Oneshot : Shoot

shoot_2

 Title : Shoot

Scriptwriter :  wolveswifeu

Main Cast(s) : Jr JJ Project | JB JJ Project

Cameo(s) : Krystal F(x) | Sooyoung SNSD

Genre(s) : Thriller | Horror | Romance | Family | School Life

Rating : PG 17+

Disclaimer : The story is purely mine.

Poster by phoenixfrombusan

Wolveswifeu’s New Fiction, Shoot

                Kebisingan ruang kelas itu sudah merupakan sebuah kebiasaan bagi para pendengar di sekolah ternama di Korea Selatan ini, tepatnya di Seoul. Seorang guru yang berpenampilan sangat rapi masuk ke ruang kelas yang amat bising itu sambil mengulas senyumnya. Siswa laki-laki berambut blonde itu membuat senyuman guru tersebut menghilang ketika guru itu melihatnya. Guru tersebut meletakkan buku yang dia pegang ke atas meja guru sambil tersenyum lagi.

“Hari ini kita kedatangan murid baru.” Kalimat pembukaan guru itu disambut dengan keheningan oleh para siswa.

“Bukankah itu hal biasa, guru? Setiap tahun juga ada murid baru.” Celetuk seorang siswa. Sang guru hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mendengar siswa itu berkomentar.

“Masuklah!” Perintah sang guru sambil menengok ke arah pintu masuk.

Seorang siswa laki-laki berpakaian rapi dengan tas ransel yang agak penuh dengan buku-buku masuk dari ambang pintu sampai berdiri di samping guru, tepatnya di depan kelas.

“Perkenalkan dirimu.” Suruh sang guru kepad asiswa baru itu. Siswa baru itu tersenyum dan menundukkan tubuhnya sebagai salam pembuka.

“Perkenalkan, namaku Park Jinyoung. Pindahan dari Busan. Mohon bantuannya!” Ucapan perkenalan Jinyoung itu direpon dengan dataran bibir oleh para siswa. Jinyoung langsung tersenyum kecut.

“Haha, mereka pasti akan senang mempunyai teman sepertimu!” Kata sang guru. Jinyoung menundukkan tubuhnya lagi kepada guru tersebut.

“Terima kasih guru Lee.” Balas Jinyoung. Jinyoung menoleh ke seluruh isi kelas. Dia mencari bangku yang kosong.

“Guru, aku duduk dimana yah?” Tanya Jinyoung sesopan mungkin.

“Tunggu seben—“ ucapan guru terhenti ketika matanya melihat sebuah bangku kosong, di sebelah sang siswa berambut blonde. “Bagaimana kalau kau mengambil bangku tambahan dari gudang?” Tanya guru Lee. Jinyoung langsung mengecek bangku seisi kelas. Matanya melebar saat itu juga ketika melihat sebuah bagku kosong. Bagaimana bisa guru Lee menyuruhnya mengambil bangku kosong dari gudang kalau ada bangku yang menganggur seperti itu?

“Sepertinya ada bangku kosong, guru.” Ucap Jinyoung. Semua mata seisi kelas itu langsung menoleh ke arah siswa berambut blonde.

“Kau yakin?” Guru Lee berusaha meyakinkan Jinyoung. Jinyoung mengangguk dengan cepat sambil tersenyum.

“Ba..baiklah.”

                Istirahat kedua sudah berlalu, seluruh siswa masuk lagi ke dalam kelas. Begitupun Jinyoung. Well, Jinyoung masih belum mendapati teman sampai sekarang. Sepertinya Jinyoung harus mengutuk noona-nya yang memasukkan Jinyoung ke sekolah sampah ini.

Jinyoung duduk di bangku di sebelah siswa berambut blonde yang masih sibuk memetualangi dunia mimpinya sedari tadi pagi. Suara speaker di kelas Jinyoung berbunyi, menandakan sebuah pengumuman akan segera diumumkan. Jinyoung mencolek teman sebangkunya –siswa yang berambut blonde dengan niat membangunkannya agar bisa mendengar pengumuman bersama.

