[FF Freelance] Love is Only You (2/2)

love is only you posters

Title : (2/2) Love is only you

Author : Upleize

Genre : AU,Romance, Family, Friendship

Length : two shoot

Ratings : PG

Cast :

Im Yoona

Lee Jonghyun

Lee Jungshin

Park Jiyeon

Desclaimer : Cerita asli milik author dan hanya fiksi belaka. Terinspirasi dari drama I hear your voice, AOA (Love is only you), Jazon miraz (Geek in pink), and our friendship (Uple, Don, Genta, Buntel, dan abang mekanik)

Note : Annyeong readers.. Thanks buat yang udh komen dan baca dan like… makasi juga buat yang udah nunggu ff ini. maaf  kalo storynya makin aneh. Warning  typo and happy reading guys

 

Previous: (1/2)

 

LOVE IS ONLY YOU

IM YOONA

Seperti dugaan, karyawanku berjejer menempel di kaca-kaca besar etalase kafe—penasaran dengan pria yang mengantarku kali ini—Lee Jonghyun. Aku meminta Jonghyun mengantaku ke kantor setelah perjalanan jauh kami pulang dari Daegu ke Seoul. Bisa kulihat ekspresi dan apa yang mereka pikirkan tentang momen langka ini. Ini pertama kali aku terlihat bersama seorang namja.

“Apa tidak mau mampir?” Tawarku. Jonghyun ikut turun dari mobil.

“Lain kali saja” Katanya sembari berbalik dan melambai padaku saat masuk kembali ke dalam mobilnya. Aku membalas lambaiannya dan masuk ke dalam kafe. Membuat langkah kaki karyawanku menjadi cepat—buru-buru kembali bekerja. Tak ada satupun yang bisa menggambarkan apa yang kurasakan. Aku terlalu bahagia untuk ini. Jonghyun bahkan tidak menyinggung sedikitpun tentang aku yang menangis saat memeluknya seakan tahu apa yang kurasakan saat melihatnya.

“Shin Jimin, berhenti menjodohkanku dengan siapapun!” Hardikku pada Jimin. Aku kemudian menceritakan segala kejadian yang aku alami semalam—aku melewati bagian tentang siapa Jonghyun. Biarlah hanya aku yang tahu, dia pria yang selama ini kutunggu.

*

LEE JONGHYUN

Aku kembali ke rumah setelah mengantar Yoona ke Kafe-nya. Dia tidak berubah sejak dulu—pekerja keras. Sejak mengetahui Yoona kuliah di tempat yang sama denganku, aku selalu penasaran dengannya. Mencari tahu apa yang dia kerjakan, dan apapun tentangnya. Aku mengenalnya lebih dari yang dia ketahui. Sayangnya pertemuan kami selalu tidak pas. Dan aku dengar dia punya seseorang yang dia cintai selama ini. Rumor itu bahkan beredar sejak masa kuliah kami. Tapi gadis itu masih mengingatku. Tidak sepertiku yang selalu melihatnya, gadis itu hanya bertemu denganku satu kali. Di daegu. Di jalan menuju rumahnya.

“Hyung!” Jungshin langsung menyambutku saat baru sampai di rumah.

“Jungshin? Kau tidak sekolah?”

“Hari ini kami pulang lebih awal, ada rapat seminar di sekolah” Jelasnya.

“Jiyeon?”

“Oppa Annyeong!”

“Aku baru saja mengantar kakakmu ke kafenya”

“Kau bersama Onnie sejak kemarin?” Tanyanya terkejut. Dia dan jungshin kemudian saling pandang curiga. Ah! Apapun yang mereka pikirkan terserah. Aku sangat lelah hari ini, badanku sepetinya akan segera remuk.

Aku mengangguk singkat dan berlalu begitu saja. Mungkin meninggalkan seberkas pertanyaan di kepala kedua anak itu. Aku memang sengaja membawa Im Yoona ke Daegu, dengan berbohong tentang mafia yang mengikuti kami. Semua itu hanya untuk membuktikan apa dia masih mengingatku atau tidak. Sangat kontra dengan diriku yang bahkan lebih mengenalnya. Dan Im Yoona masih mengingatku. Anak laki-laki yang mengembalikan berkas beasiswanya.

