[FF Freelance] A Pair of Butterflies

MyugLi - A Pair of Butterflies copy

A Pair of Butterflies

Author: SeolRi Park – Riri

Main Cast: Kim Myungsoo, Choi Jinri – Sulli // Cameo: Wu Yifan – Kris // Genre: Romance, little Angst // Length: Oneshot // Rating: PG-15

Author’s note: Typo pasti ada. Jeongmal mianhe kalau entar alurnya gaje –alurnya maju mundur yah- , diksinya berantakan dll.

Nggak suka castnya, mending close this page!! Okey…

Happy Reading ^~^

oOo

Rintik hujan menemani vila yang kami sewa untuk tiga hari. Esok, tempat ini akan kutinggalkan.

Sulli… mungkin tidak.

Hening.

Ruang dengarku hanya dipenuhi bunyi tetes-tetes hujan yang beradu dengan genting. Televisi kami biarkan menyala tanpa suara.

Entah aku atau Sulli yang mematikan suaranya. Aku lupa dan tak ada di antara kami yang peduli.

Ku lirik ia yang tengah duduk membelakangiku di sofa dekat jendela. Ujung jarinya asyik dengan lapisan embun di kaca jendela. Seperti aku yang begitu asyik memerhatikan gerak tubuhnya.

Beberapa hari ini aku memang berusaha merekam setiap detil dirinya dalam ingatanku.  Entah itu raut wajahnya saat ia marah, sedih, tertawa, tersenyum, atau saat ia memasang wajah datar –seperti saat ini. Wajah yang sama seperti berhari-hari yang lalu, sejak ku katakan keputusanku untuk berpisah.

“Apa yang kau pikirkan?”, tanyaku lirih.

“Hhh… sama kok dengan yang sedang oppa pikirkan!”, jawabnya dengan tetap bergeming dari posisinya

Fhuhh..! untuk yang terakhir kali, Myung! Setelah hari ini semuanya hanya sepenggal kisah sedih yang akan kau bawa lari bersamamu! Batinku.

Cihh… mengapa kata ‘terakhir’ hampir selalu dimaknai dengan kesedihan, kekalahan dan ketiadaan harapan.

Untuk kesekian kalinya ku lirik ia lagi.

Masih dengan posisi tubuh yang sama.

Fuck!! Aku benci dengan situasi seperti ini! Bukan begini akhir yang ku pikirkan saat hubungan ini ku mulai.

Ralat.

Dulu, aku bahkan belum sempat memikirkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan kata ‘akhir’ dalam hubungan ini.

“kamu tahu kan, ini satu-satunya akhir untuk kita,” ucapku setelah memarkir tubuhku di sofa yang didudukinya.

“Aku benci kata ‘satu-satunya’ dan ‘akhir’! bisakah kata itu dihapus saja?”

Mendengar jawabannya aku hanya bisa tersenyum hambar.

“Sama! Aku juga benci mengucapkan kata itu” jawabku seraya mengikuti posisi tubuhnya lalu meletakkan kepalanya di bahuku.

“Tapi cuma ini jalan yang bisa kita pilih.”

“Salah. Bukan kita yang memilih, tapi dipilihan!”, ucapnya ketus.

“Tuhan yang buat aturan sialan itu dan orang-orang yang sok patuh itu yang membuat kita makin terpojok pada situasi macam ini. What a fuckin’ undecisiveness point!”

Fuhh… mengumpat bukanlah kebiasaannya. Sisi dirinya yang lain itu hanya terlihat saat ia benar-benar marah atau terdesak tak berdaya. Yah.. meskpun biasanya ia memang tergolong talkative, tapi ia bukanlah orang yang suka mengumpat.

“Sshhh… ayolah Sulli, tanpa kau sadari, kita bagian dari orang-orang ‘sok patuh itu’!”

“Kenapa juga kita harus patuh? Aku iri sama orang-orang yang bisa memilih melakukan apa saja dengan hubungan mereka.”

“aku iri sama gay yang bisa mengekspos ke orang-orang tentang pilihan seksualnya. Aku iri dengan orang-orang yang bisa senang dan bahagia di luar sana. Sedang kita… see.. NEVER!!”

