[Chapter 2] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji, Nam Woohyun, Park Chorong || Genre : Romance, School Life || Length : Chapter 2/? || Rating : PG-15 || Credit Poster: Fearimaway

Hard to Love  Chapter 2 – Between Junior and Senior

oOo

Author Note : Maaf sekali lagi buat para readers yang nunggu 1 bulan lebih TT.TT maaf banget. Aku minta maaf banget sekali lagi kalau ff ini harus ditunda selama itu. Sejak aku naik kelas 9 aku sibuk banyak tugas dan alhasil aku gabisa buka web buat posting ff ini. Jadi sekali lagi maaf banget.

oOo

Suasana mobil itu hening. Son Naeun dan Lee Howon terdiam. Sedangkan Woohyun mencoba berbicara dan berbincang-bincang dengan Naeun, namun Naeun tak menanggapi laki-laki playboy itu. Lalu, Howon yang daritadi terdiam karena Eunji yang terus memotretnya dari jok belakang.

“Hei, Son Naeun, jangan diam saja aku hanya bertanya padamu, kenapa kau tidak menyukai kami?” Naeun terdiam. Kemudian ia mendengus kesal lalu ia menyolek sahabatnya yang tengah sibuk memotret Lee Howon itu.

“Oh, Naeun itu tidak suka pada kalian karena kalian itu sombong, seenaknya, dan suka mengeluar-masukkan murid. Tapi menurutku, kalian tidak seperti itu!!” teriak Eunji senang. Naeun memutar kedua bola matanya.

Naeun mengeratkan tasnya kemudian ia menoleh ke arah Woohyun yang ada disampingnya. “Cukup, aku mau turun disini.”

Sesenang apapun Woohyun itu, ia tidak suka ketika Naeun berkata seperti itu padanya. “Baiklah, Ajussi, tolong hentikan mobilnya. Howon, kau urus dia.” Katanya sambil menunjuk Eunji yang menatap heran Naeun.

“Kenapa kau mengikutiku?!”

Kekesalannya meluap ketika melihat Woohyun juga ikut turun dari mobil lalu mengambil sepeda Naeun. Laki-laki itu tersenyum  kemudian segera menaiki sepeda Naeun. Ia menghentikan sepedanya disamping Naeun.

“Naiklah.” Katanya sambil tersenyum. “Kau mau aku mencuri sepedamu?”

Sepedanya yang sudah 2 tahun ia pakai untuk ke sekolah itu tampak tidak cocok dengan Woohyun. Akhirnya Naeun menghela nafas panjang lalu duduk di sadel belakang sepedanya. Woohyun pun menarik tangan Naeun untuk memeluknya erat.

“Pegangan. Kau akan jatuh nanti.”

Naeun mendecak kecil kemudian ia menarik kembali tangannya menjauh dari perut Woohyun. Lalu Woohyun segera mengkayuh sepeda Naeun. Awalnya pelan, namun lama-kelamaan sepeda itu mengencang. Naeun berteriak sambil memukul punggung Woohyun.

“Ya! Jangan mengebut! Disana akan ada turunan!” teriak Naeun sambil menunjuk ke arah jalan yang tak jauh dari mereka.

Orang-orang yang tengah berlalu lalang disana hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah kedua pelajar itu. “Murid sekarang memang tak pernah memikirkan pelajaran. Mereka memikirkan pacaran saja.”

Tinggal 4 meter dari turunan itu, Woohyun segera memelan kemudian ia segera mengembalikan kecepatan sepedanya. Mereka melewati turunan jalan itu dengan cepat. Naeun berteriak namun ia terdiam ketika ia merasakan angin yang membuat rambutnya berkibar itu.

Teriakannya seketika berubah menjadi teriakan senang. Woohyun yang tengah mengkayuh sepedanya tersenyum senang karena mendengar teriakan senang dari Naeun. Woohyun pun mengerem sepeda Naeun pelan.

“Rumahmu dimana? Biar kuantar.”

