[2] Where We Belong

Where We Belong

written by bluemallows

Main Cast: CNBlue’s Lee Jonghyun & Girls’ Generation’s Im Yoona || Genre: Romance, School-life || Rating: Teen || Length: Chaptered || Disclaimer: The plot is completly mine

0,5 | 1 | 2

SECOND-SHOT;

            “Hei, pinjam ponselmu,” Soojung mengambil alih ponsel yang sedang digenggam oleh sahabatnya itu. “Boleh kubuka kan?”

            Yoona berdecak sebal. “Terserah, tidak ada apa-apanya.” Gadis itu melirik folder-folder foto yang digelodah oleh Soojung, lalu beralih pada ponsel yang bernaung pada pangkuan gadis itu. Ia segera meraihnya. “Pinjam ya?”

Tanpa menunggu persetujuan dari Soojung, ia segera melihat-lihat isinya. Entah sudah berapa kali ia melintasi foto-foto Soojung di depan kamera, ia tetap tidak bosan melihatnya. Ia beralih dan melihat daftar kontak Soojung di sana.

            Barangkali sahabatnya itu memiliki waktu luang yang melimpah hingga ia sempat memasukkan foto satu per satu pada daftar kontaknya. Tangannya berhenti menggeser trackpad ketika melihat foto culun wajah Jonghyun di sana. Sorot mata jenakanya terarah pada kamera, kedua tangannya menggengam cangkir yang berisi teh atau mungkin kopi, dan terselip senyum masam pada wajahnya. Sama seperti biasa setiap kali ia tersenyum.

            Jujur, Yoona membenci senyum macam itu. Seakan ada ejekan yang tersirat dalam segaris senyum pada wajah Jonghyun. Tetapi ia tidak bisa menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat ketika melihat tatapan mata lelaki itu.

            Ia melirik Soojung yang sedang asyik dengan game di ponselnya, kemudian ia beralih lagi pada ponsel milik sahabatnya. Dibukanya kontak dengan nama Jonghyun Lee dan melihat nomor ponsel laki-laki itu. Awalnya ia hanya merasa itu adalah sederet angka yang tidak beraturan, tetapi setelah dicermati, ternyata nomor itu sungguh mudah dihafalkan. Bibirnya komat-kamit melafalkan satu per satu angka pada nomor ponsel itu dan entah ada apa yang mendorongnya dengan kuat untuk menghafalkan nomor itu.

            Sejurus kemudian, ada satu pesan masuk dari Yonghwa. Ia cepat-cepat menekan tombol kembali secara beruntun dan menyerahkan ponsel itu pada pemilik aslinya. “Ada pesan dari Yonghwa,”

            Soojung yang baru semenit lalu menatap lamat-lamat layar ponsel miliknya segera menoleh dan melemparkan ponsel Yoona ke atas pangkuan Yoona dan mengambil alih ponsel miliknya. Sahabatnya itu hanya menghela nafas dan meneruskan permainan tembak-tembakan milik Soojung yang belum selesai.

            Sesekali ia melirik ke arah Soojung yang cekikikan ketika mengetik kalimat-kalimat pada keypad ponselnya. Diam-diam ia keluar dari permainan yang belum dituntaskannya dan mengetik urutan nomor yang dihafalkannya tadi dan menyimpannya dalam kontak, Jonghyun-sunbae.

            Tidak terhitung sudah berapa kali Yoona berguling ke kanan dan kiri ranjangnya dengan gelisah malam ini. Ia sudah mengetik pesan, menghapusnya, mengetik lagi, mengirim, lalu membatalkannya. Begitu seterusnya.

“Jonghyun-sunbae, besok latihan di studio setelah istirahat pertama.” Kemudian ia menghapusnya dan mengira itu tidak sopan.

