Contrast

tumblr_m9om215Mhy1r54v0qo1_r1_500

Title: Contrast| Author: Oliver (oliverrenatha)|Main Casts: BIGBANG’s Kwon Jiyong (G-Dragon), Jennie Kim| Support Casts: 2NE1’s Lee Chaerin, Kim Jisoo| Rating: PG-15| Genre: Romance, Family, Absurd!| Type: Vignette

Disclaimer: Plot is mine. The characters are belong to God.

Credit Poster: Tumblr

Summary:

Daddy, why are you so lovely?

Tidak ada yang dapat disukai dari seorang Kwon Jiyong. Urakan, pemalas, dan hobi berkencan dengan gadis-gadis dari berbagai macam kasta. Berbeda bagi Jennie, laki-laki itu melebihi batas menyenangkan. Wanita yang tak pandai bersolek itu tahu bahwa berdiri di sampingnya dan menghirup aroma mint yang menguar dari balik jasnya saja bisa membuatnya jadi pecandu.

 

PS: Jennie Kim (the girl in ‘G-Dragon – That XX MV) and Kim Jisoo are part of YG New Girlgroup. Just mark them as original characters/OCs if you want.

҉

Namaku Jennifer Kim.

Aku bangga dengan nama western yang terpatri di setiap badge seragamku.

Tidak, aku berbohong. Aku lebih menyukai orang yang memberiku nama sedemikian kerennya.

Orang itu memanggilku Jennie karena terdengar lebih singkat dan apik dibandingkan dengan Jennifer. Walaupun aku tidak punya darah Eropa, Amerika –atau apapunlah kau boleh menebak apa saja tapi kupastikan semuanya salah. Ia seseorang yang malas keluar rumah dan lebih suka menghabiskan waktu, uang, bahkan acara kencannya di dalam berpetak-petak ruangan –yang tidak bisa kusebut rumah karena mirip dengan barak pengungsian.

Kecuali jika ia harus mengisi persediaan vodka yang sudah jadi item must have di list belanja bulanannya. Selain rokok dan…

Aku tidak bisa menyebutkan yang satu lagi.

Kami tinggal di rumah yang sama. Sebuah flat yang bertempat di atas pub warga negara Amerika yang kudengar benar-benar berasal dari Las Vegas. Aku pernah sekali melihatnya. Wajahnya tirus, tatapannya tajam seperti elang yang siap meraup ‘mangsanya’ serta sepasang alis tebal yang tidak dibuat-buat. Badannya tegap dan rumornya ia tipe laki-laki sixpack yang pergi ke pusat kebugaran tiap akhir minggu. Intinya ia sangat tampan dan errrr….

Kembali ke topik.

Orang yang memberiku nama ‘Jennie’ tersebut sebenarnya juga punya passion tersendiri. Ia berbeda jauh dengan pemilik pub Amerika yang baru kusebutkan tadi. Badannya kurus, kedua lekukan mata tempat menyimpan kedua iris kelamnya itu tampak cekung karena ia tidak pernah tahu sekarang jam berapa dan selalu melakukan aktifitas sesukanya. Mengaku jetlag padahal hanyalah bualan kelas teri!

Ah iya. Laki-laki itu juga senang menggonta-ganti warna rambutnya. Terakhir kali ia mewarnai rambutnya dengan warna cokelat-gold –sebenarnya cukup berhasil. Masih masuk ke dalam batas normal. Kadang jika otaknya yang miring itu tengah beraksi ia bisa mengecat seluruh rambutnya dengan warna ungu yang menjijikan, atau warna pink yang bisa menyala saat lampu dimatikan.

Disamping itu ia merupakan seorang jenius dalam musik. Ia berhasil membuatku jatuh cinta dalam tiap autotune yang diselipkannya di beberapa bagian lagu atau tiap petikkan gitar country yang membuatku menggerakkan kepala ke kanan dan kiri lalu berakhir dengan tertidur di bahunya.

Namanya Kwon Jiyong.

.

.

.

Dan ia adalah ayahku.

҉

Kau tahu apa yang paling aku benci di pagi hari?

Mandi dan sikat gigi.

Jadi aku lebih memilih menyeret langkah menuju kamar tidur Daddy lalu menggosok gigiku disana dengan mangkuk plastik berukuran besar yang aku tempatkan di bawah dagu. Memandang laki-laki yang terlelap dengan laptop di perut dan speaker berukuran sedang –yang tergeletak begitu saja di atas lantai marmer.