Naeun terdiam. Sebenarnya ia malu kalau Woohyun akan ke rumahnya apalagi rumahnya yang tergolong kecil dan berada di gang kecil. Ia kemudian menggeleng kepalanya. “Tidak terimakasih, aku bisa pulang sendiri.” Katanya sambil turun dari sepeda.

Woohyun menatap Naeun pelan – ia bertanya-tanya kenapa Naeun menolak ajakannya. Akhirnya ia pun turun dari sepeda Naeun, Naeun segera meraih sepedanya kemudian duduk diatasnya.

“Terimakasih yang tadi.” Kata Naeun kemudian ia segera mengkayuh sepedanya pergi menjauhi Woohyun yang tengah menatap kepergian Naeun. Woohyun menghela nafas panjang kemudian ia melangkah pergi dari sana.

Howon, laki-laki itu kini harus bersusah payah menggendong perempuan itu memasuki kamar Eunji. Ya, bagaimana bisa? Ceritanya adalah Eunji lelah memotret Howon yang terus terdiam, ia pun tertidur. Howon yang kaget melihat Eunji tertidur segera meraih ponsel Eunji kemudian menelpon emaknya Eunji(?).

Alhasil begini, ibunya nyuruh Howon menggendong Eunji memasuki rumah sampai harus naik tangga karena kamar Eunji yang berada di lantai dua. Sedangkan sekarang, bukannya membantu Howon menggendong Eunji yang beratnya cukup wow itu, ibunya malah asik buat minuman karena ngeliat laki-laki setampan Howon – maklum, ayahnya Eunji sudah lama meninggal, kini ibunya bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan.

“Duh, Eunji ini cewek atau gorilla sih? Berat amat, perasaan cewek beratnya kagak seberat dia dah.” Omel Howon sambil membuka pintu kamar Eunji. Ia pun berteriak kaget saat melihat kamar Eunji.

“Ada apa, Howon-ah?” tanya ibu Eunji dari bawah. Mungkini ibunya Eunji tidak pernah masuk kamarnya Eunji jadi dia tidak tau apa-apa.

“Tidak ada apa-apa, Ajjuma.”

Disana beribu foto-foto Howon ada di dinding kamar Eunji. Cepat-cepat Howon melempar(?) gadis itu ke arah tempat tidur dan yang hebatnya, gadis itu masih saja tertidur dengan posisi enaknya.

Howon membuka mulutnya karena ia terkejut bahwa fotonya yang paling aib seumur hidupnya terpajang di tengah-tengah kamar Eunji itu – fotonya lagi ngupil terus dimakan sama dia sendiri. Ternyata selama ini, Eunji terus mengikutinya kemanapun.

“Buset, foto aib gua ada dimana-mana!? Kurang asem nih cewek, untung kagak gua keluarin dari sekolah. Besok awas aja, gua cukurin bulu ketek gua terus gua suruh dia emutin seharian.”

“Apa? Emutin bulu ketek oppa? Boleh kok. Pasti enak.”

“Gila lu, bulu ketek asem gini lu bilang enak.” Kata Howon seraya memandang foto-foto aibnya yang lain.

“Dih, ngaku.”

“Sialan!” teriak Howon sambil menoleh ke arah tempat tidur Eunji. Ia mengira bahwa Eunji yang sedari tadi berbicara ternyata Eunji masih berada di posisi tidurnya yang enak – jungkir balik sambil meluk guling.

Lantas, Howon menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Lalu ia segera berpikir. “Terus tadi gua ngomong sama siapa coba?” Howon pun menoleh ke arah kanan dan dilihatnya disana seorang kuntilanak tengah menyengir ke arahnya.

“AAAA!!! CIDAKKSS!!! HELEEPPPP!!! AYA KUNTILANAK  YEUH!!”

**

“Naeun-ah!”

Naeun menolehkan kepalanya. Dilihatnya kakaknya – Son Dongwoon – yang tengah melambai ke arahnya sambil berlari-lari. Naeun segera menghentikan sepedanya kemudian ia menunggu Dongwoon.

“Ayo, kita pulang bersama!” katanya.

