[FF Freelance] Mianhe Appa

Mianhe appa

Title : Mianhe, Appa || Author : PinkyPark || Cast : Kim Joonmyun EXO, Oh Minjung (OC) || Genre : Family, Sad, Angst || Rating : G || Length : Oneshoot

Author Note : FF ini aku persembahkan untuk semua reader khususnya sahabatku tercinta Zhaliva yang udah lama banget request FF dengan cast Suho ini. Kyaa, mianhe telat ya..

Disclaimer : This FF belong to me and the cast belong to god and themselves. DON’T BE PLAGIATOR AND PLEASE LEAVE YOUR COMMENT

***

Sebagian mengatakan cinta itu tentang dua insan yang saling melengkapi..

Sebagian juga mengatakan cinta itu sebagai proyeksi dari perasaan saling menyayangi..

Tapi bagi seseorang, cinta juga berarti tentang cara takdir menegaskan apa itu yang dinamakan menyakiti..

 

Mianhe, Appa

Sekolah dasar memang tampak sempurna dengan segala keceriannya. Tapi sore ini hujan turun. Anak- anak kecil dengan berbagai keriangannya  tampak sibuk dengan payung- payung mereka. tapi seorang anak lelaki berumur sembilan tahun itu hanya diam. tidak ada payung, tidak ada senyuman, dan tidak ada teman. Kepalanya tertunduk dan setiap tarikan nafasnya seakan memperlihatkan beban yang sudah ditanggungnya diumur semuda itu. Anak itu mengangkat kepalanya, sebelumnya dia melihat sepasang sepatu berwarna putih terletak tidak jauh dari sepatunya. Anak itu tersenyum, entah siapapun yang dilihatnya. Yang jelas seakan bebannya terangkat begitu saja. Tidak ada payung, senyuman, ataupun teman bukanlah apa- apa lagi saat itu. Matanya berbinar. Menengadah untuk memfokuskan diri pada sosok yang berdiri dihadapannya.

“eomma.” Gumam anak laki- laki itu. Suaranya bergetar karena terharu. Seseorang yang dipanggil itu hanya tersenyum kecil. Perlahan mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu.

Sebuah senyuman terlukis di wajah sang ibu. “Minho-ya. Sudah kubilang kau harus membawa payung.” Ucapnya lembut. Tangannya terangkat untuk menghapus sebulir air mata di pelupuk anak bernama Minho itu. Minho tersenyum. Sebuah senyuman tanpa dosa yang entah kenapa justru membuat sang ibu kesakitan. Sesuatu dari dalam memorinya kembali berkelebat. Teringat saat dirinya putus asa dan nyaris menandatangani kontrak aborsi. Teringat saat dirinya nyaris melompat dari atas jembatan di malam hari. Dan teringat juga saat dirinya memukul lemah perutnya yang mulai membesar. Tapi dia menyingkirkan ingatan mengerikan itu segera. Dia bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal- hal dimasa lalu itu terjadi. Lagi, senyuman Minho menariknya ke belenggu yang sedikit lebih terang. Anaknya, kini masih hidup dan menemani hari- harinya. Sempat terbersit lamunannya apabila hari- harinya kini tidak ditemani oleh sang anak. Apa yang akan terjadi? Mungkin dia akan mati perlahan karena menghadapi dunia kejam ini sendirian.

“eomma.” Suara pelan Minho, lagi- lagi menariknya ke ingatan yang lebih waras. Ini masa sekarang, tidak seharusnya dia mengenang masa- masa suramnya dulu.

Sang ibu tersenyum. “Minho- ya. Ayo kita pulang, eomma akan membuatkanmu coklat panas. Disini sangat dingin bukan?”

Minho hanya mengangguk mengiyakan. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan sang ibu yang lebih besar. ibunya tersenyum, sedikit merinding saat dunia kecilnya kini tengah menggenggam tangannya. Tubuh semampainya berdiri, dengan sebelah tangan mulai membuka payung lipat berwarna transparan yang tadi dibawanya.

“kajja, coklat panas sudah menunggu..” ucap sang ibu lagi. Dalam diam dan bisingnya rintik hujan. Keduanya berjalan perlahan. Menerobos belenggu gelapnya awan dengan sebuah senyuman terpatri satu sama lain.

“eomma?”

“hmmm..”

“jeongmal saranghaeyo~”

“nado mani saranghaeyo Minho- ya ..”

 

Mianhe, Appa

Pria bertubuh sedang itu membuka kaca mata hitamnya. Ditatapnya lingkungan sekelilingnya yang tampak familiar. Sudah sembilan tahun lamanya. Dia benar- benar sedikit asing dengan tempat ini. Beberapa orang lain tampak menatapnya sembari tersenyum. Tentu mereka megenal pria itu. Kim Joonmyun sang perngusaha muda yang kaya. Tapi pria itu tidak membalasnya, sedikit asing juga dengan tatapan segaris dari orang- orang sebangsanya itu. Kopernya yang besar terasa menjengkelkan. Pria itu dengan malas menariknya menuju pintu keluar. Kendati seperti itu, pria itu harus menghela nafasnya lagi saat beberapa pria dengan setelan jas hitam mendekatinya sembari tersenyum. Kepura- puraan yang membuatnya muak dan lebih muak lagi. Joonmyun menyerahkan kopernya, berjalan mendahului para Bodyguardnya kearah mobil Ferrari hitam yang kini terparkir lebih mencolok dibanding mobil- mobil lainnya.

Pria itu melirik sekilas kearah kerumunan orang yang kini tengah memotretnya. Membuat moodnya semakin buruk dan lebih buruk lagi. Dirinya ingin lekas masuk, tapi seseorang dengan setelan jas berwarna abu keluar dari mobil. Saat itu juga, Joonmyun tersenyum penuh arti.

