I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap. 3]

I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD-MYUNGZYYEON

Author: Anditia Nurul

Judul: I Wanna Give You A Child–Remake Ver. [Chap.3]

Rating : PG-13

Genre  : Marriage-Life, Drama, Angst, Romance

Main Characters: (Infinite) L / Myungsoo, (Miss A) Suzy & (T-Ara) Jiyeon

Additional Characters: (Actor) Kim Soohyun, (OC) Dr. Hwang, (2AM) Jinwon & (OC) Jung Chaehee

Length: Multichapters/ Chaptered

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. Inspirated By Hello Band – 2 Cincin MV, but the plot is mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her/their parents and his/her/their agency. OCs are mine! Versi asli dari FF ini, aku pake cast Ryeowook & OCs. Dan, untuk versi kali ini, aku membuat sedikit revisi, tapi jalan ceritanya masih sama dengan versi aslinya dengan perbaikan tata bahasa di sana-sini :D

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

Previous: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 |

HAPPY READING \(^O^)/

-Suzy’s POV-

Perut Jiyeon sudah mulai membesar. Bulan ini, kandungannya telah memasuki usia 4 bulan. Jujur, selama 4 bulan ini, entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar, Myungsoo Oppa sedikit lebih perhatian kepada Jiyeon. Ya, SEDIKIT lebih perhatian kepada wanita itu.

Ya, tentu saja dia akan seperti itu. Bukankah di dalam perut Jiyeon terdapat calon anaknya?!

Dan lagi, bukankah hal itu yang aku inginkan sehingga semua ini terjadi?!

Ya, sebentar lagi Myungsoo Oppa akan menjadi seorang appa dan Jiyeon akan menjadi seorang eomma.

Lalu aku? Ah! Entahlah. Aku sendiri tidak tahu.

Sore ini, aku sedang berada di sebuah supermarket yang tidak jauh dari rumah. Sedang belanja mingguan seorang diri. Biasanya ada Myungsoo Oppa yang menemaniku, hanya saja… sore ini dia sedang banyak pekerjaan di kantor. Sedangkan Jiyeon…, aku meminta ia untuk tetap di rumah meskipun ia sempat memaksa untuk ikut menemaniku. Aku takut terjadi apa-apa padanya, jadi… aku menyuruhnya untuk banyak istirahat.

Aku mendorong trolley menyusuri lorong buah-buahan. Melihat-lihat deretan rak dengan berbagai varian buah segar. Kuhentikan trolley-ku di dekat rak buah anggur yang telah dibungkus per 1 kilo-nya. Myungsoo dan Jiyeon sangat menyukai buah ini. Namun, di saat aku tengah asik memilih, tiba-tiba ada seseorang yang mencubit pipi kiriku.

“Ya! Apa-apaan ka—” Aku tidak jadi meneruskan ucapanku begitu melihat orang yang mencubit pipikku beberapa detik lalu. “Soohyun Oppa?” seruku terkejut.

Pria itu terkekeh. “Annyeong, Suzy-ya. Lama tidak bertemu,” katanya.

Di saat Myungsoo Oppa dan Jiyeon menghabiskan masa SMA mereka bersama-sama 5 tahun lalu, aku menghabiskan masa SMA-ku bersama pria ini. Ah! Tolong jangan berpikir bahwa dulu aku pacaran dengannya. Kami hanya teman dekat. Tapi, aku akui kalau dulu… pria ini pernah memintaku untuk menjadi yeojachingu-nya dan… aku menolaknya. Aku terlalu polos untuk pacaran saat itu—setidaknya begitu menurutku. Sampai akhirnya, satu-satunya pria yang menjadi pacarku adalah pria yang sekarang menjadi suamiku.

Ne. Kenapa Oppa bisa berada di Seoul, eoh? Bukannya Oppa berada di Busan?”

“Ada sesuatu yang harus aku urus di sini,” jawabnya. “Oh, ya, kau sendiri saja, eoh? Suamimu mana?” tanyanya.

“Myungsoo Oppa sedang sibuk, Oppa,” jawabku.

Soohyun Oppa mengangguk paham. “Oh, ya, apa setelah ini kau ada acara, eoh? Bagaimana kalau setelah ini kita ke café sebelah. Sudah lama kita tidak mengobrol bersama,” ajaknya.

Ne, Oppa. Tentu saja.”

Aku bergegas memilih anggur, kemudian berpisah dengan Soohyun Oppa untuk membeli beberapa hal lain yang dipesan oleh Jiyeon. Namun, aku sudah berjanji dengan pria itu untuk bertemu di kasir. Setelah semua yang ada di daftar belanjaan telah aku beli, aku pun beranjak menuju kasir. Tepat di saat itu, aku melihat Soohyun Oppa yang baru saja selesai membayar barang belanjaannya.

“Belanjaanmu banyak sekali, eoh. Belanja mingguan?” tanya Soohyun Oppa ketika aku telah selesai membayar belanjaanku. Berdua, berjalan bersampingan keluar dari bangunan supermarket menuju café di sebelah.

Ne, Oppa,” jawabku.

Aku dan Soohyun Oppa pun masuk ke dalam café, duduk di meja yang dekat dengan jendela. Seorang pelayan menghampiri kami, mencatat pesanan. Setelah itu, pelayan tersebut pun meninggalkan meja.

“Aneh!” gumam Soohyun Oppa tiba-tiba.

Aku menatapnya sembari mengernyitkan dahiku. “Aneh apanya, Oppa?”

“Kau hamil, tapi kenapa tubuhmu malah lebih kurus, eoh?” ucapnya, membuatku tidak mengerti. “Susu untuk ibu hamil itu punyamu, kan?” Soohyun Oppa menunjuk kantong belanjaan yang aku letakkan di atas kursi yang bersebelahan denganku.

Aku menggeleng pelan. “Aniya, Oppa. Aku tidak hamil. Susu ini untuk temanku.”

“O-Oh. A-Astaga, mianhae, Suzy-ya. Aku pikir kau—” Soohyun Oppa terlihat salah tingkah.