“Permisi, bangunlah.” Kata Jinyoung. Semua mata siswa di kelas itu langsung memerhatikan Jinyoung dengan tatapan aneh, ketakutan, susah untuk dijelaskan. Jinyoung merasa tengah diperhatikan, dia langsung menoleh ke belakang –siswa yang memerhatikan Jinyoung.

“Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Jinyoung dengan heran.

Dikarenakan hari ini hari pertama kalian masuk sekolah, jadi ada pendataan ulang untuk klub. Seperti biasa ada klub untuk basket, futsal, design graphics, dan—

                “Kau ikut yang mana?” Terdengar suara dari sebelah Jinyoung. Dia langsung menoleh ke arah kirinya.

“Oh, kau sudah bangun?” Tanya Jinyoung. Siswa berambut blonde itu mendecakkan lidahnya.

“Im Jaebum.” Siswa berambut blonde itu malah memperkenalkan dirinya sendiri. Jinyoung menggaruk tengkuknya sambil kebingungan.

“Aku Park Jinyoung.” Balas Jinyoung. Jaebum berdiri sambil membenarkan seragamnya yang agak kusut itu.

“Bersedia untuk satu klub denganku?” Tanya Jaebum. Jinyoung terdiam. Kenapa lelaki berambut blonde ini agak aneh.

Untuk klub basket bisa berkumpul di lapangan basket indoor setelah pulang sekolah—

                “Kau dengar? Kami menunggumu.” Lanjut Jaebum lalu pergi meninggalkan Jinyoung. Dia tercengang, apakah ini sebuah undangan untuknya?

                Dengan ransel yang sedikit berat Jinyoung berjalan menelusuri koridor sekolah barunya ini. Kepalanya terdeongkak ke atas, melihat papan kayu yang menyantol di ujung pintu dengan nama Sport Indoor. Jinyoung bingung, ntah karena sekolah ini terlalu besar atau dia sedang dijebak oleh hantu sehingga tidak sampai tempat tujuannya sedari tadi.

Jinyoung melihat seorang siswi di ujung koridor. Dia langsung berlari menghampiri siswi itu dengan niat menanyakan dimana tempat dia bisa menemukan lapangan basket indoor tersebut. Dengan hati-hati Jinyoung mencolek punngung siswi tersebut.

“Permisi, bisakah aku berta—“

“Bertanya apa?” Siswi itu menoleh sehingga pertanyaan Jinyoung terhenti oleh kecantikannya.

“A..a..” Jinyoungpun terbata-bata. “Aku ingin bertanya diama lapangan basket indoor.” Siswi itu tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya.

“Jung Soojung.” Jinyoung kebingungan. Lagi-lagi ada orang yang mengajak berkenalan –setelah Jaebum. Dia masih diam, tidak membalas uluran tangan itu sampai…

“Namamu?” Tanya siswi yang bernama Jung Soojung itu.

“Park Jinyoung.” Jawab Jinyoung sambil menyambut uluran tangan Soojung itu.

“Kau anak baru?” Tanya Soojung sambil memulai langkahnya, Jinyoung mengikuti Soojung dari belakang sambil memegang punggung lehernya.

“Iya, hehe.” Tawa canggung Jinyoung itu langsung memenuhi koridor sekolah tersebut.

“Sampai.” Ucap Soojung sambil berdiri di depan pintu berwarna coklat dengan tempelan karakter anime disana. Sedikit kekanak-kanakkan, batin Jinyoung.

“Jadi disini tempatnya?” Tanya Jinyoung. Soojung mengangguk mantap. Seharusnya aku jalan sedikit lagi, sial, oceh Jinyoung dalam hati.

“Baiklah, aku masuk dulu ya?” Pamit Jinyoung.

