca pikiran orang,” selak Naeun sambil tersenyum.

Namun pemuda itu kini benar-benar terlihat tak berminat, ia hanya mengangguk-angguk sambil memainkan ujung bajunya. “Kau bercanda?”

“Coba katakan, kau sedang memikirkan apa? Akan kutebak kelanjutannya.”

Lalu tiba-tiba saja wajah Taemin berubah tegang. Sial, ia dipermainkan oleh gadis introvert ini. “A-aku.. tid—”

“Ada hubungannya dengan kopi?” tanya Naeun enteng.

Dan dahi pemuda itu pun spontan berkerut. Tidak mungkin. Tidak mungkin ia bisa tahu. Lagipula kopi itu adalah hal umum dan bisa bercabang kemana saja. Ia tak akan tertebak, karena kalau sampai ketahuan, ia bisa mati berdiri. Taemin pun menelan ludah.

“Jam lima?” tanyanya lagi.

Wajah gadis itu terlihat puas karena menang. Sedangkan Taemin nampak pucat dengan tangannya yang berkeringat.

“Tanggal empat bel—”

“AAAH IYA IYA! Berkencanlah denganku, Son Naeun! Berkencanlah denganku! Di kedai kopi Métier, jam lim.. a sore.”

Kalimat itu meluncur bagai kentut. Ia mengatakannya dengan mata yang terpejam dan tangan yang terkepal. Sedangkan Naeun langsung tertawa geli, perutnya sampai sakit menahan tawanya sendiri. “KYAAA Taemin, wajahmu lucu sekali! Lucu sekali!” pekiknya mengundang delikan semua orang.

Namun pemuda itu hanya bisa menutup wajahnya. Ia malu sampai ke ubun-ubun. Rasanya ingin pergi ke Venus lalu tinggal saja disana. ‘Bodoh! Bodoh! Kenapa bilang sekarang?! Lee Taemin bodoh!’ batinnya mengumpat.

Dan sampai detik entah keberapa tawanya pun mereda. Gadis itu menegakkan duduknya, menghadap lurus pada Taemin yang membungkuk di depan kaca.

Ya,” panggilnya.

Taemin pun menoleh malas. “Sudah selesai tertawanya?” tanyanya lemas.

Gadis itu pun tersenyum lagi. “Tapi kedai Métier itu dimana?”

Huh?”

“Jemput aku jam lima sore. Aku akan menunggumu dari jam setengah empat, jadi jangan terlambat.”

Huh?”

Naeun pun bangkit dari duduknya, berjalan mendekat ke arah Taemin lalu memberinya sebuah surat.

“Jongin memberikanku ini. Kemarin ia bilang padaku bahwa kau akan mengajakku kencan saat drama kita selesai. Apa benar ini suratmu?”

Spontan wajah Taemin nampak sepuluh kali lebih pucat dari manula anemia. Pemuda itu berjongkok dan menutup wajahnya. “Berani sekali dia…” gumamnya lirih.

Hm? Berani apa?”

“Seharusnya ia memberi itu setelah aku sudah pulang!”

Lho? Memangnya kenapa?”

“Itu kan surat cinta! Seharusnya aku tidak disini saat kau membacanya! Ah anak itu!”

Wajahnya pun kini terpendam diantara kedua lututnya. Kulit wajahnya nampak merah malu-malu, kemudian Naeun ikut berjongkok di hadapannya.

“Taemin-ah.”

Pemuda itu mendongak. Wajahnya sayu dan putus asa, menunggu kalimat lain yang akan dilontarkan gadis manis di hadapannya.

“Ap—”

“Aku juga suka padamu.”

.

.

.

Bersama dengan itupun guntur datang berteriak.

Pada hari yang tadi divonis mustahil akan hujan itu gerimis datang berarak-arak.

Waktu serasa berhenti sampai disitu.

Mereka bergeming pada posisi masing-masing, berjongkok berhadapan lalu menatap satu sama lain.

Sang putri salju menyatakan cintanya, dan sang pangeran hanya bergeming menahan hasrat ingin ke toilet.

Cinta pertama ini lebih rumit dari rumus trigonometri.

Tapi bedanya, jatuh cinta sepertinya bukan porsinya orang jenius.

If your heart tells you to fall, then fall. Cause  who will believe your own heart if you yourself don’t?

-LOVEBIRDS-

Yap, satu lagi FF miskin feels T.T jadi nggak keberatan kok kalo mau dikritik, justru bisa jadi bahan koreksi 🙂

Tapi anyway, terima kasih sudah membaca 😀

Advertisements

34 thoughts on “Lovebirds

  1. Keren min! Apalagi ada KhunFany :3
    Harusnya sih KhunFany storynya harus paling so sweet kkk 😀
    Tp gapapalah, ada taemin naeun juga! Couple favorit setelah KhunFany wkwk

  2. aku suka banget dua ff di depan fellnya dapet banget tp ff yg terakhir yg castnya Naeun dan Taemin maaf y thor aku gak suka fellnya gak dapet bangettttttttttt

    tapi sungguh 2 ff yg depan ituw idenya romantis banget

    ah perkenalkan aku newreader disini

    zoe ming imnida

  3. Hey! I’m new reader! And from now on I’m your stories’ admirer. I love all of your stories (which I already read ofc.)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s