[FF Freelance] Bloody School (Chapter 1)

bloodyschoolcvr

Title : Bloody School (Chapter 1)

Author : DkJung (@diani3007)

Cast :

X [Miss A] Bae Sooji

X [F(x)] Jung Soojung

X [15&] Baek Yerin

X [JJ Project] Im Jaebum

X [A Pink] Oh Hayoung

X [B.A.P] Choi Junhong

X [EXO-K] Oh Sehun

X [F(x)] Choi Jinri

Other Cast :

X [JJ Project] Park Jinyoung

X [15&] Park Jimin

X [SNSD] Kim Taeyeon

X [2PM] Jang Wooyoung

X [Infinite] Kim Myungsoo

Genre : thriller, strictness, murder, horror, a little bit romance

Rated : PG 15

Length : Chaptered

Disclaimer : terinspirasi dari novel ‘Bleeding Survivor’

Summary :

Menjadi korban bullying di sekolah memang tidak enak, sangat. Itulah yang dialami yeoja malang, Bae Sooji. Hanya karena melakukan kesalahan yang seharusnya bisa diangggap wajar, teman-temannya tega membullynya habis-habisan dengan cara yang tidak wajar. Mereka tidak pernah tahu, kalau perbuatan mereka, akan ada balasannya. Mungkinkah, kematian? Apakah dengan cara yang wajar juga?

 

“Chapter 1”

Sooji berjalan gontai menuju sekolahnya. Eksresinya kusut. Dia tidak pernah merasa semangat ke sekolahnya. Setidaknya, sebelum hari pertama ia dibully. Tersenyum pun tidak. Baginya, sekolah ini seperti neraka, tempat orang seperti dirinya siksa habis-habisan. Tapi bagi orang yang tidak bersekolah  di Hwayeon high school, mereka menganggap sekolah ini sekolah idaman yang sangat mewah. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Hwayeon high school. Dan murid yang keluar dari Hwayeon, akan dicap sebagai murid yang nakal, bodoh, dan tidak berpendidikan. Hanya orang-orang yang pintar dan kaya saja yang bisa masuk ke sekolah elit ini.

Hwayeon bisa saja meraih juara pertama pendiskriminasian murid-muridnya. Mereka yang pintar dan kaya mendapat perlakukan yang berbeda. Sangat. Semua murid yang miskin di Hwayeon, memiliki otak yang cerdas, karena mereka menggunakan kepintaran untuk bisa masuk Hwayeon. Atau bisa disebut dengan testing. Sedangkan murid yang kaya, menggunakan uang mereka untuk bisa masuk dan mendapatkan fasilitas yang serba lebih dari murid-murid miskin. Selain kaya, mereka juga pintar. Bahkan, tak sedikit yang pintarnya melebihi murid-murid miskin. Para murid kaya bahkan menggunakan uang mereka untuk menutup mulut guru-guru dan kepala sekolah agar tidak melaporkan tindakan bully mereka yang dilakukan untuk murid-murid miskin. Sementara mereka murid yang miskin? Mereka hanya bisa pasrah menerima keadaan. Lagipula, murid-murid kaya melakukan bullying secara tertutup, jadi tidak pernah ada saksi. Untungnya saja belum pernah ada korban jiwa dalam kasus ini. Walaupun, itu masih belum pasti.

Lalu, apa kesalahan yang telah murid-murid malang itu perbuat hingga dibully? Sepele. Mereka kadang mendapat juara satu di lomba-lomba yang diadakan sekolah, atau antarsekolah. Hal itu membat para murid kaya iri. Sedangkan hal yang lainnya hanya sekedar, tabrakan, menumpahkan minuman, salah bicara, dan lain-lain. Intinya, kalau mau bersekolah dengan aman di Hwayeon, murid tersebut harud mempunyai uang.

Sedangkan Sooji? Kalau dia memang orang kaya, dia seharusnya tersenyum bangga melangkahkan kakinya di koridor sekolah elit ini. Tapi sayangnya, dia tidak bisa tersenyum semudah itu. Dia memang kaya, pintar, dn juga cantik. Tapi, dia juga dibully. Ya, mengherankan bukan? Sooji seharusnya bisa tertawa lepas bersama anak-anak kaya yang lain. Tap itu mustahil. Kesalahan yang ia perbuat, tidak bisa dimaafkan oleh mereka. Kesalahan yang seharusnya bisa dianggap wajar.

