I’m Your Lover, Your Chaser, Forever [6]

imyourlover-chaser-forever-11

Author : Awsomeoneim

Genre : Romantic, PG-17, Teenager-Semi-Mature,

Cast :

Main Cast :

ü  Choi Yoon Ah (OC)

ü  Infinite’s L a.k.a Kim Myung Soo

ü  TeenTop’s L. Joe a.k.a. Lee Byung Hun

Supporting Cast :

ü BAP’s Zelo a.k.a Choi Jun Hong

ü NU’EST’s Ren a.k.a Choi Min Ki

ü F(x)’s Sulli a.k.a Choi Jin Ri

+oOoOoOo+

Annyeong readers!!

Udah ngga telat berbulan-bulan kan?? Smeoga masih tetep inget ceritanya dan setia jadi Gooders Yak!!

Ah Saranghaeeeeyooo GOODERS~

Please Keep supporting me all along~

Author butuh komentar kalian untuk jadi penyemangat nulis part selanjutnya!! ^^

~Kamsahamnida~

Posted Part : Part 1 | Part 2 Part 3 | Part 4 | Part 5

=)0o0o0(=

 

Author POV.

Siang itu mentari sudah mencapai posisi puncak dan sinar yang ia pancarkan menerobos liar kaca-kaca jernih yang disekat rapi dengan kayu mahoni cokelat tua, menambah jumlah muda-mudi yang merebahkan kepala mereka di atas bangku. Lelah dan gerah. Ditambah suara decitan ujung spidol boardmarker dan detakan jarum jam tetap beradu senada. Layaknya mesin seorang pengajar yang berdiri di depan ruangan memenuhi papan berwarna hijau berukuran 50×20 meter dengan barisan kalimat dan angka tanpa jeda. Suasana kelas benar-benar berada di bawah garis kondusif.

Seseorang yang duduk di pojok ruangan tampak giat menarikan jari-jarinya di atas layar datar smartphone berwarna putih porselen. Keajaiban dari sebuah pesan yang baru saja ia terima. Pesan singkat yang dengan segera mengusir rasa kantuk yang sudah menggantung di kedua kelopak matanya akibat begadang semalam penuh.

‘Hari ini, bisakah kau menjemputku di bandara? Kuperhitungkan pesawat yang kutumpangi akan landing 10 menit setelah jam sekolahmu usai.’

Membaca ID pengirim pesan itu saja cukup membuat sesuatu dalam dirinya berteriak girang, terlebih setelah membaca isi pesannya.

Ini hari keberuntunganku…

Tanpa terasa 30 menit telah berlalu sejak masuknya pesan pengusir rasa kantuk yang ia terima siang ini. Seorang pemuda berseragam SMA Haengbok tampak berdiri tenang diantara kerumunan manusia lain yang sibuk berlalu lalang dengan membawa koper, tiket, dan paspor.

NU_EST_-_FACE.flv_snapshot_00.33_[2012.06.24_14.54.28]

Diam-diam ia terus menggumamkan kalimat yang sama, khawatir sewaktu-waktu ia melupakan satu huruf dari isi pesan terbaru yang ia terima.

‘Bandara Incheon, 13.40 KST.’

Ia segera menegakkan punggungnya yang sedikit membungkuk rileks saat pandangannya menangkap sosok yeoja yang berjarak lima langkah darinya.

Fx-Sulli-airport-fashion-Nov-22-2

“Kau sendirian?”

Sapanya setelah ia mengambil alih sebuah koper medium milik yeoja tersebut.

“Mm.. mereka akan menyusul beberapa jam lagi.”

“Selama di perjalanan kau tidak bertemu beberapa orang yang kau kenal? Kudengar mereka juga kembali hari ini.”

Nuga?

“Mungkin teman..atau kolega?”

“Bicaramu aneh sekali, aku tidak memperhatikan sekeliling selama di pesawat,” dengan acuh yeoja tersebut membkua pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil.

Aaah.. arraseo. Kau mau makan siang dulu?” namja itu melontarkan sebuah pertanyaan seusai memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.

Ahni, tidak perlu. Aku sudah makan siang di dalam pesawat.”

“Baiklah, kita langsung pulang saja. Mereka sudah menantikanmu.”

Aah~ benarkah? Aku juga tidak sabar bertemu mereka,” ujar yeoja yang sedang bergumul dengan headset di tangannya. Tersirat seutas nada tak antusias tersirat dalam kalimatnya. Setelah mesin mobil meraung, ia memilih memutup mata dan menikmati aluan musik di headsetnya daripada menanggapi ocehan namja di balik kemudi di sampingnya.

