Because of WASABI [PART 7]

because of wasabi (cover)

Because of Wasabi

Author  :  ChoaiAK

Genre  :  Romance  ||  Length  :  chaptered  ||  Rating :  PG-15  ||

Cast  :  Park Hyungsik (ZE:A), Nam Jihyun (4Minute), Other Cast ||

PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6

SUMMARY:

“…tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa seperti mereka. aku tidak memintanya. Meskipun aku harus menyukai wasabi dalam setiap shusi yang aku makan, aku akan menyukainya. Karena wasabi aku bisa bertemu denganmu. Alasan yang tidak masuk akal untuk jatuh cinta denganmu, memang. Tapi itu kenyataannya. Jadi jangan berpikir kalau kamu satu-satunya orang yang memaksaku melakukan hal yang tidak aku inginkan. Karena bagiku kamu adalah hal terindah yang datang padaku. Meskipun melalui hal yang tidak aku suka pada awalnya…”

*****

Setelah meneguk habis sekotak susu yang diberikan padanya, Hyungsik menatap gadis yang sekarang duduk di hadapannya masih tetap tersenyum manis. Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan identitas orang di depannya lalu dengan dahi berkerut dia bertanya dengan nada tidak yakin, “Seungah noona?”

Gadis di depannya tertawa samar menunjukkan wajah cantiknya, “dasar bodoh, jangan sembarangan memakan makanan yang diberikan padamu dari orang yang tidak dikenal. Meskipun itu makanan kesukaanmu. Itu sudah kamu pelajari dari kecil, bukan?”

Masih tidak mempercayai penglihatannya, Hyungsik hanya memandang Seungah dengan pandangan tidak percaya. Gadis itu sedang ada di depannya sekarang.

“Ya,” Seungah melambaikan tangannya di depan wajah Hyungsik yang memandangnya dengan mulut sedikit terbuka. “kaget melihatku disini?”

“ne,” pemuda itu mengangguk. “bagaimana noona bisa ada disini?”

“dengan mobil.” Seungah menjawab polos.

Mendengar jawaban datar dan polos Seungah, Hyungsik tidak ada pilihan lain selain tertawa. Memang benar, dia bertanya bagaimana perempuan itu bisa datang kesana. “maksudku bukan jawaban seperti itu. Gyuri noona tidak bilang apa-apa padaku.”

“kenapa dia harus bilang padamu?”

“ya, karena,..hmm,-“ Hyungsik mendadak jadi salah tingkah.

Seungah tertawa samar menunjukkan wajah cantiknya saat tertawa, “aku juga baru sampai semalam, jadi belum sempat memberitahunya. Dan tadi aku sedang bertemu dengan salah satu temanku disini dan tiba-tiba aku melihatmu. sudah aku duga, kamu selalu lemah dengan makanan apapun yang diberikan padamu. Kamu masih tidak menyukai wasabi?”

“aku bukannya tidak menyukainya. Tapi aku tidak tahan rasanya. Noona tau, lidahku seperti ditusuk-tusuk setelah makan wasabi. Pokoknya aku tidak suka.” Seungah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adik sahabatnya itu.

“jangan seperti itu,” ujar Seungah, “mungkin saja nanti kamu malah jatuh cinta dengan gadis yang suka sekali makan wasabi. Bagaimana?”

Hyungsik hanya mengangkat kedua bahunya. “aku belum memikirkan itu.”

“bagaimana kabar Gyuri? Apa dia masih dengan Seungho Oppa?”

“dia baik.” Hyungsik menatap bingung kearah Seungah. “memangnya selama di Jepang kalian tidak saling email atau telefon atau sms?”

Seungah menggeleng pelan sebelum menundukkan kepalanya.

“kalian ada masalah?”

“huh?” pertanyaan pendek Hyungsik berhasil membuat Seungah kembali menegakkan kepalanya dan menatap Hyungsik.

“kalian ada masalah?” Hyungsik mengulang pertanyaannya.

“huh?” terlihat raut bingung sesaat di wajah Seungah beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali tertawa samar seakan menyembunyikan sesuatu, “tidak, memangnya ada apa dengan kami.”