*

IM YOONA

Kapan dimulai, aku sekarang sudah sangat akrab dengan Jonghyun. Kami banyak menghabiskan waktu bersama—makan siang, nonton film, minum kopi atau sekedar ngobrol di rumahku sesekali. Semua ini seakan membayar semua penantianku selama bertahun tahun. Tak ada hal lain yang kuinginkan saat ini, aku bahagia dengan hanya melihatnya berbicara, menikmati setiap desahan nafasnya, dan senyumannya yang selalu menenangkan, mungkin cinta memang begini. Sederhana. Itu deskripsi aku mencintainya.

“Yoona, aku harus pamit dulu. Ada panggilan lagi dari kantor polisi” Katanya sembari berdiri.

“Baiklah” Kataku enggan berpisah dengannya—mungkin tak nampak sama sekali. Jonghyun akhir-akhir ini memang sibuk dengan pekerjaannya di pengadilan. Ah! Aku jadi teringat sesuatu.

“Jonghyun? Sebelum kau pergi, ada yang ingin aku tanyakan padamu”

“Apa?”

“Er… ini tentang mafia”

“Mafia?”

“Iya, yang waktu itu mengikuti kita”

“Oh itu, Im Yoona, maafkan aku. Hari itu aku hanya berbohong padamu, agar kau mau ikut denganku ke Daegu. Aku pergi dulu!”

Selama sepersekian detik aku akhirnya baru bisa mencerma apa yang dia katakan tadi. Jadi? Jonghyun berbohong demi mengajakku ke Daegu. Aku ingin mengklarifikasinya tapi terlambat. Jonghyun sudah melesat masuk ke mobilnya dan pergi dari tempat itu. Dia berbohong demi membawaku ke Daegu. Seperti dugaanku lebih tepatnya khayalanku.

“Im Yoona ssi?” Seseorang membuyarkan lamunanku. Aku menatap sosok itu yang berdiri di hadapanku. Loh? Pria ini kan.

“Lama tidak berjumpa!” Katanya lagi. Dia kan teman kenca buta-ku waktu itu? Kim Jongsuk. Aku memperhatikan matanya, dia masih tertarik padaku rupanya. Aku membungkuk sebentar kemudian hendak berlalu meninggalkannya sebelum dia menangkap tanganku

“Duduklah sebentar” Katanya “Kau tidak akan lolos kali ini!”

“Tolong lepaskan saya!” Kukepakkan tanganku hingga terlepas dari genggamannya

“Kau jangan coba-coba bercanda denganku nona” Manik matanya tertangkap mataku.

Aku dalam bahaya.

Aku berjalan cepat meninggalkannya. Menekan pedal gas kuat-kuat. Pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Jonghyun mungkin berbohong soal anak buah mafia itu mengikuti kami. Tapi aku bisa tahu, pria itu tidak akan melepaskanku. Sesaat aku jadi takut sendiri.

*

BRAK!

Itu adalah benda kesekian yang menjadi sasaran pemilik tangan besar—ruangan itu sudah terlihat obrak-abrik. Benda-benda bertebaran dimana-mana. Pria itu sangat marah dan memarahi semua orang-orangnya yang tertunduk lesu. Kali ini kerugian yang dialami sangat besar, bisa mengancam tenggelamnya bisnis yang dikelolanya.

“Siapa, yang bertanggung jawab mengurus kasus ini?” Kerah baju  anak buahnya  kali ini menjadi sasaran.

“Maafkan saya tuan!”

BUG!

“Aku tanya sekali lagi, siapa jaksa yang telah memenangkan kasus itu?”

“Dia…. Dia…Jaksa baru di kota ini, Lee Jonghyun!”

“Lee Jonghyun? Sepertinya aku pernah mendengar namanya, cari tahu informasinya dan segera berikan padaku!” Hardiknya sembari berpikir—mengingat-ingat nama yang tak asing baginya itu—Lee Jonghyun.

Lee Jonghyun? Siapa dia?

Terbenam dalam pikiran dalam waktu lama tak sia-sia. Pria itu memeras otaknya, mengingat-ingat tentang sosok Lee Jonghyun yang dia pernah mendengar namanya. Dia akhirnya ingat, Lee Jonghyun adalah pria yang membawa pergi teman kencannya Im Yoona malam itu.

“Yoboseo?”

*

 

Jonghyun baru saja keluar untuk mampir ke rumah Yoona malam itu setelah jam kantor. Entah sejak kapan dimulai, aktifitas makan malam di rumah Yoona dengan modus menjemput Jungshin menjadi alasan utama untuk hal ini.

