Radio — 3rd Chapter

radio1

RADIO

“Sometimes love just ain’t enough.”

By

PSEUDONYMOUS

CAST: 2PM’s Chansung & SECRET’s Jieun || GENRE: Romance & Life || LENGTH: Chapter || RATING: PG-16 || DISCLAIMER: Inspired by Just Married (2003) & My Darling is a Foreigner (2010) || CREDIT POSTER: Springeous

PREVIOUS CHAPTER:

Prologue, 1st Chapter, 2nd Chapter

***

3rd CHAPTER

Minjun terpaksa menarik keluar sebuah hoodie di antara rak baju untuk dikenakan sebagai selimut. Ketika dia melakukannya, dan lemari bergoyang, dua buah gumpalan kertas meluncur jatuh dari belakang lemari menuju lantai. Minjun menunduk ke bawah mengikuti kedua bola kertas itu berputar jatuh di bawah kakinya. Begitu dia berhasil mengeluarkan hoodie dari dalam lemari, Minjun membungkuk ke lantai untuk memungut bola kertas tersebut.

Dia meletakkan hoodie di tepi tempat tidur, sementara tangannya dengan penasaran terburu-buru membuka gumpalan kertas pertama. Hanyalah sebuah undangan pernikahan yang telah lusuh. Minjun berpindah pada gumpalan kertas kedua. Ketika isinya terungkap, mata Minjun menyipit.

“Surat keterangan penerimaan lamaran kerja?”

***

Jieun mengerjap-ngerjap secara bergantian ke arah surat keterangan penerimaan lamaran kerja yang ada di tangan kirinya, lalu pada brosur yang menawarkan diskon 50% untuk sebuah kelas memasak minggu depan yang berada pada tangan kanannya. Jantungnya berdenyut pelan dalam sebuah keraguan besar, diikuti oleh jarum jam yang terus bergerak di atas kepalanya. Jieun menggeser duduknya di atas sofa, mengeluarkan bunyi mencekik di atas kulit sofa yang licin.

Jieun membaca ulang kalimat terakhir di surat penerimaan lamaran kerja dengan suara pelan. “Dengan demikian kami sangat berharap saudara dapat hadir untuk wawancara dan proses selanjutnya…”

Dan kemudian, dua bola mata cokelat gelap Jieun bergerak ke kanan, menangkap nomor telepon yang tertera di bawah brosur kelas memasak. Jieun menimbang-nimbang lagi, manakah yang harus diikutinya. Sementara hati dan pikirannya sedang memperdebatkan pilihan masing-masing, jam dinding di ruang tengah berdentang pada pukul satu siang.

“Astaga!” Jieun melompat dari sofa, meninggalkan sejenak kebimbangannya, kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar. Dia nyaris lupa dengan siaran perdana Chansung hari ini.

Jieun duduk di pinggir tempat tidur dan mengangkat radio ke atas pangkuannya. Tangannya dengan cekatan mencari frekuensi yang benar seraya mengandalkan indera pendengarannya untuk mengenali suara Chansung yang sedang menyiar.

Selamat siang, para pendengar. Senang bisa bertemu dengan Anda melalui acara terbaru kami ‘Break Up Club’, di mana saya, Hwang Chansung, akan menemani waktu jam makan siang Anda dengan cerita-cerita menarik dari para pendengar mengenai kehidupan asmara mereka, juga tidak lupa, saya akan memutarkan lagu-lagu favorit Anda selama satu jam ke depan. Bagi Anda yang merasa sedang dilanda rasa bimbang dengan hubungan asmara Anda bersama pasangan, Anda bisa berbagi cerita dengan saya dan juga para pendengar dalam telepon interaktif di nomor…

Jieun tersenyum seraya meletakkan radio di atas meja tidur. Rasanya sudah begitu lama dia tidak mendengar suara Chansung melalui radio. Jieun sebelumnya tidak benar-benar pernah menyadari perkembangan yang dilakukan Chansung terhadap kehidupannya sendiri. Dan ada perasaan bangga yang terselip di hatinya saat mendengar suara pria itu. Hanya Chansung. Sedang menyiar. Acaranya sendiri.

Sementara Chansung terus berbicara untuk mengantarkan acara, Jieun mengintip dari balik pintu kamar. Dia menatap surat penerimaan kerja dan brosur di atas sofa, kemudian menyusul untuk mengambil keduanya. Jieun membaca ulang surat tersebut dengan mulut komat-kamit sembari bergerak masuk kembali ke dalam kamar. Selepasnya, dia berpikir ulang, pihak perusahaan memintanya menghubungi mereka dua hari lagi, tapi setelah diingat-ingatnya kembali, dia punya agenda pada hari itu untuk pergi berdua dengan Chansung ke pusat perbelanjaan untuk membeli furniture baru untuk apartemen mereka.

Jieun telah membulatkan keputusannya. Dia melipat kertas surat penerimaan kerja itu menjadi dua, kemudian menyelipkannya di bawah rak bajunya dan kembali duduk mendengarkan Chansung menyiar. Setelah itu, dia bisa berpikir untuk menghubungi dan mendaftarkan diri di kursus memasak melalui telepon nanti.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang saat Chansung menyelesaikan siaran pertamanya hari itu. Orang-orang menyorakkinya di ruang sebelah, menyambutnya dengan sebuah tepuk tangan bernada puas ketika dia keluar dari ruang siar.

“Kau hebat, Chansung!” Taecyeon meninju pelan lengan Chansung dengan bercanda. “Respon pendengar sangat baik. Kau melakukannya dengan sempurna dan keraguan kami terhadapmu terbayar sudah. Kau berhasil melakukannya.”

Chansung tidak mampu menahan sumringah dan perasaan lega yang tercetak jelas di wajahnya. “Terima kasih.”

Satu per satu orang di dalam ruangan mulai menyalaminya dan memberikan ucapan selamat. Sementara itu berlangsung, Chansung mendongak di antara mereka, berusaha menemukan Minjun di dalam ruangan.

“Di mana Minjun Hyung?” bisiknya pada Taecyeon.

“Minjun? Di luar, kurasa.” Taecyeon mengedikkan dagu ke arah pintu dan berkata dengan suara pelan di telinga Chansung, “Tadi pagi aku sempat mendengar dia menelepon dengan istrinya dan mereka bertengkar cukup hebat. Sejak tadi, keadaan hatinya tidak terlalu bagus. Sampai-sampai, aku merasa takut untuk mengajaknya bicara.”

