[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 1)

the sweet hate poster 2

 

Judul: The Sweet Hate (part 1)

Author: FZ

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Genre: Romantic, Friendship, Family, Comedy (?)

Main Cast: – Park Chanyeol (EXO)

–          Jang Hye-eun

Disclaimer: FF gagal (-_-) yang pernah dipost di wordpress pribadi >> allfictionstrory.wordpress.com dengan cast berbeda. FF ini udah lama dibuat dan masih belum mendapat perbaikan yang layak. Semoga gak pada ilfeel sama jalan ceritanya J just enjoy the show kkk~

PART 1

Di suatu pagi.

Sebuah mobil mewah berwarna siver memasuki gerbang ‘Kyungmoon Seoul High School’, sekolah yang berisi anak-anak dari keluarga terkenal. Sekolah tersebut juga memiliki fasilitas terlengkap daripada sekolah lainnya yang berada di Seoul. Gerbang besar yang beralaskan aspal mulus dan kita langsung disuguhkan dengan pemandangan taman depan sekolah dengan air mancur berbentuk rumit, yang ditanami berbagai tanaman, khususnya bunga. Teras sekolah yang menghubungkan bagian depan dan koridor sekolah dengan dua pilar besar di sana berwarna putih—seperti warna dasar bangunan itu—terlihat begitu mewah.

Park Chanyeol, seorang ‘bintang’ yang bersekolah di Kyungmoon Seoul High School, turun dari mobilnya dengan gaya angkuh. Dia menatap sekeliling. Lalu ia melepaskan kacamata hitam yang dipakainya. Dengan rambut berwarna coklat dengan sedikit ikal, mata yang berwarna coklat serta tubuh yang bagus itu bisa membuat beberapa gadis meleleh di depannya. Seragam sekolah yang bermotif kotak-kotak coklat-krem-putih untuk bagian bawahnya, dan blus putih serta blazer coklat, serta dasi yang bermotif sama dengan bawahannya juga menamambah kesan maskulin ke Chanyeol.

Ia berjalan menuju lapangan basket sambil diikuti berpuluh-puluh pasang mata yang mengikutinya. Di lapangan basket indoor, sudah ada dua sahabatnya. Oh Sehun atau sering dipanggil Sehun, dan Xi Luhan yang juga berasal dari keluarga yang ternama. Sehun adalah sahabat Chanyeol sejak SMP, sedangkan Luhan baru dikenalnya saat memasuki sekolah ini.

Sehun melepas blazernya dan menaruhnya di pinggir lapangan. Rambut hitamnya pun sudah penuh dengan keringat yang terkadang menetes dari ujung rambutnya. Ia pun melemparkan bola basket ke arah Luhan yang ada di dekat ring basket. Dengan sigap, Luhan menangkapnya dan memasukan bola itu ke ring.

Xi Luhan adalah pemuda keturunan China yang tinggal di Seoul. Ayahnya adalah pengusaha sukses di China dan Korea, sedangkan ibunya seorang arsitek terkenal yang juga berasal dari Amerika namun berdarah Korea. Oleh sebab itu, ayah Luhan membangun rumah di Korea atas rancangan istrinya.

Sehun langsung menghentikan permainannya setelah melihat Chanyeol sudah berada di dekat mereka. “Hey,” sapa Sehun kepada Chanyeol dengan senyum khasnya lalu ber-high five.

Luhan ikut menghampiri Chanyeol. “Sepertinya fansmu itu kehausan,” kata Luhan sambil memutarkan bola basket dengan jari telunjuk kanannya. “Apa kau tidak mau menghibur mereka dulu?” ia melemparkan pandangannya ke balik punggung Chanyeol lalu tersenyum. Sedetik kemudian terdengar teriakan tertahan dari para gadis di sana.

“Aku sedang tidak berselera untuk menghibur mereka,” jawab Chanyeol sambil. “Sudahlah lebih baik kita masuk,” ajaknya seraya merangkul kedua sahabatnya itu dan mulai berjalan masuk ke koridor kelas.

Chanyeol tidak memperdulikan pasang-pasang mata itu masih terus mengikuti langkahnya sambil menatap kagum dirinya. Ya, ini dia. Seorang Park Chanyeol yang sangat populer di sini. Park Chanyeol yang seorang model di majalah-majalah terkenal. Park Chanyeol, artis di SMA Kyungmoon.

Chanyeol tentu selalu membanggakan dirinya.

Saat Chanyeol sibuk tebar pesona kepada fansnya, seseorang menabrak bahu Chanyeol hingga Chanyeol sedikit terdorong ke samping. Ia seorang perempuan. Suasana di sana tiba-tiba hening. Semua menunggu reaksi Chanyeol terhadap gadis itu.

Mianhamnida,” kata gadis itu membelakangi Chanyeol, sehingga yang tampak hanya rambut ikal sepanjang setengah punggung yang berwarna coklat keemasan yang terurai di blazer coklatnya, sebagian menjuntai di depan bahu.

Chanyeol menepuk-nepuk pundak blazernya. “Ya! Neo!” kata Chanyeol setengah berteriak ketika gadis itu ingin pergi, gadis itu pun menghentikan langkahnya. “Apa cukup kau hanya meminta maaf dengan cara seperti itu?”

“Lalu?” jawab gadis itu sambil membalikan badannya. Munculah sesosok gadis cantik dengan memasang ekspresi datar tanpa merasa bersalah. “Apalagi? Bukankah aku sudah minta maaf?” tambahnya.

Awalnya Chanyeol terpesona dengan wajah gadis itu, yang cantik dan memiliki mata indah, namun ia langsung mengalihkan dengan berbicara kasar.  “Kau harus meminta maaf sambil berlutut dihadapanku! Atau kau akan ku tuntut!” katanya sambil menunjuk ke arah kakinya.

“Tuntut? apa aku tak salah dengar?” jawab gadis itu menaikan sebelah alisnya, lalu tertawa mengejek. “Apa kulitmu mengelupas? hidungmu berdarah? tanganmu patah atau gegar otak, tidak bukan,” ia mendengus. “Jadi aku pasti mempunyai bukti yang cukup untuk mengatakan kalau aku tidak bersalah di pengadilan nanti.” Ia pun pergi.

Luhan menghampiri Chanyeol lalu diikuti Sehun. “Wah, belum pernah aku melihatnya. Mungkin dia murid baru di sini.” Ucap Luhan sambil menepuk pundak Chanyeol.

“Diam!!” bentak Chanyeol, membuat Luhan menghentikan kegiatannya.  Otomatis para penggemarnya yang sedang mengikutinya berhamburan menjauhi Chanyeol. Mereka tahu kalau mood Chanyeol sedang buruk ia akan mengusir mereka nantinya cepat atau lambat. Jadi, sebelum itu terjadi, dan Chanyeol bertambah marah, mereka menghambur secepatnya.

Dalam hati Chanyeol  terus menggerutu dan bertekad untuk membalas gadis yang tadi, secara tidak langsung mengejeknya.

@@@

            Kantin.

Semua orang memperhatikan gadis tadi sambil berbisik-bisik kepada temannya dengan tampang sebal. Tapi gadis tidak memperdulikannya—walaupun sesekali melirik kepada mereka. Ia tetap berjalan menuju bangku kantin yang kosong sambil mendengarkan music di I-pod nya. Walaupun semua masih membicarakannya, gadis itu pun makan salad dengan tenangnya dan sesekali menatap mereka yang sedang membicarakannya. Ia makan salad lagi, kali ini ia tidak memperdulikan sekelilingnya, sepertinya ia sudah terbiasa seperi itu.

