[3] Where We Belong

Where We Belong

written by bluemallows

Main Cast: CNBlue’s Lee Jonghyun & Girls’ Generation’s Im Yoona || Genre: Romance, School-life || Rating: Teen || Length: Chaptered || Disclaimer: The plot is completly mine

0,5 | 1 | 2 | 3

ϰ

THIRD-SHOT;

            Kim Soojung.

Siswa ‘seni musik’ yang selalu terlihat bersinar di antara teman-teman seangkatannya yang lain. Adik kelas terfavorit saat ospek, nama yang pertama kali disebut oleh Park-seonsaengnim ketika mendaftar anggota vokal grup, murid yang selalu disambut dengan senyuman lebar dari guru-guru. Ia sempurna dan tidak ada orang yang iri atau membencinya. Kulit wajahnya selalu dipoles dengan bedak tipis setiap pagi dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya semakin cantik saja.

Semasa kelas satu, ia duduk pada bangku yang sama dengan Yoona. Ia tipe siswa yang selalu mengangkat tangan ketika guru bertanya—dan hanya menyengir ketika jawabannya salah, ringan tangan untuk membantu guru memasangkan layar proyektor dan memberi selembar tissue saat tinta spidol mengenai tangan guru dan sebagainya, dan sebagainya.

Banyak lelaki yang tergila-gila padanya dan tidak sedikit pula guru yang memuji kecantikan wajahnya dan otaknya yang encer di depan kelas. Pertanyaannya, siapa sih yang tidak menyukai seorang Soojung?

Sejauh ini, Jung Yonghwa adalah laki-laki kedua yang berhasil mendapatkan hatinya. Kau tahu kan, pasti sudah banyak sekali yang mengantri untuk menjadi kekasih Soojung tetapi berujung dengan penolakan. Hanya dengan sekali kedipan mata, Soojung bisa saja mendapatkan laki-laki mana pun yang ia mau, ia hanya tinggal memilih.

Tetapi Jung Yonghwa dan Kim Soojung sudah sama-sama beruntung untuk saling memiliki satu sama lain. Jika mereka mem-flashback kejadian-kejadian setahun yang lalu, bukan merupakan perkara yang mudah jika Yonghwa dapat mendapatkan Soojung.

Jika kau melihat seorang gadis dengan rambut yang dikuncir ekor kuda dengan ikat rambut berwarna pastel di koridor kelas dua, di sekitar studio musik, atau di kantin dan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar setiap seseorang memanggil namanya, bisa dipastikan itu adalah Kim Soojung.

Dan jika dibagaikan perbandingan, setiap sepuluh kali kau bertemu dengan Soojung, sembilan diantaranya Soojung sedang bersama dengan Yoona. Mereka selalu bersama-sama kemana pun, paling tidak sampai Soojung pergi ke studio musik dan Yoona menuruni tangga menuju ruang kesenian. Beberapa orang menganggap Soojung dan Yoona sebagai sahabat kembar siam yang tidak pernah terpisahkan atau ‘sang bintang dan bayangannya’.

Oke, mungkin yang terakhir itu sedikit terlalu berlebihan. Tetapi selalu saja ada yang menganggap demikian ketika seseorang yang populer selalu berjalan bersama-sama. Yang cahayanya lebih redup akan terlihat seperti bayangan, bukan?

Sebenarnya Yoona tidak seburuk itu jika dibandingkan dengan Soojung. Mereka berdua selalu bersaing sehat untuk mendapatkan nilai seratus di setiap ulangan dan tugas. Kadang Yoona yang menang, dan kadang Soojung yang menang. Soojung punya suara emas di studio musik, tapi Yoona juga punya kanvas-kanvas dengan goresan kuas dari tangannya yang memukau di lemari ruang kesenian.

Tapi memang faktanya adalah wajah penyanyi selalu dilihat ketimbang wajah seorang pelukis. Itu kenyataannya. Soojung selalu tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan giginya di depan kamera, berbeda dengan Yoona yang hanya mengulum senyum kecil setiap kali lampu flash terarah kepadanya.