“Baiklah.” Setelah mendengar balasan Soojung, Jinyoung langsung membuka pintu tersebut dan…

“Tempat apa ini?” Respon Jinyoung ketika melihat isi dari ruangan itu. Gelap, berantakan, pebuh debu dan tak berpenghuni. “Sial!!” Gerutu Jinyoung lalu keluar dan membanting pintu tersebut dengan keras.

“Hei! Siapa itu?” Terdengar suara teriakkan dari salah satu ruangan, kemudia terdengar suara pintu terbuka, Jinyoung menoleh ke asal suara dan siswa berambut blonde yang muncul.

“Jaebum?” Panggil Jinyoung untuk memastikan.

“Oh, anak baru? Sedang apa kau? Cepat kemari!” Suruh Jaebum sambil mengajak Jinyoung masuk ke dalam dan Jinyoung pun mengikutinya.

Sesampai di dalam, Jinyoung duduk tepat di sebelah Jaebum. Sebelumnya Jinyoung juga mendengar instruksi dan arahan dari sang pelatih dengan seksama sampai Jaebum memecahkan konsentrasinya.

“Tadi kenapa masuk ke ruangan itu?” Tanya Jaebum setengah berbisik.

“Eoh?” Respon Jinyoung. “Oh, tadi ada seorang siswi yang mengantarku kesana.” Lanjut Jinyoung.

“Siswi? Jangan membuat lelucon aneh, ini sekolah khusus laki-laki!” Oceh Jaebum. Jinyoung tersentak. Jadi, Jung Soojung itu siapa?

                Tangan Jinyoung bergemetar hebat. Ditambah lagi dia sendirian di rumahnya –sedang menunggu noona-nya pulang sambil memikirkan kejadian aneh bin ajaib tadi siang dengan yeoja yang mengaku dengan nama Jung Soojung atau memang Jung Soojung?

Pintu rumah Jinyoung terbuka. Secara otomatis Jinyoung langsung menoleh ke pintu rumahnya da nada Choi Sooyoung –noona-nya disana. Well, Jinyoung memang bukan anak kandung dari keluarga Choi melainkan anak angkat.

Noona!!” Panggil Jinyoung. Sooyoung langsung menoleh sambil menukar sepatu kerjanya dengan sandal rumahnya.

Wae?” Respon Sooyoung.

“Kau sudah tidak gila kan? Kau masih waras kan?” Tanya Jinyoung bertubi-tubi.

“Hei, hei, hei, kau kenapa Jinyoung-ah?” Tanya Sooyoung balik.

“Kau tidak memasukkanku ke sekolah aneh dan berhantu kan? Kau tahu tidak? Seluruh siswa di kelas memerhatikan dan menatapku dengan tajam, ditambah lagi tadi aku menemukan seorang siswi di sekolah! Kau kan tahu kalau sekolah aku sekarang khusus untuk laki-laki! Aku saja tidak sadar bahwa dia itu seorang perempuan.” Oceh Jinyoung panjang lebar, dia benar-benar tidak berhenti untuk menunggu respon noona-nya.

“Heeeei, pasti hantu perempuan itu sangat cantik kan sampai-sampai kau tidak sadar? Ayo mengaku saja!” Kata Sooyoung sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja di tengah ruangt amu tersebut.

“Hei! Aku sedang tidak bercanda, noona!” Balas Jinyoung.

“Kau pikir aku bercanda? Benarkan kalau hantu itu cantik?” Pertanyaan Sooyoung itu langsung membuat pipi Jinyoung bersemu merah. “Kau tahu? Keluarga kita pasti keluarga terunik, salah satu anggota keluarganya ada yang jatuh cinta sama hantu.” Lanjut Sooyoung.

