Kilauan Senja – Chapter 3

Kilauan Senja

Kiran storyline

Title  :  Kilauan Senja – Chapter 3  ||  Cast  :  Lee Junho (2PM) & Kim Sohyun (Actress)  ||  Support  Cast  :  Nickhun Horvejkul (2PM), Ok Taecyeon (2PM)  ||  Genre  :  Angst, Romance, Action  ||  Rating  :  PG-16 ||  Length  :  Chapter

Summary:

Sebanyak apapun kau menahan dirimu karena rasa bersalahmu pada perempuan itu, kalau memang nyatanya yang disebut cinta memang lebih besar, maka keadaan terbaik yang mungkin bisa terus kau pertahankan adalah membiasakan dirimu dengan kebahagiaan.

Previous Part  :

Prolog | 1 | 2

*****

“Aku ingat,” ucapnya parau.

Junho membuka matanya, bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Tapi, ia malah dihadapkan pada kenyataan yang tak dibayangkan sebelumnya. Sohyun mencium bibirnya sekilas.

Bukan ini. Seharusnya… bukan ini kenyataan yang paling benar di antara puing-puing kenangan masa lalu yang pernah mereka jalani. Dan bukan ini pula yang tercetak dalam kenangan yang tak bertautan itu. Ya, sama sekali bukan ini.

Lalu akan jadi bagaimana? Akan sampai di mana dunia berhenti memutar laju perasaannya?

Sohyun memeluk Junho erat. Ia menangis di bahu pria itu, tapi pria itu bergeming. Ia sama sekali tak memberikan respon. Pandangan matanya yang jauh itu seolah-olah memberi gambaran bagaimana ia menelaah kejadian ini dengan lebih baik. Tapi… lagi-lagi kabur. Buram.

“Kau menyelamatkanku,” ucap perempuan itu lemah. Matanya berkilauan karena terbias cahaya lampu. “Bagaimana bisa aku melupakan kebaikan itu? Maafkan aku—“ Sohyun menarik nafas, melepaskan pelukan itu dan berusaha lebih detail lagi melihat wajah pria itu. Tapi apa yang ditemukannya? Perasaan datar dan dingin yang sama.

Sohyun menunduk. Ia terdiam tak berani menatap Junho yang kelihatan biasa saja. Ia sadar diri. Pria itu pasti menyimpan sesuatu yang tak menyenangkan.

Jadi ketika pria itu mulai melepas nafasnya, perasaannya bergoncang. Dan, kata-kata yang dikeluarkannya membuatnya jatuh ke kubangan. “Tidurlah. Kau sama sekali tidak mengingat apapun, jadi jangan meyakinkan dirimu kalau kau mengetahui ingatan itu.”

Apa memang ini yang memang Lee Junho ingini? Atau memang ia tak ingin terlepas dari kepribadian yang memelahkannya sendiri? Lalu kemanakah ia harus menanyakan semua kerumitan ini?

~k~

“Brengsek!” seru gadis yang kedua lengannya dipegangi oleh kedua pria tinggi di sampingnya. “Kenapa aku punya kehidupan yang brengsek! Demi Tuhan jangan memukul ayahku lagi!” rengeknya memperkeruh suasana di tempat itu.

“Benar, Nona muda. Kehidupan ini memang brengsek karena terisi oleh manusia-manusia memilukan macam kalian. Jadi bagaimana? Kau mau ikut dipukul seperti ayahmu?” ucap pria yang tampak paling menonjol di antara kerumunan laki-laki yang berkelakuan serupa.

Muka gadis delapan belas tahun itu memerah. Ia menahan amarah karena pertunjukan besar-besaran yang hanya bisa dilihatnya tanpa melakukan apa-apa. Kalau ada sesi permohonan di setiap kejadian, maka permohonan terbesarnya adalah biarkan ia terlibat dalam permasalahan ini.

Dan seperti memiliki telepati, laki-laki itu mendekat. Berbisik.

“Apa kau mau menjaminkan dirimu?” Ucapannya berhasil membuat gadis itu lebih marah.