+0o0o0+

L.Joe POV.

“L.Joe kau mau pulang bersamaku?”

Tubuhku tersentak kaget mendengar seseorang tiba-tiba berbicara di sampingku saat aku berjalan sendiri di lorong sekolah menuju pintu keluar. Lagi-lagi namja cantik pirang ini.

9-NUEST-at-Incheon-airport-Ren-credit-JRENeverland

“Aku membawa sepeda, tidak mungkin kutinggalkan disekolah. Kau pulang saja duluan,” jawabku segera.

“Sayang sekali, padahal kukira bisa mampir ke Douceur De Café dan menikmati ice lattemu,” ia mendengus sambil menelusupkan kedua telapaknya ke dalam saku celana. Tampak kecewa.

“Aku harus menjemput seseorang di bandara, dan sepertinya akan memakan waktu kunjungan ke Douceur De Café. Aish…”

Yeoja chingu?

Ahni, dia salah satu keluargaku. Hari ini ada pertemuan di Choi’s Mansion, dia datang dan aku yang harus menjemputnya.”

“Kau bisa mampir dengannya… Mungkin,” ujarku memberi saran ketika masih kulihat ekpressinya belum membaik.

Dia menggeleng sambil menekan tombol pembuka kunci mobilnya, “Lain kali saja. Aku tidak yakin dia suka kopi..”

Sebelum masuk ke dalam, ia kembali menatapku, “Ah L.Joe, kudengar Yoon Ah akan kembali dari Maldives hari ini.”

Kuraeyo?” tanyaku sedikit antusias. Ia akan kembali hari ini?

Ren mengangguk pasti, “Kita berpisah di sini L.Joe. Sampai jumpa!”

Aku sekedar melambaikan tangan sebelum lanjut melangkah menuju tempat parkir sepeda.

Ah… bicara soal Nona Choi itu, apa kabar dengannya? Ia tidak mengirimiku barang satu pesan sejak kepergiannya. Ah, pabo Byunghun! Apa yang perlu kau khawatirkan? Dia pasti baik-baik saja di samping L. Itu pasti.

Diluar kesadaranku, bukannya mengayuh menuju Douceur De Café roda sepedaku justru bergulir menuju rumah. Sebelum membalikkan stang sepedaku menuju arah Douceur De Café, sebuah pikiran muncul di otakku, ‘Cuaca hari ini sangat panas, lebih baik aku membilas tubuh terlebih dahulu di rumah.’

Dengan itu, aku melanjutkan perjalanan hingga… aku menangkap sebuah mobil biru metalik yang sangat familiar terparkir di depan rumahku. Tak berselang lama, pemiliknya muncul dari dalam rumahku.

“L.Joe! Baru saja aku akan menghubungimu!”

Sebuah sapaan yang tidak kuperkirakan akan ia lontarkan dengan ceria. Ceria?

“Apa yang kau lakukan di rumahku?” aku menatapnya dan pintu rumah yang setengah terbuka bergantian.

“Aku mengantarkan Yoon Ah kemari. Ia menolak tinggal di mansion, jadi…”

“Kau boleh pergi,” ujarku singkat sembari membawa masuk sepeda yang kutuntun ke dalam pekarangan.

Sebelum aku menanggalkan sneakers yang melapisi kedua telapak kakiku, suara khas pemuda berambut hitam pekat itu kembali terdengar, “Kenapa kau belum pindah ke rumah barumu?”

Aku memandangnya bingung, “Aku tidak pernah mengatakan menerimanya, jadi itu bukan rumahku.”

Ia tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Kau lebih kekanakan dari yang kuduga, Byunghun-ah.”

“Kekanakan?” tanyaku dengan sinis, “Menurutmu, lebih baik mana aku yang kekanakan karena menolak hadiah yang tidak sesuai dengan ‘perjanjian’, atau kau yang pengecut karena tidak menepati ‘perjanjian’?”

ljoe2

‘BUUGH!! PRAAANGG!!’

Dalam satu kedipan mata sebuah pot di dekat pintu telah hancur tertimpa beban tubuhku. Ah, malangnya nasib bunga magnolia putih  didalamnya yang juga turut tertimpa…

“Atas apa rahang kiriku harus menerima tinjumu, Tuan Muda Kim?” tanyaku sembari bangkit dan melepaskan jas almamater yang telah ternodai tanah pot di bagian belakangnya dan membuangnya sembarangan.

“Atas kalimat tak berdasarmu, Tuan Muda Lee!”

“Kalau begitu, kau berhak mendapat dua tinju di masing-masing rahang sempurnamu Kim Myungsoo…”

Ia terkekeh remeh, “Mwora–..

