[1] Where We Belong

Where We Belong

written by bluemallows

Main Cast: CNBlue’s Lee Jonghyun & Girls’ Generation’s Im Yoona || Genre: Romance, School-Life || Rating: Teen || Length: Chaptered || Disclaimer: The plot is completly mine

0,5 | 1

FIRST-SHOT;

Im Yoona, gadis yang biasanya meluangkan waktu saat jam pelajaran kosong di ruang kesenian, mencampur warna dan menggoreskan tinta ke atas kanvas selama berjam-jam, melamun dan membiarkan imajinasinya melayang tinggi itu justru berpindah ke studio musik sekolahnya untuk menjadi anggota paduan suara. Sebenarnya tidak hanya ia saja yang heran, melainkan semua orang. Gadis itu tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki untuk masuk ke studio musik, yang dilakukannya hanya sekadar lewat dan mendengar suara samar-samar dentum drum dibarengi dengan petikan gitar yang diberi efek disorsi dari luar.

Saat itu ketika Jung-seonsaengnim berkeliling sekolah dari kelas ke kelas untuk mencari satu lagi anggota paduan suara dan akhirnya masuk ke dalam kelas 11.3. “Im Yoona, sepulang sekolah kau pergi ke studio musik. Oke?” Wanita paruh baya yang mengajar sebagai guru musik itu menggenggam pergelangan tangan Yoona sambil tersenyum sumringah.

Yoona menggelengkan kepalanya pelan. “Tapi saya bahkan tidak bisa menyanyi, seonsaengnim. Masih banyak murid lain selain saya, bukan?”

“Ayolah, Sayang,” Tangan kecil Jung-seonsaengnim yang sudah mulai memunculkan tanda-tanda penuaan itu membelai rambut Yoona di koridor luar kelasnya. “Aku sudah mencari di tiap kelas dan lihat apa yang kudapatkan? Im Yoona, cantik, tinggi, dan kalau dilatih lagi, suaramu pasti bisa mengimbangi yang lain.”

Perlahan tangan Yoona berusaha menepis belaian dari wanita itu.

 

“Soojung juga ikut, kau mau kan?”

 

Akhirnya setelah menimbang-nimbang beberapa waktu, Yoona menganggukkan kepalanya.

 

Sepulang sekolah, gadis itu memasuki studio musik dan mendapati tempat itu sudah ramai. Ia tidak terbiasa dengan atmosfir seperti ini; keadaan ramai, dinding dan lantai yang diberi karpet, sound besar di sisi ruangan, lampu remang yang menjadi sumber penerangan setelah jendela kecil, dan bau lembab studio musik. Ini jauh berbeda dengan ruang kesenian dimana ia bisa bernafas lega di daerah kekuasaannya itu. Beruntung, Soojung merasakan kehadirannya dan melambaikan tangan pada Yoona.

 

“Yoona!” Seru Soojung dengan suara tingginya.

 

Yang merasa dipanggil segera bergabung di lingkaran beberapa anggota paduan suara dan duduk di sebelah sahabatnya itu. “Semua anggota paduan suaranya perempuan?”

 

Soojung tersenyum simpul sambil melirikku. “Lihat siapa yang memegang gitar di sana,” ia mendorong dagunya ke sudut ruangan, tempat seorang laki-laki sedang duduk bersila dan memainkan gitar elektrik tanpa disambungkan dengan sound system. “Kau pasti sangat senang, kan?” Goda Soojung.

 

“Apa-apaan sih? Kau itu yang senang!” Balas Yoona dengan memajukan bibirnya.

 

Sahabatnya itu mentertawakan respon Yoona. “Aku sudah punya Yonghwa, tahu,” ujarnya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. “ayolah, keluar, dan coba berkencan.”

 

Seperti biasa, ketika Soojung sudah mengungkit-ungkit masalah cinta, ia hanya akan berdecak kesal. Tapi memang seperti itulah Soojung dan Yoona. Soojung; tipe gadis semi-hiperaktif yang dapat menaklukan laki-laki hanya dengan senyumannya, dan Yoona; gadis yang menutup diri bagi semua orang dan membagi rahasianya di atas kanvas. Tapi bagaimana pun, mereka sahabat. Dan selamanya adalah sahabat.