Memang, yang cahayanya lebih redup akan terlihat seperti bayangan. Selalu dan akan tetap seperti itu. Tetapi pada akhirnya akan ada seseorang yang dapat melihatmu bersinar dari segala sudut dan membuatmu bangga akan dirimu sendiri.

ϰ

            Malam itu, seharusnya menjadi acara makan malam romantis antara Soojung dan Yonghwa dalam acara anniversary satu tahun hubungan mereka berjalan.Yoona yang duduk santai di atas sofa ruang tengahnya hanya duduk melamun dan mengunyah buah apel sambil menunggu kabar dari Soojung tentang acara makan malam mereka. Satu pesan singkat diterima dari Lee Jonghyun. Ia tidak salah baca, pesan itu dari Lee Jonghyun.

            “Yoon, malam ini kau ada acara?”

Segaris senyum nampak pada wajah gadis itu dan pipinya mendadak bersemu merah bahkan tanpa disadarinya sebelumnya. Ia kembali merasakan kupu-kupu datang dan menyerbu perutnya sama seperti saat ia mendengarkan Jonghyun menyanyi pada festival musim panas tahun lalu, saat ia berada di dekat Jonghyun, atau saat ia bertukar pandang dengan Jonghyun.

Astaga.  Ini bisa berarti sebuah ajakan. Jonghyun mengajak Yoona kencan saat Yonghwa dan Soojung sedang bermesra-mesraan sehingga tidak ada ruang bagi mereka untuk mengerjai Jonghyun dan Yoona?

Dengan gemetar dan kupu-kupu yang terus menggelitik perut, Yoona mengetik balasan untuk Jonghyun.

            “Ada apa, Sunbae?”

            Sejurus kemudian, pesan balasan masuk ke dalam ponsel Yoona.

            “Tidak usah panggil Sunbae. Jika kau memang tidak punya acara, kirimkan alamatmu. Aku akan menjemputmu sekarang juga.”

            Mata Yoona terbelalak kaget, bagaimana pun, ia tetap tidak bisa menyembunyikan senyum meski ia sudah memaksa kedua sudut bibirnya agar tidak berdiri. Tanpa ada konfirmasi dari otak dan hatinya, Yoona mengetik alamat lengkap rumahnya disertai nama kelontong yang berhadapan persis dengan rumahnya, warna cat pagar dan cat temboknya juga.

Ia cepat-cepat berlari ke dalam kamar, mengganti celana kolornya dengan jins yang sudah dipakainya tadi siang dan megenakan kaos yang lebih formal dibandingkan baju kedodoran dengan kerah yang sudah molor yang dipakainya saat ini. Tangannya meraih sisir dan menyisir rambutnya cepat-cepat, merapikan poninya yang dibuat menutupi seperempat bagian dari dahinya.

“Mau kemana, Sayang?”

Ibunya yang membawa mesin penyedot debu dan masker yang masih menutupi mulut dan hidungnya mengintip kamar Yoona dan memergoki anak gadisnya sedang berdandan.

“A-apa? Aku?”

“Kencan, ya?” Nyonya Im tidak melepas maskernya, tetapi Yoona dapat melihat ibunya menyeringai jahil dibalik kain putih itu.

Tunggu, tapi Jonghyun tidak mengatakan ini kencan atau sebagainya kan? Tapi bagaimana ia mau menyangkal alasan lain Jonghyun akan menjemputnya? Bahkan tanpa disadarinya, ia berpikir Jonghyun akan mengajaknya kencan malam ini. Mungkin hanya sekedar makan malam atau menonton film di bioskop. Tapi itu termasuk dalam kategori kencan baginya.

Ibu Yoona terkekeh geli mendapati pipi putrinya merona merah tanpa harus diberi blush-on. “Kuharap laki-laki yang kau kencani itu baik. Bersenang-senanglah.” Wanita itu kembali mengenakan maskernya dan menyalakan mesin penyedot debunya kembali.

Selang beberapa detik, Jonghyun sudah mengirim pesan lagi.

“Aku sudah di depan rumahmu.”

Yoona cepat-cepat mengenakan sepatu kesayangannnya dan bergegas keluar dari rumahnya. Ia tidak melihat motor sport warna putih yang biasa ditumpangi Jonghyun. Hanya toko kelontong depan rumahnya yang masih buka dan lampu jalan berwarna kuning yang temaram.

