I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.1]

I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD-MYUNGZYYEON

Author: Anditia Nurul

Judul: I Wanna Give You A Child–Remake Ver. [Chap.1]

Rating : PG-13

Genre  : Marriage-Life, Drama, Angst, Romance

Main Characters: (Infinite) L / Myungsoo, (Miss A) Suzy & (T-Ara) Jiyeon

Additional Characters: (Infinite) Sungyeol

Length: Multichapters/ Chaptered

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. Inspirated By Hello Band – 2 Cincin MV, but the plot is mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her/their parents and his/her/their agency. OCs are mine! Versi asli dari FF ini, aku pake cast Ryeowook & OCs. Dan, untuk versi kali ini, aku membuat sedikit revisi, tapi jalan ceritanya masih sama dengan versi aslinya dengan perbaikan tata bahasa di sana-sini :D

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

Previous: Prolog |

HAPPY READING \^O^/

Still at same day

Waktu telah bergeser 10 menit dari jam setengah 5 sore—waktu aku datang ke sebuah café yang berada di kawasan Gwangjin-gu. Mengenakan rok brokat sepanjang lutut berwarna coklat muda dipadu dengan kaos polos lengan panjang berwarna hitam, aku duduk di dekat jendela.

Sore ini, aku janjian bertemu dengan seseorang. Sambil menunggu, sesekali aku menyesap latte hangat yang telah aku pesan lebih dulu. Beberapa kali pula aku menolehkan kepalaku keluar jendela, melihat orang-orang yang berlalu lalang di luar.

“Suzy-ya, mianhae, aku terlambat.” Suara wanita itu sedikit mengagetkan aku yang tenggelam memandangi suasana di luar. Menoleh ke arah wanita yang duduk berhadapan denganku, mendapati ia tersenyum. Tampak cantik dengan potongan rambut pendeknya.

Gwenchana,” balasku. “Mmm… kau mau minum apa, Jiyeon-ah?” tanyaku. Wanita itu melihat ke arah daftar menu yang ada di hadapannya.

“Mm… jus strawberry saja,” jawabnya. Aku segera mengangkat tangan kananku, bermaksud memanggil pelayan. Tidak lama, seorang pelayan menghampiri kami, mencatat pesanan Jiyeon.

“Bagaimana keadaanmu dan Myungie Oppa, hm?” tanya Jiyeon kemudian.

Dia masih menyebut suamiku dengan nama ‘Myungie’. Apakah dia masih menyimpan rasa pada Myungsoo Oppa?

“Mm… kami baik-baik saja,” jawabku.

Wanita itu tersenyum. “Syukurlah kalau begitu, Suzy-ya,” katanya.  “Oh, ya, kau ada perlu apa denganku, eoh?” tanya Jiyeon lagi. Aku belum menjawab pertanyaannya, tiba-tiba seorang pelayan datang membawa minuman yang dipesan Jiyeon. Setelah mengucapkan selamat menikmati, pelayan itu pun pergi meninggalkan kami.

“Suzy-ya, kau ada perlu apa denganku?” tanya Jiyeon sekali lagi, lalu menyeruput jus strawberry-nya.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Menguatkan hatiku bahwa apa yang akan aku lakukan ini benar dan aku akan menerima apapun yang terjadi akibat keputusanku ini. Ne, aku harus mengatakan hal ini pada Jiyeon.

“Jiyeon-ah,” gumamku.

Ne, waeyo Suzy-ya?”

“Jiyeon-ah, kau tahu sudah berapa lama aku menikah dengan Myungsoo Oppa?” tanyaku.

Yeoja itu mengangguk. “Ne, 1 tahun lebih,” ucapnya mantap.

“Dan, kau tahu kan, selama 1 tahun itu aku dan Myungie Oppa belum memiliki anak?” Aku tidak tahu kenapa aku malah bertele-tele seperti.

Yeoja itu mengangguk ragu. “NNe.

“Itu… itu karena aku—” ucapku menggantung, agak ragu untuk mengakui kalau diriku… ya, kau tahu.

Jiyeon mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Ne. Waeyo Suzy-ya? Katakanlah…,” pinta Jiyeon

Aku mengalihkan pandanganku dari Jiyeon. Menghindari kontak mata dengannya. “Itu karena aku… karena aku… mandul,” ucapku akhirnya.

Jiyeon terdiam, namun… saat kulirik wajahnya, kutahu ia terkejut mendengar ucapanku barusan. “Ma-mandul?” ulangnya.

Aku mengangguk pelan. “N-Ne, Jiyeon. A-aku mandul.”

“La-lalu, apakah Myungsoo Oppa sudah mengetahuinya?”

Ne,” jawabku singkat. Mataku mulai terasa panas. Sebentar lagi bulir-bulir air mataku akan jatuh. Sepertinya Jiyeon menyadari hal itu. Segera ia pindah dan duduk di sampingku. Aku merasakan tangannya membelai punggungku.

“Suzy-ya, sabar~” ucap Jiyeon seraya menyerahkan selembar tisu yang baru saja ia cabut dari kotak tisu yang berada di atas meja. Aku segera menghentikan tangisku dan segera menyeka sisa-sisa air mataku dengan tisu tersebut.

“Ji-jiyeon-ah, boleh aku minta tolong padamu?” tanyaku dengan suara yang sedikit serak. Kutolehkan wajahku ke arahnya.

Ne, kau mau minta tolong apa? Aku akan berusaha membantumu…,” ucapnya mantap.

Aku menghela nafas. “A-Aku… aku ingin kau menikah dengan Myungsoo Oppa,” ucapku. Air mataku mengalir lagi.