“Benarkah?” Chansung membulatkan mata, agak tidak percaya.

“Kau harus mendengarkannya sendiri, Chansung,” jelas Taecyeon dengan wajah takut yang dibuat-buat. “Minjun meneriakki istrinya melalui telepon. Itu pertama kalinya aku mendengar dia bertindak sekasar itu pada istrinya.”

Chansung terdiam beberapa saat sebelum bergumam seorang diri, “Aku pikir mereka selalu baik-baik saja.”

“Ya, tapi,” Taecyeon mengangkat bahu, “siapa yang tahu dengan apa yang terjadi selama ini dengan rumah tangga mereka.”

***

Sepulang kerja, Chansung mendapati Minjun sedang menyendiri di ruang siar. Dia sedang giat merapikan barang-barang di dalam, mematikan seluruh tombol listrik, serta memadamkan lampu. Begitu Chansung menemuinya di luar studio siar, Minjun tampak terkejut melihat Chansung masih ada di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau sudah pulang,” kata Minjun.

“Aku yang seharusnya bertanya begitu padamu, Hyung. Apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya sudah pulang. Merapikan studio siar dan mematikan lampu adalah tugas Junho. Mengapa kau yang melakukannya?” tanya Chansung curiga.

Tangan Minjun mencengkeram gagang pintu studio begitu kuat, sampai-sampai kulit tangannya memerah. “Tidak apa-apa,” katanya dengan suara pelan, hampir terdengar seperti sebuah bisikan. “Aku hanya sedang ingin melakukannya saja.”

Kedua alis Chansung melekat bingung, respon otomatis yang diberikannya setelah mendeteksi keganjilan dari sikap Minjun. “Sangat kelihatan bahwa kau hanya sedang mengulur-ulur waktu sebelum kembali ke rumah. Aku bahkan merasa sangsi bahwa kau—”

“Aku tidak akan pulang ke rumah hari ini,” potong Minjun, yang membenarkan dugaan Chansung. Pupil mata Minjun bergerak ke kanan dan kiri, terlihat seperti ingin menghindar, namun sepertinya dia sendiri bahkan tidak bisa menahan kuasa hatinya. “Aku.. Aku..”

Chansung menghela napas. Dia memandangi Minjun dan mengangguk paham pada pria itu. “Apa kau ingin membicarakannya? Dengan dua gelas kopi, mungkin?”

Minjun tersenyum tipis pada Chansung. Dia mengangguk dan berkata dengan suara lega, “Ya, aku rasa itu ide yang bagus.”

Mereka berdua lalu turun ke lantai bawah dan membeli dua gelas kopi dari mesin otomatis. Chansung menyusul untuk mengantarkan segelas kopi pada Minjun di lounge, kemudian duduk di sebelah pria itu untuk siap mendengarkan.

“Kau bilang kau tidak mau pulang ke rumah,” kata Chansung sebelum menyesap kopinya. “Apa yang terjadi?”

Minjun memangku kaki dan memandang dengan sorot kosong ke luar gedung. Parkiran mulai sepi dan dua orang satpam berseragam terlihat mengobrol dengan akrab di pos. “Sedang terjadi sesuatu di rumah yang menolakku untuk pulang,” sahutnya.

“Sesuatu?” Chansung bertanya sambil meletakkan gelas kopinya di atas meja. “Apakah sesuatu itu istrimu? Taecyeon Hyung bilang dia sempat mendengar kau bertengkar dengan istrimu di telepon pagi tadi.”

Minjun kelihatan kaget. “Apa? Taecyeon mengatakannya? Apakah dia menguping? Brengsek. Kupingnya tidak bisa dijaga.”

“Dia mungkin tidak bermaksud melakukannya, Hyung. Mungkin,” Chansung berkata dengan hati-hati, “justru kaulah yang berteriak terlalu keras sampai-sampai Taecyeon Hyung tidak punya pilihan selain mendengarkan suaramu.”

Senyap sejenak. Minjun mengangguk-angguk samar dan hanya suara decakan dari bibirnya yang keluar saat menyesap kopinya. Kelengangan yang terjadi pada saat itu membuat Chansung semakin ingin tahu jawaban yang sebenarnya.

“Ya, aku pikir kau benar.” Minjun mengangguk lagi dalam sebuah sikap pasif yang tidak bisa ditebak. Seolah-olah tubuhnya berada di sana bersama Chansung, memberikan jawaban yang acap kali gamblang dan tidak jelas, sementara pikirannya—yang seharusnya membantu tubuh Minjun untuk menjawab dengan benar—tidak berada di sana. Mungkin sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Mengkhawatirkan istrinya, merindukan anaknya.

“Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi, Hyung?” Chansung menaikkan alis, berusaha tidak terlihat seperti seorang yang terlalu ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Karena percayalah, Chansung hanya peduli pada Minjun dan khawatir pada keadaannya. Dirinya merasa tidak nyaman melihat Minjun murung seharian ini. Seperti mengunyah cabai, namun tidak merasakan pengaruh pedasnya pada lidah. Seperti merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya ketika mendapati Minjun tidak berisik seperti biasanya

“Aku memang berkelahi dengan istriku, Fei.” Minjun menjawab pada akhirnya. Pria itu membungkuk ke depan meja untuk meletakkan gelas kopinya dan mendesah berat. “Tapi, itu hal biasa. Fei dan aku sudah biasa menghadapinya.” Minjun tersenyum pada Chansung. “Kau tidak perlu khawatir,” katanya seolah bisa membaca pikiran Chansung.

Chansung tersenyum sedih. “Tapi, tetap saja, Hyung. Aku pikir kalian baik-baik saja selama ini. Taecyeon Hyung bahkan mengatakan bahwa ini pertama kalinya dia mendengar kau berteriak sekasar itu pada istrimu.”

Minjun terkikik geli, seolah ucapan Chansung terdengar lucu. Meski demikian, suara cekikikan yang diperdengarkan Minjun adalah tawa tidak tulus dan terkesan dipaksakan. “Lalu, kau mengharapkan apa, Chansung-ah? Kau pikir, begitu menikah, kau tidak akan mendapatkan masalah apa-apa lagi dengan pasanganmu?”

