H for?

cats

H For?

Presented by

Junghaha

Main Cast: SNSD’s Tiffany, 2PM’s Nichkhun & Super Junior’s Siwon || Length: Vignette? || Rate: PG-14 || Genre: Ultra AU! Romance & Life

Summary:

H for Horvejkul, H for Hwang.

.

.

.

.

But the question is, which one?

-o-

Sebut saja dia Choi Siwon.

Pria dengan rambut cokelat bergelombang yang selalu membentuk kebisingan dengan stick drum milik ayahnya sejak Sekolah Menengah Pertama, berangsur lama bahkan ketika kami sampai di bangku Sekolah Menengah Atas, Siwon masih mengenakannya. Alih-alih membeli stick baru ketika kami melintas di depan ruko Tuan Lee, Siwon hanya menggeleng lantas kembali merajut langkah dengan kedua tangan yang di sematkan di balik saku. Dia bilang, sticknya masih layak pakai dan keperluannya untuk membeli stick baru masih sangat minim.

Dan dia berbohong.

Aku tahu betul, hidungnya selalu berkedut ketika berusaha tidak jujur. Kadangkala di suatu waktu, aku menjepit hidungnya hingga berdarah—oh tidak, ini berlebihan—karena Siwon mengucap sumpah jika dia tidak mencecap kue susu pembelianku ketika petang. Choi Siwon adalah orang yang keras kepala, kami tidak pernah menghujungkan sebuah pertengkaran dengan hangat. Baik diriku sendiri maupun Siwon, memiliki satu keserupaan yang tidak dapat dielakkan; rasa gengsi yang terlampau banyak—kami sangat amat segan barang untuk meminta maaf lebih dulu lantas berdamai. Well, sejauh ini, naskah cerita membagi plot pada waktu dengan jumlah paling banyak. Mereka tidak menulis naskah dengan tindak Siwon dan Tiffany yang signifikan—seperti berubah rendah hati, contohnya.

Dan kadang ini membuatku merasa rumit; bagaimana bisa seorang keras kepala berteman baik dengan orang bersifat serupa?

Mungkin untuk menjabarkan sebuah alibi, aku membutuhkan waktu dua puluh empat hari dengan tambahan empat jam beberapa puluh detik hanya untuk memikirkannya. Ini sangat rumit; bahkan lebih rumit ketimbang logaritma dan sekarung tugas guru Ahn yang galak.

 

Lantas?

 

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, memandang paman langit dengan awan-awan kecil yang bergelayut lemah kemudian membentuk sebuah bandul—ugh, kali ini lebih mirip ayah kandungku di Daejeon karena para awan yang jahil mulai membentuk kumis dan beberapa janggut. Aku mendengus geli.

“Tiffany, itu bentuk apa?” Siwon menuding awan di pesisir timur Las Vegas lantas menoleh kepadaku yang tengah merengut—berusaha menimbang-nimbang antara kalimat ‘mulutmu bau’ dan ‘itu bentuk gigi kuningmu’ yang harus ku lontarkan. Lalu aku memilih opsi lain dengan berbisik:

“Itu bentuk senior Russel yang cantik.”

Ng, mungkin ada benarnya juga.” Siwon memandang langit untuk kesepersekian kali sementara bibirnya sedang berjinjit simpul. “Pantas saja cuaca hari ini sangat baik. Anginnya tidak terlalu banyak, awan yang satu itu sudah menarik perhatian seluruh pasukan dengan mudah, rupanya.”

Aku terkekeh sementara Siwon berkonsistensi dengan fantasi senjanya sendiri. “Siapa sih yang tidak tertarik dengan celana pendek dan gulungan baju diatas pusar yang—um, bagaimana ya, ini terdengar tidak menyenangkan.”

“Wow, Tiffany Hwang,” kedua alis Siwon bertegur sapa di tengah lantas kembali berbalik arah. Dia terkikik—suaranya seperti Beo terjepit. “kau cemburu?”

 

Apa?

