I’m Your Lover, Your Chaser, Forever [5]

imyourlover-chaser-forever-11

Author : Awsomeoneim

Genre : Romantic, PG-17, Teenager-Semi-Mature,

Cast :

Main Cast :

ü  Choi Yoon Ah (OC)

ü  Infinite’s L a.k.a Kim Myung Soo

ü  TeenTop’s L. Joe a.k.a. Lee Byung Hun

Supporting Cast :

ü BAP’s Zelo a.k.a Choi Jun Hong

ü NU’EST’s Ren a.k.a Choi Min Ki

+oOoOoOo+

Annyeong readers!!

Udah ngga telat berbulan-bulan kan?? Smeoga masih tetep inget ceritanya dan setia jadi Gooders Yak!!

Ah Saranghaeeeeyooo GOODERS~

Please Keep supporting me all along~

Kalau ada yang mau ditanyakan lagi / mungkin mau dikritik, silahkan RCL ^^

~Kamsahamnida~

Posted Part : Part 1 | Part 2 Part 3 | Part 4

=)0o0o0(=

Zelo POV.

@Maldives

Terbayarkan sudah rasa pegal yang menumpuk di punggungku tepat setelah noona mendekapku dalam pelukan hangatnya. Ah, bagaimana mengatakannya… rasanya… pelukan noona sehangat pelukan eomma seperti yang kuingat 11 tahun lalu. Sangat hangat.

Noona, nan jeongmal bogoshippo,”  aku tidak mampu menyimpan kalimat itu lebih lama lagi. Ya, aku sangat merindukannya. Terlalu merindukannya.

Nado~ Jeongmal jeongmal jeongmal bogoshippo,” kalimat balasan noona terdengar menggelitik sehingga aku melonggarkan lingkaran pelukanku pada tubuh mungilnya.

Noona…kau berlebihan sekali…” gurauku saat melihat kedua manik matanya mulai tampak lembap.

“Kau tidak tau aku sangat merindukanmu eoh?! Aish, kau tidak akan pernah mengerti…” sungutnya sambil mendaratkan pukulan-pukulan kecil di seluruh tubuhku.

Aku tidak dapat menahan tawa melihat tingkahnya sembari menghindari pukulannya yang semakin meliar, “Yaaaa… apakah kau tidak malu bertingkah kekanakan didepan Myungsoo hyung seperti ini, noona?”

Dengan kesal ia mendengus lalu mengalihkan pandangannya keluar cottage, memunggungi kedua namja yang berada di ruangan ini bersamanya. Sekilas aku menatap Myungsoo hyung dan dia paham dengan kode yang kuberikan.

L-Myungsoo-infinite-EC-9D-B8-ED-94-BC-EB-8B-88-ED-8A-B8-33952299-500-375

Detik berikutnya, hanya ada tersisa aku dan Yoon Ah noona di dalam ruangan.

“Aku tau kau tidak sedang menangis sedih, tapi tetap saja…” aku memutuskan kalimatku untuk menyodorkan selembar sapu tangan kepadanya, “aku kurang suka melihat wajamu dibasahi air mata seperti ini noona.”

Untuk beberapa saat tidak ada perbincangan yang tercipta. Yoon Ah noona menenangkan diri sambil sesekali mengusapkan sapu tanganku ke kedua matanya yang masih juga mengalirkan airmata dan aku mengamati gerak-geriknya tanpa bosan. Sangat banyak pertumbuhan satu sama lain yang saling kami lewatkan. Kecelakaan naas sialan!

Saat itu usiaku 7 tahun, usia dimana seharusnya aku mendapatkan euforia keceriaan bermain, dan yang kudapatkan justru kenyataan yang kelam. Kecarut-marutan keluarga besar Choi di saat langit duka terbentang jelas. Pihak kerabat aboji menitik beratkan permasalahan pada pemegang perusahaan selanjutnya, padahal jelas-jelas kami sebagai ahli waris yang sah, masih bernafas dan berpijak di atas bumi. Menyedihkan.