Dan pria yang berdiri di ujung lain menunjukkan ketertarikan khusus pada kejadian ini. Atau malah pada gadis itu?

~k~

Jadi apa yang kau rasakan saat kau hanya duduk diam dan memperhatikan gadis yang kau suka  sedang bekerja? Apa kau benar-benar akan menikmati segala gerakan dari ayunan tangan serta gerakan kakinya? Gerakan yang membuatmu punya keinginan bodoh untuk memperbesar diameter bola matamu? Supaya gadis itu tidak hilang dari jarak pandang yang memuaskanmu?

Lee Junho merasakannya. Ia sudah resmi menjadi penguntit selama satu tahun belakang ini. Barangkali ia mulai mencintai gadis itu. Ya, cinta yang jauh.

Cinta yang berjarak karena sebuah rasa ketidakpercayadirian. Mungkin ini yang disebut cinta pemberian. Cinta yang tanpa menuntut.

Hingga suatu ketika, Lee Junho tertangkap matanya. Dan gadis itu menangis. Karena uang. Hal yang lagi-lagi terasa memilukan.

“Kau kenapa?” tanya Lee Junho ragu-ragu. Bagaimanapun, dirinya bukan tipe orang yang suka mengurusi kehidupan orang lain. Jadi, ketika ada pertanyaan seperti itu, masihkah dia akan sama seperti sebelumnya?

“Uang. Aku benci benda itu karena aku sangat membutuhkannya.” ucap gadis itu di sela-sela nafas yang berusaha ditariknya.

“Kau mau?”

“Apa?”

“Uang,”

Gadis itu terdiam. Jadi di dimensi manakah ia bertahan? Masih dengan kehancurannya sendiri atau malah berada di ruang mimpi?

“Asalkan kau dalam jangkauanku, aku akan memberikan segalanya untukmu.”

Lalu, benarkah? Kalau ternyata tak terjangkau, akan jadi bagaimana definisi “segalanya” itu?

~k~

“Oppa,” ucap gadis itu masih dengan sikap yang sama. Ia masih saja bisa menjaga harga dirinya dengan baik. “Aku kehilangan segalanya,”

“Maksudmu?”

“Ayahku pergi dari rumah dengan membuat ibuku gila,” Ia tak menangis, meskipun hidupnya lagi-lagi terasa memilukan.

Punya keluarga yang rumit. Hutang berteteran. Setiap minggu didatangi preman. Apa lagi yang diharapkannya? Mati dengan luka yang menganga?

“Lalu ibumu di mana?”

“Bunuh diri,”

~k~

Jadi saat ia terpontang-panting ke sana-sini, nyatanya pria itu masih saja membuatnya berdiri tegak. Membuatnya tetap bertahan di sisa-sisa harapannya. Membuatnya merasa kadang-kadang dunia tak lagi memutar-mutarkannya.

Kalau ditanya punya perasaan apa ia terhadap pria itu, ia memang tidak berani menjawabnya. Ia takut melukai nilai dan norma yang tertata di lingkungannya. Bagaimanapun, mencintai pria yang usianya lima belas tahun di atasmu akan sangat tidak tepat kan?

Tapi malam ini ia membuktikannya. Ya, Sohyun—si gadis harga diri itu—bercinta dengan Lee Junho.

“Oppa, apa ini tidak apa-apa?” ucapnya saat mereka selesai.

“Aku akan menjaminnya untukmu.”

“Oppa, apa kau bahagia?”

“Seharusnya itu pertanyaanku.”

~k~

“Ini di mana?” tanya Sohyun ingin tahu. Ingin sekali rasanya perempuan itu membuka kain yang menutup matanya rapat-rapat. Tapi kedua tangannya sedang dipegang Junho yang berjalan sambil memeluknya.

“Sebentar. Sepuluh langkah lagi pasti sampai.” jawabnya.

“Sudah sampai,” ucap Junho lalu mendudukkan Sohyun di kursi taman. Pria itu juga ikut duduk di sampingnya.