“mana aku tau, hanya kalian,” ujar Hyungsik sambil berdiri tegak, “dan Tuhan yang tau. aku mau beli minuman dulu. Noona mau minum apa?”

“tidak terima kasih.”

“tidak mungkin tidak minum. Cepat bilang, noona mau minum apa? Lidahku sudah tidak tahan.”

“baiklah. Apa saja, terserah kamu saja Park Hyungsik-ssi.” Seungah lalu geleng-geleng kepala saat melihat pemuda itu beranjak pergi membeli minuman terburu-buru.

****

Berbeda dari Hyungsik dan Seungah yang asik bercengkrama setelah lama tidak bertemu. Di jauh, Jihyun memandang pemandangan itu dengan perasaan tidak karuan. Pagi-pagi sekali dia datang setelah menyiapkan shushi spesial untuk diberikan pada Hyungsik meskipun bukannya membuatkan shushi original untuk pemuda itu dia malah memasukkan wasabi seperti yang biasa dia buat untuk dirinya sendiri. padahal jelas-jelas Hyungsik tidak bisa memakan wasabi.

Dengan wajah memberengut pasrah dia berbalik arah dan keluar dari café tanpa melihat kearah Hyungsik dan gadis itu lagi. Bagaimana bisa dia percaya seratus persen pada kata-kata Gayoon dan Sanghyuk kalau dia harus membuat takdirnya sendiri. Bukannya sesuai dengan rencananya, dia malah melihat pemandangan yang sekarang mengacaukan perasaan dan pikirannya.

“lalu sekarang bagaimana?” dia mengajukan pertanyaan pada dirinya sendiri dan tentu saja dia tidak tau apa jawabannya.

Tidak jauh dari café, Jihyun mendengar namanya di panggil dari arah kanannya. Saat dia melihat keasal suara dia melihat salah satu teman Hyungsik yang beberapa hari lalu ditemuinya di Restoran Shushi, Kevin, menghampirinya. Pemuda ini, selalu tersenyum kemanapun dan pada siapapun. Tapi wajahnya menunjukkan sisi kedewasaan yang dia punya.

“hai.” Sapa Jihyun saat Kevin sudah berada tidak jauh darinya.

“hai, ada kuliah pagi?”

Jihyun menggeleng, “tidak. Aku hanya ada sedikit urusan tadi.”

“ooh, sekarang mau kemana?”

“perpustakaan.”

“kebetulan aku juga mau kesana. Gaja.”

“huh?” Jihyun membelalakkan matanya mendengar ajakan Kevin yang tiba-tiba. “en..ne” tapi tetap menyetujui ajakan Kevin.

“Jihyun-ah.”

“hm?”

“Hyungsik.” Jihyun mendadak tegang saat mendengar nama Hyungsik. “apa kamu suka dia?” tanya Kevin blak-blakan.

“huh?”

Kevin tertawa melihat reaksi blank yang ditunjukkan di wajah cantik Jihyun, “tidak usah tegang seperti itu. kami semua sudah tau.”

Jihyun menundukkan kepalanya menghindari tatapan Kevin. Setelah apa yang baru saja dilihatnya di café, keyakinannya pada perasaannya kembali goyah.

Apa dia tidak tau bagaimana susahnya aku mengumpulkan keberanian untuk melakukan ini?

“Jihyun-ah?”

“huh?” panggilan Kevin membuat Jihyun tersadar dari lamunannya. “tidak tau.”

“Hyungsik,” kali ini nada bicara Kevin yang terdengar bijaksana berhasil membuat Jihyun menegakkan kepalanya dan melihat kearah Kevin. “aku tau dia anak yang baik. Jadi dia tidak mungkin menyakitimu, kamu mau dengar ceritaku?”

“cerita?”

“tentang Hyungsik.”

Gadis itu menunggu sampai Kevin memulai ceritanya. “kamu pasti tau Siwan, kan? Yang kenalan dengan Gayoon di resto jepang. Hyungsik salah paham dengannya. Dia kira, Siwan juga suka denganmu dan dia benar-benar cemburu akan hal itu.”