“Oh, sepedamu dimana?”

Dongwoon terdiam namun ia langsung merebut sepeda Naeun kemudian naik di atasnya. “Naiklah, Naeun.” Naeun terdiam. Ia menatap Dongwoon pelan, ia tahu bahwa ada sesuatu dengan kakaknya.

“Ayo, naiklah. Nanti aku jelaskan di rumah.”

Naeun menganggukkan kepalanya, kemudian ia duduk di belakang. Tangannya memeluk perut kakaknya sambil bersender ke punggung kakaknya. Ia tahu kalau kakaknya pasti mendapatkan ulah dari teman-teman seangkatannya.

Oppawae guraeyo?

Dongwoon terus terdiam kemudian ia segera menghentikan sepeda mereka ketika mereka sudah tiba di depan rumah mereka. Naeun pun turun lalu membukakan pagar rumah mereka untuk Dongwoon.

Naeun menatap Dongwoon sedih. Bagaimana bisa kakaknya diperlakukan seperti itu. Ia pun menghela nafas kemudian ia menarik tangan kakaknya lalu memeluk kakaknya setelah Dongwoon memarkirkan sepeda milik Naeun.

“Sepedaku dihancurkan Kim Jongwoon.”

“Kim Jongwoon lagi?!” teriak Naeun kesal sambil melepas pelukannya lalu menatap kakaknya. Kakaknya menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum getir. Senyumnya selalu mengartikan senyum seorang pembohongFaker, pikir Naeun.

Dongwoon menarik tangan Naeun memasuki rumah kemudian ia segera melempar tubuhnya ke atas sofa yang sudah berumur 8 tahun itu. Sambil mengatur posisi ia menatap adiknya kemudian ia bangkit.

“Yah, oppa, kenapa kau membiarkan Jongwoon itu menghancurkan sepedamu? Apa salahmu?”

Dongwoon mengangkat bahunya kemudian ia melangkah menuju dapur. Setibanya di dapur ia mengambil 2 bungkus ramen yang tersisa di dalam kabin dapur. Kemudian ia menyalakan kompor. “Naeun-ah, mandilah, aku akan memasak makanan.”

“Memangnya kau bisa?” teriak Naeun.

“Ya, tentu saja.” Jawab Dongwoon sambil tersenyum kecil.

**

Naeun menghela nafas pelan. Ia menatap sepedanya yang terparkir disana. Akhirnya ia meninggalkan sepeda itu. Kemudian ia berbalik lagi menatap sepeda itu. “Oppa, aku berangkat. Kuliahlah dengan baik!”

Ne! Tutup pagarnya.”

Naeun tersenyum kemudian ia menutup pagar rumahnya. Ia tahu kini tinggal dirinya dan kakaknya yang tinggal di rumah. Ibunya sekarang kini harus menginap di rumah Myungsoo sedangkan ayahnya harus menginap di kantor taksi karena ayahnya ingin mendapatkan gaji lebih.

Melihat sebuah batu kecil, dengan sepatunya yang sudah berwarna kecoklatan, Naeun menendang batu kecil itu sambil beberapa kali mendengus pelan. Tiba-tiba saja sebuah mobil mengklaksonnya dari belakang. Ia segera menyingkir tanpa melihat ke arah mobil tersebut, namun mobil itu justru berhenti tepat di depannya.

Naeun mengangkat kepalanya dilihatnya seorang laki-laki mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil. Naeun segera mendengus kesal saat ia melihat laki-laki itu ternyata Woohyun. Laki-laki itu justru turun dari mobil. Melihat Woohyun turun dari mobil membuat Naeun segera berjalan cepat menghindari Woohyun.

Tangan Woohyun menarik tangan Naeun, Naeun segera menolehkan kepalanya. “Ada apa?”

“Kau ini tidak bisakah sopan sedikit?”

Naeun menggelengkan kepalanya kemudian ia memajukan bibirnya menunjuk tangan kanannya yang digenggam oleh Woohyun. Woohyun melepaskan tangan Naeun.