Gwaenchana, Oppa,” ucapku lirih.

“Ehm,” Soohyun Oppa berdehem, “Lantas, kenapa kau kurusan, eoh? Kau diet?”

Aniya,” jawabku. “Belakangan ini banyak hal yang aku pikirkan. Mungkin itu yang membuatku terlihat lebih kurus.”

Soohyun Oppa mengangguk paham.

“Oh, ya, apa… kau masih sendiri, hm? Apa belum menemukan wanita yang sesuai dengan tipemu, eoh?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

Soohyun Oppa terkekeh. “Ajik. Padahal, aku sudah bosan menyendiri.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Kalau begitu, sebaiknya kau tidak terlalu mengikuti tipe idealmu itu, eoh. Itu yang membuatmu kesulitan mendapat pasangan hidup, Oppa.”

Lagi, Soohyun Oppa terkekeh. “Ya, begitulah. Padahal…, dulu aku sudah menemukan wanita yang sesuai tipeku. Sayang…, wanita itu sekarang sudah menikah.”

Aku terdiam, tidak tahu harus merespon seperti apa. Aku tahu betul bahwa wanita yang ia bicarakan adalah aku. Dulu, Soohyun Oppa pernah beberapa kali mengatakan bahwa aku adalah tipe idealnya. Ya, dulu.

Sillyehamnida. Ini pesanan Anda. Selamat menikmati.” Seorang pelayan yang baru saja menyajikan satu gelas strawberry punch dan ice lemon tea di meja, membuyarkan lamunanku.

“Ah~ aku haus sekali~” Soohyun Oppa langsung menyambar strawberry punch kepunyaannya. “Ayo, minum minumanmu, Suzy-ya,” katanya. Aku mengangguk, lalu meraih gelas ice lemin tea-ku. Ucapan Soohyun Oppa beberapa saat lalu cukup menciptakan suasana canggung di antara kami.

“Ah, apa besok kau ada acara, hm?” tanya Soohyun Oppa kemudian.

Aku menggeleng pelan. “Obsoyo. Wae?”

“Bisa temani aku berkeliling Seoul, eoh?” tanyanya. “Ya, itu kalau suamimu mengijinkan,” tambahnya, lalu meminum kembali strawberry punch-nya.

Ne, Oppa.”

@@@@@

Keesokan harinya, sebelum menemani Soohyun Oppa berkeliling Seoul, aku dan Jiyeon menyiapkan makan malam. Takutnya, nanti aku pulang terlambat. Kan kasihan jika Jiyeon harus menyiapkan makan malam sendirian di tengah kondisinya yang tengah hamil. Terlebih, ini kehamilan pertamanya.

“Kenapa menyiapkan makanan secepat ini, Suzy-ya?” tanya Jiyeon heran ketika kami berdua berada di dapur.

Aku yang tengah menggoreng telur, menjawab pertanyaannya, “Aku mau pergi bersama teman lama. Takutnya, nanti aku pulang terlambat.”

“Teman lama? Nugu?”

“Teman SMA, Jiyeon-ah.”

“Oh~” balasnya singkat.

Sekitar 20 menit kemudian, makan malam sudah siap di atas meja. Aku bergegas mandi dan berpakaian, sedangkan Jiyeon duduk di sofa di ruang televisi. Entah sedang menonton acara apa.

“TIIIN!”

Suara klakson terdengar. Ah! Sepertinya itu Soohyun Oppa. Ne, dia bilang dia akan datang menjemputku berbekal dengan alamat lengkap rumah yang aku berikan kepadanya melalui pesan singkat saat jam makan siang tadi.

Aku yang tengah berpakaian pun bergegas. Hingga sesaat kemudian, terdengar suara ketukan pintu kamar.

Ne, Jiyeon-ah?” Tanpa perlu menebak, aku tahu yang mengetuk pintu pasti Park Jiyeon.

Sepersekian detik kemudian, telingaku menangkap suara pintu dibuka disusul dengan suara lembut Jiyeon, “Temanmu sudah ada di luar, Suzy-ya.”

Aku melirik Jiyeon melalui cermin. “Ne.”

Setelah memastikan penampilanku rapi, aku pun beranjak keluar dari kamar. Kudapati Jiyeon telah kembali dengan kegiatannya menonton TV yang menayangkan acara tentang ibu dan anak. Ya, tayangan yang bagus untuk calon ibu seperti Jiyeon.

“Yeon-ah, aku berangkat dulu. Kau tidak apa-apa sendiri di rumah, kan?”

Jiyeon mengalihkan pandangannya dari TV ke arahku. “Ne, gwaenchana. Hati-hati, Suzy-ya.”

Tidak lama setelah itu, aku menghampiri Soohyun Oppa yang duduk di ruang tamu. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, pria itu langsung mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Aku sendiri juga tidak tahu kemana.

“Myungsoo tahu kan kalau sore ini kau mau menemaniku?” tanya Soohyun Oppa  sambil menyetir mobil merah marunnya di atas badan jalan.

Ne, tentu saja. Aku sudah izin padanya.”

“Oh, baguslah,” balas Soohyun Oppa. “Oh, ya, wanita yang di rumahmu tadi siapa?”

DEG!

Aku tersentak mendengar pertanyaan Soohyun Oppa yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Ah, ya! Tentu saja dia pasti merasa heran kenapa ada seorang wanita di rumah. Terlebih wanita itu hamil.

“Temanmu, eoh?” tambah Soohyun Oppa.

Aku mengangguk ragu. “N-Ne.”

“O-Oh~ apa dia teman yang kau belikan susu kemarin?” tanyanya lagi.

Untuk kedua kalinya aku mengangguk. Kalau aku tidak menemukan topik pembicaraan lain, Soohyun Oppa pasti akan terus menanyakan keberadaan Jiyeon di rumah. Bukannya aku tidak ingin mengatakan bahwa wanita itu adalah istri Myungsoo Oppa juga, hanya saja… aku terlalu takut membayangkan seperti apa reaksi Soohyun Oppa jika tahu hal yang sebenarnya. Terlebih, jika ia tahu kalau… itu terjadi karena perbuatanku.

