[FF Freelance] Tujuh Lukisan Horror (Chapter 1)

7-lukisan-horror-ff

Tujuh Lukisan Horor

By marianavivin

Casting :

Jessica Jung | Tiffany Hwang

Other Casting :

Bae Suzy & Other

Genre :

Horor | Mystery | Life School

Length :

Chapter

Rating :

PG15+

Disclaimer :

Semua cast dalam cerita ini tetap dan akan selalu menjadi milik agensi dan orang tua mereka. Fanfic ini juga di publish di marianavivin9.wordpress.com. Alur cerita terinspirasi dari buku karya Lexie Xu berjudul sama ^^ no bash or copy, happy reading^^.
(Special Thanks untuk Intan Kirana yang sudah buatin poster ^^)

PROLOG ???

Entah kenapa aku mau datang ke sekolah malam-malam begini. Atau sebenarnya aku tahu hanya saja aku tidak mau mengakuinya. Aku harus datang supaya masalah itu tidak tersebar. Tidak, aku tidak ingin masalah itu sampai tersebar dan kedengaran semua orang – terutama orangtuaku. Skandal mengerikan seperti ini sudah pasti akan melukai perasaan mereka.

Kenapa bisa ada yang tahu masalah ini selain mereka-mereka yang terlibat? Aku tahu, tidak ada satupun di antara kami yang akan menceritakannya pada orang lain. Kami semua telah membuat kesalahan yang teramat besar. Tapi kami semua berada dalam posisi yang sama. Kami sama-sama takut masalah ini tersebar dan tak ada satu pun di antara kami yang sudi membocorkannya pada orang lain.

Kecuali cewek itu. Tapi masa dia…?

Koridor sekolah terlihat mengerikan pada malam hari. Pada siang hari, koridor ini dipenuhi murid-murid dari berbagai kelas. Tanpa semua murid itu, koridor ini terlihat panjang, kosong dan tak berujung.

Aku menarik napas sebentar lalu mulai berjalan menyusuri ruangan-ruangan yang terkunci. Aku menuju ruang Kesenian.

“Annyeong, ada orang di sini?”. Tanyaku dan suaraku langsung bergema di ruangan kosong itu. Tidak ada jawaban. Sial. Bulu kudukku mulai berdiri tidak karuan. Seandainya saja ada yang mau menemaniku datang ke sini malam ini. Sialnya, semua orang yang terlibat tidak bisa ku hubungi.

Kebetulankah? Atau ada sesuatu yang menimpa mereka?

“Annyeong”. Panggilku sekali lagi dengan suara gemetar. Sial. Aku-kan namja. Masa suaraku seperti pengecut begini?

“Hey!!!!”. Teriakku setelah berusaha mengumpulkan semua nyali yang kumiliki. Tetap saja tidak ada jawaban.

“Ya!! Kau tahu ini tidak lucu, apa kau hanya mempermainkanku? Ancamanmu itu, hanya surat gertakan biasa, huh?!”. Aku sudah berjalan menuju pintu keluar ketika sebuah lukisan menarik perhatianku. Aku tahu lukisan itu milik Suzy. Suzy yang anak kelas sepuluh bertampang cupu dan mengerikan itu. Rambut panjang hitamnya seperti tirai yang setiap hari menutupi wajahnya. Tapi aku heran kenapa Suzy dinobatkan sebagai pelukis paling berbakat di sekolah. Padahal menurutku, lukisannya tidak terlalu bagus. Berkesan seram, malahan.

Seperti lukisan yang sedang kupandangi ini. Ada sosok yang mirip manusia. Seorang namja kurasa, tengah menyeret dirinya keluar dari sebuah pintu, sementara sosok lain yang mirip monster sedang mengayunkan kapak berukuran besar di belakangnya. Darah berceceran di lantai, yang tentunya berasal dari kaki si namja yang sudah terputus dari bagian aslinya. Lukisan itu hanya dibuat dengan sapuan cat minyak yang lebih mirip coret-coretan orang sinting…

Tunggu dulu. Kenapa sosok yang mirip namja itu berambut pirang?