Sunbae, ini aku, Im Yoona. Jung-seonsaengnim berpesan supaya kita berlatih paduan suara di studio musik setelah istirahat pertama karena beliau pergi selama tiga hari. Terima kasih.” Lagi-lagi, ia menahan tombol backspace hingga semua huruf yang dirangkainya terhapus.

“Jonghyun-sunbae, kenapa kau tidak ikut latihan tadi? Kami semua mencarimu lho. Besok kita latihan di studio musik setelah istirahat pertama ya! ^^” Ia menekan tombol kirim, dan sepersekian detik kemudian ia membatalkan pesan itu karena mungkin itu terlalu genit untuk junior yang mendadak mengirimkan pesan bagi senironya.

Gadis itu mendengus kesal. Kesal pada jarinya yang tidak mau mengetik pesan singkat sederhana untuk Jonghyun, kesal pada otaknya yang mogok berpikir tentang kalimat yang tidak mengandung unsur konotasi hingga Jonghyun tidak beranggapan yang tidak-tidak, dan kesal pada tubuhnya yang tidak bisa berhenti berguling dan bergestur gelisah. Akhirnya ia menulis pesan asal-asalan dengan rasa sebal pada dirinya sendiri, “Selamnat malm Jonghyun-sunbadan tanpa disadarinya ia menekan tombol kirim.

Untuk beberapa waktu ia melihat pesan itu sudah dikirimnya dan sedang diproses. Ia menekan tombol cancel secepat dan sebanyak yang ia mampu, tetapi operator bertindak lebih cepat sebelum ia membatalkan pesan itu. Matanya terpana pada layar ponselnya dan gigi serinya mengigit bibir bawahnya keras-keras. Ia mendengus keras-keras dan menendang guling yang dipeluknya hingga jatuh ke atas lantai keramik yang dingin.

Yoona membaca ulang pesan bodoh yang dikirimkannya pada Jonghyun. “Astaga, astaga,” banyak salah ketik yang dilakukannya. Bahkan ia tidak bisa menulis dengan benar kata selamat, malam, dan sunbae. Rasanya ia ingin berteriak saja, tetapi ada Ibunya yang sedang menonton drama di televisi ruang tengah, jadi ia mengurukkan niatnya dan memilih mengacak-acak rambutnya yang tergerai bebas.

Gadis itu memanyunkan bibirnya dan menyaksikan ponselnya berotasi di atas udara dan jatuh di atas ranjangnya. Ia beranjak dan mematikan lampu kamar dan terlelap tanpa selimut malam itu. Sebelum ia nyaris terlelap, matanya terbuka dan mengintip pada ponselnya, berharap ada pesan balasan dari Jonghyun. Tetapi hasilnya nihil.

Kejadian itu membuatnya teringat pada masa-masa awal pendekatan antara Soojung dan Yonghwa, kadang-kadang setiap malam Soojung dan Yoona tetap terjaga di kamar masing-masing dan Soojung menceritakan bagaimana sakitnya ketika pesan singkat yang dikirimnya tidak dibalas oleh Yonghwa. Dan pada akhirnya Yoona merasakan bagaimana rasanya ketika pesan singkat—yang tolol sekalipun—tidak dibalas.

Biasanya, Soojung akan mengirimkan pesan pada Yoona pada subuh dan mengatakan bahwa Yonghwa membalas pesan singkatnya. Tetapi berbeda dengan Yoona, seketika ia membuka mata pada pukul lima pagi, ia mengambil ponselnya dan mengecek panel pemberitahuan. Dan ia tidak menemukan satu pun pesan dari Jonghyun.

Esok harinya, Yoona yang berjalan sendirian di tengah hiruk pikuk kantin berpapasan dengan seniornya, Jonghyun. Sebenarnya ia tidak berjalan, tetapi berdiri diam sambil menunggu Jonghyun melewatinya di pintu masuk sekaligus pintu keluar kantin.

“Jonghyun-sunbae,” Panggil Yoona ketika Jonghyun berjalan persis di sampingnya. Ia dapat mencium wangi bedak bayi ketika laki-laki itu berjalan melintasinya, dan berhenti tepat di hadapannya.