Dasar lelaki ceroboh.

Aku tertawa kecil saat melihat wajahnya yang kusut dan kumal. Kurasa sudah 2 hari ia tidak mandi dan cuci muka. Salah satu persamaan yang melekat kuat di antara aku dengannya. Kami sama-sama benci mandi dan berurusan dengan air pam yang mengalir deras lewat keran besi kamar mandi kami. Kadang diiringi dengan bau besi yang samar-samar namun menusuk.

Aku berkumur-kumur kemudian menaruh mangkuk plastik itu di atas lantai. Badanku yang sudah dibalut seragam sekolah berguling lembut di atas seprai putih tulangnya lalu berbisik pelan.

Daddy

Ia masih tertidur. Dengkuran halusnya terdengar seiring dengan rangkaian udara yang berhembus pelan lewat lubang hidungnya. Ia pasti tengah tertidur pulas. Aku memanyunkan bibir lalu menggerak-gerakkan badannya yang terkulai lemas. Terselip perasaan iba melihat kantung matanya yang makin besar saja dari malam ke malam.

Daddy, bangun. Antar aku ke sekolah”

Daddy mengerang lalu perlahan kedua kelopak matanya membuka. Ia mengerjap lambat, menyesuaikan jumlah cahaya yang kini masuk ke dalam irisnya tanpa ampun. Matanya yang sipit ia pusatkan padaku kemudian ia menguap lebar.

“Dadddd” aku memaksanya. Sekarang sudah pukul 7, aku harus cepat-cepat ke sekolah. Daddy terlihat malas namun ia menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. Pertanda ia akan memulai hari dengan rasa semangat –yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. Kapan sih Kwon Jiyong bersemangat?

“Baiklah. Jam berapa sekarang?” ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku kemudian melemaskan otot sekitar lehernya. Ia bengkit dari posisi tidur, memakai jaket kulitnya, kemudian menyemprotkan parfum beraroma mint ke tubuhnya.

“Jam 7” aku memainkan selimut tipisnya yang bulan ini belum dilaundry. Ia mengamit lenganku kemudian turun ke bawah flat kami.

Kami berdua menaiki mobil Impala biru yang baru dilunasinya bulan kemarin. Aku memundurkan kursi, mencari posisi nyamanku, kemudian mengunyah permen karet –lagi-lagi rasa mint— yang tersimpan di atas dasbor. Daddy mulai menghidupkan mesin, lalu mengendalikan mobil dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri yang di balut tattoo bergambar tengkorak itu tersampir di belakang punggungku sambil mengetuk-ngetuk ringan, mengikuti irama musik indie yang menggaung dari arah tape.

Duduk di sampingnya saja aku sudah merasa senang.

҉

Tidak ada yang tau bagaimana 9 tahun kehidupanku dengan Kwon Jiyong berawal.

Kecuali aku, Kwon Jiyong sendiri dan seorang teman baikku yang bernama Kim Jisoo.

Katakan saja ada seorang anak yang hampir gila karena pernah menghabiskan beberapa menit dalam hidupnya dengan menatap kedua jasad orang tuanya terbujur kaku. Beberapa meter di depan hidungnya.

Anak itu menangis meraung-raung dan menolak saat sekumpulan polisi berusaha mengajaknya berobat. Ada puluhan luka yang menghiasi tangan, kaki bahkan wajahnya. Saat itu juga ia berusaha mengenyahkan memori tentang bagaimana bau anyir serta pekatnya merah darah yang menusuk rongga paru-paru dan menyisakan jejak di sana. Dan bagaimana bising kendaraan di jalan tol yang macet akibat kecelakaan di kilometer 40.

Dan saat itu aku sendiri yang jadi lakon utamanya.

Beberapa bulan kemudian Kwon Jiyong menemukanku tengah memakan sebuah roti kismis di dekat ayunan panti asuhan. Ia menatapku dalam-dalam dengan kedua iris kelamnya yang belum berubah sampai sekarang. Sangat hangat. Aku masih ingat bagaimana aku berusaha tidak peduli dengan kehadiran makhluk asing itu dan tetap fokus pada rasa asam dan manis yang berasal dari puluhan butir kismis.

Ia segera mendatangi biarawati yang bekerja di panti lalu meminta izin untuk mengadopsiku. Aku memandangnya dalam kebingungan yang naik sampai ke permukaan. Untuk apa laki-laki sepertinya mengadopsi anak 7 tahun bertampang bodoh sepertiku? Namun seiring dengan kelima jarinya yang menggenggam erat tangan kananku, disaat itu juga ia meraup segala kebimbangan itu.