Waeyo? Kalau kau tidak bicara juga aku akan pergi.” Kata Naeun lalu melangkah pergi meninggalkan Woohyun. Woohyun segera mengejar gadis itu lalu menarik tangannya lagi. Naeun membalikkan tubuhnya lalu menatap Woohyun kesal.

Gadis itu menghela nafas. “Apa lagi sekarang?”

“Ikutlah dengan mobilku di dalam ada Hoy-.” Woohyun segera menutup mulutnya sebelum ia mengatakan nama panggilan Howon yang sangat rahasia – hanya diketahui oleh Woohyun dan Myungsoo.

Naeun mengangkat alis kanannya heran. “Hoy? Memangnya ada temanmu yang bernama Hoy?”

“Maksudku Howon dan Myungs-.”

Naeun melepaskan tangannya dengan kencang. Lalu ia menggelengkan kepalanya. “Mendengar awalan nama itu, aku bahkan sudah tahu itu siapa. Pasti Myungsoo bukan?” tanya Naeun. Gadis itu menatap Woohyun dengan pandangan ‘Iyalah, gue pasti bener itu Myungsoo.’

Gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Tidak, tidak, tidak. Terimakasih banyak Woohyun ‘sunbaenim’. Aku sangat berterimakasih tapi tidak untuk sekarang karena aku mendengar nama orang itu!”

Lantas Naeun segera meninggalkan Woohyun. Gadis itu mendengus kesal berkali-kali. Kenapa ia harus naik mobil dengan Woohyun kalau di dalam sana ada ‘makhluk’ menyebalkan yang ia benci.

**

“Son Naeun, berdiri di luar sana.”

Naeun menganggukkan kepalanya pelan lalu ia melepaskan tasnya.

“Tidak-tidak-tidak.” Kata Guru itu sambil menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Kau berdiri disana dengan tasmu itu. Sekarang.” Lanjut guru itu – Lee ssaem.

Naeun menghela nafas lalu ia berjalan menuu pintu kelas, kemudian ia berdiri di depan pintu kelas itu sambil merutuk kesal. “Sial benar aku, ini semua karena Woohyun itu. Kalau saja dia tidak memaksaku atau mengajakku berbicara, aku tidak akan telat.”

“Kau berbicara dengan siapa?”

Mendengar sebuah suara yang sepertinya bertanya padanya, ia pun mengangkat kepalanya. Dilihatnya seorang laki-laki tinggi dengan perawakan kurus tengah menatapnya. Naeun segera tersenyum melihat laki-laki itu.

“Taemin-ah!!!” pekiknya.

Pintu kelas terbuka. Lee ssaem menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lee Taemin, sedang apa kau disana? Bukankah ini pelajaran Sejarah?”

“Saya dikeluarkan dari kelas karena tertidur.”

“Baiklah, kau dan Naeun berdiri di lapangan sekolah sekarang!”

Kedua murid itu lantas menganggukkan kepala mereka. Namun Naeun segera mengangkat tangannya untuk bertanya, namun Lee ssaem sudah menyela duluan. “Bawa juga tasmu, Son Naeun.”

Mendengar jawaban itu, lantas harapan Naeun kini pupus sudah.

**

“Oh, Naeun, kenapa kau bisa keluar dari kelas?” tanya Taemin sambil mengunyah permen karetnya, permen karet curian lebih tepatnya.

Naeun mengangkat bahunya sambil meniup permen karet curiannya juga. “Sebenarnya aku terlambat. Mungkin Lee Sungyeol itu sedang menstruasi, dia sangat sensi padaku.”

“Hush. Lee ssaem kan laki-laki.”

Gadis itu menatap Taemin. “Yah, Taemin, sampai kapan kau akan kaku seperti ini padaku? Ayolah buatlah aku tertawa seperti saat itu.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku-.”

“Suka padaku?”

Taemin terdiam lama. Ia berpikir, bagaimana bisa ia menyukai perempuan yang sudah menjadi temannya sejak kecil. Namun, itu mungkin saja. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kecuali ya, kau tahu kan?

