[FF FREELANCE] Your Kiss Is My Camera (2)

Tittle: Your Kiss Is My Camera (chapter 2 dari sekian)

Cast:- Park Chanyeol as Chanyeol/ Park Dobi..

–          Kim Nana as Nana (OC)..

–          Wu Yifan as Kris..

Length: chapter..                                

Genre: sad, romance, gaje, rancu, dan eupleu.. 😀

Rating: PG-15+

Author: AISYAH NURHALIDA (AIKYU)..

Soundtrack: -EXO-Don’t go..

                   -EXO-Peterpan..

                   -EXO-Baby (all of them is korean version)

Summary: ”a memorize doesn’t need to remember, but you just have to feel it

 

 

 

hfg

 

 

 

 

 

 

 

***

*Nana POV*        

Aku berjalan seperti orang gila. Tersenyum sendiri, bicara sendiri, dan mengetuk-ngetuk kepalaku dengan tangan sedang mulutku tak henti berkata pabbo. Pada siapa?. Tentu saja pada “AKU”. Bodohnya Nana. Kenapa tak ada hal baik yang kau perlihatkan padanya. Kau tampak seperti badut di hadapannya tadi. AISHH!,

Ada apa sebenarnya denganku. Meski baru pertama kali bertemu, tapi aku seolah sudah mengenalnya dengan baik. Senyum itu, seakan tak asing. Dan kenapa hatiku berkata dia adalah orang baik yang tuhan takdirkan hari ini untuk bertemu denganku. Andwae..andwae..!!. Jangan pernah jatuh cinta lagi Nana. Ingatlah, tuhan tak pernah berbuat baik pada kisah cintamu. Saat cintamu sudah benar-benar tinggi kadarnya untuk seseorang, penciptamu itu selalu membawanya diam-diam ke surga. Mahal sungguh memang harga yang harus aku bayar untuk sebuah “cinta”. Lain kali aku akan berdo’a lebih giat, supaya tuhan tak memberikan hatiku ini rasa cinta kalau harus selalu ditinggal mati pada akhirnya. Lupakan. Lupakan.

*Author POV*

Orang bilang insting wanita itu adalah yang terbaik. Coba tebak, insting Nana ternyata tak meleset. Tuhan membuat semuanya mudah. Sesampainya di rumah. Orang tua Nana membuat ruang tamu menjadi tempat sidang yang sempurna. Pertanyaan kedua pasangan setengah baya itu mengalir tak henti menanyakan identitas Chanyeol. Tentu saja Nana tak banyak bicara, karena kenyataannya pria itu baru tadi siang di temuinya dan langsung ia ajak “berbisnis” begitu saja. Tuan dan Ny.Kim terlihat sangat tertarik pada Pria di foto yang diberikan 2 pengawalnya tadi siang. Ny.kim bahkan tak sabar untuk bertemu dengan pria itu langsung. Dan BINGGO!, itu dia masalahnya. Artinya Nana harus bertemu lagi dengan Chanyeol, dan kali ini mungkin akan lebih rumit dan panjang. Berbohong memang hal yang buruk. Nana harus menyiapkan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

_TITA_

“ya, ireona!, hobi sekali tidur di kursi taman. Apa tidak pegal posisimu duduk seperti itu.”

Omel Nana yang sudah berada tepat di samping Chanyeol di tempat yang sama seperti kemarin. Ini lebih seperti dejavu.

“sSstt!, jangan bicara dulu, diamlah. Lakukan seperti yang aku lakukan. Dengarkan, jangan lakukan apapun selain mendengar.”

Suruh Chanyeol cepat. Tanpa izin sang pemilik Chanyeol sudah memegang erat tangan Nana yang memang hanya berjarak sekitar 10 senti darinya. Rupanya dia sudah tahu pasti  itu suara Nana. Nana membulatkan matanya kaget. Memandangi tangan Chanyeol yang menggenggam tangannya erat, lalu berpindah ke wajah tenang Chanyeol, wajah itu di perhatikan Nana sampai akhirnya ikut memejamkan matanya bersama Chanyeol.

“eoh, baiklah.”

Singkatnya, 30 menit berlalu tanpa terjadi suatu apapun antara mereka. Posisi tangan Chanyeol bahkan masih saling memeluk dengan tangan Nana. Tapi itu tak bertahan lama, pertanyaan bodoh Nana meluncur dengan polosnya.

Nana menggoyang-goyangkan kakinya yang pegal, bayangkan saja, dia harus diam 30 menit. Helooooww!!,-_-

“Chanyeol-shi, berapa lama lagi aku harus melakukan hal membosankan ini?, apa kau tidak ingin tahu maksud kedatanganku kemari?.”