“Kapan kau akan membuka ikatannya?” tanya gadis itu saat tak ada gerakan tangan yang berusaha membebaskan matanya.

“Lima menit lagi. Tunggu aku lima menit lagi.”

“Ada apa? Apa kau mau mengambil sesuatu yang tertinggal?” tanya Sohyun sambil menghadap ke arah suara.

“Tidak.”

“Lalu?”

Junho sama sekali tak menjawabnya. Sohyun juga tak mendengar langkah kaki apapun. Suasananya tenang, hanya ada deru angin yang samar-samar membelai daun.

Dan Junho masih memandang hamparan air yang berkilauan di hadapannya dengan tenang. Hamparan air yang terpantul matahari senja itu seakan membawa kenangan yang disembunyikan dalam-dalam untuk kembali direfleksikan dalam ingatannya.

Ia dituntut untuk hidup tanpa kenangan. Ya, kehidupan mafia yang mengikatnya semenjak usianya menginjak dua puluh tahun itu melarangnya membawa perasaan terdalamnya kemana-mana.

Jadi ini adalah tempat yang menampung seluruh kenangan Lee Junho. Pria yang sekarang sedang menunjukkan sisi melankolisnya.

Tapi janji lima menit itu terlewat. Bahkan, ia juga melupakan kalau ada seorang perempuan yang sedang menunggunya. Jari-jari perempuan itu merangkak ke telapak tangan kirinya tanpa sedikitpun suara. Dan Lee Junho memilih hal yang sama. Ia memandang perempuan itu. Sesekali tangannya bergerak untuk mendekripsikan perempuan yang sedang dipandangnya.

Lambat-laun wajahnya mendekat, “ini hari ulangtahunku. Dan aku mau kau menjadi kado untuk pengulangan hidupku yang ke tiga puluh lima tahun ini.”

Pria itu menciumnya. Lembut. Hangat. Memikat. Jenis ciuman yang menggelitik kupu-kupu di perutnya untuk semakin terbang tinggi.

Pria itu melepaskan penutup matanya masih dengan posisi menciumnya.

Jadi ketika ciuman itu selesai, tempat ini bisa dirasakannya lagi dengan lebih nyata. Ya, tempat yang punya danau berkilauan, pohon-pohon persik yang indah, dan beberapa eucalyptus yang tingginya menjulang angkasa.

Semak yang hijau. Bunga-bunga kecil yang semerbak mewangi. Sesekali juga mendengar kicau burung yang hinggap di dahan pohon.

“Untukmu,” ucap Lee Junho sambil menyodorkan sebuah kertas gambar tebal berisi sketsa dirinya yang sedang ditutup kain dan tulisan kecil di ujung kiri bawah.

“Oppa, bukankah kau yang berulang tahun. Seharusnya aku yang memberikan hadiah untukmu.”

“Bukankah sudah kubilang kalau kau adalah kado untuk ulangtahunku?”

“Oppa—“

“Shsht, nikmatilah sampai matahari terbenam.”

~k~

Junho keluar dari kamar perempuan itu. Sekarang ia terlihat bimbang, kenapa perempuan ini mendapatkan ingatannya saat ia ingin mengakhiri segalanya?

Ia hanya tidak habis pikir. Kenapa takdir mebolak-balik langkah yang diyakininya? Sekarang kalau sampai jatuh, pada siapakah ia seharusnya bertumpu? Pada siapakah ia seharusnya percaya?

Kalau mengikuti hati, sebenarnya ia ingin bersama dengannya. Perempuan yang memberikan segalanya. Membuatnya bisa merasakan cinta untuk kali kedua. Memberikan sebuah pengharapan baru untuk hidupnya yang tak lagi bertujuan.

Tapi prediksi terbesarnya adalah perempuan itu menolaknya. Pertengkaran hebat yang melanda mereka. Air mata yang mengalir begitu saja. Bagaimana perempuan itu akan menerimanya?

Kalau memang berjodoh, bukankah perempuannya sendiri yang akan menahan takdir itu? Benar kan, kalau Sohyun tak lagi bisa menahan sikap Lee Junho di masa dulu?

