I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.2]

I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD-MYUNGZYYEON

Author: Anditia Nurul

Judul: I Wanna Give You A Child–Remake Ver. [Chap.2]

Rating : PG-13

Genre  : Marriage-Life, Drama, Angst, Romance

Main Characters: (Infinite) L / Myungsoo, (Miss A) Suzy & (T-Ara) Jiyeon

Additional Characters: (Infinite) Sungyeol

Length: Multichapters/ Chaptered

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. Inspirated By Hello Band – 2 Cincin MV, but the plot is mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her/their parents and his/her/their agency. OCs are mine! Versi asli dari FF ini, aku pake cast Ryeowook & OCs. Dan, untuk versi kali ini, aku membuat sedikit revisi, tapi jalan ceritanya masih sama dengan versi aslinya dengan perbaikan tata bahasa di sana-sini :D

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan. KLEENEX WARNING!

Previous: Prolog | Chapter 1 |

HAPPY READING \(^O^)/

-Suzy’s POV-

Aku terdiam mendengar syarat yang diajukan oleh Myungsoo Oppa. Dia akan menikah dengan Jiyeon, asalkan aku dan dia tidak bercerai!?

“Kau mencoba mempermainkan aku, hm?” tanyaku tanpa menatap ke arahnya.

“Mempermainkanmu? Ya! Coba ingat baik-baik, siapa yang memintaku menikah dengan Jiyeon?” tanyanya, membuatku tersinggung. “Aku hanya berusaha mengikuti permainanmu, Suzy-ya. Aku hanya meminta 1 syarat agar aku bisa bertahan dalam permainan yang kau buat!” kata Myungsoo Oppa terkesan dingin.

Kuberanikan diriku untuk melihat ke arahnya. Mendapati mata teduhnya itu menyorot tajam ke arahku.

“Bagaimana, Suzy-ya?” tanyanya sekali lagi.

Kualihkan pandanganku ke arah lain. Tidak ingin memperlihatkan mataku yang tengah berkaca-kaca. Hah! Kau cerdik, Kim Myungsoo.

“Aku sudah selesai sarapan.” Terdengar suara Myungsoo Oppa disusul suara kursi yang tergeser, menandakan ia beranjak dari tempat duduknya.

“Baik,” kataku sambil melihat ke arahnya. Pria itu berhenti dan melihat ke arahku. “Kita tidak akan bercerai,” lanjutku.

Myungsoo Oppa menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya. Sepersekian detik kemudian, ia beranjak menghampiriku, sedikit membungkukkan badannya untuk membisikkan sesuatu di telingaku, “Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, jagiya. Aku akan melakukan apapun asalkan kita tetap bersama karena aku mencintaimu.”

Aku tidak tahu harus merespon seperti apa.

“Aku berangkat dulu,” pamitnya, lalu mengecup keningku.

Hah~ ini akan menjadi sangat berat dari apa yang aku bayangkan.

-End Of Suzy’s POV-

@@@@@

-Myungsoo’s POV-

Sejujurnya, aku sengaja mengajukan syarat seperti itu agar Suzy mau menarik kembali ucapannya dan ia membatalkan keinginannya untuk menikahkan aku dengan Jiyeon. Tapi, Suzy malah setuju. Dan itu artinya, sebentar lagi aku akan mempunyai 2 orang istri, Suzy dan Jiyeon.

Aku tidak tahu apakah keputusan yang aku ambil ini benar atau tidak. Hanya saja, aku cukup mencemaskan akibat dari keputusanku ini. Bagaimanapun, jika nanti aku menikah dengan Jiyeon, tentu aku harus berlalu adil padanya. Masalahnya sekarang, apakah aku mampu membagi cintaku—yang hanya untuk Suzy—kepada Jiyeon?

Ah, jinccaro.

Belum menikah seperti ini pun, aku mulai merasakan semua ini akan menjadi rumit.

“Ddrrtt… ddrrtt….”

Tepat di saat aku hendak beranjak menuju kantin untuk makan siang, kurasakan HP di saku celanaku bergetar. Kurogoh saku tersebut, mengeluarkan HP dari sana, kemudian melihat sebaris tulisan yang tertera di layarnya.

“One message received. Nae Suzy.”

Uh? Suzy? Jangan-jangan dia mau mengajak makan siang bersama.

‘KLIK!’’

Yeobo, datang ke Rainbow Resto sekarang. Kau mau makan siang, kan?”

Aku mengetik pesan balasan untuknya.

Ne. Apa kau makan siang di sana, hm?”

Hampir 5 menit sejak aku mengirim pesanku kepada Suzy, tapi ia tidak membalasnya. Ah, mungkin pulsanya sudah habis. Lebih baik aku ke sana saja. Rainbow Resto. Tempatnya tidak begitu jauh dari sini.

Setelah berjalan kaki di bawah matahari yang bersinar cukup terik, akhirnya aku tiba di Rainbow Resto. Kulangkahkan kakiku memasuki tempat yang berwarna-warni seperti pelangi. Aku memandang ke setiap sudut restoran, mencari sosok Suzy.

Tidak ada.

Sepertinya dia belum datang.

Kuputuskan untuk duduk di salah satu kursi sembari menunggu kedatangan Suzy. Namun, belum cukup semenit aku duduk, kedua mataku menangkap sosok Jiyeon yang baru saja memasuki resto ini. Hanya Jiyeon sendiri. Tidak ada Suzy. Ya! Apa… Suzy sengaja mengirim pesan seperti itu untuk mengatur agar aku makan siang bersama Jiyeon!?

Tidak lama, kulihat Jiyeon berjalan menghampiriku. Ia tersenyum canggung begitu aku melihatnya. Tangan kanannya menarik kursi yang berhadapan denganku, duduk di tenpat itu.

“Kata Suzy, ada yang ingin oppa bicarakan denganku,” ucap Jiyeon.

Mwoya?

Aigo. Apa yang dikatakan Suzy pada Jiyeon, eoh?

“Ba-bagaimana kabarmu, Jiyeon-ah?” tanyaku pada akhirnya. Entah apa yang direncanakan Suzy dengan menyuruh Jiyeon ke tempat ini. Apa… mulai hari ini dia ingin aku kembali dekat dengan Jiyeon, eoh!?

“Aku baik-baik saja. Oppa sendiri bagaimana?”