                Jinyoung sedang berjalan ke sekolahnya sekarang. Udara pagi dan sejuk ini memang sangat bersahabat baik dengan Jinyoung. Dia menatapi langkah kakinya sendiri yang bergerak maju melangkah ke depan. Matanya melebar ketika dia sadar bahwa di sebelah kirinya juga ada sepasang sepatu berwarna pink muda yang berjalan. Secara refleks Jinyoung menoleh ke pemilik sepatu tersebut.

“Ju..Jung..Jung Soojung?” Respon Jinyoung terbata-bata.

“Wah, kau masih mengingatku!” Kata Soojung sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada. Sepertinya Soojung sangat senang. Karena melihat respon Soojung, Jinyoungpun kebingungan. Soojung itu benar-benar nampak seperti manusia, bukan hantu.

“Hei, apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Soojung pada Jinyoung. Jinyoung pun tersadar dari acara melamunnya itu.

“Ah, aku—“

“Hei, sedang bicara dengan siapa anak baru?” Jinyoung langsung menoleh ke sumber suara. Jinyoung bisa melihat Jaebum di atas motor besarnya dengan tampilan yang sangat berantakan untuk ke sekolah.

“Jaebum?” Respon Jinyoung.

“Ada apa anak baru?” Tanya Jaebum. Jinyoung sedikit kesal mendengarnya. Sebutan anak baru itu seakan-akan sebagai julukan tertolaknya Jinyoung di sekolah tersebut.

“Aku mempunyai nama.” Kata Jinyoung.

“Aku tahu itu.” Balas Jaebum dengan santai.

“Lalu kenapa kau memanggilku dengan sebutan anak baru? Apakah kau mau jika aku memanggilmu dengan sebutan bajingan?” Tanya Jinyoung.

Calm down. Jangan marah-marah! Selagi kau masih baru disini—“ Jaebum menekankan nadanya di kata baru. “Kau harus melewati beberapa test dari kami.” Lanjut Jaebum.

“Kami? Siapa?” Tanya Jinyoung.

“Tunggu saja nanti.”

                Bukan sebuah keheranan bagi sekolah khusus ini. Tidak jarang guru absent di kelas. Kelaspun amburadul, banyak siswa yang berdiri di atas meja, makan di kantin, bermain di luar kelas, hanya Jinyoung yang masih tenang sambil membuat sketsa dari wajah Jung Soojung di atas kertas putih itu.

PUK!

                Terdengar suara lemparan gumpalan kertas yang mendarat di kepala Jinyoung. Jinyoung langsung menoleh –mencari siapa pelaku yang melempar gumpalan kertas itu. Nihil, Jinyoung melihat seluruh siswa sedang asik dengan permainannya sendiri. Jinyoung meraih gumpalan kertas itu dan membukanya.

Kami menunggumu di taman kecil di belakang sekolah.

                -The First

                Bulu kuduk Jinyoung berdiri ketika selesai membaca isi dari gumpalan kertas itu. The First? Berarti ini yang pertama? Jadi, ada yang kedua, ketiga, dan selanjutnya? Ck! Ini sudah menjadi perkara besar bagi seorang Park Jinyoung yang mau masuk ke sekolah freak ini.

Jinyoung langsung berdiri dan berjalan keluar kelas dengan gumpana kertas itu di tangan kanannya. Dengan sedikit geram dia berjalan dan mencari taman kecil di belakang sekolah yang dimaksud.

                “Akhirnya!” Jinyoung memasuki sebuah spot yang agak terpencil di belakang sekolah. Kakinya melangkah dan tiba-tiba kakinya tersangkut pada sebuah tali yang kecil. Jinyoung terjatuh, dia menahan tubuhnya dengan lutut dan lengannya.

Terdengar suara yang aneh, ketika dia menengok ke atas –asal suara tersebut dan dia menemukan sebuah ember yang penuh dengan.. “Terigu?!” Teriak Jinyoung. Baru saja dia mau merangkak untuk menghindar dan –DUK!