“Sshhttt..!”, kurengkuh ia makin dalam, berusaha memberi ketenangan.

“Ayo ke kamar. Badanmu bisa sakit nanti kalau gini terus!”

“Tidak. Aku mau disini menunggu matahari terbit”

Hmm… aku lupa dengan kebiasaannya yang suka memandangi sunrise.

“Ya sudah. Tapi, duduknya yang bagus!” bujukku.

“Bagaimana kalau sofanya kita balik? Sepertinya nyaman.”

Dan aku hanya mengangguk, menyetujui usulannya.

–oOo–

Dan di sinilah kami, duduk berpelukan berbagi selimut menunggu terbitnya fajar yang akan memisahkan kami.

Berbagi khayalan tentang masa depan yang tak mungkin menjadi nyata. Imposible..! menikmati menit-menit saat waktu begitu bersahabat dengan kami,  saat ruang menyempit dan hanya menyediakan tempat untuk kami berdua.

“Sulli-ah.. hmm seandainya kita bisa menikah nantinya, kau ingin punya anak berapa?”

“Emm.. terserah oppa saja. Aku siap kok melahirkan bayi berapa pun, asal ayahnya adalah Kim Myungsoo”

Aku cukup terheyak dengan jawabannya. Bagaimana bisa gadis berusia 19 tahun ini, menganggap enteng masalah melahirkan seorang bayi.

“Hmm kau benar. Aku ayahnya dan aku adalah suamimu. Jadi sebagai seorang kepala keluarga, aku berencana memiliki empat orang anak. Sepertinya memiliki banyak anak akan menyenangkan”, jawabku asal.

Ia tertawa. Tawa renyah yang pasti akan selalu ku rindukan nantinya.

Cukuplah ruang kecil untuk kami berdua ini, karena aku sadar tak ada ruang untuk kami berdua di luar sana.

–oOo–

January, five years ago

Entah keberanian dari mana, tiba-tiba…

“Ssul.. aku sayang kamu!” ucapku berusaha menandingi suara gaduh dari speaker komputerku saat bola pinball masuk ke black hole.

“Mwo?” tanya Sulli dengan mata yang tetap tertuju pada layar komputer.

“NANEUN JOHAE!” ucapku dengan suara lebih keras.

“Nado. Puas?! Hehee” jawabnya sambil nyengir.

“Yakk.. aku serius Choi Jinri!”

“Gureom.. Sulli juga serius, Myungie oppa. Hmm.. Udah ahh.. geli dengernya..”

“Nahh kan.. game over!” keluhnya sekarang.

Look at me!” kuputar kursinya menghadapku.

“Jeongmal johaeyo Choi Jinri” aku mengulangi ucapanku. Kali dengan lebih lembut  namun aku yakin ia masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Tangan lembut dan putihnya terulur menyentuh dahiku.

“Hmm.. aku tahu ini masih musim dingin, tapi oppa tidak panas kok”

“Ahh.. Mentang-mentang udah 17 tahun, jadi lagi belajar ngungkapin cinta yah oppa? Gureom.. oppa lulus, deh. Nah, sekarang oppa bisa praktekin sama yeoja-yeoja cantik dii luar sana, jangan sama aku. Sulli bisa jadi sakit jiwa tahu”

“Jakkaman! Duduk dulu!” Tahanku saat ia beranjak dari duduknya.

“Serius… Aku sayang kamu! Ma.. maksudku bukan sayang kayak gitu, tapi sayang yang lain! Ahh.. SARANG. Ne.. aku mencintaimu! Aigoo.. gimana yah supaya kamu ngerti!” ucapku pusing sendiri.

Ku rasa wajar dia belum mengeri, dia baru 15 tahun. Jawaban apa yang bisa aku harapkan darinya yang masih polos.

“Ehh.. kok bisa?!” tanyanya.

Cengiran yang dari tadi di bibirnya, kini tak tampak lagi.

“Molla!”

“Hmm oppa sadar tidak?”

“NE! Tapi mau bagaimana lagi. Aku udah coba nahan.. tapi nggak bisa, Ssul!” Kurebahkan tubuhku di kasur. Pasrah.

