Your Kiss Is My Camera (3)

Tittle: Your Kiss Is My Camera (chapter 3 dari sekian)

Cast:- Park Chanyeol as Chanyeol/ Park Dobi..

–          Kim Nana as Nana (OC)..

–          Wu Yifan as Kris..

–          Do Kyungsoo as Nana’s brother..

Length: chapter..                                

Genre: sad, romance, gaje, rancu, dan eupleu.. 😀

Rating: PG-15+

Author: AISYAH NURHALIDA (AIKYU)..

Soundtrack: – Celine Dion-The power of love..

                      – 4men-Only you..

                      – K.Will-Your are Love..

Summary: ”a memorize doesn’t need to remember, but you just have to feel it

hfg

***

..neol chajaganda.. chueogi bonaen tingkeobel.. ttaranaseotdeon neverland..geu gose naega neowa barabomyeo uttgo isseo..

Ponsel Nana berdering untuk kesekian kalinya. Mengerang, meminta pemiliknya bangun dan segera menerima panggilan itu.

Tapi tak ada gunanya. Volume full ponsel itu tak cukup berisik untuk merobek mata Nana. Jangankan bangun, Nana bahkan belum bergerak barang sedikitpun dari posisinya yang nyenyak.

Perlakuan Chanyeol kemarin sungguh berpengaruh banyak pada otak Nana yang sudah setengah gila saat ini. Asal tahu saja, ia mengeluarkan banyak air dari kedua matanya. Hatinya terasa berdenyut berkali-kali, padahal ia sendiri tak tahu apa penyebabnya. Kenapa ia harus menangis?, kenapa hatinya mendadak ngilu semalaman?, apa karena Chanyeol meninggalkannya, dan pulang sendiri tanpa Nana kemarin?, bukan, bukan sesederhana itu, tak mungkin sesederhana itu. Entahlah, yang terasa pasti hanyalah kenyataan bahwa Nana sudah tak menyisakan lagi cinta untuk Dobi kecilnya, cinta pertamanya. Cinta yang paling lama menggenang di hatinya. Dan tak terganti bahkan setelah ia mencoba cinta 2 laki-laki sebelum bertemu Chanyeol.

Dan dengan pesona seorang Chanyeol. Cintanya pada Dobi terkikis diam-diam. Hanya kepingan rindunya yang tersisa. Rindu karena rasa ingin tahunya membludak tentang bagaimana wajah Dobi setelah berpuluh tahun tak bertemu. Rindu melihat senyum Dobi. Rindu tawa khasnya. Mengingat dulu perpisahanya dengan Dobi sungguh tak baik. Ayahnya tiba-tiba memaksa pindah ke Amerika. Nana sendiri tak tahu apa yang menarik dari negeri paman sam saat itu. Hanya saja ia yang masih kecil tak memiliki kuasa apapun atas dirinya. Saat itu lah ia terpaksa meninggalkan Dobi tanpa melihatnya dulu. Dan naas, setelah pulang ke kampung tercinta. Dobi seperti menghilang ditelan bumi. Tak ditemukannya jejak Dobi, sampai saat ini. Dan saat Nana mulai lelah mencari. Benar saja, Chanyeol datang menggeser kedudukan Dobi di hatinya.

Sebagian alasannya sudah tampak ke permukaan. Nana menangis karena takut. Takut Chanyeol tak memiliki perasaan “itu” sebesar dirinya. Takut Chanyeol hanya menganggap semua yang mereka lalui sebagai sebuah drama untuk di tampilkan pada kedua orangtua Nana. Tak lebih. Terkadang hati perempuan terlalu peka dan berlebihan menanggapi sesuatu. Beginilah jadinya. Nana tak bisa tidur dan hanya fokus menangis semalaman. Akibatnya ia tak bisa bangun pagi seperti biasa.

..neol chajaganda.. chueogi bonaen tingkeobel.. ttaranaseotdeon neverland..geu gose naega neowa barabomyeo uttgo isseo..

mmhh, baiklaaaaahh.. akan aku angkat aaah.. menyebalkan.” Setengah menggeliat Nana membuka mata bengkaknya perlahan dan memaki telepon genggamnya seperti orang sinting (-_-). Tangan kanannya bergegas meraih ponsel berdering itu di meja kecil samping tempat tidurnya.

yeoboseo.” Matanya merem melek(?) saat buka suara. Dia masih dalam keadaan terlentang(?)

 

“….” tak ada jawaban

 

yeoboseo.”

 

“….” ….

 

“aishh !!, yak !!, neo.. jangnanchijima… !!”

Nana sibuk meneriaki ponselnya “ JANGAN BERCANDA DENGANKU !.”

Tombol merah di ponsel serta merta di tekannya dengan marah.

“aish !.” sekali lagi ia menggerutu sambil turun dari tempat tidur, membuang sisa kekesalannya pada orang -yang entah siapa- yang berani menjahilinya saat sedang suntuk begini. Dan tak lupa juga membuang sisa tangisnya semalam.

Blam !!, pintu kamar mandi di tutup Nana keras. Kelihatannya belum pulih dari sakit hati. Ia berjalan perlahan, menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk kecil sambil berdiri di depan lemari besar. Di permukaan luar lemari itu ada sebuah cermin memanjang seukurannya. Dan di dalam cermin Nana menemukan sesosok gadis –setengah pria- yang berantakkan, malang, dan kacau. Haduuh, cocok sudah semua istilah itu melihat mata gadis itu yang bengkak, hidung merah, dan raut layunya. AJIB.