Jiyeon membulatkan kedua matanya. “MWOYA? APA KAU SUDAH GILA, SUZY-YA?” serunya terkejut. Sebenarnya, café ini sedang tidak banyak pengunjung, namun… bagaimana pun, reaksi Jiyeon yang sangat kaget barusan sangat berhasil membuat kami menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung. “Sirheo! Aku tidak akan melakukannya!” tolak Jiyeon mentah-mentah sambil merendahkan volume suaranya.

“Ta-tapi—”

“Aku tidak akan melakukan itu, Suzy!” tegas Jiyeon. “Dan, apa Myungsoo Oppa sudah tahu rencanamu ini?” tanya Jiyeon kemudian.

Aku menggeleng.

Jiyeon menghela nafas panjang.

“Apa yang kau pikirkan Suzy-ya? Apa yang ada dalam otakmu itu, eoh? Kau tidak memikirkan perasaan Myungsoo Oppa? Kau hanya memikirkan cara memberikan seorang anak untuknya tanpa mengingat bagaimana perasaannya, hm? Mengapa kau berpikir seperti itu, Suzy-ya?” Jiyeon memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“Jiyeon-ah, kau tidak mengerti! Bagaimana perasaanmu seandainya kau berada di posisiku, eoh? Bagaimana perasaanmu, Jiyeon-ah? A-Aku yakin kau akan melakukan hal yang sama denganku,” kataku.

“Tapi, tidak dengan cara ini, Suzy-ya!” bantah Jiyeon. “Kau dan Myungsoo Oppa bisa mengadopsi anak di panti asuhan,” usulnya.

Aku menatap Jiyeon. “Apa kau lupa, Jiyeon-ah? Myungsoo Oppa itu anak tunggal! Aku hanya ingin dia memiliki anak yang mewarisi darahnya,” ucapku. Sebisa mungkin memberikan alasan kuat yang melandasi kenapa aku memutuskan untuk melakukan hal ini. “Kau tahu Jiyeon-ah, aku telah mengecewakan kedua mertuaku…,” kataku lirih. “Karena itu, Jiyeon-ah, tolong menikahlah dengan Myungsoo Oppa,” pintaku.

“Kau tahu Suzy-ya, ini adalah ide yang paling gila yang pernah kau katakan padaku. Aku mohon kau pikirkan baik-baik hal ini, Suzy.” Jiyeon masih bersikeras menolak permintaanku.

“Aku sudah memikirkan hal ini baik-baik, Jiyeon-ah. Aku sudah memikirkannya. Aku akan menggugat cerai Kim Myungsoo dan setelah itu, bagaimana pun caranya, aku akan mengusahakan agar kau menikah dengannya.”

“Dengarkan aku, Suzy-ya,” kata Jiyeon. “Aku mohon kau tidak menggugat cerai namja itu. Aku tidak mau kau melakukan kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku tidak mau kau melepas namja sebaik Kim Myungsoo.”

“Karena itu, Jiyeon-ah,” balasku, “Karena dia namja yang baik dan aku merasa tidak pantas untuknya. Dia berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.”

“Tapi, bukan berarti orang yang lebih baik dari kau itu adalah aku, Suzy-ya,” balas Jiyeon.

“Ani, Yeon-ah! Myungsoo Oppa pernah mencintaimu, itu artinya kau pernah menjadi yeoja yang baik untuknya dan sampai sekarang pun aku masih berpikir kau adalah yeoja yang baik untuknya,” kataku. “Bagaimana, Jiyeon-ah?”

Jiyeon diam sesaat. Kedua matanya menatap kedua mataku untuk beberapa detik. Bisa kulihat kedua matanya berkaca-kaca. Bahkan sekarang pun ia mulai menggigiti bagian bawah bibirnya, kebiasaan ketika ia tidak tahu harus mengatakan apa.

“Beri aku kesempatan untuk memikirkannya,” ucapnya kemudian.

Gomawo, Jiyeon,” balasku.

Aku dan Jiyeon tidak bicara lagi setelah itu. Tenggelam dalam diam sambil menikmati minuman masing-masing. Entah… suasananya mendadak canggung seperti ini. Apakah… keputusan yang aku ambil ini salah, eoh? Apakah aku terlalu egois dengan ideku meminta Jiyeon menikah dengan Myungsoo Oppa agar… agar… ya, kau tahu alasanku.

Hah~

-End Of Suzy’s POV-

-Jiyeon’s POV-

Sepulang dari café, aku langsung menuju apartemenku. Masuk ke dalam ruangan yang di dominasi warna ungu itu sambil melepaskan mantel berwarna cokelat yang membalut tubuhku, lalu kulemparkan begitu saja ke sofa di ruang tengah.

Berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih, lalu duduk di kursi meja makan. Kuteguk air putih di dalam gelas itu sedikit. Hah~ membuatku merasa sedikit lebih baik.

Oke, jujur saja, pembicaraanku dan Suzy beberapa waktu lalu sangat menyita pikiranku hingga detik ini. Sahabatku itu memintaku untuk menikahi suaminya yang jelas-jelas adalah mantan kekasihku.

Sungguh, aku tidak tahu, apakah aku harus menuruti permintaannya itu atau… menolaknya. Di satu sisi, ya, aku ingin melakukannya. Aku ingin melakukan hal itu demi Suzy, sahabatku, dan juga… demi diriku. Aku tidak mau dicap orang yang munafik! Aku akui kalau sebenarnya aku, Park Jiyeon, sampai detik ini sebenarnya masih mencintai Kim Myungsoo!

Namun, di sisi lainnya, aku juga tidak mau melakukan hal ini. Wae? Hah! Yang benar saja? Aku menjadi istri kedua? Aku menjadi istri dari suami sahabatku sendiri? Apa yang akan dikatakan orang lain padaku? Orang yang tidak tahu permasalahan ini sebenarnya.