“Ah!” Pekiknya saat hendak menyalakan mobil. Bukan apa-apa, dia hanya melupakan ponselnya di kantor. Dan itu artinya, Naik tangga tiga lantai karena lift-nya sedang rusak. Buru-buru keluar dari mobil dan kembali ke kantor.

“Jonghyun? Kau belum pulang?”

“Ah? Sunbaenim, Annyeonghasseyo!”

“Anyway, selamat atas kemenanganmu di kasus itu, kau tahu, kasus penyelundupan dan perdagangan manusia oleh mereka setiap tahun menjadi PR kami, kau sudah membuka jalan buntu kami selama bertahun-tahun ini”

“Animida” Jonghyun tertunduk tersenyum. Ini kesekian kalinya dia mendapat apresiasi dari  rekan-rekan atas kemenangannya membongkar gembong pemberontak Negara.

“Jonghyun-ah, bagaimana kalau kita minum-minum sebentar?”

“Eh?”

“Apa kau ada janji dengan seseorang?”

“Hehehe”

“Yasudah lain kali saja”

“Tidak Hyung, sudah lama sekali kita tidak minum. Biar aku yang traktir. Tunggu sebentar, aku mau mengambil ponselku dulu.” Jonghyun berlari kearah kantornya. Agak malu sebenarnya jika menolak ajakan seniornya itu. Tak apa, toh setelah ini masih akan ada banyak waktu untuk menemui Yoona. Pikirnya.

*

IM YOONA

            ‘Aku makan malam bersama seniorku, nanti Jungshin kujemput’

Sudut bibirku terangkat naik, membacanya. Sejak kapan pria ini punya kewajiban melapor kegiatannya padaku? kami bahkan Cuma berteman. Dan sebetulnya hanya kebetulan saja akrab, semua karena Jiyeon dan Jungshin adik-adik kami. Tapi aku senang, aku suka keadaan seperti ini.

Jungshin dan Jiyeon ada di ruang tengah. Hari ini mereka tak banyak bicara. Biar kutebak. Jungshin sedang cemburu pada Jiyeon, katanya mereka punya teman pindahan baru, namanya Kang Minhyuk dan mereka—Jiyeon dan Minhyuk—bisa akrab dengan cepat.

“Hei, apa kalian belum berbaikan?” Tanyaku

Gengsiku terlalu tinggi untuk minta maaf pada pria pelit itu

Dasar gadis tengil, bikin kesal tiap hari….

Mereka terdiam dengan runtukkan sendiri-sendiri di dalam hati. Aku mencuci piring kotor bekas makan  kami. Biarkan saja mereka seperti itu.

PRANGGGG!!!

Ada orang yang melempar kaleng minuman bersoda yang sudah dilumuri api ke kaca jendela dapur. Nyaris mengenai sudut tanganku.

“Nuna!”

“Onnie!”

Jungshin dan Jiyeon berlari ke dapur dengan keterkejutan yang luar biasa. Dapurku seketika panas penuh dengan api. Api tadi awalnya melahap sebuah serbet yang tergeletak di lantai.

“Cepat ambil Gasnya!” Perintahku panik. Apinya menjalar begitu cepat.

“Nuna, kau tidak apa-apa?” Jungshin membantuku berdiri setelah apinya berhasil padam.

“Sepertinya aku terluka” Ujarku lemah. Kuperhatikan lenganku sesaat, aku terkena pecahan kaca jendela hingga berdarah, banyak sekali.

“Onnie, kita ke rumah sakit saja”

*

“Im Yoona!” Jonghyun melesat masuk ke ruang rawatku. Aku harus dirawat di rumah sakit, luka sobek di lenganku cukup serius.

“Jonghyun?” Kuperhatikan wajahnya tersengal-sengal. Dia sepertinya berlari menyusuri lorong rumah sakit yang panjang itu.

“Gwenchana?” Aku mengangguk, dia meneliti tanganku yang diperban. “Kenapa bisa seperti ini?”

Jungshin kemudian menceritakan segala detilnya disertai anggukan Jiyeon. Mereka tiba-tiba berbaikan akibat kejadian ini.

“Kalian pulanglah, bukankah besok ada tes masuk Universitas?”