“Kenapa dia bisa tinggal di—?”

Aku memotong pertanyaannya. “Oh, ya, kau mau mengajakku kemana, Oppa?” tanyaku cepat sembari melihat ke arahnya. Pria itu sekilas melihatku dengan tatapan herannya. Sedikit terkejut karena aku memotong ucapannya.

“Em… taman bermain.”

Gantian aku yang terkejut. “Mwoya?”

Sekitar 10 menit melaju di badan jalan, akhirnya kami benar-benar tiba di sebuah taman bermain. Soohyun Oppa lekas mengajakku masuk ke area taman setelah membelikan tiket lengkap dengan sebuah permen kapas.

Suara teriakan orang-orang yang menaiki wahana tertentu, bunyi mesin permainan, suara tangisan anak kecil yang merengek minta dibelikan balon menyambutku dan Soohyun Oppa. Sambil berjalan bersisian, kuperhatikan Soohyun Oppa tengah asik memandangi satu per satu wahana yang kami lewati. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga membawaku ke tempat ini.

Oppa-ya, untuk apa kita ke sini, eoh? Dan lagi, untuk apa kau membelikan aku makanan ini?” tanyaku sambil memegang permen kapas yang ukurannya sebesar kepalaku.

Waeyo? Kau tidak suka tempat ini, eoh? Kau lupa kalau dulu kita sering ke tempat ini?” Soohyun Oppa bertanya balik.

Aku menghela nafas. “Bukan begitu, Oppa. Hanya saja, dari sekian banyak tempat di Seoul, kenapa kau memilih tempat ini, eoh? Bahkan kau membelikan aku permen kapas. Apa di matamu aku terlihat seperti gadis kecil, eoh?”

Soohyun Oppa menoleh ke arahku, lalu terkekeh. “Aigo. Sudah lama aku tidak mendengarmu bicara sepanjang itu padaku… hahaha.”

Ish! Soohyun Oppa ini.

“Ya! Bagaimana kalau kita naik wahana itu?” Soohyun Oppa menunjuk wahana kora-kora.*

Entah untuk keberapa kalinya aku terkejut sore ini. “Mwoya? Sirheoyo!”

Wae? Ayolah. Sudah lama aku tidak naik wahana itu.” Soohyun Oppa tampak merengek seperti anak kecil. Astaga!

Aku menghela nafas pasrah. “Geurae.”

Sooohyun Oppa menarikku memasuki antrian untuk menaiki wahana yang ia maksud. Aku sedikit gugup. Entahlah. Sudah lama aku tidak menaiki wahana itu. Tidak butuh waktu lama mengantri, akhirnya aku dan Soohyun Oppa duduk di dalam wahana bersama beberapa orang lainnya. Dan, beberapa detik setelahnya, wahana ini pun bergerak layaknya sebuah ayunan.

“AAAAAA!!!” Suara teriakanku bercampur dengan suara teriakan Soohyun Oppa dan yang lainnya. Kurasa, tidak ada buruknya naik wahana ini. Setidaknya, ada setitik perasaan lega yang kurasakan di saat aku berteriak.

Usai menaiki kora-kora, Soohyun Oppa lanjut mengajakku untuk menaiki wahana-wahana yang lainnya. Ya, aku rasa Soohyun Oppa benar-benar merindukan tempat ini. Tempat yang dulu sering menjadi tujuan kami untuk melepas stress usai ujian.

“Whoaaa~ areumdawo~” gumamku sambil melihat pemandangan Kota Seoul di bawah sana dengan langit berwarna jingga, warna langit ketika matahari kembali ke peraduannya. Ne, sekarang ini aku dan Soohyun Oppa duduk di dalam wahana kincir angin.

“Suzy-ya?” panggil Soohyun Oppa yang duduk berhadapan denganku.

Aku mengalihkan perhatianku padanya. “Ne?”

“Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanyanya, membuatku mengernyitkan dahiku.

“Apa maksudmu?” Aku malah bertanya balik.

Soohyun Oppa mengalihkan pandangannya ke luar sejenak, lantas kembali melihatku. “Wanita yang di rumahmu tadi. Siapa dia sebenarnya, Suzy-ya? Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku tentang wanita itu.”

Aku terdiam.

“Aku tahu wajahmu saat kau berbohong, Suzy. Jadi, katakan apa yang terjadi sebenarnya.”

“Bukan urusanmu, Oppa,” balasku datar tanpa melihat ke arahnya.

Soohyun Oppa mendengus. “Ya, aku tahu itu bukan urusanku. Tapi, kenapa kau berbohong, hm? Sejak kapan kau belajar berbohong? Sejak menikah dengan Kim Myungsoo?”

Oppa!” Tanpa sadar aku membentak Soohyun Oppa. Nada bicaranya beberapa saat lalu seakan menyalahkan Myungsoo Oppa.

“Dan sekarang kau bahkan sudah bisa berbicara dengan nada membentak seperti itu?!”

“Cukup, Oppa,” pintaku lirih. “Mianhae aku telah berbohong padamu dan mianhae aku telah membentakmu. Aku hanya tidak suka dengan nada bicaramu yang seolah mengatakan bahwa Myungsoo Oppa telah membuatku berubah menjadi seorang pembohong dan suka membentak.”

“Aku tidak bermaksud seperti itu, Suzy-ya,” kata Soohyun Oppa membela diri. “Semenjak bertemu denganmu kemarin, aku tahu ada sesuatu yang sedang terjadi padamu. Aku tahu kau, Suzy. Aku tahu kau,” tambahnya lagi.

Kugigit bibir bawahku dan mengalihkan wajahku darinya. Perlahan, bulir-bulir air mata menggenangi pelupuk mataku. Ya, percuma menyembunyikan semuanya dari Soohyun Oppa. Dia tahu—maksudku, dia terlalu banyak tahu tentangku. Kadang aku berpikir bahwa… mungkin keputusanku saat menolak untuk menerima cintanya dulu adalah sebuah kesalahan besar.