Bagaimana mungkin takdir yang rumit ini memaksa mereka bersatu?

“Bantulah dia melepaskan diri dariku. Kau tahu kan aku hanya seorang pria tak berguna yang berusaha memburunya? Parahnya, lagi-lagi ia kehilangan impiannya karena aku.” Ia jadi teringat kata-kata yang tadi dilontarkannya kepada Nickhun.

“Ia tidak pernah kehilangan apapun. Justru ia mendapatkan segalanya darimu.” balas Nickhun sedikit emosional. Ia tak tahan melihat Lee Junho yang berbicara tanpa arah. Ini seperti bukan dirinya. Lee Junho yang dikenalnya adalah Lee Junho yang tak menyesali langkahnya, bagaimanapun bentuknya.

“Ya, kupikir waktu itu dia mengejar uangmu. Tapi saat melihatnya menangis di ujung pianomu, aku jadi mempertanyakan semuanya pada diriku.” jawab Nickhun menunduk. Untuk saat ini, ia tak berani menatap Lee Junho.

“Aku memperhatikan gerak-geriknya saat kau mulai memberikan perhatian lebih padanya. Aku tahu bagaimana kau berusaha datang ke cafe tempatnya bekerja. Aku juga tahu apa saja yang dilakukannya saat kau tak ada di dekatnya.” tambahnya sambil mengingat-ingat kegiatan konyol yang dilakukannya tiga tahun yang lalu.

“Waktu itu hari ulang tahunmu yang ke tiga puluh enam tahun. Dia memasak berbagai makanan dan membuat seluruh meja makan penuh dengan makanan. Aku sempat menghitungnya. Ada tiga puluh enam jenis makanan di sana. Dia menunggumu sampai tertidur di meja itu juga, tapi kau tidak pulang. Saat dia terbangun di tengah malam, dia menangis sampai pagi. Di pojokan tempat kau meletakkan pianomu.”

“Kenapa kau ada di sana?” tanya Junho lalu meminum anggur di gelasnya sampai habis.

“Kau menyuruhku melihat keadaannya. Kalau waktu itu kau datang tanpa menghancurkan perasaannya. Ia pasti akan memberitahukan kehamilannya dengan cara yang lebih baik.”

“Maksudmu?” tanya Junho lalu mengarahkan matanya pada pria itu.

“Saat itu dia menangis hebat sambil memegangi perutnya. Menurutmu pemandangan macam apa itu?”

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?”

“Kau tidak pernah menanyakannya. Aku mana berani berbicara sembarangan padamu?” Nickhun melirik pria di sampingnya. Hari ini benar-benar hari yang aneh untuknya. Kenapa ia malah menjadi sumber informasi untuk pria yang—setahunya—memiliki segala informasi?

“Jadi kenapa aku melakukan itu?” tanya Junho saat sama sekali tak menemukan alasan kenapa kenangan itu terselip dalam ingatannya. Ia lupa akan kejadian itu.

“Aku tidak tahu. Setelah kau pulang dari tempat favoritmu kau mengadakan pesta dengan gadis-gadis club di Gangnam. Waktu itu kau sempat threesome dengan Hyorin dan Taecyeon. Di bar kau juga menggerayangi tubuh Naeun. Entahlah hari itu kau terlihat sangat brengsek.” ucap Nickhun mengangkat bahu dan beranjak mengambil air putih di balik minibar itu.

Junho tertawa hambar. “Aku ingat. Hari itu aku bertemu ibuku.” Ia berhenti. Untuk sesaat, ia ragu menceritakan hal ini pada Nickhun. Junho memilih melanjutkannya. Ia tidak punya alasan untuk tidak mempercayai Nickhun. “Ia menghindariku dan saat itu juga aku tahu ternyata ibuku masih dengan pria yang sama. Pria yang hampir membunuhku dua puluh lima tahun yang lalu.”

“Jadi ini, kisah rumit masa lalumu.” ucap Nickhun simpatik. Ia mendekat ke arah Junho.