‘BUUGH!! BUUGH!!’

Segera kekehan yang sebelumnya keluar dari mulutnya digantikan dengan rintihan nyeri setelah tubuhnya tersungkur dan mendarat di halaman rumah yang kosong.

Aku berjongkong di sampingnya dan mensejajarkan tatapanku dengan kedua manik matanya saat ia mencoba bangkit untuk duduk.

“Kau berhak mendapatkannya karena kau memperlakukan yeoja yang berarti untukku seperti barang..”desisku marah.

“Lee Byung Hun… kau tidak mengerti soal apapun diantara kami. Kuperingatkan untuk kau tidak ikut campur. Sebaiknya kau memisahkan diri dari Yoon Ah… segera!”

Aku mencengkeram erat kerah pakaiannya,”Kau juga pasti akan memperlakukannya sama seperti kau memperlakukanku sekarang kan?! Memanggilku di saat genting dan memintaku menjauh setelah semuanya usai, benar-benar kau–”

Sebelum tinju lain kulayangkan ke wajahnya yang terpahat sempurna, sebuah tangan menahanku dari belakang dengan erat.

….geumanhae!

+0o0o0+

Yoon Ah POV.

Pesawat hari ini tiba pukul 13.40 KST, seharusnya Byung Hun sudah tiba di rumah. Namun aku hanya menemukan perabotan yang sama sekali tidak bergeser barang sesenti dari tempatnya sejak tiga hari lalu di dalam rumah petak ini.

“Apakah ia langsung pergi ke tempat kerja?”

Suara familiar turut menyuarakan keheranannya saat melihat tidak seorangpun di dalam ruangan selain kami.

“Mm..tidak tentu. Terkadang ia pulang dulu sekedar makan siang,” aku termenung untuk beberapa detik sebelum menjentikkan jemariku antusias, “Aah~ mungkin karena tidak ada aku ia makan siang di sana.”

“Oh, bisa jadi kau benar..” namja yang membawakan barangku masuk segera mengangguk mengiyakan.

“Kau akan segera pulang?” tanyaku saat ia tidak bergeming setelah meletakkan barang-barang di tangannya ke lantai, dan justru sibuk mengamati isi rumah ini.

Ahni..” jawabnya singkat.

Aku mengerutkan kedua alisku heran, “Memangnya apa yang akan kau lakukan di sini Myungsoo?”

“Aku hanya bercanda,” ujarnya sembari menarik lebar kedua sisi bibirnya menampakkan sebuah cengiran terulas di wajahnya, “Tapi jika kau ingin aku tinggal, dengan senang hati aku akan memenuhi permintaanmu itu, hahaha.”

tumblr_mqri15mLH11scmr2yo8_500

Aku menghela nafas lega, kukira ia akan benar-benar tinggal dan akan membuat rumah ini meledak. Jika itu mungkin. Karena hanya dengan dua orang manusia beraktivitas di dalam rumah ini sudah membuat rumah ini sempit, apalagi jika ditambah Jun Hong dan Myungsoo.

Noona, aku akan tidur dengan L.Joe hyung,” sahut seorang bocah lelaki berusia tigabelas tahun yang baru saja keluar dari toilet.

*NB

[Selisih usia Yoon Ah & Zelo : 3 Tahun]

“Ruangannya tidak terlalu sempit,” imbuhnya.

Ahni, kau tidur di sofa saja. Kau ingin membunuh L.Joe dengan tingkahmu yang hyperaktif eoh?” elakku.

Sebenarnya aku merasa tidak enak membawa Jun Hong tinggal bersama di rumah yang bahkan aku sendiri menumpang. Tapi mau bagaimana lagi? Jun Hong menolak tinggal di Kim’s Mansion jika aku tidak tinggal di sana. Yang benar saja… mana mau aku masuk ke dalam kandang siluman singa? Tidak terima kasih. Mungkin aku bisa mempercayai Myungsoo, tapi tidak dengan Mr. & Mrs. Kim yang bisa saja sewaktu-waktu muncul di sana lalu segera menguburku hidup-hidup setelah melihatku..

Ia mendecak kesal lalu merebahkan tubuh panjang abnormalnya ke atas sofa yang kumaksud, setelah beberapa detik ia tampak menikmati tempatnya berbaring lalu kembali berceloteh, “Sofa ini tidak seburuk kelihatannya…”

“Apa kubilang, sofa itu masih bagus..”

“Yoon Ah-ya, aku akan pergi sekarang. Nanti malam aku akan menjemputmu untuk makan malam, okay?” Pertanyaan seseorang yang sempat terdiam beberapa saat lalu, kembali menyadarkanku tentang keberadaannya.

