YOU

req-oliver

YOU

Title: You| Author: Oliver (oliverrenatha)|Main Cast: HELLOVENUS’s Alice (Song Juhee), INFINITE’s Hoya (Lee Howon)| Support Casts: HELLOVENUS’s Yoo Ara & Kwon Nara, INFINITE’s Jang Dongwoo| Rating: G| Genre: Romance, Hurt| Type: Vignette

Credit Poster: Springeous

Summary:

All I want is you.

Alice hanya sanggup melepaskan seseorang yang disayanginya karena dua hal.

Yaitu karena kematian dan jika orang tersebut akan mendapatkan sosok yang lebih baik dibandingkan dirinya.

Ia tidak tahu mana yang benar.

Dan Alice tidak menyadari bahwa ia punya alasan lain selain dua hal itu.

.

.

.

YOU.

§

Jumat, 9  Agustus 2013.

Saat itu cuaca cerah seperti biasanya, matahari menggantung kokoh dilangit sementara helaian anak rambutku tertiup desiran angin sesekali.

Aku bertemu dengannya di persimpangan toko buku, rabu sore.

Dengan kemeja biru muda dan sedikit noda espresso di ujung lengannya. Celana bahan warna hitam serta sepasang sepatu pantopel warna cokelat tua-nya yang disemir rapi –walaupun matahari sudah condong ke barat.

Aku tau ia lelaki yang baik tepat saat sepasang manik hitamnya jatuh di jarak pandangku. Terdengar buru-buru dan menggelikan memang. Bagaimana aku dapat menilai seseorang dari penampilan, bahkan caranya berdiri atau mengetuk-ngetukkan pulpen ke dahi.

Ia memegang sebuah gelas plastik besar berisi caramel macchiato dengan ekstra whipped cream. Lalu saat tatapannya menembus retinaku ia tersenyum lembut. Terlalu lembut untuk dideskripsikan. Ia menganggukkan kepalanya sedikit kemudian masuk ke dalam bis yang mengangkut kami berdua. Sebuah kabar gembira sewaktu aku tahu bahwa aku dapat menghabiskan waktu pulangku dengannya.

Dan saat itu pula aku tahu namanya.

Hoya.

.

.

.

“YOO ARA!!”

Ara menutup diary warna putih tulang di genggamannya kemudian langsung menaruhnya ke dalam laci. Gadis itu melemparkan tatapannya ke kanan dan kiri kemudian memilih duduk di atas kasur berseprai biru lembut sambil berpura-pura membaca majalah.

Alice muncul dari ambang pintu dengan raut kesal. Tatapannya tertuju pada diary putih tulangnya yang teronggok begitu saja dengan posisi laci yang terbuka. Ia tahu Ara yang usil ini baru saja mengutak-atik barang-barang di dalam kamarnya. Kalau bukan tab, ponsel, pasti diary. Gadis itu menutup laci kayunya dengan dorongan keras lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“Apa?” Ara mengangkat wajahnya dari balik lembaran kertas majalah, lalu diam-diam meneguk ludahnya dengan gugup. Alice memutar bola matanya dengan kesal kemudian menarik nafas, “aku tahu apa yang baru saja kau lakukan. Kau membuka diary milkku ‘kan? Kau baca yang tanggal berapa?”

“Ayolah Alice” Ara menyatukan alisnya dengan kesal, “memangnya kerjaanku hanya membaca diarymu apa?”

“Dan sejak kapan kau membaca majalah dengan posisi terbalik?”

Ara melirik majalah fashion di hadapannya kemudian tersentak. Ia buru-buru memutar posisi kepalanya ke arah kanan kemudian terkekeh, “aku punya bakat dalam membaca alphabet dalam posisi terbalik”

“Ha-ha-ha. Lucu sekali” Alice duduk di atas kursi berwarna creamnya lalu menghidupkan laptop. Ara mendengus kemudian melemparkan majalah itu ke sembarang arah. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan pelan menuju cermin dan menyisir rambut.

“Jadi benar ‘kan kau baru saja membaca diaryku?” Alice mengklik program pengolah kata kemudian menyesap lemon tea hangatnya yang baru ia bawa dari dapur. Ara tersenyum geli kemudian mengangguk  sambil terkikik.

“Aku baca yang tanggal 16”

Alice menggebrak mejanya dengan gusar kemudian melotot, “apa?!”