Chansung mengedikkan bahu. “Entahlah. Tapi—”

“Benar adanya bahwa begitu banyak pasangan berpikir dengan menikah mereka tidak akan mengalami pertengkaran apapun. Dalam bahasa halusnya, pasangan yang hendak menikah adalah pasangan yang telah lelah untuk bertengkar. Tapi, kebanyakan dari mereka tidak tahu bahwa pada saat menikahlah, pertengkaran yang sebenarnya baru akan terjadi.”

Wajah Chansung berubah mendengar kata-kata itu; merasa disakiti perasaannya. Perkataan Minjun secara tidak langsung telah menyinggungnya. “Apa maksudmu? Apakah kau baru saja mengatakan bahwa aku dan Jieun seperti pasangan-pasangan itu?”

Minjun terkekeh. “Jangan tersinggung, Chansung. Aku dan Fei juga sama seperti kalian sebelum kami menikah. Kami juga sedang tergila-gila dengan satu sama lain.”

“Aku dan Jieun baik-baik saja.”

Minjun tersenyum lebar, cenderung mengejek. “Aku juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi sepertimu, Chansung; berpikir bahwa pernikahan kami akan baik-baik saja dan akan mulus-mulus saja. Tapi, apakah kau pernah mendengar sebuah pepatah dari Yunani, “Man plans, God laughs”?”

Chansung menggeleng ringan.

“Manusia berencana, Tuhan tertawa.” Minjun menguraikan dengan senyum misterius di wajahnya. “Manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Jika Dia tidak setuju dengan rencanamu, Dia bisa mengacaukannya hanya dalam sedetik. Kontrol hanyalah sebuah ilusi. Betapa keras pun kau berusaha mengatur rumah tangga agar tidak terjadi perkelahian di antara kalian, tapi,” Minjun menaikkan pundak. “siapa yang tahu apa yang akan terjadi dengan rumah tangga kalian nanti?”

Chansung mendongak tidak terima. Mengikuti gerak Minjun saat pria itu berdiri dari duduknya. “Apa maksudmu, Hyung? Mengapa kau mengatakan hal itu padaku?”

Minjun mendesah lagi. Pria itu terlihat lelah. “Entahlah, aku pikir aku hanya ingin mengatakannya padamu agar kau bisa lebih siap. Agar kau tahu bahwa dunia pernikahan tidak akan selamanya seindah dunia pacaran. Juga,” Minjun terdengar sangat sedih ketika menyatakan, “ agar kau tidak meneriakki Jieun seperti yang kulakukan pada Fei.”

Chansung menelan ludah. Dia memergoki Minjun berusaha menahan air matanya saat pria itu berbalik dan pergi meninggalkannya sendirian di lounge.

***

Chansung tiba di apartemennya pada pukul setengah sebelas malam. Dia agak menyesal tidak bisa menghabiskan waktu makan malam bersama Jieun setelah mengobrol dengan Minjun dan melewatkan sebagian besar waktunya dalam perjalanan ke rumah dengan terjebak macet parah di jalanan. Tidak heran, begitu dia masuk ke dalam, dia mendapati Jieun telah tertidur di atas sofa, kelelahan setelah menungguinya pulang.

Chansung melepas tasnya di atas meja, di mana makan malam yang telah dingin sudah disiapkan Jieun. Sebuah note tersampir di samping sendok dan sumpit. Chansung membacanya keras-keras:

“Jangan merasa buruk karena kau tidak bisa pulang untuk makan malam bersamaku. Jika kau lapar, kau masih bisa memanaskan makanannya melalui microwave.”

Chansung tersenyum tipis, lalu meletakkan kembali note itu ke atas meja. Dia menghampiri Jieun di atas sofa dan duduk di pinggirnya. Tangannya menelusuri riak rambut Jieun dan pipinya. Wajahnya yang tenteram dalam tidur membangkitkan perasaan Chansung, mengingatkan kembali betapa dia mencintai wanita itu. Dan ada suara di dalam kepalanya yang berkata, Minjun Hyung salah besar. Bagaimana mungkin aku bisa meneriakki istriku? Bagaimana mungkin aku akan setega itu pada Jieun?

Chansung menyelipkan lengannya di bawah tubuh Jieun dan mengangkat wanita itu ke dalam kamar. Kepala Jieun terkulai lemas di atas dadanya. Chansung meletakkan tubuh Jieun dengan pelan ke atas tempat tidur dan menutupi tubuh wanita itu dengan selembar selimut.

Ketika Chansung keluar dari kamar, matanya menangkap selembar brosur di atas sofa, yang sepertinya tadinya ditindih oleh tubuh Jieun. Dia memungut brosur dari atas sofa dan memerhatikannya dengan saksama.

“Brosur kelas memasak?”

***

Minjun mematikan lampu kamar dan keluar dari sana dengan hoodie yang tersampir di lengannya. Dia melihat ke sofa dan Chansung sudah tidak ada di sana.

“Eh? Di mana Chansung?”

Minjun melongok ke dapur tatkala mendengar suara berisik dari sana. Dia menyusul ke dapur dengan khawatir dan memergoki Chansung sedang merangkak di depan kulkas untuk membuka kaleng bir yang lainnya.

“Hei, hei, hentikan!” serunya terkejut. Minjun melempar hoodie di atas pantry dan menarik lengan Chansung untuk mundur dari sana serta menyingkirkan kaleng bir dari jangkauan Chansung. “Apa kau sudah gila? Kau sudah cukup mabuk sekarang dan masih ingin minum sekaleng lagi? Dasar sinting.”

Chansung menggosok-gosok matanya seperti seorang bocah kecil yang mengantuk dan tanpa mengatakan apa-apa. Minjun menuntunnya untuk berdiri dan menuntun Chansung berjalan kembali menuju sofa setelah menutup pintu kulkas.

“Duduklah.” Minjun melemparkan hoodie ke atas paha Chansung. “Pakailah itu, biar kau tidak kedinginan. Tunggu di sini, aku akan membuatkan sup untukmu agar mabukmu segera hilang.”

Chansung memerhatikan Minjun berjalan mengitari pantry dan menyalakan kompor. Matanya mengerdip-ngerdip. Sebuah dinding tipis yang kabur membawa khayalan pria itu kembali, menggantikan punggung Minjun yang perlahan bertransformasi menjadi lekuk tubuh Jieun yang indah.