Belum sempat menolak, bocah raksasa yang awalnya berbaring segera bangkit dan berdiri di sampingku, “Kau hanya akan mengajak noona makan malam, hyungAigooo nappeun hyung..

29NUEST

Myungsoo terkekeh dan menanggapi dengan santai gerutuan Jun Hong, “Tentu saja. Bisa bangkrut aku jika mengajakmu makan malam, Zelo!”

Aku ikut tertawa mendengarnya, namun segera kulanjutkan dengan penolakan halus. Aku akan makan malam dengan Byung Hun saja, sekaligus mempertemukannya dengan Jun Hong. Sangat tidak etis jika baru kembali lalu pergi dengan orang lain.

Myungsoo akhirnya menyetujui penolakanku dan mengakhiri salamnya dengan memastikanku menyetujui permintaannya : ‘lain kali kita harus makan malam bersama,’ sebelum ia membuka pintu dan keluar dari rumah.

Tanpa aba-aba, Jun Hong segera membawa barangku masuk ke salah satu ruangan yang sudah menjadi kamarku, tak lama ia kembali keluar, “Noona, bisakah kau masakkan makan siang? Paegopa..”

Memasak makan siang? Aku bahkan belum menghubungi Byung Hun jika aku sudah kembali..

“Anggap saja kejutan untuk L.Joe hyung saat ia kembali,” rujuknya lagi melihatku yang tidak bergeming, “Sebagai imbalannya aku akan merapikan barang-barang noona. Call?

“Call!”

Tak berselang lama kudengar suara benda pecah. Aku segera keluar dari dapur menuju kamar. Tapi sebelum aku masuk, kulihat Jun Hong juga keluar dari dalam kamar.

“Kau memecahkan sesuatu?” tanyaku langsung.

Ahni. Aku baru saja akan menanyakan hal yang sama pada noona,” jawabnya bingung, “Mungkin ada pot L.Joe hyung yang tersenggol kucing.. Aku melihat beberapa pot dijajar rapi di luar rumah, aku akan mengeceknya.”

Jun Hong sudah lebih dulu melesat keluar sementara aku berlari kembali ke dalam dapur untuk mematikan kompor dan melepas apron sebelum menyusulnya setelah aku mendengar teriakan Jun Hong, “..geumanhae!

Dan aku benar-benar terkejut melihat pemandangan di halaman rumah petak ini.

Hyung geumanhae!” teriakan yang sama dilontarkan Jun Hong sembari menahan dengan kuat lengan seorang namja di depannya.

Kuraih sebuah jas kotor yang diletakkan sembarangan di depan pintu, di dekatnya sebuah pot dan bunga magnolia tampak berantakan. Suasana di hadapanku benar-benar tegang. Tidak ada yang berbicara sampai akhirnya kuberanikan mendekat dan bertanya, “Apa yang terjadi?”

Ketiga namja itu sontak menoleh kearahku bersamaan. Aku bisa melihat wajah kedua namja yang kukenal tercoreng luka dan beberapa memar. Orang pertama yang mengalihkan pandangannya adalah Byung Hun. Ia segera bangkit, melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Myungsoo, dan setelah Jun Hong berhenti menahannya ia berjalan kearahku.

Kakiku sedikit gemetar saat indra penglihatanku menangkap tatapan dinginnya untuk pertama kali. Ditambah pakaiannya yang berantakan, luka di wajahnya, dan rambutnya yang kusut. Ia hanya melirikku sekilas sebelum mengambil jas almamaternya yang terkulai di tanganku dan segera masuk.

Myungsoo yang sempat terkapar di halaman kini sudah berdiri tegak dibantu Jun Hong, “Kau perlu kuantar hyung?”

Ahni…Aku masih sanggup menyetir. Ini hanya memar, sebaiknya kau segera kembali ke dalam,” ujarnya sebelum berbalik dan berjalan menuju mobilnya dengan tertatih dan sesekali meringis saat ia mencoba menyeka darah di sekitar bibirnya.

??????

Aku masih diam di tempat sebelum Jun Hong memberi isyarat mata untukku masuk. Di dalam, kulihat Byung Hun sedang meneguk segelas air dingin di dekat kulkas. Setelah meletakkan gelasnya di meja tatapan kami bertemu. Kulihat tatapannya sudah tidak sedingin beberapa saat yang lalu.

“Kau sedang memasak?” tanyanya saat ia melihat panci yang masih bertengger di atas kompor yang mati.