Come on” Ara meletakkan sisir Alice di atas meja riasnya kemudian beranjak menuju kasur. “Kita sudah tinggal bersama di flat ini hampir 4 tahun dan kau masih merahasiakan sesuatu tentang cinta? Kau anggap aku dan Nara ini siapa huh?”

Alice mendelik kesal. Ia hampir melemparkan pulpen cairnya tepat ke dahi gadis berambut cokelat itu namun segera ia urungkan, “membaca diary orang tanpa izin bukanlah jawabannya”

“Uhhh galaknya nona Song Alice” Ara tersenyum mengejek kemudian menopang dagunya di atas bantal. “Jadi bagaimana kepribadian si Hoya itu? Kau sudah menghubunginya lagi?”

“Bagaimana apanya?”

“Si laki-laki berkemeja biru muda dengan sedikit noda espresso di bagian bawah lengannya” Ara tertawa keras kemudian buru-buru menutup mulutnya sebelum Alice menyiramkan teh panas ke wajah gadis itu. Alice mendengus kesal kemudian kembali fokus dengan deretan kalimat di mesin pengolah katanya.

“Hei? Bagaimana?” Ara mendesak gadis itu.

“Ia baik” Alice memunggungi Ara lalu menekan dengan lincah barisan huruf-huruf di keyboardnya. Gadis itu kembali menyesap lemon teanya dalam diam.

“Laluuuu?”

“Ia bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi dan saat itu ia naik bis karena mobilnya sedang masuk bengkel”

Ara terdiam, terlihat tidak puas dengan jawaban Alice. Sudah sekitar 2 minggu sejak kejadian itu terjadi, apa hanya itu informasi yang didapatkannya?

Ara hampir protes lagi namun suara bel di pintu depan mengalihkan perhatiannya. Gadis itu hendak meminta Alice agar membukanya namun kelihatannya ia tengah sibuk. Atau pura-pura sibuk. Sehingga Ara memutuskan bangkit dengan malas dari posisi setengah tidurnya lalu menyeret kakinya menuju pintu utama.

“Iya iya, jangan menekan bel terus menerus. Kau tidak tahu biaya listrik sekarang sedang naik? Banyaknya kau menekan bel dalam satu detik sama dengan menaikkan harga sewa kami” Ara mengomel tidak jelas lalu memutar kenop pintunya ke arah kanan.

Gadis itu terdiam.

Di hadapannya berdiri seorang laki-laki berpostur tegap dan rambut berwarna cokelat tua. Sepasang iris-nya berwarna hitam pekat, dan wajah lonjongnya merupakan tempat bernaung yang pas bagi sepasang benda bulat itu. Ia tersenyum kikuk kemudian kembali mengecek nomor  yang tertera di depan pintu flat mereka lalu menatap Ara dengan bingung.

“Mau cari siapa?” Ara menyipitkan matanya.

“Ini flat 34G ‘kan?”

“Ya” Ara kembali menelusuri raut laki-laki itu. Gadis itu membasahi bibirnya kemudian bertanya, “ada apa kemari?”

“Aku mencari Alice” ia tersenyum tipis kemudian bernafas lega. Ara menggigit bibir bawahnya dengan bingung kemudian kembali membuka mulutnya, “ohhh. Akan kupanggilkan, masuklah”

Ara membuka pintu flat lebar-lebar dan membiarkan laki-laki tak dikenal itu masuk ke dalam ruang tamu. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur Alice kemudian berteriak  tertahan, “Alice”

Gadis berambut blonde  itu mendongak dari balik layar laptopnya.

“Ada tamu untukmu” Ara melanjutkan kalimatnya lalu tersenyum penuh arti, “dan ia laki-laki”

“Oh ayolah” Alice berdiri dari kursinya kemudian memutar mata, “dia pasti rekan kerjaku”

Alice buru-buru memakai sweater warna baby pink-nya kemudian berjalan keluar dari kamar. Ara membuntutinya di belakang sambil bersenandung kecil.

“Bagaimana perawakannya? Tinggi? Gemuk? Kurus?”

Ara memalingkan perhatiannya dari akuarium kecil yang tersimpan di tengah-tengah ruang tv. Ia menyelipkan beberapa helai rambut panjangnya ke belakang telinga. “Tegap, iris matanya hitam dan rambutnya berwarna cokelat tua. Aku baru melihatnya hari ini”

“Ah begitu” Alice kembali berjalan menuju ruang tamu setelah sebelumnya meneguk segelas air dingin. Langkah kakinya terhenti tiba-tiba dalam decitan tertahan yang berbunyi dari sandal rumahnya.