Satu alis Jonghyun mengangkat dan itu cukup untuk menanyakan “Ada apa?” pada Yoona.

“Setelah latihan—eh, maksudku setelah istirahat, kita akan berlatih di studio musik. Bisa kan, sunbae?”

Kepala laki-laki itu mengangguk samar. “Oke,” Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan melanjutkan. “tidak usah memanggilku Sunbae, panggil saja Jonghyun. Itu jauh lebih baik.” Satu sudut bibirnya terangkat dan berjalan pergi meninggalkan Yoona.

Dan ketika angin berhembus, samar-samar gadis itu mencium kembali aroma wangi bedak bayi dari tubuh laki-lak itu. Tetapi ia yakin tidak ada yang salah dengan indera penciumannya.

Tangan Yoona menggengam besi di hadapannya kuat-kuat, mencegahnya untuk melompat bebas ke bawah lapangan basket yang diisi dengan siswa yang berlalu-lalang pada jam olahraga. Catnya sudah mengelupas dan jorok, tetapi tetap saja ia tidak peduli.

“Hei, tidak ikut olahraga?” Soojung duduk di sampingnya dan menggelitik betis Yoona yang diselimuti oleh kaos kaki warna putih.

Kepala Yoona menggeleng pelan. “Tidak enak badan. Jadwalmu bahasa Inggris kan? Membolos lagi?” Ia menyusul Soojung dan duduk di atas lantai warna merah bata yang dingin.

“Gurunya tidak masuk.”

Yoona hanya setengah menggumam mengiyakan jawaban Soojung dan menyelipkan kepalanya di antara jajaran besi yang bahkan tidak muat untuk kepalanya. Ia dapat melihat Jonghyun sedang memantul-mantulkan bola basket di sana sambil tertawa bersama teman-temannya.

Sejak latihan paduan suara pertama—lebih tepatnya sejak ia melihat dari dekat Jonghyun memainkan gitar akustik—ia sering memperhatikan Jonghyun di saat-saat seperti ini. Ketika ia berjalan dengan teman-temannya, bercana dan bergurau di koridor depan kelas 11, atau meneguk teh manis sendirian sepulang sekolah. Pernah sekali, atau dua kali, Yoona ingin sekali Jonghyun juga memandang ke arahnya. Bertukar pandang sepersekian detik itu pun cukup. Tetapi faktanya seorang Im Yoona tidak pernah terlintas pada mata gitaris keren itu.

Setiap kali ia memandang laki-laki itu, ia berusaha melihat sepasang manik matanya. Dan suatu kali ia menemukan mata yang selalu menatap tajam itu sebenarnya menyiratkan kesedihan. Sama seperti Park-seonsaengnim, ia menyukai sepasang bola mata itu. Ia dapat melihat Lee Jonghyun secara nyata, dan laki-laki itu bukanlah ilusi. Namun laki-laki itu hanya jauh, tidak tersentuh.

“Siapa yang kau lihat?”

Lagi-lagi, lamunan gadis itu buyar karena Soojung. Ia memalingkan kepala dan melihat Soojung menggengam ponsel yang dibenamkan di sela-sela roknya. Meski itu benar melanggar peraturan sekolah. “Tidak siapapun.”

Mata Soojung menyipit dan bibirnya tersenyum usil. Satu jarinya menekan perut Yoona dan membuatnya berjingkat kaget karena itu. “Jonghyun, ya?”

Dengan mantap, Yoona menggelengkan kepalanya. “Aku tidak melihat laki-laki siapapun.”

Sekali lagi, ia menyangkal keberadaan Jonghyun yang bersarang di pikirannya—dan mungkin berencana untuk bermigrasi pindah ke hatinya.

Daun-daun dari pohon mapel di sekolah mulai berjatuhan satu per satu di halaman sekolah. Kadang, hujan rintik-rintik menyelingi pada beberapa hari terakhir ini. Musim gugur sudah memunculkan batang hidungnya.