“Udah lama?” tanyanya ikut merebahkan diri di sampingku.

Aneh.. tanggapannya kelewat biasa. Kutolehkan wajahku menatapnya, yang kini ia balas dengan menatapku juga. Dengan jelas ku lihat banyangan diriku di bola matanya.

“Iya!”

“Kundae.. oppa tahukan.. kita..nggak mungkin…”

“Aku nggak bilang kita harus pacaran. Bisa dekat denganmu atau merhatiin kamu, yah.. seperti biasa, kurasa itu udah lebih dari cukup! Nggak perlu ada yang berubah kan?!”

“Gimana kalau aku mau?”

“Hehh?!!”

Aku menoleh terkejut. Tanpa pikir panjang aku langsung memperpendek jarak di antara kami. Aku mengecup bibirnya.

Manis. Ada rasa lega yang hadir.

Sejak hari itu kami menyatukan rasa. Sejak hari itu pula kami tersiksa. Tersiksa karena harus menutupi hubungan yang kami jalani berdua dan hanya bisa saling menatap dari jauh, mencuri cium atau memeluknya saat berada di kamar

Tapi, setidaknya kau bersyukur merasa kalau ini sudah lebih dari cukup.

Hingga suatu hari… tepat sehari setelah ulang tahunku yang ke-20.

Kami. Appa-eomma-Sulli-dan aku, telah bersiap menerima jamuan makan malama di sebuah restaurant China yang tentunya terbilang cukup mahal.

Kami semua berpakain rapi tentunya, Appa dan aku dengan kemeja yang dibalut tuxedo. Sedangkan Eomma dengan gaun merah maroon yang elegant.

Dan yang selalu membuat mataku terpaku, Sulli-gadisku yang duduk tepat di sampingku.

Ia  memakai dress berwarna peach dengan rambut panjang bergelombangnya yang ia urai di selingi jepitan perak yang makin membuatnya terkesan sangat anggun dan cantik.

Seperti biasa, ia selalu mampu membuat jantung hampir berhenti berdetak. Dialah yang selama ini ku cintai, meski telah bertahun-tahun menjadi adikku.

Saat kami tiba, sebuah keluarga menyambut kami di ruangan yang bisa dikata VIP.

Keluarga itu terdiri suami-istri yang seumuran dengan appa dan eomma, serta anaknya yang bisa kukatakan cukup jangkung, tingginya mungkin di atas 185cm. Ia terbilang tampan dengan wajah orientalnya.

“Jadi.. bagaimana soal perjodohan Sulli dengan Yifan? Ku rasa, mereka sudah cukup dewasa untuk mengenakan cincin di jari manis mereka”

Sebuah pembicaraan yang tiba-tiba membuat wajahku serasa pucat pasi dan perutku yang terasa melilit, seakan ingin menumpahkan makanan mahal yang tadi ku santap.

Apa aku salah dengar tadi?

Perjodohan?

Ige mwoya?!!

“Ah.. soal itu, Tuan Wu tenang saja. Sulli sudah menyetujuinya! Sepertinya.. tidak ada halangan lagi untuk melihat mereka bersanding. Terlebih nak Yifan sebentar lagi akan menyandang status dokter mudanya. hahahaa”, balas Appa.

Sebuah tangan dengan ukuran lebih kecil dariku, perlahan mengaitkan jemari lentiknya di jari-jariku. Ia meremasnya kuat.

Raut kecemasannya yang tergambar jelas di wajah cantiknya, saat aku menoleh padanya. Bahkan aura kesedihan tidak bisa ia sembunyikan.

“Aku permisi ke toilet sebentar”, ucapku sebelum melepas genggaman hangatnya di jemariku.

Aku bisa merasakan tatapan hampanya saat aku berlalu meninggalkan ruangan laknat itu.

Menghindar.. Ya. hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini.

Karena setidaknya aku mengerti kenapa Sulli rela menerima perjodohan ini.

Karena paksaan Appa. Pasti.

–oOo–

Aku terdiam, lebihnya tepatnya mungkin aku berusaha menahan nyeri di hatiku.

Aku sadar sedari tadi ia menatapku. Apa ia khawatir?