Lalu seseorang juga ikut duduk bersamanya, gadis itu pun menoleh kepada orang yang duduk di hadapannya.

Annyeong,” sapa orang itu yang bernama Bae Sooji. Sooji berpenampilan sederhana, memakai kacamata dan kawat gigi berwarna merah muda. Rambutnya lurus sepunggung. Sebenarnya, mata coklat anak itu sangat indah, tapi hal itu tidak terlihat indah karena terhalang kacamatanya.

Annyeong,” jawab gadis itu ramah dengan senyuman. Sikapnya kini berubah drastis dari kejadian di koridor.

“Aku sangat kagum dengan sikapmu tadi melawan Park Chanyeol,” kata Sooji senang.

“Ya, orang itu memang perlu di beri hukuman sekali-sekali,” kata seorang gadis lagi yang mempunyai mata besar dan hidung mancung, rambut hitam yang tidak panjang ia kuncir ekor kuda ke belakang. Sambil melipat tangannya di dada, Ia pun tersenyum “Annyeong naneun Choi Jinri yeyo. Siapa namamu?” tanya Jinri ke gadis itu.

“Aku Jang Hye-eun, kalian bisa memanggilku Hye-eun.”

“Oh iya aku lupa memperkenalkan namaku padamu,” ujar Sooji sedikit gelagapan sambil menepuk dahinya. “Aku Bae Sooji. Senang berkenalan denganmu,” Sooji menjulurkan tangannya ke arah Hye-eun. Hye-eun pun tersenyum sambil meraih tangan Sooji.

“Oh iya, kau murid pindahan dari mana?” tanya Sooji antusias sambil memangku wajah di tangannya.

“Paris,” jawab Hye-eun  santai.

“Apa? kau pernah bersekolah di Paris. Lalu kenapa kau ke Seoul?” tanya Jinri dengan wajah tak percaya.

“Aku dilahirkan di Seoul, orangtuaku juga berasal dari sini. Aku kembali lagi ke sini karena ada tugas penting yang harus ku jalani,” kata Hye-eun lalu tersenyum.

“Tugas penting apa?” tanya Sooji kembali ke posisi normal.

“Mmm… itu rahasia,” jawab Hye-eun lalu melanjutkan memakan saladnya. Kedua teman barunya itu hanya saling bertatapan.

@@@

             Tampaknya Chanyeol masih kesal dengan kejadian kemarin. Padahal selama ia bersekolah di sana tidak pernah ada yang bersikap seperti itu terhadapnya. Sejak pulang sekolah tadi ia sibuk memukul-mukul bantal sendiri. Ia masih terbayang-bayang ekspresi Hye-eun saat ia mengatakan apa kulitmu mengelupas? hidungmu berdarah ….

“Kau masih memikirkan hal tersebut?” tanya Sehun mengagetkan Chanyeol. Chanyeol menoleh ke Sehun sebentar lalu kembali ke posisi semula sambil terdiam kesal.

“Kami berdua sudah tahu nama gadis dan informasi lainnya. Namanya Jang Hye-eun, murid pindahan dari Paris,” tambah Luhan sambil membaca catatan di I-pad nya.

“Jang Hye-eun?” tanya Chanyeol bingung.

“Ya, itu menurut informasi dari yang kita dapat,” jawab Luhan sambil mengangguk dan berwajah sok professor, dan itu membuat Sehun sedikit mendorong wajah Luhan. Luhan menggerutu sendiri.

Chanyeol mengabaikan apa yang sedang terjadi dengan Sehun dan Luhan. Ia merasa kalau dia sudah tidak asing lagi dengan nama itu. Tapi dia tidak bisa mengingat darimana dia mengenal nama itu.

@@@

             “Gendut … kau persis seperti babi yang akan dipotong,” teriak seorang bocah laki-laki kepada seorang bocah perempuan gendut yang seumuran dengannya sambil tertawa.

             “Hyeon gendut …. Hyeon gendut…” ujar yang lain.

             “Sudah gendut, jelek, tidak bisa bernyanyi atau menari. Mana bisa kau menjadi artis nanti,” ucap bocah itu lagi.

             “Sudah hentikan!!!” teriak Hye-eun kecil sambil menutup kedua telinga dengan telapak tangannya.

“Hye-eun, bangun, kau kenapa? Mengapa kau teriak-teriak?” kata Nyonya Jang membangunkan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hye-eun.

Hye-eun bangun, lalu wajahnya pucat, kebingungan dan keringat mengucur dari keningnya. “An-aniyo eomma, aku hanya bermimpi buruk,” jawab Hye-eun sambil mengelap peluh di dahinya.

“Mungkin kau terlalu lelah, tadi kan hari pertamamu sekolah. Istirahatlah dengan tenang,” kata Nyonya Jang mengusap lembut rambut Hye-eun.

Ne eomma,” kata Hye-eun mulai berbaring lagi.

Nyonya Jang mengecup kening putrinya lalu keluar dari kamar Hye-eun. Hye-eun pun kembali tidur.

Keesokan harinya.

Hye-eun bersepeda menuju sekolah. Setelah ia memarkirkan sepedanya, ia langsung menuju lockernya. Di bagian depan lockernya banyak terdapat coretan dari spidol dan piloks, begitu juga bagian dalamnya. Tapi Hye-eun hanya menghela nafas.  “Sudah ku kira ini akan terjadi,” ucapnya pelan.

Ia menutup pintu lockernya sedikit keras sebagai ungkapan kekesalannya. Ia berjalan menuju kelasnya tanpa memikirkan tatapan tajam itu lagi. Itu biasa! Hye-eun sering mengalaminya di masa lampau.

Entah kenapa hari ini kelas begitu sepi, tak seperti biasanya. Hye-eun pun menuju tempat duduknya. Namun… terdapat permen karet di sana. Rok motif kotak-kotak coklat-krem-putihnya, yang dikenakan Hye-eun pun jadi lengket karenanya. Akhirnya ia membersihkan seragamnya itu di kamar mandi.

Park Chanyeol, ternyata sifatmu belum berubah, ucap Hye-eun dalam hati sambil mencuci tangannya. Setelah seragamnya sudah tidak lengket lagi—walaupun masih terdapat sisa-sisa permen karet—dan tangannya di keringkan, ia pun menuju pintu untuk keluar. Namun di pintu sudah ada tiga orang gadis yang menghadangnya.

“Permisi, aku ingin keluar,” kata Hye-eun cuek.

Tapi mereka tetap tidak mau menghindar dari pintu. Lalu mereka mengeluarkan piloks, dan mengocoknya hingga terdengar suara plok plok plok.

Ya! kalian mau apa?” tanya Hye-eun mulai panik dan mundur selangkah demi selangkah.

“Pegang tangannya!” kata seorang gadis yang bernama Ham Eunjung. Maka dua orang temannya memegangi tangan Hye-eun dan menyenderkan Hye-eun di dinding.

“Kalian mau apa?” tanya Hye-eun sekali lagi.

“Diam!” kata Eunjung mengapitkan kedua pipi Hye-eun.