Mungkin aku akan dicap sebagai yeoja perebut suami orang! Jincca!

Belum lagi, aku tidak tahu apakah Myungsoo bersedia menikahi yeoja yang dulu pernah mengkhianatinya. Hah, ne, kesalahan masa muda. Kesalahan terbesar yang pernah aku buat dalam hidupku.

Aku meneguk air di dalam gelasku sekali lagi, lalu beranjak menuju kamarku. Membuka lemari baju, kemudian mengeluarkan sebuah album foto yang tersimpan di antara tumpukan sprei di bagian bawah lemari.

Ne, sebuah album foto masa SMA-ku. Terlihat jelas diriku yang masih mengenakan seragam Shinhwa High School bersama teman-temanku. Namun, di antara foto-foto bersama teman-temanku itu, terselip beberapa lembar fotoku dengan namja itu, Kim Myungsoo.

Siapa yang menyangka bahwa ‘The Best Couple in Shinhwa High School’ 5 tahun yang lalu, akhirnya seperti ini? Benar-benar—Ah! Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Dddrrtt.”

Kurasakan getaran di bagian kiri saku celana jeans-ku. Aku berdiri untuk merogoh benda yang bergetar itu—HP-ku, mengeluarkannya dari sana.

One message received.

Bae Suzy.

“Aku mohon, Jiyeon-ah. Tolong bantu aku. Hanya kau yang bisa membantuku. Hanya kau orangnya, Jiyeon-ah.”

Aku menghela nafas panjang setelah kubaca pesan itu.

Hah~ Kenapa kau seperti ini, Suzy-ya?

Kenapa harus aku orangnya?

Hah~ ya Tuhan, sekarang apa yang harus aku lakukan?

Aku tidak ingin rumah tangga sahabatku hancur.

Tapi, aku juga masih ingin diberi kesempatan untuk bersama pria itu.

Hah~

Apa yang harus aku lakukan?

-End Of Jiyeon’s POV-

@@@@@

On the night

-Myungsoo’s POV-

Seusai makan malam dan membantu Suzy membersihkan peralatan makan, aku langsung masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Suzy berada di ruang keluarga, menonton drama favoritnya.

Mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana panjang berwarna krem, aku duduk selonjoran di atas tempat tidur. Membaca sebuah buku yang baru aku beli beberapa hari yang lalu. Belum begitu lama aku asik menekuni bukuku, aku mendengar suara pintu kamar dibuka.

“CKLEK!”

Aku segera menghentikan kegiatanku, menutup buku, kemudian meletakkannya di samping tubuhku. Melihat ke arah pintu, mendapati wanita berambut panjang dengan pipi chubby serta senyum manis yang mengembang di wajahnya. Ne, Suzy-ku. Ia berjalan menghampiriku. Naik ke atas tempat tidur, lalu duduk di samping kananku.

Yeobo…,” panggilnya pelan.

Ne, waeyo, Jagi?” tanyaku. Kurangkul bahunya, lalu kusandarkan kepalanya di bahu kananku. Pelan, tangan kananku bergerak membelai rambut panjangnya. Aroma wangi rambutnya terhirup oleh hidungku dan adegan selanjutnya, aku mengecup keningnya.

“Ada yang ingin kubicarakan…,” katanya dengan nada datar. Ia menyingkirkan kepalanya dari bahuku, menatapku dalam. Dari gelagatnya, sesuatu yang ingin ia bicarakan adalah… sesuatu yang penting.

Aku tersenyum. Berusaha untuk menciptakan suasana santai karena… kulihat mimic wajah Suzy begitu serius. “Apa itu, jagi?” tanyaku kemudian.

Ia menghela nafas.

“Aku—” Ia menggantung perkataannya, membuatku penasaran. “Aku… aku.. .mau kau menceraikanku,” ucapnya.

Kedua mataku melotot mendengar ucapannya. “M-MWOYA? K-KAU BILANG APA?” tanyaku terkejut.

Suzy mengalihkan pandangan matanya dariku, lalu mengulang ucapannya, “A-aku mohon ceraikan aku.”

Cerai?

Suzy-ku minta cerai?

Wae-Waeyo? Kau sudah tidak mencintaiku lagi, eoh? Kau sudah tidak menyayangiku?” tanyaku panik. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja Suzy meminta cerai dariku. Ya! Apa yang salah di sini?

Masih memalingkan wajahnya, Suzy menjawab, “Aku… aku hanya ingin kau menceraikanku. I-Itu saja.”

Aku menghela nafas. Mencoba menenangkan pikiranku.

“Sirheo! Aku tidak mau menceraikanmu!” tegasku.

Suzy tidak bicara, namun… terdengar suara isak tangis darinya. Tangan kananku menyentuh pipi kirinya. Memalingkan wajah cantik itu ke arahku. Kulihat setetes air mata mengalir menuruni pipi sebelah kirinya.

“Jagiya~” panggilku, “Kenapa kau tiba-tiba seperti ini, eoh? Apa aku telah melakukan kesalahan, eoh? Katakan, Suzy-ya. Katakan jika aku memiliki kesalahan. Aku berjanji padamu tidak akan mengulanginya,” bujukku dengan suara lirih.

Tangan kiri Suzy memegang tangan kananku yang masih menyentuh pipi kirinya. Seketika, ia menurunkan tangan kananku, lalu kembali memalingkan wajahnya dariku. Menghindari kontak mata denganku.

Aish! Apa yang terjadi, Suzy?

Kenapa kau seperti ini, eoh?

“A-Aku ingin kau menceraikanku dan menikah dengan Jiyeon,” ucapnya kemudian, sukses membuatku terkejut untuk yang kedua kalinya.