Beberapa hari setelah upacara pemakaman kedua orang tua kami, salah satu kerabat eomma membawaku tinggal bersama mereka di U.S., sementara noona tinggal bersama keluarga KIM. Aku tidak begitu tertarik untuk mengenal keluarga itu. Kim Myungsoo? Jujur saja, sebenarnya aku tidak begitu yakin dengannya. Aku mendengar dengan jelas setiap detail dari berita ‘The Great & Powerful KIM’s Family’ mendepak keluar Yoon Ah noona setelah perusahaan kami berhasil diklaim pakasa salah seorang kerabat aboji.

“Bagaimana kabar L.Joe hyung, noona?”

“L.Joe? Maksudmu ByungHun? Kau mengenalnya?” Kedua manik mata yang memerah di hadapanku tampak membesar takjub.

“Tentu saja, noona.. Dia sunbaeku sejak sekolah dasar di US, nicknamenya L.Joe. Aku terbiasa memanggilnya L.Joe, dan dia memanggilku Zelo.”

Jinjayo?? Dia..tidak pernah bicara apapun soal US,”

Mm…Kudengar dari Myungsoo hyung kau tinggal bersamanya setelah…. ehm, malam itu…..” ujarku samar. Aku tidak ingin membahas peristiwa menyedihkan itu dihadapan noona.

Namun tampaknya Yoon Ah noona tidak terpengaruh dengan topik tersebut dan lebih tertarik soal asal-usul Byung Hun hyung, “Kenapa dia pulang ke Korea?”

Molla.. sepertinya sesuatu yang mendesak. Kepergiannya cukup mendadak..”

“Dia namja yang misterius,” gumam noona dengan suara rendah yang masih dapat tertangkap oleh indra pendengaranku.

Ah… soal Myungsoo hyung..”

Hm, ada apa dengannya Jun Hong-ie?”

“Kau tau kenapa dia membawamu kemari, noona?”

“Untuk mempertemukanku deganmu?”

Aku menggeleng pelan sebagai respon, “Mungkin ya, tapi ada hal lain, noona.”

Kedua alis tipisnya bertaut dan dengan jelas,”Hal lain?”

“Dia ingin meminta bantuan kita untuk mengambil alih Choi Corp.”

Tatapan noona yang awalnya tenang seketika menjadi tegang mendengar kalimat yang barusaja terlontar dariku. Ia tampak menggigit ujung bibirnya sambil mendesiskan suatu kalimat tanya, “Apakah itu mungkin?”

Aku menyandarkan punggungku ke tepi kusen pintu balkon yang berdiri tegas di samping kananku, “Bukan hal itu yang terpenting noona… tapi…”

Sembari menarik nafas dalam aku mengarahkan lirikan serius ke kedua manik mata cokelat jernih Yoon Ah noona,”Tapi bisakah kita mempercayainya untuk hal ini?”

zelo

=)0o0o0(=

Author POV.

Langit hitam terbentang luas sementara bulan sabit tampak menggantung tenang di atas cottage tempat L, Zelo, dan Yoon Ah bermalam. Jam sudah menunjukkan pukul 19.05 waktu setempat, dan ketiga penghuni cottage mewah itu sedang menikmati makan malam bersama di teras cottage sambil membicarakan beberapa hal dan tak jarang mereka bertiga tertawa bersamaan.

Hingga nada dering dari sebuah ponsel menginterupsi keriuhan diantara mereka.

Ah, mianhe ada panggilan masuk. Aku permisi dulu,” salah seorang namja tampak berdiri dari tempatnya dan berjalan menjauh dari dua orang lain yang lanjut berbincang.

Setelah berada cukup jauh, namja tersebut menghentikan raungan ponsel di tangannya,”Yeoboseyo,”

“Apa kau berkenan menjelaskan maksud dari hadiahmu ini?”