Lalu mereka mulai mencoret-coret rambut Hye-eun dengan piloks yang mereka bawa. Hye-eun pun berteriak, namun dengan cepat Eunjung menyekapnya. Mereka berempat pergi ketika rambut coklat coklat Hye-eun sudah penuh dengan warna-warna yang bercampur sehingga menghasilkan warna yang sangat buruk dan rambut Hye-eun sudah tidak rapi lagi.

Hye-eun bangkit dari lantai kamar mandi. Ia menangis terisak sambil memandangi cermin, kemudian ia berteriak. Ia terus memandangi cermin itu. Ingin sekali ia meninju cermin itu hingga darah bercucuran dari tangannya.

Hye-eun keluar dari kamar mandi ketika ia sudah tenang kembali. Di depan pintu kamar mandi ia bertemu Sooji dan Jinri. Sooji dan Jinri kaget melihat Hye-eun seperti itu.

“Hye-eun, apa yang terjadi?” Tanya Sooji kaget sambil mengangkat wajah Hye-eun yang tertunduk.

“A… aku.. aku..” belum selesai berbicara, Hye-eun sudah menangis di pelukan Sooji. Jinri pun mengusap-usap punggung Hye-eun.

@@@

Sebuah mobil sedan hitam memasuki perkarangan rumah keluarga Park. Ketika sudah sampai di teras rumah, pelayan membukakan pintunya dan dua orang turun di sana. Seorang lelaki yang umurnya sekitar empat puluh tahunan dengan wajah wibawa dan seorang gadis cantik yang memakai kaos berwarna biru bergambar Mario Bross dan celana jeans pendek serta membawa sebuah tas selempang. Mereka adalah Hye-eun dan ayahnya.

Seseorang menyambut kedatangan mereka. Tuan Park, ayahnya Park Chanyeol. Ia tersenyum kepada Hye-eun dan ayahnya. Tuan Park pun menjabat tangan ayah Hye-eun lalu berpelukan. “Lama tak bertemu denganmu Yoon Shin,” kata Tuan Park masih memeluk sahabatnya itu.

Tuan Jang melepaskan pelukannya. “Aku ke sini untuk mengantar anakku,” Tuan Jang menoleh ke Hye-eun yang berada di belakangnya. “Ini Hye-eun,”

Hye-eun menjabat tangan Tuan Park. “Annyeong ahjussi, senang berkenalan denganmu.”

Tuan Park nampak terkejut tapi membalas jabatan Hye-eun dan tersenyum, menandakan kalau ia juga senang bertemu dengan Hye-eun. “Lama tidak bertemu, little Nyonya Jang. Kau semakin cantik sekarang.”

Mereka pun tertawa.

“Ada keperluan apa kau ke sini, Yoon?” ucapnya ke Tuan Jang.

“Hye-eun satu kelas dengan Chanyeol. Ia ingin menanyakan pr kepada Chanyeol, soalnya belum ada yang ia kenal selain anakmu,” jawab Tuan Jang.

“Baiklah Hye-eun, kau masuk saja ke kamar Chanyeol di lantai dua!” Tuan Park menunjuk ke atas.

Setelah mengucapkan terima kasih, Hye-eun berjalan menuju kamar Chanyeol. Di sana terdapat Chanyeol yang sedang bermain Playstation bersama Sehun dan Luhan. Lantas ekspresi wajah Hye-eun langsung berubah. Ia masuk tanpa memberi salam dulu.

Ya! Mwohaneungeoya??” tanya Chanyeol kaget masih dalam posisi tengkurap dan memegang stik PS.

Tanpa menjawab, Hye-eun membuka tasnya dan mengeluarkan kaleng piloks, ia pun mengocoknya. Chanyeol terus bertanya dan Hye-eun terus berjalan tanpa menghiraukan perkataan Chanyeol. Hye-eun meraih rambut Chanyeol kasar—menjenggutnya—dan menyemprotkan piloks di sana.

Chanyeol terus meronta sampai akhirnya Hye-eun berhenti dan melemparkan kaleng piloks di lantai. “Itu untuk balasan kemarin,” kata Hye-eun lalu pergi.

“Wah, gadis macam apa dia?” tanya Luhan tanpa berpaling dari televisi ketika Hye-eun sudah pergi.

“Tapi, sepertinya ia tidak sekejam kau,” tambah Sehun sambil mengambil kaleng piloks yang jatuh tak jauh darinya. “Yang ia gunakan adalah cat rambut spray, tidak sepertimu.”

Chanyeol pun berapi-api atas apa yang dilakukan gadis itu terhadapnya.

@@@

Keesokan harinya.

Hye-eun berjalan dengan cepat di koridor menuju kelasnya sambil membawa tas dan buku-buku di tangannya. Ia terus berjalan sambil memandangi jam tangannya sekali-sekali. Gara-gara Hyesung aku jadi bangun telat, pikir Hye-eun kesal. Hyesung adalah adik perempuannya yang berusia empat belas tahun. Wajahnya tidak mirip Hye-eun, namun lebih mirip appa mereka. Hyesung memang sedikit usil. Ia sengaja mematikan jam weker Hye-eun agar ia masuk telat.

Hye-eun sudah berada di depan pintu kelasnya yang tertutup. Ia pikir pelajaran sudah di mulai, makanya ia sedikit takut untuk membukannya. Ketika Hye-eun sudah memegang handle pintu, tiba-tiba Mrs. Lee, guru music yang mempunyai suara lengkingan melebihi kelelawar dan sanggul khas dari rambutnya yang sudah mulai memutih, yang bisa dilihat dari jarak ratusan meter, memanggilnya.

“Hye-eun, seluruh siswa sedang berkumpul di aula. Cepatlah kau ke sana!” kata Mrs. Lee sedikit keras, untungnya dia tidak menggunakan lengkingan lima oktafnya.

“Baik Mrs. Lee,” jawab Hye-eun lalu pergi.

Mrs. Lee tidak ikut pergi. Ia masuk ke kelas Hye-eun untuk mengambil buku absen di kelas itu. Mrs. Lee membuka pintu, lalu …

BYUUUUUR …. Seluruh tubuh Mrs. Lee dipenuhi lumpur yang juga berisi cacing-cacing tanah. Ember itu ditaruh di atas pintu. Kemudian ia berteriak keras sekali persis kelelawar yang sedang diinjak sayapnya oleh tujuh ekor gajah sirkus yang memakai pakaian badut.

Hye-eun yang belum jauh dari kelasnya pun kaget mendengar jeritan Mrs. Lee. Ia langsung berlari menuju kelasnya. Di sana ia menemukan Mrs. Lee yang sudah dipenuhi lumpur dan terkapar di lantai.

Semua orang yang berada di aula berhambur keluar menuju asal suara Mrs. Lee. Semua begitu panik, kerena mendengar teriakan atau lebih tepatnya lengkingan Mrs. Lee. Yang paling terlihat panik dari yang lainnya adalah Chanyeol dkk.

“Jangan-jangan Mrs.Lee yang kena jebakan kita,” ucap Sehun pelan kepada kedua temannya, diantara teriakan panik siswa lainnya.

“Bagaimana bisa?” kata Chanyeol bingung. Kedua sahabatnya hanya mengangkat bahu. Lalu mereka mengikuti yang lain keluar dari aula.