“Baik. Aku juga baik-baik saja.”

Atmosfer canggung benar-benar menyelimuti suasana di antara kami. Kulihat Jiyeon mulai menggigiti bibir bawahnya dengan mata yang terus melihat ke sekitar, menghindari kontak mata denganku. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Entahlah. Aku… masih canggung untuk berbicara dengannya setelah cukup lama kami tidak berbicara berdua—biasanya ada Suzy. Terlebih, setelah Suzy memintaku untuk menikahinya.

Silyehamnida, Tuan dan Nyonya. Mau pesan apa?” Seorang pelayan menghampiri meja kami, lengkap dengan catatan kecil di tangannya.

“Je—”

“Jerk chicken dan strawberry punch 2.”

Aku tersentak begitu Jiyeon menyebut makanan kesukaanku di resrtoran ini. Ne, dulu, ketika aku masih bersamanya, setidaknya sekali dalam sebulan aku mengajaknya ke tempat ini untuk menikmati satu porsi jerk chicken serta strawberry punch terlezat yang ada di Seoul. Dan ternyata, Jiyeon masih mengingat hal itu.

“Kau… masih menyukai makanan dan minuman itu, kan, Oppa?” tanya Jiyeon setelah pelayan tersebut meninggalkan meja kami.

Aku mengangguk. “Ne.”

Kembali, kami berdua pun terdiam.

Oppa-ya,” panggil Jiyeon memecah keheningan, “Apakah… orang yang menyuruhku ke sini benar-benar kau atau… ini adalah rencana Suzy agar kita bertemu?” tanyanya terdengar hati-hati. Kedua matanya menatapku.

Aku mengalihkan pandanganku sekilas darinya, lalu kembali menatapnya. “Suzy,” jawabku. “Suzy yang melakukannya.”

“O-Oh~” ucapnya singkat, terdengar kecewa. Ia menyunggingkan senyum simpul yang terlihat sangat dipaksakan.

Mianhae, Jiyeon-ah, aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu, tapi apakah aku harus berbohong karena hal ini? Tidak, kan!?

“Aku ingin menanyakan satu hal padamu, Jiyeon-ah,” kataku kemudian.

“Me-menanyakan apa?”

“Alasanmu. Apa alasanmu menuruti permintaan Suzy?”

Wanita itu terdiam sejenak. Menghela nafas. “Aku hanya ingin membantunya.”

“Kau yakin kau benar-benar hanya ingin membantu mewujudkan keinginannya?”

Ne, tentu saja,” jawab Jiyeon sambil mengangguk pelan.

“Baguslah kalau begitu.”

Tidak lama setelah percakapan itu, seorang pelayan pun menyajikan pesanan kami di atas meja. Aku dan Jiyeon makan dengan tenang. Yang terdengar hanya suara orang-orang yang berbicara di sekitar kami. Sesekali aku memperhatikan wanita yang berada di hadapanku. Setiap kali kami bertemu mata, lekas ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Sekitar 10 menit kemudian, aku dan Jiyeon telah menyelesaikan makan siang kami. Jiyeon melirik jam tangan berwarna ungu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu bekata, “Mianhae, Myungsoo Oppa. Aku harus kembali ke redaksi.”

Ne, silahkan.”

Tangan kanannya merogoh hobo bag-nya, mengeluarkan dompet dari sana.

“Tidak usah, Jiyeon-ah. Biar aku yang bayar,” kataku, mengerti maksud dari Jiyeon mengeluarkan dompet.

“Baikalah kalau begitu. Terima kasih atas makan siangnya, Oppa. Senang berbicara denganmu. Aku permisi dulu,” pamitnya, lantas meninggalkanku yang masih duduk di dalam Rainbow Resto.

Hmph~ ini benar-benar sulit.

-End Of Myungsoo’s POV-

-Jiyeon’s POV-

Aku berjalan menuju halte, menunggu bis yang akan mengantarku kembali ke redaksi majalah. Tidak lama waktu berselang, bis yang kumaksud terlihat muncul di kejauhan. Bergegas aku masuk ke dalam bis ketika ia tiba. Tapi, karena bisnya penuh, terpaksa aku berdiri bersama beberapa penumpang lainnya.

Hmph~

Tadinya aku menyangka bahwa Myungsoo Oppa yang meminta Suzy untuk menyampaikan padaku bahwa… ia ingin makan siang di Rainbow Resto. Ternyata, Suzy yang mengatur semua ini. Hah~ rasanya sungguh bodoh aku berpikir seperti itu.

Ya! Jiyeon-ah, kau pikir Myungsoo Oppa masih menyukaimu, eoh?

Aku rasa Myungsoo Oppa tidak begitu suka bertemu denganku tadi. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin, ia mengira yang akan datang ke restoran dan makan siang bersamanya adalah Suzy. Cara ia menjawab pertanyaanku tadi pun terkesan dingin. Terlebih, ucapannya saat aku mengatakan alasanku menerima permintaan Suzy.

Aku memang ingin membantu Suzy. Aku benar-benar ingin membantu sahabatku itu. Dan, ya, aku berharap Myungsoo Oppa bisa memaafkan kesalahanku yang dulu. Aku tidak begitu berharap banyak dengan ia akan kembali mencintaiku seperti dulu begitu kami menikah nanti. Aku… aku hanya ingin dia bisa memaafkanku. Itu saja. Sungguh.

@@@@@

Setelah pertemuan kami di Rainbow Restoran hari itu, aku dan Myungsoo Oppa beberapa kali kembali makan siang berdua atau… sekedar jalan-jalan berdua. Kadang bertiga jika ia memaksa Suzy untuk ikut bersamanya. Ne, setidaknya itu yang dikatakan Suzy setiap kali kami jalan bertiga.

Malam ini, Suzy mengundangku untuk makan malam di rumahnya. Wanita itu ingin membicarakan beberapa hal sekaitan dengan acara pernikahanku dan Myungsoo Oppa minggu depan. Tentu saja acara ini sudah diketahui oleh keluargaku, keluarga Myungsoo Oppa dan tentu saja keluarga Suzy juga. Entah bagaimana respon dari keluarga mereka, tapi kedua orangtuaku sempat menolak acara pernikahan ini.

Ya, siapa yang mau melihat putrinya menjadi istri seorang pria yang jelas-jelas masih memiliki seorang istri?