“Aww! Jangan berhenti tiba-tiba Song Alice” Ara mengelus kepalanya yang terantuk punggung keras gadis itu. Sedangkan Alice masih diam di tempatnya berdiri. Senyuman lebar perlahan mengembang di kedua belah pipinya.

“Hoya, untuk apa kau kemari?”

Ara melebarkan matanya kemudian memandang kedua manusia itu dengan bibir mengatup. Alice segera duduk di sofa ruang tamu sementara laki-laki bernama Hoya itu tersenyum lebar dan melambaikan tangan kanannya dengan ringan, “aku tidak sengaja lewat dan ingat bahwa kau tinggal di salah satu deretan flat ini. Kukira aku salah tempat”

“Ah tidak” Alice melirik tajam ke arah Ara, menandakan bahwa gadis berambut panjang itu harus pergi –agar tidak mengganggu acara ngobrolnya berdua-nya dengan Hoya. Ara mendengus kesal kemudian berjalan menuju dapur.

“Aku lupa belum memberitahumu bahwa aku tinggal dengan dua orang teman, Kwon Nara dan Yoo Ara” Alice tersenyum tipis, “dan yang barusan itu adalah Ara”

“Ahh begitu” Hoya menganggukkan kepalanya beberapa kali kemudian matanya berkeliling memandangi sekitar, “dan Nara?”

“Ia belum pulang” Alice melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam. “Nara adalah wanita yang sibuk, ia bisa pulang lebih dari jam 10 malam kadang-kadang”

“Aku pulang”

Dua pasang mata itu refleks menoleh ke arah pintu utama, memandangi seorang wanita berambut panjang dengan kaki jenjang dan kulit putih. Kakinya yang dibalut stileto hitam ber-hak 10cm terlihat pegal, seraya tangannya meraih tali pengikat sepatu itu dan mengendurkannya. Ia mendongak dan mendapati ada seorang makhluk asing disana.

“Oh, selamat datang Nara. Hoya, ini dia Kwon Nara”

Nara terlihat sedikit tidak mengerti, namun dengan cepat ia kembali mengatur raut wajahnya seraya tersenyum manis. Wanita itu meraih sepasang stileto hitamnya lalu menuntunnya menuju rak sepatu.

Alice kembali menolehkan kepalanya kearah Hoya kemudian meringis, “jadi…untuk apa kau kemari? Selain mampir maksudku”

“Ada kedai es krim yang baru buka di ujung jalan”

“Hah?” Alice menyatukan sepasang alisnya dengan raut bingung, “lalu?”

“Bagaimana kalau satu atau dua scoop es krim?” Hoya terkekeh sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk simbol peace. Alice tersenyum geli kemudian beranjak dari duduknya, “baiklah Hoya-ssi. Kurasa aku harus mengganti baju dan—“

“Tetaplah seperti itu” Hoya menahan tangan gadis itu kemudian tersenyum samar, “kau sudah cantik kok

Alice merasakan kedua pipinya bersemu merah. Damn you Hoya.

“A-ah begitu ya. Okay” Alice buru-buru berjalan menuju pintu utama flat-nya dan memutar kunci ke arah kanan. Ia membiarkan Hoya melewati lubang kotak itu kemudian kembali menutupnya pelan.

“Bagaimana dengan 2 scoop raspberry dan 1 scoop vanilla?” Hoya bernegosiasi sambil menaikkan kedua alisnya.

“Apa?” Alice terkekeh geli kemudian melangkahkan kakinya menuruni tangga, “deal

§

Alice berjalan pelan menuju deretan flat di ujung jalan, sementara Hoya mengikutinya dari belakang sambil bersiul ringan. Gadis itu menolehkan kepalanya dengan gerakan lambat kemudian tersenyum tipis, “tidak usah membututiku. Kau pulang saja sekarang”

Hoya melirik jam tangan warna putih yang melingkar di tangan kirinya kemudian meringis, “sudah malam, tidak baik wanita seumuranmu berjalan pulang sendirian”

“Toko pecinan berjarak beberapa blok lagi, aku bisa pulang sendiri” kini Alice benar-benar menghentikkan langkahnya, lalu memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku sweater. Sementara yang sebelahnya memegang kantung plastik kecil. “Pulanglah”

Laki-laki di hadapannya mengangkat bahu kemudian terkekeh pelan, “baiklah jika kau yang memintanya. Terimakasih sudah mau menemaniku makan es krim. Lezat sekali bukan?”