Aku tau ia laki-laki yang baik tepat saat ia mengajakku untuk melakukan eye contact. Well, kenyataannya sangat berhasil. Hubunganku dengannya terus berjalan tanpa arah dan tujuan sampai 9 tahun ini. Ia Daddyku dan aku anaknya. Perbedaan umur 12 tahun yang membentang di depan mata kami lah yang menuntut semuanya.

Dan saat itu pula ia mengubah namaku dari Kim Jihae menjadi Jennifer Kim. Agaknya ia terobsesi dengan segala hal berbau western. Namun ada satu hal yang membuatku tidak mengerti sampai sekarang.

Mengapa margaku bukan Kwon?’

Aku tidak berani menanyakannya.

“Jennie”

“Jennie”

“Jennie!”

Aku tersentak tepat saat panggilan nama ketiga itu. Aku buru-buru menoleh ke asal suara, lalu mendapati Jisoo tengah menatapku dengan picingan matanya. Kurasa ia sedang kesal hahahaha. Bicara dengan seorang Jennie Kim bisa sangat memusingkan, kau tahu?

“Ada yang ingin menemuimu” Jisoo tampak kesal namun gadis itu tetap diam dengan kuluman lollipop rasa anggur yang jadi kudapan siang favoritnya. Gadis itu menyumpal telinganya dengan headset warna hijau muda saat ia kembali mendongak.

“Mengapa masih disini?”

“Memangnya aku harus kemana?” aku menyatukan alis kemudian kembali menopang dagu. Suasanya kelas tengah setengah kosong, karena sekarang sedang jam istirahat. Seperti biasa, aku dan Jisoo lebih memilih  termangu di dalam kelas dan menggunjingkan beberapa hal seperti ‘Suzy berpacaran dengan seorang gay’ atau ‘Alice sunbaenim baru saja mengecat rambutnya menjadi oranye menyala’.

Jisoo melepaskan kuluman lollipopnya lalu menyentak. “Ada laki-laki yang ingin menemuimu!”

“Siapa?!”

“Entahlah. Ia berdiri saja di dekat jendela dan tak mau kemari!” Jisoo menopang pipinya dengan 500 halaman kamus Oxford lalu kembali sibuk dengan ponsel touchscreennya.

Aku mendengus lalu berjalan keluar. Obrolanku dengan Kim Jisoo pasti selalu berakhir begini –atau akan tetap begini. Ada saat dimana kami menyentak satu sama lain atau tertawa bagaikan orang sinting sampai kepala kami terjengkang ke belakang.

Sepasang kaki yang dibalut kaus kaki pendek terus berjalan sampai ke arah pintu keluar. Aku terdiam saat melihat sosok asing berdiri di hadapanku dengan senyuman tanggungnya. Tampaknya ia senior, terlihat dari cara berpakaiannya yang ‘nyeleneh’ dengan kemeja sekolah yang dikeluarkan juga jas yang dibiarkan tersampir di bahu.

“Ya?” aku meniliknya dengan tatapan penasaran. Ia mendongak, menyadari kehadiranku kemudian membuka mulutnya. Mengucapkan kata-kata yang tidak pernah aku duga akan kudengar di umurku yang menginjak 16 tahun ini.

҉

Daddy!!!”

Aku berlari menuju tangga flat, bahkan melewati dua anak tangga terakhir. Tangan kananku cepat-cepat memutar kenop pintu masuk kemudian membanting benda kotak itu begitu saja. Ini emergency, urgent, sangat penting.

Dad—“

Mulutku terkunci saat melihat Kwon Jiyong tengah bercumbu dengan wanita berambut blonde tak dikenal. Mereka tengah berpelukan sambil melakukan adegan *sensor* tersebut di depan tv –yang tengah menayangkan acara memasak weekday yang sebenarnya tidak terbiasa Daddy tonton.

Well aku lupa memberi tahu kalian bahwa Daddy adalah seorang player. Tiap minggu selalu ada wanita asing yang dibawanya ke flat untuk memuaskan hasratnya sebagai pria dewasa. Entah itu berambut dark brown, blonde, hitam, atau yang sama gilanya seperti dia.

Tampaknya mereka tidak menyadari keberadaanku.