Flashback on

One years ago at 2-1 class.

Di dalam kelas 2-1, kelas terbaik dengan fasilitas termewah.

“Sooji-ya! kapan kau akan jadian dengan Jaebum?” goda Jimin, teman satu gengnya. Sooji memang tergabung dengan geng anak-anak kaya. Secara, dia cantik, pintar dan kaya tentunya.

“Siapa yang menaksirnya?” balas Sooji. Karena jujur, dia memang tidak tertarik sedikitpun dengan Jaebum yang notebanenya adalah ketu dari segala geng anak-anak orang kaya. Dia yang paling berkuasa. Siapa saja yang membantah perintahnya atau membuatnya marah, akan dibully, baik itu murid kalangan kaya maupu miskin.

“Keunde, dia itu sepertinya menyukaimu! Dia sangat perhatian padamu! Dia juga selalu  mengantarmu pulang,” tambah Jinri.

“Tapi aku sama sekali tidak menyukainya, aku hanya menganggap itu semua perbuatan baik terhadap seorang teman, tidak lebih.”

“Keurom, bagaimana jika tiba-tiba Jaebum menyatakan perasaannya padamu?” kini pertanyaan Yerin membuat Sooji terdiam. Tatapan yerin begitu tajam seolah-olah hendak menerkam Sooji.

“A-aku… akan… menolaknya,” jawab Sooji agak ragu. Dia sebenarnya sudah tahu kalau Yerin memendam perasaan pada Jaebum, teman-temannya aja yang belum tahu.

“Hah? Jinjja?! Dia bisa marah besar!” pekik Hayoung kaget. Tanpa mereka sadari, saat itu Jaebum cs memasuki kelas.

Jaebum mengedarkan pandangannya mencari Sooji. Ketika tatapan mereka bertemu, Jaebum tersenyum cerah. Sementara Sooji hanya diam. Jaebum melangkah pelan menghampiri Sooji dan Yerin cs. Dia lalu meraih tangan Sooji dan membawanya keluar kelas. Sontak, Yerin cs dan Jaebum cs juga mengikuti. Hingga pada akhirnya mereka sampai di balkon sekolah. Tangan Sooji masih digenggam erat oleh Jaebum. Sementara Yerin melemparkan tatapan tajam ke arah dua tangan yang sedang berpegangan itu.

“Ada yang ingin kuakui padamu di hadapan teman-teman kita,” ucap Jaebum.

“Soal apa?” Tanya Sooji.

Jabum berlutut di hadapan Sooji, hal itu membuat Sooji kaget hingga mundur satu langkah. Jaebum mengeluarkan kotak berwarna merah muda dari dalam saku jas seragamnya. Dia lalu menyodorkannya ke arah Sooji. Dia lalu membuka kotak itu, dan sisnya sebuah cincin.

“Bae Sooji, maukah kau menjadi kekasihku?” Tanya Jaebum dengan penuh keseriusan. Ya, entah serius atau tidak, tapi tatapannya menggambarkan seperti itu.

“Nde?” Tanya Sooji. Dia bukannya tidak mendengar atau minta diulangi. Tapi dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Jaebum akan menyatakan perasaannya padanya.

“Jaebum-ssi, mianhe.”

Ekspesi wajah Jaebu berubah seketika. Dia segera berdiri dari posisi berlututnya. Bukan ‘mianhe’ yang ingin ia dengar dari lulut Sooji.

“Mwo? apa itu berarti kau menolakku?”

Sooji mengangguk pelan.

“Kau… berani menolakku?! Menolak seorang Im Jaebum?! Jangan mentang-mentang kau bagian dari geng jadi kau bisa seenaknya! Aku tulus mencintaimu!” Jaebum mulai meninggikan suaranya.

“Keunde–“

PLAKK

Ucapan Sooji terpotong  ketika satu tamparan dari Jaebum berhasil menghantam pipi mulusnya. Jaebum mendekati Sooji yang masih terlihat shock. Dia mengelus pipi Sooji yang memerah karena tamparannya yang sangat keras tadi.