Tapi, setelah  aku jelaskan alasanku, akhirnya  kedua orangtuaku menerima.

“Ting… tong….” Aku menekan bel ketika aku sudah tiba di depan pintu rumah Suzy dan Myungsoo Oppa.

“Ting… tong….” Sekali lagi aku menekan bel tersebut setelah beberapa saat tidak ada respon dari salah satu pemilik rumah.

Aku hendak menekan tombol untuk ketiga kalinya, tapi telingaku menangkap suara langkah dari dalam rumah. Seseorang—entah Suzy atau Myungsoo Oppa—tengah membukakan pintu untukku.

“Oh, neo. Ayo, masuk.” Ternyata yang membuka pintu adalah Myungsoo Oppa.

Aku pun berjalan masuk memasuki rumah berdesain minimalis itu, mengikuti Myungsoo Oppa. Dari dalam rumah, hidungku telah mencium aroma daging panggang.

“Suzy ada di dapur kalau kau mau bersamanya,” ucap Myungsoo Oppa tanpa menoleh padaku. Pria itu sendiri duduk di ruang televisi, asik menonton pertandingan sepakbola antar klub eropa yang disiarkan oleh sebuah siaran khusus olahraga.

Aku terus melangkah menuju dapur, mendapati Suzy yang sedang membola-balik daging yang sedang ia panggang.

“Suzy-ya?” panggilku.

Wanita itu menoleh. “Uh, Jiyeon-ah, kau sudah datang, eoh,” serunya terkejut. “Kau duduk saja dulu di ruang televisi bersama Myungsoo Oppa. Sebentar lagi daging ini matang,” katanya.

Aniya. Aku mau membantumu,” kataku.

Suzy menghela nafas. “Baiklah, kalau itu maumu.”

@@@@@

Suasana makan malam yang cukup tenang. Hanya sesekali Suzy dan aku berbicara. Sementara Myungsoo Oppa? Ah! Jangan tanya. Dia hanya diam dan diam seolah di dunia ini hanya ada dia dan makan malamnya.

Usai acara makan malam, Myungsoo Oppa langsung masuk ke kamar. Kata Suzy, dia memang biasa seperti itu. Mungkin dia mau membaca buku atau mengerjakan pekerjaan dari kantor yang ia bawa ke rumah. Ketika Myungsoo Oppa di kamar, aku membantu Suzy membersihkan meja makan serta mencuci peralatan makan.

Hmm~

Kedepannya, aku akan sering melakukan hal ini bersama Suzy.

Setelah semuanya selesai, aku dan Suzy duduk di sofa yang berada di ruang televise. Sebuah drama—entah judulnya apa—tengah tayang. Kulihat Suzy begitu memperhatikan drama tersebut.

“Suzy-ya…,” panggilku pelan.

Wanita berambut panjang itu menoleh ke arahku. “Ne, waeyo?”

“A-Aku… aku sungguh tidak enak hati padamu,” ucapku lirih.

Suzy menatapku, lalu tersenyum. Sepersekian detik kemudian, dia memelukku sambil membisikkan sesuatu di telingaku, “Gwenchana, Jiyeon-ah. Semua ini kan keinginanku. Kau tidak usah merasa tidak enak hati begitu.”

“Tapi, Suzy aku—”

“Sudahlah. Semua akan baik-baik saja,” katanya.

Suzy-ya, jangan bohong padaku. Mungkin kau bisa berpura-pura tegar di hadapanku, tapi aku tahu Suzy, aku tahu di dalam hatimu, kau pasti menangis, kan? Kau pasti tersiksa dengan perasaanmu. Suzy-ya, jika kau benar-benar tersiksa dengan semua ini, katakanlah. Sebelum semua itu terjadi, katakanlah. Aku sahabatmu, Suzy. Aku tidak akan membiarkanmu terluka karenaku.

-End of Jiyeon’s POV-

-Suzy’s POV-

Kurasakan tubuh mungil Jiyeon bergetar ketika aku memeluknya. Bahkan, aku mendengar suara isak tangis. Aku tahu ini pasti berat bagi Jiyeon. Terlebih, Myungsoo Oppa sedikit mengacuhkan keberadaannya. Padahal, sebentar lagi Jiyeon juga akan menjadi istrinya. Hah~ karena keegoisanku ini, banyak orang yang menderita. Tapi, aku tidak bisa mundur. Aku sudah berusaha sejauh ini. Jiyeon dan Myungsoo Oppa akan menikah minggu depan.

Menyadari Jiyeon menangis, aku melepas pelukanku darinya, mendapati wajah cantik sahabatku basah karena air mata.

“Jiyeon-ah, uljima. Kenapa kau menangis, eoh?” tanyaku sambil menatapnya.

Wanita itu bergegas menyeka air mata di kedua pipinya dengan punggung tangannya. Sebuah senyum terukir di wajahnya. “Gwaenchana, Suzy-ya. Gwaenchana. Mianhae membuatmu cemas,” katanya, lalu tersenyum lagi.

“Seharusnya aku yang minta maaf padamu. Aku yang membuatmu seperti ini.”

Lagi, Jiyeon tersenyum. “Aniya. Aku yang memutuskan untuk membantumu. Jadi, ini sama sekali bukan kesalahanmu, ara?” Wanita itu menggenggam kedua tanganku.

Gomawo, Jiyeon-ah. Entah aku harus bagaimana seandainya kau tidak ada.”

“Sudahlah,” katanya. “Oh, ya, aku mau pulang, Suzy-ya. Takut kemalaman,” tambahnya.

Ne,” balasku. “Tunggu di sini sebentar, aku akan memanggil Myungsoo Oppa.”

Setelah aku memanggil Myungsoo Oppa yang sedang membaca di kamar, kami mengantar Jiyeon hingga ke pintu depan. Wanita itu masih sempat bercanda sebentar sebelum ia menaiki taksi. Setelah Jiyeon pergi, Myungsoo Oppa lebih dulu masuk ke dalam rumah disusul olehku.

Oppa-ya, aku mohon, setelah kau menikah dengan Jiyeon, tolong jangan bersikap dingin padanya,” ucapku, membuat Myungsoo Oppa menghentikan langkahnya. “Jebal.”

“Baiklah, kalau itu maumu,” ucap Myungsoo Oppa datar tanpa berbalik menghadapku.