Apa lagi ini?

Dia memintaku menceraikannya, kemudian menikah dengan Park Jiyeon?

“Ya! Bae Suzy, apa kau sadar dengan ucapanmu barusan, eoh?”

Sambil mengangguk pelan, Suzy berkata, “N-Ne. To-tolong ceraikan aku dan menikahlah dengan Jiyeon.” Suaranya terdengar serak karena menahan tangis.

Entah untuk keberapa kalinya aku menghela nafas. Kepalaku mendadak terasa berat. Pening. Kaget. Panik. Cemas. Semuanya berkumpul jadi satu. “Waeyo, Suzy? Kenapa kau memintaku menceraikanmu dan menyuruhku menikah dengan mantan pacarku, eoh? Katakan apa alasanmu!”

“LAKUKAN SAJA APA YANG AKU KATAKAN, KIM MYUNGSOO!” bentak Suzy, melihat ke arahku. Meskipun ia membentak, namun suaranya itu bergetar. Serak. Bahkan…, sepasang mata indahnya itu terlihat sembab.

“Andwae! Aku tidak akan melakukan hal itu jika kau tidak memberiku alasan yang jelas!” paksaku, meminta penjelasan lebih darinya sembari berusaha menahan emosi. Sekaligus, mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Suzy terdiam untuk beberapa saat. Menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Mengatur nafas sekaligus menenangkan dirinya. Tidak lama setelah itu, ia pun membuka mulutnya. “Aku hanya ingin kau mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kuberikan padamu. Dan dia bisa memberikanmu hal itu.”

Aku mengernyitkan dahiku. Mencoba mengikuti jalan pikirannya.

“Anak maksudmu?” tebakku.

Ia mengangguk pelan.

Sudah kuduga!

“AISSH! ITU SAJA YANG KAU PIKIRKAN! ANAK, ANAK DAN ANAK! APA KAU TIDAK MENGERTI PERASAANKU, HAH?! SELAMA KAU BERSAMAKU, ITU SUDAH CUKUP!” bentakku. Aku tidak bisa lagi meredam emosiku.

Hajiman, Oppa,” ucapnya.

“AH! SUDAHLAH! AKU TIDAK MAU MEMBICARAKAN HAL ITU! TITIK!” Lekas aku beranjak dari tempat tidur. Mengambil langkah lebar menuju pintu kamar, lalu keluar. Tanpa sadar aku membanting pintu kamar.

“BRAAAAK!”

-End of Myungsoo’s POV-

@@@@@

-Suzy’s POV-

Air mataku langsung tumpah begitu Myungsoo Oppa keluar dari kamar. Lekas aku meraih bantal yang berada di dekatku dan mendekapnya erat. Aliran sungai kecil terbentuk di kedua belah pipiku. Sudah kuduga reaksinya akan seperti itu. Sudah kuduga… dia pasti akan marah padaku. Tapi, aku terpaksa—maksudku, aku harus mengatakan hal itu padanya.

Aish! Bagaimana ini?

Sekarang apa yang harus aku lakukan?

Dia marah padaku.

Myungsoo Oppa marah padaku.

Kubenamkan wajahku pada permukaan bantal. Bermaksud untuk meredam suara tangisku yang semakin kencang.

Mianhae, Myungsoo Oppa.

Mianhae.

Aku memutuskan hal tersebut untuk kebahagiaanmu juga. Lebih baik kau menceraikan wanita tidak berguna sepertiku. Lebih baik kau mencari wanita yang lain.

-End Of Suzy’s POV-

-Back to Myungsoo’s POV-

Aku membuang tubuhku ke atas tempat tidur di kamar tamu. Memejamkan kedua mataku. Aku berusaha tenang, meredam emosi yang masih menyelimuti perasaanku. Berkali-kali aku menghirup nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat.

Aissh, wae? Wae, Suzy-ya? Kenapa kau memutuskan untuk berpisah dariku hanya karena alasan itu? Aku benar-benar kecewa padamu, Suzy.

Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin Suzy-ku meminta hal tersebut padaku? Hal yang… hal yang—aku berjanji—tidak akan pernah melakukannya. Tapi, kenapa dia malah meminta aku menceraikannya hanya karena… dia tidak ‘sesempurna’ wanita yang lain, eoh? Kenapa pikirannya… bisa sependek itu?

Apa kau tidak memikirkan perasaanku, Suzy-ya?

Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, eoh?

Dan lagi, kenapa harus Park Jiyeon? Kenapa kau memintaku menikah dengan yeoja yang dulu mati-matian berusaha aku lupakan? Kenapa kau memintaku menikah dengan yeoja yang pernah membuat perasaanku terluka, Suzy-ya?

Jiyeon. Park Jiyeon. Tolong jangan pernah berpikir kalau aku membenci yeoja itu. Tidak. Aku tidak membencinya sama sekali. Hanya saja, karena kesalahan yang ia perbuat 4 tahun lalu sangat-sangat melukai perasaanku. Bertahun-tahun kuhabiskan waktu untuk menghapus bayang-bayang Jiyeon dari hidupku, yeoja yang sangat aku cintai. Dulu.

Hingga akhirnya, Tuhan mempertemukan aku dengan Bae Suzy. Yeoja yang—entah bagaimana caranya—bisa membuatku lupa akan Park Jiyeon. Yeoja yang bisa menyembuhkan luka di hatiku. Yeoja yang bisa membuatku jatuh cinta kembali setelah apa yang dilakukan Jiyeon padaku. Namun, tidak kupungkiri kalau di hatiku masih ada sedikit tersisa ruang untuk yeoja itu. Park Jiyeon. Mungkin benar kata orang, cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.