Sebuah tendangan mendarat tepat di wajah Jinyoung. Dia meringis kesakitan. Akhirnya terigu itupun jatuh dan meleburi tubuh Jinyoung. Tiba-tiba ada yang menyikut perut Jinyoung dengan keras sampai darah segar keluar dari mulut Jinyoung. “Akh!!” Erang Jinyoung.

Tiba-tiba ada kain yang jatuh tepat di atas wajah Jinyoung. Jinyoung mengambil kain tersebut. Dengan wajah yang masih putih pucat karena terigu dia membaca tulisan di atas kain tersebut.

Ini baru pertama, tunggu saja yang selanjutnya.

-Im Jaebum

                “Sial! Jadi ini semua ugh.. perbuatan Jaebum?”

                Jinyoung benar-benar baru sampai di ambang pintu rumahnya. Dia jalan agak terseok sambil menahan sakit perutnya yang disikut oleh Jaebum tadi. Sial! Kenapa Jaebum sangat aneh seperti ini?

Jinyoung duduk di atas sofa rumahnya. Melepas lelah dan merenggangkan otot-ototnya. Dia memejamkan matanya dengan paksa untuk menahan sakitnya. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Rasa sakit yang menusuk perutnya itu tak kian hilang. Jinyoung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Terdengar erangan dari mulutnya walaupun samar-samar.

Lama kelamaan yang samar-samar bukan hanya erangan dari Jinyoung. Tapi penglihatannya juga samar-samar dan akhirnya dia tertidur di atas sofa dengan seragam dan rambut yang penuh terigu dengan sedikit bercak darah dari mulutnya di seragam bagian bahu sebelah kanan. Darah tersebut juga sudah mengering.

                “Jinyoung?” Panggil Sooyoung sambil mengguncangkan tubuh Jinyoung yang masih tertidur di atas sofa. “Jinyoung, bangunlah!” Lanjut Sooyoung sambil mengguncangkan tubuh Jinyoung lagi. tapi hasil masih sama, Jinyoung tidak memberi respon.

“JINYOUNG!” Teriakkan Sooyoung itu membuat tubuh Jinyoung sedikit bergerak. Ya, sedikit.

“Bisa gila aku mempunyai adik seperti ini,” Keluh Sooyoung. “Hei bangun!!” Sooyoung membangunkan Jinyoung paksa dengan cara menendang tulang kering Jinyoung yang agak bergelantung dari sofa.

“Aw!!” Jinyoungpun terbangun. “Ada apa, noona?” Tanya Jinyoung sambil mengambil posisi duduk.

“Dasar jorok! Seharusnya kau mandi dulu, baru tidur!” Oceh Sooyoung. Jinyoung mengacuhkan Sooyoung lalu memegang tulang kering yang tadi menjadi sasaran oleh Sooyoung.

Noona! Ini sakit!!” Protes Jinyoung. Sooyoung menggeleng dan tiba-tiba kedua matanya melebar. Sepertinya matanya hampir saja keluar dari habitatnya karena Sooyoung melebarkan matanya terlalu lebar.

“Da..darah?” Jinyoung mengikuti arah mata Sooyoung.

Wae? Seorang namja mempunyai darah adalah hal biasa bukan?” Tanya Jinyoung dengan santai.

“Jinyoung-ah!”

“Jangan memarahiku! Seharusnya kau mengobatiku. Aish, jinjja!”

“Baiklah, tunggu sebentar, ne?” Tawar Sooyoung.

“Iya, noona.”

                Cahaya matahari menembus salah stau jendela yang tembus pandang di kamar Jinyoung. Jinyoung terbangun sambil mengucak matanya yang diusik ketenangannya oleh cahaya matahari. Terkadang Jinyoung sangat benci dengan matahari. Sayangnya jika tanpa mata hari maka tidak ada hari saat itu.