“Hei, Yoon,”

Kepala gadis itu cepat-cepat menoleh pada suara yang memanggil namanya. Jonghyun mengeluarkan setengah tubuhnya dari pintu mobil picanto putih sambil tersenyum tipis. “Ayo masuk.”

Gadis itu berjalan dengan kikuk dan ia mendapati Jungshin duduk di bangku sopir. Akhirnya mau tidak mau ia duduk di jok belakang. “Hai,” sapanya canggung.

“Sudah? Kita pergi sekarang?” Tanya Jungshin sambil melihat ke arah Jonghyun di sampingnya dan melirik ke arah Yoona.

Jonghyun menganggukkan kepalanya sekali. “Oke, kita langsung cari conffeti kecil saja.”

Pemegang bass di grup band Vertical itu segera menyalakan mesin mobilnya dan menekan pedal gas meninggalkan rumah Yoona.

“Kita akan pergi kemana?” Yoona maju dan duduk mendekat di tengah-tengah Jonghyun dan Jungshin.

“Menyusul Yonghwa dan Soojung,” sahut Jungshin sambil tertawa renyah. “kita akan berikan kejutan untuk mereka. Karena itu kami mengajakmu juga.”

Yoona hanya tersenyum sepintas. “Minhyuk-sunbae tidak ikut?”

Jonghyun menoleh ke belakang dan memandang Yoona beberapa detik. Pandangan mereka bertemu dan itu membuat Yoona lupa bagaimana cara bernafas. “Sudahlah, tidak usah panggil sunbae lagi. Telingaku gatal mendengarnya,” ia kembali menoleh ke arah jendela sebelah tempat duduknya dan melihat Jungshin melesat dengan cepat hingga lampu jalan hanya terlihat seperti garis-garis cahaya. “Minhyuk mengerjakan tugas biologi. Jadi dia tidak ikut.”

Jungshin memutar kemudi dan memarkir mobilnya di bahu jalan. Di depan toko perlengkapan alat pesta yang memiliki billboard paling mencolok diantara ruko-ruko tetangganya. Yoona melompat turun dari mobil yang ditumpanginya dan menyusul Jonghyun serta Jungshin yang masuk ke dalam toko itu.

Bel toko itu berbunyi ketika Jungshin mendorong pintu dan Jonghyun serta Yoona berjalan menyusul di belakang. Seperti yang sudah terlihat di etalase, toko yang sebenarnya terhitung kecil itu nampak meriah dengan pernak-pernik ulang tahun yang disebar di setiap sudut ruangan. Pengeras suara yang memutar lagu Happy Birthday to You membuat toko itu seakan merayakan ulang tahun seseorang setiap hari.

Jonghyun mengangkat sebuah tabung silinder kecil berisi confetti dan menunjukkannya pada Jungshin. “Ini cukup, kan?”

“Lebih dari cukup,” sahut Jungshin.”kau dulu yang bayar, nanti kuganti setengahnya.”

Tanpa menjawab, Jonghyun membawa confetti itu ke kasir diikuti Jungshin dan Yoona di belakangnya. Tangannya meraih dompet yang dibenamkannya di kantong belakang celana jinsnya dan mengeluarkan beberapa lembar won. Perhatian Jungshin dan Yoona masih tersita pada satu foto mesra Jonghyun dan seorang gadis dalam dompet kulit milik laki-laki itu.

“Kau masih menyimpan fotomu dengan Tiffany?” Jungshin menarik dompet kulit itu dari tangan Jonghyun dan melihat foto Jonghyun dan mantan kekasihnya itu.

Jonghyun berdecak dan berusaha mengambil alih kembali dompet miliknya. “Ck, kembalikan,”

Personil Vertical yang paling jangkung itu akhirnya menurunkan dompet yang tadinya diangkat tinggi-tinggi dan mengembalikannya pada sang pemilik. “Dia sudah pergi, kan? Cobalah untuk cari yang baru, untuk apa terus menerus meratapi keputusanmu untuk mengakhiri hubungan?” Jungshin menyenggol lengan Jonghyun sambil terkekeh.

“Cari yang baru siapa maksudmu?”