“Bisakah Jiyeon menginap di rumahmu dulu? Aku rasa dokter belum mengijinkanku pulang” Pintaku khawatir. Jiyeon tidak mungkin aku biarkan tinggal di rumah sendirian paska kejadian ini.

“Aku sudah memikirkannya, kau tenang saja. Sekarang cepat tidur!” Hardiknya padaku. cih! Jangan berdebat Im Yoona, kupejamkan mataku perlahan. Jonghyun mungkin mengantar mereka pulang setelah itu balik ke rumah sakit—menjagaku.

*

Dua hari setelahnya aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Jonghyun menyempatkan waktu untuk menjemputku dan membawaku pulang ke rumah.

“Aku akan menyelidiki siapa dalang dari semua ini”

“Sudahlah, jangan seperti itu, mungkin hanya orang iseng saja”

“Orang iseng katamu? Lihat pekerjaan orang iseng itu!” Jonghyun menunjuk lenganku yang masih diperban. Suara Jonghyun memang meninggi. Raut wajahnya dingin kuperhatikan. Bola matanya tetap terfokus pada jalan. Aku memilih diam saja.

“Kau istirahat saja di rumah, kita harus laporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib” Katanya  lagi, kali ini suaranya merendah sembari menatapku. Kami ada di lampu merah.

“Kenapa kau mengkhawatirkan aku?” lagi lagi aku mencoba membaca apa yang ia pikirkan. Tapi tetap tidak bisa. Jonghyun diam sebentar sebelum menjawab

“Karena aku temanmu” Katanya. Aku tersenyum tipis. Ternyata selama ini dia hanya menganggapku temannya. Tidak lebih. Aku jadi tersadar, kebaikannya selama ini sudah membawaku terlalu jauh dalam bayang-bayangku sendiri.

“Antarkan aku ke kafe saja”

“Bisakah kau satu hari saja istirahat?”

“Di Kafe banyak orang, takkan ada yang membahayakanku, lagipula kau harus kembali ke kantor”

“Baiklah kalau begitu”

*

Jonghyun terbenam di kantornya. Semenjak memenangkan kasus besar itu, dia jadi mendapat banyak tugas untuk ditangani. Sesekali memeriksa ponsel, apakah ada telpon atau sms dari Yoona atau tidak. Semenjak kemarin, keduanya belum bertemu hingga hari ini. Yoona bahkan tak menjawab telpon dan sms dari pria itu.

Drrttt…

“Yoboseo?”

“Kuperingatkan, jangan lagi-lagi mencampuri urusan kami, atau aka nada kejutan lebih hebat dari ini!”

“Siapa ini?”

“Ingat, aku memperhatikan gerak-gerikmu!”

“Jangan coba mengancamku”

“Kau bahkan mungkin tidak mau kan, gadis itu kehilangan wajah cantiknya?” Jonghyun sadar, gadis yang dimaksud sang penelpon adalah Yoona.

Klik! tuuuuuuuuut

“Yoboseo? Yoboseo?”

Jonghyun berlari menuju mobilnya. Dia harus segera menemui Yoona. Telpon gelap yang dialaminya tadi mungkin si pelaku pelempar kaleng minuman bersoda di rumah Yoona. Sebelum ke rumah Yoona, Jonghyun langsung melapor kejadian tersebut ke kantor polisi. Nomor telpon si pelaku langsung dilacak keberadaannya.

“Im Yoona, aku mohon angkat telponnya!” Jonghyun bergumam cemas, sembari menekan ulang nomor ponsel Yoona. Ponselnya tidak bisa dihubungi.

Tuuuuuut

Tuuuuuuuut

Tuuuuuuuuuut

*

            “Jiyeon ah, angkat telponnya!” Perintah Yoona pada sang adik. Jiyeon buru-buru mengangkat gagang telpon rumah. Jarang sekali ada orang yang menelpon ke rumah. Biasanya mereka telpon ke ponsel.

“Yoboseo?”

“Jiyeon-ah ini Oppa, Jonghyun Oppa!”

“Jonghyun Oppa?” Yoona bergidik saat mendengar ternyata Jonghyun yang menelpon. Dia memang sengaja tidak mengangkat telpon Jonghyun dari tadi.

“Iya, ini aku. Dimana Yoona?”

“Yoona Onnie?” Jiyeon menatap Yoona.Yoona menggeleng tidak ingin bicara dengan Jonghyun.

 

Ting tong.

