[2nd Chapter] INVISIBLE

Invisible - hanhyema design art

Credit : Hanhyema Design Art

INVISIBLE

By. Rebecca Lee

Lee Hyunra, Choi Seunghyun

and some other cast.

Sad, Friendship, Romance | T | Chaptered

Songs :

Taylor Swift ~ Invisible

Taylor Swift ~ Teardrops On My Guitar

~~~~

[From Me]

Wazzup, guys! :)

First of all, aku mau minta maaf karena update chapter ini butuh waktu yang lumayan lama. Beberapa mingu terakhir aku sibuk denan banyak kegiatan, so yeah. Dan kali ini aku bawain kalian chapter kedua fic ini yang sebenernya udah beberapa waktu lalu jadinya. Untuk kalian yang mungkin belum baca atau udah lupa sama cerita awal fic ini bisa cek TEASER & 1st CHAPTER. My disclaimer : The stories and OC character, they’re all belong to me. Karakter sisanya aku pinjem dari yang punya nama. DON’T BE A PLAGIATOR! COMMENT/LIKE & NO BASH PLEASE.

So, here we go. I hope you enjoyed and LET’S GET STARTED! :D

~~~~

.

Cinta itu ada di tempat yang salah. Tidak seharusnya ia membiarkan hal itu terjadi pada dirinya. Dan bukan pada lelaki itu pula seharusnya rasa itu ada. Namun apapun itu, nasi telah menjadi bubur. Benih itu telah bertunas dan perlahan bertumbuh sempurna.