“Aku menyebutnya kenangan. Bukan masa lalu.” koreksi Junho.

“Baiklah, terserah kau saja.”

“Lalu, seberapa banyak yang kau ketahui tentang Sohyun?” tanya Junho sambil mengisi gelas anggurnya yang tampak kosong.

“Hyung,” ucap Nickhun. “Sebanyak apapun kau menahan dirimu karena rasa bersalahmu pada perempuan itu, kalau memang nyatanya yang disebut cinta memang lebih besar, maka keadaan terbaik yang mungkin bisa terus kau pertahankan adalah membiasakan dirimu dengan kebahagiaan.”

Dan, entah dorongan dari mana ia merasa kali ini Nickhun benar.

~k~

“Kau marah padaku?” ucap Sohyun malam itu. Ia mendatangi ruang favorit Junho. Ruang yang hanya berisi sebuah grand piano yang menghadap dinding kaca di sebelah barat rumahnya.

Ia merasa tidak nyaman dengan sikap Junho tiga hari belakang ini. Pria itu mengacuhkannya. Tidak mengajaknya bicara. Hanya bisa menjawab ya, tidak, sudah, dan belum untuk semua jenis pertanyaan. Kalau terus-terusan begini, rasanya ia juga muak berada di sini.

Kalau memang Lee Junho yang dibutuhkannya sudah tak ada, kenapa ia harus memaksakan diri? Bukankah segala sesuatunya sebab-akibat, pertanyaan-jawaban, dan saling berkaitan? Jadi kalau tak ada satupun dari ketiga syarat itu, ia benar-benar boleh menyerah kan?

“Kau ingin aku bagaimana?” jawabnya acuh tak acuh. Apa pria ini tidak pernah memikirkan perasaan Sohyun ketika ia mengeluarkan perkataan-perkataan ini?

“Oppa—”

“Kau masih belum tahu apa-apa,” potongnya sambil lalu.

“Tapi aku sudah mengingatmu,” bantahnya halus. Baginya, ingatan seperti ini sudah cukup. Sudah cukup untuk membuktikan betapa mereka saling mencintai di masa dulu.

“Lalu, tahukah kau kenapa kau kehilangan ingatan-ingatan itu?”

Sohyun menggeleng. Ia memang tidak tahu. Ia tidak ingin tahu kalau nyatanya memang ingatan-ingatan itu yang nantinya melukainya. Baginya, kehilangan sebagian ingatannya juga tak apa-apa asalkan ia bisa merasa bahagia.

Pria itu berlalu. Ia meninggalkan Sohyun yang tampak ingin menangis. Sebenarnya ada apa? Mengapa begini?

Sohyun menjatuhkan dirinya. Ia terduduk di salah satu kaki piano itu tanpa memikirkan apapun. Ia hanya tahu cara menangisi segala sesuatu yang didapatkannya dari pria itu. Mengapa Junho menyuruhnya percaya tapi juga membuangnya begitu saja?

~k~

Satu jam. Itulah waktu yang dihabiskannya untuk menangisi satu momennya dengan Lee Junho. Memilukan memang, ia telah membuang waktunya secara cuma-cuma hanya untuk seorang pria yang mengacuhkannya.

“Sudah selesai?” ucap pria itu saat ia kembali mendatangi tempat yang sama. Ucapan macam apa ini? Kenapa begitu melukai perasaannya?

Pria itu mendekat. Ia mengangkat tubuh Sohyun ke dalam pelukannya. Pelukan yang membuat perempuan itu terpental ke dimensi lain. Junho mengangkat tubuh Sohyun. Membawanya menuju ke kamarnya.

Junho meletakkan tubuhnya dengan lembut, dan perempuan itu langsung menggulingkan tubuhnya ke samping. Saat itu juga—saat pria itu melangkah menjauh darinya—Sohyun punya kesempatan yang lebih besar untuk menangisi dirinya sendiri.

Tapi lagi-lagi ada yang bermunculan.