“Bicaralah dengannya, ada tamu yang datang!” Yoona langsung meninggalkan ruangan itu dan membukakan pintu. Jiyeon mengintip sebentar siapa yang datang. Ada seorang pria dengan jaket kulit warna hitam, dia sepertinya mengirim sebuah paket. Tapi anehnya pria itu malah masuk ke rumah dan ngobrol dengan Yoona. Jiyeon menceritakan segala yang dilihatnya pada Jonghyun dan agak kebingungan dengan reaksi Jonghyun yang menyuruhnya meminta Yoona mengusir pria itu.

“Oppa.. tunggu sebentar” Jiyeon berjalan ke ruang tamu mencoba mendengar lebih dekat apa yang Yoona bicarakan dengan pria itu. Gagang telponnya portable, dia tetap menggenggamnya berniat melapor pada Jonghyun apa yang mereka bicarakan.

“Jiyeon? Masuk sana… tidak sopan!” Hardik Yoona

*

            IM YOONA

Ya Tuhan, lindungi aku dan Jiyeon, aku tahu pria ini orang jahat. Tolong lindungi kami.

Aku harus memancingnya keluar rumah ini. Kutatap matanya dengan berpura-pura berbicara dengan ramah. Pria ini punya niat jahat padaku.

Sial! Susah sekali membawanya keluar rumah. Gadis ini  Bisiknya lagi. Kakiku mungkin sudah cukup gemetar. Aku berusaha bersikap setenang mungkin. Sambil berharap seseorang datang. Ah! Bodohnya aku, menolak semua telpon dan pesan Jonghyun. Ini bukan saat yang tepat untuk menjauh darinya.

Baiklah, aku akan lakukan disini saja Bisa kulihat ujung mata pisau dari sakunya. Mungkinkah pria ini ingin membunuhku?

“Tuan, maaf aku harus segera ke rumah salah satu tetanggaku disini, akan ada pertemuan lingkungan apartemen sebentar lagi!” Aku berdiri dan menyalaminya. Bisa kulihat pria itu kembali memasukkan pisaunya dan tersenyum. Setidaknya aku tidak ingin Jiyeon melihat semua yang kualami nanti.

Apa yang Onnie lakukan? Pertemuannya bukankah sudah berakhir tadi? Kulihat kecemasan di raut wajah Jiyeon sebelum dia berlari masuk ke dalam. Aku ingin sekali menangis saat itu.

Aku berjalan keluar rumah bersama dengan pria itu. Bisa kulihat sebuah mobil box yang dia gunakan untuk mengantar barang—itu tipuannya, aku tahu.

Im Yoona, selamat tinggal gadis cantik!

Begitu mendengar pikirannya, aku langsung berlari sekencang mungkin. Tanpa peduli pria itu mengejarku. Pokoknya aku terus berlari. Sudah lewat jam malam, jalanan sangat sepi menjadikan nafasku mungkin bisa terdengar oleh orang-orang. Aku benar benar dalam bahaya. Pria Itu terus mengejarku.

Tuhan, tolong lindungi aku.

*

BUG!

Yoona bisa merasakan pelukan seseorang, mengambil semua perasaan takutnya—Lee Jonghyun.

“Jonghyun…?”

Jonghyun menariknya bersembunyi dari pria yang mengejarnya. Mereka bersembunyi dibalik sebuah tong besar. Begitu mendengar penjelasan Jiyeon Jonghyun langsung menuju ke tempat itu. Syukurlah Yoona baik-baik saja.

Terima kasih Tuhan.

 

“Reuni yang indah bukan?” Suara itu diikuti suara riuh beberapa orang yang berpakaian serba hitam. Mengelilingi Jonghyun dan Yoona—mereka dikepung. Seorang pria yang tentu saja mereka kenali keluar dari rombongan orang-orang berpakaian hitam.

“Kim Jong suk?” Yoona bisa mengenali pria ini. Jonghyun menatap nanar Jongsuk

“Kau masih mengingatku ?”

“Apa yang kalian lakukan?” Teriak Jonghyun

“Oh! Lee Jonghyun ssi? Akhirnya kita bertemu, setelah apa yang kau lakukan padaku?” Jonghyun mencoba mengaitakan semua kejadian yang terjadi secara cepat. Dia akhirnya paham dengan apa yang terjadi. Ini semua pembalasan dendam Kim Jongsuk padanya akibat kemenangan kasus yang memberatkan posisi Kim Jongsuk sebagai dalang dari semua kejahatan penyelundupan illegal.

