[FF FREELANCE] Your Kiss Is My Camera

Tittle: your kiss is my camera (chapter 1 dari sekian)

Cast:- Park Chanyeol as Chanyeol/ Park Dobi..

–          Kim Nana as Nana (OC)..

–          Wu Yifan as Kris..

Length: chapter..

Genre: sad, romance, gaje, rancu, dan eupleu..😀

Rating: PG-15+

Author: AISYAH NURHALIDA (AIKYU)..

Soundtrack: -EXO-Don’t go..

-EXO-Peterpan..

-EXO-Baby (all of them is korean version)

Summary: ”a memorize doesn’t need to remember, but you just have to feel it

Image

Alhamdulillah ya Allah (sujud sukur :’)), Chapter pertama kelar juga Oiii. sebenernya rencana nih ff mau dibikin one shoot tapi apa daya tangan tak sampai, ternyata poanjang SODARAH-SODARAH. gak bisa dipersempit lagi hehe..

sebelumnya, salam kenal readers semua. Saya UCU, author amatir yang kalau buat ff gak pernah bisa bikin endingnya -_-. ini ff perdana loh, di khususkan buat sahabat sayah tercintah TITA SITI FATIMAH yang ultah tgl 6 kemarin (“agak” telat yah..hehe), dia ngebiasin CAST di atas noh. Umumnya sih buat kalian semua.😀

Bantu do’a buat ultah tita kali ini yah!.

WARNING!, Jangan kaget jangan heran kalau ketemu Typo beserta ejaan yang belum disempurnakan, wokehhh.. siippp!

segitu aja deh cuap-cuapnya, gak suka CAW, kalo suka ya ALHAMDULILLAH. Mangga dibaca, saya haturkan si ganteng unyu-unyu badai cetar membahana terpampang Park Chanyeol!!!.kkkk(LOL)

CEK THIS OUT..

 

***

PROLOG,

Aku mencintaimu bahkan sebelum aku mengingatmu

ragaku terikat padamu bahkan sebelum aku tahu kau ada

bagaimana mungkin ingatan tentangmu hilang,

jika aku mencintaimu bahkan sebelum aku ingat cinta itu apa

jika mengingatmu berarti sakit yang mematikan

maka biarkan aku mati untuk mencintaimu

_Park chanyeol_

 

hari ini agendaku masih ini-ini saja. Duduk diam disini, mengencangkan seluruh indraku, mencoba mencermati benda-benda indah karya tuhan, menikmati sensasi rasa damai yang dibagikan angin, selama aku bisa. Karena aku sudah tahu pasti kapan rasa itu menghilang. Kapan hal-hal indah yang diam-diam aku rekam dalam kungkungan lensa akan lenyap. Mereka bahkan tak sudi memberikanku aba-aba untuk setidaknya mempersiapkan diri sebelum menjadi kebingungan dan tak tahu apa-apa, lagi.

Disampingku duduk seorang ibu yang penuh dengan peluh di keningnya. Ia terlihat menghitung uang lembaran 100 won dengan teliti. Matanya melirik ke arahku, lalu tersenyum. Matanya berpindah ke keranjang besar di samping tubuhnya. Kemudian mengasongkan apel merah segar padaku. Aku mulai mengotak-atik kameraku untuk memotret apel itu.

“ambilah, tak perlu kau potret. Kau sudah mengenal aku dan apelku dari dulu Chanyeol-shi. Aku memang tak berjualan disini selama sebulan kemarin. Mian eoh?”

Katanya seolah kami adalah teman karib. Aku bingung setengah mati, alisku merapat heran memperhatikan senyumnya yang seolah tak asing. Lalu ia bicara lagi

“cha, ambilah. Kalau kau tak percaya aku orang baik, cari saja di kameramu. Kau pasti menemukan wajahku.”

Ia masih tesenyum setelah merampungkan kalimatnya. Tangannya bergerak-gerak mengisyaratkan pemaksaan secara tak frontal untuk menerima pemberian apel itu.

“ghamsa ahjumma.”