@@@

             Melihat hal itu Hye-eun tersenyum kecil. Kali ini kau salah sasaran Chanyeol. Katanya dalam hati. Lalu ia berjongkok dan membantu Mrs. Lee bangun, ia pun membersihkan sedikit cacing-cacing yang ada di kepala Mrs. Lee. Dalam selangan waktu tersebut, Hye-eun mengatakan kalau ini perbuatan Chanyeol dengan kata-kata berlebihan—lebih tepatnya mempengaruhi Mrs. Lee.

Semua orang datang ke sana. Chanyeol menyeruak sekumpulan orang itu untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Tapi ia malah diteriaki oleh Mrs. Lee, yang sudah tahu kalau Chanyeol yang melakukannya.

“Park Chanyeol kau masuk ke ruang hukuman sekarang!!!” teriak Mrs. Lee hingga membuat seluruh orang yang ada di sana tutup telinga.

Setelah pembicaraan antara Mrs. Lee, Chanyeol, Sehun dan Luhan selesai. Mereka bertiga keluar dari ruang hukuman.

Hye-eun sudah menunggu di depan pintu dengan bersandar di dinding sebelah pintu masuk ruang hukuman. “Sayang sekali, kali ini sasaranmu meleset,” kata Hye-eun sambil tersenyum licik. “Lain kali kalau mau buat jebakan, harus perkirakan dulu hal buruk apa yang akan terjadi,” ia mengetuk-ngetuk pelipisnya.

Neo …” ucap Chanyeol kesal sambil menunjuk ke arah Hye-eun. Namun, belum selesai ia berbicara lagi, Hye-eun sudah pergi.

Di halaman parkir sekolah. Tepatnya tempat parkir sepeda yang letaknya di bagian timur parkir mobil. Jadi, pasti setiap mobil akan melewati parkiran itu. Hye-eun berjalan menuju sepedanya yang terparkir. Ia terkejut melihat ban depan sepedanya hilang. Lalu sebuah mobil melintas di belakangnya.

“Kau mencari ini?” tanya Chanyeol dari dalam mobil sambil memegang ban depan sepeda Hye-eun.

Hye-eun terdiam kesal memandangi Chanyeol.

“Ini ambil saja, aku tak membutuhkannya,” lanjut Chanyeol lalu melemparkan ban sepeda itu lalu pergi.

“PARK CHANYEOL …..” teriak Hye-eun sambil menghentakan kakinya.

Chanyeol tetap melaju sambil tertawa penuh kemenangan.

@@@

            Chanyeol masuk rumah dengan wajah cemberut plus kesal. Ia melemparkan blazer coklatnya ke sofa, lalu duduk dia menghempaskan tubuhnya di sebelah tempat ia melempar blazernya.

Appa-nya yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca Koran langsung menanyainya. “Apa yang terjadi denganmu?” tanya Tuan Park masih membaca saat Chanyeol duduk di sofa.

Chanyeol tidak menjawab, hanya menghela nafas berat.

Beberapa detik kemudian, ia ingat sesuatu. “Appa, mengapa kemarin Appa membiarkan seorang gadis yang tak dikenal masuk ke sini?”

“Maksudmu… Hye-eun?” tanya Tuan Park. Chanyeol mengangguk.

Tuan Park melipat korannya dan menyeruput kopi di hadapannya. “Ayah Hye-eun, yaitu Tuan Jang adalah sahabat Appa dari SMP. Tentu saja seluruh keluarganya boleh masuk ke sini,” jawab Tuan Park sambil tersenyum, hingga kumisnya terangkat naik.

Apa!? , Chanyeol kaget mendengar penjelasan itu dan langsung menegakkan posisi duduknya.

Tuan Park bangun, siap-siap untuk pergi. Kemudian ia menoleh ke Chanyeol, dan menggerak-gerakkan telunjuknya, mencoba mengingat sesuatu. “Oh iya. Kalau tidak salah……. Hye-eun juga temanmu waktu SD kan? Apa kau tak mengingatnya?” lanjut Tuan Park.

“Tunggu. Maksud Appa, si Hye-eun pernah satu sekolah denganku?” tanya Chanyeol menegakkan tubuhnya.

Ayahnya mengangguk, kemudian kembali berjalan.

Hye-eun? Jang Hye-eun?

Ah! Chanyeol langsung teringat pada seorang anak bernama Hyeon yang gendut dan ia sering mengatainya anak babi bersama teman-temannya. Tampilan anak itu sangat jelek. Perutnya buncit, selalu memakai rok panjang, dan bando pita besar di kepalanya. Apa mungkin itu dia? Tanya Chanyeol dalam hati. Tapi mana mungkin si Babi itu menjadi seekor angsa cantik. Tanyanya lagi.

Lalu, Do Kyungsoo pun masuk ke rumah keluarga Park. Kyungsoo adalah manajer Chanyeol yang baik dan selalu menjadwalkan Chanyeol secara tepat. Well, sebenarnya Chanyeol adalah model yang cukup terkenal di Seoul. Ia telah mengisi beberapa majalah ternama dengan wajah dan gayanya. Namun Chanyeol sering seenaknya sendiri mengatur waktunya. Hingga mereka berdua tak jarang bertengkar.

Kyungsoo membawa sepucuk surat di tangannya. “Yeollie, ada surat untukmu,” katanya sambil menyerahkan surat itu.

Chanyeol mengambil surat itu dan membacanya. Ternyata isinya adalah undangan untuk reuni SD di sebuah kafe.

“Apa isi surat itu?” tanya Kyungsoo yang sudah duduk.

“Sebuah undangan,” jawab Chanyeol datar melempar undangan itu ke meja. Lalu ia tersadar akan keingintahuannya akan Hyeon. Walaupun tidak tahu pasti Hyeon akan datang atau tidak.

“Besok jadwalku kosong kan?” tanya Chanyeol, dan tanpa perlu menunggu balasan Kyungsoo ia menjawab. “Aku akan menghadiri ini,” ia mengacungkan undangan itu dari meja dan membawanya naik ke kamarnya.

“Tapi Yeollie ….” ucap Kyungsoo sambil mengulurkan tangannya ke Chanyeol, tapi ia menurunkannya lagi. “Ah sudahlah, percuma aku bicara dengannya,” lanjutnya pelan.

@@@

Chanyeol memarkirkan mobil silvernya di halaman parkir kafe ‘Bronze’. Setelah memasang alarm mobil, ia masuk ke dalam kafe. Malam ini Chanyeol memakai jaket warna hitam tapi bukan berbahan kulit dan kaos berwarna putih, serta celana jeans panjang dan sepatu kets warna putih.

Chanyeol masuk ke dalam bernuansa anak muda sekali. Mungkin kafe ini sudah di sewa penyelenggara pesta ini. Tempat ini lebih persis sebuah restoran bernuansa futuristic.

Sesampainya di dalam ia langsung mencari sesosok gadis gendut—Hyeon. Namun, selagi mencari ia malah bertemu dengan sahabat lamanya yaitu Kris Wu. Lalu Kris memanggil teman-temannya dan mereka langsung mengerubunginya.

“Ini dia Shining star kita!!” teriak Kris sambil merentangkan tangannya.

Suasana jadi riuh, banyak yang meminta foto dengan Chanyeol dan tanda tangannya. Chanyeol hanya terseyum mencoba enjoy dengan suasana di sana, walaupun ia ingin segera menjauh. Tapi ia tidak mau dibilang sebagai artis sombong—walaupun ia yakin ia bukan artis macam Super Junior—oleh teman-teman lamanya. Lalu Kris mengajaknya duduk di sebuah sofa panjang yang sudah banyak teman-teman Chanyeol lainnya.