“Kau tidak mengatakan padaku,” lirih Chansung sedih. Suaranya terdengar parau.

Minjun mengernyit bingung. “Apa maksudmu? Berhenti mengigau!”

Chansung meremas hoodie di atas pahanya dan menggumam dengan suara serak, “Kau tidak mengatakannya padaku. Kau membohongiku.”

***

…umurku 26 tahun dan sudah beristri.” Begitu suara berat pria itu menjelaskan di udara.

Chansung menekan rapat headphone pada telinganya dan mengangguk. “Baiklah, apakah kau punya cerita untuk dibagi denganku dan juga pendengar?”

Ya. Malam nanti aku akan pergi ke suatu acara reuni.” Pria itu mulai bercerita. “Saat aku mendapatkan undangannya melalui e-mail, aku telah memikirkannya sejak itu, bahwa reuni ini pasti akan mendatangkan begitu banyak kenangan dengan teman-teman lamaku, termasuk cinta pertamaku.

Chansung mengangguk-angguk lagi. “Apakah kau mengkhawatirkan akan bertemu dengan mantan kekasihmu di acara tersebut?”

Ya, kurang lebih seperti itu. Dan yang perlu ditegaskan adalah aku adalah seorang pria yang sudah beristri. Namun, ketika memikirkan bahwa aku akan bertemu lagi dengan mantan kekasihku, ada sebuah perasaan aneh yang hidup kembali di dalam hatiku, yang sepertinya memberiku sebuah harapan bahwa masih ada sisa-sisa cinta dari hubungan kami berdua.

Chansung mendengarkan dengan saksama. “Apakah sebelumnya kalian—kau dan mantan kekasihmu ini—berpisah dengan sebuah alasan yang jelas?”

Tidak.” Suara pria itu terdengar kesal. “Maka dari itu, sampai detik ini, aku bahkan belum bisa menerima bahwa hubungan kami telah berakhir. Kami berpisah tanpa sebuah penjelasan, sehingga membuat tidurku tidak nyenyak dan terus memikirkan alasan yang potensial untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu. Ada sesuatu yang belum selesai di antara kami, yang pada akhirnya memaksa pikiranku terus berlari pulang kepada wanita ini.

“Hm, kedengarannya agak rumit,” Chansung berkomentar. “Apakah istrimu tahu mengenai perasaanmu yang sesungguhnya?”

Sama sekali tidak. Aku menikah hanya karena merupakan sebuah kebutuhan, bukan karena dasar cinta. Istriku tidak tahu apa-apa mengenai hal itu. Dia juga tidak pernah curiga, karena selama ini aku menunjukkan bentuk kasih sayang yang cukup layaknya seorang suami pada istri. Hal itu juga lebih merupakan sebagai sebuah kewajiban untukku. Aku tidak benar-benar mencintainya.

Chansung mengerutkan alis dan bertanya dengan nada menyudutkan, “Tapi, apakah kau tidak pernah merasa bersalah terhadap istrimu, bahwa kau menikah dengannya namun justru mencintai wanita lain? Terlebih lagi, kau akan bertemu dengan wanita yang kau cintai ini dalam waktu dekat.”

Itulah yang sedang kupikirkan. Apakah kau punya saran yang baik untuk masalahku?

Chansung diam sejenak, memikirkan jalan keluar untuk masalah yang pelik ini. “Sulit untuk mengatakannya, tapi,” Chansung mengedikkan bahu, “cinta tidak bisa dipaksakan, bukan?”

Benar sekali.”

“Mungkin kau masih punya kesempatan sebentar saja untuk menuntaskan apa yang belum selesai di antara kalian—kau dan mantan kekasihmu, jika itu memang akan membuat tidurmu lebih nyenyak dan hatimu lebih tenang.” kata Chansung lagi, berusaha seideal mungkin memberikan jawaban.

…menurutmu… begitu?

“Ya, tapi, kusarankan padamu untuk tetap menjaga perasaan pasangan kalian masing-masing,” tambah Chansung.

Ya, aku rasa kau benar. Terima kasih sarannya. Aku sangat menghargainya,” kata pria itu.

“Tidak masalah, hm…” Chansung menggumam, “maaf, siapa namamu tadi?”

Jung Byunghee.”

Chansung mendongak ke ruang sebelah saat kaca pembatasnya diketuk oleh Taecyeon. Pria bertubuh atletis itu mengangkat sebuah kertas dengan tulisan di atasnya, Chansung, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di lantai bawah. Begitu kau selesai siaran, kau harus langsung menemuinya, oke?

“Baiklah, terima kasih, Byunghee atas kesempatanmu untuk berbagi cerita dengan kami,” kata Chansung lagi setelah mengangkat jempolnya pada Taecyeon, menjawab oke.

Ya, sama-sama.”

Begitu sambungan terputus, Chansung segera mengakhiri acara, “Tidak terasa waktu telah sejam berlalu dan ini saatnya bagiku untuk mengakhiri acara kita siang ini. Terima kasih kepada seluruh pendengar yang sudah menyediakan waktu untuk mendengar dan menemaniku. Sebagai penutup, aku akan memutarkan lagu dari Yozoh, Smiling Flower untuk menemani para pendengar melanjutkan aktivitasnya. Sampai berjumpa lagi di acara Break Up Club esok hari! Selamat siang!”

***

“Siapa yang ingin menemuiku?” tanya Chansung begitu keluar dari studio siar.

Taecyeon menunjuk ke pintu keluar, merujuk ke lobi. “Seorang wanita tua. Tidak terlalu ramah. Dia mencarimu. Dia bahkan memaksa untuk segera bertemu, tapi aku bilang dia harus menunggu sampai kau selesai menyiar.”

“Seorang wanita tua?”

“Benar. Apakah kau tidak mengenalnya?”

Chansung mengerutkan bibirnya sembari berpikir. “Entahlah, aku tidak terlalu mengingatnya. Biar kutemui saja langsung.”

Chansung keluar dari ruangan, kemudian berjalan menuju lift untuk turun ke lobi bawah. Sesampainya di sana, Chansung berdiri dengan ragu di depan pintu lift, berusaha menemukan sosok itu di antara kepadatan lobi. Chansung berjalan melewati sekumpulan pria yang baru saja keluar makan siang, dua orang gadis yang cekikikan di sudut lobi, dan seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel.