Akhirnya tanganku menyentuh apel segar itu. Meski belum paham derai kalimatnya. Yang jelas naluriku berkata dia bukan orang jahat. Tatapannya memperlihatkan bahwa ia menyayangiku sebagai orang asing. Entah itu benar atau tidak. Itulah yang terasa.

Ia membelai pundakku sebelum akhirnya melenggang pergi bersama keranjang buahnya yang kelihatan kosong. Setelah benar-benar hilang. Aku melakukan perintah tak resminya itu untuk melihat-lihat kamera.

Saat sedang mencari. 3..2..1.. ZLEB. Aku mengerang sakit. Sesuatu seperti menusukku di bagian sini. Tepat di kepalaku. Tapi hanya sebentar saja. Selebihnya aku malah linglung. Tiba-tiba saja aku seperti lupa diri. Aku melihat sekelilingku dengan was-was. Dimana aku?. Nafasku menderu keras. Tiap hentaknya menegaskan aku sedang tak baik-baik saja. Ketakutan menjalariku dengan cepat. Mengalirkan keringat aneh dari tiap penjuru tubuh. Aku tak mengenal siapa aku. Aku meraba tiap inci tubuhku. Kenapa aku sebesar ini. Bukankah aku masih duduk di kelas 6 SD. EOMMA!!.

“Aaahh!!!.”

Aku tersungkur ke rerumputan. Memegangi dengan brutal kepala tak berguna ini. Kenapa tak ada satupun yang bisa aku ingat setelah hari kelulusan SD. Sial. seberapa kuat aku mencoba mengingat. Sakit ini semakin menggerogoti kepalaku. Tuhan, ada apa sebenarnya. Aku meringkuk untuk menenangkan emosiku yang sedang ingin memukul seseorang ini. Harus marah pada siapa aku ini. Siapa sebenarnya yang harus kupukul. Arggh.

Aku masih berusaha menemukan titik tenangku. Sampai aku menemukan deretan huruf besar di lengan kiriku. Aku menepekurinya. Dan sedetik kemudian menyadari ini seperti sebuah clue.

“LIHAT KAMERAMU SAAT KEBINGUNGAN.”

Dengan panik aku menghidupkan alat yang entah dari kapan tergantung di pundakku. Menekan-nekan tombol next seperti sedang membaca sebuah novel dengan gemetar. Di gambar pertama dan kedua aku melihat diriku saat kelulusan sekolah dasar. Tepat di gambar ke-3, ada sebuah video. Rasa takut dan ingin tahuku melebur mendorong ibu jari menekan play di layar. Telingaku terpasang sempurna mendengarkan gambar bergerak itu. Suaranya memang agak menderu. Namun masih bisa kudengar jelas tangisan ibu disana. Dia tampak ditemani seorang pria. Dan aku tahu persis pria itu adalah seorang uisa. Seksama aku perhatikan untai penjelasan pria berjas putih dengan stetoskop di pundaknya itu.

*flashback

“anakmu akan kehilangan ingatannya setiap hari ke-30 sepanjang hidupnya.” Dokter itu menggunakan bahasa informal pada wanita yang kebetulan adalah teman dekatnya itu.

“maksud dokter?.” Masih dengan isaknya si ibu gugup bertanya.

“setiap hari ke-30, mulai dari hari ini, ingatannya akan selalu kembali ke masa kelulusan SD, ke hari ini.” Ucap pria 40’an itu hati-hati.

“bagaimana bisa manusia meramalkan hidup anak saya.” Lirih ibu itu berbisik. Sementara tangannya setia membekap wajah yang sudah banjir airmata.

“ini hanya terkaan kami saja Sora. Tuhan yang urus semua. Tapi menurut hasil rongent. Tali ingatannya hanya terhubung dalam waktu 30 hari saja. Kami menduga bukan semata-mata atas insting. kau harus mengerti kami juga turut berduka disini.” Dokter itu menjelaskan perlahan, mencoba meringankan derita wanita di depannya dengan menepuk-nepuk pundak wanita itu menguatkan.

“kalau begitu bagaimana cara menyembuhkannya?.” Han sora bertanya lagi masih dengan membekam wajahnya. Ia sedang tak berani menatap dunia saat ini. Yang ditanya hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab.