“Bisakah kau menjawab salamku terlebih dahulu?”

Aish… yeoboseyo! Sekarang jelaskan padaku hadiah apa ini?”

“Hadiah? Aku tidak mengerti hadiah apa yang kau bicarakan,”

“Baru saja aku diminta menandatangani kepemilikan sebuah rumah mewah di wilayah Angguk-Dong. Namamu tercetak jelas di atas kertas itu, kau belum faham? “

Aah igeo… Lebih pantasnya rumah itu dilabeli imbalan atas pemenuhan perjanjian yang kita buat. Kau sudah melupakannya eoh?”

Mwo? Perjanjian kita? Aku tidak ingat pernah menyetujui imbalan ‘sebuah rumah mewah’!” Nada bicara di ujung sambungan terdengar mulai meninggi, saat lawan bicara namja tersebut sudah mengetahui kemana arah pembicaraan mereka.

Arra… kau harus mengerti aku sangat membutuhkannya. Aku tidak bisa memenuhi imbalan yang sesuai dengan isi perjanjian kita sebelumnya. Kurasa hadiah yang sekarang kau terima juga setimpal.”

“Setimpal?! Neo micheoso?! [Kau sudah gila?!] Bahkan jika kau memberiku tiga gunung itu tidak akan sama!!”

Namja tersebut menghembuskan nafas berat untuk menenangkan diri agar tetap tenang. Ia terdiam sejenak sambil megarahkan pandangannya ke salah seorang yang sedang asyik berbincang di teras cottage,”Mianhe.. Tapi aku sungguh tidak  dapat menyerahkannya padamu, sampai kapanpun. “

l b

=)0o0o0(=

Jam istirahat @Douceur De Café (tempat L.Joe bekerja paruh waktu)

Aah disini rupanya kau Mr. Lee!” Sapa seseorang dari arah pintu.

ren-nu-est-kpop-Favim.com-616709

L.Joe yang sedang duduk melamun sambil mengunyah beefburger di tangannya mengalihkan lamunannya ke arah suara tersebut berasal. Disanalah seorang namja dengan paras cantik berambut pirang yang sangat ia kenal mulai berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya dalam hitungan detik.

“Ren, kenapa kau kemari?”

“Rekan kerjamu yang pervert itu menunjukkan tempat ini ketika aku menanyakan keberadaanmu,”

Aah… Chunji?” tebak L.Joe saat Ren menunjukkan wajah kesalnya.

“Aku tidak peduli siapa namanya. Aku hanya peduli kau segera menyelesaikan break time-mu dan aku bisa segera membasahi kerongkonganku dengan Ice Latte buatanmu,”

“Kau tidak tertarik mencoba Ice Latte buatan Chunji? Ia cukup ahli membuat minuman kesukaanmu itu,” goda L.Joe.

“Melihat wajah byuntaenya saja aku sudah muak apalagi harus meminum Ice Latte buatannya,” cerca Ren disertai dengusan kesal.

L.Joe tak dapat menahan tawanya melihat tingkah Ren, yang sebenarnya sudah kesekian kali mendapat perlakuan ‘spesial’ dari Chunji. Selalu saja hal yang sama terjadi setiap Ren mengunjungi café tempat mereka bekerja. Chunji selalu bersemangat untuk menggoda namja pirang yang menurutnya lebih cantik dari yeoja pada umumnya itu.

Oh, kudengar kau mendapat hadiah rumah dari Myungsoo, benarkah?” celetuk Ren ketika L.Joe mengunyah potongan burger yang baru saja memasuki mulutnya.

Ia tersedak untuk beberapa saat setelah mendengar pertanyaan Ren, “Da..darimana kau tau soal itu?”