“Chansung.”

Suara dehaman keras seorang wanita mengagetkan Chansung. Pria itu berbalik dan mendapati seorang wanita berambut kelabu berdiri di depan mesin kopi dengan wajah kusut dan kedua lengan terlipat di atas perutnya. Itu Nyonya Song, nenek Jieun. Chansung ingat pernah sekali bertemu dengan wanita tua itu beberapa bulan yang lalu. Kesan pertama mereka tidak terlalu baik setelah Chansung menceritakan banyak hal mengenai pekerjaan, masa lalu, dan asal-usulnya. Meski demikian, Chansung tetap tidak ingin merusak hubungan mereka di pertemuan kedua mereka kali ini, alih-alih justru berniat untuk terus memberi kesan baik pada wanita yang tidak terlalu menunjukkan sikap bersahabat ini pada dirinya.

“Selamat siang, Nyonya Song.” Chansung membungkuk sopan dan tersenyum lembut.

“Ya,” Nyonya Song menyahut sinis.

“Anda ingin bertemu dengan saya?”

“Benar, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” jawab Nyonya Song. Tali tasnya menggantung di lengannya dengan erat dan beberapa kali Nyonya Song terlihat kesulitan mengangkat tasnya dengan susah payah pada lengannya yang sudah tua.

“Bagaimana kalau kita duduk dulu agar semuanya terasa nyaman?”

“Ya, tentu saja.”

“Lewat sini, Nyonya Song.”

Chansung menuntun Nyonya Song menuju lounge mini dekat lobi dan duduk di sana. Ketika Chansung berdiri, hendak membeli kopi untuk keduanya, Nyonya Song menolak.

“Tidak usah,” katanya. “Aku tidak akan lama di sini. Terlebih lagi, aku juga tidak terlalu suka dengan kopi.”

“Oh, baiklah.”

Chansung duduk kembali dengan gerakan canggung, tanpa tahu harus bersikap bagaimana. Tampaknya Nyonya Song masih tidak terkesan dengan niat baiknya.

Nyonya Song memerhatikan wajah pria itu sejenak dan memulai tujuannya. “Apakah kau masih tinggal serumah dengan Jieun?”

Chansung mendongak. “Ya?”

“Aku tanya,” Nyonya Song mengeraskan suaranya, “apakah kau masih tinggal serumah dengan cucuku?”

Chansung mengerdip-ngerdip dengan bingung. “Bagaimana Anda tahu bahwa—”

“Jieun datang ke apartemenku dua minggu yang lalu,” jelas Nyonya Song. “Dia juga sudah menceritakan padaku mengenai rencana pernikahan kalian.”

“Oh,” Chansung tersenyum-senyum dan berkata, “Jieun tidak mengatakannya padaku bahwa dia telah menemui Anda. Seharusnya dia membicarakannya denganku agar aku—”

“Kalau begitu, sepertinya dia juga belum mengatakan padamu mengenai pendapatku soal rencana pernikahan kalian, bukan begitu, Chansung?” selidik Nyonya Song.

“Pendapat Anda?”

“Benar,” Nyonya Song mengangkat dagunya dengan tingkah arogan. “Kau mengerti maksudku, kan?”

Ada sebuah peringatan di dalam kepala Chansung yang secara otomatis berbunyi dengan keras, memberi pertanda buruk. “Maaf, Nyonya Song,” kata Chansung terbata, “aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Anda. Jieun sama sekali tidak mengatakan apa-apa padaku mengenai kunjungannya ke rumah Anda. Kami justru baru saja ingin merencanakan pertemuan dengan kedua wali masing-masing untuk—”

“Aku rasa hal itu tidak diperlukan lagi,” potong Nyonya Song tidak sopan, “karena jawabannya sudah sangat jelas, Tuan Hwang.”

Belakang leher Chansung menegang. “Jawaban? Jawaban apa?”

“Jawabanku tentang pernikahan kalian.”

Jakun Chansung naik-turun dengan gerakan lambat. Sorot matanya berubah, tampak sedikit terpukul. Ada ekspresi kesedihan yang tergambar pada alis matanya. Dalam keheningan itu, Chansung memindai wajah Nyonya Song sekali lagi dan telah menemukan jawabannya melalui perangai wanita tua itu. Semuanya tercetak dengan sangat nyata di depan wajahnya. Sebuah jawaban tidak.

***

Jieun duduk di meja makan dan mengamati dua bocah laki-laki yang merengek dan bertengger di kaki Hyosung dengan erat. Jieun memangku dagu dan tidak dapat menahan senyum geli dan gemas di wajahnya setiap kali mendengar bocah-bocah itu mengeluarkan suara pekikan yang memekakkan telinga.

“Ya Tuhan, anak-anak,” Hyosung menjerit ringan, “menyingkirlah sebentar. Apa kalian tidak lihat Ibu sedang sibuk berdandan?”

Si sulung yang lahir duluan—terpaut satu menit berbeda dengan si adik—bertanya, “Ibu mau ke mana?”

“Bu, aku lapar. Aku ingin makan.” Si bocah berambut ikal menimpali kakaknya.

Kemudian si sulung lagi. “Jam berapa Ibu akan pulang?”

“Bu, aku lapar!”

“Aku ingin ikut, Bu!”

“Bu, aku lapar!”

“Menjauhlah, Yoosook, Woonhong!”

“Bu!”

Jieun tertawa pelan dan berseru keras—meningkahi suara anak-anak itu, “Hyosung, sebaiknya kau mengurus anak-anakmu dulu. Kau masih bisa berdandan nanti dalam perjalanan.”

Hyosung akhirnya menyerah dan mengangkat kedua putra kembarnya yang berumur empat tahun ke atas tempat tidur. “Duduklah di sana,” perintahnya pada dua putranya, lalu mengintip dari balik dinding kamar ke arah Jieun, “Yang benar saja!” serunya bergantian pada Jieun. “Ini acara reuni kita,” lanjutnya setelah kembali berdiri di depan meja rias, mengenakan anting pada telinganya, “dan aku ingin tampil cantik. Aku tidak mau teman-teman kita mengatakan sesuatu yang buruk tentangku.”