“Jebal, kau masih ingin sekolah di sini dengan aman, kan?”

Rahang Sooji bergetar. Apa yang Jaebum maksud dengan ‘aman’? apa dia juga kan dibully? Sooji tetap diam. Dia menundukkan kepalanya, terlalu takut dengan tatapan marah Jaebum. Sesekali Sooji mencoba melihat ke arah Yerin yang kini sedang menatapnya sinis. Sedangkan Jinri, Hayoung, dan Jimin terlihat iba.

Setelah beberapa lama berpikir, Sooji berani mengangkat kepalanya. “Kau tidak bisa memaksaku!” bentak Sooji.

Jaebum membulatkan matanya kaget. “MWORAGU?!”

“Mianhe, jeongmal mianhe, Jaebum-ssi.”

“Mian? Kau pikir kau bisa apa dengan mengatakan ‘mian’?!”

Semua yang menyaksikan Jaebum yang begitu marah pada Sooji hanya bisa diam, mereka semua takut untuk bicara. Sementara Hayoung, Jinri, dan Jimin mulai berkaca-kaca karena tidak tega melihat Sooji.

“DENGAR SEMUANYA! MULAI HARI INI, DIA BUKAN LAGI BAGIAN DARI KITA! JIKA AKU MELIHAT SALAH SATU DI ANTARA KALIAN BERGAUL DENGAN DIA, AKAN AKU KELUARKAN DARI SEKOLAH! ARRASSEO?!” Teriak Jaebum sambil menunjuk-nunjuk wajah Sooji.

“Nde,” jawab yang lain pelan.

“Dan mulai hari ini, dia akan diperlakukan sama seperti murid-murid miskin! Kalian paham?!” Semuanya mengangguk-angguk kecil. Sooji hanya diam sambil menatap Jaebum tidak percaya.

Jaebum mendekat lagi ke arah Sooji. Di saat Jaebum mulai membelai rambut Sooji, Yerin membuang muka. Jaebum menyelipkan rambut Sooji di belakang telinga, lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga Sooji. “Inilah akibatnya kalau membantah seorang Im Jaebum,” bisik Jaebum pelan, namun menakutkan.

Flashback off

Saat ini, di hari pertama di tahun ketiga, akan menjadi tahun yang amat buruk bagi Sooji.

CLAKK!

Benar saja, sudah ada yang melemparinya entah dengan apa. Sooji memegangi rambutnya yang mendadak licin dan bau. sial, telur! Batin Sooji. Sooji pun mempercepat langkahnya taku-takut ada lagi yang akan melemparinya dengan telur. Namun, dugaannya salah. Di ujung koridor, dua orang namja sudah bersiap-siap memegang ember berisi kopi di masing-masing tangan mereka. Dan ketika Sooji sampai, byyuurrrrrrr. Sooji basah kuyup dan berwarna coklat. Gelak tawa dua orang namja tadi semakin membuat Sooji kesal. Dan kini bertambah satu lagi, dan Sooji yakin dia yang melempar telur.

“Kerja bagus!” seru namja yang melempar telur melaukan high five dengan dua orang temannya.

“Kau juga, Sehun-ah,” ucap namja tinggi berambut abu-abu.

“Kajja kita ke kelas, sebntar lagi bel masuk!” ucap namja berambut hitam yang dicepak.

Tiga namja tak berperasaan itu pergi meninggalkan Sooji yang kini berlumuran kopi dan telur.

“Ya, Sehun-ah, Junhong-ah, Jinyoung-ah! Apa yang kalian lakukan?!” teriak Sooji. Namun sayangnya sama sekali tidak direspon oleh ketiganya yang mulai menjauh.

Mereka Jaebum cs. Sooji benci ini, dan lagi-lagi tidak ada orang yang melihatnya, otomatis tidak aka nada yang menolongnya. Dia tidak suka dibully. Tentu saja. Hanya orang gila yang merasa senang diperlakukan seperti ini. Dan ini terjadi setiap hari. Sooji segera berlari menuju toilet. namun sungguh menyebalkannya, ketika Sooji sampai di toilet, semua wastafel dipenuhi sampah. Sooji benar-benar menyumpahi orang-orang tak berperasaan itu. Sungguh menyebalkan, tubuhnya kini terasa lengket karena disiram dua ember kopi sekaligus. Tapi walaupun  begitu, Sooji sama sekali tidak berniat untuk menangisi keadaannya. Menangis bukan gayanya, lagipula menangis juga tidak akan menyelesaikan masalah.