Kuangkat tangan untuk menyisir rambutku yang baru saja kupotong shaggy dan dicat warna pirang. Jantungku makin berdegup keras ketika melihat sebuah gelang berwarna hitam dengan lambang infinity di tengah juga berada di pergelangan sosok namja itu. Sangat mirip dengan gelang yang sedang ku pakai sekarang. Tadi pagi saat aku sempat melihat lukisan ini, setahuku detail-detail kecil itu tidak ada.

Srrkkk

Bunyi kain beradu dengan kain itu membuat tubuhku langsung berbalik dan berhasil membuat nafasku tercekat. Sebuah sosok hitam yang sepertinya tadi bersembunyi di balik kain putih patung kerajinan anak kelas sepuluh muncul dengan gerakan bak robot. Dan dari balik jubahnya kulihat sesuatu yang mengkilat. Sebuah kapak besar.

Omo!!

Tanpa berpikir panjang aku membuka pintu ruang Kesenian itu dan mulai berlari dengan kalut. Tiba-tiba aku teringat kata-kata temanku tadi pagi yang kupikir hanya gosip belaka.

“Terkadang Suzy bisa menggambar sesuatu yang akan terjadi loh”.

Andwee!! Aku tidak ingin kakiku putus! Aku tidak mau mati di bunuh oleh menster bersenjata kapak! Masa depanku seharusnya indah, seharusnya tidak seperti ini!!

Tolong aku!!

Aku tersandung sesuatu yang keras dan jatuh terjerembab menghantam lantai. Celaka. Aku sudah hampir bangkit ketika sesuatu menghujam kaki kiriku. Aku menjerit keras-keras. Sakit, rasanya sakit sekali.

Aku berusahan bangkit dan bergerak dengan merangkak. Dengan sisa-sisa tenaga yang kuharap cukup membawaku keluar dari mimpi buruk ini. Ya, aku masih berharap ini hanya mimpi. Mimpi buruk. Tapi tidak bisa. Sesuatu menghalangi jalanku. Sesuatu yang lengket dan membuatku nyaris tidak bisa bernafas lagi. Darahku sendiri. Membentuk sebuah genangan besar di atas lantai.

Telingaku terasa teredam. Setiap suara terdengar bagaikan bunyi radio yang batreinya perlu di ganti. Suara kaki yang terseret-seret dengan berat. Seolah kaki itu terbuat dari tanah liat yang kering sebelum di inginkan. Suara tawa puas ikut menggema dalam telingaku.

“Inilah hukuman yang harus kau jalani, selamanya”.

Aku berhenti merangkak dan mendongak ke atas. Berusaha mencari tahu siapa sebenanya penyerangku yang sangat brutal ini. Tapi sia-sia. Wajahnya seperti tertutup sebuah topeng. Belum lagi kesadaran diriku yang kurasa hampir lenyap.

“Siapa kau?”. Tanyaku menahan isakan. “Mengapa kau melakukan ini kepadaku?.

“Alasanku sudah jelas, untuk menghukummu atas dosa yang telah kau lakukan setahun yang lalu”.

“Tapi, apa hubungannya denganmu?”.

Aku tidak pernah mendengar jawabannya. Karena, tahu-tahu saja, seluruh hidupku bagaikan masuk ke dalam kegelapan yang dalam.

Chapter 1

 

–Tiffany POV

Seminggu sebelumnya

Aku memandangi papan pengumuman sekolahku dengan tampang super bête yang kurasa baru pertama kalinya kukeluarkan. Bagaimana tidak, kertas pink yang dua hari lalu kubuat sudah hilang seperti ditelan kertas lain-lain yang isinya sangat tidak masuk akal dan penting. Dengan tekad penuh amarah aku mengobrak-abrik isi madding itu dan menemukan kertas yang tadi kumaksud berada di bagian belakang iklan delivery murahan dan juga iklan klub bola milik Chansung.

Tidak bisa menemukan solusi terhadap masalah yang kalian hadapi? Tinggalkan nomor ponsel anda di belakang kertas ini. Tertanda. Duo Detektif  H&J

Tentu saja. Bagian belakang kertas itu tetap kosong. Bersih dari coretan apapun kecuali bolongan-bolongan tidak beraturan yang memenuhi sekelilingnya pantas di perhitungkan. Tidak ada yang menganggap ini serius. Bahkan partner-ku sekalipun.