.

~~~~

.

.

[CHAPTER 2]

Seunghyun’s P.O.V

Gadis itu, dia berubah akhir-akhir ini. Dan tidak, aku tidak sedang berbicara tentang gadisku yang itu, tapi gadisku yang lainnya. Satu-satunya yang selalu ada disisiku kapanpun aku membutuhkannya. Sebagian kecil dari duniaku, sahabat nakalku. Ya, aku berbicara tentangnya.

Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja tapi dia benar-benar,,, berbeda. Dia sedikit tidak bisa kuraih beberapa waktu ini. Menyendiri dan menduakanku bersama salah satu koleksi novel terbarunya. Ayolah, kenapa harus dengan novel? Menggantikan wajah tampanku dengan novel? Yang benar saja. Baiklah, ini memang tidak penting dan bukan tentang novel itu juga.

Harus kuakui terkadang menjadi seorang pria adalah hal yang sulit dan membuatku jengkel, terutama ketika aku harus memulainya dengan wanita. Tak hanya dengan Dara, dengan Hyunra pun sama rumitnya. Jangan salahkan aku, salahkan saja kenapa alam membuat pria sama sekali kurang peka dan terlalu bermain dengan logikanya. Lebih memmpercayai apa yang mereka lihat dibanding dengan yang dirasakan.

Hyunra sedikit berubah dan tentu saja aku ingin tahu apa alasannya. Tapi, bagaimana bisa aku tahu kalau gadis itu saja masih misterius untukku? Aku benar-benar tak pernah bisa memahami Hyunra-ku sepenuhnya. Sungguh, hampir 3 tahun persahabatan kami sepertinya tidak terlalu berguna untukku. Aku benar-benar payah untuk menjadi sahabatnya. Dan mendapat kenyataan seperti itu rasanya seperti mendapat sambaran ratusan petir dalam satu waktu. Sungguh menyakitkan.

Jujur, aku ingin sekali saja dalam satu waktu bisa sepenuhnya memahami Hyunra ketika dia membutuhkanku disisinya. Aku ingin sekali saja tidak merasa bodoh ketika gadis itu terluka dan kemudian menangis di hadapanku. Sekali saja saat aku menatap matanya dan aku tahu betul dia sedang tidak baik-baik saja dan kemudian aku bisa memeluknya seerat mungkin. Sekali saja membiarkannya menangis di bahuku hingga ia merasa puas dan tenang. Intinya, aku ingin sehari saja bisa melakukan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan seorang sahabat. Aku ingin melakukan segala sesuatu yang pernah Hyunra lakukan padaku.

“Maaf,” ucapku spontan ketika kami sedang berada di dalam mobil Hyunra sepulang sekolah.

“Uh?” aku baru menyadari ucapanku ketika melihat respon terkejut Hyunra. Aku sendiri terkejut kenapa tiba-tiba bisa berkata seperti itu.

“Bukan apa-apa. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa berkata seperti itu.” Jawabku canggung.

“Kau yakin bukan apa-apa? Mau jelaskan sesuatu padaku mungkin?” tanya Hyunra.

Anak ini, kenapa aku jadi merasa dia punya kemampuan untuk membaca pikiran? Jika iya, aku benci kemampuannya yang satu ini.

“Mungkin aku memang hanya ingin minta maaf padamu.” Jawabku sekenanya. Aku yakin sebentar lagi otakku akan membuat mulutku mengatakan segalanya setelah pertanyaan Hyunra selanjutnya.

“Minta maaf padaku? Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Big bro.” Hyunra tersenyum sambil terus fokus pada jalanan di hadapannya.

Satu lagi kepayahanku. Bahkan di mobil ini harus dia yang menyetir untukku, bukan aku yang menyetir untuknya. Padahal kan aku yang namja. Sungguh, salahkanlah diriku kenapa harus phobia menyetir.

“Bukan kesalahan secara fisik memang. Aku hanya minta maaf padamu karena aku bukan sahabat yang baik. Aku payah.”

See? Aku benar-benar mengatakannya. Kau jenius, Seunghyun.

“Bukan sahabat yang baik bagaimana? Kau justru yang terbaik. Kau adalah satu-satunya manusia di sekolah itu yang mau mendatangiku disaat yang lainnya berusaha tidak memiliki urusan denganku,” ada sedikit nada bercanda di balik kalimat serius Hyunra.

“Yang itu memang benar. Kau juga tahu aku sendiri tidak bisa cocok dengan anak-anak itu. Kalau bukan sejak awal sekolah itu yang diinginkan orang tuaku mana mau aku kesana,” aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan kami.

“Nasib yang sama, itu yang mendekatkan kita. Hey, jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat katakan kenapa kau minta maaf padaku tadi!” Hyunra kembali mendesakku.

“Eem, sungguh aku tidak tahu. Ah, baiklah aku bicara. Itu karena aku tidak bisa memahami sepenuhnya. Maksudku, kau tahu, tadi waktu istirahat. Harusnya aku tahu kau sedang badmood, tapi kenyataannya?”

“Hanya itu? Ayolah, itu hanya hal sepele. Tidak usah terlalu dipikirkan,” Hyunra menepuk bahuku sekilas.