“Sangat” Alice balas tertawa renyah kemudian melambaikan tangan kanannya, “baiklah kalau begitu. Sampai bertemu lagi!”

Hoya balas melambaikan tangannya kemudian tersenyum lembut. Laki-laki itu memutar badannya ke arah berlawanan kemudian berjalan pelan menuju ujung jalan yang lain. Alice bermaksud melanjutkan langkah kakinya menuju flat, namun ragu untuk melakukannya. Gadis itu lagi-lagi menolehkan kepalanya ke belakang. Kedua iris hazelnya terus mengikuti punggung Hoya yang menjauh, sampai berhenti di ujung jalan dan berbelok ke kiri.

Tanpa sadar senyumannya kembali mengembang. Alice menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan cepat, merasakan temperatur yang mulai menggigit diiringi datangnya rembulan dan semakin pekatnya warna langit diatas sana. Ia memilih untuk kembali melanjutkan langkah kakinya menuju flat, mengabaikan hiruk pikuk pub milik warga negara Skotlandia yang terdengar sampai beberapa blok bangunan di sebelahnya.

Alice membuka pintu bawah flatnya yang terletak persis di sebelah toko pecinan milik Tuan Lee. Ia melangkahkan kakinya menuju tangga kemudian mengeluarkan kunci cadangan milikinya dan membuka pintu.

Suara Ara dan Nara terdengar dari arah ruang dapur. Seperti biasa, kedua wanita itu pasti masih bergosip ria sambil memakan cemilan, atau sekedar menyesap earl grey yang baru Alice beli minggu lalu. Sayup-sayup terdengar tawa mereka diselingi gelas yang berdenting kesana-kemari.

“Saat kulihat laki-laki bernama Hoya itu, aku sudah curiga” terdengar suara menggebu-gebu milik Ara. Ada jeda sedikit sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya. “He’s totally Song Alice’s type”

“Exactly” Nara menyambung kemudian tertawa kecil, “sudah berapa lama gadis itu tidak berpacaran. Di umurnya yang menginjak 24 tahun ini terdengar tidak normal bukan?”

“Yayayaya”

Kedua gadis berambut panjang itu menoleh dan mendapati keberadaan Alice di ambang pintu. Nara mengeluarkan cengiran khas-nya sementara Ara tertawa keras saat melihat ekspresi kesal Alice. Gadis berambut blonde itu menaruh sebuah kotak dingin di atas meja dapur kemudian duduk di bar kecil mereka.

“Apa ini?” Ara membukanya dengan penasaran lalu memekik senang.

Ice cream tiramissu untuk kalian. Aku berniat baik tapi yang kudapatkan di malah dua orang yang tengah bergosip tentangku” Alice mendengus kesal kemudian menopang dagunya. Nara mengeluarkan tiga mangkuk kecil beserta sendok dari lemari dapur kemudian menaruhnya di hadapan mereka.

“Apa kalian tidak punya kerjaan lain? Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan kalian belum tidur juga?”

“Kau yang tidak punya kerjaan” Nara mengetuk pelan dahi Alice dengan sendok, “sudah pukul 11 malam dan kau baru pulang dari acara makan es krim?” ujarnya menirukan nada suara Alice.

“Aku penasaran apa saja yang kalian lakukan” Ara menyendok tiramissunya kemudian tersenyum penuh arti.

Wait wait wait” Alice menahan tatapan mencurigakan dari bola mata sahabatnya itu kemudian mendengus, “tidak terjadi apa-apa”

“Yang kubayangkan adalah ada setitik selai raspberry yang menempel di mulutmu, lalu Hoya mengelapnya dengan jari lalu—“

“Bodoh!” Alice mengetukkan ujung sendoknya ke kepala Nara, “tidak terjadi hal-hal semacam itu!”

Lalu malam yang bising di pusat keramaian kota Seoul itu terus berlanjut seiring dengan teriakkan dan suara tertawa keras milik 3 gadis lajang.

§

2 weeks later

 

From: Hoya

Selamat pagi!