“ini jenis penyakit baru. Pihak rumah sakit akan mencoba menghubungi tim riset Amerika sebelum meneliti secara serius seluk-beluk penyakit ini. kau mau kan sabar menunggu kami?.” Senyum dokter berkulit putih itu merekah di akhir kalimatnya. Kemudian melanjutkan.

“kami akan berusaha semampunya.” Dokter itu masih membingkaikan senyum di wajahnya yang lelah. Setidaknya ia membiarkan salahsatu diantara mereka tegar. Alih-alih ikut berduka seperti ibu dari pasien pribadinya itu.

*flashback end

_TITA_

_Author POV_

Matanya terpejam. Mengendalikan tenang agar mengalir di setiap sela gundah. Kini dia tahu semuanya. Tentang dirinya, tentang ingatannya, tentang penyakitnya yang tak mematikan tapi sudah cukup membuatnya ingin segera mati, dan 30 hari yang tersisa miliknya. Pria 21 tahun itu mematikan seluruh indranya kecuali pendengaran. Betapa mendengar adalah hal yang paling indah saat ini. Tanpa memperdulikan apapun. Tanpa khawatir akan apapun. Tugasnya hanyalah mendengar. Dan mensyukuri bahwa dunia masih rela membagi suara terindahnya.

Pada waktu yang sama. Di taman yang sama. Seorang gadis bernama Nana memiliki masalahnya sendiri. Dia tengah di kejar 2 pengawal ayahnya. Mereka ingin menangkap gadis itu untuk di jodohkan. Tentu saja suruhan  dari sang empunya gadis. Keringat meluncur dari segala arah. Saat ini ia tepat di tengah taman. Ia terlihat was-was dan waspada tingkat tinggi. Telapak tangannya bergesekan sambil terus dihembusinya nafas. Bukan karena dingin, hanya saja dia terlalu khawatir ia tak menemukan seorang pria bertinggi tubuh lebih dari 180, putih, tampan, dan cerdas untuk diajak kompromi. FIUH. Ini akan jadi sulit. Pria mana yang bisa sesempurna itu. Ditambah gadis cantik itu harus menemukannya SEKARANG juga. Tahu kenapa, karena pria X itu akan dijadikannya partner penipuan dalam rangka berpura-pura berpacaran. Sebagai sumbat untuk mulut ayahnya yang tak pernah berhenti membicarakan soal menikah.

“ya tuhan!,Beri aku satuuu.. saja pria dengan kriteria yang appa cari. Jebal….. munculah. Muncullah!.”

bisiknya pada kedua tangan yang ia simpan di depan bibir. Matanya bergerak berputar-putar mencari sosok pria impian appanya. Saat gelisah sudah di puncak yang paling tinggi. Manik matanya menangkap sesosok namja yang sedang memejamkan matanya. Wajah itu sungguh damai, selain ketertarikannya yang tiba-tiba muncul. Otak dan matanya bersinergi. Sosok itu benar-benar pria idaman ayah. Wajahnya, tubuhnya, kulitnya, karismanya. BINGGO!. Dapat. Gadis itu menengok ke belakang dan mendapati 2 pengawal ayahnya sudah tinggal beberapa meter. Lalu dengan panik sejurus kemudian dia sudah berada di samping Chanyeol. Ya, pria “IMPIAN APPA” itu tidak lain adalah Park chanyeol.

“chogi..” gadis itu berkata pelan dan menyentuh pipi Chanyeol tak kalah pelan dengan telunjuknya.

“ya, ireona. Aku ingin bicara.” Kali ini intonasinya lumayan naik. Dan tinjuan telunjuknya di pipi Chanyeol semakin intens.

Chanyeol yang ternyata tertidur itu akhirnya bangun karena gangguan kecil dari Nana.

“aAAa!!.” Teriaknya kaget menemukan seorang gadis sedang meraba-raba wajahnya saat sedang tertidur.

“sSSstt!!, jangan teriak.” Sergahnya sambil menempelkan telunjuk di bibirnya. Tanpa menunggu respon dari Chanyeol. Nana memonopoli keadaan. Ia mencengkram kedua lengan Chanyeol dan berkata.