“Ekhem”

Aku berdehem cukup keras dan sepertinya sukses membuat kedua kepala itu menoleh. Wanita berambut blonde dengan eyeliner yang cukup tebal itu bangkit dari posisi tak merenahnya kemudian beringsut berdiri. Sementara Daddy terlihat kesal dengan interupsi yang aku buat diantara mereka. Namun apa daya, ia hanya bisa mengacak rambut lalu berjalan malas menuju dapur.

Aku menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kesal. To be honest, aku kesal tiap Daddy mengajak berbagai macam wanita kesini, tidak lain untuk berkencan. Rasanya ingin marah sampai kadang-kadang aku memutar lagu rock di kamarku –bahkan tombol volumenya hampir copot.

Wanita itu menyisir rambut panjangnya ke belakang dengan jemari lalu memicingkan mata.

“Apa?” aku berusaha terlihat galak dengan memulai percakapan tidak bersahabat kami. Wanita itu tersenyum sarkatis lalu mengancingkan bagian atas kemeja abu-abunya yang terbuka. Ia menyeret kedua telapak kakinya menuju meja ruang tengah kemudian meraih cluthbagnya yang ditaruh begitu saja.

“Kau anaknya Jiyong?” ia menekan deretan angka di ponselnya kemudian menolehkan kepala ke arahku. Sedikit menggertakkan gigi aku mengangguk cepat dan membasahi bibirku yang mendadak kering.

“Ya”

“Hahahaha” wanita itu tertawa kemudian tersenyum tipis, membuatku terdiam di tempat dengan tatapan dungu. Harus kuakui ia sangat cantik dengan tubuh sesempurna itu (re: tinggi semampai dan langsing). Totally Daddy’s number 1 type. Apalagi kedua mata sipitnya yang tampak pas di naungi polesan eyeliner dan pipinya yang ditaburi bedak tipis.

Aku yang bodoh dalam hal bersolek ini akan jadi pecundang jika berdiri di sampingnya.

“Kenapa?” akhirnya aku mampu mengeluarkan getaran pada pita suaraku. Dengan memicingkan mata, aku memandang wanita itu yang tampak sibuk dengan ponselnya.

“Tidak. Jiyong hanya sering menceritakanmu di depanmu” wanita itu akhirnya menekan tombol lock pada ponsel lalu menyelipkannya di salah satu resleting cluthbag. Ia kembali mengibaskan helaian rambut halusnya ke belakang lalu membuka mulut, “kau Jennifer ‘kan?”

“Ya” aku menyambar pertanyaannya begitu saja. Ia lagi-lagi tertawa kecil kemudian berjalan menuju pintu keluar. Aku membuntutinya dari belakang dan berhenti tepat di dekat pintu masuk flat. Pandanganku masih tertuju pada punggungnya tepat saat aku tahu bahwa seharusnya aku menumpahkan segala rasa penasaranku saat itu juga.

“Tunggu!”

Wanita itu memutar badan. Alisnya yang indah dan berbentuk bulan sabit itu tampak naik. Aku menelan ludah beberapa kali kemudian melanjutkan, “siapa namamu? Dan a-apa hubunganmu dengan Daddy? La-lalu apa yang Daddy  katakan tentangku jika sedang bersamamu?”

Wanita itu tersenyum tipis lalu mengeluarkan kunci mobil. Kedua kaki jenjangnya tetap menapaki tangga menuju bagian bawah flat, menyisakan rasa penasaran yang terus bertumpuk di benakku.

Di anak tangga terakhir, ia mendongak. Aku tahu tepat pada saat itu juga ia akan memberitahuku semua jawaban atas semua pertanyaanku barusan.

“Namaku Lee Chaerin” wanita bernama ‘Chaerin’ itu lagi-lagi menyunggingkan senyum manis.

Aku tetap berdiri di ambang pintu, menunggu kelanjutan kalimatnya.

Wanita itu menarik nafasnya kemudian berkata, “aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Jiyong” Chaerin menjilat bibirnya yang tampak tidak kering sama sekali kemudian kembali meluncurkan kata-kata.

“Apakah kau menyukai Jiyong?”

Darahku membeku tepat saat 4 kata itu meluncur lewat kedua bibir cherrynya.

Apa?

Bagaimana bisa?

Tentu saja aku akan menyangkal semuanya. Menepis spekulasi tidak berdasar tersebut yang baru saja dilontarkan wanita cantik itu namun

Mengapa lidahku kelu?

“Benar?” Chaerin tidak menunjukkan ekspresi marah, kesal, atau annoyed sama sekali. Air mukanya tetap sama seperti beberapa detik yang lalu. Well, wanita itu punya pikiran yang sukar ditebak.