Ne. Gomawo.” Dan ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar.

@@@@@

A Week Later…

Akhirnya hari ini tiba juga. Hari dimana Kim Myungsoo tidak lagi menjadi milikku seutuhnya. Dia terlihat sangat tampan dengan jas putihnya. Ya, persis seperti ketika ia menikahiku dulu. Aku belum sempat melihat seperti apa Jiyeon hari ini karena sejak tadi, Myungsoo Oppa melarangku untuk meninggalkannya.

Jagiya…,” panggilnya lirih ketika aku membantunya mengenakan dasi.

Aku sedikit mendongak untuk menatap kedua mata teduhnya. “Ne?

Tanpa izin dariku, Myungsoo Oppa langsung mencium bibirku. Aku terkejut, hendak menghentikan ciuman ini, tapi… tangan Myungsoo Oppa yang melingkar di pinggangku menahanku. Myungsoo Oppa masih menciumku, merasakan lumatan-lumatan lembut di bibirku.

Saranghae, Suzy-ya. Saranghae,” ucapnya, memberi jeda untuk ia menghirup udara, lalu kembali melumat bibirku. Lama. Hingga lidahku merasakan sesuatu yang sedikit asin. Air mata. Apakah Myungsoo Oppa menangis?

Myungsoo Oppa pun melepaskan ciumannya. Bergegas menyeka air mata yang masih mengalir di pipinya. “Ah, mianhae, aku kelilipan,” katanya bohong. Jelas kulihat kedua matanya sembab. Myungsoo Oppa kemudian menghela nafas. “Bagaimana? Apa aku sudah kelihatan bagus?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Ne. Kau tampan, Oppa. Kau sangat tampan,” jawabku. Aku melirik jam di dinding. “Ah, sebentar lagi waktunya, Oppa. Kau harus bersiap di depan altar.”

Myungsoo Oppa mengangguk pelan. Ia  melangkah menuju pintu ruangan pengantin pria. Namun, baru dua kali ia melangkah, Myungsoo Oppa kembali dan memelukku erat.

“Suzy-ya, mianhae,” gumamnya.

Air mata yang sejak tadi aku tahan, akhirnya mengalir perlahan di kedua pipiku. “Kau tidak perlu minta maaf padaku, Oppa. Ini bukan salahmu. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku yang membuatmu melakukan ini. Mianhae.”

Myungsoo Oppa hanya diam, namun pelukannya semakin erat. Pelan, aku menarik tubuhku menjauh darinya. “Aku tidak apa-apa, Oppa. Ayo, keluar. Pengantin wanitamu menunggu,” kataku, mendorong tubuhnya pelan agar ia segera keluar dari ruangan.

Pria tampan itu sempat memperhatikan beberapa saat, kemudian ia pun melangkahkan kakinya keluar. Ketika hanya ada aku sendiri di ruangan kecil ini, air mataku kembali bercucuran. Bohong kalau aku mengatakan hal ini tidak menyakitkan.

Hal ini menyakitkan.

Sangat.

Meskipun hal ini terjadi karena permintaanku sendiri.

Setelah menangis beberapa saat, aku keluar dari ruangan, pergi ke toilet untuk membasuh wajah dan memperbaiki riasanku. Kemudian, aku pun beranjak menuju ruangan utama, ruangan yang menjadi tempat Myungsoo Oppa dan Jiyeon mengucap janji pernikahan.

-End Of Suzy’s POV-

-Myungsoo’s POV-

Pernikahanku dengan Jiyeon tidak begitu meriah. Hanya ada keluargaku, keluarganya dan juga keluarga Suzy serta teman-teman dekat saja. Jujur, pada saat aku dan Suzy mengatakan rencana ini, keluarga kami menolak. Ya! Tentu saja mereka menolak. Aku bahkan berharap dengan penolakan mereka, Suzy akan berhenti merencanakan pernikahan ini. Tapi, entah bagaimana cara Suzy meyakinkan keluarganya dan juga keluargaku sehingga akhirnya pernikahan ini pun terlaksana.

Aku sudah berdiri di depan altar menanti kedatangan Jiyeon. Beberapa kali mataku melihat ke arah Suzy yang duduk di bangku paling depan, tersenyum padaku. Tidak lama kemudian, terdengar lantunan sebuah lagu seiring dengan munculnya Jiyeon bersama appa-nya, Tuan Park, yang berjalan menyusuri karpet merah yang menuju ke altar. Tidak aku pungkiri bahwa hari ini Jiyeon sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Cantik sekali.

Jiyeon telah berdiri di sampingku. Pendeta pun segera memulai prosesi pernikahan. Janji pernikahan kami ucapkan dengan lancar. Setelah pendeta menyatakan aku dan Jiyeon resmi menjadi sepasang suami istri, waktunya kami saling menyematkan cincin pernikahan. Dan sekarang, secara resmi kukatalan kalau… aku mempunyai 2 cincin. Ne, 2 cincin pernikahan.

Dan… adegan selanjutnya, setelah penyematan cincin itu, aku dan Jiyeon berciuman. Entah bagaimana perasaan Suzy saat melihat adegan ini tepat di depan matanya. Apakah kau merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini Suzy-ya?

-End of Myungsoo’s POV-

@@@@@

-Suzy’s POV-

Setelah acara pernikahan, aku langsung pulang ke rumah. Sementara itu, Myungsoo Oppa hari ini tinggal di rumah Jiyeon.Tidak ada siapa-siapa lagi di rumah ini selain aku. Aku melihat jam yang terpasang di ruang televisi, jarum pendeknya menunjuk angka 7 dan jarum panjangnya menunjuk angka 2. Sudah waktunya makan malam, tapi… aku tidak merasa lapar sedikit pun.

Entahlah.

Nafsu makanku tiba-tiba hilang begitu menyadari kalau… sendirian seperti saat ini sangat tidak menyenangkan. Mungkin ini terdengar bodoh atau apa, tapi… aku merindukan Myungsoo Oppa. Ne, aku merindukan pria itu padahal… belum cukup sehari aku berpisah dengannya.

“Ya! Kenapa kau menangis, Suzy-ya?” umpatku pada diri sendiri ketika kudapati cairang hangat menggenangi kedua pelupuk mataku. Aish! Dasar cengeng!

“Ting… tong….” Aku mendengar suara bel berbunyi.