“dengar, tuan titik-titik. Aku ini sedang dalam keadaan genting. Ayahku berniat menjodohkanku kalau aku tak cepat mencari kekasih atau lebih baiknya suami yang bertinggi badan lebih dari 180, putih, tampan, dan cerdas. Kau lihat 2 orang tua yang sedang berlari kemari itu. Mereka sedang berusaha menangkapku untuk di jodohkan. Jadi,HAAH.” Ia kembali bicara setelah paru-parunya yang kosong terisi kembali.

“jadi aku mohon dengan sangat. Berikan waktumu hari inii…… saja. Untuk menjadi kekasihku. Boleh ya?.”

Kalimat tanya itu menjadi akhir dari rutuknya yang puanjang. Panik adalah kata lain dari rem blong bagi mulut Nana. Bukan hanya mulutnya yang bicara. Semua anggota wajahnya juga. Mata, pipi, mereka melebur menjadi kesatuan mimik yang aneh tapi lucu. Bisa bayangkan mental baja Nana. Seorang Pria tampan asing sedang berada tepat di hadapannya. Bukannya menjaga image dia malah tampak mengerikan dengan rambut yang diikat asal. Plus overall jeans kebesaran. Dan beraninya menampakkan bibir cerewet ibu tiri. Tapi mungkin dalam versi yang lebih lucu.

Bagaimana dengan lawan bicaranya, tak usah ditanya. Chanyeol memasang mimik kaget bukan kepalang. Matanya membulat. Kedipannya mengintens beberapa kali lipat. Ia kebingungan merespon kata-kata Nana yang terlalu cepat. Akhirnya ia memutuskan untuk berkata.

“eoh, baiklah.” Walaupun setengah tak paham penjelasan dari gadis Manis di depannya.

Gadis itu tersenyum dan serta merta mengaitkan tangannya ke lengan Chanyeol. Bukan tanpa alasan. 2 pria usia 50’an yang mengejarnya tadi sudah tinggal beberapa langkah lagi menuju Nana. Dan saat sampai, para ahjussi itu kehabisan nafas. Dada mereka turun naik dengan cepat. Umur memang tak dapat di bohongi. Uban rambut baru sedikit saja tubuh mereka sudah lelah mengejar seorang gadis. Benar-benar bukan tandingan Nana.

“omo..omo.. wae geure?. Apa paman mau kubelikan minuman segar?.” Sindir Nana dengan smirk evilnya.

“bolehhh.. jugahh. Hah..hah..” sambut salah satu dari mereka.

“YA!, enak saja. Itu hanya basa-basi arra?!. Sudah ya, paman. Kalian itu sudah berumur. Lebih baik duduk manis di rumah sambil menonton televisi. Dan bilang pada ayah jangan coba-coba menjodohkan aku lagi. Karena aku sudah punya calon. Bukan begitu Oppa?.”

Mata Nana mengerling cepat tepat ke arah Chanyeol. Seolah meminta persetujuan dari pria di sebelahnya itu.

“Oppa?, naega?.” Chanyeol mengarahkan telunjuk ke dadanya. Seolah ada seseorang lagi selain dirinya yang sedang berbicara dengan Nana.

“ne. Oppa. Neo.” Dengan genit Nana menempelkan ujung jari telunjuknya ke hidung Chanyeol. Adegan itu sontak membuat wajah Chanyeol merah padam. Untung saja ia tidak terbawa suasana terlalu lama. Chanyeol masih bisa menguasai keadaan dan melanjutkan adegan pacaran itu sesuai dari umpan sang sutradara (read: Nana).

“oh, ne. Aku adalah calonnya. Iya. Benar. Aku. Hehe.” Belum terbiasa berbohong inilah hasilnya. Chanyeol terbata-bata melafalkan kata yang harusnya di ucapkan dengan tegas. Alhasil lirikan sarkatis dan  raut marah dari Nana bagiannya. Namun sedetik kemudian senyum Nana muncul lagi menghadapi 2 ahjussinya.

