[FF Freelance] It’s Still A Dark Night

its-still-a-dark-night-deercho-storyline

Title: It’s Still A Dark Night

Author : DeerCho

Main Cast:    – Xi LuHan

                        -Kai / Kim JongIn

                        -Jung YeNa

Duration (Length): Ficlet

Genre: Romance, angst (?) and little bit fantasy

Rating: General

Disclaimer : this story is mine and pure my imagination. The poster is made by LeeYongMi. And the casts are belong to god except LuHan J. LuHan is mine😀😄

Summary : segala sesuatu yang tercipta takkan berubah mejadi abadi. Tapi pertemuan dan takdir membuatnya percaya kehilangan sekarang bukan berarti dia benar-benar pergi. Akan ada waktunya mereka dipertemukan kembali dalam dunia tanpa keabadian ini lagi.

-“Jangan menangis jika tak ada  aku disisimu em?”-

Note : anyeong J ada baiknya baca ff ini bersamaan dengan dengerin lagu ‘ it’s still a dark night ’ nya EXO yg di Immortal Song 2, mungkin feelnya akan lebih terbangun.  O, ya mohon maaf kalo ffnya gaje… jujur saya masih belajar,  mungkin akan ada feel yg kurang di ff ini hehehe dan mohon reveiwnya🙂 Happy reading J

 

 

‘It’s Still…’

You are my angel who united with the moon. Please comeback and keep your promise to remove the darkness of the night in my life.

+++

Langkah cepat mengiringi pergerakan seorang gadis yang tampak begitu gelisah seperti telah terjadi sesuatu.

‘Tanamkan dihatimu bahwa aku takkan pergi sebelum mengucapkan bahwa aku sangat mencintaimu nona Jung.’

Sepercik kalimat masa lalu menggenang di kepalanya memberi unsur takut berlebihan pada dirinya. Hatinya bergemuruh merasakan perasaan yang sangat aneh. Ia takut. Takut jika seseorang yang tengah ia kejar mati-matian lupa akan janjinya.

Tiba-tiba terdengar bunyi gesekan pintu di koridor panjang sebuah tempat yang sama sekali tak asing baginya. Ia cukup sering melewati harinya hanya untuk menemani pria tampan yang tengah asik membaca majalah tanpa tahu seberapa paniknya gadis itu saat mendengarkan sambungan telepon dari pria muda yang tengah asik mengutak-atik telepon selulernya.

“LUHAN !” suara itu menggema memenuhi ruangan bercat putih dengan aroma khas yang selalu menjadi ciri utama tempat itu -Rumah sakit-. Nafasnya memburu menahan airmatanya selama berlari agar cepat sampai. Namun melihat orang itu baik-baik saja hatinya berubah menjadi tenang. Lega. Itulah perasaannya.

Wae?”

“YA! KamJjong kenapa menelponku dengan cara seperti itu ? Kau ingin membuatku panik eoh ? Atau kau ingin membunuhku?” Teriaknya kencang sambil melangkah mendekati pria berkulit tan itu dengan gaya andalannya, berkacak pinggang. Memperlihatkan ekspresi marah yang tak terduga namun bukannya membuat pria itu takut dia malah tertawa terbahak-bahak.

“YA! kau kenapa ?” kali ini gadis cantik itu mengerucutkan bibirnya memberi kesan imut berlebihan. Ia kesal namun ia juga bahagia karena satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki kini tengah tersenyum lembut kearahnya. Menghiraukan manusia satunya lagi yang membuat emosinya naik turun.

“Ekspresimu lucu sekali nona” ucapnya sambil memegang perutnya dan melanjutkan tawanya yang belum terselesaikan.

“Sudahlah JongIn-ah jangan menggodanya lagi. Kau tak lihat betapa merah wajahnya sekarang? Neomu kyeopta. Joayo.” Ucap LuHan sambil memberikan senyuman terbaiknya. Tak sadar bahwa senyumannya memberi efek yang cukup fatal pada gadis dihadapannya. Wajahnya bahkan semakin memerah dan kehilangan memori bagaimana seharusnya ia bertingkah. Gadis itu kikuk namun sebisa mungkin ia menetralkan suasana hatinya yang kini menunggu untuk meledak akibat bom senyuman dari baby deer-nya.