Uh? Siapa yang datang? Myungsoo Oppa dan Jiyeon-kah? Ah, tentu saja bukan!

Bergegas aku mengayunkan langkahku menuju kamar mandi, membasuh muka untuk menghilangkan efek mata sembabku. Setelah itu, barulah aku berlari pelan menuju pintu depan. Membukakan pintu untuk tamu yang sejak tadi tidak berhenti menekan bel.

“CKLEK!”

Aku membuka pintu dan—

“Myungsoo Oppa? Jiyeon-ah?” seruku terkejut. “Kalian—”

Annyeong, Suzy-ya,” potong Jiyeon.

“Ya! Jagiya, kau tega membiarkan kami berdiri di sini, eoh?!” tegur Myungsoo Oppa.

Saking terkejutnya dengan kedatangan mereka, aku sampai lupa untuk mempersilakan mereka masuk.  “Ah, mianhae. Aku kaget dengan kedatangan kalian,” kataku.

“Kau tidak suka kalau aku ke sini, Suzy-ya?” tanya Jiyeon. Tangan kanannya memegang holding kopor miliknya.

Aku menggeleng cepat. “Aniya. Bukan itu maksudku. Aku pikir kalian berdua akan menginap di rumahmu malam ini,” kataku membela diri. “A-ayo. Silakan masuk.”

“Kami tidak tega membiarkanmu sendiri di rumah. Kalau ada apa-apa bagaimana?” ucap Myungsoo Oppa sambil berjalan memasuki rumah lebih dulu, diikuti aku dan Jiyeon yang berjalan di belakangnya.

Mi-mianhae kalau aku tidak sopan,” gumam Jiyeon tiba-tiba ketika kami melewati kamar untuk tamu, “Kamarku dimana? A-Apa bukan di sini?” tanya Jiyeon sambil menunjuk pintu kamar tamu.

Aniya. Mulai sekarang itu kamarku. Kamarmu yang—”

“Suzy-ya…,” ucap Jiyeon dan Myungsoo Oppa bersamaan.

Waeyo?” tanyaku, memperhatikan kedua nya bergantian.

“Kalau kau menyuruhku untuk tidur di kamarmu, lebih baik aku tidur di sofa, ara!? Kamar itu adalah milikmu, aku tidak mau menganggunya,” ucap Jiyeon.

Ne,” dukung Myungsoo Oppa. “Lagi pula, semua barang-barangmu kan ada di kamar itu. Terlalu repot jika mau memindahkan semuanya ke kamar tamu.”

Aku menghela nafas. “Geurae. Jiyeon-ah, kamarmu yang itu,” kataku kemudian.

“Kalau begitu, aku mau langsung masuk ke kamarku, tidak apa-apa, kan? Aku mau menyusun barang-barangku,” ujar Jiyeon. Aku mengangguk. Sepersekian detik kemudian, Jiyeon beranjak masuk ke dalam kamar barunya.

Aku menoleh ke arah Myungsoo Oppa. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan, Oppa?”

Pria itu menghela nafas, lalu mengangguk. “Ne. Arasseo.” Dan selanjutnya, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Jiyeon. Membantu wanita itu untuk menyusun pakaian serta beberapa barang miliknya yang ia bawa ke rumah ini. Rumah barunya.

@@@@@

-Jiyeon’s POV-

Ada rasa canggung tersendiri yang aku alami saat ini. Entahlah. Mungkin karena aku baru menjalani hari pertamaku sebagai penghuni baru rumah ini dan… sebagai istri kedua dari seorang pria bernama Kim Myungsoo. Mungkin ini terdengar bodoh, tapi… ya… jodoh pasti bertemu, kan? Beberapa tahun lalu, aku sempat putus hubungan dengannya, namun sekarang? Kau sudah tahu apa.

Sejak membantuku menyusun barang-barang di kamar baruku, Myunsoo Oppa tidak pernah mengucapkan satu patah kata pun. Padahal, di perjalanan saat ke rumah ini, bisa dibilang kami berkomunikasi dengan baik. Mungkin… dia sedang malas berbicara saat ini.

“Apa masih ada yang perlu aku bantu, Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo Oppa, menghampiriku yang menyusun peralatan kosmetikku di meja rias. Aku melihat ke arah koporku yang sudah kosong. Artinya, semua baju-bajuku telah ia masukkan ke dalam lemari.

“Sudah tidak ada, Oppa,” jawabku.

“Oh, baiklah. Kalau begitu, aku… mau keluar,” katanya.

Aku mengangguk pelan. Tidak lama kemudian, Myungsoo Oppa melangkahkan kakinya menuju pintu, namun—

Oppa!” panggilku.

Pria itu berhenti, lalu berbalik menghadapku. “Ada apa?” tanyanya.

Gomawo,” ucapku singkat.

Myungsoo Oppa tersenyum. “Cheonmaneyo.”

Dan setelah itu, ia benar-benar keluar dari kamarku.

A few minutes later

Semua pekerjaan ini membuatku haus. Setelah semua barang-barangku tertata rapi, aku beranjak keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air. Sekaligus, membantu Suzy memasak makan malam karena… ya tercium bau masakan dari dapur.

Tapi, begitu aku tiba di dapur, kudapati Suzy sedang sibuk memotong-motong wortel dan Myungsoo Oppa yang tengah memeluknya sambil menyandarkan dagunya ke bahu wanita itu. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang ngilu di dadaku.

Hah~

Kau kenapa Jiyeon-ah? Cemburu, eoh?

“Oh, aigo… Ji-Jiyeon-ah? Sejak kapan kau di situ, eoh?” Suzy menyadari keberadaanku di ambang pintu dapur. Bergegas ia menghentikan kegiatannya, lalu melepas pelukan Myungsoo Oppa di pinggangnya. Pria itu pun terlihat sedikit kaget.

A-Aniya. Mi-Mianhae menganggu kalian,” kataku. Berjalan melewati keduanya untuk mengambil gelas, lalu membuka kulkas dan menuangkan air dari dalam botol ke dalam gelas kosongku seolah tidak terjadi apa-apa.

Setelah aku minum dan menutup kembali pintu kulkas, Myungsoo Oppa sudah tidak berada di dapur. Hanya Suzy yang tengah berdiri menatapku dengan mimic wajah bersalah.