Baiklah, aku akan berkata dengan jujur. Sebenarnya akulah yang mengambil keputusan secara sepihak sementara Jessic Jung, partner sekaligus yeoja yang sudah kuanggap sahabat tidak pernah menyetujui hal ini. Yeoja itu terlalu dingin, cuek dan mengerikan. Siapa saja orang yang berani menganggu aliran udara di sekitarnya bisa di pastikan akan menghadapi satu hari penuh siksaan di sekolah. Intinya, tidak ada yang berani berurusan dengan Jessica.Kecuali aku tentu saja, karena selain cukup percaya diri dengan kemampuanku, Jessica juga tidak pernah menyakitiku.
.

-Author POV

“Fany~ah, apa kau tahu kalo iklan delivery di papan madding itu ternyata bohongan? Masa saat aku menelpon mereka, mereka bilang salah sambung”. Tanya Jessica ketika Tiffany merapikan rok lipitnya yang menempel di kursi.

“Memang, apa yang kau katakan pada mereka?”. Tanya Tiffany balik dengan penasaran.

“Ya jelas, aku nyebutin nama lengkapku”.

Astaga. Pantas saja di bilang salah sambung. Siapa yang mau berurusan dengan Jessica Jung, yeoja seram garis miring dingin garis miring menakutkan?. Pikir Tiffany yang hanya bisa mengangkat bahu menanggapi jawaban Jessica tadi.

“Jadi nona Hwang, ada dengan wajah kusutmu itu? Pengumumanmu di cuekin lagi?”. Tanya Jessica dengan santai sambil memperhatikan para namja yang sedang bermain basket.

“Ya…tunggu, bagaimana bisa kau tahu aku menempel pengumuman itu? Jangan-jangan kau yang menyabotasenya?”. Tiffany menaikkan telunjuknya ke depan Jessica yang hanya tersenyum jahil menatapnya.

“Memang apa sih yang kau harapkan dari para anak-anak Genie High School ini? Masalah pacar? Orangtua bercerai? Sudahlah Fany~ah, jangan membuang waktumu untuk hal yang tidak berguna seperti itu”. Kilah Jessica sambil menarik tangannya ke belakang. Seperti melakukan peregangan.
.

-Jessica POV

“Jesssica, Tifffany!”. Teriak sebuah suara dari luar kantin. Minwoo sonsaengnim.

“Sem”. Sapa Tiffany yang kutahu pasti terkejut tentang fakta bahwa guru killer itu mengetahui namanya yang selama hidupku di sekolah ini, jarang sekali terdengar di bicarakan. Tidak seperti diriku yang selalu menjadi bahan pembicaraan. Dan aku bangga dengan itu. Hahaha.

“Sem, aku bingung, kenapa setiap sem memanggil namaku selalu ada huruf yang di lebih-lebihkan pengucapannya? Dan kenapa Tiffany juga?”. Aku memotong tatapan Minwoon sonsaengnim dengan pertanyaan yang selama ini selalu kupendam.

“Karena sem sudah bosan terus-terusan memanggil namamu, pabo! Dan masalah Tiffany tadi, itu karena sem kehilangan kendali”. Jawab Minwoo sonsaeng sambil mendorong pelan kepalaku ke belakang. Tiffany yang melihatnya hanya tersenyum kecil.

“Lucu? Huh?”. Tanyaku dengan tangan terkepal. Sayang saat itu ada Minwoo sonsaeng jadi aku tidak bisa benar-benar mendaratkan pukulanku-walaupun sebenarnya aku juga tidak benar-benar ingin mendaratkan pukulanku ke Tiffany.

“Jadi, ada apa sem mendatangi kami berdua?”. Tiffany bertanya dengan nada yang jelas-jelas sangat sopan-berbanding terbalik dengan ku barusan.

“Kalian di panggil Mrs.Kwon”. Aku hampir tertawa ketika melihat wajah Tiffany mendadak ngeri ketika Minwoo sonsaeng menjawab pertanyaannya. Ya. Mrs.BoA Kwon adalah kepala sekolah Genie High School dan biasanya, siswa-siswa yang dipanggil ke ruangannya adalah siswa bermasalah-tentu saja Tiffany tidak termasuk golongan itu tapi kenapa tahu-tahu dia dipanggil? Bahkan yang punya namapun tidak bisa menjelaskannya.