Ini masih belum seberapa, biasanya mereka melakukan yang lebih parah. Bahkan, di hari-hari sebelumnya, Sooji harus rela mengeluarkan darah demi memuaskan mereka. Mereka kejam. Sooji sangat membenci mereka, Yerin dan Jaebum cs. Mereka hanya akan membully murid kalangan miskin apabila mereka membuat kesalahan. Baik disengaja, maupun tidak disengaja. Itu pun biasanya tidak sepenuhnya salah, mereka terkesan menambah-nambahkan. Tapi pada Sooji? Berbeda. Bagi mereka, Sooji tetaplah bersalah walaupun kesalahannya hanya satu dan itu di saat mereka masih kelas dua. Lagipula, itu tidak sepenuhnya kesalahan. Semua orang punya hak untuk menolak pernyataan cinta dari siapapun apabila orang itu emang tidak suka. Setelah selesai membereskan semua sampah, Sooji mulai menyalakan kran air lalu mencuci rambutnya yang sangat bau.

“…”

Sooji berjalan menuju kelasnya. Dia sudah ketinggalan pelajaran pertama karena waktunya ia habiskan untuk membersihkan rambutnya dan berdiam diri di toilet. kini penderitaannya semakin lengkap. Mejanya kini sudah berlumuran telur. Tidak hanya itu, kursinya pun ditempeli banyak sekali permen karet. Menyedihkan. Oh Tuhan, kapan semua ini berakhir?! Batin Sooji. Sementara Yerin yang sedari tadi duduk diam kini berdiri lalu berjalan menghampiri Sooji.

“Pergi dari kelasku! Kau bukan lagi bagian dari kelas ini, kau tidak pantas berada di sini! Kelas ini hanya untuk murid-murid kaya dan berkelas. Sedangkan melihat penampilanmu saja aku sudah muak! Kau bau telur! Aku bahkan masih ragu kalau kau benar-benar anak orang kaya! Bawa keluar bangkumu!” bentak Yerin. Sesisi kelas menatap Sooji jijik.

Sooji hanya diam. Dia sudah sangat pasrah. Dia mulai mengangkat mejanya terlebih dahulu untuk dibawa keluar kelas. Setelah itu disusul oleh kursinya. Kursi tersebut Sooji taruh di atas meja. Dia mulai mengangkat dengan susah payah.

“Selamat menikmati tahun terakhir bersama murid-murid kelas rendahan!” teriak beberapa murid perempuan dari dalam  kelas yang Sooji yakini merupakan Yerin cs. Mendengar itu, sesisi kelas pun tertawa. Sooji yang tidak sanggup mendengar segera mempercepat langkahnya.

“…”

Sooji mengangkat bangkunya dengan susah payah menuju lantai bawah, kelas 3-3, kelas tempat murid-murid kalangan miskin. Sooji sebenarnya tidak rela meninggalkan kelas 3-1. Secara, di sana kelasnya terdapat pendingin dan pemanas ruangan, televisi, komputer, meja belajar murid lebih besar, papan tulis yang selalu baru, dinding yang selalu dicat ulang, kursi-kursi yang empuk, dan lain-lain. Sementara Sooji sekarang harus pindah ke kelas biasa, yang keadaan kelasnya bisa dikira-kira, tidak perlu dideskripsikan.

Setelah menuruni beberapaanak tangga, Sooji akhirnya sampai di depan pintu kelas 3-3, kelas anak-anak  kalangan miskin.

SREEKK

Sooji menggeser pintu kelas. Pintu kelas kalangan murid-murid miskin memang menggunakan pintu geser. Berbeda dengan kelas murid-murid kaya yang menggunakan dua pintu. Sungguh jauh berbeda dengan kelasnya yang dulu. Sooji mendesah berat. Dia mulai mendorong bangkunya dengan susah payah. Semua mata menatapnya heran.

“Dia Bae Sooji, kan?”