‘A Dark…’

+++

Yena-ya?” Sebuah suara timbul memecahkan keheningan diantara dua manusia yang tegah dengan seksama memandangi objek favorit mereka diatap gedung dari tempat mereka sekarang yang merupakan ujung gedung rumah sakit berlantai sepuluh tersebut.

Sebuah gumaman menjawab pertanyaan pemuda tampan dengan manik mata cerah miliknya.

“Bulan hari ini terlihat lebih bersinar dari biasanya benar kan ?” Tanyanya namun sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada lawan bicaranya. Ia tetap asik memandangi betapa luar biasanya ciptaan Tuhan. Sebuah benda yang sampai kapanpun takkan bisa ia sentuh ataupun menjadi miliknya namun selalu menemani malamnya, memberi sebuah harapan akan kebersamaan yang indah nantinya. Menerangi hatinya yang kelabu saat ia akan menyerah. Sama seperti hatinya yang selalu ditahan untuk tetap bertahan meski ia lelah.

“benarkah? Aku tak merasakan jika bulan hari ini berbeda. Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Wae?”

“aku bergetar menahanmu disisiku. Berusaha agar kau tak tersakiti dengan kondisiku. Jika tak ada lagi kata cinta yang terucap dari bibirku bisakah kau berjanji untuk tetap bahagia?” pertanyaan itu dengan cepat mengalihkan pandangan Yena menghadap takdirnya. Matanya menyiratkan ‘apa yang kau katakan’. Namun LuHan dipastikan tak melihatnya karena pria itu masih tetap teguh menatap langit yang dipenuhi bintang dan satu buah cahaya pengharapannya. Tempatnya meluapkan setiap perasaanya setiap malam. Mengungkapkan harapannya bahwa Yena akan selalu tersenyum.

“Luhan..Lihat aku dan lupakan setiap beban yang tertanam di hatimu” ucap sebuah suara lembut yang memenuhi pendengarannya. Sebuah  tangan lembut tersampir dengan manisnya membelai wajah yang tampak bersinar dibawah langit malam SEOUL. Luhan tersenyum melihat gadisnya yang terbiasa merengek kini berubah menjadi dewasa.

“Jangan pernah mengatakan selamat tinggal meski hanya di dalam hati, tempat yang paling jauh dari pendengaranku. Arrachi ?” kalimat itu sangat jelas bagi LuHan dalam menggambarkan perasaan gadis-nya. Dia ketakutan. Wajahnya yang begitu cerah kini berubah muram. Guratan kesedihan terlukiskan oleh goresan kalimatnya. Ia sadar telah membuat Yena sedih. Tapi LuHan tak bermaksud menyakitinya.

Perlahan tangan LuHan menarik tangan Yena dari wajahnya dan menggenggam kedua tangan mungil itu lembut. Menatap sepasang manik indah yang merupakan pendaran kekuatannya. Namun kini kedua bola mata indah itu dipenuhi kaca transparan cair dan itu menyakitinya.

“Maaf.. membuatmu khawatir terlalu banyak. Aku..selalu menjadi bebanmu.” Kalimat itu meluncur seiring dengan senyuman hangat dari namja yang terlihat bagai malaikat yang hidup disekitarnya. Disekitar hidup Yena yang penuh dengan cacat. Pria itu satu-satunya yang ia miliki didunia ini. Satu-satunya manusia yang mengganggap keberadaannya berharga ditengah begitu banyak hinaan yang memenuhi hari-harinya. Putri dari pasangan yang difitnah melakukan korupsi dan dibunuh secara sadis. Menyisakkan trauma mendalam pada mentalnya. Tapi malaikat itu datang saat ia benar-benar terpuruk menjadi satu-satunya tempat ia bergantung. Jadi mana mungkin LuHan akan menjadi beban baginya ? tidakkah semua itu harusnya ditujukan padanya? LuHan menderita terlalu banyak karena melindunginya.

“aku… sangat bersyukur karena kau tetap disisiku. Menemaniku dan tetap menjadi satu-satunya dimana hatiku berlabuh. Jadi jangan katakan atau lakukan apapun yang dapat menyakitiku. Kau selalu mengatakan bahwa aku harus bahagia melebihi siapapun dan kebahagiaanku yang melebihi dari apapun yang dapat terbentuk di dunia hanya kau. Kau Xi LuHan. Jangan menoleh kebelakang dan tetaplah menatap mataku. Apapun yang mungkin akan terjadi dimasa depan, kau harus berjanji tak ada kata perpisahan. “ Tepat satu kalimat terselesaikan, air mata menemani kesedihannya. Menemani hari-harinya, dimana setiap orang diluar sana yang hanya melihatnya sebagai gadis yang begitu bersemangat takkan menyangka jika hidupnya dikelilingi dengan tangisan menyedihkan.  Hanya LuHan dan akan selalu menjadi LuHan yang mengetahuinya sebagaimanapun ia menyembunyikannya.