Tapi, kenapa sekarang Suzy malah memintaku untuk menikahinya?

Tuhan, apakah memang seperti ini takdir yang Kau berikan padaku?

Apakah… aku memang berjodoh dengan yeoja itu? Park Jiyeon?

Lalu, bagaimana dengan Suzy-ku?

Apakah aku tidak berjodoh dengan yeoja yang sangat aku cintai itu?

Apa aku harus menuruti permintaannya?

-End of Myungsoo’s POV-

@@@@@

Next Morning

-Suzy’s POV again-

Aku tengah menunggunya di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa, aku telah membuatkan nasi goreng kesukaannya. Lengkap dengan segelas cokelat hangat untuk menenangkan pikirannya.

Ne, aku sedang berusaha untuk berbaikan padanya. Entah, apa sekarang ia masih marah padaku atau tidak. Namun semalam, kami tidak tidur bersama. Hal yang baru pertama kali terjadi, padahal… kemarahannya semalam bukan untuk pertama kalinya semenjak kami menikah.

Aku benar-benar berhasil membuatnya sangat marah padaku.

Hah~ kau sangat berhasil, Bae Suzy! Babo!

Suara pintu kamar yang terbuka membuyarkan lamunanku. Terlihat Myungsoo-ku begitu tampan dengan kemeja biru muda dan celana bahan berwarna hitamnya. Tapi, yang terjadi selanjutnya, ia malah berjalan melewati meja makan.

Yeobo…,” panggilku.

“Aku sarapan di kantor,” ucapnya dingin tanpa melihat ke arahku. Duduk di sofa sambil mengenakan sepatunya. Aku hanya diam mendengar ucapannya. “Nanti malam aku lembur…,” ucapnya lagi seraya beranjak pergi.

Lembur? Untuk apa?

Hari ini belum tanggal tutup buku.

Dan tanpa memberikan satu kecupan di keningku, Myungsoo Oppa pun beranjak keluar dari rumah. Perlahan, kurasakan air mata mulai menggenang di kedua pelupuk mataku. Tenggorokankku terasa sakit.

Ya Tuhan, kenapa rasanya begitu sakit?

Kenapa rasanya sakit sekali saat suamiku bersikap dingin seperti ini padaku?

Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?

Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan sikap Myungsoo-ku yang hangat seperti dulu?

-End Of Suzy’s POV-

@@@@@

-Myungsoo’s POV-

Kalian pikir aku masih marah padanya? Tidak. Aku sudah tidak marah padanya. Tapi, aku masih kecewa. Kecewa dengan keputusannya. Kecewa dengan semua apa yang ada di pikirkannya. Sejujurnya, aku tidak tega bersikap dingin padanya seperti tadi. Aku sengaja melakukan itu. Aku berharap ia mengerti bahwa aku sangat tidak menyetujui keinginannya dan berharap ia menarik kembali ucapannya.

“Apa yang terjadi padamu, Myungsoo-ssi? Kenapa pekerjaanmu tidak beres hari ini? Tolong perbaiki laporanmu,” tegur Direktur Son, atasanku, yang datang langsung ke meja sambil menyerahkan hasil audit laporan keuangan mingguan.

Lekas aku berdiri, kemudian meminta maaf. “Jweisonghamnida, Direktur Son. Aku akan segera memperbaiki laporanku. Jweisonghamnida.”

“Ya, sudah. Gwaenchana. Kalau kau sakit, lebih baik pulang saja.”

“Aniya, Direktur Son. Nan gwaenchana.”

“Baiklah, kalau begitu kerjakan laporanmu dengan baik.”

“Ne.”

Masalah di rumah membuatku tidak konsentrasi bekerja. Kau lihat tadi, kan? Atasanku langsung datang ke mejaku untuk memberikan laporan salah yang aku serahkan padanya. Padahal biasanya, ia hanya menyuruh sekretarisnya untuk melakukan hal itu. Hah~ pasti kesalahanku sangat banyak.

Aish! Andai kau tahu ini, Suzy-ya?

Aku sangat tidak bersemangat untuk bekerja hari ini.

Hah~

“Myungsoo-ssi, kau tidak makan siang?” tanya Sungyeol, rekan kerja, yang mejanya bersebelahan dengan mejaku.

Saking seriusnya memperbaiki laporan, aku hampir lupa waktu makan siang kalau saja Sungyeol tidak mengatakannya. Sayangnya, masih banyak yang harus aku benahi pada laporanku sebelum aku serahkan kepada Direktur Son sore ini.

Aniyo. Nanti saja, aku masih ada kerjaan,” jawabku.

“Oh, apa kau mau menitip makan siang saja, eoh? Biar aku yang belikan.”

“Tidak usah, Sungyeol-ssi. Gamsahamnida.”

“Ya sudah kalau begitu. Aku pergi makan siang dulu, eoh.”

“Ne.”

Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini aku sudah melewatkan sarapan dan juga makan siang, bahkan nyaris melewatkan makan malam seandainya Direktur Son menyuruhku untuk memperbaiki kesalahan yang lagi-lagi aku lakukan hari ini. Beruntung, beliau masih memberiku kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaanku hingga besok siang.

Pulang dari kantor, aku tidak langsung ke rumah. Aku mengajak Sungyeol untuk menemaniku makan malam di luar.

“Aaahh~” Aku mendesah nikmat setelah meminum segelas soju di sebuah kedai yang berada di dekat kantor. Huh~ rasanya semua beban pikiranku tiba-tiba lenyap.

“Ya! Myungsoo-ssi, hari ini aku lihat kau tidak konsentrasi bekerja. Apa kau ada masalah di rumah, eoh?” tebak Sungyeol, lalu meneguk segelas soju.