Jungshin mendengus geli, “Sudahlah jangan pura-pura tidak tahu, contohnya dia,” tangan Jungshin menunjuk ke arah gadis yang sedang berjalan berkeliling melihat pernak-pernik pesta, Im Yoona. “atau yang satunya juga boleh.”

Setelah mencerna perkataan Jungshin, tangan Jonghyun segera mendarat di pundak sahabatnya itu. “Jangan ngawur!” Ujarnya sambil diselingi tawa.

            Jungshin kembali mengemudi menuju daerah Apgujeong dan melambatkan laju mobilnya untuk menilik satu per satu nama restoran dan toko yang berjajar rapi di sana. Hingga akhirnya ia memarkir mobil picanto putihnya ke bahu jalan di depan sebuah restoran bergaya Italia yang sudah terlihat mahal dari luar sekali pun.

Menurut pesan singkat dari Soojung yang dikirimkan pada Yoona dan pesan dari Yonghwa yang dikirimkan pada Jungshin, mereka berdua berada di dalam ruangan khusus—untuk berdua saja. “Aneh-aneh saja,” komentar Jonghyun ketika mendengar Yoona dan Jungshin membacakan pesan dari pasangan kekasih yang sedang kasmaran itu.

Restoran Italia itu benar-benar menonjolkan kesan klasik dan vintage ala Eropa yang begitu menawan. Temboknya dilapisi oleh wallpaper warna kecokelatan, lantainya dari kayu dan beberapa sengaja dibuat berdecit ketika diinjak, setiap meja bundar kecil hanya memiliki dua kursi dan satu lilin tinggi di tengahnya, kecuali sebuah meja panjang yang mirip dengan meja perjamuan untuk keluarga.

Jonghyun berjalan menuju seorang pelayan laki-laki yang mengenakan seragam rapi warna cokelat dengan menu yang dijepit di dadanya. “Ehm, bisa tolong antarkan kami ke ‘ruangan-khusus-dua-orang’ itu?” Tanya Jonghyun.

“Maaf Tuan, tapi ruangan itu sedang dipakai.” Jawab pelayan itu dengan sopan dan membungkukkan kepala.

“Kami sahabat mereka dan sudah membuat perjanjian akan menjemput mereka di sini.” Sambung Jungshin.

Pelayan itu akhirnya menganggukkan kepala dengan ragu-ragu. “Y-ya, baiklah, ke arah sini.”

“Boleh aku pinjam menunya?” Jungshin mengulurkan tangannya yang panjang untuk mengambil menu dari dada pelayan itu, dan sang pelayan langsung memberikannya pada Jungshin.

Yoona dan Jonghyun menyempatkan untuk melirik menu di sana dan ketiganya—bersama Jungshin—sama-sama terbelalak ketika melihat daftar harganya. Bisa jadi selama dua minggu Yonghwa merengek-rengek pada Jungshin dan Jonghyun meminta dibelikan makan siang karena memberikan semua uangnya pada restoran ini.

“Di sini,” Pelayan itu menunjuk pintu kayu dengan ukiran seorang malaikat laki-laki dalam mitologi Yunani yang membawa panah cinta, Cupid. “silahkan,” Dan pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka.

Jonghyun membuka jaketnya dan mengambil confetti yang dimasukkan di dalam saku dalam jaketnya dan memposisikan ibu jarinya pada tombol. “Aku sudah siap.” Ucapnya sambil tersenyum lebar ke arah Jungshin.

Tepat ketika pintu telah dibuka lebar oleh Jungshin, Jonghyun menekan tombol dan potongan-potongan kertas keluar dari sana dan menghujani sosok pasangan yang sedang duduk berdua di satu-satunya meja di sana.

Sebelum menyadari adanya Yoona, Jonghyun, dan Jungshin yang bersembunyi di balik pintu, Yonghwa segera memekik dengan suara bass-nya, “Aku tidak membayar untuk ini, tahu!”

Dan pada akhirnya, tiga orang itu muncul dari balik pintu kayu sambil memegangi perut yang harus menahan tawa mereka melihat wajah Yonghwa yang merah padam. Soojung mengenakan terusan selutut warna putih dan rambutnya dikepang ke samping. Manis sekali.