“Lepaskan gadis ini!” Pinta Jonghyun

“Oh? Tidak akan kulepaskan setelah aku membunuhmu!”

“Jonghyun…” Yoona terisak, bersembunyi di balik punggung Jonghyun.

“Gwenchana” Jonghyun mencoba menenangkannya.

“Aku mungkin akan tidur dengannya setelah kau mati… ah, aku akan menikah dengannya saja!”

“Tutup mulutmu!”

Jonghyun mendekatkan mulut ke telinga Yoona membisikkan sesuatu,

“Larilah, sekuat mungkin” Yoona menggeleng sembari menangis. Dia tidak mungkin meninggalkan Jonghyun sendirian.

“Aku mohon lari Im Yoona!” Bisiknya lagi. Yoona semakin terisak. Pipinya basah bercampur keringat.

“Ayo kita lari bersama!” Yoona menggenggam tangan Jonghyun. Jonghyun menatapnya dalam, membuat Yoona menjadi semakin terisak.

*

IM YOONA

 

“Ayo kita lari bersama!” Kugenggam tangannya erat. Membuat Jonghyun harus menatapku dalam. Tunggu dulu. Aku bisa membaca apa yang dia pikirkan? Baru sekarang?

Aku mencintaimu

Entah tangis apa yang aku ingin tumpahkan saat itu, bahagiakah? Lega? Atau tangis ketakutan? Aku bisa membaca pikirannya, dan dia mencintaiku. Aku tidak percaya ini. genggamanku semakin kueratkan.

“Apa yang kalian lakukan? Habisi mereka!” Suara melengking itu semacam aba-aba untukku dan Jonghyun. Kami berlari secepat mungkin.

“Tangkap mereka, jangan biarkan mereka lolos!”

Walau harus mengalami patah kaki akibat guncangan yang keras dan rasa lelah tak terkira, bagiku asal bersamanya semua akan tetap oke. Aku menikmati keadaan dimana, kami berpegangan tangan sambil berlari. Melompati batu atau apapun yang menghalangi, rambut kami yang tertiup angin malam yang cukup dingin, dan napas tersengal-sengal kami yang kecepatan kaki dalam berlari. Sesekali aku menoleh kearah Jonghyun. Dia sangat khawatir dengan keadaan ini. semua tidak penting, yang jelas aku tahu. Dia mencintaiku—itu kata pikirannya.

Aku dan Jonghyun berlari hingga ke jalan raya utama. Orang-orang berpakaian hitam itu terus mengejar kami. Aku merasa seperti ada di adegan-adegan film action. Jalanan sudah sangat sunyi saat itu, menjadikan kami harus melakukan kesalahan yang fatal.

Tiiiiiinnnn…tiiiiiinnnn

“IM YOONA!!!”

 

BRAAAAAKKKKKKK!!!!

 

Jonghyun memelukku sembari tersenyum. “Gwenchana?” Aku mengangguk pelan kemudian terbenam di dadanya.

*

 

Silau sinar matahari bisa kurasakan menembus wajahku, rasanya aku baru saja terbangun dari tidur yang cukup lama.

“Dokter, nona Im sudah sadar” Kudengar samar-samar suara orang-orang yang ada di ruangan itu. Sepertinya aku di rumah sakit—tebakku. Memang benar, aku di rumah sakit. Begitu melihat aku sadar, mereka langsung bergerak melakukan hal-hal yang tidak kumengerti.

“Dokter?”

“Iya, nona Im? Bagaimana perasaan anda?”

“Aku… apa yang terjadi?”

“Kami akan menghubungi keluarga anda”

Sepertinya tidak ada yang menungguiku disini. Benar, Jiyeon mungkin ke sekolah. Dia harus mengurus pendaftarannya ke universitas. Dan Jonghyun? Mungkin dia sibuk di kantor. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka.

“Yoona ssi?”

“Eh?”

Seorang wanita paru baya masuk ke dalam ruang rawatku, wajahnya seperti tidak asing bagiku. Mirip dengan seseorang. Tunggu? Apa ini ibu Jonghyun?

“Perkenalkan Lee Hyerim imnida, Ibu Jungshin!”  Benar. Wajah beliau memang mirip Jonghyun.