 

Park-seonsaengnim baru saja memasang selebaran pengumuman di depan ruang kelas seni rupanya. Diadakan lomba melukis tingkat kota dalam rangka hari pendidikan. Yoona membaca dengan seksama pengumuman itu sambil tetap menggendong tas ranselnya.

 

“Kau ingin ikut lagi?” Park-seonsaengnim yang berjalan keluar dari ruang kesenian itu menepuk pundak Yoona dan membuat gadis itu sedikit berjingkat. Tanpa menunggu jawaban dari Yoona, laki-laki paruh baya itu mendesah. “Sayang sekali ini bertepatan dengan lomba paduan suaramu.”

 

Gadis berambut panjang itu menggendikkan bahu. “Tapi, aku sudah pernah mengikutinya tahun lalu.” Jawabnya sambil melempar senyum.

 

Park-seonsanengim kemudian ikut tersenyum dan kembali menepuk-nepuk pundak Yoona. “Oke, aku akan mengikuti briefing guru-guru dulu.” Pamitnya dan ia menghilang diantara murid-murid yang berjalan di sekitar kantor guru.

 

Pandangan gadis itu kembali ke arah selebaran lomba yang cenderung mirip poster, berwarna-warni dan ceria sekali. Tidak seperti poster lomba tahun lalu yang hanya merupakan hasil fotokopi. Ketika dilihat dengan teliti, Yoona mendapati poster lomba tahun lalu di balik poster itu dan tersenyum geli. Park-seonsaengnim ternyata tidak serapi itu.

 

Tapi, tentang lomba lukis, atau lebih tepatnya lomba di bidang kesenian, Yoona juga mengikutinya dalam cabang seni. Sesekali ia memejamkan matanya untuk megembalikan memori tentang perlombaan tahun lalu itu.

 

Waktu itu, ia dan Jonghyun masuk ke dalam gedung yang sama, di lantai kedua. Tidak seperti Soojung dan kawan-kawannya yang mengikuti lomba vokal grup, tidak seperti Tiffany yang mengikuti lomba tari, tidak seperti Jieun yang mengikuti lomba debat bahasa Inggris, dan juga tidak seperti Wooyoung yang menjadi peserta lomba menulis. Ia mengikuti lomba lukis dan Jonghyun cipta lagu. Dalam satu gedung dan satu lantai yang sama.

 

Hari itu, ketika Yoona masih duduk di bangku kelas satu. Ketika ia masih canggung terhadap suasana lomba seperti ini, saat keramaian mendesaknya untuk pergi dan menjauh. Orang-orang sudah menyiapkan kanvas yang dibawa masing-masing, cat, mencampur warna, dan menyiapkan kuas sebelum lomba dimulai.

 

Dengan gemetar dan bimbang, Yoona mengikuti rival lombanya dan mulai menyiapkan peralatannya.

 

“Sudah, tidak usah grogi seperti itu,”

 

Gadis itu berpaling dan melihat Jonghyun–kakak kelasnya–berdiri sambil tersenyum jenaka. “Aku sudah lihat lukisanmu kemarin,” ujarnya lagi. “dan aku menyukainya.”

 

Seorang Im Yoona selalu merasa tidak nyaman ketika seseorang memberinya sekecap pujian sekali pun. Mengapa? Karena ia hanya merasa dirinya dibohongi oleh orang-orang tentang pujian palsu itu. Tetapi berbeda dengan Jonghyun, ia hanya mengatakan bahwa ia menyukai lukisan Yoona. Tidak ada kata-kata pujian yang melebih-lebihkan. Hanya ada kata menyukai dan seulas senyum pada wajahnya.

 

Bel tanda lomba dimulai berbunyi kencang menenuhi ruangan. Jonghyun segera menoleh secara reflek ke arah sumber suara. “Lakukan yang terbaik.” Ujar Jonghyun dan tangannya melambai ke arah Yoona.