Aku mengangguk dan berjalan perlahan kembali ke dapur dan menyalakan kompor. Kuperhatikan dari sudut mataku ia tidak menghindariku dan tetap diam di tempatnya memperhatikan gerak-gerikku. Kubiarkan saja.

Setelah semua bahan kumasukkan dan hanya tinggal menunggu waktu untuk supnya mendidih, aku mengalihkan perhatianku ke arah Byung Hun.

“Duduklah di sofa, akan kuobati lukamu,” ujarku sambil melaluinya yang berdiri di ambang pintu dapur.

Tanpa kuduga ia mengikuti perintahku dan sudah duduk tenang di sofa. Aku mengamati beberapa luka yang ada di wajahnya. Dibandingkan dengan kondisi Myungsoo, ia tampak lebih baik.

“Aku tidak pernah tau kau bisa memasak. Sepertinya kau banyak belajar selama di Maldives eoh?” ia berbicara sembari aku sibuk mencari obat yang kubutuhkan.

Aku memilih untuk mengabaikan sindirannya, atau hanya aku yang menganggap kalimatnya berupa sindiran, dan lanjut mengobatinya.

“Supnya akan segera matang dalam 5 menit. Aku akan menata barangku dulu,” ujarku setelah usai menempelkan pleseter.

“Apakah liburanmu mengesankan dengan Tuan Muda Kim?”

teen_top_l_joe_by_tokoul-d5d5tl7

Lagi-lagi ia menanyaiku hal aneh… ada apa dengannya..

“Setelah makan siang sebaiknya kau istirahat. Jangan bekerja dulu!”

“Tidak bisa.”

“Kau akan bekerja dengan wajah babak belur begini?” aku mengurungkan niatku yang sudah akan beranjak dan menatap wajahnya kesal.

“Bosku tidak akan memecatku hanya karena melihat kondisi wajahku seperti ini,” jawabnya acuh sambil merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.

Aish, keras kepala! Terserah kau saja!”

“Memang terserah aku, sejak kapan kau berhak mengatur apa yang akan kulakukan, Nona Choi?”

Tidak ada yang salah dengan perkataannya, dan ini bukan pertamakalinya kami saling melempar ucapan sarkastik. Tapi aku merasa ada rasa yang berbeda..

Aku… Apakah aku sudah terlalu jauh bersikap?

Hyung, aku sudah membersihkan pecahan potnya. Bunga Magnolia yang ada di dalamnya kupindahkan sementara,” suara Jun Hong memecahkan keheningan diantara kami.

Gomawo Zelo-ah. Besok aka kubelikan pot baru untuknya,”

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk segera pergi dari hadapan L.Joe. Selagi mereka berbincang, aku meletakkan kotak P3K kembali ke tempatnya lalu melesat masuk ke kamar. Aku tidak nyaman dengan bombardiran pertanyaan canggung yang ia lontarkan sejak tadi.

+0o0o0+

L POV.

“Walau memarnya tidak terlalu parah, sebaiknya anda segera istirahat, Tuan Muda.”

Mm.. arraseo.

“Kalau begitu, kami mohon undur diri…”

Setelah Kepala Pelayan dan beberapa orang medis keluar dari kamar, aku menyandarkan punggungku ke sandaran ranjang. Aku ingin istirahat, tapi rasanya isi otakku campur aduk.

‘Menurutmu, lebih baik mana aku yang kekanakan karena menolak hadiah yang tidak sesuai dengan ‘perjanjian’, atau kau yang pengecut karena tidak menepati ‘perjanjian’?’

Kalimat sinis L.Joe kembali terngiang, membuatku bingung setiap kali ia mengungkit masalah perjanjian yang hampir satu tahun lalu kami buat. Kurasa, ia salah menafsirkannya..ya, kesalahpahaman.

‘Kau juga pasti akan memperlakukannya sama seperti kau memperlakukanku sekarang kan?! Memanggilku di saat genting dan memintaku menjauh setelah semuanya usai, benar-benar kau–‘

Gerutuan lain yang ia lontarkan juga membuatku heran. Membuangnya? Siapa yang akan kubuang? Yoon Ah? Yang benar saja.. Jelas-jelas aku segera menyelesaikan studyku di Inggris demi kembali ke Korea untuk bertemu dengan Yoon Ah, bagaimana mungkin aku melakukan hal tidak masuk akal seperti itu? Atas dasar apa dia–

Argh Lee Byung Hun, apa yang kau pikirkan eoh?! Kau membuatku gila dengan semua tuduhanmu!

Mungkin jalan terbaik adalah dengan menyelesaikan kesalahpahaman ini segera. Tapi mungkinkah kepala batu itu mau bicara dengan orang yang sudah menghajarnya?