Ya.. harusnya. Harusnya ia tahu dan mengerti bagaimana perasaanku.

“Sulli..”

“Oppa..”

Ucap kami berbarengan.

“Hubungan kita sekarang.. lebih tepatnya disebut apa? Apa boleh? Aku tidak disebut sedang berselingkuhkan?”, tanya Sulli dengan wajah serius.

Aku bingung harus menjawab apa. Jujur.. pertanyaan seperti ini dan kenyataan inilah yang terus saja ku hindari.

Aku tidak berani memikirkan hal itu, karena aku terus saja menepis hal seperti ini.

“Oppa nggak bisa jawab ya? Aku juga,” ucap Sulli tertunduk.

“Sampai selama apapun.. bisa nggak kita jalanin semuanya apa adanya kayak gini? Cukup oppa selalu ada di sampingku. Oppa bisa janjikan?”

“Ne.. aku janji Ssul..”

“Kita bakal tetap kayak gini, sampai kita nggak bisa kayak gini lagi. entah apa yang akan berubah nantinya, meskipun kita harus nyembunyiin perasaan kita pada dunia. Seenggaknya kita bakal selalu sama-sama dan saling mencintai”

“Dan kau juga harus janji, tetaplah selalu ada di sisiku” lanjutku.

Ia mengangguk.

Lalu aku memeluk Sulli erat. Aku bahkan rela meleapaskan gelarku sebagai ‘oppa’nya dan mengorbankan apapun yang ada di genggamanku saat ini untuknya. Untuk mempertahankannya di sisiku.

Aku bisa merasakan bajuku basah dan terasa hangat. Dia menangis..

–oOo–

 “Myungsoo oppa.. eottokhe?”, ucap Sulli di sela-sela tangisnya.

Aku terheyak. Kepalaku berat.

Aku hanya bisa menghela nafasku panjang.

“Sekarang kita mesti gimana? Pokoknya perjodohan ini harus batal. Kita harus cari jalan untuk membuatnya gagal! Aku nggak mau tunangan sama dia!”

“Sulli-ah.. tenang dulu, oke! Aku nggak bisa mikir kalau kamu panik terus kayak gini!”

“Pokoknya aku  nggak mau, oppa! Bagaimana pun caranya yang penting rencana Appa harus batal. Harus!” lanjutnya lagi setelah ia sedikit lebih tenang meski kecemasan masih tergambar jelas di wajah cantiknya.

Yah.. aku  tahu, Sulli. Dan aku juga lebih tidak ingin kau disandingkan dengan namja lain. Tapi harus bagaimana?! Batinku.

“Mungkin lebih baik kalau kita.. pisah”

“Mwo? Pisah? Jeongmal aniya. Aku nggak mau pisah. Aku bisa menolak pertunangan itu!”, sahut Sulli dengan kalap saat kuputuskan untuk berpisah saja.

“Oppa.. ayolah.. Jangan nyerah gitu aja!”

“Sudahlah.. Ssul. Kau tahukan bagaimana keras kepalanya Appa? Kamu nggak mungkin bisa menolak!”

“ANDWEEE!!”, tangisnya.

You’ll run out of a reason!”

–oOo–

 “Aku ingin jadi kupu-kupu,” ucapnya lirih.

Langit di timur mulai memerah. Sinar mentari menyusui di sela-sela dedauanan mengusiir gulita yang mencekam. Kabut mulai menipis seiring luruhnya tetes-tetes embun ke tanah.

“Eh, kamu belum tidur juga?”, tanyaku tak mengacuhkannya.

“Tidak ingin”

Sama.

“Kalau kita diberi kesempatan untuk reinkarnasi, aku ingin jadi kupu-kupu dengan garis-garis biru di sayapnya,” lanjutnya lagi.

Are you kidding me?”

Nope”, jawabnya enteng.

“Kalo gitu jangan ngaco! Janji sama aku kalau kamu tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh!” ucapku seraya menatap matanya dalam-dalam.

“Tentu saja tidak. Apa oppa pernah dengar kalau orang bunuh diri bisa reinkarnasi? Hmm.. jadi saudaranya sadako sih iya!”