 

Tidak ada yang heran bahwa Soojung berhasil mengambil hati Yonghwa, vokalis sekaligus pembawa gitar band Vertical andalan sekolah. Vertical yang terdiri dari murid kelas tiga baru terbentuk setahun yang lalu, tidak lain ketika pertama kali Yoona dan angkatannya masuk ke SMU. Ini berarti memasuki tahun kedua usia band itu, dan mereka sudah tampil di taman kota, mall, bahkan mengikuti festival yang membawa mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Seluruh sekolah patut bangga dengan Yonghwa, Jonghyun si gitaris, Jungshin pemegang bass, dan Minhyuk si drummer. Hanya satu hal yang patut disesalkan dari band ini, mereka memulainya terlambat.

Beberapa menit kemudian Jung-seonsaengnim hadir dan mengajarkan tentang lagu yang akan dinyanyikan untuk lomba paduan suara bulan depan. Dan selama satu jam itu, Yoona tidak bisa berhenti mencuri pandang pada satu-satunya laki-laki di tempat itu, Lee Jonghyun.

Sebenarnya latihan paduan suara kemarin bukan pertama kalinya Yoona melihat sosok Lee Jonghyun. Sejak ospek pertama, Yoona bahkan telah melihat sosoknya. Sejujurnya ia menyimpan banyak pendapat tentang laki-laki itu; tatapan matanya yang jahat, wajah lancip yang seolah mengatakan dia jahat, rambut acak-acakan yang membuatnya nampak seperti berandal.. dan lain-lain. Soojung yang mengetahui pendapat itu justru menasehati Yoona untuk kesekian kalinya, “Kau terlalu sering berprasangka buruk pada laki-laki. Lantas, kapan kau punya pacar?”

Yoona tidak dapat mengelak, menyangkal, membantah, atau bahkan membela diri sekalipun jika Soojung berkata demikian. Sahabatnya sejak SMP itu seakan tahu lebih banyak tentang Yoona bahkan melebihi yang Yoona tahu tentang dirinya sendiri. Hanya satu hal yang Yoona tahu tentang Soojung ketika pertama kali masuk ke SMU, ia akan segera punya pacar.

 

Namun begitulah kenyataannya, Soojung menjadi milik Yonghwa dan Yonghwa menjadi milik Soojung dalam seminggu pertama sekolahnya. Setahun dilewati mereka dengan jalan-jalan ke mall, bertukar cokelat valentin, berbicara panjang lebar di telepon, pesan-pesan tengah malam, hingga membolos pelajaran bersama-sama di studio musik dan yang paling baik bagi Yoona adalah, Soojung tidak lantas melupakannya begitu saja. Sejak pertama kali Soojung menceritakan perasaannya pada Yonghwa, seperti kejadian dulu, Yoona hanya tersenyum dan menjawab, “Aku mendukung pilihanmu.” Yoona tidak pernah menyesali pilihannya untuk mendukung Soojung, buktinya Soojung dan Yonghwa termasuk daftar pasangan terpopuler di sekolah.

 

Kembali tentang masalah Jonghyun. Sebenarnya Yoona dan Jonghyun tidak seasing itu antara satu sama lain. Mereka bahkan pernah duduk di meja kantin yang sama karena Yonghwa mengajak Vertical bersamanya dan Soojung membawa Yoona di sampingnya.

 

“Hei, kemarin kami tampil di alun-alun kota, lho,” Ujar Minhyuk pada satu kali pertemuan.

 

Soojung meletakkan sumpitnya dengan malas. “Kemarin aku ada ujian di bimbingan belajarku, jadi sayang sekali aku tidak bisa datang.”

 

“Kau bisa melihat foto-fotonya di Instagram milik Jonghyun nanti,” Sahut Yonghwa sambil melirik ke arah Jonghyun yang sama sekali tidak merespon dan tetap melahap ramyun pesanannya.

 

Malam harinya ketika semua lampu rumah dan lampu kamar Yoona dimatikan, ia meng-install ulang aplikasi Instagram yang sempat dihapusnya dulu dan membuka kembali akunnya. Hanya ada tiga foto di dalamnya; fotonya dengan Soojung, pudding yang dibuatnya sendiri, dan lukisan abstrak pertama yang dibuatnya. Itu foto-foto yang sudah sangat lama, mungkin saat ia masih SMP.