Aku meraih ponsel yang tergeletak di salah sampingku. Heol, wallpaper dengan wajah Yoon Ah yang sedang tersenyum cerah saat di Maldives membuatku ingin meloncat dari balkon dan berlari menemui Yoon Ah. Aku merindukannya.

Haruskah aku menghubunginya?

Menghubungi Yoon Ah lalu apa yang harus kukatakan? Mengatakan ‘Selamat malam dan tidurlah dengan nyenyak,’ pantaskah melakukannya seolah tidak terjadi apa-apa setelah babak belur di hadapannya?

Kuletakkan kembali ponselku ditempatnya berbaring semula dan bergulat dengan pikiranku sendiri. Yoon Ah dan L.Joe, mungkinkah dalam waktu yang singkat itu mereka…

Aish, aku sangat ingin menepis pikiran itu setiap kali bayangan kedekatan saat mereka bertengkar muncul. Rasanya sesuatu dalam diriku terbakar cemburu setiap kali L.Joe tampak berusaha melindungi Yoon Ah. Egoku selalu mengatakan hanya aku yang pantas dan boleh melindungi yeoja itu. Dia tanggung jawabku. Seperti yang kujanjikan 6 tahun lalu di pusara kedua mendiang orang tua Yoon Ah. Ya, sampai akhir hanya aku yang berhak melindungi dan memperjuangkannya.

Choi Yoon Ah, I’m your lover. Your chaser. Forever.

721069475

+0o0o0+

Zelo POV.

Aku baru saja menghabiskan sup yang telah dipanaskan ulang oleh L.Joe hyung sebagai makan malam saat pintu kamar mandi terbuka. L.Joe hyung dengan rambut yang setengah basah melangkah keluar.

Noonamu belum keluar?” tanyanya heran saat hanya melihatku di dapur.

Eoh, mungkin dia kelelahan jadi tertidur sampai larut hyung,” jawabku asal sembari membilas peralatan makan yang baru saja kugunakan.

“Tidak biasanya ia tidur selama ini…”gumam L.Joe hyung sambil berlalu keluar dari dapur.

Aku sendiri juga tau jika ini bukan kebiasaan Yoon Ah noona. Pasti ada yang menganggunya sampai ia tidak berani keluar kamar. Mungkin pembicaraan mereka berdua siang ini? Saat aku masuk setelah membereskan pecahan pot, aura diantara mereka berdua tampak tajam.

Aku melirik jam tanganku seusai mengeringkan tanganku. 18.00 KST.

Sudah waktunya..

“L.Joe hyung?” aku memanggil namanya saat aku tidak menemukan seorang pun di ruang tengah.

Detik berikutnya ia keluar dari kamar, sepertinya baru saja berganti baju.

Hyung, kau tidak akan pergi kemana-mana?”

“Aku tidak akan kemana-mana, noonamu melarangku bekerja. Memangnya kenapa?”

“Aku akan pergi ke suatu tempat, kau tidak keberatan kan jika kuminta menjaga Yoon Ah noona sebentar, hyung?”

Ia tampak menaikkan satu alisnya heran, “Kau akan pergi sendirian?”

Hyung, mungkin usiaku memang baru tigabelas tahun tapi otakk sudah sejenius Einstein. Jadi jangan khawatir, tidak akan terjadi hal yang buruk padaku,” ujarku dengan sebuah cengiran lebar.

large

L.Joe hyung menghadiahiku sebuah jitakan sebelum mengizinkanku pergi. Semua lelaki dewasa sama saja, suka membully yang muda..

Eodiga?” tanyaku pada orang yang berada di seberang sambungan telponku saat aku sudah mencapai ujung gang.

“Aku akan segera sampai, berjalanlah lebih cepat!”

“YAA! Aku sudah tiba lebih dulu!” sahutku tak keras saat aku tidak melihat sebuah mobil dengan ciri-ciri yang kutau.

‘CIIIIIT’

white-PIECHA-Design-Mercedes-Benz-SLK-R172-Accurian-RS-2012car-485x728

Sebuah mobil mengerem mendadak di sampingku. Sialan!

YAA Choi Sulli! Kau tidak lulus ujian SIM ya?! Jantungku hampir bertukar tempat dengan liverku, kau tau!” cercaku setelah duduk di kursi penumpang di dalam mobil Mercy keluaran tahun lalu ini.

YAA Choi Zelo!! Aku lebih tua darimu, panggil aku Noona!” dan tidak cukup dengan teriakan balasan yang ia berikan, ia juga memberikan bonus sebuah jitakan. Memang, usianya setara dengan usia Yoon Ah noona. Tapi memanggilnya noona?