“Kyuhyun Hyung!” pekik Joonmyun terkaget- kaget. Kedua pria tampan itu saling berpelukan dan menepuk pundak masing- masing.

“kau terlihat lebih dewasa .” ucap pria bernama Kyuhyun itu dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Joonmyun terkekeh.

“aku sempat putus asa akan mati kebosanan karena berada diantara orang yang tidak kukenal. Tapi kau datang, aku jadi sedikit senang.” Jawab Joonmyun renyah. Kyuhyun hanya mendelik.

“sedikit senang katamu? Lalu apa? apa yang membuatmu sangat senang ? kau ingin aku mengajakmu ke Club seperti tujuh tahun yang lalu ?” jawab Kyuhyun dengan nada sindiran yang dibuat- buat. Joonmyun tertegun. Pikirannya melancong mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu. Suatu perasaan yang dirasakannya selama ini mulai menyiksanya lagi.

Joonmyun, gelisah.

Menyadari perubahan ekspresi Joonmyun, Kyuhyun menepuk pundaknya. Menarik tubuh sang adik kedalam mobil. Mobil mulai melaju, menerbangkan butiran debu di sekitarnya. Orang- orang tidak ada kerjaan yang tadi memotret tampak kecewa karena tidak bisa mengambil gambar si tampan lebih banyak.

Joonmyun menerawang keluar jendela mobil. Seoul tidak banyak berubah. Dan dirinya benci hal itu. Masih dengan ekspresi yang sama. Joonmyun bergumam.  “Hyung, kejadian tujuh tahun yang lalu, bukankah  telah membuatku menjadi pecundang sejati.?”

 

 

Mianhe, Appa

Sekolah itu sudah sangat sepi. Tapi Minho masih terpaku disana dan duduk di salah satu anak tangga. Bukan karena tidak ada yang menjemput. Minho memang selalu pulang sendiri. Ibunya terlalu sibuk di kantor dan Minho tidak suka mengganggu ibunya. Tapi kali ini, Minho benar- benar membutuhkan senyuman ibunya. Minho butuh pelukan hangat dari ibunya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Detik selanjutnya mulai terdengar isakan kecil yang kian kentara.

“ayahmu kemana ? dia mati ? atau kau memang tidak punya ayah sejak lahir ?”

Pertanyaan sarkastik dari teman- teman sekelasnya tadi terus terngiang di pikirannya. Minho berusaha kuat, tapi dia terlalu kecil untuk menghadapi berbagai cacian itu. Lagi pula ini zaman serba canggih. Bahkan kini anak seumuran dengan Minho pun sudah mampu mengucapkan kata- kata kejam seperti itu. Minho terus terisak. Menangkupkan wajahnya kelutut. Dirinya benar- benar butuh ibunya. Dirinya harus tahu dimana ayahnya. Dan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi dia juga berfikir. Eomma, tida akan pernah memberitahu itu.

“Ya~ kau kenapa menangis ?” sebuah suara tenor merasuk kedalam indra pendegaran bocah kecil itu. Minho mengangkat kepalanya perlahan. Dia cukup terkejut dengan keramaian bisu yang kini ada dihadapannya.

“Nuguseyo?” Tanya Minho ngeri karena melihat orang- orang berseragam jas yang sama berdiri tegak di belakan pria itu. Pria itu menoleh kebelakang. Memberi  isyarat kepada orang- orang itu untuk menunggunya di luar. Orang- orang yang tampak datar itu berjalan serentak keluar. Pria itu mengalihkan lagi pandangannya. Menatap mata Minho yang berlinang.

“mm, kau bisa memanggilku tuan Kim. Siapa namamu ?” jawab pria itu ramah. Minho mengangguk ragu.

“Kim Minho Imnida..”

Pria itu tertegun sejenak. Tapi kemudian pria itu tersenyum. “apa yang kau lakukan disini ? semua anak sudah pulang. Dan kau hanya menangis sendirian disini.”

Minho menggeleng. “aniyo, aku baik- baik saja, aku harus pulang. Eomma pasti akan memarahiku jika aku terlambat pulang. ” Minho bangkit dari duduknya. Membungkuk dan nyaris membuat lengkungan Sembilan puluh derajat tanda hormat pada pria bermarga Kim itu. Pria itu tersenyum. Minho berjalan perlahan meninggalkannya. Beruntung, hari ini tidak hujan. Jadi dia tidak perlu membuat eommanya menjemputnya lagi seperti hari kemarin.

“Kim Minho, kau mirip sekali dengan dirinya.” Gumam pria itu, dia melamun sejenak. Tapi detik kemudian dia tertegun. Tunggu, dia mirip siapa? Jawabannya adalah Oh Minjung. Belum sempat dia berfikir lebih lugas. Suara salah satu Bodyguardanya menggema diruangan.

“Tuan Joonmyun, dewan sekolah menunggu anda diatas.”

 

Mianhe, Appa

“aku tidak mau makan!!” pekik Minho pada ibunya. Sang ibu terbelalak kaget. Ditaruhnya sendok yang  tadi di pegangnya dengan tangan sedikit bergetar. Ada kalanya, dia merasa tidak sanggup mendidik Minho sendirian.

“kenapa kau tidak mau makan ? kau ingin sakit ?” suara ibunya melembut. Tapi Minho hanya menjawabnya dengan tangisan. Sang ibu mulai gelisah. Perlahan mendekati anaknya yang mungil dan berlutut dihadapannya. Minho masih menangis dengan kedua tangan mengusap matanya.

“kenapa kau menangis ?”

“Eomma.. dimana Appa ? aku bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa..” Tanya Minho disela-sela tangisannya. Sang ibu berjengit kaget. Mengapa anaknya tiba- tiba bertanya seperti itu ?