“Maniak itu yang menceritakannya,” jawab Ren cepat, “Hubungan kalian sangat baik eoh sampai ia menghadiahkan rumah mewah…”

“Tidak juga..” L.Joe hanya membalas perlahan ketakjuban Ren. Ya, ia tidak tertarik dengan hadiah yang diberikan L. Itu bukan hal yang menarik untuknya, ia bahkan lebih memilih tetap tinggal di rumah petak yang ia biayai dengan gaji bekerjanya di café ini.

Ah ada hal lain yang ingin kubicarakan denganmu, Ljoe,” ujar Ren tepat setelah L.Joe menelan potongan akhir beef burger miliknya.

“Kau bilang ingin minum Ice Latte, kita bicarakan di dalam saja. Kebetulan aku sudah selesai makan,” balas L.Joe sambil meneguk habis ice coffee dihadapannya.

“Ini soal Yoon Ah,”

BINGO! Dengan satu kalimat jitu Ren membuat L.Joe diam di tempat.

“Aku tidak tau kau tertarik atau tidak, tapi kuyakin kau tau Yoon Ah dan Myungsoo sedang berada di Maldives,”

Ne, aku tau. Mereka berangkat kemarin pagi. Lalu?”

“Kau tau apa yang diinginkan Myungsoo dari Yoon Ah?”

“Mereka memang punya hubungan istimewa sejak kecil, jadi kurasa pasti soal…..” L.Joe menggantungkan kalimatnya dengan tidak antusias.

Ren tertawa kecil meremehkan tebakan L.Joe, “Itu hanya kedok Mr. Kim muda… Tujuan dia sebenarnya adalah soal pengambil alihan Choi Corp.”

Setelah beberapa detik L.Joe tampak tertarik dengan topik yang ditawarkan Ren, “Hubungannya dengan Yoon Ah?”

“Kau tidak tau jika Yoon Ah adalah pewaris sah Choi Corp.?”

Mendengar pertanyaan Ren, L.Joe justru memberikan tatapan horror kepada lawan bicaranya itu, “Ren itu artinya kau….”

hrk

Ne.. keluargaku bukanlah pewaris sebenarnya. Aboji mengklaim paksa Choi Corp. dari tangan Yoon Ah yang belum tau apapun soal itu, 11 tahun yang lalu,” seketika air wajah Ren tampak murung.

“Tapi bukan itu main point dari apa yang kita bicarakan L.Joe,” ujar Ren setelah ia menarik nafas panjang, “Main pointnya adalah soal Yoon Ah. Aku curiga ia hanya akan dimanfaatkan,”

“Karena Yoon Ah adalah pewaris sah, Myungsoo akan menggunakan Yoon Ah sebagai pion utama untuk mengembalikan Choi Corp. ke tangan Yoon Ah lalu memenuhi misi sebenarnya. Yaitu Menyelamatan Kim Corp. yang segera bangkrut dengan cara menggabungkan keduanya.”

L.Joe memproses dengan cermat kalimat-kalimat yang dilontarkan Ren sembari mengesampingkan rasa shocknya mengetahui beberapa fakta tentang yeoja yang beberapa lama itu sempat tinggal dengannya.

“Tapi Myungsoo juga bukan satu-satunya pihak yang akan rugi jika memang kecurigaanku benar terjadi,”

L.Joe menatap heran namja di sampingnya yang tampak menikmati terpaan angin semilir yang menyapa keduanya. Sementara di otak L.joe semakin bermunculan tanda tanya tentang semua hal yang disampaikan Ren.

“Myungsoo sedang dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Sekalipun ia berhasil menyerahkan Choi Corp. kembali pada Yoon Ah dan menggabungkannya dengan Kim Corp., dia tidak akan mendapatkan yeoja idamannya. Karena Mr. & Mrs. Kim sudah mengatur pertemuannya dengan putri pamanku di U.S., Choi Jin Ri,”

Selanjutnya Ren memberikan sebuah tatapan menantang pada L.Joe, “Ini kesempatan yang besar untukmu, jika kau mau bergabung kembali dengan harabojimu untuk menjalankan Lee Foundation. Kenapa kau tidak menyetujui saja perminta beliau untuk kembali?”