“Sikapmu bahkan lebih kekanakan dariku!”

“Jangan banyak alasan!”

“Di U.S. kau tidak pernah protes aku memanggilmu Choi Sulli kenapa sekarang kau berlebihan begini?”

“Perlu kuingatkan, sekarang kita di Korea, Choi Zelo!”

Shireo!” aku melipat kedua lenganku kesal. Aku sudah tidak sanggup jika harus perang urat dengannya lebih lama lagi.

Sepertinya ia juga sama karena aku tidak mendengar sahutan teriakannya lagi, melainkan..

‘BRUUK’

Ia melemparkan setelan jas di pangkuanku, “Segera ganti pakaianmu.”

YAAA kau bilang kau hanya akan membawaku bertemu dengan Paman dan Bibi!”

“Rencana diubah,” kulihat ia menampilkan sebuah smirk, “Ayo kita beri kejutan pada keluarga Ren.”

“Tapi..”

“Oh ayolah Zelo.. sejak kapan kau tidak suka terlibat dalam pranks?” cibirnya santai dibalik kemudi.

fx_1374205898_20130719_fx3

“Aku hanya khawatir ini bukan waktu yang tepat dan justru menjadi boomerang untuk Yoon Ah noona, Sulli. Tidakkah lebih aman jika kita menyerang mereka saat malam ‘itu’ tiba?”

Ahni, itu akan sangat terlambat!” Jawabnya singkat, lalu ia menepikan mobilnya di dekat sebuah restauran. Ia menghubungi kedua orang tuanya memberitaukan posisi terbaru kami.

Setelah hubungan diputus, aku dapat menangkap pandangan simpatik darinya,”Zelo-ah, keluargaku selalu mendukung rencanamu untuk mengambil alih Choi Corp. Perusahaan itu adalah hak kalian. Kami berjanji membantu dan merencakan yang terbaik untukmu dan Yoon Ah. Kau bisa percaya pada kami kan?”

“Lalu bagaimana dengan Myungsoo hyung?”

zelobap

Sulli tampak menghela nafas, “Soal dia kita bicarakan nanti, sekarang ganti dulu pakaianmu. Paman dan Bibi akan segera tiba!”

+0o0o0+

L.Joe POV.

Sudah satu jam berlalu setelah kepergian Zelo. Yoon Ah masih belum juga keluar dari kamarnya, dan aku bimbang akan membangunkannya atau tidak. Apakah ia tidak merasa lapar lalu terbangun? Aigooo yeoja sekurus dia mana mungkin punya rasa lapar, makan saja ia harus diingatkan.

Karena sudah melewati jam makan malam, kuketuk pintu kamar Yoon Ah.

Tidak ada jawaban.

Kuketuk lagi dan kupanggil namanya.

Tidak ada jawaban.

Sekali lagi kucoba memanggil namanya.

Tidak ada jawaban.

Tanpa pikir panjang, aku segera membuka pintu kamarnya dan.. Yoon Ah tampak tertidur di sebagian tumpukan bajunya yang belum tertata kembali ke dalam lemari. Kuawasi dari dekat, saat aku menyingkirkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga, tampak bekas air mata di pipinya. Ia menangis?

Tubuh kurusnya menggulung seperti memeluk dirinya sendiri. Kau kesepian Nona Choi? Kau sedih melihat wajah Myungsoo-mu babak belur oleh pukulanku? Kau marah dengan perkataan acuhku? Nan jeongmal mianhe Yoon Ah-ya..

Sekarang aku harus membangunkannya atau membiarkannya saja? Jika dibiarkan tidur seperti ini badannya bisa pegal. Tapi dia sudah tidur selama lima jam.

“Nona Choi, ireona,” aku mengguncangkan bahunya perlahan, lalu kuulangi sampai tiga kali, barulah kudapat respon darinya.

Ia mengerjap bangun kemudian tersentak setelah melihat siapa yang membangunkannya. Wajahku semakin tampankah?

“Byung Hun-ah..”

“Segera mandi lalu makan malam. Kau sudah tidur selama lima jam, memangnya kau tidak lapar?” tanyaku sambil menyerahkan handuk miliknya.

Ia menerimanya dan hanya menunduk diam. See? Sepertinya yang membuatnya menangis sampai tertidur tidak lain adalah dirimu, Lee Byung Hun.

“Kupanaskan dulu supnya. Atau kau mau makan makanan lain?” tanyaku di ambang pintu.

Ia hanya menggeleng, tidak ada sepatah kata yang terucap.

