[Oneshoot] If You Loved Me

Untitled-2copy

Tittle : If You Loved Me “Chunjiyeon Vers”

Main Cast:

–         Lee Chanhee “Chunji Teen Top”

–         Park Jiyeon “Jiyeon T-ara”

||| Genre: Sad Romance ||| Length: Oneshoot ||| Rating: Pg–16 ||| Disclaimer: Oc Dan Alur Hak Cipta Ada Pada Diri Dan Otak Saya. Sekali Lagi Castnya Hanyalah Milik Tuhan Semata Author Hanya Meminjam Nama |||Author : Nasriani Halim (Park Mirin)||

#saat membaca FF ini saya sarankan mendengarkan lagu Zia ft Haeri – If you loved me supaya feelnya dapet, karna sesungguhnya FF ini tercipta  setelah menyaksikan MV dan beberapa kali mendengarkan lagunya. And you know? This FF make me cry 😥 saat membuatnya..#

 

“Sampai kapan aku bisa melihat senyum itu?”

***

Pagi itu langit begitu cerah menuntun langkah kaki-kaki Jiyeon untuk menemui Chunji di galery tempat Chunji biasa menghabiskan waktu. Chunji memintanya menemuinya hari ini karena akan menyampaikan sesuatu pada Jiyeon.

Chunji adalah teman dekat yang sangat Ia sayangin sejak 2 tahun lalu. Cerita cinta mereka juga terjadi secara alami seperti pasangan lainnya, tak ada yang begitu spesial jika orang lain katakan meskipun bagi mereka cerita cinta mereka adalah segalanya.

Chunji adalah seorang seniman keramik sejak mereka di bangku high school. Ia mendapatkan keahlian itu dari kedua orang tuanya yang juga seorang seniman. Mereka dekat selama 2 tahun dan akhirnya mengakui perasaan masing-masing saat festival sekolah. Saat itu Chunji memberikan Jiyeon sebuah boneka keramik yang dibuatnya untuk Jiyeon secara spesial.

Langkah Jiyeon terhenti ketika Ia telah tiba disebuah tempat yang dikenalinya. Ia tersenyum menarik nafas dalam-dalam sebelum Ia masuk kedalam rumah tersebut. Terlihat Chunji tengah duduk sibuk bercengkrama dengan tanah liat di hadapannya. Matanya tak berkedip memandangi keramik buatannya yang hampir selesai.

“ahh, lihatlah dia” Ucap Jiyeon.

Jiyeon melangkahkan kakinya pelan ke tempat Chunji tengah sibuk saat ini. Jiyeon menghela nafas karna Chunji sama sekali tak memandangnya dan tetap sibuk dengan apa yang Ia lakukan. Jiyeon melambaikan tangannya di depan wajah Chunji tapi percuma tak ada respon sedikitpun.

Ekspresi wajahnya berubah cemberut karna Chunji mengabaikannya. “Yakh!!!!”Teriak Jiyeon.

Chunji spontan melihat ke arah Jiyeon yang saat itu tengah berdiri dengan ekspresi cemberut melipat kedua tangannya. Tatapannya kesalnya tajam melirik ke arah Chunji. Chunji hanya membalasnya dengan senyuman.

“Mianhae~” Seketika senyum Jiyeon mulai mengembang begitupun dengan Chunji yang sejak tadi tersenyum. “duduklah” Ucap Chunji menepuk bangku di sampingnya.

“nde” Jiyeon tak sedikitpun mengalihkan pandangannya menatap wajah yang selalu Ia rindukan itu.

Chunji kembali berkutat dengan tanah liat di depannya. “saat dengan tanah-tanah ini kau pasti melupakanku!” Omel Jiyeon.

“apa maksudmu? Kau cemburu pada tanah?” Ucap Chunji dengan tawa khasnya.

“kau tertawa?akh? Jinjja? Kau mempermainkanku?okh?”

“wae? Aku hanya bercanda Jiyeon~a”Ucap Chunji mulai takut dengan ucapan Jiyeon yang terdengar benar-benar kesal.