“Te-tentu saja tidak” aku menepis pendapatnya barusan lalu tertawa datar. Chaerin tersenyum penuh arti lalu mengucapkan salam perpisahan. Kedua kaki jenjang yang dibalut stileto hitam itu menuntunnya menuju sebuah BMW hitam.

Meninggalkan berjuta kebimbangan yang mengendap di dasar hatiku.

 ҉

Malam ini Daddy kembali memilih untuk menelfon restoran makanan cepat saji, lalu memesan dua porsi burger dengan double cheese dan daging. Juga beberapa potong bacon yang disusun setelah keju dan tomat. Seperti biasa, ia masih sibuk di depan komputer dan ruangan kedap suaranya –tempat ia biasa membuat lagu atau menulis lirik. Saat kutanya mengapa ruangan 5×5 meter itu harus diberi lapisan kedap suara, Daddy hanya tertawa lalu menyuruhku cepat menyelsaikan tugas fisika yang menumpuk.

Tapi sedari tadi siang sampai malam ini aku belum bicara satu patah katapun dengannya. Entahlah, rasanya ada yang salah dengan kami berdua. Mungkin karena kejadian dimana aku memergoki Daddy sedang bercinta tadi siang, namun kedengarannya sedikit aneh. Aku sudah memergoki laki-laki itu lebih dari 3 kali. T I G A  K A L I. Lalu apa masalahnya sekarang?

Aku masih terdiam di atas kursi meja makan mengamati Daddy berjalan bolak-balik, tergambar jelas lewat jendela kamarnya yang terletak tak jauh dari tempatku duduk. Aku kembali menghela nafas dengan berat dan menopang dagu. Rasanya ingin sekali bicara dengan Daddy.

Tapi memori tentang obrolan singkat dengan Lee Chaerin lagi-lagi membuntukan otak-ku.

Dasar obrolan keparat.

Tanpa aku duga pintu kamar terbuka, menampilkan wajah lonjong Daddy yang dipasangi kedua bola mata mengantuk kemudian laki-laki itu menguap lebar. Ia duduk di dekatku dengan suara gesekan kursi kayu dan lantai yang berisik, menggambarkan betapa recklessnya laki-laki ini. Daddy menaikkan alisnya, tanda ia tengah bertanya. Terkadang Kwon Jiyong sangat malas bicara.

“Tidak. Aku tidak apa-apa” seakan dapat membaca pikirannya aku berkata kemudian tersenyum kecil. Daddy terlihat tak yakin kemudian kembali membuka mulutnya.

“Kau lapar?” ia bertanya dalam intonasi yang menandakan bahwa ia benar-benar khawatir dan berusaha menanyakan keadaanku. Aku menggeleng cepat.

“Ayolah Jennie, kau tidak bicara sama sekali denganku semenjak pulang sekolah tadi. Ada masalah? Apa yang terjadi di sekolah?” Daddy mencecarku dengan pertanyaan seraya tangan kanannya terangkat kemudian menyisir pelan rambutku dengan kelima jarinya. Damn aku sangat suka saat kelima jari itu menyentuh rambutku.

Lalu tiba-tiba aku teringat dengan kejadian di sekolah siang tadi, yang sebenarnya ingin aku ceritakan.

“Ah iya” aku membenarkan posisi dudukku kemudian menyelipkan beberapa helai anak rambut yang menutupi dahi. “Ada kejadian menyenangkan tadi di sekolah”

Daddy  lagi-lagi menaikkan alisnya. “Kejadian apa?”

Aku terkekeh pelan kemudian kembali melemparkan ingatan pada kejadian saat istirahat siang tadi, tepat saat seorang senior bernama Bang Yongguk mendatangiku kemudian berkata dengan suara bariton-nya.

“Tadi—“ aku menggantungkan kalimat di udara membuat Daddy makin penasaran. Laki-laki memiringkan kepalanya ke kanan kemudian menunggu kelanjutan kalimat.

Setelah sebelumnya tertawa keras akibat wajah lucunya aku melanjutkan, “tadi ada yang menyatakan perasaannya padaku di sekolah. Seorang senior. Namanya Bang Yongguk“

.

.

.

Daddy tidak bereaksi apa-apa. Tatapannya berubah datar dan air mukanya sukar ditebak. Aku tidak tahu apa yang salah atau aneh dalam kalimatku barusan. Apa itu membuat Daddy kesal? Mengapa Daddy tidak memintaku untuk melanjutkan informasi ini?