Ne, Sungyeol-ssi. Kau benar, aku ada masalah,” jawabku. Aku meneguk soju lagi. Kali ini sudah tegukan kedua dari botol pertama.

“Masalah apa? Kalau kau tidak keberatan, kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu.”

Aku tersenyum getir.

“Apa yang akan kau lakukan jika istrimu meminta cerai darimu dan menyuruhmu menikahi wanita lain?” tanyaku. Sungyeol mengernyitkan dahinya. Aku meneguk soju lagi.

“Maksudmu? Istrimu meminta cerai dan menyuruhmu menikah dengan wanita lain??”, tanyanya memastikan. Aku mengangguk.

Ne. Apa yang akan kau lakukan Sungyeol-ssi??” tanyaku. “Apa yang akan kau lakukan seandainya kau berada di posisiku?” Aku meneguk soju untuk ke-4 kalinya.

“Kenapa istrimu meminta cerai, eoh? Kau ketahuan selingkuh? Hahaha,” kata Sungyeol, lalu tertawa lebar di depanku. Hah~ sudah kuduga. Mana mungkin seorang pria lajang seperti Sungyeol bisa mengerti dengan masalah yang sedang aku hadapi. Lagaknya mau membantu, dia malah menertawakan. Aish! Teman macam apa dia ini?

Mwo? Selingkuh? Haha. Kau tahu, Sungyeol-ssi, aku ini… adalah pria paling setia yang pernah ada!” kataku diikuti dengan tawa Sungyeol yang makin keras. Aku tidak tahu harus membagi masalah ini ke siapa, hingga akhirnya kuputuskan untuk tetap menceritakan masalah ini pada Sungyeol. Setidaknya, hal itu membuatku merasa sedikit lebih baik.

“Ah~ Arasseo,” kata Sungyeol setelah aku meneceritakan masalahku. “Mm… aku sendiri bingung jika aku menghadapi masalah sepertimu…,” lanjutnya lagi.

Aku tidak menanggapi kata-katanya. Aku meneguk soju lagi. Entah ini sudah botol keberapa. Aku sungguh bingung. Aku hendak meneguk soju lagi, tapi Sungyeol mencegahku.

“Sudah. Berhenti minum. Kau sudah mabuk, Myungsoo-ssi,” katanya.

Aku tertawa. “Haha~ siapa yang mabuk, eoh? Akuk tidak mabuk.”

“Jangan bohong! Berapa 1 + 1?”

“Eh? 1 + 1?”

“Ne!”

“11.”

“Kau benar-benar mabuk, Myungsoo-ssi.” Dan, tepat di saat itu, penglihatanku berangsur-angsur gelap.

-End of Myungsoo’s POV-

-Suzy’s POV-

Entah sudah berapa kali aku mondar-mandir di ruang tamu, menunggu kedatangan Myungsoo. Waktu telah menunjuk pukul 11 malam, tapi ia belum juga pulang. Apa ia benar-benar lembur, eoh? Aish! Dihubungi pun ia sengaja tidak menjawab panggilanku.

Aish! Oppa kau dimana sekarang?

“Ting… tong.”

Aku segera membuka pintu begitu mendengar bel berbunyi. Omo, betapa kagetnya aku melihat Myungsoo Oppa tengah dibopong oleh rekan sekantornya, Sungyeol Oppa.

“Apa yang terjadi padanya, Oppa?” tanyaku seraya membantunya membopong Myungsoo Oppa sampai ke kamar.

“Dia mabuk…,” jawabnya. Setelah membopong Myungsoo Oppa, Sungyeol Oppa pun meminta ijin untuk pulang.

Melihat Myungsoo Oppa tertidur dalam keadaan berantakan seperti ini membuatku sedih. Sangat sedih. Ini pasti karena aku memintanya untuk menceraikanku. Ini pasti karena aku memintanya untuk menikahi Jiyeon.

Hah~

Aku pun melangkah mendekati tubuhnya yang terlentang di atas tempat tidur. Melonggarkan ikatan dasi dan ikat pinggangnya, serta melepas sepatunya. Tidak lama, aku pun mengambil air hangat yang aku taruh di dalam baskom kecil bersama handuk. Kugunakan handuk basah tersebut untuk membersihkan wajah serta bagian tangan dan kakinya. Begitu selesai, aku  menatapnya yang tengah terlelap tidur.

Mianhae, yeobo, aku sungguh tidak bermaksud membuatmu menderita seperti ini.

Mianhaeyo.

@@@@@

6 Hari. Hari ini tepat satu 6 hari Myungsoo Oppa bersikap dingin padaku. Kami tidak pernah makan bersama, tidur bersama atau sekedar mencuci piring bersama. Jangankan ketiga hal itu, mengobrol bersama pun jarang.

Aku tidak tahu sampai kapan ia akan bersikap seperti ini padaku?

Sampai aku menarik semua ucapanku minggu lalu?

Jika iya, itu artinya kami tidak akan pernah bicara atau melakukan kegiatan bersama.

Hah~

“Ddrrtt.”

HP-ku bergetar, tanda pesan masuk, saat aku sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah setelah seharian berkutat dengan beberapa buah naskah novel yang baru aku terima pagi tadi. Kuambil HP yang terletak di atas meja.

Uh? Pesan dari Jiyeon.

“Suzy-ya, bisa kita pulang bersama hari ini? Ada yang ingin aku bicarakan.”

Seperti itu bunyi pesan yang dikirim oleh yeoja yang ruang kerjanya berhadapan dengan ruang kerjaku. Aku membalas pesannya, menyetetujui ajakannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi… aku merasa Jiyeon akan memberikan jawabannya hari ini. Aku berharap dia bersedia.