“Ji-Jiyeon-ah, mianhae. A-aku tidak bermaksud untuk—”

“Kau tidak perlu minta maaf, Suzy-ya. Kau kan masih istrinya juga.”

“Tapi—”

Gwaenchana. Aku baik-baik saja, Suzy-ya. Tidak perlu mencemaskanku.”

Haha… kau berbohong pada sahabatmu, Jiyeon-ah!?

Wanita itu mengangguk ragu. “N-Ne.”

“Oh, ya, kau masaka apa?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

“Hanya sup dan telur gulung,” jawabnya.

“Oh, kalau begitu aku bantu, ya!?”

Lekas aku  merebut pisau dari tangannya. Menggantikan pekerjaannya memotong-motong wortel hingga berbentuk dadu kecil. Sementara aku mengambil alih pekerjaannya, Suzy melakukan pekerjaan lain. Menggoreng telur gulunya.

-End of Jiyeon’s POV-

-Suzy’s POV-

Setelah makan malam bertiga dan membersihkan peralatan makan bersama Jiyeon, aku segera masuk ke dalam kamarku. Aku merasa sangat kelelahan hari ini. Apalagi udara malam ini cukup dingin akibat hujan deras di luar. Aku langsung merebahkan diriku di atas spring bed dan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhku. Aku mulai memejamkan mataku.

Jagiya, kau sudah tidur?” suara Myungsoo Oppa membuatku terbangun. Lekas aku mengambil posisi duduk.

Yeobo…? Apa yang kau lakukan di sini, eoh? Aku baru saja ingin tidur…,” jawabku. Kulihat pria itu berjalan menghampiriku, duduk di tepi tempat tidur.

Mianhae, aku mengganggumu,” katanya lembut.

Aku menatapnya. “Lantas, apa yang kau lakukan di sini, hm? Harusnya kau bersama Jiyeon malam ini. This is your first night, right?”

“Ya! Apa kau mengusirku? Aku Cuma ingin melihatmu…,” sewotnya.

Aniyo. Aku tidak bermaksud mengusirmu. Hanya saja aku—” Ucapanku terpotong karena Myungsoo Oppa tiba-tiba memelukku.

Jagiya… saranghae,” ucapnya lembut.

Aku tersenyum. “Nado saranghae.”

Hening sejenak.

Yeobo-ya?” panggilku seraya melepas pelukannya.

Ne?” Dia menatapku. Aku balas menatapnya. Dan, seolah tahu apa maksud dari tatapanku, ia pun berkata, “Geurae, tidurlah. Mianhae, aku mengganggumu.”

“Dia istrimu juga, Oppa. Perlakukan dia seperti yang seharusnya,” kataku.

Myungsoo Oppa mengangguk. “Ne, arasseo. Sekarang tidurlah,” katanya. Aku pun berbaring, kemudian ia mengecup keningku. Tidak lama setelah itu, ia pun beranjak keluar dari kamar. Suasana  di dalam kamar pun gelap setelah Myungsoo Oppa memadamkan lampu. Kutarik selimut hingga ke leherku, lalu kutarik guling hingga ke samping tubuhku. Malam ini benar-benar dingin. Sangat dingin.

-End Of Suzy’s POV-

-Myungsoo’s POV-

Kusandarkan punggungku pada pintu kamar Suzy. Aku menghela nafas. Ucapan Suzy beberapa saat lalu terlintas di pikiranku. Ne, sekarang Park Jiyeon adalah istriku. Bagaimana pun, sekarang ia istriku dan aku… harus memperlakukan dia sebagaimana mestinya.

Hah~

Ini akan sedikit sulit.

Aku pun beranjak dari depan pintu kamar Suzy, berjalan menuju kamar tamu yang mulai hari ini menjadi kamar Jiyeon. Berdiri di depan pintu kamar yang tertutup rapat itu, kuangkat tangan kananku untuk mengetuk pintu.

“Tok… tok….”

Tidak ada sahutan dari dalam. Apa Jiyeon sudah tidur? Tapi, lampu kamarnya masih menyala.

“Tok… tok….”

Aku mengetuk sekali lagi, namun tetap tidak ada sahutan.

“Jiyeon-ah, apa kau sudah tidur?” tanyaku. Lagi-lagi, suara Jiyeon tidak terdengar. Akhirnya, kuberanikan diri untuk menyentuh gagang pintunya, kemudian mendorongnya pelan.

Uh? Tidak dikunci?!

Semakin kuberanikan diri untuk membuka pintu tersebut. Benda pertama yang aku lihat adalah tempat tidur, namun… Jiyeon tidak ada di sana. Perlahan, kualihakan pandanganku menyisiri setiap penjuru kamar dan… kulihat sosok wanita itu duduk di kusen jendela sambil menekuk kedua lututnya, membiarkan jendela dalam keadaan terbuka, padahal di luar sedang hujan. Headphone berwarna ungu tampak menghiasi kepalanya. Pantas saja dia tidak mendengar suara ketukan pintuku.

Kedua matanya memandang ke arah luar. Ini bukan pertama kalinya aku melihat Jiyeon seperti ini. Bisa dibilang, ini adalah kebiasannya ketika… ada yang mengganggu pikirannya.

Aku menutup pintu, kemudian berjalan menghampirinya. Wanita itu masih tidak sadar akan keberadaanku.

“Jiyeon-ah?” panggilku seraya menyentuh lutut kirinya.

Wanita itu menoleh ke arahku, terkejut. “O-Oppa?” Sontak ia melepas headset dari kepalanya. “Se-sejak kapan kau masuk, eoh?” tanyanya seraya turun dari kusen. Sekarang kami berdiri saling berhadapan.

“Baru saja. Tadi aku mengetuk pintu kamarmu, tapi kau tidak dengar. Jadi, aku masuk saja. Mianhae kalau aku mengagetkanmu.” Aku menatap kedua matanya.

A-Aniya. Gwaenchana. Mianhae, aku tidak mendengar suara ketukan oppa karena—”

Ne, aku tahu,” potongku. “Mm… kau… sedang memikirkan apa, eoh?”

Jiyeon mengalihkan pandangan dariku agar tidak terjadi kontak mata di antara kami. “A-Aku… aku tidak memikirkan apa-apa, Oppa. Hanya… hanya mendengarkan lagu.”