Hah! Astaga, apa yang aku pikirkan?

“Jadi, kau mau menceritakan yang sebenarnya padaku?”

Aku menghela nafas panjang untuk menenangkan diriku terlebih dulu. “Wanita itu memang bukan hanya sekedar temanku. Tapi—” Aku menggantung ucapanku sejenak, “Dia juga istri kedua Myungsoo Oppa.”

Soohyun Oppa berteriak. “Mwoya? Dia sudah gila apa?” geramnya. Untung saja saat ini kami berada di puncak kincir angin sehingga tidak ada orang yang memperhatikannya. “Kenapa dia bisa menikahi wanita lain, sementara kau masih menjadi istrinya?”

“Aku,” kataku, “Aku yang meminta Myungsoo Oppa melakukan itu, Oppa.”

Soohyun Oppa terkejut sekali lagi. “Ha? Astaga, aku tidak percaya ini. Kenapa kau melakukan itu, Suzy-ya?”

“Ka-karena aku mandul, Oppa. Karena aku tidak bisa memberikannya seorang anak, karena itu aku memintanya menikah dengan Park Jiyeon, mantan kekasihnya.”

A-A-Aigoo, Suzy,” gumam Soohyun Oppa. “Lalu, kenapa kau tidak meminta cerai, eoh? Kalau seperti ini, kau akan melukai perasaanmu sendiri, Suzy,” tambahnya.

Aku mengangguk pelan untuk membenarkan ucapannya. “Ne, Oppa. Ne. Aku tahu perasaanku akan terluka, tapi untuk kebahagiaan Myungsoo Oppa, aku akan berusaha untuk baik-baik saja.”

Soohyun Oppa mendengus samar. “Ini hal yang paling bodoh yang pernah kau lakukan, Bae Suzy!”

“Aku tahu, Oppa. Aku tahu.”

Dan sepersekian detik kemudian, air mata yang berusaha aku bendung akhirnya meleleh menyusuri kedua pipiku. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, tidak ingin memperlihatkan wajah sedihku pada Soohyun Oppa. Namun, tidak berapa lama kemudian, Soohyun Oppa menyandarkan kepalaku di bahunya kirinya. Entah sejak kapan ia berpindah posisi ke sebelahku. Tapi setidaknya, dengan begini aku sedikit merasa lebih lega.

Gomawo, Soohyun Oppa.

-End Of Suzy’s POV-

@@@@@

A few weeks later

-Myungsoo’s POV-

Hari ini aku dan Jiyeon akan pergi ke tempat praktik dr. Hwang untuk mengecek kondisi kehamilannya yang telah memasuki trimester kedua. Sambil menunggu Jiyeon selesai berpakaian, aku duduk di sofa sambil menonton televisi.

“Aku pulang~” Suara lembut Suzy terdengar dari arah pintu depan. Aku menoleh ke arahnya, mendapati ia berjalan ke arahku sambil tersenyum.

“Kenapa pulang terlmabat, hm? Kau darimana?” tanyaku sembari membelai rambutnya.

Wanita itu tersenyum. “Banyak yang aku kerjakan di redaksi,” jawabnya. “Kau mau kemana, hm? Rapi sekali.”

“Menemani Jiyeon ke dokter kandungan,” jawabku, disambut ‘oh’ yang singkat dari Suzy.

Semenjak menikah dengan Jiyeon, hal yang paling aku takutkan adalah aku tidak bisa berlaku adil kepada keduanya—Suzy dan Jiyeon. Belum lagi di saat seperti ini, di saat Jiyeon tengah mengandung. Aku takut Suzy merasa aku lebih perhatian kepada Jiyeon, tapi… sebisa mungkin aku berusaha untuk adil kepada keduanya.

Apakah aku egois karena tetap mempertahankan Suzy di sisiku?

Hah~

“Ah~ Suzy-ya, kau sudah pulang?” Suara Jiyeon membuyarkan lamunanku.

“Ne, Jiyeon-ah,” jawab Suzy yang masih duduk di sebelahku. “Kau dan Myungsoo Oppa sudah mau berangkat sekarang?”

Jiyeon mengangguk. “Ne.”

Beberapa menit kemudian, aku dan Jiyeon pun berangkat menaiki taksi. Tidak butuh waktu lama, aku dan Jiyeon pun tiba di tempat praktik dr. Hwang. Terlihat beberapa pasang suami-istri yang tengah duduk menunggu gilirannya.

“Kau duduk di sini saja, Jiyeon-ah,” kataku, membantu Jiyeon duduk di sebuah bangku panjang di dekat seorang ibu yang juga tengah hamil, kemudian mengurus administrasi.

-End Of Myungsoo’s POV-

-Jiyeon’s POV-

Ketika Myungsoo Oppa sibuk mengurus administrasi, aku melihat-lihat sekitarku. Ya, hampir semua pasien yang datang adalah para ibu hamil. Beberapa lainnya terlihat biasa saja. Entahlah, mungkin mereka mengidap penyakit yang berhubungan dengan rahim atau sebagainya. Tidak lama setelah itu, Myungsoo Oppa pun menghampiriku, lantas duduk di sebelahku.

“Sudah berapa bulan?” Seorang wanita hamil yang duduk di sebelahku tiba-tiba bertanya.

Aku menoleh ke arahnya, tersenyum. “Sudah memasuki 5 bulan,” jawabku. “Anda sendiri sudah berapa bulan?” Aku bertanya balik.

“Sudah 8 bulan…,” jawabnya seraya mengelus perutnya yang memang sudah terlihat besar.

“Ah! Sebentar lagi,” balasku.

“Ini kehamilan pertamamu?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk pelan. “Ne.”

Kami berdua pun berbagi cerita sambil menuggu giliran. Wanita ini bernama Sunye dan kali ini  ia tengah mengandung anak keduanya. Anak pertamanya laki-laki dan sekarang berusia 4 tahun. Selama kami mengobrol, Sunye menceritakan pengalamannya ketika ia sedang mengandung anak pertamanya.