“bukankah sudah kubilang jangan tanyakan itu! Aku sudah bilang jangan fikirkan hal lain selain eomma. Hanya eomma yang perlu kau fikirkan !” suara sang ibu mulai beranjak ke oktaf berikutnya. Minho terhenti. Menyadari baru saja ibunya berteriak.

“aku juga ingin punya ayah. Teman- temanku selalu berjalan- jalan ke taman hiburan dengan ayahnya. Mereka bilang setiap minggu ayahnya akan membawakan mereka mainan. Dan, mereka bilang ayah mereka selalu menggendongnya di pagi hari..” Minho mulai menangis lagi. “aku juga ingin punya ayah, ingin lihat wajah ayah, aku ingin digendong ayah..”

Sang ibu susah payah menahan air matanya. Nafasnya tercekat dan hatinya bagaikan tertohok oleh pisau yang tajam. Dia menarik nafas. “Minho-ya..” suaranya bergetar.

“mereka bilang aku tidak punya ayah sejak aku di perutmu. Mereka bilang eomma hanya membesarkanku sendirian. “

“apa kau bilang ?” sebulir air mata menetes dari pelupuk mata sang ibu, Minho bergegas ingin menghapusnya. Tapi sang ibu menghindar. “apa tadi kau bilang!” pekik sang ibu lagi. Minho terhuyung kebelakang.

“eomma..”

“aku ini ibumu. Bagaimana bisa kau meyakini perkataan orang lain seperti itu! Aku memang membesarkanmu sendirian! Tapi setidaknya aku membesarkanmu dengan penuh kasih sayang! Aku tahu dulu aku punya kesalahan tapi – ” Sang ibu menahan ucapannya. Menahannya sekuat tenaga mengingat sekecil apa anak yang kini akan mendengar pengakuannya. Sang ibu perlahan terduduk. Merasa dunianya runtuh saat itu juga. Minho memeluknya. Membenamkan kepala mungilnya diantara leher sang ibu yang lembut.

“mianhe eomma. Aku salah. Mianhe eomma. Aku berjanji, tidak akan membahas ini lagi. Eomma jangan menangis. Aku tidak butuh ayah. Aku hanya butuh eomma. Aku tidak peduli siapa ayah, aku hanya peduli siapa eomma. Eomma jangan tinggalkan aku..”

Sang ibu menatap anaknya. Sebuah senyuman pilu terlukis disana. “Minho-ya, appamu sebenarnya sangat baik. Aku saja yang membuatnya terlihat buruk.”

Minho memeluknya lagi. “aku tidak peduli itu eomma..”

 

Mianhe, Appa

Oh Minjung membuka lagi dan lagi selebaran yang kini menumpuk di meja kerjanya. Saat- saat seperti ini terkadang membuatnya ingin mati saja. Pekerjaan yang menuntut dan pikiran yang terpecah- pecah. Sesekali bibirnya kumat- kamit membaca berkas itu dengan saksama. Tapi detik selanjutnya gadis itu menyerah. Dengan nafas tercekat gadis cantik itu melempar berkasnya ke meja yang berantakan. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang nyaman. Tangan kirinya terangkat untuk memijat pelan pelipis kirinya yang berdenyut sedari tadi.

Dan kini, ponselnya berdering. Jika saja yang menelepon bukan anaknya. Untuk apa dia susah- susah mengangkatnya.

“ne Minho-ya..” sapa Minjung ramah. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman manis yang sangat tulus. Suara ceria Minho di ujung telepon membuatnya tertawa pelan. “ne, arra arra. Sepulang kerja eomma akan belikan komiknya. Kau jaga dirimu ya? Jangan lupa kerjakan PR , sebentar lagi eomma selesai…” Minjung tersenyum lagi mendengar suara sang anak. Dirinya sesekali mengangguk walaupun Minho memang tidak bisa melihatnya. “ne, kau tunggu eomma ya? Ne, Annyeongg..!” Minjung menutup teleponnya. Ditatapnya layar flat smartphonenya yang kini menampilkan wallpaper foto dirinya dan Minho. Minho sangat tampan. Bagi Minjung, Minho lah lelaki paling tampan yang pernah ditemuinya, bukannya melodramatis. Tapi bagi seorang ibu, bukankah anaknya adalah satu- satunya yang terindah ?

“Oh Minjung,” panggil seorang wanita setengah baya di ambang pintu. Rambutnya dipotong pendek nyaris seperti potongan pria. Kendati seperti itu, wanita itu terlihat sangat cantik dengan mata bulan sabitnya.

Minjung mengalihkan pandangannya dari smartphonenya. Bibirnya tersenyum kecil, sebuah senyum kelelahan. “ada apa eonni ?”

“ada job besar untukmu.” Wanita yang dipanggil eonni itu berjalan cepat ke meja kerja Minjung. Dengan sekali gerakan mendudukan dirinya di sofa. Minjung hanya mendesah.

“job besar apa? job- jobku yang lain bahkan belum sempat aku sentuh.” Jawab Minjung risih sembari melirik tumpukan berkas di mejanya.

“percaya padaku, yang ini benar- benar luar biasa.”

“Sujin Eonni, aku lelah. Anakku juga nampaknya butuh lebih banyak perhatian dariku akhir- akhir ini.” Minjung bangkit dari kursinya lalu berjalan kearah sofa. Rambutnya kini sedikit teracak membuktikan hari ini dia sudah bekerja keras.

“yang itu kan jangka panjang. Job yang ini jangka pendek. Bukunya akan diterbitkan bulan ini juga.” Wanita cantik bernama Sujin itu tidak menyerah. Minjung hanya mengangkat bahunya.

“kenapa tidak Eonni saja yang mengambil job itu?”