Aku hanya diam menanggapinya.

“Eh, tapi oppa harus janji kalau oppa akan memilih jadi kupu-kupu saat reinkarnasi nanti. Ne!”

“Emangnya kita bisa milih?”

“Yak.!! Apa susahnya sih langsung bilang iya!”

“Ne.. ne..! tapi kenapa harus kupu-kupu? Kesannyakan  jadi kurang macho!”

“karena mereka bisa ngungkapin perasaannya dengan bebas. Mereka bisa cinta sama siapa saja. Mereka juga bisa benci sama siapa saja. Sama sekali tidak ada batasan. Arasseo?”

“Ne.. beda dengan cinta manusia yang banyak batasan, itu kan maksudmu?”
“Mereka nggak perlu mikirin dosa, agama, hukum, atau pandangan orang lain. Beda banget dengan kita, untuk mencintai diri sendiri saja, kita dibatasi oleh kata egois.”

“Batasan itu yang ngebedain cinta dengan nafsu!”

“Jadi… kita ini,, nafsu?”

“Ani! Tentu saja ini cinta!” jawabku mantap di sela-sela kegiatanmu memainkan ujung rambutnya.

“oppa, aku ikut saja yah! Kita perginya sama-sama.”

“Ssul.. masalah ini kan udah lama kita bahas. Ke mana pun kita pergi, jawabannya sama. Tetap sama. Tidak akan ada yang menerima hubungan ini.”

“Setidaknya orang-orang nggak akan tahu dan nggak perlu tahu kan?”

“Tapi kita tahu, Ssul. Kita tahu ini salah. Masalahnya bukan pada orang-orang itu tapi pada kita berdua. Di mana pun kita berada… cinta ini tetap salah.”

“Kenapa dulu kita awali hubungan ini jika kita tak bisa bersama terus sampai akhir?!!”

“Mianhe.. Jinri-ah”

“Kajimaa, oppa! Kajima!” isaknya.

“Mian.. nggak bisa. Kita nggak bisa maksain keadaan”, ku peluk ia erat-erat.

Maafkan aku yang melanggar janjiku sendiri, untuk selalu di sampingmu.

“Jeongmal sarangheyo Choi Sulli. Tapi kita nggak bisa..” ratapku.

Just you know, I really wanna be with  you and make you be mine! But I can’t. I can’t let my heart falling so far to you.. because..

You’re my step sister

——-

Masih kelewat pagi, London masih tampak lengang. Hanya satu dua pejalan kaki dengan koran atau segelas kopi di tangan mereka.

Aku tengah memasukkan koin ke box koran England Today saat telepon genggam di kantong jaketku bergetar.

“Yeboseo, Eomma.. wae gurae?” kujawab panggilan itu tanpa menghentikan langkahku melintasi jalan.

“Myung, adikmu…”

“Waeyo? Sulli kenapa, eomma?”

“Dia kecelakaan, Myung. Sulli tidak bisa tertolong lagi!” Kudengar isak tangis di ujung sana.

“Bagaimana bisa…-“ pertanyaanku terpotong oleh suara teriakan.

Braaakkk…

Tubuhku melayang sebelum terhempas ke jalan. Gelap.

–oOo–

Hujan barus saja reda. Udara dingin yang basah bercampur dengan bau tanah yang khas.

Aku menggigil kedinginan, tapi itu tak menyurutkan semangatku untuk menikmati wangi bunga pagi hari ini.

Hi Honey, c’mon!”

A moment, Beib!” jawabku sambil menghampirinya.

I love you! Sarangheyo Mrs. Kim!”

Nado saranghe, Mr. Kim!”

Sepasang kupu-kupu bergaris biru terbang berputar dan menghilang.

The End

oOo

RCL ne!! ^~^

2 thoughts on “[FF Freelance] A Pair of Butterflies

  1. oh sulli step sisternya myungsoo ya? krain satu ayak gitu?😀
    bagus nie ceritanya.. tu sulli beneran kecelakaan apa bunuhdiri si? akhirnya myungsoo nyusul sulli gitu? reinkarnasi jadi kupu” biru dan jadi suami istri? nice🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s