“huh? Benarkah?” wajah Jihyun berubah lebih berseri mendengarnya. “apa dia tau kalau Siwan bukannya suka denganku tapi Gayoon?”

Kevin menggelengkan kepalanyal, “kami belum sempat menjelaskannya.”

Baru beberapa saat Jihyun merasa lebih lega sekarang kembali merasa sedih.

Jadi sekarang dia masih mengira Siwan menyukaiku?

“tenang saja, kami akan jelaskan secepatnya. Kamu pasti bisa lihat sekarang Siwan lebih sering muncul di depan Gayoon ketimbang di depan kami, teman-temannya.”

Mereka tertawa dengan komentar yang dilontarkan Kevin mengenai sikap Siwan.

****

“noona yakin tidak mau kerumahku?” Hyungsik sekali lagi coba mengajak Seungah datang kerumah mereka setelah beberapa tahun belakangan tidak bertemu.

“kapan-kapan saja. Aku masih ada urusan.” Dan Seungah tetap menolah secara halus.

“baiklah kalau begitu. Aku antar noona?”

Seungah hanya bisa tertawa samar menanggapi sikap Hyungsik yang tidak pernah berubah sejak mengenalnya saat dia masih murid sekolah menengah. “tidak usah repot-repot. Tidak, terima kasih.”

“baiklah kalau begitu.”

Mereka sampai di dekat mobil Hyungsik yang terparkir di parkiran kampus. “noona hati-hati. Korea sudah banyak berubah selama noona di jepang.”

“aku mengerti.” balas Seungah. “hati-hati dijalan.”

Pemuda itu masih melirik kearah gadis itu dari dalam mobilnya lalu tersenyum mengingat pertama kali mengenalnya dan kemudian menjadikan gadis itu sebagai cinta pertamanya sebelum secara tiba-tiba gadis itu pergi melanjutkan pendidikannya ke Jepang beberapa tahun lalu.

Tiba-tiba dering ponsel dari dalam saku celananya membuatnya tersentak dari lamunannya mengenai Seungah.

“yeoboseyo”

Hyungsik-ah, kamu dimana? Kuliahmu sudah selesai, kan? Aku sudah menunggumu di tempat biasa satu jam dan batang hidungmu belum juga muncul.”

Siwan.

“hm? Ada apa? tidak ada yang bilang akan ada yang bertemu denganku hari ini.” jawab Hyungsik terdengar sedikit sinis.

YA! Park Hyungsik. Aku sudah tau kenapa belakangan kamu bersikap seperti ini padaku.”

“apa maksudmu?”

“gadis itu bukan Jihyun. Tapi Gayoon. Temannya yang kemana-kemana selalu dengannya.”  Hyungsik dengan cepat menepikan mobilnya dari jalan untuk bisa mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan Siwan.

kau mendengarkanku?”

“aku mendengarkanmu.”

“gadis itu bukan Jihyun.” Ulang Siwan. “namanya Gayoon.”

“yang kamu suka,.. bukan Jihyun?” tanya Hyungsik, tidak percaya dengan pendengarannya.

bukan.”

“lalu?”

YA, aku tidak harus mengulang sampai berkali-kali padamu, kan?”

“bukan Jihyun, tapi Gayoon?”

“Ya Tuhan, aku tidak tau akan sesulit ini.” terdengan Siwan mendesah putus asa menghadapi sikap Hyungsik yang mulai lemot seperti ini. “sekarang aku dan yang lain ada di tempat biasa. Kami tunggu kamu disini. bye.”

Ya,-“ Hyungsik baru akan menyela saat Siwan lebih dulu menutup telefonnya. “orang ini benar-benar membuatku gila.” Dia kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat yang dimaksud Siwan dengan terburu-buru untuk bisa mendapatkan penjelasan yang lebih detail dari temannya itu.