Sungjin memutar bola matanya. Selembar rambut yang menggantung di alisnya dia sampirkan kebelakang telinga. “bahkan pekerjaanku, lebih banyak dari pekerjaanmu itu.” Wanita itu menunjukkan kuantitas pekerjaannya itu dengan merentangkan tangannya lebar- lebar.

Lagi, Minjung menghela nafas. “kira- kira berapa ?” Tanya Minjung menyerah. Tangannya terangkat lagi untuk memijat pelipis kirinya.

Sungjin tersenyum menang. Bibirnya tertarik dan menampilkan sebuah senyuman lebar yang menawan. “aku yakin kau akan kaget, percaya padaku Minjung. Kali ini bukan buku biasa. Buku Autobiografi.”

Minjung mengangkat sebelah alisnya. Kepalanya menoleh kebelakang dan detik selanjutnya tubuh rampingnya kembali berjalan ke meja kerjanya yang semrawut. “siapa ?”

“pengusaha Kim. Kau tidak tahu? Dia baru saja pulang dari New York kemarin. dan kau adalah editor bukunya. ”

“seberapa hebat pria itu sampai- sampai bukunya sangat dinanti ?” Minjung mulai membereskan tasnya. Berniat untuk bergegas pergi dan segera memeluk Minho kecilnya di rumah.

“pengusaha muda yang kaya. Putra konglomerat ternama Korea Selatan. Dia juga, tampan.” Jelas Sungjin berbinar. dirinya kini sudah berdiri di samping Minjung yang terdiam. Terlihat tengah berfikir keras. “FIX, You Got it!!” seru Sungjin lagi. Detik selanjutnya gadis itu sudah menghilang di balik pintu. Minjung hanya memejamkan matanya sesaat. Berusaha menarik nafas dengan normal.

“hari- hari selanjutnya akan sangat melelahkan.” Gumam Minjung lemah. Yang terdengar selanjutnya hanyalah suara pertemuan sepatu heels dan lantai yang menggema di seluruh ruangan.

 

Mianhe, Appa

“kau yakin ini tempatnya ?” Minjung bertanya pada Sungjin yang kini tengah asyik dengan gadgetnya. Sungjin hanya mengangguk, matanya tetap terfokus pada layar datar yang terus bergerak saat telunjuk gadis itu menyentuhnya. Minjung mengerutkan bibirnya. Diteguknya lagi Moccacino yang sedari tadi menghangatkan perutnya. “tapi kenapa lam – ”

“itu dia, astaga itu dia.” Desis Sungjin ribut. Dia mematikan gadgetnya lalu berdiri. Minjung hanya menatap Sungjin bingung. Gadis itu sudah siap sedia dengan senyuman manisnya. Sungjin menatap seseorang di ambang pintu café dan Minjung mengikuti arah pandangnya. Seorang pria bersetelan jas hitam rapi lengkap dengang jam tangan rolex dan kaca mata hitam yang berkilau kini tengah berjalan kearah mereka. Mempesona. Sangat mempesona. Minjung ikut berdiri saat pria itu sudah sampai dihadapannya. Sedikit menunduk untuk memberi hormat.

Pria itu mengulurkan tangannya, Sungjin tentu saja yang lebih dulu menjabat tangannya. Dan ketika giliran Minjung, gadis itu terdiam sejenak. Dalam diam mulai menjabat tangan pria itu dan lagi- lagi gadis itu tertegun. Sengatan listrik rendah menjalar dari tangannya. Sentuhan hangat itu, entah kenapa membuat matanya ingin menangis. Tapi kenapa? Apa Minjung mulai gila?

Setelah dipersilahkan, ketiganya terduduk. Minjung terus menunduk dan terus berusaha mengingat tepatnya dimana dia pernah merasakan jabatan tangan seperti itu. Dalam lamunannya, seketika dia terkejut. Sungjin menyenggol perutnya dan memelototinya sembari mengucapkan sesuatu dengan bibirnya. Minjung hanya balik berbisik . ‘apa?’

“perkenalkan namamu.” Titah Sungjin dari sela- sela giginya. Minjung terlonjak sesaat lalu menatap pria yang tampak tengah kebingungan itu dengan tenang.

“halo, saya ditugaskan untuk menjadi editor anda. Nama saya Oh Minjung.”

Pria itu terhenyak sesaat. Tubuhnya yang semula bersandar kini tertarik kedepan dan gerak- geriknya menjadi gusar. Nafas pria itu tercekat dan entah kenapa dia merasa ruangan menyempit dan hanya dirinya dan gadis itu yang ada didalamnya. Matanya mulai mengabur tapi sosok gadis itu tetap terlihat lebih jelas dari yang lainnya. Minjung hanya diam menanti respon sang Pria. Pria itu tetap setia dengan keterkejutannya. Dia sempat tidak menyadari Sungjin izin ke toilet dan sialnya kini hanya dia dan gadis bernama Oh Minjung itu disini. Perlahan, tangannya melepas kaca mata hitamnya. Ditatapnya wajah cantik Minjung dengan saksama. Bodohnya dia juga yakin bahwa inilah Minjung yang pernah dikenalnya.

Minjung mendapati tatapannya bertemu dengan pria itu. Lagi, sengatan listrik menjalar dari sana. Tapi Minjung tidak begitu menggubrisnya. Gadis itu menyipitkan matanya dan berusaha mengingat lebih jelas tentang wajah pria gadis itu. Satu, dua, tiga. Keduanya terhuyung ke sandaran. Tangan kedua orang itu bergetar. Dan Minjung sepertinya sebentar lagi akan menangis.

Dalam diam, pria itu menarik tubuhnya. Menatap malu gadis cantik itu. “Oh Minjung, kau mengingatku?”