“adakah yang sakit ?” tanya Yena pelan saat melihat  LuHan mengusap dadanya. Raut khawatir tampak jelas diwajahnya bahkan sampai gesture tubuhnya melakukan hal serupa. Matanya tak henti-hentinya berputar melihat dada LuHan dan wajahnya, menunggu LuHan membuka suara namun ia sama sekali tak melakukannya. Pria tampan itu hanya diam dan tersenyum seakan mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.

“ Lu…setiap kesulitan di hidupmu jelaskan padaku. Aku disini bersamamu. Memberimu sebuah dorongan untuk melakukan apapun yang kau  anggap benar. Ya aku, selalu dan akan selamnya seperti itu sampai takdir tak lagi berada di pihak ku. Hingga akhirnya dunia memberikan kita kesempatan untuk berjumpa lagi dikehidupan yang lebih baik. Akan terus seperti itu LuHan…”

“Yena-ya… kau tahu aku takkan bisa bersamamu selamnya, tapi percayalah aku tak pernah benar-benar pergi. Aku selalu disini. Dihatimu.” Ucap LuHan sambil menggerakkan tangan Yena kearah ulu hatinya. Menunjukkan tempatnya berada. Begitu dekat.

“Jika kau rindu padaku tataplah bulan itu dan sentuhlah hatimu. Rasakah bahwa aku ada meski tak benar-benar nyata. Penenangmu saat kau terpuruk. Berjanjilah utuk bahagia. Jangan menangis lagi setiap malam. Aku tahu kau masih melakukannya. Jangan menangis jika tak ada  aku disisimu em?.”  Tanya LuHan lengkap dengan senyum lembutnya sambil menarik dagu Yena pelan. Memperhatikan betapa basahnya wajah cantik itu sekarang.

“Menangislah. Puaskanlah hasratmu untuk meleburkan rasa sakit itu menjadi tangisan tapi..setelah itu ini takkan terjadi lagi.” Isakan itu terdengar menyakitkan ditelinganya. LuHan lemah bahkan sangat lemah jika menyangkut Yena. Sejujurnya ia..sangat takut meninggalkan gadis yang begitu rapuh itu sendiri. Yena sudah tak memiliki siapapun di dunia ini. Ia takut takut jika gadis yang merupakan sumber kebahagiaannya akan menjadi lebih terpuruk. Sangat sangat bahkan lebih besar dari ketakutannya akan unsur kematian.

“Sudah? Aku..ingin bermimpi dibawah sinar bulan, bolehkah ?” Tanya LuHan pelan memperhatikan wajah Yena yang tadinya tertunduk kini mendongak menatapnya. Mata mereka bertemu. Perasaan kehilangan sangat jelas akan merenggut tatapan mereka. Gadis itu diam masih melihat mata itu. Hening beberapa detik sampai anggukan keyakinan itu meyungginggkan sebuah senyuman manis yang terpatri di wajah LuHan. Perlahan ia menutup matanya merasakan betapa nikmatnya tidur ditemani cahaya rembulan dan sentuhan lembut dari angin malam. Ia sudah lelah dan tak ingin terlalu lama menatap hidupnya.

Yena-ya..aku..takkan mengucapkan kata perpisahan tapi…hanya sebuah kata..sampai jumpa. Saranghae.”

Atap rumah sakit itu seakan menjadi saksi bisu akan kepergian seorang manusia berwujud dan serupa malaikat. Hatinya, wajahnya mengisyaratkan ia benarlah seorang malaikat yang menemani gelapnya hidup seorang gadis yang terdiam membisu memperhatikan ketenangan di wajah damai itu. Air matanya memang mengalir dengan lancar tapi tak ada isakan atau kata apapun yang keluar dari bibir tipisnya. Matanya tak henti-hentinya memandang objek tanpa cacat itu. Dia diam sambil menggigit bibir bawahnya berharap hal itu berguna mengurangi rasa sakitnya. Tapi persetan dengan itu semua rasanya bahkan jauh lebih kompleks dari hanya sekedar kata sakit. Sesak, bagai teriris samurai. Perih. Bahkan ia tak tahu bagaimana caranya bernafas lagi. Gadis itu memegangi dadanya namun tak mengalihkan pandangannya.