 

Yoona dapat menyaksikan laki-laki itu keluar dan berjalan menuju ruangan seberang tempat lombanya. “Kau juga..” Bisik Yoona meski ia yakin seniornya tidak akan mendengar perkataannya.

 

Ketika waktu lomba hanya tiga jam dan waktu telah bergulir dua setengah jam lamanya, sudah separuh lebih peserta mengumpulkan karya mereka dan mengemasi kembali barang masing-masing. Dengan gusar Yoona mulai menggoreskan kuas dengan lebih cepat ke atas kanvas. Mewujudkan lukisan bunga melati agar terlihat lebih nyata lagi, seperti yang diajarkan oleh Park-seonsaengnim selama beberapa minggu persiapan lomba ini.

 

Kurang dari lima belas menit sebelum waktu habis, Yoona mengumpulkan kanvasnya pada panitia. Ia sukses menjadi peserta ketiga terakhir yang menyelesaikan lukisannya.

 

Ia memasukkan kembali cat air, kuas, dan segala perlengkapannya masuk ke dalam tas dan membawa penyangga kanvasnya dengan sedikit kewalahan. Sebab itu milik sekolah dan lebih berat dari miliknya di rumah. Kakinya terpaksa bekerja untuk membuka pintu dan ia melihat Jonghyun duduk di atas salah satu sofa di sana.

 

Sunbae? Bukankah lomba cipta lagu sudah selesai satu setengah jam yang lalu?”

 

Jonghyun hanya tersenyum dan bangkit dari sofa untuk mengambil alih kanvas yang dipegang oleh Yoona. “Ayo, kita turun,”

 

Ia menunggu Yoona bereaksi dan berjalan menuruni tangga bersamanya. Mungkin enan bulan lamanya Yoona melihat seniornya ini sebagai orang yang pendiam, tertutup, keras dan dingin. Tapi, ia tidak seburuk itu, ternyata.

Ia memiliki julukan baru sekarang; Im Yoona, sang pemegang kunci studio musik. Perasaan bangga sekaligus khawatir bersatu dalam hatinya. Tapi, tidak ada satu pun yang protes saat Yoona yang ditugasi untuk membawa kunci, karena ia selalu tepat waktu.

 

Suatu kali ketika latihan, Jonghyun cepat-cepat berlari dari ruangan dan meninggalkan gitarnya. Ia berhenti persis di depan Yoona dan membuat jantung gadis itu berhenti selama beberapa saat.

 

“Aku titip gitarku, tolong besok bawakan untukku, oke?”

 

Dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya ia menganggukan kepalanya. Menyetujui permintaan Jonghyun.

 

Sore itu, ia membawa pulang gitar akustik beserta tasnya di belakang punggungnya. Hingga semalaman, Yoona terus menghirup aroma bedak bayi yang menempel pada tas gitar milik Jonghyun.

Tidak pernah sekalipun, sekecap pun, Yoona pernah menyatakan bahwa ia menyukai Jonghyun. Sekali pun tidak. Sama sekali.

 

Ia sendiri tidak dapat mengidentifikasi perasaannya sendiri ketika berada di dekat Jonghyun. Ralat, bukan di dekat, tetapi melihat. Yoona sendiri saja jarang sekali berada di dekat Jonghyun.

 

Tidak pernah ia mengucapkan bahwa ia menyukai Jonghyun. Tetapi ada satu titik di mana ia merasa harus berpikir dua kali tentang perasaannya sendiri. Saat festival musim panas kemarin. Ini sebelum regu paduan suara itu dibuat, ini sebelum ia menambah frekuensi berkunjungnya ke studio musik, dan ini sebelum Yoona lebih sering menghabiskan waktu dengan Jonghyun.