Cemburu?

Oh tidak-tidak, aku tidak serendah itu, kau tahu.

 

Bagaimana bisa… bagaimana bisa Siwon menerka sesuatu yang mutlak bukan seorang ‘Tiffany Hwang’?

Dia tidak mengenalku dengan baik, ugh. Saksi bisu ternyata tidak se akurat itu. Aku bahkan tidak ingat kalau kami sudah menautkan kelingking sejak tujuh tahun yang lalu, tepatnya ketika Siwon hadir di depan kelas dan di tertawakan karena memiliki potongan rambut yang aneh.

Tetapi dia tersenyum.

Membuatku jatuh untuk pertama kalinya pada seorang pria beroktaf rendah, “Boleh aku duduk disini?” dan sesaat ketika kami memperkenalkan diri masing-masing, Siwon membagi satu kalimat yang mengiang di telingaku seolah-olah suara semut petani di sudut dinding.

“Bisakah kita berteman?”

 

 

“Katakan sekali lagi, Choi Siwon. Aku tidak dengar.”

Siwon memandangku dengan tatapan mengejek. “Kau cemburu kan?”

“Terserah katamu,” aku memutar bola mata—cukup jengah. Siwon memiliki strategi yang cukup baik untuk menyusun rencana, bahkan ibunya sempat bertanya dengan nada bergurau: “Kenapa kau tidak ikut klub sepak bola saja, sih?”. Meskipun Siwon berusaha tertawa begitu mengingatnya, ada kilatan kesedihan di balik bola mata dengan iris kelam miliknya yang terkadang bersembunyi di balik kelopak.

Tetapi mereka tidak dapat bersembunyi di hadapanku. Dan Siwon tidak dapat mengelak kalau aku mengenalnya jauh lebih baik ketimbang dirinya sendiri.

“Kau tahu ‘kan kalau aku lebih memilih baju terusan nenekku ketimbang baju-baju milik senior. Disamping badanku tidak bagus,” Tiffany mengedikkan bahu. “Aku buka tipe gadis di pertengahan usia tujuh belas yang seperti itu.”

 

Oke, mari kita renungkan untuk beberapa detik saja.

Aku bahkan tidak ingat berapa tepatnya usiaku saat ini, Siwon juga begitu. Kami sudah berkelana sangat jauh tanpa mengingat waktu—tetapi aku ingat yang satu ini, satu-satunya jam tangan yang kubawa rusak beberapa bulan lalu dan kami tidak memiliki cukup uang untuk membeli jam baru.

Dan oh, aku juga tidak ingat…

 

Siapa itu senior Russel?

 

 

“Tetapi kau cantik, Tiffany.”

Siwon membelai pipiku sangat lembut. “Dan aku mencintaimu lebih dari apapun. Jangan menguji.”

Beberapa pasang daun musim gugur turun dari atas pohon lantas jatuh mengenai daguku yang bergerigi dan kasar. Kali ini aku yang membelai pipinya lembut, merasakan rahangnya mengeras dan itu adalah sebuah pertanda—dia sedang tidak berbohong. Aku memahaminya dengan betul.

“Aku tahu,” sudut-sudut bibirku mengecup hidungnya ringan. “Aku mencintamu juga.”

 

Karena terkadang ini membuatku merasa rumit; bagaimana bisa seorang keras kepala berteman baik dengan orang yang serupa?

Tetapi pertanyaannya kini lain, aku mempertanyakan seluruh orang dengan; bagaimana bisa seorang keras kepala saling jatuh cinta dan berbagi kasih dengan orang yang serupa?

 

Siwon beranjak duduk, memandang sesuatu dari ujung penglihatan dengan kapasitas zoom yang rendah. Tetapi dia dapat mengamati sebuah pagar besi berwarna hitam gelap dengan jelas—menengahi hamparan luas tanah kering yang kesepian. Suara pesawat terbang membuat Siwon meringis kesakitan dan tubuhnya berguncang keras tepat seperti enam tahun yang lalu. Burung-burung gagak bersayap kelam terbang dari ujung menujunya, membuatku seketika terperangah ketika Siwon memelukku intens dan kehangatan yang biasa ku dapatkan darinya sejenak datang.