 

Yoona membuka profil Soojung yang terisi oleh ratusan foto-foto di dalamnya. Ia mendapati beberapa di antaranya adalah fotonya bersama dengan Soojung dan itu cukup untuk membuatnya menyunggingkan senyum. Ia mencari username Jonghyun pada daftar nama-nama orang yang diikuti oleh Soojung dan setelah memikirkan beberapa pertimbangan kecil, Yoona membukanya.

 

Foto-foto teratas berisi penampilan mereka di alun-alun kota, saat ia memegang gitar dengan erat dan mengisi backing-vocal dari suara serak Yonghwa. Tidak ada suara dari foto-foto itu, tapi entah mengapa Yoona merasa ia bisa mendengar suara Yonghwa, suara disorsi gitar Jonghyun, bass milik Jonghyun, dan pukulan drum Minhyuk.

 

Ia menggerakan jarinya dan melihat-lihat foto Jonghyun yang terdahulu. Sebenarnya ia bukan tipe stalker yang membongkar-bongkar foto seseorang, tapi rasanya seru sekali melihat foto-foto milik Jonghyun. Tanpa disangka, Jonghyun yang terlihat keras kepala, dingin, dan tertutup itu memiliki banyak foto dengan pose konyol. Ketika ia memakai wig berambut panjang dan tersenyum genit ke arah kamera,  saat ia pergi ke pantai dan duduk di atas batang kelapa besar  kemudian memasang senyum jenaka, itu membuat perut Yoona bergetar karena menahan tawa yang hampir saja meledak di tengah malam itu.

Semakin ke bawah, Yoona mendapati foto-foto Jonghyun dengan seorang gadis yang diyakininya sebagai Hwang Tiffany—teman seangkatan Jonghyun yang aktif di ekstrakulikuler balet. Berpose mesra di depan kamera dengan latar belakang keramaian dan tersenyum lebar di sana. Jonghyun dengan sepasang lesung pipit dan Tiffany dengan matanya yang membentuk bulan sabit. Itu foto yang diambil pada malam tahun baru. Kembang api di atas langit, orang-orang di belakang mereka, tetapi dunia hanya serasa milik berdua. Sudah lama sebenarnya Yoona mendambakan pose seperti itu, entah dengan siapa.

Memang, memiliki seorang kekasih, laki-laki yang menjadi the one and only dan menghabiskan waktu bersama itu termasuk dalam daftar panjang keinginan Yoona yang belum tercapai. Sebetulnya, pria yang mengantri untuk menggandeng tangan Yoona tidak hanya satu atau dua, melainkan banyak sekali—semua orang tahu tentang itu. Hanya saja gadis itu yang tidak menyadarinya. Hatinya dapat diibaratkan sebagai taman bunga rahasia yang dikelilingi tembok perlindungan yang terlalu tinggi.

Cahaya matahari menebus kaca dan memperlihatkan partikel-partikel debu yang berterbangan diiringi dengan suara baling-baling kipas angin yang berputar di langit-langit ruang kesenian. Kanvas kosong, kuas yang masih bersih, pensil yang sudah digenggam dan cat yang telah dicampur dengan air berada di atas meja dan mata gadis itu menatap lurus ke atas kanvas. Seolah memikirkan sesuatu, tetapi belum ada sketsa yang digoreskan di atas sana. Manik cokelatnya bisa saja menatap ke kanvas itu, tetapi pikirannya berlari entah kemana pulang sekolah hari itu.

“Yoona?” Tidak ada reaksi. Gadis itu masih duduk diam sambil mencengkeram kuat-kuat pensil di atas pangkuannya. Wajahnya serius, matanya seakan sudah dilem permanen untuk selalu menghadap ke kanvas, tetapi bibirnya menyunggingkan senyum. Hingga akhirnya, pemilik suara itu menepuk pundak Yoona dan membuyarkan lamunan gadis itu.

Yoona berbalik dan mendapati sesosok Lee Jonghyun berdiri di belakangnya sambil memegang pundaknya. “L—Lee Jonghyun?”

Sosok laki-laki itu tertawa, dan perlahan wajahnya berganti dengan wajah jenaka milik Park-seonsaengnim—guru seni lukis. Mulut Yoona masih terbuka dan ia tidak tahu harus berkata apa untuk menyembunyikan rasa malunya dan mungkin pipinya yang bersemu merah. “A.. Astaga, maafkan aku seonsaengnim,” Ia cepat-cepat bangkit berdiri menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Lelaki itu mendorong bahu Yoona untuk kembali duduk dan ia menarik kursi dan ikut duduk. “Melamunkan laki-laki ya?” Goda Park-seonsaengnim sambil memegang dagunya yang dihiasi oleh rambut-rambut tipis yang lupa dicukur. “Lee Jonghyun?”