Laki-laki itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, seraya kedua bola mata tajamnya menatap tepat ke manik mataku dalam ekpresi datar. Aku masih tidak mengerti. Apa yang salah sih?

“Sudah?”

“A-apa?” aku memajukan wajahku, berusaha membaca ekspresinya dalam sorot tatapan –masih— tak mengerti. Nihil.

Daddy menghembuskan nafasnya dengan keras kemudian berdiri dari tempat duduknya, terlihat gusar. Ia kembali berjalan menuju ruang kedap suaranya namun setelah beberapa langkah ia menoleh ke arahku.

“Pegawai delivery akan datang sebentar lagi. Kalau kau sangat lapar kau boleh menghabiskan bagianku”

Setelah berkata dalam intonasi tak tertebak tersebut, ia kembali berjalan. Meninggalkanku yang terbengong-bengong di atas kursi meja makan. Sungguh Daddy aku tidak mengerti mengapa sesegera itu kau memutus benang obrolan kita?

Daddy” setelah mengumpulkan suaraku yang sebelumnya hilang tertiup angin aku berhasil mengeluarkannya. Daddy yang tengah meletakkan telapak tangannya di atas kenop pintu menolehkan kepala. Rasanya seperti hendak menelan amandelku sendiri saat melihat kedua manik kelam itu terarah langsung ke milikku.

Aku mengambil nafas dalam-dalam, masih berusaha membaca ekspresinya. Setelah cukup yakin, aku kembali membuka mulut. “Kau….marah?”

Aku tau ada kilatan rasa tidak senang di manik laki-laki itu. Ia mengerdikkan bahunya dengan santai, berusaha terlihat nothing’s wrong, namun terlambat Daddy, kilatan  itu terlalu jelas untuk orang yang sudah menghabiskan 9 tahun hidupnya bersamamu.

“Tidak. Mengapa aku harus marah?”

“Kau terlihat marah. Tidak senang. Aku tahu itu”

Daddy menjilat bibirnya kemudian melemparkan tatapan ke arah lain, berusaha menghindari kedua manik hitamku yang mencecarnya. “Sudahlah Jen, aku lelah”

Laki-laki itu hampir berbalik lagi, meninggalkanku dalam kebingungan yang menyakitkan. Mengingat tragedi kecelakaan dan melihat Daddy marah. Dua-duanya mematikan. Namun pekikan yang berasal dari mulutku sendiri menghentikkan langkahnya.

Daddy!”

Ia berbalik, dan oh tidak. Kilatan itu terasa semakin jelas.

Dengan langkah cepatnya, Daddy berjalan lurus ke arahku kemudian berdiri tegak, tidak kurang 30cm di depanku. Membiarkan keheningan di antara kami mengambil alih dan hembusan nafasnya yang seakan menampar pipiku memberikan kenyataan bahwa aku harus menumpahkan segalanya sekarang.

“Aku bilang aku tidak marah. Jelas?!”

Bahkan dari nadanya aku tahu kau jelas-jelas marah Daddy.

Aku memutuskan berdiri dan menatap maniknya dalam-dalam. Setelah sebelumnya menggigit bibir, dan berkata dalam hati ‘semua akan baik-baik saja setelah masalah ini kita luruskan’ aku berkata dalam suara mencicit.

“Jelaskan padaku kenapa—“

“Karena kau membuatku kebingungan!” Daddy berteriak tepat di depan wajahku. Aku merasakan bahwa salah satu organ di tubuhku berhenti berkerja dalam keheningan yang tercipta begitu ia menyentak. Jantungku.

Aku menatapnya tidak mengerti dan rasanya ingin keluar dari ruangan ini lalu menangis meraung-raung.

Daddy egois!” aku balas menyentak. Membuatku harus mendongak dan membiarkan kedua iris pekatnya memborbardirku dengan tatapan menusuk. Dan sesuatu dalam mataku terasa panas, tenggorokanku tiba-tiba tercekat. Aku tahu sebentar lagi aku akan menangis.

Kwon Jiyong masih terdiam.

“Aku bahkan tidak tahu apa kesalahanku! Tidakkah kau berfikir bahwa aku juga kebingungan sekarang?!”

Untung saja Daddy belum membalas ucapanku. Aku tahu laki-laki itu masih memberikanku kesempatan untuk bicara. Namun apa daya, air mataku bobol. Aku menunduk lalu membiarkan butiran bening itu membuatku terisak dan tambah terlihat tolol di hadapannya. Tidak ada tepukkan halus dari Kwon Jiyong, tidak ada pelukan hangat dari Kwon Jiyong.