“bagaimana?, kalian lihat. Tak ada satu apapun yang kurang dari calonku ini. Dia tampan, putih, cerdas, dan bertinggi badan..emhh..187 cm. Tentu saja lebih dari yang diharapkan ayah. Hus..huss..” usir Nana kejam.

“aigoo nona. Kami baru saja sampai. Kalau kami pulang tanpa nona, tuan akan marah besar.” Keluh pria satunya lagi dengan wajah memelas.

“Kalau begitu Foto kami sebagai bukti untuk ayah.”

Tegas Nana langsung ke inti. Tangannya tanpa sadar semakin mengerat di lengan Chanyeol. Bahkan sebelum hati mereka bertaut. Fisik keduanya sudah merasakan keterikatan. Setelah beberapa saat saling berpandangan. 2 pengawal itu mengiyakan saran dari Nana. Sekian detik sebelum suara KLIK terdengar. Nana memiringkan kepalanya dekat ke pundak Chanyeol, dan tersenyum begitu tulus. Ketulusan itu tak berujung sia-sia. Chanyeol yang sedetik lalu menengok kearahnya ikut tertulari senyum Nana sambil menghadap ke arah kamera.

2 pria agak tua itu akhirnya berjalan menjauhi mereka. Saat sudah benar-benar tak terlihat. Nana akhirnya menghembuskan nafas leganya. lalu melamunkan bagaimana tampang ayah saat 2 ahjussinya pulang membawa foto itu.

“neo, gwenchana?.” Suara bass seseorang membuyarkan lamunannya.

“emh, gwenchana.” Balasnya sambil menengok ke asal suara. Dan menyadari sikapnya sudah terlalu tak sopan untuk ukuran orang asing yang meminta bantuan. Apalagi kalau bukan posisinya yang terlalu dekat, serta tangan tak tahu malunya yang menempel sedari tadi pada Chanyeol. Tanpa embel-embel lama, ia langsung melepaskan tangannya dan menggeser tubuhnya menjauh dari pria yang bahkan belum ia ketahui namanya itu.

Oke, saatnya tengok ekspresi Chanyeol. Matanya yang masih betah memperhatikan ekspresi malu Nana belum mau berpaling juga. Bahkan setelah Nana menjauh dan berdehem memecah keheningan diantara mereka. Pada akhirnya pria tinggi itu buka suara dengan tawa khasnya.

“HAHAHHA!!!.”

Sebenarnya lebih panjang dari sekedar 3HA. Saking tak kuat menahan tawanya, beberapa kali ia memejamkan mata dan memegangi perutnya geli. Suara tawa “PRIA”nya membahana mengisi lagit-langit taman. Untunglah tak ada yang memperhatikan suara tawa itu, apalagi mencoba memprotesnya. Hanya saja sesosok gadis yang duduk di dekatnya tak terima ia menjadi objek tertawaan.

“YAK!, apanya yang lucu?.” Semburnya cemberut.

“ani. Haha… chogi..haa. ani..”

“AISHH, MWO?.”

“HAHA..” itulah 2HA terakhirnya. Selebihnya hanyalah tarikan nafas untuk meredakan syndrom tawanya tadi.

“jelas aku tertawa. Tadi kau begitu berani dan agresif melakukan kontak fisik padaku. Sekarang lihatlah di cermin. Betapa menggelikannya wajahmu saat malu. Aigoo..ahHAHAha..”

Entah itu pujian atau hinaan. Yang jelas mampu membuat Nana salah tingkah. Baru kali ini dia bingung menyikapi sesuatu. Marah. Iya, tapi kenapa seolah hatinya menginginkan Chanyeol berkata seperti itu lagi. Weird.

“sudah aku bilang tadi itu situasi sedang genting. Mau tidak mau rasa maluku harus aku kesampingkan. Lagipula itu tadi Cuma akting. Ingat!, Cuma AKTING.”

Semprot Nana berapi-api.

“jinjja?, lalu, kau sanggup membayar berapa untuk aktingku tadi?.” Pancing Chanyeol penuh semangat. Kelihatannya ia sangat menikmati menggoda gadis ini. Tukang humor dan happy virus yang saat SD dulu disematkan dibelakang namanya, kini kembali lagi karena seseorang yang baru saja ia temui. Atau lebih tepatnya baru ia temui LAGI.