Tegas Nana masih dengan mata terpejam. Mendadak Nana merasakan Chanyeol melepaskan genggamannya. Merasakan hal itu Nana langsung membuka mata dan mengamati keadaan chanyeol. Takut-takut ia salah bicara dan membuat pria itu tersinggung. Entah kenapa rasa lega menjalari perasaannya saat tahu Chanyeol sedang nyengir ke arahnya.

“chaa.. sekarang katakan maksudmu kemari.”

Chanyeol membenarkan posisi duduknya. Menumpukkan berat badannya di kedua telapak tangannya yang menempel di kursi kayu. Berusaha tampil keren saat mendengarkan gadis di dekatnya bicara.

”berita buruk Chanyeol-shi, orang tuaku menyukaimu.” Kata Nana, lalu menghela nafas panjang. Tahu semua ini akan semakin sulit. Sekaligus takut Chanyeol tak ingin membantunya berbohong lagi. Lalu akan jadi apa film garapannya ini kalau ia kehilangan aktor utamanya. Satu hal yang berkelebat di pikirannya, orang tuanya akan sangat kecewa dan dapat dipastikan ia akan segera diseret ke gereja untuk mengucapkan janji sakral pernikahan, dengan seseorang yang dicalonkan ayahnya. Siapapun dia, huh.

“mmhh, lalu?.” Jawab Chanyeol polos, posisi kepalanya agak miring menghadap Nana.

“ibu bahkan berkata ingin segera bertemu denganmu.” Wajah Nana merengut memasang raut sedih.

“lalu?.” Chanyeol masih bertahan dengan tampang polosnya.

“Aishh!! Sebenarnya terbuat dari apa otakmu itu. Chanyeol-shi eotokhae?.” Keluh Nana sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah pelan.

“kalau begitu lakukan lagi saja seperti kemarin.” Sambung Chanyeol tenang.

“kau tidak marah aku ajak berbohong.” Tanya Nana hati-hati.

“ani, ini mengasyikkan.” Sanggahnya dan tersenyum maniiiiiiiis sekali.

Senyum itu dibalas Nana tidak kalah manisnya. Happy virus Chanyeol berhasil menghilangkan gundah Nana seketika. Padahal Chanyeol tak sedang melawak. Tapi mereka tertawa bersama setelah saling senyum. Tak ada yang perlu  ditertawakan sebenarnya. Yang jelas banyak hal membahagiakan yang meletup-letup di hati masing-masing.

 

                                                                   _TITA_      

Chanyeol mematut dirinya dicermin, membenarkan letak rambutnya yang berdiri, dan mulai menyemprotkan parfum belgio di batang lehernya, jaket baseball hitam corak putih membuat kadar tampannya semakin naik saja. Setelah dirasa cukup, ia bergegas setengah berlari ke luar kamar.

“eomma, appa!!, aku berangkat dulu.” Teriaknya saat berada di pintu depan.

“apa yang dilakukannya akhir-akhir ini?.” Appa Chanyeol bertanya pada Han sora dengan koran di tangannya, sementara wanita paruh baya itu hanya tersenyum sambil membereskan meja makan setelah makan pagi tadi.

“dia sedang jatuh cinta yeobo.” Ucapnya kemudian.

Kerutan di dahi Tuan Park jelas terlihat saat Sora menjawab pertanyaannya.

“apa dia akan baik-baik saja?.” Nada khawatir mengiringi pertanyaan kedua tuan park.

“entahlah, tapi insting –ibu-ku mengatakan takkan terjadi hal buruk padanya.”

Percakapan pagi yang singkat itu diakhiri dengan helaan nafas panjang tuan park.

Sementara di motor Chanyeol tak henti bersiul senang. Belum pernah ia sesemangat ini menemui seseorang. Tunggu, apa kalian sudah tahu tentang hubungan mereka yang mengalami kemajuan. AISH, aku lupa mengatakannya. Hari ini sebenarnya adalah hari ke-12 mereka bertemu. Kesan baik yang ditunjukkan Chanyeol saat pertama kali bertemu dengan ayah dan ibu Nana, membuat mereka harus terus berbohong menjadi sepasang kekasih di hari berikutnya. Anehnya mereka melakukannya seperti aktor profesional. Selelah apapun mereka berakting, mereka tahu mereka akan dibayar dengan harga yang pantas.

Chanyeol memotret sekeliling dengan kamera yang selalu tergantung di lehernya. Anak kecil yang bermain gelembung, sepasang nenek-kakek yang berjalan bersama anjing kesayangannya, kawanan burung yang membentuk gambar unik di udara, dan objek paling indah menurut si tukang kamera akhir-akhir ini, yaitu gadis cantik berambut coklat sepunggung yang berjalan ke arahnya.

“Chanyeol-shi!!.”

Teriak gadis itu dari jauh sambil melambai. Chanyeol hanya membalas lambaian Nana tanpa berteriak memanggilnya.