Alice baru saja bangun dan berniat untuk melepas charger yang menancap kuat di bagian atas ponselnya, tatkala sebuah pesan singkat dari Hoya muncul di tabel notification. Gadis itu mengusap wajahnya yang terasa berminyak akibat baru bangun tidur kemudian tersenyum kecil, pun hatinya terasa hangat.  Walaupun udara musim gugur yang sebentar lagi akan berubah menjadi winter menggelitik telapak kakinya yang tidak dibalut alas apapun.

Gadis itu memilih untuk me-replynya. Sementara jari-jari lincahnya mulai menari di atas keyboard ponsel.

To: Hoya

Pagi🙂

Betapa gadis itu ingin mengatai dirinya sendiri sebagai wanita sok high pride, membalas sebuah sms dengan kata sesingkat itu. Padahal ribuan kata-kata ceria atau penyemangat sudah bermunculan satu persatu di otaknya –namun ia lebih memilih untuk melemparnya jauh-jauh.

 

From: Hoya

Kau ada acara? Pulang dari redaksi bisa menemuiku di kedai kopi di dekat flatmu?

 

To: Hoya

Tidak. Baiklah akan kutunggu disana. Pukul berapa?

 

From: Hoya

8 malam😀 deal?

 

To: Hoya

Deal! ^^

Alice tersenyum simpul lalu menyeret langkahnya menuju kamar mandi.

§

Alice mengambil tempat duduk di dekat jendela setelah sebelumnya memesan latte pada pelayan. Gadis itu mengetatkan syal tebal yang membungkus lehernya kemudian menolehkan kepala ke pemandangan kota yang diguyur hujan malam itu. Lampu-lampu toko yang berwarna-warni berkerlap-kerlip seiring dengan mobil yang melaju kencang. Begitupun dengan ratusan manusia yang melewati pelataran toko berusaha berjalan cepat, menghindari titik-titik hujan yang kian deras tiap detiknya.

Ia melirik jam kayu besar di sudut kedai yang menunjukkan pukul 8 malam lewat 15 menit. Gadis itu menyandar pada punggung sofa yang empuk tatkala kopi pesanannya datang. Alice memalingkan tatapannya ke arah pintu masuk lalu melihat seseorang muncul dari arah sana, berusaha menembus hiruk pikuk manusia yang bergumul dan berteduh dibawah naungan atap kedai.

Hoya tersenyum tipis ke arahnya kemudian menepis titik-titik air yang jatuh di atas jas warna cokelat tuanya, “maaf aku terlambat”

“Aku pun baru datang” Alice tergelak lalu menyesap lattenya dengan senyuman di bibir. “Perjalananmu lancar?”

“Lancar” Hoya memamerkan deretan giginya yang rapi, “hanya saja jalanan sedikit macet di perempatan depan. Sudah jadi hal biasa kalau hujan mengguyur kota yang sibuk ini”

Alice memiringkan kepalanya, “kau benar sekali. Aku bahkan hampir memarahi supir bus yang memacu kendaraan besar itu dengan amat lambat”

Hoya terkekeh disusul dengan Alice yang tersenyum lebar. “Okay, to the point saja. Untuk apa kau mengajakku kemari?”

Ekspresi Hoya berubah keruh. Laki-laki itu menghela nafasnya dengan berat kemudian mengurut kening, sangat kentara bahwa ia tengah gundah. Hoya menggigit bibirnya dengan cemas, pun sepasang iris hitamnya menatap Alice dalam-dalam membuat gadis itu patut mengatur detak jantungnya sebelumnya terdengar sampai ke telinga Hoya.

“Aku punya masalah” Hoya mengerdikkan bahunya dengan lemas. Laki-laki itu menyisir rambutnya dengan asal kemudian kembali melanjutkan kalimatnya, “dan aku tidak yakin kau tetap mau berteman denganku jika sudah tau masalah ini.”

“Bicara apa kau?” Alice tertawa kecil, berusahan mencairkan suasana walaupun gadis itu tidak bisa memungkiri bahwa kini batinnya curiga dan cemas. Ia menyelipkan helaian rambut blondenya ke belakang telinga kemudian menaikkan alis, “masalah apa? Kau bisa menceritakan apapun padaku, aku akan berusaha membantumu”

“Alice” Hoya membalas tatapan Alice yang terlihat lembut dan prihatin, “kau tidak akan mengerti…”

“Maka dari itu aku bertanya” Alice menekankan kalimatnya kemudian tersenyum selembut yang ia bisa. “Katakanlah”

.

.

.

.

“Aku seorang gay

.

.

.