Ren-nuest-32559145-500-330

“Hahaha mudah sekali untuk mengatakan kembali.. Kenyataannya tidak begitu, Ren,” tanggap L.Joe dengan beberapa tawa kecil yang ia lontarkan. Ketertarikannya untuk membicarakan hal ini menghilang saat Ren mengikutsertakan harabojinya dalam perbincangan mereka.

Aah, dari raut wajahmu, sepertinya kau lebih tertarik untuk membangun perusahaan Lee lain yang lebih besar dibanding harus bergabung dengan harabojimu..”

“Bukan itu yang kupikirkan..”

“Pikirkanlah baik-baik L.Joe… Jika berhasil, kau akan mendapatkan keuntungan ganda. Memperbaiki hubungan diantara kau dan harabojimu, juga sekaligus mendapatkan yeoja yang kau cintai. Masih tidak tertarik, Lee Byung Hun?”

“Tidakkah kau terlalu cepat membuat kesimpulan, Ren?”

Mendengar sindiran L.Joe, dengan canggung Ren mengusap-usap bagian belakang kepalanya, “Aah, ya mungkin saja..” Ren tampak mengikuti perkataan L.Joe, kemudian ia menyunggingkan senyuman khas miliknya,”Ayo kembali ke café! Kerongkonganku sudah terbakar rasa haus. Lebih baik kau menyelesaikan dengan cepat Ice Latte kesukaanku, L.Joe!”

Ren berjalan pergi kembali ke dalam café mendahului L.Joe yang tampak mempertimbangkan sesuatu dengan serius.

=Flash Back On=

*Semasa L.Joe Junior High School di US*

L.Joe tinggal di asrama dan ia berbagi kamar dengan seorang anak yang berdarah Korea, sama dengannya, namja bermarga Choi. Choi Jun Hong, yang lebih akrab dengan nickname Zelo.

Suatu malam, Zelo yang baru saja pulang dari berlatih sepak bola terkejut melihat L.Joe yang tampak duduk diam di pojok ruang kamar mereka.

“L.Joe hyung, kau sedang apa?”

Tidak ada jawaban, dan L.Joe tetap diam di tempatnya. Karena tidak ingin mengganggu, Zelo memutuskan untuk membilas tubuhnya terlebih dahulu karena pakaian yang ia kenakan telah dibanjiri keringat.

Setelah segar, Zelo keluar dari kamar mandi dan menemukan L.Joe masih di posisi yang sama namun ia lebih memilih menunggu L.Joe bangkit sambil mengeringkan rambutnya.

Beberapa menit berlalu, L.Joe mulai bergerak memindahkan ini-itu, masih di tempat yang sama. Zelo lagi-lagi hanya mengamati tingkah roommatenya dalam diam. Hingga akhirnya L.Joe membalikkan badanya dan menyunggingkan sebuah senyuman selamat datang pada Zelo, “Latihanmu sudah selesai eoh?”

Zelo mengangguk antusias sembari menghampiri L.Joe, “Apakah hari ini hari peringatan kematian eommamu, hyung?”

L.Joe melirik sekilas beberapa piranti yang masih berada di tempatnya dimana ia meletakkannya, “Geurae, ini hari peringatan kematiannya.”

Mendengar hal itu, Zelo merasa tak enak hati, “Aah.. aku juga turut mendoakan kebahagiaan eommamu hyung.”

L.Joe menyunggingkan senyuman samar,”Gomawo Zelo-ah.”

Zelo dan L.Joe berada di kelas yang sama sejak mereka berada di Sekolah Dasar. Zelo termasuk siswa yang jenius sehingga ia berada di grade yang sama dengan L.Joe yang lebih tua 4 tahun darinya.

“Zelo, kau keberatan menemaniku makan di restauran depan asrama?” tanya L.Joe seusai ia membereskan perlengkapan doanya.