“Kris, apa si Hyeon gendut sudah datang?” tanya Chanyeol sesaat setelah duduk.

“Tentu saja! Kau pasti kaget melihatnya,” kata Kris sambil tertawa.

Chanyeol ikut tertawa. “Apa dia bertambah gendut?” ucapnya sambil tertawa pelan.

“Kau bisa melihatnya sendiri!” jawab Kris sambil tersenyum dan menunjuk sofa yang membelakangi mereka dengan gerakkan kepala. Chanyeol menoleh ke arah yang ditunjuk Kris.

Chanyeol pun menghampiri sofa yang terdapat seorang gadis berambut coklat yang dikepang ke samping bawah. Ia membawa tubuhnya ke hadapan gadis itu. Perlahan ia melihat sosok gadis itu.

Annyeong,” sapa Hye-eun yang ternyata duduk di sofa itu sambil tersenyum.

Ne..neo,” kata Chanyeol terbata-bata karena terkejut sambil menunjuk Hye-eun.

Waeyo? apa ada yang salah?” tanya Hye-eun sambil mengambil minuman yang ada di meja.

“Me.. mengapa kau bisa ada di sini?” Chanyeol malah bertanya balik.

Naega?” jawab Hye-eun lalu mendengus. “Apakah kau sudah melupakan anak Babi gendut ini?”

“Kau si Babi gendut?” kata Chanyeol masih tidak percaya.

Ne, aku adalah Park Hye-eun. Anak babi gendut yang selalu kau ejek dan hina dulu.” Kata Hye-eun cepat.  “Wae? apa kau terkejut melihatku menjadi seekor angsa cantik?” perkataan Hye-eun tepat dengan pemikiran Chanyeol.

Chanyeol terdiam tidak percaya. Lalu datanglah Seo Joo Hyun, sahabat Hye-eun dulu. Ia selalu setia menemani Hye-eun, mendengarkan ceritanya dan terus membantunya ketika ia sedang bersedih. Walaupun sudah tidak bertemu sangat lama, mereka terus berkomunikasi. Makanya Seo Joo Hyun langsung tahu kalau Hye-eun itu adalah Hye-eun, sahabatnya.

“Hyeooooon….” teriak Seo Joo Hyun.

Hye-eun berdiri lalu memeluk Seo Joo Hyun. “Ya! itu panggilanku saat dulu. Sekarang panggil aku Hye-eun.”

Mereka berdua tertawa.

Setelah melepaskan pelukannya,  mereka mulai bercerita tentang pengalamannya selama ini. Ya, Hye-eun melewati masa SD sangat singkat. Ketika umurnya sembilan tahun ia pindah ke Paris.

Melihat kejadian itu, Chanyeol sedikit lebih percaya bahwa itu adalah Hyeon yang dulu sering ia hina. Karena ia tahu, hanya Seo Joo Hyun yang paling dekat dengan Hye-eun. Chanyeol berfikir, mungkin saja Seo Joo Hyun dan Hye-eun selalu bertukar cerita saat mereka berpisah, makanya Seo Joo Hyun langsung mengenali Hye-eun.

Chanyeol pun kembali ke tempat Kris.

“Apa kau sudah melihatnya?” tanya Kris sambil tersenyum kepada Chanyeol yang berdiri di sampingnya.

Chanyeol masih melihat ke arah Hye-eun dan Seo Joo Hyun yang masih berbincang-bincang. “Ya, tapi aku belum yakin,” ia teringat sesuatu. “Oh iya, apa si primadona Im Yoon Ah datang?”

“Apa!? primadona?” jawab Kris kaget sambil tertawa, lalu menunjuk ke arah gadis gemuk yang memakai kacamata tebal. Penampilannya persis Hye-eun waktu kecil. “Kau lihat itu, dia yang kau sebut primadona.”

Chanyeol ternganga kaget. “Apa kau yakin? dia Im Yoon Ah ”

Kris mengangguk yakin.

Mengapa dunia ini jadi terbalik, jangan-jangan nanti aku akan bernasib sama seperti Yoon Ah?.Kata Chanyeol di hatinya.

Hye-eun memandangi jam tangannya. “Seo Hyun, aku harus pulang sekarang!” katanya ke Seo Joo Hyun.

“Mengapa kau pulang duluan? pestanya belum selesai kan,” jawab Seo Joo Hyun sedih sambil terus memegangi tangan Hye-eun.

“Aku punya acara keluarga malam ini. Kau bisa meneleponku nanti!” kata Hye-eun tersenyum sambil bangkit dari duduknya. “Annyeong.”

Annyeong.” balas Seo Joo Hyun sedikit lesu karena kesal dengan Hye-eun yang sudah mau pergi sebelum pesta benar-benar berakhir.

Hye-eun keluar dari kafe, menuju lapangan parkir lalu pergi menggunakan mobil berwarna merah.

Chanyeol mencari-cari sosok Hye-eun lagi. Tapi di sofa sana sudah tidak ada Hye-eun maupun Seo Joo Hyun. Saat ia ingin keluar mencarinya, ia berhadapan dengan Seo Joo Hyun.

“Kau tahu di mana Hyeon?” tanya Chanyeol.

“Dia sudah pulang. Katanya dia ada urusan keluarga malam ini,” kata Seo Joo Hyun datar.

“Oh.. “ jawab Chanyeol pelan, lalu kembali ke teman-temannya.

@@@

Keesokan harinya.

Chanyeol mencoba mengingat rumah Hye-eun. Ia takut kalau Hye-eun semalam bukanlah Hyeon yang dulu ia kenal. Ya, waktu kecil ia pernah main ke rumahnya. Mudah-mudahan saja ia belum pindah rumah. Akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Benar saja ternyata keluarga Jang belum pindah.

Chanyeol memencet bel yang ada di depan pintu masuk. Seorang pelayan membukakan pintu untuknya dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu sementara ia mengambil minuman dan memanggil tuan rumahnya.

Hyesung, adik Hye-eun berjalan melewati ruang tamu sambil memainkan ponsel-nya. Sebentar ia menoleh ke arah Chanyeol yang sedang duduk lalu jalan lagi. Setelah beberapa langkah, ia baru sadar kalau itu Park Chanyeol. Ia pun langsung berlari ke arah Chanyeol lalu berdiri di hadapannya sambil memperhatikan Chanyeol secara teliti.

Chanyeol yang merasa terganggu karena di tatap seperti itu langsung bertanya. “Ada apa? apa yang salah denganku?”

“Ka.. kau Park Chanyeol?” tanya Hyesung gemetaran.

Ne,” jawab Chanyeol santai, sedikit sombong.

“Kau benar Park Chanyeol, model utama majalah Blink itu?” kata Hyesung menunjuk ke Chanyeol. “EOMMAAAAA!!!!” teriak Hyesung kemudian sebelum Chanyeol menjawab sambil berlari ke Nyonya Jang.

Dua menit kemudian Hyesung masuk bersama Nyonya Jang. Nyonya Jang yang melihat Chanyeol ada di rumahnya berdiri mematung di depan Chanyeol. Ya, Hyesung dan Nyonya Jang adalah penggemar berat Park Chanyeol. Mereka mengoleksi semua majalah yang ada Chanyeol dan selalu mengikuti semua iklan Chanyeol di televisi. Bahkan, tak jarang mereka membeli barang-barang yang Chanyeol promosikan tanpa melihat sisi harga dan kegunaan barang itu di rumah ini.