“A-aku menyukaimu. Dan rasanya ingin mati tiap ada wanita yang kemari untuk berkencan denganmu. Kau puas?”

Tidak.

Aku rasa aku benar-benar akan mati saat 3 kalimat tersebut meluncur tanpa rem dari mulutku. Dari Jennie Kim bodoh. Tolol.

Dan aku tahu aku harus benar-benar lari dari situasi ini.

҉

“Hei sudahlah jangan menangis terus”

“Hei Jennifer Kim sudah”

“Jennie kau membuatku takut dengan datang tiba-tiba ke rumahku lalu menangis di kasurku”

Suara serak Kim Jisoo terus mengalir seraya isakan-ku belum juga mau berhenti. Gadis itu agaknya harus aku pukul dengan kamus Oxford yang dipakainya untuk alas tidur tadi siang agar bisa diam.

“Ini” Jisoo menyerahkan tissue-nya padaku, membiarkanku mengelap air mata yang rasanya tidak mau berhenti mengalir. Ia menatapku prihatin, aku tahu dari sikap tubuhnya dan tatapannya yang tidak bisa berbohong sama sekali –walaupun terkadang ia bisa sangat sinting. Aku mengangkat wajah, menatap kedua manik cokelat Jisoo yang tampak bening dibalik kacamata bacanya. Kadang aku bisa sangat iri dengan kedua benda bulat itu.

“Jadi apa masalahmu?” Jisoo menopang dagu kemudian mendorong sekotak kudapan cokelat putih yang baru dibuat ibunya tadi siang. Aku menggeleng pelan, menolak tawaran lezat itu kemudian berkata. “Banyak”

“Karena Bang Yongguk menyatakan cintanya padamu tadi siang? Seingatku kau menolaknya”

“Bukan. Well itu juga termasuk sih”

“Jadi…?” Jisoo menyatukan kedua alisnya, secara tidak langsung mendesakku. Aku mengusap wajah dengan lelah kemudian menyandar pada kepala kasurnya.

“Biar kutebak. Kau bertengkar dengan ayahmu?”

Aku tertawa kecil, “sejak kapan kau jadi cenayang?”

“Jadi benar?” Jisoo menaikkan alisnya, terlihat excited karena kali ini tebakannya benar. Biasanya dari 100 kali menebak ia hanya benar sekali. Seperti ketika gadis itu merasa desperate dengan soal-soal ulangan lalu memutuskan untuk menebak-nebak jawabannya saja. Maka ia akan berakhir di ruang guru dan mengerjakan remedial sampai 3 kali.

Aku mengangguk pelan kemudian tersenyum masam. Jisoo tampak tak paham. Ia memiringkan kepalanya ke kanan. “Aku kira kau dan ayahmu adalah pasangan-paling-baik-baik-saja-di-dunia. Kalian begitu kompak”

“Aku rasanya mau kabur saja” aku menyandarkan kepalaku kemudian mendongak, menatap langit-langit kamar Jisoo yang tinggi dan dicat putih bersih. Jisoo tampak tidak puas dengan penjelasanku.

“Kali ini masalah apa?”

“Tidak tahu” aku menjawab dengan gamang. Jisoo mendengus kemudian tertawa kecil. Ia menatapku dengan iris cokelatnya itu kemudian berkata, “Jennie aku tahu perasaanmu”

Aku menoleh cepat, “perasaan?”

“Kita lebih dari sekedar dua gadis yang hobi menggunjingkan hal-hal yang tidak penting” Jisoo mengambil boneka anjingnya kemudian tertawa, “begitupun kau dan ayahmu”

Dua kalimat yang mengalir lewat bibir seorang Kim Jisoo benar-benar mematikan.

“Aku tahu kau menyukainya lebih dari sekedar perasaan anak kepada ayahnya. Kalian bukanlah anak dan ayah, kalian hanya perempuan dan laki-laki yang berbeda umur 12 tahun” Jisoo kini menyandarkan kepalanya pada badan boneka anjing itu. Gadis itu tahu banyak. Ia lebih dari seorang perempuan yang hobi kuajak membolos. Ia tahu sisi hitam dan putih seorang Jennifer Kim.