Woonhong, bocah berambut ikal itu merangkak turun dari tempat tidur dan menghampiri kaki ibunya. Woonhong menarik-narik dress ibunya dan merengek lagi, “Bu, aku lapar!”

“Ya, sebentar Woonhong,” sahut Hyosung dengan suara kesal yang tertahan. “Ibu akan membuatkanmu susu begitu selesai berdandan, mengerti?”

“Tapi, aku lapar!”

“Ya, Ibu tahu.”

Yoosook menyusul saudara kembarnya di meja rias. “Ibu mau ke mana? Apakah Ibu akan meninggalkan kami sendirian di rumah?”

“Benar,” Jieun kali ini sudah berdiri dari kursi makan dan berdiri di ambang pintu kamar Hyosung, ikut menanggapi kedua putra Hyosung, “di mana Gikwang Oppa?”

Hyosung merapikan rambutnya sekilas, kemudian memoleskan tipis-tipis lipstik merah mudah pada bibirnya. “Itu juga yang kukhawatirkan,” katanya setelah tersenyum puas pada penampilannya di cermin. Hyosung menggeleng ringan pada kedua putranya dan kini menarik tangan anak-anaknya menuju dapur. “Gikwang seharusnya sudah pulang dari dua puluh menit yang lalu. Dia sudah berjanji akan pulang lebih awal untuk menjaga anak-anak sementara aku pergi ke reuni.”

“Apakah kau sudah menghubunginya?” tanya Jieun, memutar tubuh, mengikuti Hyosung yang bergerak di dapur, sedang mendudukkan anak-anaknya di atas kursi.

“Ya, aku sudah meneleponnya lima menit yang lalu,” jawab Hyosung seraya menyeduh susu. “Dia bilang dia sedang dalam perjalanan pulang.”

“Hm…” Jieun mendekat pada dua putra Hyosung dan tersenyum pada keduanya. Yoosook dan Woonhong hanya mengerjap-ngerjap, lebih tertarik pada segelas susu yang dibuat oleh ibu mereka daripada bermurah hati membalas senyum Jieun. “Pasti menyenangkan mempunyai dua orang putra,” gumam Jieun.

Hyosung meletakkan dua gelas susu di depan dua putranya, mendelik pada Jieun, lalu tertawa pelan dan berkata, “Begitu kau mempunyai anak bersama Chansung nanti, aku bisa memastikan kau akan segera merubah pernyataanmu itu.”

“Tapi, aku sungguh menyukai anak-anak,” ujar Jieun membela diri.

“Ya, tapi aku berani bertaruh kau tidak akan suka dengan ‘anak besar’-mu.”

Jieun mengerutkan dahi. “’Anak besar’?”

Hyosung meletakkan sendok yang kotor di atas wastafel dan mengangguk, “Ya, ‘anak besar’. Kau tahu, kan, siapa yang sedang kubicarakan? Para suami. Apakah kau tidak mendengar sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa ‘seorang suami hanyalah seorang anak kecil yang terperangkap di tubuh pria dewasa’? Pernyataan itu sangat benar. Laki-laki sangat merepotkan begitu mereka menikah. Lebih merepotkan dari anak-anak. Bayangkan saja, sekarang, begitu aku menikah dengan Gikwang, aku harus mengurus tiga anak sekaligus.”

Sementara Yoosook dan Woonhong menghabiskan susu mereka, pintu depan terbuka dan seseorang yang dinanti-nanti sejak tadi menampakkan dirinya juga. Gikwang tergesa-gesa masuk ke dalam dan menemui istri, kedua putranya, dan Jieun yang tengah berdiri di dapur.

“Hyosung, ‘anak’-mu sudah tiba,” bisik Jieun sambil terkikik geli.

Gikwang tersenyum dan mengangguk samar pada Jieun, lalu berkata pada Hyosung, “Yeobo, maafkan keterlambatanku. Jalanan macet sekali.”

“Ya, aku mengerti,” angguk Hyosung setelah mencuci tangan di wastafel. Dia berlari terburu-buru menuju kamar. “Aku akan pergi dengan Jieun sekarang. Tolong jagakan anak-anak untukku, oke?”

Gikwang menggendong Woonhong ke dalam pelukannya dan mengangguk. “Ya, tentu saja. Jam berapa kau akan pulang? Tidak akan lama, kan?”

“Aku belum tahu,” suara Hyosung terdengar sayup-sayup dari balik pintu kamar, sedang mengambil tas tangannya.

“Apa?” Gikwang menyahut kaget.

Jieun tertawa. “Kami akan pulang secepatnya, Oppa. Kau tidak perlu khawatir.”

“Syukurlah,” Gikwang mendesah lega. “Aku bisa gila jika harus mengurus anak sendirian.”

Hyosung akhirnya keluar dari kamar. “Jieun, ayo berangkat,” katanya, lalu berpaling pada suaminya, “Aku sudah menyiapkan makan malam di kulkas. Kau bisa memanaskannya sendiri menggunakan kompor.”

Jieun menggandeng tas tangannya dan berdiri di depan pintu, menunggui Hyosung memberi kecupan di pipi kedua putranya sebelum mereka pergi. Jieun tersenyum kecil pada pemandangan itu, tiba-tiba ingin cepat-cepat menemui dirinya sebagai seorang ibu. Sesegera mungkin.

***

Reuni itu diadakan di sebuah ballroom hotel di pusat kota. Jieun dan Hyosung menumpangi sebuah taksi dengan perasaan tidak sabar untuk menuju ke sana. Begitu banyak hal yang diharapkan keduanya bisa ditemukan di acara reuni mereka. Yang paling penting, keduanya begitu ingin bertemu dengan teman-teman mereka yang terdahulu dan ingin mengetahui kabar mereka sekarang.

Setelah mengendarai taksi selama tiga puluh menit, Jieun dan Hyosung akhirnya tiba di ballroom tersebut, disambut oleh seorang kawan lama mereka mereka yang sepertinya telah banyak mengalami perubahan.

“Astaga, Jieun, Hyosung!” Sunhwa—Jieun ingat wanita itu adalah dulunya gadis yang cerewet dan sering bertingkah bodoh saat di bangku SMU—memeluk keduanya ketika mereka baru saja sampai di depan pintu masuk. “Kalian masih terlihat sama,” lanjut Sunhwa setelah melepas pelukannya. Dia memandangi Jieun dengan takjub, “terutama kau, Jieun. Kau masih terlihat cantik seperti dulu.”