Berbagai memori kembali berkelebat di benak gadis itu. Semuanya terputar lagi seperti video acak yang pelan- pelan mencekik lehernya. Gadis itu kian terpojok dengan situasi ini, dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Gadis itu berusaha bersuara dengan tenggorokan yang bergetar. “Kim Joonmyun, kau kah itu ?”

Mianhe, Appa

FLASHBACK

Minjung mengepalkan tangannya kuat. Sedari tadi, keringat dingin terus bergantian membasahi pelipisnya. Inginnya dia pingsan, atau bahkan mati sekalian. Tapi faktanya kini dia hanya diam membeku di ruangan kosong ini. Interior yang klasik cukup membuatnya lebih tenang, tapi menyadari siapa yang memiliki ruangan ini membuat gadis berusia dua puluh satu tahun itu merinding dan bergidik.

Pintu terbuka, membuat gadis cantik itu menoleh dan nyaris kehilangan kesadarannya. Kim Joonmyun menatapnya dengan mata tak terbaca. Minjung jelas tahu apa maksudnya.

“Joonmyun ?” Tanya Minjung gelisah. Joonmyun menutup pintu lalu berjalan kearahnya. Kepalanya tertunduk dan Minjung tahu air matalah yang sedang disembunyikan pria itu. “sudah kuduga.” Gumam Minjung kepada dirinya sendiri. Joonmyun mengangkat kepalanya.

“maafkan aku, tapi – ”

“mereka tidak menyetujuinya?” potong Minjung segera. Urat nadinya menegang dan kini tubuhnya sudah bangkit dari sofa. “ah itu tentu saja, memangnya siapa aku? Mana mungkin anak rendahan seperti aku bisa – ”

“hentikan omong kosongmu. Berhenti merendahkan dirimu sendiri. Kau fikir hanya kau yang terluka?” potong Joonmyun lagi dengan mata berkaca. Pria itu gemetaran. Minjung hanya mendesah. Sebulir air mata mengalir dari kelopak matanya.

“lupakan saja, semua yang pernah ada diantara kita. Kumohon lupakan saja,”

Joonmyun meraih pundak sang gadis. Mengguncangnya perlahan. “apa yang kau katakan? Kau gila?”

Dengan segenap kekuatan gadis itu tertawa miris. “ya, aku gila dan kau bodoh Kim Joonmyun,” saat itu juga sekeping cinta dalam hati sang gadis perlahan pecah dan membaginya menjadi beberapa potongan yang lebih kecil. Lagi, Minjung tertawa. “aku lelah, setiap hari meminta izin dan orang tuamu tidak juga melihat itu. Kau pikir hidupku apa? terus menjadi wanita panggilanmu yang kau butuhkan kapanpun kau mau? Kau tahu Kim Joonmyun, aku muak! Aku memang hanya seorang pelacur. Tapi setidaknya, aku masih punya kesempatan dari secercah masa depan yang menantiku. Dan itu, tidak ada bersamamu. Kumohon lepaskan aku. Segala yang pernah kita lakukan. Kumohon anggap saja itu mimpi buruk. Aku, akan sangat berterimakasih jika kau melakukan itu.”

Gadis itu meraih tas tangan merah mudanya. Perlahan tubuh ringkihnya berjalan meninggalkan Joonmyun sendirian. Pria itu hanya mematung. Kata- kata sang gadis cukup membuatnya terluka. Bukan tentang dirinya. Tapi tentang gadis itu, berapa banyak aku melukainya?

Mianhe, Appa

 

Hujan turun lagi. Berbagai warna payung menghiasi gerbang sekolah karena anak- anak kecil itu dengan riang memakainya. Mobil Chevrolet hitam berhenti di depannya. Di dalamnya, Minjung dan Joonmyung masih dalam kebisuan mereka. terlalu canggung bahkan sama seperti Sembilan tahun yang lalu.

“dia sekolah disini?” Tanya Joonmyun serak. Suaranya sedikit bergetar dan disadari atau tidak matanya memerah dan berair.

Minjung hanya mengangguk. “kebiasaannya, dia tidak pernah membawa payung. Jadi, saat pulang sekolah hujan seperti ini. Dia akan menungguku menjemputnya. Suatu hari aku lupa menjemputnya, dia menangis karena diantar pulang oleh satpam. Dia adalah anak yang kuat.” Minjung mengakhiri kalimatnya dengan seberkas senyuman kecil terpatri di bibirnya. “dia pasti kedinginan.” Minjung membuka pintu mobil lalu menerobos derasnya hujan. Bertindak cepat, Joonmyun cepat- cepat menyusulnya dengan sebuah payung hitam yang cukup besar. keduanya berjalan sembari berdiam. Terlihat seorang anak kecil tengah menengadah menatap langit dari balkon sekolahnya. Minjung tersenyum lagi, sebulir air mata mengalir dari kelopaknya.

“Minho-ya..” panggil Minjung sesaat setelah mereka sampai. Minho tersenyum seperti biasa. Tapi kemudian menatap Joonmyun bingung.

“tuan Kim ?” Tanya Minho pelan. Joonmyun hanya tersenyum. “mengapa kau datang dengan ibuku?”

Joonmyun tersenyum lagi. Kali ini senyumnya terlihat pilu dan dia malu akan hal itu. “Minho- ya..” suara pria itu bergetar dan Minjung menarik Minho kepelukannya. Perlahan tubuh Minjung merosot dan menatap anaknya penuh sayang.

“kau ingin tau appa mu? Kau ingin lihat appa mu kan?” Tanya Minjung pelan. Minho hanya terdiam memandangi sang ibu bingung. Joonmyun ikut berlutut di depan Minho.

“Kim Minho, pantas saja aku pernah merasa kau mirip dengan dirinya.” Joonmyun menunduk. “aku minta maaf,aku adalah pria pengecut.”

“eomma, dia kenapa berbicara seperti itu?” Minho menarik- narik ujung baju ibunya. Sang ibu hanya tersenyum sembari menangis.