.

-Tiffany POV

Ruang kepala sekolah kami benar-benar bersahaja. Setiap sudutnya selalu ada benda-benda unik dan beberapa piala yang di menangkan dari berbagai kompetisi. Dan saking senangnya bisa dengan gratis bisa melihat isi ruangan itu-walaupun sebenarnya aku juga sedikit takut karena konon katanya siswa yang biasanya masuk ke ruangan ini adalah siswa bermasalah dan tentu saja aku tidak seperti itu- aku dan Jessica hampir melewatkan sosok kedua yang ada di ruangan itu. Setelah Mrs.Kwon yang sedang duduk di belakang mejanya tentu saja.

Sosok itu berdiri di antara pot bunga besar dan sebuah tiang tinggi- yang biasanya di gunakan untuk mengikat bendera lomba lari di sekolah kami- nyaris tidak terlihat dan membuat kami sempat terperanjat ketika menyadari kehadirannya. Seorang yeoja yang cukup tinggi, agak berisi-membuatnya proposional dengan rambut panjang hitam yang menjuntai hingga ke depan wajah. Seperti sebuah tirai yang memberikan sedikit celah untuk penglihatannya.

“Baru keluar dari TV ya?”. Aku segera menyenggol lengan Jessica yang mengatakan hal yang jelas-jelas mengejek yeoja itu. Buru-buru kupalingkan wajahku dari yeoja aneh itu dan mendapati Mrs.Kwon sedang menatap kami bertiga dengan tatapan mematikan.

“Selamat siang Mrs”. Sapaku segera ketika sadar bahwa Jessica tidak akan pernah mau mulai menyapa kepala sekolah kami ini.

“Kalian bertiga, duduk di sini”. Perintah Mrs.Kwon sambil menunjuk tiga kursi yang berada di hadapannya. “Dan Mr.Minwoo, ambil kursi lain dan duduk di sini”. Lanjut yeoja berumur itu kepada Minwoo sonsaeng yang langsung mengambil sebuah kursi dan meletakkannya di tempat yang tadi di tunjuk si kepala sekolah.

“Jessica, Tiffany, kalian yang menempel kertas ini?”. Tanya Mrs.Kwon ketika kami bertiga sudah duduk. Perasaanku langsung ciut ketika menyadari kertas apa yang sedang di angkat oleh Mrs.Kwon.

“Siapa tuh duo detektif H&J? Jelek amat”. Tanya Jessica mengejek. Sial. Dia menghinaku.

“Jangan mencoba membohongi kami, di sini jelas-jelas tertulis H&J, jadi sudah pasti ini kalian, Hwang dan Jung”.

“Mrs, kalo memang itu singkatan nama kami, jelas itu Jung dan Hwang, saya gak sudi nama saya di taruh di belakang”. Cetus Jessica frontal sambil menunjuk kertas itu.

“Jadi benar kalian yang menulis ini?”. Mrs.Kwon mengangkat lebih tinggi lagi kertas itu. Sebelum Jessica sempat menjawab lagi aku langsung menyela.

“Ne Mrs. Tapi Jessica tidak berbuat apa-apa, sayalah yang membuat pengumuman itu”.

“Tapi saya juga setuju”. Lanjut Jessica setelah aku berusaha bicara tanpa kegugupan. Mwo? Dia setuju? Ah, pasti inilah bukti kesetiakawanan seorang Jessica Jung yang terkenal.

.

-Jessica POV

Dasar Tiffany pabo. Bagaimana bisa dia menyeretku ke dalam masalah kertas pengumuman tidak jelas seperti itu. Dan sekarang aku terpaksa mengatakan bahwa aku juga menyetujuinya. Aku tidak ingin Tiffany mendapat masalah dengan Mrs.Kwon hanya karena membuat pengumuman tidak masuk akal seperti itu.