“Bagaimana kau bisa ada di sini, Yoon?” Tangannya menarik milik Yoona yang berdiri di sampingnya.

Gadis itu mengendikkan bahunya. “Jonghyun dan Jungshin yang membawaku kemari.” Ujarnya sambil melirik Jungshin dan Jonghyun yang menyusulnya masuk ke dalam ruangan-khusus-dua-orang yang sebenarnya tidak berbeda jauh dari ruangan di luar. Hanya lebih romantis, lebih privat, dan lebih mahal.

Piring kosong milik Soojung dan Yonghwa dipenuhi dengan confetti, dan gelas minuman mereka menampung confetti di dalamnya. Laki-laki itu mengangkat gelas miliknya ke arah Jonghyun, Jungshin, dan Yoona. “Lihat apa yang kalian kerjakan? Ini minuman mahal, tahu!” Yoona, Jonghyun, dan Jungshin spontan kembali tertawa, kini ditambah Soojung ikut tertawa geli melihat respon Yonghwa.

Yoona mengulurkan tangan pada Yonghwa dan Soojung. “Happy anniversary ya, baik-baik sampai selama-lamanya.” Kemudian gadis itu memancarkan senyum jenaka ke arah Soojung dan Yonghwa.

“Hei, hei, ayo foto!” Jonghyun sudah merapatkan tubuhnya di tembok dan mengangkat ponselnya setinggi wajahnya. Jungshin cepat-cepat mengambil posisi di sebelah Yonghwa.

Yoona melangkah mendekati Jonghyun dan mengulurkan tangannya. “Aku saja yang memfoto.” Gadis itu memang senang menghindar dari tatapan kamera, selalu saja begitu setiap kali ada even untuk foto bersama.

“Kau foto dulu bersama mereka, baru bergantian denganku.” Sahut Jonghyun sambil mengisyaratkan Yoona untuk berdiri di samping kursi tempat Soojung duduk.

Jonghyun sama sekali tidak menghitung “satu, dua, tiga.” dan tiba-tiba ia sudah memberikan ponselnya pada Yoona. “Sudah?” Tanya Yonghwa dengan nada protes.

“Ya.” Sahut Jonghyun. Singkat dan santai.

Yoona memegang kamera itu di depan wajahnya dan mulai menghitung. “Satuu, duaa, tiiiiga.”

“Ayo, sekali lagi,” Ujar Yoona. “Satuu, duaa, say cheese!”

Ketika melihat hasil fotonya, foto pertama menunjukkan Jonghyun dan Soojung yang tidak terfokus pada kamera, justru mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu sambil sama-sama tersenyum. Foto kedua, Soojung, Yonghwa, Jonghyun, dan Jungshin sama-sama tersenyum ke arah kamera. Sempurna.

“Terima kasih,” Ucap Jonghyun sambil mengambil alih kembali ponselnya.

“Kalian cepat pulang, aku belum membayar untuk restoran ini,” Yonghwa mendorong tubuh Jungshin untuk keluar dari ruangan itu diikuti dengan yang lain. “Jangan ganggu aku dan Soojung, malam ini saja.”

Ketiganya kembali tertawa. “Tapi kami belum pesan makanan!” Celetuk Jungshin dan akhirnya mereka kembali ke dalam mobil picanto putih milik sang bassis.

Jonghyun melompat di jok depan sebelah Jungshin dan menarik otot-otot tangannya ke atas. “Bahagianya punya pacar,” kemudian ia terkekeh sendirian.

“Kasihan sekali kau tidak laku.” Ujar Jungshin dengan nada mengejek.

Laki-laki di sebelahnya mendengus kesal. “Memangnya kau punya pacar?”

Jungshin tertawa renyah sebelum memindah kopling mobilnya. “Kalau Yoona? Kau sudah punya pacar?” Jungshin melirik ke arah Yoona sambil memundurkan mobilnya.

Dengan gugup gadis itu menggelengkan kepalanya. “Eh? B-belum, Sunbae.”

“Ck, sudahlah, tidak usah panggil Sunbae-Sunbae lagi. Anggap saja kita teman sengakatan.” Sahut Jonghyun meski pandangan matanya tidak keluar jendela ataupun ke depan, melainkan ke layar ponselnya. Ia memasukkan foto ke akun Instagram-nya.