“Annyeonghasseyo!”

“Syukurlah, anda sudah sadar, bagaimana keadaan anda?”

“Aku merasa lebih baik, tapi sepertinya ada yang aneh dengan kakiku!” Ibu Jonghyun memasang tampang sedih.

Kasihan sekali gadis ini… Apa yang terjadi? Kakiku tidak bisa kugerakkan?

“Apa yang terjadi Nyonya, kakiku!” Aku terisak panik. Ny. Yerim memelukku tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaanku. Beliau terus menangis. Jadi aku kehilangan kakiku?

“Ada apa dengan kakiku?” Isakku sesegukan di pundaknya.

*

 

Setelah cukup tenang, Ny. Yerim mengajakku berkeliling rumah sakit dengan kursi roda. Aku sebetulnya sangat terpukul dengan kehilangan kakiku. Tapi aku lebih tidak tega melihat wanita ini ikut menangis denganku. Aku jadi teringat Ibu. Mulai detik ini aku harus terbiasa dengan kehidupan kursi roda. Dokter bilang, aku bisa melakukan terapi tambahan jika kondisiku sudah pulih, walau akan berjalan lambat, beliau membesarkan semangatku untuk bisa kembali berjalan.

Ny. Yerim menemaniku sepanjang hari. Menceritakan tentang Jungshin dan Jiyeon yang berhasil masuk universitas dengan nilai yang memuaskan—Syukurlah.  Beliau juga menceritakan hal-hal lain selama aku tertidur. Tapi tidak sedikitpun menyinggung tentang  Jonghyun.

“Nyonya, dimana Jonghyun? Apa dia tidak menjengukku?” Raut wajah nyonya Yerim berubah seketika. Beliau menunduk, aku tidak bisa melihat mata beliau.

“Iya, dimana Jonghyun Nyonya”

“Jonghyun bilang, dia mencintaimu” Kata Nyonya. Yerim tanpa menjawab pertanyaanku. Aku tahu, Jonghyun mencintaiku. Tapi aku belum dengar langsung dari mulutnya. Jonghyun mungkin bercerita tentangku pada ibunya.

Ny. Yerim kembali menangis. Meisyaratkan kecemasan. Jantungku berdegub dengan kencang tiba-tiba. Apa Jonghyun…..

“Dimana Jonghyun Nyonya?”

“Bagaimana aku harus menjelaskan padamu!” Beliau menangis menatapku. Akhirnya aku tahu

Jonghyun meninggal dalam kecelakaan itu.

 

Bagaimana aku harus mengekspresikan kesedihanku saat ini? aku tidak tahu caranya. Rasanya menangispun tak akan cukup untuk ini semua. Jonghyun sudah pergi untuk selamanya. Awalnya saat mendengar kehilangan kaki, aku pikir tidak apa. Akan ada Jonghyun yang menopangku, menjadi kakiku. Dan sekarang? Bagaimana aku akan berdiri nanti.

 

*

Berhari-hari aku mencoba menerima semua kenyataan, ketidakadaan Jonghyun di sisiku lagi. Jadi pelukannya saat itu adalah pelukan terakhir untukku. Aku menolak semua makanan buatan Ny.Yerim ataupun Jiyeon. Aku menolak menemui siapapun, tidak aka nada yang mengerti, selama bertahun-tahun aku menunggunya, dan saat dia kembali, aku harus terima kalau dia sudah pergi lagi. Bahkan untuk selamanya. Aku kembali menutup diriku seperti yang dulu. Mungkin dengan cara ini aku baru bisa menerima kenyataan. Melanjutkan hidup dengan sisa cintaku untuknya.

Ini tantanganku Im Yoona

*

“Jonghyun, aku datang lagi!” Kuletakkan bunga tulip putih di atas pusaranya. Ini adalah tahun ke-20 Jonghyun pergi.

Kau lihat? Aku bisa tersenyum sekarang.

“Ahjumma, ? kau tidak apa apa?” Kata Shinyeon padaku. aku berbalik padanya. Gadis remaja ini adalah seseorang yang sering mendengar cerita kami. Tentang aku dan Jonghyun. Dia keponakanku, anak Jungshin dan Jiyeon.

“Jonghyun? Kau kenal Shinyeon? Dia keponakanmu juga!” Kataku

“Annyeonghasseyo Ahjussi!” Shinyeon membungkuk.