****

Hyungsik masuk ke dalam coffee café milik keluarga Kevin yang sejak lama sudah mereka cap sebagai tempat tongkrongan mereka. Dia melihat keempat teman-temannya duduk di tempat langganan mereka di pojok ruangan yang bisa langsung melihat ke jalanan ala negara eropa di lantai dua.

“Hyungsik!”

Kwanghee berteriak keras dengan suaranya yang melengking saat melihat Hyungsik berjalan menghampiri mereka dan langsung duduk menghadapkan tubuhnya kearah Siwan lekat-lekat.

“jelaskan padaku sekarang!” tuntutnya.

“YA!” Siwan menarik tubuhnya menjauh dari Hyungsik yang bergerak tiba-tiba. “jangan seperti itu, aku jadi berpikir kamu akan menciumku, kau tau?”

“jangan bercanda denganku sekarang.”

“aku tidak sedang bercanda. Apa kau melihat aku sedang melucu sekarang? apa aku perlu ikut tertawa?”

“baiklah-baiklah.” Siwan mendorong jauh tubuh Hyungsik darinya agar dia bisa kembali duduk dengan posisinya yang nyaman sebelumnya.

“aku sudah jelaskan padamu tadi.”

“dan aku juga sudah dengar tadi.” tambah Hyungsik.

“dan lalu?” tidak hanya Siwan yang sekarang heran dengan kemauan Hyungsik tapi juga ketiga temannya yang ada disana.

“Park Hyungsik, sebenarnya apa yang ada dalam kepalamu?” Dongjoon mewakili rasa penasaran teman-temannya sambil mendorong kepala Hyungsik kebelakang dengan menggunakan jari telunjuknya di kening Hyungsik.

Beberapa detik hening, terlihat ketegangan yang tadi terlihat jelas pada Hyungsik mendadak hilang saat dia dengan santainya mengambil minuman Kevin dengan wajah tak bersalah dan meminumnya. “aku tidak tau.” jawabnya kemudian.

“siapa gadis yang bicara denganmu di café tadi?” Kevin langsung melontarkan pertanyaan yang dari tadi ingin dia tanyakan sejak mendengar cerita Jihyun yang di sampaikan Gayoon pada Siwan.

“siapa?” Hyungsik balik bertanya.

“yang denganmu di café kampus.” Ujar Kevin.

“aahh. Seungah-noona. Kamu melihatnya?”

“tidak,” Kevin menggeleng. “Jihyun.”

“huh?” Hyungsik langsung menegakkan kepalanya dan menatap tajam kearah Kevin. “Jihyun?”

“hm-hm. Jihyun. Nam Jihyun. Gadis yang membuatmu uring-uringan selama beberapa minggu belakangan itu.”

“yang langsung membuatmu salah paham denganku itu.” Siwan ikut menambahkan seakan merasa belum puas mempermainkan perasaan Hyungsik yang uring-uringan.

“hah!” Kwanghee tiba-tiba mendesah. “bagaimana ini, kasihan sekali gadis itu. di jauhi tiba-tiba karena salah paham lalu setelah semalaman membuatkan shushi spesial ternyata laki-laki itu berduaan dengan perempuan lain.” kata-katanya tepat pada sasaran.

Hyungsik langsung menyadari shushi yang tadi dia makan dan membuatnya kepedasan dalam sekali gigit dia tinggal begitu saja di meja café. “shushi itu Jihyun yang buat?”

“lalu kamu kira siapa?” tanya Kevin datar.

“aku kira,-“ dia tidak mengira siapapun, karena sekarang otaknya kosong sama sekali kecuali Jihyun.

“mereka sedang perjalanan kesini.” Ujar Siwan tiba-tiba setelah sebelumnya melihat ponselnya yang berdering.

“siapa?” tanya Dongjoon heran.

“mereka. Gayoon dan Jihyun.” Semuanya melirik kearah Hyungsik yang masih memasang wajah blank.

“sekarang bagaimana?” tanya Dongjoon.

“bagaimana apanya, tentu saja anak ini harus menjelaskannya pada Jihyun.” Ujar Kwanghee cepat. “kamu! Kalau suka katakan, kalau tidak jangan memberikan harapan palsu padanya. Wanita itu tidak untuk disakiti perasaannya!”