“dia ayahmu.”

Minho terdiam. Anak itu menatap sang ayah tidak percaya. Tubuhnya mundur selangkah. “dia ayahku? Lalu kemana saja dia selama Ini? Dia tidak menyukaiku? Kenapa kau baru muncul sekarang? Kenapa kau membiarkan eomma merawatku sendirian ? ”

“Minho tidak boleh bicara seperti itu. ” Minjung tersenyum dipaksakan. “eomma yang dulu menyuruhnya pergi, appa mu tidak bersalah. Eomma yang bersalah.”

“tidak eomma, jika dia ayahku. Tentu dulu dia tidak akan menyerah saat eomma menyuruhnya pergi. Eomma, ayo kita pulang.” Minho mulai merengek. Minjung tahu jelas kini anaknya tengah menahan tangis.

“maafkan appa Minho-ya, appa bersalah.”

“kata maaf tidak akan merubah apa- apa. eomma aku mau pulang..” Minho mulai menangis. Minjung menarik anaknya kedalam pelukannya. Dalam diam Minjung mengelus rambut sang anak.

“katakan maaf pada appamu. “

“aku tidak mauu..” rengek Minho ditengah tangisannya.

“dulu aku memang pengecut. Aku terlalu takut menghadapi dunia dan membiarkan kalian menghadapinya sendiri. Dulu aku terlalu bodoh dan karena itu aku mungkin tidak pantas dipanggil ayah. Maafkan aku, jika aku bisa menebusnya – ”

“eomma.. aku mau pulang..”

Kedua orang tua itu terdiam. Meresapi tangisan sang anak yang mungkin saat ini tengah terguncang.

“kau ingin aku pergi ?” Tanya Joonmyun pelan. Suaranya sedikit teredam oleh suara hujan yang deras. “kau ingin aku kembali ke New York ?”

Hanya dijawab oleh suara tangisan. Perlahan pria itu bangkit dari posisi berlututnya. Pundaknya merosot dan pria itu ingin sekali menangis karena penolakan anaknya. Tapi detik selanjutnya pria itu tertegun. Sebuah tangan mungil menggenggam tangannya. Joonmyun menatap tangan mungil itu. Minho tengah menatapnya cemberut..

“Mianhe Appa..” ucap Minho bergetar.

Joonmyun tersenyum. Ditatapnya sang anak dengan penuh cinta. “aku mencintaimu Minho.”

“Minho hanya mencintai Eomma.”

Mianhe, Appa

“Eomma yakin akan baik- baik saja?” Kim Minho menatap sang ibu yang berdiri di sampingnya. Hari minggu kali ini akan dihabiskannya bersama sang Appa. Segelintir dedaunan musim gugur terbang melewati keduanya. Angin pun tak kalah ribut mengacak rambut sang ibu.

Minjung tersenyum penuh arti. “baik- baiklah disana, kau tidak boleh nakal !” gadis itu mengelus rambut hitam sang anak penuh sayang. Minho cemberut.

“dia selalu memaksaku mengatakan aku mencintaimu.” Gerutu Minho kesal. Anak kecil itu hari ini tampak sangat menggemaskan dengan kemeja biru tosca dan celana jeans hitam yang rapi.

Tak selang beberapa waktu. Sebuah mobil Ferrari hitam berhenti dihadapan mereka. garis cemberut di bibir Minho kian menjadi dan lebih menjadi lagi.

“Annyeong Minho-ya..” sapa Joonmyun di detik saat dirinya keluar dari dalam moil mewah itu. Minho tidak begitu menggubrisnya. Dia hanya menatap sang ibu yang tampak sedikit sedih. “setidaknya kau jawab sapaanku..” kali ini Joonmyun sudah berlutut dihadapan pria itu. Lagi, Minho tidak mendengarkannya.

“Kim Minho, eomma masih ada urusan. Kau baik- baiklah dengan appa. Aku harus segera pergi.” Minjung mundur selangkah. Menampilkan sebuah senyuman khas yang menenangkan. “aku titipkan dia, jaga baik- baik.” Kali ini pernyataan gadis itu ia tujukan pada Joonmyun. Joonmyun hanya mengangguk mantap. Minho melambaikan tangannya dan perlahan punggung sang ibu mulai menjauh dan hilang di keramaian.

“Ya!~ Kim Minho. Kutanya kau untuk yang kesekian kalinya. Siapa orang pertama yang kau cintai?”

Minho memutar bola matanya. “Eomma.”

“orang kedua ?”

“Eomma.”

Joonmyun menggaruk rambutnya kesal. “bagaimana dengan orang ketiga ?”

Lagi, Minho mendelik pada ayahnya. “tentu saja eomma .”

Joonmyun menyerah. Perlahan bangkit dari posisinya dan menatap udara kosong di sekitarnya.

“coba kau Tanya aku siapa orang keempat.” Cela Minho saat ditatapnya sang ayah mulai putus asa. Jonmyun mengangkat sebelah alisnya.

“siapa orang keempat yang kau cintai ?”

“Appa.”

Mianhe, Appa

 

Kim Minho berkutat dengan peralatan belajarnya. Sebuah lagu klasik menggema di apartemen kecil itu. Sang ibu duduk di sofa dekat jendela. Memperhatikan sang anak yang tampak larut dalam dunianya. Minjung pucat kali ini. Beberapa hari kebelakang dia selalu memuntahkan kembali makanannya dan perutnya selalu seakan melilit dan memaksanya untuk berteriak.

Tapi itu tidak dilakukannya, wanita kuat itu selalu tersenyum bahkan ketika kuku – kuku menancap di telapak tangannya –menahan sakit.