Setelah mengambil tas, bergegas aku keluar dari ruang kerjaku. Menyusuri koridor yang berada di ujung, lalu masuk ke dalam sebuah lift yang membawaku hingga ke lantai 1. Tiba di lantai 1, kedua mataku langsung menangkap sosok Jiyeon yang berdiri di dekat meja resepsionis.

“Jiyeon-ah,” panggilku saat jarak kami sudah dekat.

Yeoja itu menoleh, lalu tersenyum begitu melihatku. “Ah, Suzy-ya,” gumamnya. “Kkaja, aku mau mengajakmu mencicipi es krim di toko yang baru dibuka 3 hari yang lalu,” katanya seraya menarik tangan kananku berjalan keluar gedung.

Tiba di toko es krim tersebut, Jiyeon langsung memesan dua porsi dengan rasa yang sama, vanilla. Setelah memesan, yeoja itu mengajakku duduk di meja yang berada di sudut ruangan, menunggu es  krim pesanan kami datang.

“Hari ini ada berapa naskah yang kau tangani, hm?” tanya Jiyeon. Kami duduk berhadapan sehingga aku bisa melihat wajahnya.

Apa hari ini dia hanya ingin mengajakku untuk mencicipi es krim sambil membicarakan pekerjaan di redaksi?

Atau… dia hanya mengulur waktu untuk membicarakan hal itu?

“4. Tapi, tidak ada yang bisa terbitkan. Terlalu banyak kesalahan penggunaan tanda baca, ide ceritanya sudah umum dan yah~ banyak lagi,” jawabku. “Bagaimana denganmu, hm? Novel yang baru terbit kemarin, apa sudah didistribusikan?”

“Ne, sudah didistribusikan ke beberapa toko buku besar. Toko lainnya menyusul besok… hehe.”

Tidak lama kemudian, es krim pesanan kami datang. Tanpa menunggu lagi, Jiyeon langsung mencicipi es krim bagiannya.

“Ah~ mashitta~” ucapnya, seolah tidak mengerti atau memang tidak mengerti kalau aku sebenarnya menunggu ia memberikan jawaban atas permintaanku minggu lalu.

“Apa jawabanmu, Jiyeon-ah?” Aku langsung berinisiatif bertanya.

Yeoja itu terdiam. Menatapku beberapa saat sembari meletakkan sendoknya ke mangkuk es krim. “Kau benar-benar tidak sabaran, Suzy-ya.”

“Karena aku sangat ingin tahu jawabanmu.”

Jiyeon menghela nafas.

“Baiklah, kalau kau ingin tahu,” ucapnya, menciptakan beberapa detik jeda untuk melanjutkan ucapannya. “Aku sudah memikirkan permintaanmu dan… keputusanku adalah… aku… akan menolongmu.”

DEG!

Aku tidak tahu kenapa, begitu mendengar kalimat tersebut, seperti ada sesuatu yang menyerang dadaku. Membuatku tidak tahu harus menunjukkan reaksi seperti apa di depan Jiyeon.

“Su-suzy-ya, kau baik-baik saja?”

Suara Jiyeon menyadarkanku. Aku mengangguk, lalu tersenyum. Lebih tepat jika aku katakan terpaksa tersenyum. “Gomawo, Jiyeon-ah. Gomawo.” Aku masih menunjukkan mimic wajah bahagiaku di depan Jiyeon, tapi… jauh… jauh di dasar lubuk hatiku, aku merasakan sakit.

Tapi, aku tidak boleh seperti ini!

Aku yang meminta Jiyeon untuk menikah dengan Myungsoo. Karena itu, aku pun harus siap menerima apapun resikonya.

Ya, aku harus menerima resikonya meski aku tahu, sangat tahu kalau itu akan menyakitiku.

-End Of Suzy’s POV-

@@@@@

-Myungsoo’s POV-

Aku melirik jam digital yang berada di dashboard taksi yang mengantarku menuju rumah. Jam 11 malam. Sudah 6 hari aku berangkat tanpa sarapan dan pulang jam 11 malam. Meski begitu, Suzy tidak sedikit pun menunjukkan keinginan kalau ia menarik ucapannya padaku.

Hah~

Jujur saja, aku sudah lelah seperti ini. Aku lelah bersikap dingin padanya, namun ia sama sekali tidak mengerti atau sengaja tidak mengerti maksud dari sikapku ini. Keinginannya untuk bercerai dariku dan memintaku menikahi Jiyeon sangat keras rupanya. Pertama kalinya ia bersikap sangat keras kepala seperti ini.

Hah~

Taksi yang aku tumpangi akhirnya berhenti di depan rumah. Lekas aku mengeluarkan sejumlah uang dari dompetku sesuai dengan nominal yang tertera pada argo taksi. Setelah itu, aku pun keluar dari taksi dan melangkah menuju pintu rumah.

Dengan sebuah kunci cadangan, aku membuka pintu. Biasanya, saat aku pulang, Suzy sudah tertidur lelap di kamar kami. Tapi…, kali ini berbeda. Kudapati ia tertidur lelap di sofa ruang tamu.

Apakah ia sengaja menungguku?

Aku berjalan mendekatinya, kemudian duduk di tepi sofa. Kutatap wajah polosnya dengan mata terpejam. Cantik. Sangat cantik. Tangan kananku bergerak membelai pipinya dengan lembut agar ia tidak terbangun karena ulahku.

Hah~

Apa kau benar-benar menginginkan hal itu, jagiya?

Apa kau benar-benar ingin bercerai dariku, hm?

Apa kau benar-benar ingin aku menikahi sahabatmu, Park Jiyeon, hm?

Kau menginginkan itu?