Chanyeol yang mengetahui bahwa Nyonya Jang adalah eomma Hye-eun langsung berdiri dan menghampirinya. “Annyeong haseyo, Jang-ssi. Jeoneun Park Chanyeol, Hyeon-i cingu.”

Nyonya Jang pun menggoyang-goyangkan kepalanya, mencoba untuk melupakan yang ia khayalkan dan mencoba menahan diri agar tidak terlihat norak.

“Hyeon? oh tidak-tidak, sekarang ia lebih senang di panggil Hye-eun,” Nyonya Jang langsung mengalihkan pembicaraan. “Jadi, kau temannya Hye-eun? mengapa ia tidak pernah bercerita kalau ia punya teman seorang Park Chanyeol?” jawab Nyonya Jang lalu menyuruh Chanyeol duduk kembali. Hyesung pun ikut duduk di samping Nyonya Jang.

Hyesung menyiku eomma-nya.

“Oh iya kenalkan ini adik Hye-eun, Hyesung,” kata Nyonya Jang.

Annyeong.” sapa Hyesung manis sambil membungkukkan kepala.

“Ku kira Hyeon, ehm.. maksudku Hye-eun tidak mempunyai saudari,” kata Chanyeol.

Nyonya Jang dan Hyesung hanya tertawa. Seorang pelayan membawa nampan berisi minuman dan beberapa camilan, kemudian meletakannya di meja. Nyonya Jang pun menawarkan Chanyeol untuk minum.

“Oh iya, Nyonya Jang, saya mau tanya,” Chanyeol meletakkan kembali minumannya. “Mengapa Hye-eun bisa menjadi cantik seperti itu?” tanya Chanyeol dengan wajah serius.

“Apanya yang cantik. Lebih cantik diriku,” kata Hyesung sedikit iri. Nyonya Jang mendesis kepadanya, memperingatkan.

“Hoho. Saya juga kurang tahu bagaimana itu bisa terjadi. Soalnya sewaktu ia sekolah di Paris yang menjaga adalah appa-nya. Lagipula ia sekolah di sekolah yang berasrama jadi tidak bisa setiap hari melihatnya. Setiap setahun sekali ia pasti pulang ke sini tepatnya pada saat liburan natal.

“Tahun pertama dan kedua ia tidak berubah namun tahun ketiga dan seterusnya ia berubah menjadi lebih langsing dan cantik. Mungkin itu akibat pergaulannya di sana. Kau pasti tahu kan, Paris juga sebagai pusat fashion dunia,” kata Nyonya Jang panjang lebar. Setelah itu ia berjalan ke arah buffet dan mengambil sebuah album foto.

“Ini foto-foto waktu Hye-eun kecil sampai sekarang,” kata Nyonya Jang lagi sambil membuka album tersebut.

Chanyeol melihat foto-foto itu. “Apakah Hye-eun melakukan sedot lemak atau semacamnya?” tanya Chanyeol masih melihat foto-foto.

“Itu tidak mungkin,” sanggah Nyonya Jang. “Kami tahu, Hye-eun kami sudah cantik dari dulu. Jadi untuk apa perawatan macam itu.”

“Oh iya, mana Hye-eun eonni?” tanya Hyesung yang ternyata tidak tahu kalau Hye-eun tidak ada di rumah.

“Kakakmu sedang ke toko buku,” jawab Nyonya Jang lalu melihat ke jam dinding. “Sebentar lagi pulang. Kau mau menunggunya, Chanyeol?”

Chanyeol pun mengangguk sambil tersenyum.

Tak lama kemudian Hye-eun datang sambil menuntun sepedanya menuju garasi. Handle kiri sepedanya tergantung sebuah kantong plastik berisi buku-buku. Ketika ia sedang membetulkan tasnya dan siap-siap masuk ke rumah, ia tampak terkejut dan kebingungan melihat sebuah mobil yang ia kenal di halaman rumahnya.

Kenapa orang itu ke sini? ucapnya dalam hati. Hye-eun masuk ke rumah dengan tidak niat. Ia pun masuk tanpa memerhatikan eomma dan adiknya sedang berbincang dengan Chanyeol.

Eomma-nya yang sadar akan kehadirannya langsung memanggil, terpaksa ia memberhentikan langkahnya. “Hye-eun, ini ada tamu spesial untukmu!”

“Aku tidak kenal orang itu, suruh pulang saja!” jawab Hye-eun dengan ekspesi dan nada yang datar.

“Kalau kau tidak mau menemaninya, biar aku saja,” kata Hyesung. Hye-eun yang mendengar perkataan itu memutar matanya dan langsung naik ke kamarnya.

Akhirnya Hyesung dan Nyonya Jang berbincang lagi dengan Chanyeol. Chanyeol mencoba untuk tetap enjoy dengan suasana di sana. Hye-eun yang memperhatikan mereka dari dapur yang menembus ke ruang tamu. Dasar mulut lollipop , kata Hye-eun dalam hati.

Karena tidak tahan lagi, Hye-eun pun masuk ke ruang tamu sambil membawa jus jeruknya. Nyonya Jang lalu menarik Hyesung untuk pergi dari sana.

“Apa tujuanmu datang ke sini?” tanya Hye-eun sedikit kesal, masih berdiri di depan Chanyeol, tapi jaraknya cukup jauh.

Chanyeol ikut berdiri. “Yaaa hanya mengunjungi teman lama,” jawab Chanyeol bohong.

Cingu??” Hye-eun mendengus. “Bukankah aku ini bukan temanmu?” ucap Hye-eun sambil tersenyum pahit. Ia meneguk jus jeruknya. “Jadi kau masih belum percaya kalau aku ini si anak babi? kau tahu orang mempunyai kesempatan untuk bermetamorfosa!?” lanjutnya.

“Oke oke, maafkan aku sudah menghinamu dulu,” Chanyeol berdiri dari duduknya.  “Ya sudahlah aku mau pulang saja.”

“Itu lebih baik,” jawab Hye-eun sambil melipat tangannya. Chanyeol pun pergi dari rumah itu.

Nyonya Jang datang ke ruang tamu. “Lho mana Chanyeol?” tanyanya.

“Dia sudah pergi,” kata Hye-eun datar lalu pergi meninggalkan eomma-nya.

@@@

            Pulang sekolah.

Hye-eun berjalan menuju sepedanya. Tapi, ternyata sepedanya hilang entah kemana. Lalu mobil Chanyeol datang dan berhenti tepat di samping Hye-eun yang sedang mencari sepedanya. Chanyeol menurunkan kaca jendela mobilnya, Hye-eun pun berpaling ke Chanyeol yang sedang melepaskan kacamata hitamnya.

“Di mana sepedaku?” tanya Hye-eun setengah berteriak.

“Mengapa menanyakannya padaku?” Chanyeol kembali bertanya ketus.

“Sudahlah kau jangan pura-pura.” kata Hye-eun mendekat satu langkah ke Chanyeol. “Cepat kembalikan aku harus pulang!” ia menadahkan tangan.

“Kau butuh tumpangan untuk pulang? naik saja ke mobilku?” tawar Chanyeol menunjuk ke bangku sebelahnya.