Gadis itu merasa lega, setidaknya kini anaknya sudah menemukan masa depannya. Joonmyun sudah kembali dan senantiasa merawat anaknya. Jadi, dirinya tidak perlu mati dengan perasaan khawatir.

Minho akan baik- baik saja,

Mata gadis itu menutup sekilas, entah kenapa kantuk yang dirasakannya kali ini benar- benar luar biasa menyusahkan. Inginnya dia menatap anaknya lebih lama. Inginnya dia memeluk anaknya lebih lama –tanpa jeda.

“eomma?” suara kanak- kanak sang anak kini sepenuhnya membuat mata Minjung terbuka lagi. Pandangannya kabur, paras tampan malaikat kecilnya kini menjadi blur dan itu sangat menyakitkan. Minjung susah payah tersenyum. Lagi, tangannya terkepal seiring dengan rasa sakit di perutnya.

Minho balas tersenyum. “eomma kau pucat, apa kau sakit ?” Minho kini memanjat kepangkuan ibunya. Tidak sadar hal itu membuat sang ibu lebih kesakitan saja. Senja di ufuk barat menyinari kedua pasang anak dan ibu itu seperti dalam cerita.

“Minho-ya, kau adalah anak yang kuat. Kau tahu, kau akan berjanji padaku tidak akan pernah menangis bukan ?”  Minjung membuka kepalan tangannya, menggantinya dengan menggigit bibirnya keras. Minho memeluk ibunya, mengalungkan kedua tangannya pada leher sang ibu yang wangi. Minjung balas memeluknya, tidak begitu erat. Menyesuaikan diri dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Aku tidak akan menangis, aku tidak akan melakukan apa yang membuat eomma sedih. ”

Sang ibu tersenyum kecil, matanya terus memaksa untuk menutup dan dia menyerah. Dalam nafas terakhirnya. Minjung bergumam. “ingat itu dan aku mencintaimu – ”

“aku juga mencintai eomma, eomma akan tetap bersamaku sampai aku besar dan menjadi orang sukses. Aku akan belajar lebih giat dan menjadi orang kaya seperti appa. Aku akan membawa eomma berlibur dan membelikan eomma peralatan masak yang lebih bagus.” Racau sang anak dengan ibunya yang sudah sedari tadi terdiam. Keheningan yang panjang membuat anak kecil itu megerutkan dahinya. Perlahan dia menarik tubuhnya dari tubuh ringkih sang ibu.

Ditatapnya sang ibu, matanya tertutup. Dadanya tidak naik turun lagi. Dan bibirnya tersenyum damai. “eomma kau tidur?”

Tidak ada jawaban, hanya suara klakson mobil di jalan raya yang menyahut lewat jendela. Ditatapnya lagi sang ibu yang cantik. tubuhnya tidak bergerak bahkan saat Minho menggoyangkannya pelan. Kulit putih ibunya sedingin es, dan itu membuat Minho sedikit panik. Anak kecil itu mencium bibir sang ibu, lalu kedua pipinya. Dan kemudian mematung karena bahkan saat dia sudah melakukan jurus yang biasa dia lakukan saat ibunya sulit bagunpun kini tidak menghasilkan apa- apa. Minho berusaha untuk bersuara, tapi pita suaranya mendadak kaku dan dia tidak mendengar apapun dari mulutnya. Minho memeluk ibunya lagi. Menghembuskan nafas kecilnya di leher sang ibu. “Eomma..”

 

Mianhe, Appa

Joonmyun menatap pilu sang anak yang kini menggenggam tangannya. Anak kecil itu hanya terdiam, mematung menatap foto ibunya yang kini sudah berhias rangkaian bunga. Dia terlalu belia untuk mengenal hal ini. Beberapa orang berpakaian hitam sesekali mengusap rambutnya dan memeluknya. Joonmyun bahkan terlihat payah karena dia terus menangis dan anak itu tidak juga menitikkan air matanya. Joonmyun membawa sang anak kepangkuannya. Minho hanya diam, menatap ayahnya dalam kebisuan.

“kau baik- baik saja ?” suara Joonmyun sepertinya hanya satu- satunya suara yang direspon oleh anak itu. Minho menggeleng pelan, tanpa kata- kata.

“kenapa kau tidak menangis ?” kali ini Minho menunduk, memelintir dasi hitam sang ayah dengan tangan mungilnya. Dia kemudian menatap ayahnya dari balik bulu mata.

“aku sudah berjanji pada ibu, aku tidak akan menangis.”

Sebuah kalimat yang keluar dari mulut mungil sang anak membuat Joonmyun tertegun. Pria itu menelan air liurnya paksa. Entah kenapa nafasnya mendadak sesak. Sesuatu menyeruak lagi dari pelupuk matanya. Joonmyun menangis.

“itu sangat sulit. Kau bisa menangis sekarang.”

Minho hanya menggeleng. Inginnya dia juga menangis dan meraung di depan ibunya tadi sore, tapi dia sudah berjanji.

“kalau begitu menangislah untuk hal yang lain, jangan tahan air matamu seperti itu.”

“apa yang bisa kulakukan untuk hal yang lain appa ?”

Joonmyun terdiam, pria itu menatap udara kosong di samping kirinya. Dia lalu menoleh lagi. Ditatapnya sang anak dalam diam. perlahan, tangannya meraih tangan sang anak. Detik selanjutnya, dia memukulkan tangan sang anak kewajahnya. Tidak keras, tapi air mata terus mengalir dimata Joonmyun. Sang anak melihat wajah ayahnya yang dipukulnya dengan paksa. Dia berusaha untuk menarik tangannya, tapi genggaman sang ayah lebih kuat. Tangannya baik- baik saja, tapi dia khawatir dengan pipi sang ayah yang mulai memerah. Minho berteriak keras.