“Ny. Min Sunye!” Suara suster terdengar.

“Ah, Mianhae, Jiyeon-ssi. Sudah giliranku,” ucapnya, lalu beranjak dari bangku dibantu oleh suaminya yang sejak tadi duduk di sebelahnya

Beberapa saat kemudian, aku melihat Sunye keluar dari ruangan dr. Hwang bersama suaminya. Wajah keduanya tampak senang sekali. Sepertinya keadaan kandungannya baik-baik saja.

“Bagaimana hasilnya?” tanyaku ketika ia berjalan menghampiriku dan Myungsoo Oppa.

“Syukurlah…, calon bayi kami sehat-sehat saja,” jawabnya.

“Ah… Aku sudah tidak sabar menanti kelahirannya…,” ucap suaminya.

Aku terseyum. “Ne, syukurlah kalau begitu.”

Ya, aku berharap keadaan kandunganku juga sama. Semoga calon bayi di dalam perutku juga baik-baik saja.

“Kalau begitu kami permisi dulu, Jiyeon-ssi. Semoga calon bayi kalian juga baik-baik saja,” ucapnya.

“Ne. Gomawo, Sunye-ssi. Hati-hati di jalan,” balasku.

Ia dan suaminya tersenyum, kemudian berjalan menuju mobil mereka yang berada di tempat parkir. Mataku mengikuti arah kemana mereka berjalan. Sungguh mereka benar-benar terlihat sangat bahagia. Sunye terlihat sangat hati-hati untuk masuk ke dalam mobilnya dengan perutnya yang besar. Beberapa saat setelah keduanya masuk ke dalam mobil, perlahan mobil tersebut pun melaju keluar dari halaman parkir.

“Ny. Park Jiyeon!” teriak seorang suster.

“Jiyeon-ah, sudah giliran kita…,” ucap Myungsoo Oppa. Aku mengangguk.

Pelan, Myungsoo Oppa membantuku berdiri dari dudukku, kemudian berjalan bersisian memasuki ruangan dr. Hwang yang didominasi warna merah muda. Dokter spesialis kandungan itu terlihat duduk di balik mejanya, tersenyum ketika melihatku dan Myungsoo Oppa memasuki ruangan.

“Silakan duduk…,” kata beliau ramah. “Bagaimana keadaan Anda, Nyonya Park?” tanya dr. Hwang begitu aku duduk.

“Baik, Dok. Mual-mual dan rasa lelahku pun sudah mulai berkurang,” jawabku.

“Ah, tentu saja. Kehamilan Anda sudah memasuki trimester kedua,” katanya. “Baiklah, kita lakukan USG untuk melihat kondisi calon bayimu…,” ucap dr. Hwang seraya berdiri dari duduknya.

Aku dan Myungsoo Oppa pun melakukan hal yang sama, beranjak dari kursi menuju tempat tidur yang berada di dalam ruangan. Seorang suster membantu membaringkan tubuhku di atas tempat tidur, sementara Myungsoo Oppa berdiri di sisi ranjang. Suster kembali membantu menggulung pakaianku hingga ke perbatasan perut dan dada. Setelahnya, dr. Hwang menuangkan semacam gel di atas perutku yang terlihat membesar, lantas meratakan gel tersebut dengan sebuah alat yang telah terhubung dengan layar USG yang berada di sisi kiri tempat tidur.

“Lihat Tuan Kim dan Nyonya Park, ini calon bayi kalian,” ucap dr. Hwang. Aku dan Myungsoo Oppa pun melihat ke arah layar yang terpasang di dinding di samping kiriku.

“Ah, jari-jarinya dan telapak kakinya sudah mulai terlihat,” ucap dr. Hwang lagi. Aku dan Myugsoo Oppa terus menatap ke layar, sementara dr. Hwang dengan telaten menggerakkan alat itu di permukaan perutku sehingga aku dan Myungsoo Oppa bisa melihat kondisi calon bayi kami. Sesekali dr. Hwang menjelaskan apa yang terlihat di layar.

Bayiku, eomma sudah tidak sabar menantikan kelahiranmu. Eomma sudah tidak sabar ingin memperlihatkanmu pada appa-mu dan… Suzy.

Dr. Hwang pun menyudahi pemeriksaan USG, lalu memintaku dan Myungsoo untuk kembali ke tempat duduk.

“Syukurlah calon bayi Anda dalam keadaan baik. Banyak-banyaklah makan makanan yang berkalsium dan berprotein untuk membantu perkembangannya. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran,” pesan dr. Hwang.

“Ne, Dokter. Gamsahamnida.”

Dr. Hwang tersenyum, lalu berkata, “Cheonmaneyo.”

Usai pemeriksaan, dr. Hwang memberikan amplop berwarna cokelat berisi foto hasil pemeriksaan USG hari ini. Setelah itu, aku dan Myungsoo Oppa bergegas meninggalkan tempat praktik dr. Hwang. Pulang ke rumah menggunakan taksi. Dalam perjalanan pulang, Myungsoo Oppa tidak hentinya mengingatkan agar aku menjaga betul kandunganku.

“Ingat pesan dr. Hwang tadi. Kau harus banyak makan makanan bergizi, jangan terlalu lelah dan jangan banyak pikiran karena itu bisa mempengaruhi perkembangan janin dalam perutmu…,” nasihatnya.

Ne, dokter Kim Myungsoo…,” candaku. Ia tersenyum mendengar perkataanku lalu mengelus kepalaku.

Semenjak aku mengandung, aku merasa Myungsoo Oppa lebih bersikap hangat padaku. Entahlah. Mungkin karena ia senang sebentar lagi ia akan menjadi seorang appa. Tidak aku pungkiri bahwa aku juga senang dengan sikap Myungsoo Oppa yang seperti ini, namun… di satu sisi, aku semakin merasa tidak enak hati pada Suzy.

Ya, aku tahu ini adalah permintaan Suzy.

Tapi—Ah! Aku sungguh tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini.