“YENA-YA!!!” teriakan itu bahkan hanya terdengar  seperti sebuah dengungan tak berguna ditelinganya. Seakan seluruh syarafnya sudah tak berfungsi lagi. Tangannya bergetar. Membuat laki-laki yang berteriak memanggil namanya menatap miris kearah dua insan yang kini harus terpisah oleh jarak, ruang dan waktu.

Kakinya terayun medekat. Memberikan pelukan hangat pada gadis yang berlutut dengan tatapan kosong namun pandangannya mengarah kearah LuHan. Tubuhnya masih bergetar hebat.

“Yena-ya ..aku disini.” Ucap sebuah suara yang juga tak kalah bergetar. Miris melihat keadaan gadis yang diam-diam ia perhatikan tanpa sepengetahuannya, begitu kacau. Menatapnya dari kejauhan tanpa berharap banyak bahwa gadis itu akan balik menatapnya.

“Kai..apakah aku masih bisa hidup.. dan memenuhi permintaan LuHan jika kebahagianku pergi ?” tanya Yena lirih. Kai terdiam. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Ia bingung memilah kata-kata yang tepat untuk meyakinkan Yena bahwa ia disini. Dia.. akan berdiri menjadikan gadis itu gadis paling bahagia melebihi siapapun di dunia ini.

“Bulannya indah sekali. Ia bersinar lebih terang. Apa.. karna ia membawa LuHan bersamanya? Karna itukah bulannya menjadi jauh lebih indah ?” tanyanya lagi pada pemuda yang masih setia memeluknya. Kai medongak dan menatap bulan. Ia tersenyum kecut. Merasa bahwa apa yang dikatakan Yena benar halnya. Bulan yang dirasa menyimpan malaikat terbaik di dunia ini.

“Dia..berada ditempat yang sangat indah bukan ? Ditempat favoritnya. Kai dengarkan aku.. aku.. takkan menangis lagi sampai LuHan berada disisiku lagi.” Ucapnya mantap dan mengusap air yang menempel diwajahnya.

“Aku akan bahagia. Dan bertemu dengamu lagi. Saranghae Xi LuHan. Sampai jumpa di keadaan yang lebih baik. Dikehidupan yang  memberikan celah agar cinta kita tersampaikan dan berakhir indah.”

‘Night.’

+++

Bulan tampak bersinar cerah menemani kesunyian malam yang begitu gelap di dalam mimpi seorang gadis yang tiba-tiba memaksa kelopak matanya  agar terbuka. Tekanan udaranya terasa menipis hingga ia terengah-engah sampai seseorang membuka pintu dan menyadarkannya bahwa semua itu hanya mimpi. Sosok sempurna itu melangkah mendekat kearah ranjang.

“it’s still a dark night, baby. Let’s see tomorrow it will be a shine life. Close your eyes and feel, if I always beside you. Good night. And have a nice dream then.” Alunan kata itu terdengar sangat lembut memberi ketenangan pada sosok cantik disampingnya yang baru saja memutar memori itu lagi.

beside me please… Xi Luhan. Erased that dark night in my dream.” Ucapnya pelan dengan garis senyum manis diwajahnya. Perlahan pria bernama Xi LuHan itu mendekat dan memeluk gadisnya. Menyisipkan kata-kata manis sebelum benar-benar terlelap.

“semua akan baik-baik saja”

I know and I believe…we meet again Lu..”ucapnya pelan dan menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih.

Of course. Saranghae, Jung YeNa” kata-kata indah itu meluncur dari mulut LuHan dengan diakhiri  kecupan ringan dipuncak kepala  gadis-nya.

*END*

*BOW* please RCL ne J o,ya kalo mau, bleh kunjungi wp saya ya .. chokimxi.wordpress.com atau twitter saya @indi_eb9 heheheh #promosi

4 thoughts on “[FF Freelance] It’s Still A Dark Night

  1. miris bgt yaaa…
    yena sama kai tuh, kan masih ada kai
    tapi ujungnya sama luhan jg.. gpp deh
    kai nya sama aku aja *ditimpuk author*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s