“Hentikan appa!!” bocah itu merengek- rengek ingin menghentikkan tangannya. Tapi Joonmyun terus memukulkan tangan Minho kewajahnya. “aku mohon hentikan!” pekik Minho lagi.

Kali ini Joonmyun mendengarkannya, perlahan dilepasnya tangan sang anak. Dia mengelus-elus tangan mungil itu dan terus mengusapnya. Sama sekali tidak peduli pada pipinya yang memerah.

“apa yang kau lakukan?” Minho menarik tangannya lalu menyentuh wajah sang ayah yang memerah. Disentuhnya hati- hati kulit kemerahan itu sebulir air mata sudah bertengger di pelupuk mungilnya. Joonmyun tersenyum.

“jika ibu melarangmu menangisinya, sekarang kau bisa menangis untuk ayah. ”

Detik itu juga, Minho memeluk sang ayah. Membenamkan kepalanya di dada sang ayah dan menangis sekeras- kerasnya. Joonmyun mengelus kepala sang anak. Tangisan Minho membuatnya lega. Setidaknya anak kecil itu tidak terus menyimpan sesak di dadanya sendirian. Biar saja anak itu menangis, menangis untuk ibunya. Siapa peduli dengan ayahnya? Ibunya pergi dan ayahnya hanya memiliki bekas kemerahan di pipinya.

“Mianhe appa – ” Minho berkata disela tangisannya. Joonmyun hanya diam. kesekian kalinya mengelus rambut sang anak.

 

Mianhe, Appa

 

Minho –ya .. ini ibu, maaf jika aku terlalu cepat melepaskan tanganmu..

Harusnya, aku ada disana saat kau terjebak hujan di sore hari..

Harusnya, aku memelukmu saat orang- orang mengatakan hal buruk..

Tapi sekarang, mungkin aku tidak bisa lagi..

Walalupun tidak ingin, sudah saatnya aku melepaskan tanganmu..

Tapi tenang saja, aku menyerahkan tanganmu pada orang yang tepat..

Jadilah anak yang berbakti baginya, walaupun sulit –kau pasti bisa melewatinya..

Aku mencintaimu, bukan sebagai seorang Oh Minjung atau seorang editor, tapi sebagai seorang ibu yang akan selamanya bersama dirimu..

Percayalah, sekarang aku ini angin..

Jika kau merindukan suaraku, panggil aku dalam hatimu dan saat angin menggelitik telingamu, itulah suara baruku..

Jika kau merindukan pelukanku, rentangkan kedua tanganmu dan saat angin berdesir, itulah pelukan baruku..

Dan saat seolah- olah kau sulit bernafas karena dunia, hiruplah apapun sekuatnya dan ketika angin menerpamu.. sesungguhnya disanalah aku..

Menjadi pelindungmu,

Minho –ya, Ibu Mencintaimu..

 

`                                                                              –Oh Minjung

 

END

Note : kalau ada yang gak ngerti, ceritanya Joonmyun mukulin wajahnya pake tangan Minho itu biar Minho nangis. Jadi seolah- olah Minho nangis karena dia udah mukulin ayahnya, padahal sebenarnya itu hanya sabotase. Minho sebenarnya nangisin ibunya. Joonmyun Cuma jadiin dirinya sendiri alibi biar Minho mau nangis. Kan kasian anak kecil kehilangan ibunya dan terus nahan tangis T_T

BTW, Thanks udah baca J

11 thoughts on “[FF Freelance] Mianhe Appa

  1. Aaaaaaaa, sumpah ini ff bikin aku langsung terharu pas baca. Biasanya gak pake berair gini mata kalo bca ff.
    Kirain bakal happy ending, tapi jadi sad tibatiba gara2 minjungnya meninggal
    Huaaaa
    Setuju thor, kasihan anak kecil harus nahan tangis gitu, pasti sakiiiit banget deh

    • Garagara terharu jadi lupa mau komen apa
      Pas baca paragraf awal kirain bakalan klasik bangt ceritanya. Ayahnya nemu, trus rebutan anak ato awalnya ketemu berantem trus rujuk
      Tapi ternyata enggak, jadi rujuk baik-baik, malah anaknya yg susah
      Tapi bagian itu manis banget jadinyaa, walopun akhirnya sedih banget T.T
      Well, I like it😀

  2. nangisnya parah TT^TT ini gak bohong. dr awal baca pas minho dijemput ibunya sampe akhir cerita, air mata gak berhenti keluar. ditambah dgn dengerin lagu k-ballad yg liriknya sedih, bikin makin berasa. kejamnya hidup yg dialami anak sekecil minho. disaat lahir cuma sama ibunya, skrg malah pas udh ketemu ayahnya malah ibunya yg hrs pergi. emg sih agak gmn dgn karakter minho yg msh kecil tp jd dewasa bgt, tp tetep suka krn dibalik sok kedewasaannya demi sang ibu, msh ada sikap kekanakannya. daebak ff nya

  3. pertamaaaa mau bilang makasihhhhh banget udah bikinin ff yg cast nya joonmyun oppa, kyaaaa senengg bangetttt!!
    keduaa, ff nya kerenn banget!! udah cukup jelas alurnya cuma perlu ditambahin tuh, misalnya pas si oh minjung nya tiba2 meninggal? itu kenapa bisa meninggal? dialurnya cuma dijelasin sakit perut aja.. harusnya lebih detail lagii yaa.. trus awalan aku mikir klau joonma oppa itu nappeun namja, tapi setelah baca ternyata enggak hehe😀 joonma aku masih unyuu ih, ga boleh digituin😀
    pkoknya the best banget lahh, semangat terus bikin ff nya hehe😀 lovee you!!
    ps: bakal kangen banget masa2 osis tahun kmarin, ngobrol – ngobrol.. skrg mah gaadaa😥 berarti boleh request ff lagi? *tabok* GBU!!😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s