“Ya.”

“Aku sudah tahu dan aku sudah beribu-ribu kali mendengar perkataan itu dari TK sampai sekarang. Kenapa kau tidak cari perempuan lain saja? Kita ini teman, Taemin-ah. Aku menyayangimu seperti adikku atau juga kakakku. Atau lebih baik adik? Mungkin adik karena wajah-.”

“Tapi aku menyukaimu, Son Naeun.”

“Kau harus tau, aku bukannya ingin menolak tapi aku sudah cukup puas dengan statusku saat ini yaitu lajang. Lagipula aku tidak berpikir untuk berpacaran dulu. Aku harus memikirkan keluarga-.”

“Naeun, yang aku pikirkan adalah kalau kau mau jadi kekasihku, aku pasti akan membantu keluargamu.” Taemin terdiam sebentar lalu menatap Naeun dalam. Yang pasti, ini bukanlah pertemuan yang menyenangkan.

Gadis itu malah membuang muka dari Taemin kemudian ia menatap gedung sekolah melanjutkan aktifitasnya – berdiri di lapangan sekolah.

“Naeun.”

“Kenapa?” tanya Naeun tanpa menatap Taemin.

“Naeun.”

“Apa lagi?” tanya Naeun kesal. Akhirnya ia menatap ke arah kanan tepat dimana Taemin berdiri di sampingnya. Namun, kini ia harus menyesal karena ia telah menolehkan kepalanya ke arah Taemin.

Seharusnya kini, ia sudah mengumpat-umpat Taemin atas perbuatan ini. Bibirnya kini tengah berciuman dengan bibir Taemin. Lantas Naeun segera menjauhkan dirinya dari Taemin.

“Taemin!”

**

“Hei, kau sudah lihat foto itu?”

“Sudah. Biasa saja yang ini sih.”

“Biasa gimana? Dia kan murid teladan.”

“Teladan apa?”

“Dia selalu ranking 1 dari seluruh angkatan.”

“Apa?”

“Kau tidak tahu ya?”

“Kok aku tidak tahu ya.”

“Ay, kudet u.”

 

Kini entahlah apa yang diperbincangkan murid-murid itu yang pasti telah membuat seluruh sekolah gempar. Ya, bagaimana tidak. Sebuah foto dimana Naeun dan Taemin kemarin berciuman kini tersebar di seluruh sekolah bahkan guru-guru pun ikut mendapatkan foto yang seharusnya tidak disebarluaskan.

“Taemin, aku mau bicara denganmu.”

Taemin menghela nafas panjang, kemudian ia menatap Naeun pelan. “Ya, aku sudah tau kalau foto kita disebarluaskan. Tapi yang pasti aku tahu siapa yang menyebarluaskan foto itu. Sepertinya ia suka ya padamu?”

Naeun terdiam menatap Taemin. “Siapa?” tanyanya dengan wajah penasaran. Tiba-tiba saja rasa penasaran itu muncul dari dalam dirinya. Namun kemudian ia mengalihkan wajahnya dari Taemin.

“Kim. Myung. Soo.”

“APA?!”

**

13 thoughts on “[Chapter 2] Hard to Love

  1. karena naeun – taemin wgm, aku udah ngira pasti di beberapa ff myungeun bakal nyempil(?) taemin ._.
    aku maklumin kok kalo author ngepostnya lama, karena aku juga sekarang kls 9, jadi aku juga ngerasain hal yang sama :’) tapi tetep semangat yaaa😉
    aku suka nih, cuman belum ada myungeun momentnya di part ini😦
    itu naeun gimana ketauan ciuman? dihukum ngga? si myungsoo nyebelin banget!
    ditunggu yaaaa^^

  2. Roman-romannya wh suka ya sama naeun.
    Ada taemin pula disini.
    Sekedar saran aja author-nim kalau mau menggunakan bahsa “gaul” untuk dialognya lebih baik semuanya. Jangan sebentar baku sebentar bahasa “gaul”. Kesannya ff ini kurang enak dibaca

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s