“sudah lama menunggu?.”

Nana bertanya saat berada tepat di depan Chanyeol. Hari ini dia tampak cantik dengan kaos putih dan jeans hitamnya. Pakaian favorite Nana yang memang notabenenya agak semi laki-laki(hihihi :D). Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa aksesoris apapun. Dan terakhir, sentuhan kardigan hitam menyempurnakan penampilannya.

“anii, hanya sekitar 2 jam saja.”

Senyum sindir Chanyeol mengena tepat ke ulu hati Nana.

“yak, kau sedang menyindirku?.” Sungut Nana setengah cemberut.

“kalau ada yang merasa tersindir jangan salahkan aku.”

Jawab Chanyeol sambil melipat tangannya di dada, senyumnya mengembang melihat bibir Nana yang makin mengerucut. Hobi barunya saat ini adalah membuat mood Nana naik turun. Menyenangkan bagi Chanyeol jika ia berhasil menggoda Nana. (hihihi)

“baiklah, baiklah tuan titik-titik, untunglah hari ini moodku sedang baik. Jadi apa yang harus kulakukan untuk meminta maaf?.” Baru kencan “gadungan” 12 hari saja Nana sudah memiliki panggilan sayang untuk Chanyeol. Tuan titik-titiknya yang tersayang, oopss!!, apa ini terlalu cepat?, menyayangi partner aktingnya. Sebaiknya ia menyiapkan hatinya kalau-kalau sesuatu yang bernama cinta tiba-tiba datang lagi.

“ahh, percuma saja aku meminta. Bukannya appamu telah membuatkan schedule kencan seperti kemarin-kemarin.” Keluh Chanyeol pura-pura kesal.

Pria bertinggi 187 itu memasang wajah anak kecil. Sungguh memalukan (peace :D).

“benar juga.” Nana mendesah. Keluhannya tak kalah hebat dari Chanyeol, kadang ia bingung. Ayahnya menganggap dia manusia atau boneka?. Dari dulu seenaknya saja membuat skenario hidup untuknya. Tidak cukupkah hanya tuhan yang melakukan itu.

Melihat tampang Nana yang ditekuk membuat Chanyeol segera memberi jalan keluar.‘‘ya sudahlah, Lebih baik jangan melakukan apapun hari ini.”

Ajak Chanyeol lalu mendahului Nana menuju kursi yang biasa mereka duduki. Dan tanpa banyak omong nana hanya mengekor di belakang. Tanpa gadis itu sadari sifat pembangkangnya hilang bersama Chanyeol. Hal positif bukan.(:D)

“memangnya apa yang hari ini appa dan eommamu ingin kita lakukan?.” Ujar Chanyeol penasaran tapi tak terlalu peduli juga.

Nana mengeluarkan secarik kertas dari saku jeansnya dan mulai membaca.

“ sarapan di sebuah toko sandwich, pergi menonton musical, membaca buku di perpustakaan kota, MWO?, Aish eomma, appa, apa mereka tidak tahu buku itu adalah musuhku. Lagipula ini kan kencan. PABBO.” Nana membanting punggungnya ke kursi. Lalu melanjutkan membaca.

“membeli ice cream, dan berikan dia sedikit ciu.. mwo?.” Nana mengucek-ngucek matanya tak percaya dengan suruhan ibu untuk mencium Chanyeol, meski hanya di pipi.

“lanjutkan!.” Perintah Chanyeol.

“ani, hanya sampai membeli ice cream saja. Lalu pulang!!, yee!!..” Nana terlihat tolol saat menyelesaikan kalimatnya. Chanyeol yang tak percaya merebut kertas kecil itu dari Nana.

“dan berikan dia sedikit ciuman di pipi sebelum kau pulang. Oh, aku kira apa. Tenang saja, aku tidak rabies, kau akan tetap hidup setelah menciumku.” Ujar chanyeol tenang, padahal desiran-desiran aneh sedang menjalari tubuhnya.

“dasar pria!, kau mengatakannya seolah mencium itu seringan kentut.” Sontak Chanyeol tertawa mendengar celetukan Nana. Kalimat yang sebenarnya Nana tak berniat mejadikannya lelucon, ternyata malah mengundang tawa Chanyeol yang begitu renyah.

“baiklah nyonya kim, terserah kau saja.” Pasrah Chanyeol pada akhir tawanya saat melihat wajah Nana yang bukan hanya pura-pura marah.

*Nana POV*

JRENG JRENG.. setelah merampungkan kalimatnya Chanyeol diam, dan kami berada dalam keheningan yang cukup panjang. Ah, aku sedikit menyesal mengatakan itu. Tapi alih-alih mencairkan suasana. Aku malah menikmati adegan diam ini. Benar kata Chanyeol, mendengar adalah hal yang luar biasa indah. Aku kini bisa mendengar suara jantungku sendiri. Mendengar ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutku, mendengar darahku mendesir menggelikan. Dengan semua gelagat itu aku yakin, aku telah benar-benar jatuh pada orang ini.