 

Saat itu hari yang cerah pada festival musim panas yang diadakan dari gabungan SD hingga SMU dengan nama yang sama tempatnya belajar. Seharusnya setiap siswa bersenang-senang hari itu, sebagian menjaga stand makanan atau minuman, stand permainan, atau ikut tergabung dalam acara pentas seni.

 

Tapi, Yoona malah terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Kepalanya vertigo dan ia nyaris tidak bisa berdiri. Padahal, ia memiliki jadwal untuk menjaga stand kelasnya pada pukul 5 sore nanti.

 

Ia berulang kali bertukar pesan singkat dengan sahabatnya, Kim Soojung, yang sedang menikmati festival itu bersama teman-temannya yang lain.

 

Kemudian, Soojung mengirim pesan singkat pada Yoona.

 

To: Im Yoona

 

Setelah ini Vertical akan tampil. Dan katanya Jonghyun akan menyanyi solo dengan gitar akustiknya nanti ㅎㅎㅎㅎ

 

Sontak Yoona terkejut ketika membaca kalimat terakhir dari Soojung pada pesan singkatnya. Ia segera melirik ke arah jam dinding dan mendapati jarum jam merayap pada angka 12 dan 3. Sebenarnya ia masih punya waktu 2 jam untuk beristirahat, tapi ia sendiri yang memutuskan untuk bangkit dan cepat-cepat mengayuh sepedanya ke halaman sekolah.

 

Ia menitipkan sepedanya di penjual minuman depan sekolah hanya dengan menggletakkannya di atas lantai rumahnya dan bergegas berlari dan menerobos keramaian di sekitar panggung.

 

Seorang laki-laki sedang duduk di sana dengan gitar akustik dan mikrofon yanf menggantung di depannya. Itu Lee Jonghyun.

 

Ia mulai memetik senar-senar gitarnya dan membuat orang-orang berjinjit untuk melihat kepiawaiannya dalam bermain gitar. Dalam sekali menebak, Yoona benar, Jonghyun menyanyikan lagu milik Eric Clapton yang berjudul Tears in Heaven.

 

Sore itu adalah pertama kalinya Yoona mendengar Jonghyun menyanyi solo. Biasanya Jonghyun hanya menjadi backing-vocal dari Yonghwa, tetapi harus diakui, suara Jonghyun tidak kalah dengan Yonghwa. Suaranya yang sedikit serak menyiratkan kesan seksi yang kental.

 

Saat dimana Jonghyun menyanyi, sesekali ia menyelipkan senyum sambil berlagak fasih dalam menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Gadis itu menatap lurus ke atas panggung, melihat Jonghyun di atas sana tanpa menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang, atau berdiri di sekitar panggung. Semuanya nampak hitam putih, hanya seorang Jonghyun satu-satunya yang berwarna dalam pengelihatannya.

Entah hanya perasaannya atau tidak, tapi mata Jonghyun tertuju pada Yoona. Mendadak gadis itu merasa ada yang menggelitik perutnya setiap kali lelaki itu menyunggingkan senyum dan menampakkan lesung pipit pada pipinya. Barangkali satu kupu-kupu datang, kemudian disusul yang lain, hingga ratusan kupu-kupu menyerbu perutnya.

Kedua tangannya merengkuh perutnya, seolah menjaga agar gerombolan kupu-kupu itu tidak pergi. Dan tanpa disadarinya, segaris senyum terukir pada wajahnya. Ia tetap menatap pada Jonghyun hingga laki-laki itu berlari turun dan menyelinap ke belakang panggung.

Sejak hari itu, Yoona memandang Jonghyun dengan tatapan yang berbeda. Lidahnya selalu kelu setiap kali ia menyebut nama Jonghyun, tetapi setelah itu, ia akan tersenyum. Ia tidak tahu apa nama jarak antara detik, tetapi ia terus memikirkan Jonghyun, pada jarak antar detik itu sekalipun.

Bisakah ini disebut jatuh cinta?[]

62 thoughts on “[2] Where We Belong

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s