“Sepertinya kakiku sedang tidak mampu berjalan jauh, hyung.. Hari ini aku latihan all-out.

L.Joe mengangguk mengerti, lalu ia kembali melontarkan pertanyaan, “Kau sudah makan malam Zelo-ah?”

Kali ini Zelo menyingkirkan buku yang sedang ia baca dan menggeleng,”Ahni hyung, aku tidak sempat ke kantin karena terburu-buru pulang.”

L.Joe tampak berfikir sejenak, “Semoga di cafetaria masih ada beefburger yang tersisa. Kalau begitu kita makan malam di cafetaria asrama saja.”

=20 minutes later=

Keduanya sedang dalam perjalanan kembali ke kamar saaat ponsel L.Joe tiba-tiba berdering nyaring. Secepat L.Joe mengangkatnya, secepat itu pula ia memutuskan sambungan telfon di ponselnya. Wajahnya tampak tegang.

“Apa yang terjadi hyung? Berita burukkah?” tanya Zelo saat melihat wajah L.Joe yang memucat sementara ia tidak bergeming dari tempatnya.

Zelo-bap-31623939-245-245

Dengan bergetar L.Joe menjawab pertanyaan Zelo, “Haraboji mengatakan jika aboji baru saja mengalami kecelakaan dan sedang kritis…”

L.Joe segera mengepack beberapa pakaian dan surat-surat penting dengan bantuan Zelo. Kemudian semuanya terjadi begitu cepat. Karena L.Joe terbang ke korea dengan pesawat jet pribadi Lee’s Family, ia tiba di mansion megah yang tampak diselimuti aura berduka hanya dalam 2 jam.

Dalam hati ia bertanya mengapa ia justru tiba di rumah bukan di rumah sakit jika memang abojinya sedang kritis. Namun tanpa sepatah kata tanya yang terlontar ia segera memasuki ruang utama mansion. Disanalah ia merasa kehilangan kekuatan untuk berdiri. Ini bukan jetlag.  Ini shock yang bercampur dengan rasa sakit hati yang dalam.

Karangan bunga, foto aboji, dan tentu saja peti kayu kokoh sudah tersaji di hadapannya. Sedangkan apa yang ia dengar di sambungan telfon adalah kabar jika abojinya ‘barusaja’ mengalami kecelakaan dan sedang kritis. Namun jika sudah seperti ini keadaannya, bukankah…

“Byung Hun-ah…”

L.Joe segera mengalihkan perhatiannya ke sosok seorang lelaki berusia lebih dari setengah abad yang sudah berdiri di sampingnya. Lee Byung Ho. Harabojinya.

Ketika lelaki tersebut mengulurkan tangan tua rentanya untuk menyentuh helaian rambut cokelat tua L.Joe, ia menghindar. Ia tidak sedang ingin memiliki kontak degan siapapun. Ia sedang tidak bersahabat dengan semua orang.

“Sudah berapa lama…” ujar L.Joe lemah dan terpatah-patah, “Sudah berapa lama ia terbujur kaku di dalam peti kayu besar itu?!”

Orang tua di hadapan L.Joe hanya terdiam. Ia tersentak dengan pertanyaan yang dilontarkan cucu semata wayangnya yang barusaja kembali.

L.Joe tidak dapat menahan lagi emosinya. Semakin ia melihat wajah harabojinya, semakin besar saja rasa benci dalam dirinya. “Haraboji…Hanya aboji, orang tuaku yang tersisa.. Dan haraboji dengan tanpa bersalah menghubungiku satu hari sebelum aboji di makamkan?! Kau membiarkanku di negeri antah berantah sementara aboji sedang berjuang antara hidup dan mati?! Membiarkan aboji pergi selamanya tanpa melihatku untuk terakhir kalinya?! Haraboji kau tega melakukannya padaku?!”