“waaahhh,~” semua bersorak bersamaan setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Kwanghee yang pertama kali di dengar oleh teman-temannya.

“sejak kapan kamu bisa bicara seperti itu Hwang Kwanghee?” sindir Kevin.

“sepertinya Sunhwa lebih berpengaruh daripada kita.” Ujar Dongjoon diiringi gelak tawa teman-temannya yang lain. “kamu tidak mengajaknya kesini?”

“tidak, dia sedang ada urusan.” Kwanghee memasang tampang sedih.

“mungkin dia mulai bosan bertemu denganmu setiap hari.” timpa Siwan.

“YA!” Kwanghee langsung melemparkan serbet yang ada di dekatnya kearah Siwan yang tertawa puas melihat reaksi Kwanghee. “dia tidak akan bosan bertemu denganku. Dia bilang dia sayang padaku.”

Hyungsik dan ketiga temannya yang lain langsung memasang wajah mual seakan ingin memuntahkan isi perut mereka mendengar ucapan Kwanghee. Meski begitu, ada satu hal yang mengganjal di kepalanya, bagaimana dia harus menjelaskan kejadian di café kampus tadi pada Jihyun. Tidak mungkin dia tiba-tiba menjelaskannya pada gadis itu sementara mereka bukan sepasang kekasih yang sedang terlibat masalah karena cemburu.

“Park Hyungsik!”

Suara Dongjoon yang cukup keras menyadarkannya dari lamunannya. Dia melihat kearah teman-temannya yang sekarang memandangnya dengan tatapan heran.

“ada apa lagi kali ini?” tanya Siwan. “aku sudah jelaskan semuanya padamu. Itu cuma salah paham. Atau sekarang kamu malah mau menyukai Gayoon juga?”

“aku tidak sejahat itu.” bantah Hyungsik.

“lalu?”

“tidak ada apa-apa. geunyang..” Hyungsik mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menghindari tatapan heran keempat teman baiknya itu.

“hm, Gayoon-ah.” Mendengar nama Gayoon semua menoleh kearah Siwan yang tanpa mereka sadari sudah bicara melalui ponselnya. “kamu sudah sampai? Masuk saja, kami ada di lantai dua..baiklah.”

“mereka sudah sampai.” Ujarnya setelah meletakkan ponselnya di atas meja lalu melirik kearah Hyungsik. “sekarang bagaimana?”

“apanya yang bagaimana?” Hyungsik balik bertanya.

“selanjutnya?” lanjut Siwan.

“selanjutnya apa?”

“kamu mau menyatakan perasaanmu pada Jihyun atau tidak?” tidak seperti teman-temannya yang lain, Kwanghee langsung pada inti permasalahnnya. “masih ada dua orang lagi yang sekarang sedang single. Dan Jihyun itu gadis yang cantik dan sangat baik, menurutku.”

Hyungsik melirik dua temannya yang dimaksud Kwanghee, Kevin dan Dongjoon. “mereka tidak akan melakukan itu padaku.”

“perasaan siapa yang tau.” goda Dongjoon membuat raut wajah Hyungsik berubah. “take it or leave it, brother.

“aku tidak akan membiarkanmu.” Ujar Hyungsik serius.

Mereka tertawa melihat reaksi yang ditunjukkan seorang Park Hyungsik jika sudah berhubungan dengan nama Jihyun. Tidak lama kemudian, Siwan tiba-tiba melambaikan tangannya keatas sambil tersenyum menunjukkan wajah tampannya. Hanya sekian detik saat Hyungsik berbalik melihat siapa yang disapa Siwan dan Kevin, dia melihat dua gadis menghampiri meja mereka.

“hai,” Gayoon yang lebih dulu menyapa. “apa kami menganggu?”

“tidak sama sekali.” Tentu saja Siwan yang lebih dulu menjawab pertanyaan Gayoon tanpa menanyakan pendapat teman-temannya. “ayo silahkan duduk.”