Aku menoleh ke arahnya. Matanya terpejam, lagi-lagi seperti itu. Tapi bibirnya tersenyum, itu artinya dia sedang tidak tidur kan. Aku penasaran apa yang sedang di pikirkannya. Apa aku juga termasuk. Mulai geer lagi -_-.

Baiklah chanyeol, aku akan mulai dengan satu pertanyaan dasar. Kenapa kau bisa sesempurna ini?, kenapa kau bisa cocok dengan kriteria ayah?, kenapa aku bisa menemukanmu di sini saat itu?,  dan kenapa kau seperti magnet untuk besi karatan sepertiku?. oOpSs, apa itu terlalu banyak?, Baiklah, aku akui. Sejak bertemu dengan lelaki di sampingku ini, aku mulai mempertanyakan banyak hal. Ini lebih seperti magis. Semuanya serba kebetulan. Dan harus ku akui aku mulai memperdulikan seseorang selain diriku. Yang paling aneh, rasanya dia berbeda dari 2 pria istimewa sebelumnya. Aku tak pernah berusaha menutupi kekuranganku di hadapan pria ini, aku melakukan apapun dengan pure, tulus, dan tanpa mengada-ada. Meski kami sedang berada dalam situasi serba munafik. Membohongi kedua orang tuaku terutama. Tapi aku melakukannya lebih dari sekedar senang hati. Entahlah, tapi aku rasa pria ini juga merasakan hal sama. Semoga saja.

Dia masih betah untuk tidak melakukan apapun. Diam seperti ini begitu menyenangkan katanya, entah bagian mana yang ia maksud “menyenangkan”. Tapi aku sudah merasakan sedikit efeknya. Meski tak begitu tergila gila pada kegiatan aneh orang ini. Sama seperti dia, aku pun masih betah dengan kegiatanku, yaitu memandangi tiap inci wajahnya.  Kelopak matanya yang agak bulat, pipi tirusnya, pahatan sempurna hidungnya, bibir sedang yang merah, dan dagu belahnya. Ya ampunn, semuanya menjelma menjadi sempurna. Aku terkesima menyaksikan pahatan sempurna tangan tuhan ini. Entah dorongan apa yang membuat aku segila ini, namun sesuatu seperti menyuruhku untuk maju mendekat ke arah Chanyeol, aku yakin ini bukan hanya ilusi, pipi berwarna putih susunya melambai memaksa aku menciumnya. Terlebih karena aku merasa bersalah bersikeras menolak mencium pipinya tadi. TIDAK, aku bukan seorang yadongers, tapi ayolah, ini bukan hal besar. Satu kali iniii saja Chanyeol-shi. Izinkan aku.(:D)

*Author POV

Sedikit demi sedikit Nana mulai bergeser mendekati Chanyeol. Kakinya menghadap ke depan normalnya orang yang sedang duduk, tapi badannya berbelok ke arah Chanyeol. bibirnya bergerak cepat hendak menyentuh pipi Chanyeol, sayang, gerakan itu tak cukup cepat untuk seorang namja. Entah kebetulan apa lagi ini. Tapi saat Nana hampir bisa menggapai pipi Chanyeol, Chanyeol menoleh ke arahnya, dan akhirnya, mereka berciuman.(:D)

Nana langsung menarik diri saat menyadari ia salah sasaran. AISH!, ini memalukan sekali pikirnya. Mata dan bibirnya membulat, blush!!,  dan lihatlah bagaimana ciuman sangat singkat tadi mampu membuat pipinya terbakar seperti sekarang.

Andai ia adalah balon, bisa dipastikan ia akan segera meledak. Bagaimana tidak, Nana bahkan mengalami stroke mendadak, dan masih membatu sampai sekarang. Sontak hal itu membuat senyum menggoda chanyeol mengembang di pipinya.

Dengan sekeping senyum chanyeol mulai menggoda, “Nana-ya, kau kenapa?.”

“…”

“Wae..??.”

“…”

“waeyo, Nana-ya?.” Chanyeol mulai khawatir ada yang tidak beres dengan Nana, senyum menggodanya kian berubah menjadi tatapan khawatir. Karena dari tadi Nana tak merespon ucapannya.

Sejurus kemudian Nana berteriak histeris.

“AAAA!!!!, aku maluuuuuuuu…..!!. jangan melihatku Chanyeol-shi, dan jangan tertawaaa!.”

Nana menggoyangkan tubuhnya frustasi sambil membekam wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Chanyeol mati-matian menahan senyum, tapi tetap saja butir tawanya menderai keluar. Tentu saja hal itu membuat Nana semakin erat membekam wajahnya.