“Mengertilah, aku tidak ingin menganggu studymu, Byung Hun-ah… Lagi pula kau masih bisa megantarkannya ke peristirahatan terakhir besok pagi.. Jangan terlalu kau pikirkan..”

L.Joe tak habis pikir dengan jawaban yang akan diberikan kepadanya. ‘Tidak perlu di pikirkan? Kurasa orang tua itu sudah tidak waras!!’

ljoe (2)

Tanpa banyak bicara L.Joe segera pergi dari hadapan harabojinya dan mengurung diri di dalam kamar. Keesokan paginya, ia tampak seperti mayat hidup dengan wajah pucat dan lingkaran hitam yang tampak jelas di bawah kedua matanya. Ia tidak bicara sepatah katapun. Ia bahkan menolak memberikan pidato di pemakaman abojinya. Tepat sekembalinya dari pemakaman, L.Joe segera membawa barang-barangnya dan pergi dari Lee’s Mansion. Sejak hari itulah L.Joe telah membulatkan tekad untuk memutuskan hubungan keluarga yang mengalir dalam darahnya.

=Flash Back End=

Detakan jam terdengar sangat familiar di telinga L.Joe. Ia sudah berbaring sejak 25 menit yang lalu di atas sofa panjang berwarna kusam satu-satunya yang ada di ruang tengah di dalam rumah petak mungil sewaannya, namun kedua matanya menolak dengan tegas untuk tertutup rapat dan membiarkan tuannya beristirahat setelah melalui hari yang sibuk. Dan sangat melelahkan untuk L.Joe.

Dimulai dari kesepiannya setelah kepergian ‘Nona Choi’ 2 hari lalu, pagi hari tadi ia mendapat tamu seorang agen perkantoran jual-beli rumah yang tiba-tiba datang dan meminta tandatangan peresmian tanda kepemilikan rumah mewah yang didalangi L, ditambah provokasi Ren yang sukses membuatnya ingin menelan bom waktu untuk meledakkan kepalanya dalam hitungan detik.

‘Haruskah aku kembali kepada haraboji?’

Setiap kali kilasan pikiran itu datang, terbesit kembali flashback kelam yang ingin ia hapuskan dari riwayat peristiwa yang ia lalui.

Sebelum sempat menarik nafas panjang, sebuah pikiran naif terlintas di benaknya, ‘Ah, akan sangat memalukan untuk kembali kesana! Lagi pula sejauh ini aku dapat bertahan tanpa bantuan mereka.’

Perkelahian di dalam otaknya membuat ia frustasi dan memutuskan untuk ke dapur mencari sebuah pelarian. Karena besok bukanlah weekend, ia terpaksa mengabaikan sekaleng minuman alkohol, yang entah ia sendiri tidak ingat kapan ia membeli minuman pembakar kerongkongan itu, dan memilih sebotol air es.

Ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan dan ia tertegun saat menatap sebuah selimut yang masih  terlipat rapi di atas meja di dekat sofa tempatnya berbaring. Sosok yeoja itu kembali merasukinya, dan membuatnya isi kepalanya kembali berantakan.

‘Bergabung dengan haraboji untuk mendapatkan Yoon Ah? Mungkinkah memang akan menguntungkan untukku…Jika memang…. ‘

BDI43ysCEAArEJz_large

=TBC=

DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT AND LIKE MY POST~

AUTHOR MENGERTI KALIAN UDAH NUNGGU LAMA, DAN UNTUK ITU JANGAN MALAS KOMEN UNTUK MENYATAKAN KELUH KESAH KALIAN!

AUTHOR TIPE ORANG YANGTERBUKA DENGAN SEGALA MACAM KRITIK DAN SARAN, TAPI AUTHOR NGGA BISA MENERIMA SILENT READER!

SIDERS INSAPLAH & HARGAI KARYA SAYA, JEBAL~

~KAMSAHAMNIDA~

Advertisements

14 thoughts on “I’m Your Lover, Your Chaser, Forever [5]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s