“Lalu, bagaimana denganku?” Hyosung berdeham dengan tersinggung di sebelahnya. “Apakah aku terlihat jelek sekarang, begitu?”

Sunhwa tertawa. “Kau juga, Sayangku. Kau tetap terlihat cantik.”

Seusai berbasa-basi sebentar di depan pintu masuk, Sunhwa menarik Jieun dan Hyosung ke tengah-tengah ruangan, mengajak mereka bertemu dengan kawan-kawan lainnya.

Jieun hampir-hampir tidak bisa mengenali teman-teman lamanya. Mereka semua telah berubah. Sebagian besar terlihat sangat baik, menjalani kehidupan sebagai seorang pekerja yang sukses dan memiliki rumah tangga yang bahagia. Sebagian kecil masih belum bisa menemukan pasangan, sebuah alasan klise untuk mengatakan bahwa mereka belum siap untuk berkomitmen. Sisanya, adalah orang-orang yang sedang punya masalah dan bersembunyi di antara wajah-wajah bahagia itu. Salah satunya sedang berdiri di belakang Jieun, mengulurkan tangan untuk menyapa Jieun.

“Hai, Jieun.”

Jieun menengok ke belakang saat mendengar suara familiar itu. Dia mengerutkan alis dengan ragu pada sosok itu. “Byunghee?”

Pria itu tersenyum tipis. “Hai.”

Jieun balas tersenyum canggung. “Hai.”

Byunghee mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan Jieun menyambutnya dengan ragu-ragu. Kedua tangan mereka saling bertaut satu sama lain, meninggalkan bekas-bekas kerinduan yang tidak tertuntaskan setelah melepas satu sama lain. Memori-memori indah itu mengalir jatuh dari sela-sela jemari mereka. Tidak terelakkan. Namun, Byunghee yang selalu mengenali Jieun, tidak merasa bahwa bukan hanya paras Jieun yang bertambah cantik, juga ada sesuatu yang menandakan ada yang telah berubah. Cincin di jari manis Jieun yang bersentuhan dengan kulit tangan Byunghee-lah yang memberitahunya.

“Bagaimana kabarmu?” Byunghee membuka percakapan keduanya. “Sudah lama kita tidak berjumpa.”

“Ya, kau benar. Saat ini, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

Byunghee terkekeh. “Tidak terlalu baik.”

“Hm?” Jieun menyahut bingung.

“Apakah kau sudah punya pendamping sekarang?” tanya Byunghee lagi, mengganti arah pembicaraan.

“Aku sudah bertunangan,” jawab Jieun dan mengangkat jari manisnya—memamerkan cincin pertunangannya dengan Chansung. “Sebentar lagi kami akan menikah.”

“Benarkah? Aku turut bahagia untukmu,” aku Byunghee, walau tidak sepenuhnya jujur.

“Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah menikah?”

“Aku?” Byunghee menyentuh dadanya dan tertawa pelan, seolah pertanyaan Jieun terdengar lucu. “Ya, aku sudah menikah,” sahut Byunghee pada akhirnya. Dalam caranya berbicara, ada sebuah nada kecewa yang terselip. “Aku sudah menikah dan mempunyai seorang putra.”

Jieun mengangguk-angguk dan tersenyum. “Kabar menyenangkan lainnya,” komentarnya.

Seulas senyum yang dipaksakan terukir dari kedua sudut bibir Byunghee. Bukan ini yang kuinginkan.

***

“Kau tidak seharusnya mengantarku pulang. Aku bisa pulang dengan taksi,” kata Jieun.

Byunghee tersenyum tanpa menatap Jieun. Lengannya terulur, berkonsentrasi pada kendali mobil. “Tidak apa-apa. Aku sudah lama tidak bertemu denganmu, jadi aku ingin lebih banyak berbincang denganmu. Apakah tidak boleh?”

“Bukan begitu, tapi,” Jieun menggigit bibirnya cemas, “istri dan anakmu mungkin akan khawatir jika kau pulang terlambat karena mengantarku.”

“Mereka akan baik-baik saja. Berhentilah mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu kau khawatirkan.”

Jieun memberangus, agak kesal. “Sikap keras kepalamu masih saja sama,” gumam wanita itu, sinis.

Byunghee terus mengendarai mobilnya ke apartemen Chansung tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ketika mereka akhirnya sampai di pintu masuk, Jieun terkejut karena tahu-tahu Byunghee juga ikut turun.

“Apa lagi?” tanyanya. “Kau sebaiknya pulang sekarang.”

Byunghee menunjuk ke dalam. “Aku ingin mengantarmu masuk.”

“Aku bisa menggunakan lift sendiri.”

“Aku akan tetap mengantarmu.”

Jieun memutar bola matanya dan berkacak pinggang. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

Aku menginginkanmu, batin Byunghee.

“Byunghee, apa kau mendengarku?” Jieun menegurnya setelah pria itu tidak menjawabnya.

Byunghee menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya ingin mengantarmu. Itu saja.” Pria itu menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana dan berjalan melewati Jieun. “Sebaiknya kita harus bergegas, atau calon suamimu akan khawatir.”

Jieun tidak punya pilihan selain mengejar Byunghee di dalam lift. Kebersamaan mereka berdua tidak lagi tampak menyenangkan. Jieun berusaha keras membangun dinding yang tinggi untuk membatasi dirinya dengan Byunghee, sementara pria itu dengan gigih ingin terus meruntuhkannya. Melanggar garis itu.

“Dengar Byunghee,” kata Jieun saat pintu lift terbuka, “kau bisa turun sekarang dan kembali ke rumah.”

Byunghee tidak mendengarkan dan dengan sengaja menulikan telinganya. Pria itu dengan keras kepala memaksa keluar dari lift dan berjalan mengitari koridor.

Dia berbalik pada Jieun dan bertanya, “Yang mana apartemen kalian?”

“Sudah kubilang, kau sebaiknya pulang sekarang,” kata Jieun memperingati dan menyusulnya keluar.

“Ada apa denganmu? Aku hanya ingin bertemu dengan tunanganmu. Itu saja.”

“Tidak bisa. Dia baru saja pulang kerja dan dia terlalu lelah untuk mengobrol denganmu.”