Alice mengedipkan matanya dua kali berturut-turut. Tangannya yang hendak menggenggam pegangan cangkir latte menggantung di udara. Dua bola matanya tertancap di jarak pandang Hoya dengan tatapan tidak mengerti dan satu kalimat singkat terngiang di sekeliling kepalanya.

“Apa kau baru saja berbohong?”

Dunia di sekelilingnya terasa terhenti dan ia bingung harus mulai dari mana sekarang. Bibirnya bergetar dalam tempo cepat, entah karena udara di sekitar kedai yang dingin atau.

Hatinya yang merasa dingin.

Alice memberanikan diri untuk membuka mulutnya, walaupun syaraf dan rahangnya terasa mengeras dan enggan membuka. Tatapannya nanar dan sulit diartikan. Setelah mengumpulkan serpihan pita suaranya yang seakan pecah dan enggan untuk disatukan lagi ia berkata.

“Kau…berbohong?”

Alice menggigit bibirnya dengan cemas. Seharusnya ia tidak perlu menanyakan itu. Hoya tentu saja bercanda. Laki-laki itu pasti punya selera humor yang buruk dan sekonyong-konyong mampu menjatuhkan jantungnya ke lantai.

Hoya balas menatapnya dalam diam. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, menyisakan kecemasan yang terus bertumpuk di benak gadis itu. Tanpa Alice duga, pria itu menjawab pertanyaannya.

“Aku tidak berbohong. Aku seorang homosexual sejak 5 tahun yang lalu”

Alice merasakan seolah bumi menimpa kepalanya sekarang. Kepalanya berat. Ia tidak dapat berfikir dan otaknya buntu seketika. Gadis itu menggigit bibirnya dengan bingung sementara Hoya kembali berkata.

“Dan masalah yang tengah aku hadapi sekarang adalah aku…”

Gadis di hadapannya berjuang sekuat tenaga agar bisa mendongakkan kepala dan balas menatap kedua iris hitam pekat milik Hoya. Pria itu meneguk ludahnya dengan gugup lalu untaian kata demi kata mengalir lembut lewat kedua bibirnya.

“Aku tengah berselisih dengan pacarku. Jang Dongwoo.”

Pertahanan Alice runtuh seketika. Gadis itu menunduk dengan cepat lalu meraih tissue kedai yang tersedia di atas meja mereka. Hoya menatapnya bingung seraya hatinya pun merasa kalut. Akankah Alice tetap bersedia menjadi teman baiknya? Ataukah merasa jijik dengannya?

“A-Alice” sahut Hoya terbata-bata. “Kau kenapa?”

Alice mengelap beberapa tetes air mata yang jebol dan jatuh di pipinya kemudian tersenyum getir. Gadis itu mendongak lalu meraih tas jinjingnya yang tergeletak di dekat kursi. Ia berusaha terlihat baik-baik saja, namun senyum palsunya malah membuatnya tampak lebih kacau.

“Semua baik-baik saja” Alice bangkit dari duduknya kemudian berkata pelan. “Aku minta maaf kalau aku belum bisa jadi pendengar yang baik. Aku akan mengirimkan pesan singkat padamu setibanya di rumah”

Alice lagi-lagi tersenyum lembut kemudian sebelum benar-benar pergi ia berkata.

“Jangan kira aku akan menjauhimu setelah aku tahu semua ini. Aku akan tetap jadi Alice yang dulu”

Hoya menatap kedua manik hazel Alice seraya jantungnya berdegup kencang menahan kecemasan, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu.

“Aku berjanji”

§

Sometimes the heart sees what is invisible to the eye.
– H. Jackson Brown, Jr.

Minggu, 1 September 2013

Aku mempelajari banyak hal dari kejadian kemarin.

Bagaimana mencintai seseorang terkadang juga perlu rasionalitas. Terkadang.

Sampai sekarang aku belum bisa menghilangkan perasaanku pada Hoya. Dan tiap membaca pesan singkatnya –berisi ucapan minta maaf yang perlu kutegaskan berkali-kali bahwa ia tidak perlu melakukannya—  tetap membuatku menjadi Alice yang dulu. Alice yang menyukai Hoya secara diam-diam.

Ia mulai membuka dirinya padaku. Bagaimana hubungannya dengan Jang Dongwoo, bagaimana keluarganya yang menendangnya jauh-jauh akibat dirinya yang penyuka sesama jenis, membuatku termenung beberapa saat. Tidak seharusnya aku menangis waktu itu. Toh aku tidak punya alasan untuk melakukannya. Dan yang seharusnya jauh bersedih dibandingkan aku adalah Hoya.