“Tidak, kok! Aku tidak memikirkan Lee Jonghyun!” Bantah Yoona sambil melirik sebal ke arah gurunya yang menatap lurus ke arah kanvas yang masih kosong di hadapannya. “Maaf seonsaengnim, aku beberapa kali tidak mengha–”

 

“Lee Jonghyun anak yang baik,” potong Park-seonsaengnim. “saat kelas 1 ia memilih seni lukis dan sering kemari sama seperti yang lain.”

 

Yoona mengatupkan mulutnya dan menunda permintaan maafnya tentang dirinya yang jarang menghadiri kelas seni. Ia memberi waktu Park-seonsaengnim untuk bercerita. Mereka selalu begitu.

 

“Aku kagum sekali dengannya, entah lukisannya, atau caranya memetik gitar..” Pandangan matanya berpindah pada jendela yang ditembus oleh sinar matahari. “Dia sungguh luar biasa, tahu.”

 

Dahi Yoona berkerut tipis. “Luar biasa?”

 

Guru kesenian itu mengangguk sekali, namun mantap. “Aku menyukai apapun tentang Lee Jonghyun. Tetapi aku tidak menyesal pada kelas 2 ia memilih kelas Jung-seonsaengnim.

 

“Bukankah kau pandai menilai seseorang dari raut wajahnya?” Yoona memiringkan kepalanya dan Park-seonsaengnim akhirnya melihatnya. “Apakah tidak terlalu baik jika kau katakan Lee Jonghyun seperti itu?”

 

Segaris senyum menghiasi wajah Park-seonsaengnim yang mulai berkerut. “Kau tahu mata Jonghyun? Mungkin kesan pertamamu adalah mata itu tajam dan mengerikan, iya kan?” Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi coba lihat sekali, tatapan matanya sendu. Dan aku senang sekali dengan matanya.”

 

Yoona kembali terdiam. Ia tidak pernah memperhatikan bola mata Jonghyun hingga mendapati kesan sendu pada matanya, tapi di waktu yang datang, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuktikan perkataan Park-seonsaengnim.

 

“Lalu tentang Lee Jonghyun yang berpacaran dengan Hwang Tiffany itu benar?”

 

Sekali lagi, Park-seonsaengnim mengangguk. “Tiffany sering kemari saat Jonghyun sedang melukis karena kelas tari bersamaan dengan kelas lukis kan? Kadang-kadang ia mengintip dari jendela sana,” Jemarinya menunjuk jendela-jendela yang berbaris berjejer.

 

Gadis dapat melihatnya. Jonghyun duduk di atas kursi, memegang kuas yang sudah dicelupkan pada cat air, kemudian kepala Tiffany muncul di jendela dengan rambut yang masih disanggul dan tersenyum lebar. Dan ketika Park-seonsaengnim mengetahuinya, gadis itu segera berlari dan bersembunyi dari tatapan guru. Yang dilihatnya hanyalah wajah Jonghyun dan Tiffany dengan raut bahagia yang tak dapat disangkal.

 

“Tapi mereka putus beberapa waktu lalu, setelah itu Jonghyun bercerita padaku kalau ia yang memutuskan hubungan.” Sambung Park-seonsaengnim. “Bagaimana pun, Tiffany adalah gadis yang beruntung. Untuk menaklukkan hati seorang Jonghyun itu sulit sekali.”

 

Gadis itu hanya menelan ludah sebagai jawaban yang sebenarnya tidak terlalu kentara.

 

“Meski garis wajahnya terlihat tegas dan mulutnya cenderung tidak bisa tersenyum, tapi hatinya lembut sekali.” Park-seonsaengnim kembali menerawang keluar jendela dan sesekali tersenyum. “Aku tahu dari caranya menggoreskan kuas di atas kanvas—ia tipe orang yang lembut dan menyimpan sisi misterius. Barangkali itulah yang membuat gadis-gadis terpesona padanya.”

 

Mata Yoona terpaku pada gerakan mulut gurunya ketika melafalkan satu per satu suku kata yang mendeskripsikan seorang Lee Jonghyun.

“Kau menyukai Jonghyun?”