“gwenchana Nana-ya, its ok..” Chanyeol mulai bicara lagi setelah tawanya tuntas.

“jinjja chanyeol-shi aku tak sengaja, aku benar-benar.., aku hanya ingin mencium pipimu, sesuai perintah ibu. Lupakan hal tadi yah. Lupakan, lupakan, huss..huss..”

Tangan Nana bergerak-gerak di sekitar kepala Chanyeol layaknya seorang paranormal yang sedang mengusir roh jahat. Ia berharap dengan melakukan  hal itu Chanyeol bisa melupakan adegan itu. Tapi ekspresi wajahnya cepat berubah setelah menyadari sesuatu.

”atau jangan-jangan, kau tahu aku akan melakukan itu dan sengaja menengok agar aku salah sasaran. Benarkan??. Mengaku Chanyeol-shi!.”

“aniooo… kau kira aku namja macam apa, tadi instingku saja yang sedang bagus.” Chanyeol panik dituduh sebagai pria yadong (macam kai .HAHA.).

“aishh!!, ini memalukan sekali.” Kesekian kalinya Nana merutuki dirinya dan membuat suara seolah ia sedang menangis. Padahal tidak sama sekali. Itu hanya aksinya saat sudah terlanjur malu.

“omo..omo.. lihat ini, gadis mana yang menangis setelah berciu—.”

Nana tahu pasti apa yang akan dikatakan Chanyeol, karena itu tangannya segera sigap menutup mulut orang itu.

“hmmp–. Hmmpp–.” Setelah sekian detik mencoba melepaskan diri akhirnya chanyeol diam, dan itu sukses membuat Nana membuang tangannya dari mulut Chanyeol.

“kalau begitu aku harus bagaimana nona kim?. Aku tidak mungkin meminjam mesin waktu pada doraemon lalu membawamu pergi ke waktu sebelum ciu—,” sadar Nana tak suka kata itu, maka Chanyeol merubah kalimatnya sebelum terlambat “sebelum hal itu terjadi.”

“sudah jangan bahas.” Kata Nana dengan mimik sedikit jinak.

“atau jangan-jangan, tadi adalah yang pertama kalinya untukmu yah?.” Goda Chanyeol.

“baiklah, baiklah, aku ketahuan—. Puas?.” Nana menurunkan suaranya. Ia sudah lelah untuk berteriak-teriak seperti tadi.

Melihat tingkah Nana yang melunak malah membuat Chanyeol ngeri. Kalau gadis ini tak sesemangat biasanya berarti level moodnya memang sedang tak cukup tinggi untuk diajak bercanda atau sekedar menjadi bahan ledekannya.

Baiklah,  Chanyeol mulai menggenjat senjatanya.

“kalau kau benar-benar menyesal melakukannya, ambil saja lagi ciumanmu..”

Kata Chanyeol dengan innocentnya. Lalu menunjuk-nunjuk bibirnya dengan lugu

“ne??, kau bercanda?. Tidak terimakasih.” Chanyeol hanya tersenyum mendapati leluconnya yang meski tak lucu, berhasil membuat gadis disampingnya kembali ke mood asalnya.

_TITA_

 

Mereka berjalan menyusuri pinggir jalan kota seoul. Chanyeol boleh saja menikmati hobby “diam”nya itu di taman. Tapi jangan harap dia bisa berlama-lama diam saat bersama Nana. Tipikal Nana yang kebetulan diciptakan dari baja itu adalah seseorang yang tidak mudah lelah, dan yang paling penting adalah sifat “tidak bisa diam”nya. Maka diajak jalan-jalan sepanjang hari sudah merupakan resiko bagi siapa saja yang sedang berada didekat Nana. Setelah sesekali berdebat kecil, mereka berdua memilih tidak mengindahkan schedule kencan orangtua Nana. Dan berencana pergi kemanapun kaki membawa mereka.  Atau lebih tepatnya kemanapun Nana membawa mereka. Petualangan tanpa rencana, begitulah Nana menyebutnya.

“aku tak pernah melihatmu kuliah?. Apa kegiatanmu hanya berkeliaran di taman dan bersemedi—- emmh—maksudku berdiam diri seperti tadi?.” Nana nyengir, cengiran yang sifatnya memohon untuk dimaklumi, atas pemilihan kata “bersemedi”nya yang kurang layak itu.

Batin chanyeol mengerang, apa yang harus dijawabnya. Pertanyaan Nana mungkin akan menjurus pada penyakitnya kalau ia mengatakan yang sejujurnya, kenyataan pahit bahwa dirinya tak cukup pantas melanjutkan sekolahnya setelah lulus SD.