“Saya tidak akan menyalahkan kalian untuk pengumuman ini”. Mrs.Kwon menelengkan  mukanya, tampak seperti psikopat yang siap membantai habis semua korbannya. “Justru saya ingin meminta bantuan kalian, Suzy~ssi, tolong perlihatkan lagi surat itu”. Mata dan telingaku langsung terbuka lebar ketika Mrs.Kwon mengakhiri kalimatnya. Bukan karena sekarang aku sudah benar-benar menyetujui pengumuman Tiffany itu, tapi karena aku merasa ada sesuatu yang menarik yang sedang terjadi dan benar saja, yeoja bernama Suzy garis miring Sadako ini langsung menuruti perintah Mrs.Kwon tadi dan memperlihatkan kepada kami sebuah kertas yang dilapisi dengan plastik sehingga tidak bisa di sentuh. Gila. Orang yang membuat ini pasti parno tingkat monster.

Sang Reaper lukisan horror akan keluar dari dalam lukisan untuk menghukum para penjahat penyebab tragedy tahun lalu, pada saat pameran lukisan, dan semua akan mati sesuai dengan cara-cara yang telah di tetapkan sang Reaper.

Surat itu di tulis dengan krayon merah, dengan cara yang sedemikian rupa absurdnya sehingga lebih menyerupai coretan kemarahan dibanding tulisan.

“Apa maksudnya? Tragedi tahun lalu?”. Tanyaku sambil menatap Mrs.Kwon dengan serius.

“Molla Jessica~ssi, tapi setahu kami, ada tiga peristiwa kurang menyenangkan yang terjadi tahun lalu. Pertama, ada seorang siswa yang terjatuh dari papan loncat kolam renang kita”.

“Bukannya papannya tidak terlalu tinggi? Dan kalopun dia jatuh, harusnya bisa di selamatkan karena ada air dibawahnya”. Potongku ketika mengingat papan loncat kolam renang sekolah kami yang memang tidak terlalu tinggi.

“Seharusnya begitu, tapi sayang saat itu kolam renangnya sedang di kuras”.

Oh.

“Kepalanya membentur ubin dengan sangat keras. Tapi itu murni kecelakaan”. Lanjut Mrs.Kwon datar.

“Kejadian kedua, salah satu siswa senior di keluarkan dari sekolah karena berkomplot dengan geng motor untuk mencuri di sekolah kita. Saat itu ada seorang petugas yang berjaga tapi beliau terluka parah dan harus di rawat di rumah sakit. Terakhir, ada siswa kelas sepuluh yang meninggal akibat gantung diri. Tidak di ketahui penyebabnya kenapa dia melakukan itu”. Mrs.Kwon mengakhiri ceritanya dengan nada sama. Datar. Tanda beliau benar-benar tidak pernah ingin mengungkit masalah ini lagi. Aku dan Tiffany mengangguk sambil memandang satu sama lain. Dia punya pikiran yang sama denganku rupanya. Kami harus menyelidiki kasus ini.

“Oh iya, saya belum mengenalkan, yeoja ini bernama Bae Suzy, dia pelukis paling berbakat di sekolah kita”. Aku dan Tiffany serentak menoleh untuk melihat Suzy dan menemukan bahwa pipi yeoja itu sedang bersemu merah tanda malu sudah di puji oleh Mrs.Kwon.

“Suzy punya…reputasi tertentu, kata orang dia bisa menggambar sesuatu yang akan terjadi di masa depan, bisa kau sebutkan contohnya Suzy~ssi?”. Mrs.Kwon menajamkan pandangannya pada Suzy seperti sebuah belati.

“Mmmm bagaimana ya? Aku pernah melukis sebuah mangkuk yang pecah berserakan di kantin. Beberapa jam kemudian saat jam istirahat, ada sebuah mangkuk yang pecah di kantin. Latarnya persis seperti yang kulukis. Lalu aku juga pernah melukis ruang Kesenian yang berantakan. Paginya, penjaga sekolah yang membuka ruangan itu nemuin kalo ruang Kesenian berantakan,…”Suzy terdiam sejenak lalu melanjutkan dengan nada misterius,”…persis seperti yang kulukis.

Hell! Bulu kudukku langsung meremang mendengar cerita Suzy tadi-tapi aku tidak akan pernah mengakuinya.