Aku menghela nafas melihat tingkahnya lalu melangkah keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Setelah menyiapkan air hangat, aku kembali ke dapur untuk memanaskan sup yang tersisa. Sebenarnya jika pri kemanusiaanku lenyap aku sudah menghabiskan isi panci di hadapanku ini sejak awal matangnya isi makanan di dalamnya. Kuakui masakan Yoon Ah benar-benar lezat.

Tepat setelah menuangkan sup ke dalam mangkuk dan meletakkannya di meja makan bersama dengan segelas susu hangat, Yoon Ah keluar dari kamar.

Gomawo Byung Hun-ssi,” gumamnya.

“Untuk apa?” tanyaku sambil duduk di hadapannya.

tumblr_mmcpioxptr1qc299mo2_500

“Air hangatnya, dan makan malamnya,” ia mengucapkan kalimat itu tanpa memandangku. Berkonsetrasi menyuapkan isi mangkuk di hadapannya ke dalam mulutnya.

“Itu makanan yang kau buat sendiri, harusnya aku yang berterima kasih,” aku berdehem pelan sebelum menambahkan sebuah pujian, “Masakanmu lezat.”

Menit-menit selanjutnya hanya terdengar dentingan sendok makan Yoon Ah, hingga ia meneguk habis susu hangat yang kubuatkan. Sebelum ia mengangkat semua itu ke dapur, aku telah mendahuluinya, “Kau duduk saja di sofa, biar aku yang bereskan.”

Seperti yang kulakukan tadi siang, kini gilirannya yang patuh mengikuti perintahku.

“Zelo tidak ada di rumah?” tanyanya segera saat melihatku keluar dari dapur.

“Mm.. dia pergi ke suatu tempat sejak satu setengah jam yang lalu,”

“Dia tidak mengatakan akan pergi kemana?”

“Dia hanya memintaku menjagamu.”

“Arra…” sahutnya pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

Aku menggumamkan sesuatu saat aku duduk di sampingnya,”Mianhe.”

“Hm, wae?

“Aku memukul Myungsoo-mu terlalu keras, wajahnya sampai lebam tidak karuan.”

A..Ahni, kenapa kau minta maaf padaku?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, “Karena dia kekasihmu. Mungkin besok di sekolah aku akan minta maaf padanya.”

Dalam hati aku menggeram keras.. Kenapa kau memaksaku mengatakan alasan itu?

Kekasihmu.

Dia kekasihmu.

Kim Myungsoo dan Choi Yoon Ah adalah sepasang kekasih.

Haruskah kau terus mengingatkanku dengan fakta itu? Ya, mungkin lebih baik begitu agar orang hina sepertiku tidak lancang memimpikanmu menjadi kekasihku.

Yoon Ah hanya menatapku kosong.

“Tidurlah, mulai besok kau harus kembali ke sekolah. Aku akan menunggu Zelo pulang,” ujarku.

“Dia bukan kekasihku,” gumamnya perlahan.

Aku tidak ingin menanyakannya, mungkin saja ia sekedar asal bicara, efek tidur panjang..

“Sungguh, kami dia bukan kekasihku,” ujarnya sama dengan apa yang ia gumamkan sebelumnya, “Mungkin dulu kami sudah sempat bertunangan. Tapi itu sudah lama berlalu. Itu masa lalu.”

Setelah mengatakan hal yang mampu membuat sesuatu dalam diriku kembali berdetak, ia bangkit dari sofa, “Sekarang, ia sama saja sepertimu. Hanya temanku.”

Mendengar kalimat akhir yang ia ucapkan sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kamar, membuat cahaya harapan yang seolah datang padaku, kembali lenyap.

Chingu? Hanya teman. Kau hanya teman seorang Choi Yoon Ah, Lee Byung Hun. Sadarlah!

Ah, setidaknya strataku dan Myungsoo kini setingkat di matanya.

Choi Yoon Ah, You’re the one who runs my world.

=TBC=

DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT AND LIKE MY POST~

AUTHOR MENGERTI KALIAN UDAH NUNGGU LAMA, DAN UNTUK ITU JANGAN MALAS KOMEN UNTUK MENYATAKAN KELUH KESAH KALIAN!

AUTHOR TIPE ORANG YANGTERBUKA DENGAN SEGALA MACAM KRITIK DAN SARAN, TAPI AUTHOR NGGA BISA MENERIMA SILENT READER!

SIDERS INSAPLAH & HARGAI KARYA SAYA, JEBAL~

~KAMSAHAMNIDA~

8 thoughts on “I’m Your Lover, Your Chaser, Forever [6]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s