Pria itu mengintenskan kedipannya sambil memutar otak. “aku—-, aku— se—sedang cuti, ya, cuti”

“oo.. baiklah, berarti kita senasib tuan telinga panjang.” Sebungkus senyum mengakhiri kalimat Nana. Gadis itu benar-benar tak peka pada gugup yang tiba-tiba menyerang Chanyeol. Atau lebih tepatnya tak ada yang lebih ia pikirkan daripada bahagianya berjalan berdampingan dengan Chanyeol hari ini.

Tapi tunggu, tuan telinga panjang. Apalagi ini, benak Chanyeol.

“yak!, putuskan sekarang juga. Panggilan apa yang akan kau gunakan untuk memanggilku. aku tidak punya uang kalau setiap saat harus sukuran ganti nama.” Sungut Chanyeol kesal, karena dari pertama kali bertemu terhitung sudah 3 kali gadis itu seenaknya memanggil.

“waeyooo??.. aku suka semuanya, aku akan memanggilmu sesukaku.” Ujar Nana tak acuh. Padahal semua panggilan itu memiliki alasan. Apalagi yang terakhir. Karena sebenarnya, telinga panjang Chanyeol mengingatkannya pada seseorang. Yang masih sangat dirindukannya, bahkan sampai saat ini.

“dasar tidak sopan!!, umurmu jelas lebih muda 2 tahun dariku.”

“sok tahu!, memangnya umurku berapa?.”

“23.” Kata Chanyeol masih dengan sedikiiiiiit bumbu kesal dimimiknya, dia sibuk memarahi Nana sampai tak sadar jawabannya tadi membuat Nana tertegun dan berhenti berjalan. Gadis itu mencium sesuatu yang aneh. Menakjubkan chanyeol bisa mengetahui umurnya. Dari jawabannya yang meyakinkan tadi, tak mungkin ia hanya mengarang bukan. Pertanyaan yang tadinya digunakan Nana untuk menantang Chanyeol, kini malah balik menyerang akalnya. Ia tak habis pikir, apakah Chanyeol seorang vampire yang bisa membaca pikiran macam edward cullen?. Glek =_=. Jelas itu alasan terbodoh yang mampu Nana pikirkan.

Chanyeol yang menyadari Nana tertinggal di belakang, berbalik dan melihat perubahan sikap Nana, ia langsung menyesali kalimatnya tadi. Nana pasti kebingungan batin Chanyeol. “mian, 2 hari yang lalu aku tak sengaja mengobrak-ngabrik dompetmu..hehe”

Bibir Nana membentuk huruf O tanpa suara. Dan menghembuskan nafas leganya, ternyata chanyeol memang bukan seorang vampire *plakko.O‘

“palliwa !, jalanmu lelet sekali. Padahal kau setengah pria.” Perintahnya, dan lagi-lagi dibalas Nana dengan tanpa suara, namun kali ini bibirnya tampak mengeluarkan “aishh” sambil mendelik.

_TITA_

Ternyata kaki keduanya membawa mereka ke peradaban pasar. Di tempat itu sungguh bising, di sana-sini terdengar hiruk-pikuk tawar-menawar sengit khas pasar. Nana dan Chanyeol bahkan harus saling berbisik saat mengobrol ringan di sela perjalanannya.

Kaki Nana berhenti di toko pakaian, dan matanya terperangkap di sweater abu-abu jajaran pertama tiang gantungan. Jika ini adalah sebuah film fantasi komedi, mungkin mata Nana saat ini tengah bersinar berkaca-kaca, sementara dari mulutnya meluncur banjir bandang air liur. Tch..tch..tch..

Chanyeol yang tak pernah melupakan apapun tentang Nana kecil, tahu pasti mana yang sedang dipelototi Nana diantara semua pakaian bagus itu. Karena itu tangannya sigap menarik satu-satunya sweater abu-abu di sana.

“selalu abu-abu.” Komentarnya memperhatikan sweater itu sambil membolak-baliknya.

“igo, tak ada gunanya kau pelototi, beli saja kalau mau.” Nana masih mematung saat tangan Chanyeol menjulurkan baju hangat itu, gadis itu malah menatap Chanyeol lekat. Ia tak tahu lagi harus mengatakan apa. Sekali lagi Chanyeol membuatnya terpaku, sebab tak banyak orang yang tahu ia menyukai warna elegant itu. Bahkan bisa terhitung oleh jari. Nana merasa ada sesuatu tentang pria ini yang harus diingatnya. Entahlah, semuanya terasa buram. Apakah mereka pernah saling mengenal?.

“sekarang giliran aku yang kau pelototi, ambilah, biar aku yang bayar.” Nana masih diam.

Senyum Chanyeol mulai surut, dan tangannya mulai pegal memegang baju itu. “palli, sebelum aku berubah pikiran.“darimana kau tahu aku menyukai warna abu?, tidak mungkin dari kartu namaku.” Tanya Nana serius, wajahnya menampakkan raut heran yang teramat sangat.