Jiyeon tertawa dan melukiskan ekspresi bodoh di wajah Chunji. “mwoya?”

“ahh jinjja!! aku hanya bercanda Chunji~a”Ucap Jiyeon tersenyum memegangi pipi Chunji.

“jinjja!”

Chunji hampir saja jantungan karena takut Jiyeon marah padanya. Baginya Jiyeon adalah segalanya sejak kedua orang tuanya meninggalkannya beberapa tahun lalu.

“kau benar-benar takut aku marah padamu?”

“tentu saja! Jika kau marah, ahh molla!! kau benar-benar membuat kepalaku pusing”Ucap Chunji dengan ekspresi frustasi.

Karena Jiyeon jika tengah marah susah untuk dibujuk. Menurut Chunji saat marah Jiyeonlah yang lebih mengerikan daripada ibunya sendiri.

“jeonmal?”

“ye.. Apa aku pernah berbohong?”

“nde. Arha..”Ucap Jiyeon memanyunkan bibirnya. “lalu? Apa hari ini kita akan berjalan-jalan lagi? Ke taman bermain? Otte?”

“jalan?” tanya Chunji dan ekspresinya berubah. Ia tersenyum kembali. “Bukankah beberapa minggu lalu kita sudah kesana?”

“benarkah?”

“hm, lupakan. Lanjutkan saja pekerjaanmu.” Ucap Jiyeon berdiri berkeliling galerry melihat karya-karya kekasihnya itu.

Chunji menatap ke arah Jiyeon dengan mata senduh, Ia kembali teringat malam itu, tepatnya 2 minggu lalu.

*flashback*

Chunji tengah duduk didepan meja kerjanya memandangi bingkai foto kayu di depannya. Terpampang fotonya bersama Jiyeon tengah berpelukan dengan senyum mengembang saling memandangi satu sama lain.

Ruangan begitu gelap saat itu hanya lampu di mejanya yang menyala menambah kesan dark mendalam malam itu. Hati Chunji tiba-tiba terisak sedih melihat bingkai foto yang semakin kabur dalam penglihatannya. Ia menghela nafas panjang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu yang Ia duduki.

Ia menutup matanya dan kembali membukanya penglihatannya terlihat jelas tapi beberapa detik kemudian kembali memburam seperti ditutupi embun. Ia memegangi kepalanya, meremas kesal rambutnya. Terlihat ekspresi kekesalan pada ekspresi wajahnya. Ia ketakutan, jantungnya berpacuh semakin cepat setiap memikirkan senyuman Jiyeon dan tawa Jiyeon saat menatap matanya.

Memori-memori kebahagian dalam dekat ini semakin jelas di kepalanya. Terutama memori saat ke taman bermain beberapa bulan lalu dengan Jiyeon. memori saat pertama kali mengecewakan Jiyeon.

“Chunji~a cobalah itu!”rengek Jiyeon pada Chunji untuk mencoba permainan melempar balon hingga pecah.

“itu? Kau ini, itukan permainan anak-anak”

“cobalah!”

“baik-baiklah”

Jiyeon dan Chunji mencoba permainan itu. Seorang pemiliknya memberikan beberapa anak panah kecil yang digunakan untuk menembak setelah Chunji membayar karcis permainannya.

“Cobalah lemparkan”Ucap Jiyeon pada Chunji.

“baiklah” senyum mengembang ketika melihat ekspresi Jiyeon yang begitu bahagia.

Ketika hendak melempar, pandangan Chunji memburam semakin parah dari pandangan awal ketika mereka akan memilih permainan. Chunji masih terdiam, sesekali memejamkan dan membuka matanya berulang kali berharap yang dilihatnya akan kembali seperti semula. Ia terus bertanya ada apa dengannya? Kenapa penglihatannya semakin parah belakangan ini?

“mulailah!”Ucap Jiyeon mulai kesal karena Chunji hanya diam melamun.

“nde” angguk Chunji pada Jiyeon yang berdiri di sampingnya.

Lemparan Chunji meleset dan diiringi tawa Jiyeon yang mengejeknya. “kau bilang mudah? Ahh payah!!” ejek Jiyeon. “biar aku yang coba” Ucap Jiyeon merebut anak panah dari tangan Chunji.