Dan aku hampir tertawa keras mengingat Ara dan Nara yang bengong seketika saat mendengar berita bahwa Hoya adalah seorang gay. Aku ingat Nara tengah menggulung spaghetti carbonara di garpunya sementara Ara hampir memuncratkan seluruh olahan tepung yang tengah dikunyahnya waktu itu.

Tidak semua cerita menyukai secara diam-diam berakhir dengan happy ending. Dan aku tahu artinya bahwa Tuhan tengah mencarikan orang yang lebih baik dan terbaik buatku. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah dengan terus mendukung Hoya. Tetap sebagai sahabatnya.

Sahabatnya.

Sahabatnya.

Fin.

Halooo

o-m-g.

Niatnya mau bikin fanfict Hoya-Alice yang sweet kok berakhir dengan absurd gini….entahlah. Buat yang fandomnya Inspirit atau khususnya Hoya-stan aku minta maaf sebesar-besarnya kalau fanfict ini menghina bias kalian… *bows 180 degress(?)* Keinget image Hoya di Replay1997 sebagai seorang gay yang kalem dan…terlahirlah ff ini.

Mind to review?😀

14 thoughts on “YOU

    • Aduh awalnya juga mau gitu ;___; tapi siang2 lagi nge re-watch reply1997 dan akhirnya berbelok deh alurnya HAHAHA. amat sangat absurd ya. Thanks udah baca dan komen *^^*

  1. omg -_-
    gak bisa ngomong apa-apa gue.
    Keren! Entahlah, gue rasa ff ini all over keren dan penataan bahasanya juga rapi. Alurnya gak ketebak. Jujur waktu si Hoya bilang kalau dia gay, gue sempet shock -_- tapi gue sadar lagi kalau gue lagi baca ff bukan berita netizen korsel(?) #lol
    entahlah gue mau ngomong apa lagi. gak usah ngomong lagi deh ya? #apaanseh
    hehe sori gue ngebacot.
    Keep writing!😉

    • Hai minhyunnie. Bahkan setelah ff ini aku post aku masih syok sendiri bisa menistakan Hoya sekejam ini ;___; huhuhu

      Aduh akhirnya tercapai juga ada yg bilang alurnya ngga ketebak;__; makasih banget yaaaaa x)

  2. Wow! totally superb!
    setuju banget sama komentar di atas yang bilang alurnya ga ketebak
    aku suka monolog nya, bahasanya bagus banget & enak dibaca
    feel nya juga dapet
    keep writing ya😀

    • Halo! Ga nyangka kalo orang yang aku mintain req poster bakal komen di ff ini=)) *plak* duh makasih<3 padahal ini monolognya apa banget;___; sekali lagi makasih❤

  3. Wah berasa nonton reply 1997 thor… soalnya sama kaya feel pas pertama tau hoya gay di sana… shoooocckkk!!

    Uugh padahal kirain si Alice bakal jadi sama hoya thooor, udah sweet, dikasi sms selamat pagi pulaaa, eh tiba-tiba ada konflik YaDong couple di tengah cerita ;__; *mewek darah*
    Overall ceritanya rapi dan enak dinikmati ^^

    GREAT JOB, THOR!! 4 THUMBS UUUPPP!!

    • Haiiii;___; duh salahkan aku aja yang termasuk YaDong shipper jadi berusaha menyatukan mereka HAHAHA(?) Aku ngerewatch reply1997 sampe 3 kali tiap bagian hoya yg akting langsung kejang2 *salah fokus*

      Makasih banyak yaaa udah baca dan komen!*^^*

  4. Sumpah kaget pas baca hoya itu seorang gay .__.
    Tapi gapapa hehe…
    Ini ff termasuk ff rapi (?)
    Dohhh hoya bias terkece ._.
    Gak bisa diungkapkan kata deh..
    Keep writing thor!^^

  5. Hell wkwkwk, duh salah apa kamu mas kok bisa jadi gay -_- .
    Sumpah aku ngakak kejer soalnya sehari ini baca FF yang cast nya Hoya kenapa jadi gay semuaah😄 .
    Tapi entah kenapa kamu cocok kok jadi begituan /? ‘_’ //maapkeun dakuu//plak//

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s