“Ya, benar. Kenapa dia pindah ke sini? Dan lihat! Keadaannya berantakan sekali. Seragamnya coklat dan bangkunya kotor. Rambutnya juga basah.”

Beberapa murid mulai membicarakan Sooji. Hal itu tentu membuatnya terganggu.

“Ada apa ini?” Tanya guru Kim yang baru membuka pintu. Sooji menoleh ke belakang dan terlihat sdikit kaget dengan kedatangan guru Kim yang tiba-tiba itu. Sebenarnya bukan tiba-tiba, ini memang sudah waktunya pelajaran kedua.

“Saem! Kenapa ada murid dari kalangan kaya di kelas kami?” Tanya salah seorang murid. Setelah mendengar pertanyaan dari salah satu murid, guru Kim menatap Sooji heran. “Kau Bae Sooji? Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya guru Kim.

“Aku dipindahkan, saem.”

“Sonsaengnim! Memangnya boleh murid dari kelas VIP pindah ke sini?” Tanya murid lainnya. Mereka semua merasa kurang nyaman dengan kedatangan Sooji.

“Kenapa tidak?” jawab guru Kim singkat.

“Baiklah Bae Sooji, silakan kau taruh bangkumu di ujung sana dan ikuti pelajaranku dengan tertib,” sambungnya.

“Keunde, sonsaengnim,” sela Sooji.

“Wae?”

“Aku tidak bisa duduk di sini, ada banyak sekali peren karet.”

Guru Kim membuka laci meja guru untuk mengambil kain lap lalu melemparkannya pada Sooji. Untung saja Sooji bisa menangkapnya.

“Kalau begitu bersihkan. Kau bisa, kan?”

Sooji hanya mengangguk sekilas. “Gamsahamnida.”

Sooji pun berjalan keluar kelas menuju kamar mandi.

“…”

Setelah mengisi ember kecil dan membasahi kain lap dengan air, Sooji keluar dari kamar mandi, berniat untuk ke kelas mengelap meja dan kursinya. Baru saja sampai di depan pintu, bahunya tiba-tiba sudah dicengkram kuat lalu tubuhnya dibanting ke dinding. Im Jaebum. Kilat matanya terlihat marah. Cengkramannya di bahu Sooji sangat kuat hingga menyulitkan Sooji untuk bergerak. Ember yang tadinya berada di tangannya kini sudah tumpah airnya.

“Apa maumu?” Tanya Sooji sinis.

“Apa kau ini orang yang tidak tahu terimakasih?” Tanya Jaebum.

“Mwo?”

“Dulu, aku selalu bersikap baik padamu, mengantarmu berangkat dan pulang sekolah, menemanimu kemanapun, dan selalu ada untukmu di saat senang maupun susah. Tapi kenapa kau justru menolakku waktu itu?”

Sooji mencibir ke arah Jaebum.

“Untuk apa aku berterimakasih pada sesuatu yang tidak dilakukan dengan tulus?”

“Mwo?”

“Kau melakukan semua itu karena kau ingin aku menjadi kekasihmu. Dan setelah aku menolakmu, kau seenaknya bersikap kasar padaku! Berarti itu namanya tidak tulus!”

“Arrasseo, aku tidak akan menyakitimu lagi, asalkan kau mau menjadi kekasihku.”

“Benar kan, kau tidak tulus. Kau hanya akan bersikap baik padaku jika aku menjadi kekasihku.”

“Ya! Bae Sooji!”

“Mwo? bukankah sudah pernah kubilang? Aku tidak mau!”

PLAKK

Untuk kesekian kalinya Jaebum menampar Sooji lagi. Sooji hanya tersenyum getir.

“Huh! Aku bahkan ragu kau tahu makna sebenarnya dari cinta. Kalau kau mencintaiku, jadi kekasihmu atau tidak hal itu tidak akan membuatmu menyakitiku. Cintamu palsu!”

KRRIIK

Suara kamera yang sedang memotret menghentikan sejenak pertengkaran Sooji dan Jaebum.

“Siapa di sana?” Tanya Jaebum sambil berjalan menjaduh meninggalkan Sooji. Tubuh Sooji mendadak lemas dan jatuh saat itu juga.