-End Of Jiyeon’s POV-

@@@@@

-Back to Suzy’s POV-

Sejak Myungsoo Oppa dan Jiyeon pergi ke tempat praktek dr. Hwang, aku menghilangkan kebosananku dengan menonton TV. Berkali-kali aku menekan-nekan tombol remote, berpindah dari satu siaran ke siaran TV lainnya. Kuhentikan kegiatanku menekan tombol remot begitu sebuah breaking news tengah tayang di salah satu stasiun TV.

Breaking News!

Seorang ibu muda berusia 24 tahun tega membunuh bayinya dengan cara menindis bayinya dengan bantal sehingga bayi tersebut susah bernafas dan akhirnya meninggal dunia. Menurut keterangan dari tersangka, ia tega membunuh bayinya karena bayi tersebut adalah bayi yang lahir dari perbuatan di luar nikah. Sementara ayah sang bayi, tidak mau bertanggung jawab terhadap anaknya tersebut. Hingga berita ini di turunkan, bayi tersebut telah dimakamkan dan ibu dari bayi tersebut kini sedang menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian Seoul.

Demikian breaking news hari ini.

 

Hah~

Salahkah kalau aku berpikir bahwa Tuhan tidak adil padaku?

Di saat ada seorang wanita yang diberikan seorang anak, dia malah menolak anak itu. Sementara aku? Aku benar-benar sangat ingin memiliki anak, tapi—aish! Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku malah membanding-bandingkan diriku dengan wanita itu, eoh!?

Jinccaro!

“Ting… tong!” Suara bel terdengar.

Ah! Mungkin itu Myungsoo Oppa dan Jiyeon.

Kutekan tombol turn-off pada remote TV, kemudianb beranjak menuju pintu depan. Begitu aku membuka pintu, ternyata benar, Myungsoo Oppa dan Jiyeon yang baru saja pulang dari tempat dr. Hwang.

“Bagaimana keadaan kandunganmu, Jiyeon-ah?” tanyaku ketika kami bertiga berjalan masuk ke dalam rumah.

Jiyeon melihat ke arahku, lalu tersenyum sambil mengelus perutnya. “Calon bayi di dalam perutku ini baik-baik saja, Suzy-ya.”

“Syukurlah,” balasku, lalu tersenyum. “Oh, ya, boleh aku lihat fotonya?” tanyaku penasaran. Ya, seperti biasa, setiapk kali Jiyeon pulang memeriksakan kandungannya, ia selalu membawa foto-foto hasil pemeriksaan USG. Jadi…, meskipun aku tidak ikut, aku bisa melihat seperti apa janin yang berada di dalam perut Jiyeon saat ini.

“Ah, ini. Tunggu sebentar,” kata Jiyeon, lantas mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tasnya.

Myungsoo Oppa masuk ke dalam kamar. Kamarku. Entah sedang apa. Sementara itu, aku dan Jiyeon duduk di ruang televise, asik melihat satu per satu lembar foto hasil USG. Bisa kulihat gambar janin yang kira-kira berukuran 8 cm di dalam rahim Jiyeon. Sesekali Jiyeon menjelaskan apa yang ada di gambar itu. Telapak kaki janinnnya sudah terlihat, begitu juga dengan jari-jarinya yang mulai terbentuk.

Jiyeon-ah, kau benar-benar beruntung. Jujur, terkadang aku iri padamu. Aku iri pada wanita-wanita di luar sana yang bisa memiliki anak. Aku juga ingin sepertimu. Mengandung, melahirkan dan membesarkan anak yang lahir dari rahimmu dengan penuh kasih sayang. Mendengar dia memanggilmu eomma, membelai lembut rambutnya saat ia sedih dan memberikannya sebuah pelukan hingga ia ceria.

Aku sangat ingin seperti itu, Jiyeon-ah.

@@@@@

Tanpa terasa, kandungan Jiyeon telah berusia 7 bulan. Perutnya terlihat semakin besar. Ya, tidak lama lagi, bayi mungil di dalam perut Jiyeon akan keluar.

Malam ini,  aku membuatkan Jiyeon segelas susu hangat. Tolong jangan berpikir bahwa aku mendadak menjadi pengasuh ibu hamil, eoh!? Aku hanya membantunya. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena ia bersedia menerima permintaanku menikah dengan Myungsoo Oppa. Dan juga, anggap sebagai ucapan terima kasih karena… dengan adanya Jiyeon, Myungsoo Oppa… sebentar lagi akan menjadi seorang appa.

Begitu segelas susu hangat siap, aku mengantarkan minuman tersebut ke kamar Jiyeon. Berjalan keluar dari dapur melewati ruang televisi. Uh? Tadi kan Myungsoo Oppa di sini? Kenapa sekarang dia tidak ada? Ah, mungkin dia ke toilet.

Aku terus melangkah menuju kamar Jiyeon, sedikit heran mendapati pintu kamar wanita itu terbuka. Mungkin dia lupa menutup pintu kamarnya. Tanpa ragu sedikit pun, aku berjalan ke kamarnyanya dengan segelas susu hangat yang berada di tanganku.

“Ji—” Aku tidak jadi meneruskan ucapanku begitu aku berdiri di ambang pintu sambil melihat ke arah sebuah adegan yang terjadi di depan mataku. Kulihat Jiyeon tengah berdiri sementara Myungsoo Oppa berjongkok di hadapannya. Mencium dan mengelus perut Jiyeon yang membesar.

Bohong jika aku mengatakan kalau… hatiku tidak perih melihat kejadian itu.

Ya, rasanya sangat perih.

Sebelum bulir-bulir air mataku jatuh dan sebelum mereka berdua menyadari keberadaanku, bergegas aku meletakkan susu yang telah aku buat di atas meja yang berada di dekat pintu. Setelah itu, aku beranjak ke kamarku.

Tanpa perlu aku katakan, aku rasa kau sudah tahu apa yang akan aku lakukan di kamar.

-End Of Suzy’s POV-

-Jiyeon’s POV-

“Ah, dia bergerak, Oppa~” ujarku saat kurasakan janin yang berada di dalam perutku bergerak ketika Myungsoo Oppa mengelus lembut permukaan perutku dari luar.