Mwo!? kenapa aku harus pulang bersamamu?” kata Hye-eun menaikan sebelah alisnya.

Ya! kau ini sungguh aneh. Setiap gadis di sekolah ini malahan menyuruhku sampai berlutut agar aku bisa mengantarkan mereka pulang. Kau sungguh beruntung bisa diantar pulang oleh seorang Park Chanyeol,” ucap Chanyeol dengan wajah sombongnya.

Hye-eun terdiam sesaat. “Geurae. Tapi kau harus mengembalikan sepedaku!”

Chanyeol mengangguk, lalu keluar dan berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Hye-eun.

“Jadi….” kata Chanyeol menatap ke Hye-eun sambil menyetir, lalu tatapannya beralih lagi ke depan. “Selama kau menghilang, kau berada di Paris?”.

Ne,” jawab Hye-eun datar tanpa menatap ke Chanyeol. “Apa kau merindukanku?”.

Chanyeol mendengus pelan. “Buat apa aku merindukan anak babi,” katanya mengejek, lalu melihat ke Hye-eun yang tetap memasang wajah datar. “Tapi aku salut dengan usahamu untuk diet,” lanjutnya mengalihkan perkataannya tadi.

Hye-eun terdiam. “Aku juga tidak menyangka bisa seperti ini,” ucapnya pelan. Chanyeol memandang Hye-eun sesaat.

Ponsel Chanyeol berdering, ternyata dari Kyungsoo. Chanyeol mendengar rentetan kalimat dari Kyungsoo dalam diam, dan selanjutnya ia mengiyakan kalimat itu.

“Kita harus ke studio foto!” kata Chanyeol setelah memutuskan panggilannya.

“Tapi aku mau pulang. Kenapa kau tidak mengantarkanku pulang dulu, lalu kau bisa pergi kemanapun tanpa aku,” kata Hye-eun kesal.

“Ahh itu menghabiskan banyak waktu,” kata Chanyeol. “Pegangan yang erat!” Chanyeol menginjak gas mobilnya.

@@@

            Di studio foto.

Hari ini Chanyeol ada pemotretan untuk majalah Blink edisi musim panas. Semua orang di sana sibuk dengan bagian masing-masing. Ada yang menyiapkan kostum, lighting, dan sebagainya. Suasana riuh rendah, terdengar sesekali teriakan sang fotografer karena kesalahan yang dibuat para kru.

Chanyeol masuk diikuti Hye-eun.

“Kau tunggu di sana saja!” kata Chanyeol menunjuk ke kursi panjang di dekat kotak properti. Tanpa menjawab, Hye-eun  berjalan ke sana dengan menekuk wajahnya.

Chanyeol berjalan meninggalkan Hye-eun. Ia langsung menyalami sang fotografer dan berbincang sedikit sambil sesekali tertawa. Dua menit kemudian ia sudah masuk ke ruang ganti.

Hye-eun memperhatikan setiap gaya, kostum serta ekspresi Chanyeol. Sesekali ia memainkan ponselnya, seperti mengirim pesan atau e-mail kepada seseorang.

Tiba-tiba seorang assistant fotografer memberikan kabar, kalau pasangan berfoto Chanyeol yaitu Kwon Yu Ri sakit mendadak dan harus dibawa ke rumah sakit. Tuan Yoon (fotografer) itu marah-marah sebab ia hanya punya waktu untuk pemotretan untuk Chanyeol hanya hari ini. Matanya berapi-api karena kesal.  Harusnya pemotretan ini sudah dilaksanakan seminggu yang lalu. Tapi, Chanyeol yang egois selalu membatalkannya.

Tuan Yoon melihat Hye-eun yang sedang asik memainkan ponsel dengan menopangkan sebelah kakinya di kaki satunya. Ia sedikit menimang dari jauh penampilan dan postur tubuh Hye-eun. Ah! Sempurna! Tuan Yoon itu menghampiri Hye-eun.

Annyeong haseyo,” sapa Tuan Yoon. Hye-eun menoleh. “Siapa namamu?”

Hye-eun melihat sekeliling tanpa merubah posisinya. “Anda bertanya padaku?” matanya menyelidik.

“Tentu saja. Kalau bukan kau siapa lagi.” Kata Tuan Yoon sambil tersenyum.

“Aku Hye-eun. Uhm…. Jang Hye-eun,” kata Hye-eun tersenyum sambil berdiri lalu menjabat tangan fotografer. “Aku temannya Park Chanyeol,”

Chanyeol yang melihat kalau Hye-eun sedang berbicara dengan Tuan Yoon langsung berjalan ke arah mereka. “Jeoseonghamnida, Tuan Yoon,” kata Chanyeol.

“Chanyeol..!!” seru Tuan Yoon. “Kau tidak pernah bilang punya teman secantik Hye-eun,”

Chanyeol terperangah beberapa detik, lalu akhirnya ia hanya tertawa ringan.

“Oh iya nona Hye-eun kau bisa ke ruang ganti sekarang!” kata Tuan Yoon ramah.

Setelah mengucapkan terima kasih, Hye-eun berjalan menuju ruang ganti.

Ya! Ya! ada apa ini?” tanya Chanyeol bingung.

“Dia akan jadi pengganti Yu Ri. Lebih baik kau juga ganti kostum!” suruh Tuan Yoon.

Chanyeol berpikir bagaimana bisa ia bisa berpasangan dengan Hye-eun yang menurutnya tidak punya ekspresi. Maksudnya, selama ini Chanyeol hanya melihat Hye-eun memasang ekspresi dingin, dan gaya berpakaian biasa-biasa saja, tidak tomboy maupun girlie. Bahkan, tak jarang Hye-eun menguncir rambutnya, tidak seperti siswi Seoul High School yang lebih memilih mengibaskan rambut cantiknya kepada Chanyeol ketika ia melewati mereka.

Dua puluh menit kemudian.

Hye-eun keluar dari ruang make-up menuju tempat pemotretan. Ia berpakaian ala remaja yang ingin berlibur. Ia memakai dress mini tanpa lengan yang manis berwarna biru, dengan detail fagotting dan kantong, berbahan polyviscose dan wedges cantik dengan warna coklat yang anggun dengan tali silang pada uppernya, berhak dua belas senti. Juga memakai topi pantai bertepi lebar warna putih menghiasi rambut ikalnya yang dibiarkan terurai.

Chanyeol kaget melihat perubahan atas diri Hye-eun.

“Apa lihat-lihat!!??” ucap Hye-eun sinis melihat Chanyeol memperhatikannya dari atas sampai bawah.

An-aniya,” jawab Chanyeol lalu pergi.

Lee Sun Kyu, sang make-up artist, memberikan tas yang berdisign simple yang dilengkapi aplikasi bordir bunga, berwarna ungu muda-putih. Awalnya Hye-eun berfoto sendiri dulu dengan menggunakan kostum lebih dari tiga. Hingga ia harus keluar masuk ruang kostum. Ekspresi yang dikeluarkan Hye-eun sangat bagus. Ia bisa menampilkan ekspresi sesuai dengan intruksi Tuan Yoon. Chanyeol tidak menyangka bahwa Hye-eun yang dingin terhadapnya, bisa berekspresi sebebas itu.