Ketika kaki Jungshin telah menginjak pedal rem di persis di depan rumah Yoona, Jonghyun membisikkan terima kasih pada gadis itu sebelum meninggalkan mobil. Dan setelah masuk ke dalam kamar, Yoona membuka akun instagram milik Jonghyun dan menemukan dua foto yang diambilnya diletakkan berurutan.

Ia dapat melihat foto Jonghyun dan Soojung bertukar pandang dan saling melempar senyum, intens sekali. Yoona memang tidak pandai mengartikan gestur, raut wajah, atau tatapan seseorang, tetapi entah mengapa ia yakin ada sesuatu dalam mata Jonghyun maupun Soojung saat itu. Tapi, dia tidak memiliki hak untuk curiga, bukan?

            Bel rumah keluarga Im berbunyi dua kali berturut-turut. Yoona segera mencuci tangannya yang masih dipenuhi oleh busa sabun pencuci piring dan mengbias-ngibaskan jemarinya untuk mengeringkan air yang masih menempel. Ia cepat-cepat berjalan ke depan pintu dan membukanya.

Ia melihat sosok Kim Soojung berdiri di sana dengan tas jinjing besar dengan gambar hello kitty. Dari tas jinjing itu, Yoona tahu malam itu Soojung akan menginap. Wajahnya pucat dan rambutnya yang dikuncir pun berantakan. Ada sesuatu yang salah dari gadis itu. Tidak ada sorot semangat yang terpancar dari wajahnya lagi.

“Ayo, masuk,”

Soojung melepas sandalnya dan memasukkannya di dalam lemari sepatu seperti di rumahnya sendiri dan mengikuti Yoona masuk ke ruang tengah. “Buu! Soojung menginap malam ini!” Pekik Yoona mengarah pada dapur.

Nyonya Im mengintip di balik pintu dan tersenyum menyapa Soojung. “Hai, Soojung. Bibi memasak semur kesukaanmu untuk makan malam hari ini.”

“Oh, ya. Terima kasih, Bibi.”

Soojung segera berlalu dan masuk ke dalam kamar Yoona. Ia melempar tas jinjingnya di dekat pintu dan melompat ke atas ranjang sambil memainkan ponselnya.

“Hei, ada apa?” Yoona mengikuti gadis itu untuk berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.

Dengan setengah tersenyum, Soojung menyahut. “Aku memutuskan Yonghwa tadi siang.”[]

64 thoughts on “[3] Where We Belong

  1. Awas aja kalau soojung sampe ganggu ganggu jonhyun-yoona, kupastikan suaranya gak akan disebut ’emas’ lagi#kejam

    Ayolah ayolah yoona sama jonghyun aja udah..
    Udah cukup di ff ini yoona dijadiin bayangan. Jangan sampe orang yg ditaksir yoona direbut soojung jugak..😥

    Okok, konflik mulai muncul, apalagi dengan kenyataan kalau jonghyun masih menyimpan foto tiffany. Uwaah pengen jambak rambutnya jonghyun biar cepet sadar sama eksistensinya yoona.

    Ok lah. Ijin lanjutt ya author-nim. Keep writing^ ^

  2. Awas aja kalau soojung sampe ganggu ganggu jonhyun-yoona, kupastikan suaranya gak akan disebut ’emas’ lagi#kejam

    Ayolah ayolah yoona sama jonghyun aja..
    Udah cukup di ff ini yoona dijadiin bayangan. Jangan sampe orang yg ditaksir yoona direbut soojung jugak..😥

    Okok, konflik mulai muncul, apalagi dengan kenyataan kalau jonghyun masih menyimpan foto tiffany. Uwaah pengen jambak rambutnya jonghyun biar cepet sadar sama eksistensinya yoona.

    Ok lah. Ijin lanjutt ya author-nim. Keep writing^ ^

  3. Jangan bilang soojung putusin yonghwa karna dia ada rasa sama jonghyun. Dan jangan bilang lagi klo soojung sama jonghyun saling suka. Pleas banget penasaran sama chapter selanjutnya.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s