Byunghee mengangkat alis dengan menantang. “Kenapa kita tidak cari tahu saja langsung, apakah dia memang terlalu lelah untuk bertemu denganku atau tidak?”

Jieun mendorong tubuh Byunghee saat pria itu mencoba menerobosnya. “Sudah kubilang, tidak bisa.”

Byunghee memandangi Jieun dan berkata, “Ada apa, Jieun? Mengapa kau bersikap aneh? Apakah kau takut bahwa aku akan mengatakan sesuatu pada tunanganmu mengenai kita?”

“Apa maksudmu? Apakah kau mencoba mengancamku sekarang?” Jieun balik menantang.

Byunghee terkekeh dengan nada mencemooh. “Bagaimana men—”

“Jieun?”

Suara pintu yang terbuka terdengar, disusul langkah kaki. Kedua manusia itu serentak menoleh saat Chansung menangkap basah mereka berdiri dalam posisi yang dekat. Jieun buru-buru mundur untuk menjauh, sementara Byunghee hanya menampilkan wajah pokernya ketika dirinya diselidik dengan tajam dan curiga oleh Chansung.

“Chansung, kau sudah pulang?” Jieun menghampiri Chansung dan menggandeng lengannya dengan mesra, bermaksud menghalau udara panas yang berputar di sekitar mereka.

Chansung menatap Jieun dan menggumam, “Aku mencoba menghubungimu sejak tadi tapi…”

Jieun melonjak kaget. “Oh, astaga. Benarkah? Biar kucek dulu.”

Sementara Jieun merengsek isi tasnya untuk mencari ponsel, mata Chansung masih tidak lepas pada sosok Byunghee yang tidak jauh berdiri dari mereka.

“Siapa pria ini, Jieun?” tanya Chansung setelahnya.

Jieun mendongak gugup. “Apa?”

Chansung menunduk ke arahnya dan sambil menuding Byunghee, dia berkata, “Pria ini yang mengantarkanmu pulang, bukan? Apakah kau tidak ingin mengenalkannya padaku?”

Jieun menatap Byunghee, lalu bergantian memandangi Chansung. Dalam kebimbangannya, wanita itu memaksa pita suaranya berbicara, mengeluarkan sebuah suara tercekat:

“Hm, Chansung, kenalkan ini Byunghee, dan Byunghee, kenalkan ini tunanganku, Chansung.”

Byunghee berjalan mendekat, kemudian mengulurkan tangan. “Senang bertemu denganmu.”

Chansung menjabat tangan itu kuat-kuat. Ada sebuah perasaan tidak asing saat dia mendengar suara Byunghee, meski dia mengakui bahwa ini adalah kali pertama mereka bertemu. “Maaf,” kata Chansung, “siapa namamu tadi?”

“Byunghee. Jung Byunghee,” tegas pria itu.

…umurku 26 tahun dan sudah beristri…

…reuni ini pasti akan mendatangkan begitu banyak kenangan dengan teman-teman lamaku, termasuk cinta pertamaku…

ada sesuatu yang belum selesai di antara kami, yang pada akhirnya memaksa pikiranku terus berlari pulang kepada wanita ini…

Suara-suara itu berputar di kepala Chansung tanpa diperintah. Chansung terperangah. Matanya menelusuri setiap jengkal tubuh Byunghee dengan saksama. Tidak salah lagi. Pria di hadapan Chansung inilah yang meneleponnya di radio, seorang pria beristri yang masih mencintai mantan kekasihnya, dan wanita itu adalah Jieun, calon istrinya.

Tidak lama setelahnya, Chansung juga baru menyadari bahwa dia telah membuat perangkap untuk dirinya sendiri. Bukan hanya ucapan Nyonya Song yang membuatnya sangat terguncang hari ini, namun juga kehadiran sosok yang tidak diinginkannya. Rencana pernikahannya sedang benar-benar dalam masalah. []

16 thoughts on “Radio — 3rd Chapter

  1. Ini udah masuk konflik inti dari ceritanya bukan? Chansung sudah punya acara sendiri di radio, sudah ada mantan pacar Jieun yang muncul, Nyonya Song sudah secara langsung ngomong nggak setuju…
    Apa Jieun bakal dibawa pergi sama keluarganya/mantan pacarnya sampe Chansung mabuk-mabuk gitu ya? ._.
    Tapi aku masih belum bisa nyambungin sama prolognya, kayaknya bakal ada hal lain yang mungkin salah dilakuin Chansung? Duuh penasaaraaan orz
    Ditunggu next part ya! Buat Little Brother juga😀

  2. Yah kasian chansungnya tertekan dimana mana😦
    Tapi makin lama ceritanya makin seru thor (y) daebak
    Lanjut yaaa! Fighting!

  3. err…itu chanana kenapa gak mau dinasihatin sih? =,= kalo udah kejadian, pasti baru percaya *lempar kostum pisang*

    ini konfliknya udah kerasa banget ya. chan udah tau reaksi neneknya jieun ditambah lagi kemunculan byunghee. apa ‘rusak’nya chan juga gara2 byunghee?

    next chap ditunggu! ^^

  4. Wah konfliknya udah muncul ya??.Chansung emg bener” dlm masalah.penasaran apa yg blum selesei diantara byunghee n jieun.apa yg hrs chan lakukan u/ hindari”perangkap” yg dya buat sndiri..
    Keren ceritanya..di tunggu next chapt ny ya.udh ga sabar baca nya ^^

  5. mulutmu harimaumu… Chan Chan Chan, sial amat kamu hari itu, udak ketemu nene jahat, mantannya Jieun pula /facepalm/… dan bakal gimana reaksi dia setelah ini? marah sama Jieun gitu? atau gimana? nanti konflik yang nongol di prolog itu terjadinya sebelum apa setelah mereka menikah…. next chap ya author ><

  6. aduhh thorr… kayanya ffnya dibikin drama seru dehh… jd kbwa perasaan nih baca ff nya… kesel deh ma byunghee… pengen jitak.. hehe…

  7. aigooooo.. byungheee om om gateelll -___,- udah punya istri masih aja ngincer calon istri orang… keren keren… makin kereen aja xD

  8. Kasian banget ini si chansung
    Sampe ikutan bingung deh
    dan konflik juga udah mulai masuk
    kalo nikah gak disetujuin
    tapi kalo gak nikah ?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s