Jinyoung meraih ponsel layar sentuh miliknya yang dia letakkan di meja samping kasurnya. Dia mengecek ponselnya. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Beginilah hidup tanpa teman. Dia melempar ponselnya sembarang lalu beranjak dari kasurnya. Jinyoung bersiap untuk mandi dank e sekolah.

                Lagi. Jinyoung berjalan ke sekolahnya sambil menatap langkah kakinya sendiri. Seomga saha Soojung datang lagi, batin Jinyoung. Sepertinya jarang ada manusia aneh seperti dia yang mau saja bertemu dengan hantu.

TAP-TAP-TAP

                Terdengar suara langkah kaki dari belakang Jinyoung. Mana mungkin itu Soojung? Jelas-jelas Soojung itu hantu. Jinyoung mendengar suara langkah kaki lagi dan diakhiri sebuah tepukkan di pundak kiri Jinyoung. Bulu kuduk Jinyoung berdiri dan dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menoleh.

Tiga.

Dua.

Satu.

Annyeong, Jinyoung!” Jinyoung tersentak. Jaebum? Im Jaebum yang kemarin membuat dirinya babak belur? Berani sekali dia muncul di hadapannya dengan senyuman selebar itu. Bagaimana bisa dia tidak merasa bersalah sama sekali?

“Bagaimana? Kau melewati test pertama dengan baik bukan?” Jinyoung diam. Dia tidak meladeni pertanyaan Jaebum. “Masih ada dua lagi, semoga kau berhasil!” Lanjut Jaebum lalu berlari ke sekolah yang sudah muncul di depan mata.

“Kenapa aku tidak berani melawan?” Tanya Jinyoung pada diri dia sendiri. “Ashhh—jinjjayo!” Lanjutnya lalu berjalan memasuki ke dalam area sekolah.

                Jinyoung sedang menyantap makan siangnya di kantin sekolahnya. Dia sedang makan terburu-buru karena sehabis ini club basket akan mengadakan latihan. Maklumi saja sekolah aneh dan agak abal-abal ini. Disaat jam pelajaran bisa mengadakan latihan basket mendadak.

“Hei, cepatlah makannya! Kami menunggumu di lapangan!” Seru salah seorang yang tengah dalam kerumunan –kerumunan Jaebum dan yang lainnya. Seruan itu di arahkan kepada Jinyoung. Jinyoung mengacuhkan seruan tadi. Dia tidak ingin menjadi bahan bully-an oleh mereka, terutama Jaebum.

                Dengan baju dan perlengkapan basket, Jinyoung berjalan menuju lapangan basket. Jinyoung desikit bergemetar. Dia sangat takut jika dijadikan bahan bercandaan oleh Jaebum dan lainnya. Jinyoung membuka pintu ruangan –lapangan basket indoor–. Seketika itu juga lampu yang tadi mati menjadi nyala menderang sehinggaJinyoung menahan cahaya dari lampu itu menggunakan telapak tangannya.

Jinyoung memasuki ruangan itu. Walaupun matanya masih menahan silau dia masih tetap berjalan. Ada sesuatu yang aneh. Ruangan ini hening. Jinyoung membuka kedua matanya dan melihat ke sekelilingnya. Raut wajahnya berubah menjadi kecewa, taka da seorangpun disini. Dia memutar badannya berniat untuk kembali. Tapi, ada sesuatu di dinding yang menarik perhatiannya.

Secarik kertas berwarna merah dengan tinta berwarna hitam tercetak di atas sana. Tulisan hangul yang agak berantakan dan lagi-lagi ada nama Im Jaebum dipojok kanan bawah.

Bersihkan lapangan dan kita baru memulai latihan.

-Im Jaebum

                “Menyebalkan!” Gerutu Jinyoung lalu menghadap ke area yang dimaksud oleh Jaebum. Sampah berserakkan di atas lapangan tersebut. “Demi test ini, aku akan melakukannya!” Jinyoung berjalan kea rah gudang penyimpanan yang berada di ruang ganti yang terletak di bawah lapangan ini.