“Bagaimana bisa—“

Bel pintu depan berbunyi. Kami berdua menoleh ke arah pintu itu kemudian aku melihat Jisoo tersenyum lembut. Ia menatapku dengan kedua alisnya yang terangkat kemudian berkata, “mari kita lihat siapa yang datang”

  ҉

Aku tidak tahu mengapa Tuhan dapat membolak-balik hidupku dengan semudah ini. Karena rasanya tersadar dalam pelukan seorang Kwon Jiyong adalah suatu ilusi paling nyata di dunia.

Tadi malam ia datang ke rumah Jisoo. Seperti orang gila, ia menanyai keberadaan Jennifer Kim hampir 10 kali tanpa henti. Dan saat ia melihatku berdiri tak jauh di belakang tubuh Jisoo, bibirnya mengatup.

Ia membiarkanku bermalam di kamarnya, dan terbangun dengan kedua tangan kekarnya yang melingkar di pinggangku. Ucapannya tadi malam benar-benar melumpuhkanku seketika.

“Jennie aku menyukaimu sejak lama”

“Jennie aku mengajak wanita berkencan di sini tidak lain agar aku bisa menghilangkan perasaan itu”

“Jennie kau berhasil mengubahku menjadi orang gila hanya dengan kurun waktu semalam”

“Jennie aku merasa seperti seorang pedofil

“Jennifer Kim”

Aku tahu bahwa ini merupakan kisah cinta paling gila.

“Jen”

Aku tersadar dari lamunan dan mendapati Jiyong telah membuka matanya. Ia tersenyum tipis dan mengelus rambutku. Aku balas tersenyum kemudian memeluknya.

“Kurasa aku harus berhenti memanggilmu Daddy”

“Itu menggelikan Jen. Demi Tuhan aku benci saat kau memanggilku begitu”

Daddy”

“Diam Jennie”

Daddy~”

“Diam atau aku akan menciummu”

Dad—“

 

Fin.

҉

Sumpah ini absurd dan ancur banget. A bunch of thankies buat yang mau baca atau komen!

Bonus pict! 😀

jen

jiy

 

 

 

 

 

 

21 thoughts on “Contrast

  1. Huwaaaa,,,
    Cerita nya so sweat tapi kayak nya masih kurang deh,,,,
    Author buat sequel nya dong tapi sequel nya series aja biar tambah seru dan menegangkan*lebaytingatdewa*

    • hai! iyanih aku tipenya kurang sabaran kalo bikin oneshot/ vignette 😦 tadinya mau bikin gd bawa pulang jennienya digendong gitu tapi kan aneh, masa tiba2 digendong *malah curhat*

      hayooo menegangkan apanyaaaa *salah fokus*=))

  2. Sumpah ini keren to the max thor suka narasiny suka tkohny suka suka semua mua ny :*
    ini beneran gak absurd samasekali seriusan (y) tibatiba ngepens sama si author n pairing jenny jidi xD

  3. afstor authornim bagus banget sumpah ,, Jennie sama Ji cocok apalagi pas baca ini FF lagi dgr lagu Black ^^ ,,, Ji itu bkn pedofil well Jen kan udah 16 taun beda kalo pas dy umur 7 taun lu ngomong cinta k’Jen

    • Haii wahh makasih banyak ya<3 iya jennie keren banget pas perform live bareng gd AAAAA *salah fokus* aku suka daragon, suka skydragon, suka jennie-dragon(?) juga *salah fokus lagi* setujuuuuu!(?)

  4. Keren alurny dan penggambaran karakter jg….
    Bneran ini ff Jennie-G dragon plg keren yg prnh kubaca.
    Awalny aku mikir ttg daddy-dayghter tp trnyata bjn sedarah toh.
    Nice story…really enjoy it

  5. kyaa, kereeen.. sumpah 😄 *guling2*
    aku fall in love sama jennie abis nonton mv that xx itu.. dan tadaa.. speechless bgt setelah baca ff ini >< asdfghjkl.. ini..ini.. 😀 omona (?)
    ceritanya asik, unik, dgn segala macem kemalesan dan kejorokan mereka itu bikin greget sendiri. aku bisa ngebayangin rumah mereka, jiyong dan jenni. oh my,oh my 😀 *kicked*
    ternyata mereka ada rasa ya. ugh, so sweet.. oke mungkin bukan so sweet, tapi apa ya… 'bapak sama anak saling suka' but well mereka ga punya hubungan darah so ayo2 aja..
    duhduh, uda deh saya terlalu excited sampai ga bisa omong apa2 lagi. intinya ini keren, man 😀 serius!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s