“MWO?, cih, ya. Kau tahu. Aktingmu tadi sangat-sangat-sangat BURUK. Kau mau berharap apa dari kerjamu yang jelek itu.”

“benarkah? Kalau begitu kenapa ahjussi-ahjussimu itu tidak curiga mereka dibohongi.”

“itu karena aktingku yang keren.”

Nana memukulkan kepalan tangan ke dadanya. Bangga atas bakat ‘BERBOHONG’ yang telah dianugerahkan tuhan (WTF -_-).

“Ah jinjjareo?, mmmh, tapi kenapa aku merasa kau sedang tak berakting. Apa adegan foto juga bagian dari script ibu sutradara?.”

Goda Chanyeol lagi, lengkap dengan senyuman wajahnya mendekat ke arah Nana. Membuat gadis itu harus mencondongkan tubuhnya ke belakang. Jarak antara mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Sikap Chanyeol yang tiba-tiba agresif membuat jantung Nana kewalahan. Ada yang salah di sini pikirnya, di sini, ya, tepat di dadanya,jantungnya memompa terlalu cepat. Sampai ia setengah mati harus menahannya agar tak melompat keluar dari tempat. tanpa menunggu lama Nana langsung menarik diri dari pesona Chanyeol dan mengalihkan pembicaraan.

”nu..nugu ireu..mi?(siapa namamu).” (?)

ucapnya terbata. Wajahnya tampak gugup dan berantakan. Tapi mata gadis itu masih mantap menantang tatapan Chanyeol.

“ahh aku lupa. Dari tadi kita belum berkenalan yah. Geude, Chanyeol-imnida, Park Chanyeol.”

Chanyeol mengulurkan sedikit tangannya ke arah Nana. Tak perlu seluruh tangan ia julurkan. Karena jarak mereka sudah sangat dekat. Tanpa menerima uluran tangan Chanyeol, nana langsung berdiri.

“Kim nana-imnida. Gomawo Chanyeol-shi, neomu mannaseo bangapta.”

Singkat, padat, dan mengena. Nana bergegas memberi salam dengan membungkukkan Badannya. Kemudian berjalan cepat meninggalkan chanyeol sendiri. Chanyeol hanya terpaku mendengar nama tak asing itu. Sebelum akhirnya setengah berteriak.

“dashi mannayeo (ayo bertemu lagi) Nana-ya.”

Tanpa ia sadari sekeping senyum masih mengembang diantara kedua pipinya. Efek bahagia yang ditinggalkan gadis tadi sungguh masih tersisa dalam athmosfer taman. Meki raganya, bahkan bayangannya sudah hilang melawati batas pandang Chanyeol.

setelah kepergian Nana, pria itu menghidupkan kameranya. Mata tampannya terfokus pada layar sementara tangannya asyik memijat tubuh elektronik itu. sesosok gadis memenuhi lingkaran hitam matanya di foto ke sekian. Gadis kecil itu sedang tersenyum ke arah kamera, tangannya kotor dipenuhi tanah merah, tanah khas taman tempat favorit chanyeol. rambutnya tergerai indah berwarna cokelat tua, rambut yang paling Chanyeol inginkan untuk membelainya dari dulu. gambar itu seakan hidup dan mengajak chanyeol tertawa bersama. Chanyeol yang merasa sudah benar-benar gila, hanya tersenyum memaklumi kegilaannya pada foto itu.

“sudah kuduga, aku menemukanmu kim nana.”

_TBC ^_^_

8 thoughts on “[FF FREELANCE] Your Kiss Is My Camera

  1. Itu chanyeol sakit apa, kok parah kayaknya, masak cuma inget sampe dia kelas 6 sd aja kasian banget..;-(
    trus tuh nana apanya chanyeol?
    Kalo dulu mereka pernah bertemu kok nana gak tau chanyeol?
    Waduh banyak pertanyaan nih, next chap cepetan ya thor..;-)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s