Kini tiba mereka berfoto berdua layaknya pasangan remaja yang sedang berlibur bersama. Hye-eun memakai kaos basic gaya v-neck berwarna biru yang segar, cardigan tanpa lengan dan kancing (hanya tali pengikat di depan) dalam warna pink muda dengan tekstur pointel di seluruh bagian badan, serta celana pendek berbahan jeans berwarna putih. Ia juga memakai sandal wedges dengan detail ornament cantik berwarna coklat. Jam tangan bertali putih, menghiasi tangan kirinya. Dan rambutnya dibiarkan sedikit berantakan.

Sedangkan Chanyeol memakai kaos pria cotton poly warna hitam dengan print bergambar monster lucu, celana cargo Bermuda pria cotton berwarna camo, rotary print dengan efek belel, dan sepatu sneakers warna hijau army. Dan jam G-shock hitam dengan sedikit biru.

Sampai akhirnya, sesi pemotretan selesai ketika jam menunjukan pukul setengah tujuh malam. Tuan Yoon mengucapkan banyak terima kasih kepada Hye-eun karena sudah membantunya.

Mereka berdua masuk ke mobil Chanyeol. Chanyeol berniat untuk mengantar Hye-eun sampai rumahnya.

“Aku tak menyangka kau bisa menampikan ekspresi seperti itu. Ku pikir kau sudah tidak mempunyai ekspresi lagi,” ucap Chanyeol sambil terseyum saat mereka sudah ada di dalam mobil.

“Memangnya aku manusia macam apa yang tidak mempunyai ekspresi?” jawab Hye-eun jengkel namun dingin.

Chanyeol tertawa mendengar perkataan Hye-eun.

Hye-eun membuka tas-nya dan mengeluarkan sebuah majalah dari sana dan melemparkan ke pangkuan Chanyeol. “Ini!! lihat saja sendiri.”

Chanyeol yang masih menyetir, membuka halaman majalah itu satu per satu dengan satu tangannya, sesekali ia memperhatikan jalan. Di majalah itu terpampang foto Hye-eun dengan memakai dress warna krem dengan aksen renda di bagian depan.  Ia  bergaya dengan anggun.

“Ini kau?” tanya Chanyeol sambil menunjukan halaman tersebut ke Hye-eun.

“Aku sudah jadi model di Paris sejak umurku lima belas tahun, dan pernah dikontrak oleh sebuah merk ternama di sana untuk menjadi modelnya selama dua tahun. Ya akibat pergaulan di sana aku mulai memahami fashion. Tadinya kontrakku akan diperpanjang. Tapi … aku tidak mau,” kata Hye-eun panjang.

“Hidupmu di Paris sungguh menyenangkan, mengapa kau kembali ke sini?” kata Chanyeol, sambil menyerahkan majalah itu ke Hye-eun.

“Mmm aku punya misi di sini,” jawab Hye-eun, tersenyum licik. “Yang berkaitan denganmu.”

Chanyeol mengerutkan keningnya. “Dengan … diriku?”.

Hye-eun mengangguk.

“Aku ingin melakukan balas dendam denganmu,” lanjut Hye-eun. Chanyeol yang tidak mengerti dengan ucapan Hye-eun menganggap itu hanya lelucon yang dibuat Hye-eun.

Hye-eun mengambil ponsel nya yang bergetar, ada e-mail masuk. “Chanyeol, tolong turunkan aku di kafe Raspberry,” ucapnya setelah membaca e-mail itu.

“Ini sudah malam. Apa eomma-mu tidak mencarimu?” jawab Chanyeol.

“Aku sudah meminta izin padanya.”

Chanyeol menurunkan Hye-eun tepat di depan kafe. Setelah mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ia masuk ke kafe dan langsung ke tempat seseorang yang ia kenal.

@@@

            “Annyeong,” sapa Hye-eun kepada seorang laki-laki berambut coklat gelap, yang ada di hadapannya. “Kau sudah menunggu lama?” ia duduk di depan laki-laki itu

Laki-laki itu melihat jam tangannya. “Mmm kira-kira lima menit yang lalu,” jawab Byun Baekhyun, sahabat Hye-eun saat di Paris.

Sebenarnya Baekhyun juga berasal dari Korea juga, tepatnya Busan. Ia kenal Hye-eun di perpustakaan sekolah. Mereka berebut sebuah novel sampai mereka berteriak-teriak mencaci sesama dan hampir saling melempar tinju mereka. Untung saja itu tidak terjadi, karena pustakawan langsung mengusir mereka keluar. Tapi, sekarang mereka malah bersahabat baik. Baekhyun bisa dibilang senior Hye-eun, karena memang benar. Tahun ini, saat Hye-eun kembali bersekolah di Korea, ia lulus dan akan kuliah di Korea juga. Makanya ia meluangkan waktu sejenak untuk membantu sahabatnya sebelum ia harus kuliah.

Hye-eun tersenyum sambil duduk di kursi hadapan Baekhyun. “Kapan seonbae datang? Kenapa tidak meneleponku? Aku kan bisa menjemputmu di bandara.”

“Aku datang dua hari yang lalu. Kau tahu, Sae Bin Ahjumma memperkenalkan diriku kepada teman-temannya yang…… Hiiyy.” Baekhyun berkidik geli. Hye-eun pun tertawa.

“Dan soal aku tidak memberitahumu, karena ahjumma sudah menjemputku dengan Range Rover-nya. Mungkin kalau aku memintamu menjemputku, pasti aku cuma dijemput dengan sepeda lipatmu, kan?” lanjut Baekhyun sambil tertawa.

Seonbae…. kenapa kau selalu mengejekku,” kata Hye-eun cemberut.

Seorang pelayan menawarkan menu kepada mereka. Setelah memesan, lima menit kemudian makanan dan minuman sudah tersaji di meja mereka.

Baekhyun meneguk capucinno-nya. “Apa misimu sudah berjalan?”

Ne. Saat ini aku masih bersikap dingin padanya. Mungkin seminggu atau dua minggu kemudian aku akan memainkan puncak permainanku,” jawab Hye-eun sambil memotong daging steak.

“Apa ini tidak terlalu kejam? membuat seseorang menyukaimu bahkan mencintaimu lalu kau meninggalkannya tanpa alasan yang jelas,” kata Baekhyun sambil memakan kentang goreng di hadapannya.

“Kejam?” Hye-eun menghela nafas dan meletakan pisaunya. “Seonbae fikir menyuruh teman satu sekolahmu untuk melempari aku dengan telur mentah, atau menyuruh mereka untuk tidak menjadi temanku dengan ejekan yang sangat buruk itu tidak kejam? kalau seonbae berfikir begitu, maka seonbae tidak ada bedanya dengan dia,” kata Hye-eun mulai memanas, tapi Baekhyun malah asik dengan capucinno-nya.

“Tapi apa kau sudah yakin akan melakukannnya?”

Hye-eun menyedot milkshake stroberi-nya. “Semua pengalamanku dari masa lalu sudah membulatkan tekadku untuk balas dendam,”

Geurae. Lalu apa yang harus kulakukan untuk membantumu?” kata Baekhyun kembali memakan kentang gorengnya.

“Sebentar lagi ulang tahun sekolah, dan akan diadakan pesta besar di aula sekolah. Jadi maukah seonbae ……” kata Hye-eun sambil tersenyum ke Baekhyun.

Ne, arasseo arasseo,” jawab Baekhyun dengan nada sedikit jengkel.

 

-tbc-

5 thoughts on “[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s