Siwan dengan sikap gentlemannya mempersilahkan Gayoon duduk di sampingnya sementara Jihyun duduk tepat di hadapan Hyungsik. Sementara yang lain sudah bisa langsung mengakrabkan diri dengan Gayoon, Hyungsik dan Jihyun sama sekali tidak mengeluarkan sepatahkatapun. Mungkin mereka sama-sama tau tentang salah paham itu sehingga membuat mereka merasa sama-sama malu. Jihyun menundukkan kepalanya sementara Hyungsik sesekali melirik kearah gadis itu.

“YA, kalian merusak suasana kalau diam-diam seperti itu.” Kevin memecahkan keheningan mereka berdua. “lebih baik kalian berdua pergi bawah dan beli minuman.”

“huh?” Hyungsik dan Jihyun memperlihatkan reaksi yang sama saat mendengar usul Kevin.

“oh, benar juga.” Gayoon langsung mendorong lengan Jihyun agar gadis itu segera berdiri. “kamu harus pesan minumanmu sendiri, orang lain tidak akan mengerti apa yang sesuai dengan selera lidahmu.”

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Gayoon pada Jihyun, Dongjoon yang duduk dekat dengan Hyungsik juga ikut mendorong pemuda itu untuk segera berdiri. “cepat pergi sana, aku sudah mulai dehidrasi sekarang.”

Meski awalnya sedikit enggan dengan sikap teman-temannya akhirnya Hyungsik mengalah dengan permintaan mereka. Dia berdiri lebih dulu kemudian disusul Jihyun yang ikut berdiri masih menyembunyikan wajah disebalik rambut panjangnya yang tergerai.

“oh, Hyungsik-ah.” Mendengar namanya dipanggail Hyungsik kembali berbalik melihat kearah Siwan. “sekalian beli roti panggang yang ada di seberang. Bisa, kan?”

“disini juga ada roti panggang.” ujar Hyungsik.

“sedang tidak ada hari ini.” Kevin langsung membantah alasan temannya itu dengan ekspresi datar.

“baiklah, terserah.”

Dengan Jihyun yang berjalan disampingnya sesekali Hyungsik melirik kearah gadis itu yang masih lebih sering menunduk menyembunyikan wajahnya daripada melihat kedepan.  Gadis itu lebih sering diam daripada mendengarnya bicara.

Mungkin aku hanya perlu waktu untuk lebih mengenalnya.

Dia merasakan ponselnya bergetar dari dalam saku celananya, pesan masuk dari Siwan.

Gayoon bilang Jihyun juga suka padamu. Jadi jangan buang-buang waktu untuk berpikir kalau kamu masih perlu waktu untuk kenal lebih dekat dengannya. Aku akan mengahajarmu kalau kau melakukan itu. go get her NOW!’

Hyungsik melirik sekilas kearah Jihyun setelah membaca pesan dari Siwan. Bagaimana dia bisa tau isi pikirannya sekarang. Apa yang di katakannya benar? Tapi sikap Jihyun memang seperti itu tidak hanya dengan dia tapi juga dengan yang lainnya.

lalu sekarang bagaimana?

*****

wait, next part.. 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Because of WASABI [PART 7]

  1. Ahhh aauthor kerenn endingnya bikin sad hyungshik nya sakit apa gtu . :p lanjutin yg panjangg ya :3 kerenn abisss daebakk !!!! Jihyun hyungshik ♥

    • waaahhh….terima kasih terima kasih, :p
      sbnrnya blm kpikiran endingnya gmn, tp nnti ada chapter yg “sad” nya kok T.T
      🙂

  2. author boleh ngasih sad tp yg terlalu sad ya.. sy suka yg romance.. full romance..
    hayu lah buat mereka cepet jadian..
    jgn terlalu lama next chapternya ya author choai AK.

  3. Author yg baik hati ♥ ah jangan lama” ya kelanjutan nya :(” aku lg pengen baca PP hyungshik jihyun nih . Bikin lg donk Kisah hyungshik Sama jihyun kisahnya yg romantis gtu . Hehehe kan reguest :p jd ga bosen nunggu ♥ ♥

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s