Jiyeon mulai membidik balon yang akan jadi sasarannya. “hana.. Deull.. Set!!”

Balon pecah diiringi dengan teriakan heboh Jiyeon yang menang memeluk Chunji.

“ada apa?” Jiyeon melepas rangkulan tangannya ketika melihat Chunji yang terus melamun sejak tadi tak seperti biasanya.

“anyi” Ucap Chunji menggelengkan kepalnya merangkul bahu Jiyeon.

Chunji memejamkan matanya sekali lagi dan penglihatan buram tadi mulai terlihat perlahan-lahan menjelas seperti awal meskipun terkadang akan tiba-tiba kembali memburam lagi. Ditariknya tangan Jiyeon yang berjalan dihadapannya. Ia memegangi pipi Jiyeon dan menatapnya dalam-dalam. Menatap wajahnya, matanya, hidungnya terutama senyum wanita itu. Ia seakan sangat merindukan wajah itu. Bukan, Chunji hanya takut Ia tak bisa melihat wajah manis di hadapannya ini setelah kejadian tadi.

“wae?” Tanya Jiyeon.

Belum Chunji menjawab, Chunji menariknya kedalam pelukannya. “Jiyeon~a, aku benar-benar menyukaimu. benar-benar menyukaimu” Terdengar desahan nafas berat Chunji.

Jiyeon membelas pelukannya dengan erat. “arra.. Arra…”

Chunji menghantukkan kepalanya pada meja didepannya. bulir airmatanya jatuh. Dikeluarkannya ponselnya untuk menghubungi Jiyeon. Pandangannya mulai memburam lagi saat Ia menekan tombol Hijau dilayar ponselnya. Ia mencoba membuka dan menutup matanya seperti yang waktu itu Ia lakukan saat pandangannya mulai memburuk lagi.

“yeoboseyo~”terdengar suara lembut dari ponselnya. “Chunji~a”

Chunji panik dan mulai mendekatkan ponselnya pada telinganya.

“gwenchana?”Tanya Jiyeon karna Chunji sama sekali tak menjawab sapaannya.

“nde..” Ucap Chunji singkat.

“wae?? Kau merindukanku?”tanya Jiyeon polos.

“nde..”

Jiyeon terdiam, Chunji tak seperti ini biasanya. Jika Jiyeon bertanya apa Chunji merindukannya Chunji akan berkata jangan bermimpi. Chunji berbeda, Jiyeon tau betul hal itu.

“terjadi sesuatu?”

“anyi..”

Airmatanya terus menetes, suaranya yang terdengar mulai terisak Ia tutupi dengan tangannya.

“aku merindukanmu, Chunji~a. Gwenchana~, aku akan terus bersamamu.. Jangan khawatir”Ucap Jiyeon.

Hatinya semakin teriris saat kata itu terdengar di telinganya. Ia menutup telponnya dan berjalan lontang-lantung keluar dari rumahnya. Ia meraih payung di dekat pintu. Hatinya sedikit tenang ketika penglihatannya kembali membaik beberapa saat.

Hujan mulai turun sejak tadi, Chunji membuka payungnya dan melangkahkan kakinya menjauh dari rumahnya. Sesekali Ia akan mengulurkan tangannya merasakan rintikan hujan yang menjatuhi tangannya. Terpaan angin yang menusuk-nusuk kulitnya.

Airmatanya kembali jatuh ketika pikiran buruk terus berputar di kepalanya. Bayang-bayang ketakutan satu persatu hadir malam itu.

~”Glaucoma, anda mengalaminya. Sudah menyebar, anda terlalu terlambat menyadarinya.. Kami akan mengupayakan yang terbaik. Agar anda tak kehilangan penglihatan anda”~

 

~”aku merindukanmu, Chunji~a. Gwenchana~, aku akan terus bersamamu.. Jangan khawatir”~

 

Airmatanya semakin tak tertahankan, hatinya semakin remuk kala bayangan wajah Jiyeon terus berkutat di hatinya. Ia bahkan tak sadar menjatuhkan payung ditangannya. Otot tangannya begitu lemah ketika ketakutan itu hadir.