Gojitmal! Aku tahu kau memikirkan sesuatu, Jiyeon-ah. Duduk di kusen jendela sambil mendengarkan lagu, bukankah itu kebiasaanmu kalau sedang memikirkan sesuatu, hm?”

Jiyeon menolehkan wajahnya ke arahku. Menatapku seolah bertanya ‘kau masih ingat kebiasaanku?’.

“Aku benar, kan? Apa yang kau pikirkan?”

O-Obsoyo~” elak Jiyeon sekali lagi. “Aku hanya duduk sambil mendengarkan lagu, Oppa. Benar-benar tidak memikirkan sesuatu,” ucapnya.

Aku menghela nafas. “Baiklah. Mungkin aku saja yang sok tahu,” kataku. Aku berjalan ke samping Jiyeon, menutup daun jendela kamarnya yang terbuka. “Jiyeon-ah,” panggilku, “Untuk kejadian di dapur tadi, aku minta maaf.”

Aniya. Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf. Kau memperlakukan Suzy seperti itu adalah hal wajar. Kalian kan suami istri.”

Aku kembali menghadap ke arah wanita itu. “Dan kau juga,” tambahku. Jiyeon sedikit membulatkan kedua matanya begitu mendengar ucapanku. “Ini sedikit sulit bagiku, Jiyeon-ah,” ucapku kemudian.

“Aku tahu, Oppa,” ucapnya sambil menunduk. “Karena itu jangan paksakan dirimu.”

Kugerakkan kedua tanganku untuk meraih kedua tangan wanita itu. Sukses membuatnya terkejut. Sangat. Ia hendak menarik tangannya, tapi aku menahannya.

“O-Oppa-ya?” gumamnya sembari menatapku penuh tanya.

“Sudah aku katakan bahwa ini sedikit sulit untukku, Jiyeon-ah. Karena itu, aku mohon bantu aku.”

“Maksud oppa—”

Ne. Aku akan berusaha memperlakukanmu sebagaimana mestinya.”

Dan sepersekian detik kemudian, aku mencium bibir Jiyeon. Melumat bibir tipis itu lembut. Tubuh Jiyeon hendak menolak, tapi sekali lagi aku menahannya. Dengan lembut aku melumat bibirnya walaupun tidak ada tanda-tanda ia ingin membalas ciumanku. Entahlah. Aku tahu ini juga berat baginya.

Aku melepas ciumanku sesaat. “Jiyeon-ah, it’s our first night. Let’s do it.”

-End Of Myungsoo’s POV-

@@@@@

Two Months Later

-Jiyeon’s POV-

“Uueek… uueek… uueeekkk….” Aku terbangun di tengah malam karena… aku merasa mual. Entah apa yang terjadi padaku, tapi… perasaan ini sungguh tidak mengenakkan. Begitu perasaan mual agak mereda, aku membasuh mulutku, kemudian berajalan keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar.

Tepat di saat itu, kulihat Myungsoo Oppa terbangun dari tidurnya. Duduk di atas tempat tidur sambil melihat ke arahku. “Neon gwaenchanayo?” tanyanya begitu aku kembali ke tempat tidur.

Ne, nan gwaenchana,” jawabku.

Pria itu kemudian menyentuh dahiku seraya bertanya, “Apa kau sakit?”

Aniya,” jawabku. “Hanya mual. Mungkin masuk angin,” tambahku.

“Mau aku buatkan susu hangat?” tawarnya lagi.

“Tidak usah, Oppa. Sudahlah, lebih baik kita tidur. Aku sudah tidak apa-apa,” kataku, lantas berbaring. Myungsoo Oppa melihatku sejenak, lalu kembali berbaring di sebelahku.

Ya! Jangan berpikir bahwa selama 2 bulan ini Myungsoo Oppa terus tidur bersamaku, eoh!? Tentu saja aku bergiliran dengan Suzy. Hanya, kebetulan malam ini Myungsoo Oppa mendapat giliran tidur di kamarku. Ne, aku tahu ini sedikit atau mungkin sangat merepotkan bagi kalian, tapi… seperti itu kesepakatan yang telah kami—aku, Suzy dan Myungsoo Oppa—buat. Bukankah itu adil, hm?

-End Of Jiyeon’s POV-

-Suzy’z POV-

Morning…

Myungsoo Oppa telah berangkat ke kantornya setengah jam yang lalu. Sementara itu, aku baru saja selesai berpakaian dan akan pergi ke redaksi tempatku dan Jiyeon bekerja. Setelah memastikan penampilanku rapi, aku keluar dari kamar, berjalan menuju kamar Jiyeon untuk melihat apakah ia sudah siap berangkat atau belum.

“Ji—”

“Uueek… uueekk….”

Aku tidak jadi meneruskan ucapanku begitu mendengar suara aneh dari dalam. Suara orang yang… sedang muntah!? Uh? Apakah Jiyeon sakit? Suara itu terdengar beberapa kali, membuatku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar wanita itu tanpa izin.

Saat masuk, kulihat pintu kamar mandi terbuka dan terdengar suara itu dari sana. Aku berjalan mendekati kamar mandi. Ketika aku tiba di ambang pintu, kulihat Jiyeon—yang sudah berpakaian lengkap—tengah membungkuk sambil menyentuh bagian ulu hatinya.

“Jiyeon-ah, apa kau sakit?” tanyaku khawatir. Jiyeon sedikit terkejut mendengar suaraku. Ia berbalik dan bisa kulihat wajahnya pucat.

“Cuma masuk angin, Suzy-ya. Jangan khawatir,” jawabnya. Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

“Ya! Jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja. Sudah, tunggu aku di luar. Tidak lama lagi aku selesai,” katanya lagi.

Aku menghela nafas. “Baiklah. Aku tunggu di luar,” kataku, lalu beranjak keluar dari kamarnya.

Sekitar 15 menit aku menunggu Jiyeon di ruang tamu sambil membaca koran pagi, barulah ia keluar dari kamarnya. Wajahnya tidak begitu terlihat pucat lagi setelah ia berdandan, namun… terlihat jelas kalau… kondisinya tidak begitu baik hari ini. Ia terlihat lemas.

Saat tiba di redaksi pun, beberapa teman mengatakan padaku kalau Jiyeon, entah sudah berapa kali bolak-balik ke toilet. Hah, benar dugaanku. Pasti terjadi sesuatu padanya.