“…”

BYYUURR

Sooji membuka matanya. Tubuhnya basah kuyup. Dia kini sedang duduk dengan posisi bersandar pada tembok kamar mandi. Di hadapannya kini berdiri empat orang yeoja cantik berhati busuk.

“Dasar pemalas! Kenapa lama sekali kau bangun?!” bentak Yerin. Dengan teganya dia menggoreskan sebuah cutter di pipi mulus Sooji. Darah mulai keluar perlahan dari pipi Sooji. Sooji tidak mengerang kesakitan atau mengeluh sedikitpun. Ini sudah biasa baginya.

“Apa yang kau takukan dengan Jaebum, huh?!” Tanya Yerin. Sooji tidak menjawab, dia masih sibuk memeriksa apakah darahnya banyak atau tidak. Dan untungnya goresan cutter itu tidak panjang.

“JAWAB!” bentak Yerin lebih keras lagi. Sooji menatap Yerin geram sekaligus malas.

“Aoa kau begitu cemburu?” Tanya Sooji.

“Mworaguyo?!”

Yerin lalu menjambak rambut Sooji kencang. “Ah! Appo, Yerin-ah!” erang Sooji.

“Masih belum mau menjawab?!” kini yang bertanya Hayoung. Ya, kini Hayoung, Jinri, dan Jimin berpihak pada Yerin. Nasib Sooji benar-benar malang.

“Tidak terjadi apa-apa, sungguh,” jawab Sooji pada akhirnya.

“Tadi aku melihat foto yang ditunjukkan Jimin, dia bilang kau merayu Jaebum lalu memintanya untuk menciummu dengan menariknya ke tembok,” ucap Jinri dengan begitu sewotnya.

“Dasar pembohong! Aku tidak seperti itu!” bantah Sooji.

“Lalu kau menganggap dirimu itu yeoja baik-baik? Yeoja yang selalu benar, huh? Berani sekali kau,” Yerin meremehkan.

“Setidaknya aku masih punya hati yang lebih manusiawi daripada kalian!”

PLAAKK

Sooji ditampar oleh Yerin dengan keras hingga ujung bibirnya robek. Bagus, berdarah pada pipi dan bibir, batin Sooji. “Keumanhe,” ucap Sooji yang kini suaranya bertambah pelan.

“Mwo? keumanhe? Kau yang mengawali ini semua, jadi kau juga yang harus mengakhirinya!” bentak Yerin diakhiri dengan menendang perut Sooji yang masih duduk tersandar lemah.

“Lain kali, jangan ganggu Jaebum lagi. Awas kau!” ancam Yerin sebelum akhirnya Yerin cs keluar lalu mengunci Sooji sendirian di kamar mandi.

Tes. Oh, tidak! Jangan lagi! Aku tidak boleh menangis! Batinnya. Namun mau bagaimana lagi? Rasa perih di pipi, bibir, dan perutnya sungguh membuatnya tak sanggup menahan air mata. Ini sudah sangat melewati batas wajar. Menendang di bagian perut sungguh sangat tidak wajar. Sooji kan yeoja. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak?

Sooji mencoba untuk bangkit dengan amat perlahan, tapi tetap saja perutnya terasa sakit. Sangat. Aigoo, apa yang harus aku lakukan? Aku yakin mereka mengunciku, aku mendengarnya. Apa aku harus lewat jendela lagi? Tapi kalau aku tidak cepat keluar pasti aku dimarahi Kim sinsaengnim. Tapi rasanya akan sulit kali ini, perutku benar-benar sakit, Sooji terus membatin.

“Apa kau perlu bantuan?” Tanya seseorang. Suara seorang yeoja. Sooji merasa suaranya begitu dekat.

“Nuguseyo?” Tanya Sooji yang agak mulai merinding.

“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Yang bisa kulakukan saat ini adalah membantumu keluar.”

“Benarkah kau bisa? Tapi siapa kau sebenarnya? Kau berada di mana? Tunjukkan dirimu!” Sooji semakin panik.

“Aku yakin bisa membantumu, tapi aku tidak yakin untuk menunjukkan tubuhku di hadapanmu, aku tidak mau kau pingsan karena kaget.”

“Memangnya kau siapa?”

“Aku, seorang murid.”

“Murid?”