Jinyoung mengambil sapu dan alat pembersih lantai lainnya lalu menaiki anak tangga satu persatu agar bisa tiba di lapangan yang harus dia bersihkan dahulu. Mata Jinyoung melebar ketika melihat seorang perempuan duduk di antara bangku penonton. Lapangan ini memang bisa dibilang seperti stadium basket yang kecil layaknya sekolah lainnya.

Jinyoung merinding. Dia tahu perempuan itu bukan manusia. Sekolah ini ada penjagaan ketat untuk seorang perempuan yang menyeludup masuk ke dalam. Sebuah keajaiban jika seorang perempuan bisa masuk ke sekolah ini.

“So..Soojung?” Bibir Jinyoung bergemetar. Perempuan itu menoleh lalu tersenyum dengan bibir yang putih menandakan dia pucat. Jinyoung bergemetar. Dia ketakutan.

“Jinyoung-ssi?” Panggil Soojung berusaha memastikan siapa yang berada dihadapan dia sekarang.

“I..iya.” Jawab Jinyoung, jinyoung langsung berjalan ke tengah lapangan dan membersihkan sampah. Jinyoung menyapu seluruh sampah satu persatu sampai sapu yang dia gunakan mendarat di sebuah sepatu pink muda. Jinyoung ingat sang pemilik sepatu itu.

Jinyoung menoleh. “Soo..Soojung?” Panggil Jinyoung.

“Tidak usah gugup seperti itu,” Kata Soojung sembari tersenyum. Ntah mengapa gemetar Jinyoung terkadang lenyap jika melihat senyuman itu. “Perlu bantuan?” Tawar Soojung.

Aniyo, gomawo.” Respon Jinyoung. Soojung menghela nafasnya –dia kecewa.

“Aku ingin sekali membantumu.” Balas Soojung. Sayangnya tidak bisa, balas Jinyoung dalam hati.

“Mungkin kau sudah mengetahui yang sebenarnya,” Ucap Krystal menggantung.

“Apa?” Tanya Jinyoung.

“Aku adalah hantu.”

                “Sampai besok, Soojung-ah!” Pamit Jinyoung.

“Haha, jangan bertingkah seperti itu! Kau membuatku nampak seperti manusia.” Balas Soojung.

“Haha, masa bodoh. Bye!” Jinyoung meninggalkan Soojung sendirian. Sesuai tebakkan Soojung tadi. Tidak ada latihan hari ini. Ini hanyalah bahan bualan lain dari Im Jaebum. Jinyoung menyesal sudah membersihkan seluruhnya.

Jinyoung berhenti di depan loker miliknya. Lagi-lagi Jinyoung terkejut dengan sebuah kertas merah yang bertinta warna hitam. Seperti biasa, di pojok kanan bawah ada nama Im Jaebum yang terpampang dengan jelas.

Chukkaeyo! Kau sudah melewati test 2 dengan mulus. Sekarang kau harus ke test 3. Malam ini di lapangan basket dekat sekolah. Jam 9.

-Im Jaebum

                “Apa dia tidak bosan ya? Huh.”

                Jinyoung sedang dalam perjalanan menuju lapangan basket yang dimaksud oleh Jaebum. Dengan jaket yang tebal itu menyelimuti tubuhnya dari angina malam dia berjalan sambil mengunya pisang.

“Apa mungkin dia mau mengajak damai?” Tanya Jinyoung.

“Atau mau mengatakan bahwa aku lulu dari test-test yang abnormal itu?”

“Atau dia mau mengajakku bertanding basket? Haha, aku sudah pro, Jaebum.” Jinyoung berbicara pada dirinya sendiri. Dia sudah memasuki arena lapangan basket.