“Jiyeon-ah, kau benar-benar hanya masuk angin, eoh? Kau terlihat lemas dan wajahmu pucat,” kataku cemas saat aku dan Jiyeon sedang makan siang di sebuah kedai yang berada tepat di sebelah  gedung redaksi.

Nan molla, Suzy-ya. Sejak semalam aku seperti ini,” keluhnya.

“Sebaiknya, setelah ini kau pulang, Jiyeon-ah. Jangan paksakan dirimu untuk bekerja, eoh. Kau bisa berbagi tugas dengan asistenmu,” saranku. Jiyeon mengangguk pelan, lalu menyuapkan sesendok jajangmyeon ke dalam mulutnya.

Sambil makan, sesekali aku memperhatikan Jiyeon. Aku punya 1 dugaan lagi, tapi aku tidak begitu yakin. Hanya saja, bisa jadi hal tersebut yang membuat Jiyeon mual-mual seperti ini.

Hmm… apa mungkin… Jiyeon hamil?

@@@@@

Malam harinya, setelah makan malam, aku meminta Jiyeon untuk mengetes kehamilan dengan test pack yang baru aku beli saat pulang dari redaksi. Jiyeon telah berada di dalam kamar mandi sekarang, sementara itu, aku dan Myungsoo Oppa berdiri di luar. Mengharap-harap cemas akan hasil yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan.

“Ji-Jiyeon-ah, bagaimana?” Myungsoo Oppa tampak tidak sabaran.

“Tunggu sebentar,” teriak Jiyeon dari dalam.

Jantungku berdegup kencang. Apakah… apakah rencanaku selama ini akan berhasil?

Tidak lama kemudian, Jiyeon membuka pintu kamar mandi sambil memegang alat tes kehamilan. “Myungsoo Oppa, Suzy-ya…,” gumam Jiyeon, melihat aku dan Myungsoo Oppa bergantian.

Ne, bagaimana?” tanya Myungsoo Oppa.

“A-Aku… aku hamil.” Jiyeon menunjukkan alat tes kehamilan di tangannya. Terlihat 2 garis merah di sana. Ne, benar. Jiyeon positif hamil.

Gomawo, Jiyeon-ah. Jeongmal gomawo~” Myungsoo Oppa langsung memeluk Jiyeon erat saking bahagianya.

Entah apa yang harus aku rasakan saat melihat adegan yang terjadi tepat di depan mataku saat ini. Cairan yang menggenang di kedua pelupuk mataku perlahan meleleh. Tolong jangan tanya ini air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan karena aku sendiri tidak tahu.

“Su-Suzy-ya, neon gwaenchanayo?” tanya Jiyeon ketika melihatku. Wanita itu melepas pelukan Myungsoo Oppa, lalu berjalan mendekatiku.

“A-Aku tidak apa-apa, Jiyeon-ah,” jawabku sambil menyeka air mata yang membasahi kedua pipiku. Dan, sepersekian detik kemudian, Jiyeon tiba-tiba memelukku erat.

“Aku sangat senang, Suzy-ya,” bisiknya di telingaku.

N-Ne. Nado, Jiyeon-ah. Nado. Chukaeyo, ne~” balasku lirih. Aku melihat ke arah Myungsoo Oppa yang juga sedang melihat ke arahku. Kedua matanya itu menatapku nanar.

Chukaeyo, Oppa. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang appa. Chukaeyo.

-TBC(^/\^)-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also published on HSF

A/N: Annyeong ^^/

Pertama, author mau minta maaf soalnya waktu pem-publish-an chapter ini molor sehari… ehehe ^^v. Rencananya memang mau di-publish kemarin, tapi… modem author ternyata lagi gak ‘bernyawa’.

Ehm, di chapter 1 kemarin masih ada bahkan hampir semua komentar dari reader meminta author untuk membuat ending dari FF ini sesuai dengan pairing yang di-shipper-in masing-masing. Sekali lagi, author cuma bisa bilang kalau author TIDAK BERJANJI apakah ending dari FF ini sesuai dengan pairing yang kalian shipper-in atau tidak. Jadi, kalau ada komentar yang bunyinya semacam ini: ‘Thor ini FF Myungzy atau Myungyeon? Kalau MyungX mohon maaf aku gak lanjut baca, kalau MyungXX aku baca sampai selesai’, ya itu terserah dari reader karena itu adalah hak kalian. Tapi, ya, agak kecewa juga sih kalau ada yang berhenti di tengah jalan seperti beberapa orang kemarin. But, it’s okay. Sekali lagi itu adalah hak dari reader mau lanjut baca atau berhenti.

Oia, di chapter-chapter kemarin banyak juga yang bilang kalau FF ini mirip sama film India, ya? Jujur, author gak pernah nonton film India yang kalian maksud. Dari chapter prolog, author sudah menulis di disclaimer bahwa FF ini terinspirasi dari video klipnya Hello Band (band Indonesia) yang berjudul 2 cincin. Ya, video-nya memang video jadul, karena FF ini juga FF jadul yang author re-make. ^^v

Ada juga beberapa yang tanya, apakah karakter Jiyeon di FF ini jahat atau tidak? TIDAK! Kalau Jiyeon-nya jahat, ntar kayak sinetron lagi. -_-“ Jiyeon-nya gak jahat aja ada yang bilang FF ini kayak sinetron u.u, apalagi kalau dia jahat. Duh, nanti sinetron banget. Hehehe.

Oke. Segini aja cuap-cuapnya.

Leave your comment, please.

250 thoughts on “I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.2]

  1. myungsoonya udah cinta sama jiyeon ? kasian juga suzynya :”) duhh bingung lahh , aku ijin baca next part aja yah eon ><

  2. Nangis dipojokan T.T
    #LebayLoe

    Myung jangan jatuh cinta ma jiyeon kasian suzy dah ngorbanin perasaannya supaya myung bisa jadi APPA

    Lanjut baca

  3. Sedih banget sih thor..akhirnya myungsoo akan jd appa.apa akan terjadi dgn nasibnya suzy setelah jiyeon hamil..penasaran banget utk next partnya.

  4. wuah, gila. gmn bisa cobakyk gitu. rencana gila suzy eonni bner” bkin aku geregetn sendri. keputusn msing” pihk buat aku jdi gmes bgt.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s