Hening sejenak.

“oh igo—-.” Mata Chanyeol menelusuri lantai dan berfikir keras. Lagi. Lalu tersenyum

“ yak !, mana ada perempuan setengah pria sepertimu yang menyukai warna pink. aku hanya menerka saja, antara hitam, abu, atau pastel. Benarkan?.”

Senyum Chanyeol mengembang menyadari kejeniusannya. Ia tak merasa akan dicurigai, toh alasannya sungguh masuk akal.

Akhirnya kerutan di kening Nana memudar perlahan. Lalu dengan cepat berubah menjadi marah. ” dari tadi kau menyebutku setengah pria. Tak ada panggilan yang lebih baik apa?.”

“ salah siapa saat aku menemuimu tempo hari, bukannya gadis yang sedang menyiram bunga dengan anggunnya yang sedang kujemput. Kau malah dalam keadaan mengerikan, bau, dan berkeringat dengan bola basket—–, dan teman-teman ”pria”mu.” , Tiba-tiba wajah Chanyeol berubah kesal saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

Tapi wajah kesal Chanyeol tak cukup kuat tersurat untuk disadari Nana. Gadis itu malah mengoceh membela diri “mereka bukan teman PRIA ku tuan telinga panjang, mereka saudara-saudaraku dari Amerika, dan rindu bermain basket lagi denganku–. Lagipula apa yang salah dari pemain basket wanita?.”

“gadis normal pasti melakukan hal umum bagi wanita, dan basket bukan salah satunya.” singkatnya

“kau saja yang tak tahu. Di belahan bumi lain banyak atlet sepertiku yang bahkan sudah mendunia. Terlebih aku melakukannya hanya sekedar hobi.” Nana masih bersikukuh

”okee—okee.. aku memang selalu kalah adu mulut denganmu.” Nana menjawab argumen Chanyeol dengan menjulurkan lidahnya. Setelah itu, Chanyeol menyodorkan lagi sweater abu yang menjadi dasar silat lidah mereka tadi.

“igoo— ambillah.”

“jinjja?.. benar tidak apa-apa?.” Tanya Nana basa-basi, padahal dia tahu Chanyeol pasti menjawab. –Serius. Biar aku yang bayar-

“tentu saja ada apa-apa. Bayar hutangmu secepatnya okee?!.”

Glekk-­_-‘. Tak sesuai perkiraan pemirsah.

“tapi aku sedang tak punya uang akhir-akhir ini—- , kau tega sekali.” Ujar Nana memasang wajah –ahhh, payah-­.­

Chanyeol tersenyum penuh arti. “ siapa bilang dengan uang?!.”

“lalu dengan apa?.” Jawab Nana bingung.

“ rahasia.” Singkatnya. Lalu memberikan baju hangat yang tak kunjung di ambil Nana itu ke empunya toko. Membiarkan si nenek pedagang membungkusnya, membayarnya, kemudian berjalan pergi meninggalkan Nana.

Nana memutar bola mata. Dan memanyunkan bibirnya sejenak.

“sok intel !!.”  ledek Nana, kemudian setengah berlari mengimbangi kaki Chanyeol.

Saat mereka berjalan berdampingan meninggalkan keramaian pasar. Chanyeol tiba-tiba berhenti. Matanya terpejam penuh kesakitan, kepalanya menunduk, dan tangan kanannya  memegangi bagian kepala belakangnya.

Meski memandang ke depan, Nana masih bisa melihat bahwa Chanyeol tak ada di sampingnya. Diapun menengok ke belakang dan mendapati Chanyeol sedang menunduk dalam.

“Chanyeol-shi?.” Tanya Nana, gadis itu belum beranjak mendekati chanyeol, karena mereka masih dalam jarak yang bisa saling mendengar meski tak berteriak, sekitar 4 langkah orang dewasa tepatnya.

Bukannya menjawab, Chanyeol malah diam dan tetap menunduk. Bahkan sekarang Chanyeol menjatuhkan kantong kertas yang sedari tadi dipegang tangan kirinya. Tentu bukan sakit yang biasa kalau sampai bisa melemaskan otot tangannya, Chanyeol belum bergerak dari posisi awal, tangan kanannya masih setia menempel di tengkuk.

Melihat hal itu, Nana panik dan kali ini berjalan ke arah chanyeol. “mwosunirriya?.” Tanyanya lagi.

Saat kaki Nana 1 langkah di depan Chanyeol. Pria itu akhirnya mengangkat kepalanya. Dan nyengir.

“aku kebelet pipis.” Tegasnya kemudian, “ssshh.” Chanyeol bergidik dengan peluh di pelipisnya, lalu bicara lagi “tunggu disini, 5 menit.” Perintahnya sembari mengacungkan 5 jarinya ke arah Nana. Kemudian lari terpontang-panting meninggalkan Nana.