“Ne, sepertinya dia tidak sabar ingin keluar,” balas Myungsoo Oppa, lalu terkekeh. “Ya! Anak appa, kau harus sabar, eoh. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan appa.”

Sebuah senyuman terukir di wajahku saat mendengar ucapan Myungsoo Oppa. Ya, belakangan ini dia cukup sering mengajak bicara janin yang berada di dalam perutku. Aku senang karena… Myungsoo Oppa pun seolah ikut tidak sabar menanti kelahiran bayi ini.

“Uh?” Tanpa saja aku bergumam heran begitu melihat sesuatu yang tadinya tidak ada. Segelas susu di atas meja di dekat pintu.

“Kau kenapa, hm?” tanya Myungsoo Oppa menyadari keherananku.

Aku menunjuk ke arah susu tersebut. “I-Itu… tadi benda itu tidak ada di sana, kan!?”

Myungsoo Oppa melihat ke arah yang aku tunjuk, lantas mengangguk. “Suzy!” gumam Myungsoo Oppa kemudian.

Ya, siapa lagi yang bisa menaruh gelas susu di atas meja tersebut selain Suzy?!

Tidak lama, Myungsoo Oppa berdiri, “Sebaiknya kau istirahat, Jiyeon-ah. Sudah malam,” kata Myungsoo Oppa sedikit cepat. Ia membantuku berbaring di atas tempat tidur, lalu beranjak keluar dari kamarku dan menutup pintunya. Ya, dia pasti pergi ke kamar Suzy.

Aku menghela nafas. Menatap ke langit-langit kamar.

Myungsoo Oppa. Aku tahu semenjak aku hamil, ia menjadi sedikit lebih perhatian. Tapi, bisa aku rasakan kalau perhatiannya itu… lebih tertuju kepada janin yang di dalam perutku ini. Calon anaknya. Sementara untukku? Entahlah. Aku merasa, aku hamil atau tidak pun, di hati Myungsoo Oppa, tetap hanya ada Suzy. Ya, mungkin ada aku. Tapi, tempatku di hatinya mungkin tidak sebanyak tempat tempat Suzy.

Hah~

Apa yang barusan aku pikirkan?

Ya! Park Jiyeon! Ingat apa kata dokter, kau tidak boleh banyak pirikran, ara!? Kau harus menjaga kondisi bayimu.

Dengan hari-hati, aku beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju pintu untuk menguncinya sekaligus memadamkan lampu kamar. Sejak usia kandunganku memasuki 7 bulan, Suzy meminta Myungsoo Oppa agar menemaniku setiap malam, takut terjadi apa-apa. Tapi, aku berani bertaruh kalau malam ini, pria itu akan tidur di kamar Suzy.

Ya, tidak apa-apa.

Aku baik-baik saja.

-End Of Jiyeon’s POV-

Meanwhile…

-Myungsoo’s POV-

Suzy. Orang yang meletakkan susu di kamar Jiyeon tadi pasti dia. Tidak salah lagi. Dan…, itu berarti… Suzy melihatku sedang—aish! Ck! Dia pasti sedang menangis di kamarnya sekarang. Bergegas aku berjalan menuju kamar Suzy. Terlihat pintunya tertutup rapat. Semoga tidak dikunci.

“CKLEK!”

Syukurlah, memang tidak dikunci. Mungkin dia lupa.

Aku berjalan memasuki kamar perlahan dan telingaku langsung menangkap suara isak tangis. Sudah kuduga. Kulihat wanita itu duduk di tepi ranjang sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mungkin ia mendengar suara langkah kakiku, bergegas ia menyeka air matanya.

“Ah, Oppa. Kau membuatku kaget,” ucapnya sambil melihat ke arahku. Bisa kulihat kedua matanya sembab. Di pipinya pun masih terlihat bekas-bekas air mata. Ujung hidungnya pun terlihat kemerahan.

“Kau menangis?” tanyaku, mengambil tempat di sebelahnya.

Ia menggeleng pelan. “Aniya. Aku hanya kelilipan,” elaknya. Aku mengangguk paham. Ya, dia tidak akan mungkin dan tidak akan pernah mengaku bahwa ia menangis barusan. “Apa Jiyeon sudah tidur?” tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan.

“Ne.”

“Oh, baiklah. Aku juga mau tidur. Aku sangat lelah hari ini,” ucapnya pelan seraya menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur. Sepersekian detik kemudian, ia menarik selimutnya, lantas berbaring. “Oppa, kalau kau keluar dari kamar, tolong padamkan lampunya,” pesannya.

Aku mengangguk sebagai balasan atas ucapannya. “Jaljayo~”

“Neodo.”

Usai mengucapkan kata itu, ia memiringkan tubuhnya membelakangiku. Aku pun bangkit dari dudukku, berjalan menuju saklar dan menekannya. Dalam sekejap, lampu kamar ini pun padam. Hanya ada sinar bulan yang masuk ke dalam kamar ini melalui celah jendela.

-End Of Myungsoo’s POV-

-Suzy’s POV-

Aku membuka kedua mataku begitu aku merasa Myungsoo Oppa telah keluar dari kamar. Ne, aku hanya pura-pura tidur. Untuk saat ini, aku ingin menyendiri.

Perlahan, aku mulai menyadari kalau… hal ini sesungguhnya membuatku sangat tersiksa. Di satu sisi, aku harus rela berbagi suami dengan Jiyeon karena aku yang menginginkan semua ini terjadi. Tapi di sisi lain, aku juga sakit hati jika melihat Jiyeon dan Myungsoo bersama.

Aku sungguh bingung.

Dan di saat seperti ini, aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis.

Kau terlalu cengeng, Suzy-ya.

“Cantik, kau menangis, hm?” Aku mendengar suara Myungsoo Oppa di belakangku.

Uh? Sejak kapan dia di sini? Bukannya dia sudah keluar dari kamar!?

Sepersekian detik kemudian, kurasakan ia memelukku dari belakang.