 

Mata Yoona seketika mendelik. “Tidak, seonsaengnim! Aku tidak menyukainya!”

 

Gurunya terkekeh mendengar jawaban gugup dari Yoona. “Mungkin kau tidak menyukainya sekarang, tapi bisa berbeda lagi perasaanmu besok, atau besoknya lagi.” Sahut Park-seonsaengnim. “Gadis sepertimu harusnya pergi berkencan atau bersenang-senang seperti yang lain. Banyak murid laki-laki yang memilih pelajaran seni lukis hanya untuk bertemu denganmu, lho.”

 

Mulut Yoona kembali terkunci. Ia tidak pernah menanggapi laki-laki yang menawarinya pulang bersama, atau bahkan yang duduk semeja dengannya di kantin. Tapi ia tidak tahu ada dari mereka yang masuk ke kelas seni hanya untuknya. Menurutnya, itu terlalu baik.

 

“Tapi jika kau pergi berkencan bersama Jonghyun, kurasa kalian berdua sama-sama beruntung.”

Jung-seonsaengnim, guru seni musik sekaligus pelatih regu paduan suara berdeham dan menyapu pandangan ke sekeliling ruang musik. “Selama tiga hari ke depan, aku tidak bisa melatih kalian. Bagaimana jika kalian latihan sendiri?”

Keempat belas anggota paduan suara yang bergender perempuan itu segera saling tatapan dan berbisik-bisik. Beberapa diantaranya mengatakan setuju, dan sisanya tidak.

“Ayolah, anak-anak,” Wanita itu mendesah pelan. “Kita hanya punya dua minggu untuk berlatih.”

Setelah sibuk dengan argumen-argumen yang dilontarkan secara bersahut-sahutan, akhirnya gadis-gadis itu mengiyakan permintaan guru mereka.

“Ngomong-ngomong, dimana Jonghyun?”

Soojung mengangkat tangan dan menyahut, “Vertical sedang pergi untuk mengisi acara ulang tahun SMP di sebelah.”

Jung-seonsaengnim mengangguk-anggukkan kepalanya dan mencari-cari sosok seseorang di antara murid asuhannya itu. “Yoona, kunci studio musik kuserahkan padamu dan tolong hubungi Jonghyun jika ada latihan.”

Mulut Yoona memang ternganga saat itu. Pertama, ia bukan anak musik yang sering menghabiskan waktu di studio. Kedua, benar ia menyimpan nomor Jonghyun yang diam-diam dihafalkannya dari ponsel Soojung, tapi ia tidak pernah sekali pun menghubungi pemuda itu.

Tapi pada akhirnya, ia mengaku harus berterima kasih pada Jung-seonsaengnim atas tugas yang diberikan kepadanya.[]

 

Visualization for Kim Soojung (OC): http://data3.whicdn.com/images/76110331/large.jpg

Note: Kembali lagi ke cerita cinta-cintaan anak sekolah (efek masuk sekolah lagi). Ini mungkin udah terlalu mainstream, tapi harap dimaklumi ya, hoho. Dan semoga ada yang mau baca dan ngasih review buat FF-super-mainstream ini😀

 

66 thoughts on “[1] Where We Belong

  1. Ayayayay ff nya kereen.. gak berlebihan deskripsinya. Dan, aku pikir soojung itu Jung Soo Jung a.k.a Krystal Jung f(x). Ternyata Kim Soo Jung, toh. Hohoho aku sotoy:D

    Ini keren, ff ini keren. Honestly, aku gak tau sebelumnya kalau JongYoon couple itu laris manis(?). Maksudnya, banyak penggemarnya. Bahkan, aku gak hapal siapa siapa aja anak CNblue. Kayaknya aku terlalu terpaku sama SM Entertainment, ya.

    Tapi gak apa. Semenjak aku mampir ke wp ini, aku jadi tau ada couple semanis ini. Tampaknya aku mulai tertarik. Hahaha😀

    Oke lah, author-nim, aku mau ijin next ke chapter 2. Rajin rajin buat ff dengan main cast yoona eonni, ok? Aku akan setia comment:)
    Lanjutt

  2. Hy aku baru komentar nih xixixi. Aku ajeng readers jakarta. Pas pertama baca prolognya aku langsung suka, yaudah akhirnya lanjut aja. Ok deh aku lanjut bacanya ya thor tenang aja aku bakal komentar ko hehe.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s