“Tahun ini Suzy melukis adegan-adegan bernada gelap”. Kata Mrs.Kwon. “Tujuh lukisan baru yang akan di pamerkannya nanti di beri judul Tujuh Lukisan Horor. Sepertinya, lukisan-lukisan inilah yang dimaksud si pelaku surat kaleng ini”.

“Ottoke?”. Tanya Tiffany mendahuluiku. Tidak kusangka Suzy-lah yang menjawab pertanyaan itu.

“Karena lukisanku di ubah”.

“Mwo? Maksudmu?”. Tanyaku tidak sabar.

“Ada satu lukisanku yang diubah. Ada yang menambahkan detail-detail kecil”. Sahut Suzy datar.

“Untuk lebih jelasnya, Suzy akan memperlihatkan lukisan-lukisan itu pada kalian. Saya sangat berharap gabungan dua otak paling cerdas di sekolah ini bisa memecahkan teka-teki ini. Minwoo sonsaeng, tolong antarkan mereka ke ruang Kesenian”. Aku hanya bisa cemberut mendengar kata-kata Mrs.Kwon tadi. Aku adalah manusia yang paling anti berada dalam satu ikatan-tidak semua tentu saja- tapi Tiffany justru nyengir kepadaku seolah-olah dia sudah berhasil mengalahkan ke-keras kepalaanku.

.

-Author POV

Keempat orang itu menyusuri koridor sekolah yang panjang tanpa berkata-kata. Sampai akhirnya Jessica memecah keheningan dengan bertanya pada Minwoo sonsaeng.

“Sem, sem suka sama Mrs. Kwon ya?”.

“Mwo? Jangan menuduh sembarangan Jesssica~ssi, Mrs.Kwon itu yeoja terhormat”. Hardik Minwoo sonsaeng sambil melihat ke arah pintu kantor Mrs.Kwon.

“Mrs.Kwwwon”. Ralat Jessica menirukan cara Minwoo sonsaeng yang suka menambahkan tekanan pada huruf tertentu seperti saat memanggil namanya. “Sayang, saya kira sem sama Mrs saling suka. Padahal gabungan antara kalian berdua sangat bagus loh. Rambut sem kan lurus tuh, di gabung sama rambutnya Mrs.Kwon yang agak bergelombang. Nanti pasti kalau sem sama Mrs. punya anak perempuan, rambutnya keriting-keriting mirip rambutnya member SNSD”.

“Mwo? Jangan mengada-ada, lebih baik kita sekarang masuk”. Minwoo sonsaeng mendorong tubuh Jessica dan Tiffany ke dalam ruang kesenian yang saat itu hanya berisi tiga siswa-pengunjung sepertinya.

“Sem”. Sapa tiga siswa tersebut. Minwoo sonsaeng menganggukkan kepalanya untuk membalas sapaan tiga siswa itu sementara Jessica dan Tiffany masih sibuk mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruangan.

“Suzy~ah, kenapa kau bisa bersama yeoja ‘itu’ “. Tanya seorang siswi bername-tag ‘Go Hara’ sambil menunjuk Jessica dengan dagunya. Jessica mendelik ke arah siswi tadi dan melemparkan pandangan dinginnya yang sukses membuat Hara terdiam dan tidak jadi melanjutkan obrolannya bersama Suzy.

“Tunggu kalian bertiga…”Minwoo sonsaeng menunjuk Hara beserta kedua temannya yang masih sibuk memperhatikan gerak-gerik Jessica “…bukankah jam istirahat sudah habis, cepat masuk ke kelas kalian”. Lanjut Minwoo sonsaeng dengan gertakan yang tidak terlalu kasar tapi berhasil membuat Hara beserta dua siswi lain itu langsung keluar dari ruang Kesenian. Jessica tersenyum dengan mimik aneh melihat hal itu.

“Jadi, yang mana lukisan yang di maksud surat kaleng itu?”. Tanya Jessica langsung sambil terus memperhatikan benda-benda semi seni yang bertebaran di dalam ruangan itu. Suzy langsung melesat dengan kecepatan yang tidak terduga dan membuka sebuah kain panjang yang menutupi enam deret lukisan yang di setiap sudut bawahnya tertulis ‘Bae Suzy’.

.