Oppa-ya, apa yang kau lakukan di sini, hm? Seharusnya kau bersama Jiyeon,” kataku sambil berusaha melepaskan pelukannya di pinggangku. Namun yang terjadi malah ia mempererat pelukannya.

“Aku ingin bersamamu malam ini,” ucapnya lembut. Aku bisa merasakan desah nafasnya di bagian belakang leherku. “Saranghae~” ucapnya, lantas mencium bahuku.

“Nado saranghae,” balasku.

Sepertinya aku harus memperbaiki ucapanku. Aku rasa, Tuhan sangat adil. Meskipun Ia menciptakan aku tidak sesempurna wanita lainnya, tetapi ia memberikan suami yang sangat sempurna untukku. Ne, Kim Myungsoo. Aku beruntung memiliki suami sesempurna dirinya.

-End Of Suzy’s POV-

@@@@@

-Jiyeon’s POV-

Hari ini aku meminta Suzy untuk menemaniku berbelanja perlengkapan bayi sepulang kerja. Sebenarnya, aku juga ingin meminta Myungsoo Oppa menemaniku, tapi aku takut merepotkannya. Apalagi ini akhir bulan, waktu untuk tutup buku.

Jam pulang kerja, aku langsung mengajak Suzy ke sebuah department store. Setibanya di sana, kami langsung menuju ke bagian perlengkapan bayi. Aku dan Suzy sibuk melihat-lihat perlengkapan yang cocok untuk bayiku. Aku sedikit bingung dalam memilihnya karena aku tidak tahu bayi yang aku kandung ini laki-laki atau perempuan. Aku sengaja tidak ingin mengetahuinya karena aku ingin hal itu menjadi sebuah kejutan di hari persalinanku nanti.

“Jiyeon-ah, bagaimana dengan ini?” tanya Suzy, memperlihatkan 1 set perlengkapan tidur bayi berwarna hijau muda dengan gambar kepala beruang teddy.

Ne, itu bagus…,” kataku.

Aku lalu melihat-lihat perlengkapan lainnya. Tiba-tiba, mataku tertuju pada rak boneka. Aku berjalan ke rak itu.

Entah kenapa aku berniat membeli salah satu dari boneka-boneka yang tersusun rapi di rak. Hmm, apa mungkin ini permintaan bayiku? Boneka. Apakah bayiku perempuan? Mataku tertarik pada sebuah boneka kucing berwarna merah muda yang berada di rak atas. Aku berusaha menggapai boneka itu.

Hap! Dapat!

Ajussi, aku ingin boneka kucing yang dipegang ajumma itu!” Aku mendengar suara seorang anak perempuan yang merengek kepada pamannya untuk membelikannya boneka kucing yang ada di tanganku ini.

Andwae, Chaehee-ya! Itu boneka milik ahjumma itu.” Kali ini suara paman gadis kecil bernama Chaehee itu.

Andwae! Pokoknya aku mau boneka itu!” rengeknya. Aku menoleh pada gadis kecil itu. Mendapati pamannya berusaha membujuknya untuk memilih boneka lain. Gadis kecil itu berdiri membelakangiku sementara ajussi-nya duduk berjongkok di depan gadis kecil itu. Wajah ajussi-nya tidak telihat jelas karena terhalang tubuh gadis kecil itu. Lagipula, ia mengenakan topi yang menutup sebagian wajahnya.

Hmm~

Kasihan juga ajussi gadis kecil itu.

“Permisi~” Aku menghampiri gadis kecil dan pamannya itu, berniat untuk memberikan boneka kucing yang berada di tanganku. Namun, begitu aku melihat wajah paman dari gadis kecil tersebut, aku terpaku.

Tidak mungkin!

Aku pasti salah lihat!

Orang ini kan seharusnya berada di luar negeri. Kenapa dia bisa berada di sini, eoh?

“Ju-Jung Jinwoon?”

-TBC (>/\<)-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also published on HSF

A/N: Annyeong~

Mianhae ya lagi-lagi telat nge-post. >/\<

Ehm… di chapter sebelumnya ada yang minta masukin cast lain supaya Suzy dan/atau Jiyeon-nya gak sedih-sedih banget, ya. Oke, permintaan kalian terkabul(?). Di chapter ini author masukin Kim Soohyun Oppa untuk menemani(?) Suzy dan Jinwoon Oppa (yang ide awalnya emang akan jadi cast di FF ini).

Banyak yang minta cast tambahannya member EXO. Ya, sebenarnya author juga maunya masukin salah satu member EXO di sini, tapi berhubung di sini author kebagian cast yang di luar artis SMTown, jadi ya… gak jadi deh… ehehe. Semoga kalian sudah cukup puas dengan munculnya Soohyun & Jinwoon (scene-nya memang agak kurang di chapter ini. Mudah2an di chapter depan author bisa tambahin scene mereka😀 ).

Gomawo sudah mengikuti FF ini sampai chapter 3, ya~

Leave your comment again~ Thankseu~~~

217 thoughts on “I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap. 3]

  1. Eh kenapa soohyun oppa tiba tiba dateng? Jangan bilang mau minta suzy balik/? Tuh kan bener… myungsoo oppa jadi sayang ke jiyeon, suzy jadi sakit hati. Aigooo suzy mending minta cerai aja. Ishh myungsoo oppa kenapa juga nyetujuin ide suzy😦 ah greget><

  2. jiwoon? nugu?

    tuh kan suzy sedih tapi mau gmn lagi. myung untung deh masih bisa adil paling ga dia ga berhenti cinta ama suzy🙂 dan jiyeon emang ga salah dan emng dia jga pantes dpt perhtatian khususnya dr myung scr dia lagi hamil. tapi apa benar yg dipikirkan jiyeon? gmn perasaan myung sendiri ke jiyeon saat ini?

  3. Wa ngak lama lg anak myungsoo akan lahir..suzy makin diabaikan oleh myungsoo..siapa sih soo hyun dlm hdp suzy n sapa pula jinwoon..penasaran banget apa yg terjadi dlm keluarganya myungzy..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s