“Ayo kita pergi, sudah mulai gelap”

Aku pergi dulu Jonghyun…

Kenyataannya, aku masih mencintaimu hingga detik ini…

 

*

 

LEE JONGHYUN

Sudah sekitar 2 tahun aku kuliah disini—Bethany College, California dan aku baru tahu, gadis bernama Im Yoona itu juga kuliah di tempat yang sama denganku. Awalnya aku tidak mengenalnya, sampai temanku menunjukkan sosok Yoona yang muncul di tabloid kampus sebagai pemenang kontes rancang busana antar-universitas. Aku baru ingat, nama gadis itu. Dia adalah gadis yang kukembalikan map berkas beasiswanya waktu itu, saat kami di Daegu. Semenjak saat itu, aku selalu mencari waktu yang tepat untuk menemuinya, tapi sayang, jarak gedung fakultas kami yang cukup jauh membuatku tidak sempat melakukannya.iya, Fakultas kami berbeda. Dia di fakultas seni jurusan design dan aku di fakultas Hukum jurusan Hukum Internasional

Walau demikian, aku diam-diam mengikuti perkembangannya dari jauh. Aku melihat dan menikmati apa yang dia lakukan. Mencari tahu tentang seperti apa sosok Im Yoona itu. Aku sering bertemu dengannya secara tidak sengaja mungkin di perpustakaan utama atau di restoran Korea yang ada di California. Tapi dia tidak mengenaliku, tentu saja. Dia pasti sudah lupa padaku. kami bahkanhanya bertemu satu kali.

Yoona punya banyak penggemar terutama pria. Jelas saja, dia gadis yang sangat cantik. Dan berbeda dari semua teman-temannya, tentu karena dia orang Korea. Karena aku juga mengalami hal yang sama. Aku juga berbeda dari teman-temanku.Tapi aku dengar, dia punya pria yang di cintai. Kita-kira siapa pria itu? Apa mungkin aku orangnya? Hahahah. Aku selalu seperti ini.

Yoona pulang ke Korea setelah menyelesaikan pendidikanny a. Orang tuanya meninggal dunia hingga dan harus mengurus adiknya yang seumuran Jungshin. Dari situlah aku mulai kehilangan  mataku untuknya. Aku terus melanjutkan studiku hingga jenjang S3 sehingga memaksaku lebih lama di California.

Aku harap, kami akan bertemu lagi…. Aku ingin bilang, kalau aku menyukainya.

 

*

END.

 

THANKS FOR WAIT, READ, AND LEAVE COMMENT IN THIS STORY *BOW*

Advertisements

28 thoughts on “[FF Freelance] Love is Only You (2/2)

  1. ternyata jonghyun ma yoona dari dulu udah sama2 suka,, cuma bedanya jonghyun tau perkembangan tentang yoona sedangkan yoona tidak tau apa2 tentang jonghyun,,,
    masih penasaran kenapa yoona baru bisa baca pikiran jonghyun pada saat2 terakhir mereka bersama ><

    • Iya.. jonghyun ga prnh tau kalo yoona th cinta mati sama dia.. kasihan jg si jonghyun
      Entah kenapa bisa begitu ching.. settingan alam mmg bgitu.. hahahahaha..
      Thanks udh baca n comment ya..

  2. ini kereeeeen! daebak thor! nyesek banget. feelnya dapet banget. apalagi pas yoona tahu pikirannya jonghyun, duh so sweet sekaliii ^^ bikin deerburning lagi ya thor! hehehe

  3. paling sebel yang namanya sad ending T_T. jonghyun ngelindungi yoona dari kecelakaan, sedih pas tau jonghyun meninggal. lain kali buat deeburning yang married life thor biar lebih seru hehe…..

  4. dan ternyata ending ny sad…nangis ni Chingu…takjub sama cinta mereka…dan Yoona selama ny bkal mencintai Jonghyun yg udh tiada,,,ah tmbh nyesek.
    Keren ff ny,walau tadi berharap bnget happy ending…ya sudah lah…good job Author.,udah bikin aku nangis bombay begini..hiks.

  5. annyeong, new reader here^^ aku suka ff mu thor bagus bgt walaupun akhirnya sad ending, pas baca part ini hampir aja nih air mata jatoh thor kkk~ ditunggu ff deerburning selanjutnya, dan kalo bisa bikin yg genrenya married life ya thor^^ kkkk~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s