-Tiffany POV

Omo!

Kini aku baru sadar kenapa Mrs.Kwon dan Suzy begitu panik dengan surat kaleng itu. Tujuh lukisan itu memang sangat bernuansa horror. Berisi adegan-adegan orang-orang yang sedang di hukum mati. Lukisan pertama menggambarkan seseorang yang berlumuran darah dengan punggung terluka parah sedang menggedor pintu, sementara si Reaper yang bertampang mirip monster mengejarnya sambil membawa kapak berukuran besar. Lukisan kedua menggambarkan orang yang setengah terbaring di atas meja, tangannya nyaris terpotong, memandang dengan ngeri ke arah sang Reaper yang siap mengahabisi nyawa si korban dengan kapak yang sama dengan di lukisan pertama.

Lukisan ketiga menggambarkan orang yang sedang merangkak di tanah dengan kaki terpotong, dikejar oleh sang Reaper yang mengayunkan parangnya dengan wajah ganas. Lukisan keempat menggambarkan seseorang yang tangannya diikat di dinding sementara si Reaper yang sama mengayunkan kapaknya ke kepala korban.

Lukisan kelima menggambarkan orang yang kepalanya di benamkan dalam air oleh si Reaper yang siap memenggal leher orang itu dengan kapaknya. Lukisan keenam menggambarkan orang yang sedang terjatuh di tangga, dan si Reaper memberinya dorongan untuk jatuh dengan hantaman kapak pada punggungnya.

Semua lukisan itu benar-benar menakutkan, namun yang paling mengerikan adalah sosok si Reaper yang di pada lukisan pertama tampak kecil dan terlihat bagaikan sosok mitos belaka, tampak semakin besar pada lukisan kedua, dan semakin besar lagi di lukisan ketiga. Pada akhirnya di lukisan keenam, sosok Reaper itu tampak begitu besar sementara si korban begitu kecil. Dan kesannya, Geez, kesannya si Reaper itu benar-benar siap keluar dari bingkai lukisan dan menghabisi siapa saja yang ketahuan sedang menatapnya. Ya. Aku baru saja bilang ‘menatapnya’. Mata merah si Reaper tampak begitu nyata ketika menatapku. Kilatannya yang penuh dendam dan benci membuatku yakin bahwa sosok ini memiliki jiwa yang tertanam sangat kuat dalam lukisan ini.

“Suzy~ah, bagaimana bisa kau menggambar hal-hal mengerikan seperti ini?”. Pertanyaan Jessica itu sontak membuyarkan lamunanku tentang sosok si Reaper tadi. Nada suaranya yang jelas-jelas membentak menandakan bahwa dia juga merasakan hal yang sama dengan yang tadi kurasakan. Untuk beberapa saat Suzy tidak menjawab pertanyaan Jessica tadi dan membuatku bertanya-tanya apa yang sedang di pikirkannya.

“Lukisan-lukisan ini memang buatanku. Tapi yang ini…” Suzy menarik sebuah kain hitam lain yang menutupi sebuah lukisan yang terpisah dari keenam lukisan tadi dan Geez, aku tidak bisa berkata-kata “…ada detail yang ditambahkan orang lain. Bukan perbuatanku sama sekali. Jinjja”.

Lukisan itu menggambarkan seseorang yang kakinya digantung sehingga posisi orang itu terbalik. Muka si Reaper yang besar menutupi kapak yang siap menebas tubuh orang itu. Berbeda dengan lukisan-lukisan sebelumnya, sosok si korban terlihat sangat jelas. Berambut panjang, tangannya memegang kuas, dan sepatunya memiliki merek Adidas.

“Ini kan kamu, Suzy~ah”. Teriak Jessica kaget. Aku langsung mengamati Suzy dengan cermat sampai akhirnya mengetahui alasan kenapa Jessica bisa berteriak seperti itu. Sudut sepatu yang di kenakan Suzy memperlihatkan sebuah tulisan dekil berbunyi ‘Adidas’. Ya. Memang tak percuma Jessica punya ingatan fotografis, alias daya ingat yang membuatnya tidak mudah melupakan apapun yang pernah di lihatnya.

“Tapi…”.