Chunji mendongakkan kepalanya ke langit. Air hujan jelas Ia rasakan membasahi wajahnya yang tengah basah pilu karena banjir airmata. Ia berteriak keras penuh penyesalan dan kebingungan.

“kenapa aku? Kenapa harus aku mengalami hal ini saat aku benar-benar tak bisa meninggalkannya??? Ahhhhh”

Chunji terjatuh ke tanah. Tangannya mengepal kuat, pertanda kesakitan itu semakin meliputinya. Bayang Jiyeon saat tersenyum memeluknya terbayang saat itu. Matanya kembali buram seketika semakin jelas.

Ia bangkit terus memanggil nama Jiyeon. Ketakutan tak dapat melihat senyum itu menyesakkan hatinya. Akankah itu terjadi? Ia berlari ke kediaman Jiyeon dengan penglihatan kurang baik. Terkadang Ia bahkan terjatuh karna tersandung atau bahkan menabrak sesuatu di depannya.

Hujan semakin deras. Ia terduduk didepan rumah Jiyeon. Jiyeon yang saat itu berada di teras rumahnya untuk menikmati hujan malam itu terkejut melihat Chunji datang di jam seperti ini. Matanya membesar berlari kelantai bawah menghampiri Chunji dengan payung di tangannya.

“Chunji~a”Panggil Jiyeon.

Meskipun penglihatannya mulai tak jelas, dengan sigap Ia berdiri dan menatap Jiyeon. Jiyeon mendekat mengarahkan separuh payungnya pada Chunji. Tangan kanan Jiyeon meraih tangan Chunji. Digenggamnya dengan erat sesekali ia arahkan ke wajahnya agar Chunji merasa hangat.

Chunji menarik Jiyeon kedalam pelukannya. Payung yang ditangan Jiyeon jatuh begitu saja sehingga mereka di basahi hujan sekarang.

“kau benar-benar serius merindukanku?”tanya Jiyeon dengan nada bergetar.

Banyak pertanyaan di kepalanya, tapi Ia tau itu akan percuma karena chunji takkan menjawabnya. Ia tau sesuatu terjadi pada Chunji. Jiyeon terus memutar otaknya untuk mencari tahu ada apa tapi Ia benar-benar blank karna tak satupun yang aneh dengan Chunji belakangan ini. Kecuali Chunji ingin terus bertemu dan menatap wajahnya berlama-lama.

Jiyeon diam, Ia tak berani berkata apapun karna takut menyakiti hati Chunji ataupun bahkan dirinya sendiri. Chunji meletakkan kedua tangannya di pipi Jiyeon seperti belakangan yang sering Ia lakukan. Jiyeon balas menatapnya dengan ekspresi wajah senyum namun tak di pungkiri saat itu Jiyeon tengah khawatir setengah mati.

Chunji menangis namun karna hujan saat itu Jiyeon bahkan tak menyadarinya karena sejak awal Chunji terus memasang senyumnya. Jiyeon balas memegang tangan Chunji yang masih melekat erat di pipinya. Seakan menyampaikan bahwa Ia takkan kemana-mana dan semua akan baik-baik saja.

Dalam hati Chunji terus memohon agar Tuhan memperjelas penglihatannya saat itu. Meskipun Ia sudah berfirasat penglihatannya akan hilang hari itu juga, setidaknya Ia bisa melihat wajah Jiyeon untuk terakhir kalinya. Wajah Jiyeon semakin mulai jelas dalam penglihatannya. Ia tersenyum puas karna setidaknya Tuhan mendengar permintaannya. Ditariknya Jiyeon dalam pelukannya.

“Jiyeon~a.. Park Jiyeon… Saranghae…”

“hm…”

*end-flashback*

“Jiyeon~a”Panggil Chunji.

“nde?”jawab Jiyeon tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Chunji yang sibuk memeriksa guci buatan Chunji yang hampir selesai.

“Jika kita berpisah apa..” Jiyeon diam, spontan Ia menatap kearah Chunji.