 

“Berjanjilah, jangan tinggalkan aku.”

 

Tetapi hidup bersamanya adalah keputusanku, sekalipun ibu dan ayah menuntut pertanggungjawaban atas segala bentuk kesimpangan yang aku perbuat ketika Siwon datang saat itu—kau masih ingat kalimat “bisakah kita berteman?”

Sesungguhnya, aku mengartikan kata ‘berteman’ itu sebagai sesuatu yang berbeda.

.

.

.

.

“Aku berjanji.”

-o-

Choi Siwon mungkin dapat menangkapku sebagai seorang Tiffany Hwang.

Tetapi orang lain tidak menangkap Tiffany Hwang yang sama dengannya—mereka menangkapku sebagai seorang Nichkhun Horvejkul.

 Seorang Nichkhun Horvejkul yang berkelainan karena jatuh untuk seorang pria beroktaf rendah,

 

“Bisakah kita berteman?”

-o-

18 thoughts on “H for?

  1. ya Tuhaaaann…!!
    Suami saya (re. Siwon) nape jadi gitu TT…TT
    gue tambahin deh jatah ntar malem, BEIBH :* #plakk!
    Oke, dari segi bahasa menurutku udah bagus tapi untuk ukuran org awam agak sulit dipahami’-‘ gpp mungkin jg inilah ciri khas penulisan author^^
    well, sukses bikin aku bolak balik baca tadi; soalnya saya paling gk suka Siwon dipasangin ama Tiffany^^ but aku cinta banget kalo Fany ama Nichkhun^^ Kukira ini fic khunfany cuz fic mereka udh langkah.-. Eh taunya nih fic ……….. :3
    good good~

    • ng, sebelumnya mau minta maaf buat ngenistain Siwonmu disini xD
      tbh mentahnya ini pairing Minhyuk-Krystal, sejurus setelah difikir-fikir ternyata mereka nggak se ugh Tiffany-Nichkhun-Siwon jadi gini deh, hehehe. Thanks ya!

  2. Anneyeong.. Aku masih ga ngerti sama ceritanya.. Mungkin otakku aja ya yang kelewat lemot? :_:
    Ada yang bisa jelasin ga? *modus
    Tapi aku suka kata-katanya walopun ga ngerti alurnya #plak
    Ditunggu ff lainnya ya^^

  3. … Speechless..
    Nichkhun ceritanya transgender dari cowok ke cewek dalam bentuk Tiffany? Aku nggak nebak sama sekali jalan ceritanya, apalagi dengan nggak munculnya Nichkhun, kupikir dia bakal cuma jadi cameo atau sebagainya tapi.. ini keren! Endingnya sama sekali gak ketebak dan bikin nggak bisa komentar apa-apa lagi ;A;
    Aku suka diksinya nih, nggak terlalu berat tapi bikin kebawa sama ceritanya.
    Keep writing ya!😀

    • BLUEMALLOWS! ;A;
      pertama-tama aku kepingin bilang kalau aku fans berat ficmu, karena kita se-line ga apa apa ‘kan kalau kenalan dulu? xD /modus. Aku Alshela 99line, bunch of thanks karena udah ngesisipin waktu buat baca this fic which is absurd/gak layak baca dan kasih komentar setinggi ini… hiks :”) thanks ya!

      • Halo Alshela! Salam kenal, Tirza di sini xD (Nggak nyangka lho kita se-line, diksi kecemu menipu umur xD)
        Username twitter kamu apa? Nanti aku follow /modusin balik lol :p

  4. !!!! gk ketebak ceritanya
    daebak!! critanya transgender yaa…
    hhmm.. aku pikir tiffany sama siwon beneraann,,
    author pinter bgt bikin alur yg menjebak reader
    aku suka !😉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s