“Tapi sungguh, aku bukan sahabat yang baik untukmu. Aku tidak peka, aku tidak pengertian, aku egois. Aku lebih banyak bercerita tentang diriku dan segala masalahku dan hampir tidak pernah memberimu kesempatan yang sama. Bahkan saat kau datang dengan segala beban masalahmu,” aku berhenti berucap. Aku hampir tidak yakin untuk melanjutkannya tapi pada akhirnya aku tetap mengatakannya. “Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu. See? Aku payah, Hyunra.” Kuarahkan pandanganku pada Hyunra yang terus fokus menyetir. Dia diam.

“Hyunra?”

“Berhentilah sebelum aku benar-benar tidak menyukai arah pembicaraan kita,” untuk kesekian kalinya sahabatku berucap dengan nada suara yang datar, dingin dan kalimat yang menusukku. 

“Maaf.” Dan sisanya aku hanya bisa duduk sambil tertunduk selama beberapa menit.

Sungguh bukan ide yang bagus membuat Hyunra marah. Dia mengerikan, kau tahu? dan itulah yang membuat tak seorangpun di sekolah memiliki masalahnya kecuali mereka benar-benar ingin berakhir mengenaskan. Hal itu tentu saja pengecualian untukku, Hyunra tidak pernah benar-benar marah padaku. Dia hanya akan diam, memendam marahnya sendiri dan membuatku khawatir. Aku tidak pernah tahu apa yang dia lakukan di belakangku saat ia marah padaku. Hanya bisa berharap gadis itu tidak akan menyakiti dirinya sendiri.

“Sungguh, hari ini aku sudah cukup muak dengan gadismu. Jangan buat aku juga muak padamu,” dan tiba-tiba Hyunra menepikan mobilnya.

Kami berada di sebuah jalanan lengan dengan pemandangan tepi pantai di sisi kanan. Dan aku tidak tahu apa yang akan Hyunra lakukan padaku setelah ini.

“Turun.”

Nafasku sempat tercekat mendengar perintahnya barusan. “Dia tidak benar-benar akan menurunkanku dan meninggalkanku di tempat ini, ‘kan?” hanya itu yang ada di pikiranku sekarang. Tanpa bicara aku segera menurutinya. Membuka pintu dan turun dari mobil. Dan tak lama kemudian dia juga keluar dari mobil.

“Dia tidak meninggalkanku. Baguslah.”

Hyunra berjalan ke arahku dan tepat berhenti dengan wajahnya yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahku. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan tapi tatapan matanya menyiratkan bahwa gadis itu sedih. Dia menyimpan sesuatu dalam hatinya dan aku rasa itu beban yang berat. Sama sekali berbeda dengan perkiraanku bahwa Hyunra akan memberikan tatapan tajam dan mematikan miliknya.

“Kau,” suaranya terdengar sedikit bergetar.

Sesaat kemudian Hyunra terdiam. Kedua matanya terpejam dan ia menarik napas panjang. “Lupakan.” Kemudian ia memalingkan wajahnya dariku.

Dan kembali kami berdua saling diam dalam posisi berdiri yang sama. Aku tetap memandang wajahnya yang berpaling menatap deburan ombak di sisi kami. Dalam hatiku berkata bahwa inilah kesempatanku untuk menjadi sahabat yang baik. Kali ini dia membutuhkanku dan aku tak boleh mengecewakannya.

Apapun yang akan terjadi setelahnya, Choi Seunghyun.

GREP!

Dengan satu gerakan cepat aku beranikan diri untuk menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Aku tidak peduli dengan tubuhnya yang berontak pelan. Benar-benar tidak akan peduli jika Hyunra tidak suka dan akan menghajarku setelah ini karena telah lancang memeluknya. Aku hanya tidak ingin terlambat dan membiarkan air matanya jatuh tepat di depan mataku lagi.

“Melihatmu sedih tanpa aku bisa melakukan apapun. Membuatku benci pada diri sendiri. Kali ini keluarkan saja semua yang jadi bebanmu,” ucapku sambil mengusap lembut rambutnya.  

Aku terus memeluknya dan kami hanya saling diam. Terdengar sesekali isakan kecil yang keluar darinya. Semua itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya aku merasakan sesuatu melingkar di pinggangku. Terkejut dan sedikit sulit untuk dipercaya bahwa Hyunra memelukku. Selama ini tiap kali aku memeluknya jika ia sedang sedih Hyunra jarang sekali membalas pelukanku. Biasanya dia hanya bersandar padaku atau memelukku lemah. Namun kali ini sebuah kejutan karena ia bahkan memelukku erat, sangat erat. Aku tersenyum singkat dengan perasaan lega yang muncul di dadaku karena kali ini ia menerimaku.

“Tidak adil. Kenapa semuanya tidak adil, Bi?” Hyunra mulai kembali emosional.

Bi, dia memang selalu memanggilku seperti itu. Dia memberiku nama panggilan Tabi dan hanya memanggilku seperti itu disaat seperti ini, saat kami hanya berdua.

“Aku tidak paham maksudmu, Hyun,” lagi kubelai rambutnya dengan lembut.

“Bukan apa-apa. Maaf aku terlalu emosional.” Hyunra melepas pelukannya dan dengan kasar menghapus air matanya. Kini ia berdiri di hadapanku sambil menundukkan kepala.