“Ada yang sengaja menambahkan detail”. Lanjut Jessica ketika Suzy tidak juga membuka mulutnya. Sepertinya dia benar-benar shock dengan kenyataan baru ini. Kusenggol bahu Jessica untuk menyadarkan yeoja itu bahwa dirinya sudah membuat Suzy ketakutan setengah mati.

“Sica, lebih baik kita temui Mrs.Kwon lagi, kau membuat Suzy ketakutan setengah mati”. Ucapku.

“Mrs.Kwon baru saja pulang karena anjingnya sakit”. Potong Minwoo sonsaeng dengan deheman. Aniya!!.

Geez, pamerannya hanya tinggal empat hari lagi, tapi bukti yang kita dapat hanya segini, ottoke?”. Tanya Jessica dengan nada frustasi palsu. Aku tahu sebenarnya dia sangat senang bisa mendapat tugas seperti ini. Sangat menantang.

“Lebih baik kalian saya antar ke kelas masing-masing, besok baru temui Mrs.Kwon lagi”. Aku, Jessica dan Suzy hanya bisa bergerak maju menuju pintu keluar ketika Minwoo sonsaeng memberikan perintah. Kebetulan kelasku dan kelas Jessica berbeda. Begitu juga dengan Suzy.

Sesampainya di kelas, Park Sonsaeng ternyata sudah masuk dan sedikit mendelik ke arahku.

“Baru dipanggil Mrs.Kwon. Biasa, urusan siswa-siswa pintar”. Kata Minwoo sonsaeng menjelaskan sikon yang tadi kami jalani. Jessica sedikit cemberut ketika kepalanya di ditunjuk-tunjuk oleh Minwoo sonsaeng.

“Oh begitu, ya sudah silahkan kembali ke tempat”. Park Sonsaeng menghardik halus ke arah tempat dudukku yang berada di dekat jendela, tapi baru lima menit aku duduk, sebuah sosok bayangan melewati jendela dekat tempat dudukku. Jessica

“Mau kemana?”. Bisikku sambil melihat sekeliling.

“Toilet. Mau ikut?”. Entah karena sudah tertular sintingnya Jessica atau karena otakku terlalu lelah mengahadapi pelajaran Park Sonsaeng, aku langsung mengangguk sambil berkata “Oke”.

To Be Continue…

*) Note: Hahaha ottoke? Jelek ya? Atau membosankan, mianhae yaa soalnya baru belajar…komentar dan saran sangat di perlukan. Gomawo ^^

22 thoughts on “[FF Freelance] Tujuh Lukisan Horror (Chapter 1)

  1. ini kenapa mirip banget sama cerita novelnya? thor kalo sebagai inspirasi gak bakal mirip banget kayak gini juga. saya sebagai penggemar lexie xu jujur jadi rada kesel juga kan, ini mendekati plagiat namanya.

    • sebelumnya saya minta maaf kalo kesannya mirip bgt(baiklah sebut aja emang mirip) tpi saya udh dpt persetujuan dari ka lex-nya, tpi kalo msh ada yg keberatan saya bakal stop, maaf sekali lgi

    • dan lgi saya akan jujur, di chapter 2 masih akan ada kesamaan alur cerita, jadi jika kamu gk suka, tolong jgn di baca, sprti yg saya blg sblmnya, saya sudah dpt persetujuan ka lex-nya, tpi di chap selanjutny saya pastikan alur cerita akan berubah walau ttp ad bbrp yg mengacu pada novel aslinya, terima kasih sudah memberikan komentar ^^

  2. Jangan sampe JeTi jadi korban disini deh..
    Cukup jadi detektif aja.. u,u
    Ditunggu part selanjutnya.. Seru kok ceritanya. Entahlah, beberapa hari ini suka banget search ff horor😀

  3. wah. asli bikin merinding baca ini. lukisan yg menggambarkan masa depan. apalagi di bagian prolog-nya tuh. siapa itu yg dipotong kakinya?? siapa reaper? apa hubungannya kejadian setahun lalu dengan kapak dan reaper? asli penasaran juga.
    penulisannya bagus, author. bahasa yg dipakai udah bisa bikin pembaca terbawa suasana horor-nya. cuma mungkin tinggal dirapiin penulisannya ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s