Baiklah, Suzy-ya. Baiklah. Kalau itu benar-benar keinginanmu, kalau itu bisa membuatmu bahagia, aku akan melakukannya, Suzy. Aku akan mengabulkan permintaanmu.

Tidak lama setelah itu, aku menggendong Suzy menuju kamar. Membaringkannya perlahan di atas tempat tidur. Jaljayo, jagiya. Semoga kau bermimpi indah. Besok pagi, kita akan bicara.

Next Morning

Aku bangun sediki terlambat pagi ini. Waktu telah menunjuk pukul 06.27 begitu aku melihat ke arah jam digital yang berada di atas lemari kecil di samping kiri tempat tidur. Aku menoleh ke sebelah kananku, Suzy sudah tidak ada di sana. Pasti sedang sibuk membuat sarapan.

Beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, kemudian mengenakan pakaian olahraga yang sudah disiapkan oleh Suzy. Dia tahu betul kalau minggu ini adalah jadwalku pergi ke tempat fitness di dekat rumah. Meskipun aku bersikap dingin padanya, tapi ia tetap saja memperhatikan kebutuhanku.

Hah~ jinccaro!

Setelah berpakaian, aku keluar dari kamar. Dan, seperti biasa, aku mendapati Suzy sudah duduk manis menungguku untuk sarapan bersama.

“O-Oppa, ayo sarapan bersama,” ucapnya terdengar ragu.

Aku hanya mengangguk pelan, lalu berjalan ke arahnya. Ya, bisa kulihat kini wajahnya melukiskan senyum lebar. Aku duduk di tempatku seperti biasa dengan sepiring sandwich dan segelas kopi susu hangat yang terhidang di depanku.

“Aku sudah membuat sandwich seperti biasa, tanpa acar. Kau… tidak suka acar, kan?” tanyanya. Aku mengangguk pelan untuk kedua kalinya. “Kalau begitu, makanlah~”

“Suzy-ya?” ucapku tiba-tiba.

“Ne?” Suzy menatapku. “Ada apa?”

“Mengenai permintaanmu seminggu yang lalu,” entah kenapa, aku mendadak merasa ragu untuk mengatakan keputusanku padanya, “Aku… aku akan menuruti permintaanmu,” ucapku akhirnya.

“Jeo-jeongmal?” tanya Suzy memastikan. Bisa kulihat bibirnya mulai menyunggingkan senyum. Bahkan, kedua matanya berkaca-kaca. Apakah ia sedih atau bahagia?

“Ne, aku akan menikahi Park Jiyeon asalkan kau bersedia menyanggupi 1 syaratku.”

Senyuman di wajah Suzy memudar perlahan. “Syarat? Syarat apa?”

“Aku… aku akan menikahi Jiyeon asalkan kita tidak bercerai. Bagaimana? Apa kau bersedia menyanggupi hal itu, Bae Suzy?”

-TBC (>/\<)-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

A/N: Annyeong ^^/

Ehm, aku mau bilang makasih ya buat yang udah ninggalin jejaknya di chapter prolog minggu lalu. Aku senang banyak yang merespon FF ini. Dari respon yang masuk, banyak yang minta FF ini ending-nya sesuai dengan pairing yang di-shipper-in. Kalian baru baca prolog, tapi udah mikirin ending-nya… ehehehe.

Aku nggak bisa janji’in FF ini ending-nya Myungzy, Myungyeon atau Myungyeol #eh? ._.a

Aku hanya menulis apa yang ada diimajinasiku. Ending dari FF ini pun masih lama. Sesuatu bisa saja terjadi di tengah cerita, jadi… berharap sangat kalian bersedia mengikuti FF ini sampai ending-nya.

Until now, it was first chapter. Stop reading or continue reading, it’s your decide.😉 Gamsahamnida *bow*

228 thoughts on “I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.1]

  1. annyeong author reader baru , myungzy shipper hadir,,,kkkk
    ceritanya menarik , suzy knpa coba berpikirin gitu, pasti sakit kan ntar jadi nya.. Ijin baca🙂 keep writing

  2. Annyeong authornim aku readers baru, myungzy shipper yg dikasih saran ff ini sama temen aku>< kk~ aigoo kenapa sih suzy minta jiyeon? Padahal jiyeon mantannya myungsoo ;( kenapa juga myungsoo oppa mau? Gamau ceraiin suzy lagi. Nanti kan nyesek suzy unnienya😦

  3. gila, emng bener gila rencana suzy😦
    tapi jiyeon setuju dan sekarang myung juga setuju tapi syarat myungsoo. astaga gimana bisa nnt suzy liat suaminya ama yoenja lain yg bakal jadi istrinya juga. Q harap U ga nyesel ama rencana mu suzy

  4. bagus sih myung nggk mau cerai sama suzy, tapi pasti sakit hati suzy makin bertambah. istri mana coba yg nggk sakit hati liat suaminya nikah lagi. banyakbanyak sabar ajadeh suzyeon. ceritanya bagus, fighting ne thor

  5. Wah wah wah seru banget jalan ceritanyaaaaa
    Jadi kepikiran kalau di posisi suzu bakal gimana😥
    Keren thorrrr👌

  6. Hai reader..aku fan nya myungzy shiper..aku suka banget ketemu ff ini…kesian banget sih suzy ngak blh mengandung…

  7. wah, kuharap sih jiyeon eonni gag bersedia jdi istri kedua. walopun demi shbt dan persaannya. myunsoo juga gitu jgn mau knp sih, kn msih bnyk cra buat dpet ank..

  8. hai thor, aku reader bru di page ini. ijin bca ya.. wah wah . .
    konfliknya berat bnget, tapi sumpah keren bnget ini ..
    gmana kelanjutannya aku penasaran bnget, hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s