“apa maksudmu?”

“anyi..” Ucap Chunji mengalihkan wajahnya dari tatapan Jiyeon. “lupakanlah”

“kau jangan menakutiku!”Omel Jiyeon.

Chunji tersenyum sambil terus memutar-mutar alat pembuat tembikar di depannya. Sementara Jiyeon sibuk memindahkan beberapa tembikar dari meja dan menyusunnya di lemari.

“Aku..”

“wae???”sambar Jiyeon.

“Jiyeon~a”

“Hm”

“Jika aku tak bisa lagi melihat senyummu apa kau akan tetap bersamaku?”

~plakkkk…~

tembikar di tangan Jiyeon jatuh pecah berhamburan dilantai. Matanya tak berani menatap Chunji saat itu.

“ahh, aku tau itu tak mungkin. Mungkin akan lebih baik jika kita tak saling menatap lagi..”Ucap Chunji mulai merasakan kehancuran mendalam perlahan-lahan.

Jiyeon diam seribu kata berusaha mencerna kata-kata yang baru saja di keluarkan oleh Chunji dan di dengarkan sendiri oleh telinga. Apa itu artinya Chunji meminta mereka berpisah? Tapi kenapa? Jiyeon bahkan tak berani menanyakan hal itu. Itu terlalu begitu menyakitkannya. Ia belum siap dengan hal-hal yang dilakukan tanpa Chunji.

Kakinya tak terasa terus mundur menjauh dari tempat Chunji berada. Chunji mendengar langkah itu, itu benar-benar menyakitinya. Suara pintu terdengar keras tertutup. Jiyeon berlari keluar. Airmatanya jatuh, Ia meremas gaun yang di kenakannya waktu itu. Kecewa, takut, marah, kesal semuanya menyatuh menjadi satu. Ia benar-benar kecewa pada Chunji. Setidaknya Jika ada masalah seharusnya Ia mengatakannya dan mencari jalan keluarnya. Kenapa harus mengorbankan cinta mereka? Ia merasa marah makanya Ia keluar dari sana. Sesak dihatinya terasa penuh memenuhi sudut ruang hatinya. Tangisnya semakin pecah ketika mengingat sepatah kata yang Chunji maksud ialah sebuah perpisahan.

Di dalam galerry Chunji masih berusaha fokus dengan tembikar yang Ia buat. Seperti tak terjadi apapun, namun tak dipingkiri airmatanya mulai menetes terus dan terus tak tau bagaimana cara menghentikannya. Tembikar yang Ia buat bahkan semakin hancur dan tak bermodel lagi. Ia kesal dan melemparkannya ketanah saat itu.

kakinya melangkah pada deretan tembikar yang setengah jadi. Dua tangannya yang kuat menghempas semuanya kelantai. Suara pecahan itu serasa mewakili perasaannya saat itu. Ia juga kecewa pada sikap Jiyeon. Chunji menganggap Jiyeon tak terima keadaannya saat ini.

Ia kesal seperti ingin menusukkan serpihan-sempihan tembikar itu kematanya. Chunji menutup matanya dan kemudian membukanya, melakukannya berulang kali tapi percuma tak ada yang berubah. Yang ia lihat tetaplah hitam buram dan tak berbentuk. Pandangannya kosong dan hampa sejak malam itu.

Malam dimana hal terakhir dilihatnya adalah senyuman Jiyeon yang terlihat tak sepenuh hati. Tapi ia bahagia setidaknya Ia bisa melihat hal yang disukainya untuk terakhir kalinya dalam hidupnya. Ia mengeluarkan sebuah gantungan keramik miliknya. Gantungan yang selama ini bertengger pada ponselnya dan Jiyeon. Tangannya bergetar meletakkan benda itu di atas meja.

Chunji bangkit, Ia memaksakan senyumnya melihat sekeliling galerry meskipun tak sedikitpun dapat Ia lihat lagi. Kakinya melangkah pasti keluar dari galerry di temani debuah tongkat yang menuntun jalannya pergi.