Ya. Kenangan yang terselip itu…

Walaupun datangnya acak, untuk kenangan semacam ini, semua orang pasti juga bisa merangkainya sendiri.

Lalu yang jadi pertanyaan paling menarik, mana bisa ia menahan kenangan ini sendirian?

*****

to be continued

21 thoughts on “Kilauan Senja – Chapter 3

  1. Hellow~ ‘-‘)/
    Aku suka scene yg Junho sama Soohyun di taman. Itu simple sedikit romantis dan manis. Trus tempatnya juga indah sepertinya.
    Dan, dialog khun sama junho itu dalem.. yg dibilang khun bener disitu. Biasakan dirimu dengan kebahagiaan… Huah, andai khun asli bisa sebijak itu.. /ini apa?/ /abaikan/ /fans stress/
    Soohyun hidupnya semacam mengenaskan ya disini.. menderita lama semenit kemudian bahagia kemudian nelangsa kembali.. okesip..
    Btw, anaknya mereka gimana kabarnya ituu? /Kepo/

    • Whahaha…
      Itu tempatnya imaginer kayaknya😀

      Well di sini emang OOC skali karakternya hahaha.

      Ya bisa jadi sih hahaha.

      Anak? Emang ada yang nyebut itu? Hm… ;3

      • imajiner? bukannya hampir semua taman seperti itu? pasti ada dong taman yg ada disini. karna gak mungkin menggambarkan taman tanpa melihat kondisi taman yg asli. /sotoy/
        aku beneran pas ngomong yg kayak diatas itu.. if you get it😉 :p
        ada sih yee, yg di part sebelum2nya kalo gak salah.. pada disini sohyun cuma dibikin hamil aja tanpa melahirkan? ‘-‘)a
        oya, btw disini kan 22nya sama2 kehilangan pegangan nih, kenapa gak saling pegang aja /ini apa @.@/
        di tunggu next chapnya yah. soalnya aku penasaran sama kalimat paling akhir. sohyun mau ngapain itu abis dia keinget sedikit2 kenangan yg tertinggal itu? mau menghakimi Junho kah atau hanya ‘menggeret’ Junho.

        p.s : komen ff mini -_-v

      • Well, kalau di analisis sih ga mungkin. Soalnya daerh yg tumbuh eucalyptus ga mungkin ada pohon persiknya. Iklimnya beda. Hehe

        I don’t get anything huee gimana dong?

        Iyasih. Emang di part sbelmnya ada. Tapi kan masih misteri. Jadi anaknya jeng jeng jeng ada deh

        Iya. Diusahain scepetnya hhe😀

      • Beda yak? Wah kecele saya -.-” tapi juga kan pake ilmu sotoy..
        Its okay if you don’t get it, we’ll try again next time xD /macam quiz/
        Waduh kalo anaknya jeng jeng ada semacam jin itu anak /ini ngaco/
        Okeh, aku tunggu.

  2. suka banget ma nasehat nickhun yg bijak bt junhoo, jonho yg dilema karena sohyun.. o_o
    mungkin junhoo g msu sohyun dalam masalah besar jika sohyun berhubungan ma dia kali ya, makanya dia bersikap begitu
    la trus anak mereka pa kabar…? dah meninggal pa gmn?

  3. /gelindingan/
    junho-ya ;___; kok kamu ngenes banget sih..udah diinget tapi bukan dengan ingatan yg bener… ( .__.)/|junho|

    beda lima belas tahun?!😮 ak kok jadi inget when a man loves ya? latar belakang ceritanya juga hampir2 sama…apa emang cerita ini terinspirasi dari drama itu?

  4. ah gue suka ff nya thor >,< chapter 4 asap yeh, udah taon baru inih ._.
    junho nya cool, mafia, ya biasanya org yg menyedihkan(?) *maaf bang junho* yg bisa merasakan betapa dalam dan sakitnya cinta *uhuk*
    buat authornya, majas, diksi dsb tepat. Membuat ffnya high class(?) ato mungkin bisa bikin novel? *amin*
    chapter 4 juseye ya thor^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s