Mau tahu ekspresi Nana?, kali ini wajahnya menegaskan kalimat –HAH?.., DIA PASTI SUDAH GILA –

 

5 menit….

10 menit…

30menit….

3 jam….

Chanyeol tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Kaki Nana sudah beberapa kali mengalami kram karena pegal, berdiri hampir 3 jam di tempat Chanyeol meninggalkannya ke toilet tadi. Tubuhnya ingin segera pulang ke rumah, tapi hatinya menolak. Sebagian dari dirinya masih ingin disini, menunggu pria itu, memilih patuh pada titah Chanyeol untuk menunggunya selama -5 menit-. 5 menit yang panjang.

Terhitung ribuan posisi sudah di cobanya. Berdiri, berjongkok, menggerak-gerakan kakinya, jalan di tempat, sampai bergoyang-goyang*apadah-_-‘. Namun sosok pria yang dinantinya belum muncul juga. Sesekali ia menengok jam tangannya, waktu terus berjalan, sedangkan ia masih belum mau pergi tanpa Chanyeol.

Melihat wajah kusam Nana yang mengkhawatirkan, seorang ibu menghampirinya. Ternyata ia adalah salah satu pedagang disana.

“agashi—.” Nana menoleh ke asal suara.

“Kau sedang menunggu pacarmu?.”

“ah–. Ne.”

“lebih baik kau pulang, ini sudah sore. Tadiii sekali, aku melihat namjachingumu itu pergi.”

Nana tertegun. Jerih payahnya menunggu selama itu benar-benar dibayar sangat             –setimpal-.

“mungkin dia tak tahu kau masih menunggu. Pulanglah nona, pasar ini bahkan sebentar lagi tutup.”  Tambah si ibu.

Hatinya ngilu, membayangkan wajah Chanyeol yang seakan tak punya dosa melenggang pergi tanpanya. Apa maksud pria itu meninggalkannya. Kenapa dia bahkan tak ingin tahu Nana masih menunggu atau tidak?, Sungguh tak masuk akal.

Wajahnya pucat, terlihat marah, kecewa, dan sakit. Tapi tetap memaksakan tersenyum ke arah ibu itu. Kemudian membungkuk,lalu berjalan pergi dalam diam.

Sepeninggal Nana si ibu menghela nafas panjang, sepanjang rasa khawatirnya. Khawatir kebohongannya tadi akan menyakiti banyak orang.

Setelah beberapa saat melihat punggung Nana yang menjauh, ia berbalik berjalan menuju toko buahnya. Manik matanya kini tengah memperhatikan seseorang. Seorang pria yang sedang berbaring lemah di kursi panjang milik ahjumma toko itu, yang sering ia gunakan untuk tidur di sela waktu berdagang. Pria itu mengeluarkan banyak keringat dari tiap penjuru tubuhnya, bajunya bahkan basah layaknya terguyur hujan sendirian. Ia sedang sibuk menahan sakit dengan memejamkan mata, sampai tak sadar ahjumma itu sudah duduk di samping kursi.

“Chanyeol-ah—,?.”

Mendengar namanya di panggil, pria itu membuka matanya perlahan. Dengan nafas yang masih tersenggal akibat sakit yang menyerang kepalanya tadi, dia tersenyum singkat ke arah ahjumma itu.

“mmh.” Jawabnya lemah.

Si ibu mengusap pelan pelipis Chanyeol, menyingkirkan peluh pria itu sambil menangis.

“kapan kau akan sembuh hmm?.” Tanya si ibu dengan isaknya.

Chanyeol hanya tersenyum pilu. Ia tak berani menjawab sesuatu yang bahkan tidak diketahuinya. Sesuatu yang tak pernah pasti. Sesuatu yang sampai saat ini masih betah tuhan rahasiakan darinya. Satu pertanyaan sederhana. Kapan ia sembuh?.

_TITA_

 

 

 

7 thoughts on “[FF FREELANCE] Your Kiss Is My Camera (2)

  1. part ini lucu banget, pas nan no nyium pipi chayeol tapi malah jadinya nyiun bibirnya chayeol? dan chayeol pinter banget ngelesnya..? 😀
    tapi di akhirnya jadi sedih gitu pas tau penyakitnya chayeol kambuh 😦

  2. Uwaah kasian chanyeol, kapan kamu sembuh..T.T
    Kira2 nana bakalan marah gak ya sama chan chan, duuh penasaran..>.<
    next chap jangan lama2 yaa..^^9

  3. like this >< , ceritanya makin lucu.kira2 kapan nana tau soal penyakit Chanyeol, jangan break up please ini sad end yah pasti 😦 ? but afterall, keep it up. ditunggu kelanjutannya ya. semangat '-')9 .

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s