“aku mencintamu jiyeon~a.. Aku akan selalu mencintamu~”

Jiyeon masih menangis karena rasa kecewanya yang amat mendalam pada Chunji. Ia bangkit dari duduknya menghapus airmatanya dan melangkah memasuki galerry. Ia sadar bahwa Chunji tak bisa seperti ini dan harus menjelaskan semuanya padanya. Jiyeon berusaha menyakinkan bahwa Chunji pasti punya alasan lain. Yang jelas Jiyeon tak ingin berpisah dengannya. Jika Chunji benar-benar mencintainya seharusnya hubungan mereka tak boleh berakhir begitu saja.

ekspresi kekecewaan kembali tampak di wajahnya saat membuka gallery dan mendapati pecahan-pecahan keramik dimana-mana. Ia ingat saat ia memecahkan keramik beberapa menit lalu.

“Dia pasti kecewa padaku…”Ucap Jiyeon.

Airmatanya jatuh bersamaan dengan perasaannya yang luluh lantah ketika melihat gantungan pemberiannya saat 1 tahun hubungannya dengan Chunji ada di meja. Secarik kertas yang basah ada disana bersama gantungan itu.

~jangan mencariku.. Hiduplah dengan bahagia.. Karna dengan begitu aku juga akan hidup dengan bahagia~

Kemana Chunji? dia sudah pergi? Kenapa Ia pergi? Apa Ia benar-benar ingin meninggalkanku? pertanyaan yang ada di kepala Jiyeon namun tak mampu Ia ucapkan.Kakinya berlari keluar mencari keberadaan Chunji kesana kemari.

Seharian mencarinya tapi tak juga mendapatkan jejaknya. Kaki Jiyeon serasa patah, perasaannya hancur berkeping-keping. Hujan turun seakan membasahi lukanya yang pedih menjadi semakin pedih mengingat pelukan terakhir yang Ia dapatkan dari Chunji saat Hujan malam itu.

“Kau kemana? Kenapa meninggalkanku seperti ini? Kau bilang kau mencintaku.. Lalu kenapa harus pergi? Jawab aku Chunji~a!!!”teriak Jiyeon. “jawab aku Lee Chunji!!!”

~”Dan jika kau benar-benar mencintaku.. Kau takkan pernah salah paham tentang ucapanku.. Aku hanya ingin mengatakan tetap disampingku. Aku ingin kau mencintaiku…meskipun saat ini aku hanya bisa merasakan senyumanmu dan tak bisa menatapnya lagi seperti dulu….”~ Chunji

-end-

#otte? Sedih ya? Nggk ngebayangin klo Chunji beneran Buta 😥 aku orang pertama yang akan sangatsangat bersedih *plakkk* udah ah!! Please komennya

Advertisements

23 thoughts on “[Oneshoot] If You Loved Me

  1. whoaaa ini srius sedih banget trakhirnya dan nasib jiyi jd brasa digantungin gt aja.bner2 rumit nh chunjiyeon sama2 salah paham,chunji salah krn ga jujur k jiyi ttg kondisinya sedangkan jiyi seolah ngasih reaksi yg gampag disalahartikan sama chunji yg kyknya sensitif.aargh gregetan bacanya knp jiyi ga langsung mnta pnjelasan k chunji jd kabur kan tuh..ini perlu sequel pake banget thor happy ending jebaaal kkk~
    nb: btw ak ud baca pas kmarenan n uda komen jg sptny tp kok ga muncul yaa jd komen lg deg hehe XD

  2. SEQUEL,SEQUEL,SEQUEL,SEQUEL.Sequel dong ceritanya atau buat video buat lanjutin cerita cinta hoya dan misung yang di MV IF YOU LOVED ME.(maaf bicara nya nyasar) sequel yah

  3. aaaa ini sedih banget 😥 nyesek banget 😥 sama kae kamu aku juga gabisa ngebayangin kalo chunji buta 😥
    tapi mereka ini cukuk sweet juga diawal tapi ending nya bikin nyesek 😥 ga kuat 😥
    bisa bikinin sequelnya ga kak? yg happy end tapi 😀 kekeke soalnya ini sedih banget 😥 gatega liat mereka pisah 😥

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s