Dengan lampu yang remang-remang dia melihat Jaebum disana berdiri sendirian. Di bawah ring basket dengan senyuman yang menyeringai. Jaebum berjalan mendekati Jinyoung. Agak aneh ketika Jaebum melewati tengah lapangan dengan menunduk. Apa ada sesuatu disana?

Jinyoung membuang kulit pisangnya sembarang. Jaebum mendekatinya dengan bola basket di tangan kirinya. Kurang lebih jarak Jinyoung dan Jaebum sekarang adalah dua meter.

“Ayo bertanding!” Ajak Jaebum. Jinyoung tersenyum.

You first.” Suruh Jinyoung.

“Beraninya.” Respon Jaebum.

“Jangan menganggap orang lemah!” Jaebum langsung berlari sambil memantulkan bola basket itu. Dia berlari sedangkan Jinyoung hanya mengejarnya dengan tidak niat. Langkah Jinyoung terhenti di depan sehelai benang panjang yang menyilakuan. Jinyoung tahu itu benang apa.

Shit!

“Hei! Apa yang kau lih—“ Jaebum terpeleset kulit pisang yang tadi dimakan oleh Jinyoung buahnya. Jaebum terpeleset ketika dia berlari hendak menghampiri Jinyoung.

Senjata makan tuan.

Jaebum terjatuh dan lehernya nyaris putus oleh benang tersebut. Jaebum kesakitan. Darah segar keluar dari lehernya.

“To…” Bahkan dia sudah tidak sanggup untuk meminta tolong seklaipun. Bola basket yang dipegang oleh Jaebum bergelinding ke kaki Jinyoung.

“Sebenarnya aku bisa menolongmu,” Jinyoung mengambil bola basket tersebut. “Tapi, kaulah yang memulai perkara kepadaku.” Lanjut Jinyoung sambil memutarkan bola basket itu di atas telunjuknya.

“Bagaimana jika kau rasakan apa yang aku rasakan?” Tawar Jinyoung sedangkan Jaebum masih memegang lehernya yang mengeluarkan darah yang banyak. Darah Jaebum mengalir sampai ke alas sepatu Jinyoung.

“Rasakan ini!!” Jinyoung melempar bola basket itu tepat ke wajah Jaebum yang mengakibatkan leher Jaebum putus sempurna. Jinyoung berjalan mendekati Jaebum. Dia menginjak dada Jaebum dan menjambak rambut blonde milik Jaebum yang mengakibatkan kepala itu benar-benar lepas dari sarangnya.

Jinyoung berjalan lagi ke titik threepoint dan tersenyum kepada Jaebum –mayatnya. “Aku puas, Jaebum.” Kata Jinyoung sambil tersenyum menyeringai. Jinyoung mengenggam kepala Jaebum dan melemparnya kepada ring.

Kepala Jaebum masuk ke dalam ring dengan mulus dan terjatuh ke atas lapangan basket yang agak keras. Kepalanya terbentur keras sehingga bagian dahinya agak hancur. Jinyoung tertawa, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana mem-bully orang.

Nice shoot!

END

9 thoughts on “Oneshot : Shoot

  1. Ceritanya bagus sih, cuma aku agak binggung aja .____.
    Soojung di sini jadi hantu, nah tapi ga dijelasin gitu kenapa Soojungnya muncul😐
    Yah, itu aja sih yang aku tanyain, overall ini cerita udah keren😄
    Aku suka moment Soojung-Jinyoung😀
    Dan endingnya agak sadis ya -______- padahal aku kira awalnya Jaebum itu baik, gataunya dia jahat .____.

  2. kok jb sih yang mati?😦
    aku mau tanya, kenapa bisa tiba-tiba ada hantu cewe di sekolah khusus cowo?
    aku agak sedih, bias aku yang satu jadi hantu, yang satu lagi lehernya putus terus kepalanya malah dipake main basket😥
    btw, ini keren banget kok, thor! ceritanya langka^^
    nice ff~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s