Aku menghela napas panjang dan menatapnya sendu. Kuletakkan kedua tanganku di pundaknya yang cukup kokoh untuk ukuran seorang gadis. Hyunra memang seorang tomboy dan penyuka Thai Boxing, itulah sebabnya dia memiliki tubuh yang cukup atletis. Dan aku menyukainya.

“Lee Hyunra, kau masih menganggapku seorang sahabat, ‘kan?” dan Hyunra mengangkat kepalanya menatapku.

“Maksudmu?” mata sembabnya berusaha memahamiku.

“Mau sampai kapan kau seperti ini? Kau sadar tidak kau selalu menutupi semuanya dariku. Kau menangis, marah, terluka dan meluapkan semuanya di hadapanku, tapi saat aku bertanya kenapa dan aku coba memahamimu kau berkata kau baik-baik saja. Kau hampir tidak pernah jujur padaku tentang perasaanmu yang sebenarnya,” aku mengungkapkan rasa yang selama ini cukup mengganjal perasaanku.

“Apa kau masih menganggapku seorang sahabat? Apa aku masih benar-benar sahabatmu?” terus kutatap matanya intens.

“Kau selalu memintaku untuk melupakan semuanya. Kau terus menutupi semuanya. Kau membuatku merasa rumit memikirkanmu. Kau sadar itu?” semua kalimat itu terlontar dengan begitu mudahnya dari mulutku. Bahkan aku merasa ada beberapa kata yang kuucapkan di luar kontrol pikiranku.

“Aku menyusahkanmu, Bi. Mianhae.” jawabnya datar.

“Tidak, kau sama sekali tidak pernah menyusahkanku. Hanya saja berhentilah membuatku seperti ini. Selalu bingung dan mengkhawatirkanmu. Aku tahu betul seorang Lee Hyunra adalah seorang gadis tangguh yang kuat untuk menghadapi apapun, tapi kumohon terbukalah padaku. Sama seperti yang telah kulakukan padamu,” Hyunra menatapku sendu.

“Kau tidak perlu takut menunjukkan sisi rapuhmu padaku,” aku mengakhiri kalimatku. Kuturunkan kedua tanganku dari pundaknya dan kugenggam kedua tangannya. Hyunra kembali menunduk.

“Hiks… hiks… hiks…”

“Kemarilah,” kembali kuraih kepalanya dan kusandarkan di dadaku. “Baiklah jika kau belum ingin bercerita. Aku minta maaf jika sudah memaksamu. Sekarang menangislah sepuasmu. Menangislah sampai kau tak sanggup lagi melakukannya. Aku disini dan terus memelukmu hingga kau tenang.”

 

~…..~

 

Hyunra baru benar-benar reda ketika matahari hampir tenggelam. Dan sekarang kami sedang duduk di atas hamparan pasir putih tepat di tepi pantai. Hyunra berkata ia tidak ingin pulang jika matahari belum kembali ke peraduannya. Dengan perlahan kutengok Hyunra yang kini memejamkan mata dan tertidur di bahuku.

Sungguh aku tidak menyangka seorang gadis yang berkarakter seperti Hyunra bisa terlihat selemah dan serapuh ini saat ia terluka. Dan ini adalah pertama kalinya aku melihatnya seperti ini. Sama sekali bukan seorang Hyunra yang selama ini ku kenal.

“Kau tahu, disaat seperti ini aku merasa kau bukan Hyunra yang aku kenal. Kau terlihat sama seperti gadis lain yang harus dilindungi dan dijaga. Dan aku janji akan berusaha melakukan itu untukmu. Aku akan melakukannya untukmu karena kau berharga untukku, Lee Hyunra,” aku bermonolog, tapi dalam hati aku yakin Hyunra mendengar janjiku di alam bawah sadarnya.

 

 

Hyunra’s P.O.V

  Aku mendengarnya. Saat Seunghyun mengucapkan janji untuk melindungi dan menjagaku. Hatiku terasa hangat ketika kalimat itu terucap, tapi disaat yang sama mataku kembali mulai tergenang.

Seunghyun, harus berapa kali lagi kau bersikap seperti ini padaku? Tidak cukupkah dengan kau hadir dalam hidupku? kau sudah membuatku sangat tidak waras. Berhentilah, kumohon berhentilah. Semua ini memang indah, tapi selama kau masih terbagi dan bukan utuh untukku kau hanya akan semakin dalam melukaiku. Berhentilah jika kau tidak akan pernah jadi milikku.

“Seberat itukah yang sedang kau tanggung? Bahkan dalam tidurmu pun kau masih harus menangis,” kurasakan tangan Seunghyun menyentuh pipi dan menyeka air mata yang berhasil lolos. Dia benar-benar berpikiran aku tertidur dengan pulas.

Memang sangat berat, terlalu berat bahkan. Semakin berat lagi karena kau tidak tahu bahwa kaulah beban itu.

“Aku benar-benar ingin tahu masalah apa yang sedang kau hadapi saat ini. Kuharap itu tidak berkaitan denganmu. Aku tidak ingin jadi orang yang menyakitimu,” lagi Seunghyun berucap. Dan semakin ia berucap aku hanya bisa membalasnya dalam hati.

Sayangnya ini semua tentangmu. Dan jika kau bilang kau tidak ingin menyakitiku, pikirkan lagi itu. Saat ini kau satu-satunya orang yang menyakitiku begitu dalam tanpa sadar.

~TBC~

Advertisements

4 thoughts on “[2nd Chapter] INVISIBLE

  1. emang susah ya, menjalin persahabatan dengan lawan jenis tu pasti menimbulkan benih” cinta, dan itu akan menyakitkan jika cinta itu bertepuk sebelah tangan 🙂
    next thor…? he8

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s