“Ya, aku seorang murid yang sangat cantik di masa lalu. Tapi… sekolah ini membuatku tidak cantik lagi.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti! Lebih baik kau tunjukkan dirimu lalu bicaralah di hadapanku!”

“Kau yakin? Aku kan sudah bilang kalau aku sudah tidak cantik lagi, aku khawatir kau takut melihat wajahku yang rusak.”

Sooji tercekat. Rusak? Apa dia benar-benar manusia? Dengan wajah yang rusak?

“Gwenchana, ini keinginanku, aku tidak akan takut. Aku justru akan semakin takut kalau kau tidak juga menunjukkan dirimu,” akhirnya Sooji mencoba meyakinkan keinginannya.

“Baiklah, seperti yang kau inginkan.”

Set. Dalam waktu satu detik, di hadapan Sooji sudah ada mayat yeoja berambut panjang tanpa poni, berseragam sama dengannya dengan keadaan kepala yang bolong dan kulit yang sangat pucat. Sooji menganga lebar lalu menutup mulutnya. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak berteriak. Kalau dia bisa berlari, dia akan lari saat itu juga. Tu pun juga kalau pintunya tidak terkunci, seperti sekarang. Sooji semakin kaget ketika yeoja itu membuka matanya lalu memamerkan seringainya ke arah Sooji.

“Benar, kan! Kau kaget melihatku,” ucapnya masih dengan seringaian.

“K-kk-ka-kau siapa?” Tanya Sooji yang sudah terlalu takut.

“Aku kan sudah bilang. Aku murid di sekolah ini, sama sepertimu.”

“Jawab yang benar!” sooji semakin panic. Bayangan tentang kematian kini berjejal di otaknya.

“Aku Sooj…,” mayat yeoja itu sengaja menghentikan ucapannya untuk membuat Sooji penasaran.

“Namamu juga Sooji?”

“Huh! Tetu saja bukan, bodoh! Aku Soojung, Jung Soojung.”

“Jung Soojung? Kau murid jaman kapan?” entah kenapa pertanyaan itu tiba-tia terlintas di pikiran Sooji.

“Sekolah ini sebenarnya kenangan burukku. Aku bersekolah di sini jauh sebelum kau lahir. Tapi sayangnya sekolah ini tidak mengijinkanku untuk lulus dan tumbuh dewasa. Menyebalkan!”

“A-a-apa penyebabnya?”

Bullyng.

“Kau bohong! Bukankah belum ada korban Bullyng yang sampai meninggal?”

“Jadi kau lebih percaya gosip dibanding fakta yang sedang kau lihat saat ini?!”

“Keurom, ada perlu apa kau muncul dihadapanku? Dan kenapa aku bisa melihatmu?”

“Aku? Aku hanya ingin membantumu.”

“Membantu apa?”

“Membereskan mereka.”

“Siapa? Jaebum dan Yerin cs?”

“Nde. Aku akan memberimu satu permintaan. Apa yang ingin kau minta?”

“Kenapa kau ingin membantuku?”

“Aku mengerti perasaanmu. Aku juga pernah merasakan masa-masa seperti ini. Dibully. Itu sangat tidak adil, kan?”

Sooji mengangguk pelan.

“Oleh karena itu, aku ingin membantumu, sekaligus membalaskan dendamku pada anak-anak orang kaya di sekolah ini. Apa keinginanmu?”

“Aku…”

Sooji mendadak ingat kata-kata Yerin.

“Kau yang mengawali ini semua, jadi kau juga yang harus mengakhirinya!”

“Aku yang harus mengakhirinya,” gumam Sooji tanpa sadar.

“Baiklah, aku punya satu permintaan!” ucap Sooji.

“Apa itu?”

“Kau benar-benar bisa mengabulkannya?”

“Bisa, sebutkan saja.”

“Uhm, aku… a-a-ak-aku… ingin… membunuh mereka semua…”

“TBC”

Gimana? Seru ngga? Ada yang penasaran ngga sih, kenapa Sooji ngga pernah bilang ke orang tuanya? Ini ff horror+sadis pertama aku. Leave your comment please! Sorry for typo ._.v

Advertisements

43 thoughts on “[FF Freelance] Bloody School (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s