Setelah berpakaian ia turun ke lantai bawah. Dimana kedua orangtuanya menunggu untuk makan pagi bersama. Sebelum benar-benar sampai di akhir anak tangga. Nana berdehem berkali-kali agar suaranya tak seserak saat pertama bangun. Dan berkedip-kedip serta memutar-mutar bola matanya ke segala arah untuk mengurangi bengkak (emang ngaruh? :/). Kemudian melanjutkan perjalanannya ke ruang makan.

“uri adeul…. wae??.”

Tuan kim berkomentar saat Nana sudah sampai di meja.

“mwo?.” Kata Nana bingung.

Tuan kim melipat kecil korannya “kenapa wajahmu aneh hmm..?”

Nana gelagapan, “na… na…. na gwaenchana appa.” Senyumnya mengembang dengan aneh sambil mengambil roti.

Ayah Nana tersenyum, jenis senyum sherlock holmes saat berhasil memecahkan sebuah teka-teki. “appa tidak bertanya kau baik atau tidak, appa hanya bertanya kenapa matamu bengkak, dan wajahmu berantakan?.”

ZING, seperti ada peluru yang mengenai ulu hatinya. Dia ketahuan. Dengan jawaban bodohnya tadi intelek ayahnya mampu menyimpulkan bahwa Nana sedang tidak baik-baik saja.

“Chanyeol mencampakkanmu?.” Tebak tuan kim cepat.

“anii.. kami baik-baik saja.” Timpal Nana bohong.

“geojinmal Nana-ya.” Sambung ibunya yang baru datang dari dapur membawa semangkuk sayur kimchi hangat.

“jinjja eomma !.” jawab Nana setengah teriak. Ia melakukan penekanan kata untuk meyakinkan eomma dan appanya.

“ahh, tapi kenapa yah hari ini Chanyeol tak menjemputmu kencan?. Padahal kalian kan BAIK-BAIK saja.” Sindir tuan kim. Nyonya kim hanya tersenyum melihat wajah Nana yang sudah cemberut karena tak bisa lagi menyerang tuan kim dengan argumennya. Oke. Kali ini Nana kalah telak. Tanpa menjawab lagi ia lebih memilih menyiduk sayur ke mangkuk kecilnya. Kemudian menyeruputnya perlahan.

“bagaimana kalau sekarang kau menemui calon appa?. Tidak adil kalau hanya kami saja yang menerima calonmu. Kau juga setidaknya harus mencoba kencan dengan calon yang appa pilihkan tempo hari. Othe?.”

Ayah Nana mulai meminta kesepakatan.

Nana terlihat berfikir selama beberapa saat. Dan akhirnya mengangguk dengan malas.

Drrttt…ddrrttt.

Ponselnya bergetar tanda sms masuk. Persis setelah seluruh isi mangkuk Nana hilang tertelan. Tangannya bergerak mengodok (?) ponsel di saku celana jeansnya.

Dan mendapati sms aneh dari nomor tak dikenal. Nomor yang tadi pagi meneleponnya.

From: 085######

ternyata teriakanmu masih sama kerasnya. Datanglah kesini kalau tak mau jadi anak durhaka, palli. Aku menunggumu Kim Nana. :D”

Kening Nana bertaut heran. Memelototi tiap kata dalam sms itu.

“dasar gila.” Bisik Nana. “dari mana dia tahu namaku?.” Tambahnya.

“yang gila itu kau. Orang waras mana yang berbicara sendiri.” Timpal Kyungsoo. Kakak satu-satunya milik Nana. Si pendek yang cerewet. Begitulah Nana menggambarkan sosok kakaknya. Kyungsoo meminum susunya sekali teguk dan mulai merecoki Nana sambil duduk.

“kenapa wajahmu jelek seperti itu?. Oh salah, kau kan memang sudah jelek dari lahir yah. Aku lupa.” Kyungsoo menyeringai manis membuat tangan Nana mengepal kuat dan hampir menghancurkan ponsel ditangannya.

“yakk!!, dasar pendek, shut your mouth up !.” teriak Nana sambil melempari Kyungsoo dengan roti.

Hap. Roti itu berhasil di tangkap Kyungsoo “uhh.. i’am so scare..!!.” balas kyungsoo sambil memperagakan ekspresi pura-pura takut. Dan setelahnya meledek Nana dengan menggerak-gerakan bibirnya yang WOW. o.O

Nyonya kim menengahi dengan tangkas “D.O..!,” panggilnya, lalu menatap kyungsoo lembut dengan tatapan –jangan ganggu adikmu

yes mom..” jawab kyungsoo malas dan melanjutkan menggigiti rotinya.

Drrtt..drrt..

From: 085######

tanyakan pada ayahmu tempat kita bertemu.”

Setelah menefekuri serius isi sms itu. Nana memandang ayahnya lekat. Jangan-jangan…

Tuan kim yang merasa diperhatikan, eh, maksudnya dipelototi akhirnya mengalihkan matanya dari sup ke wajah Nana.

“mwo?.”

Nana masih memandang lekat inci wajah ayah tersayangnya.

Raut tuan Kim tiba-tiba berubah dari bingung menjadi –AHA, aku tahu

“oh ya, calon appa sedang menunggumu di depan toko bunga guardian. Ciri-cirinya tampan, putih, tinggi. Dengan tingginya, dia takkan mudah tertukar dengan orang lain. Tenang saja, kau akan mudah menemukan anak itu.”

Sudah Nana duga. Nana menghela nafas panjang. Tahu pasti akhirnya akan bagaimana. Bayangkan saja, dia harus berkencan dengan orang menyebalkan yang tak berani bersuara saat menelepon seseorang. Pria itu sudah ketahuan usil bahkan sebelum Nana bertemu dengannya.

“Chanyeol juga tinggi.” Jawabnya tanpa sadar. Sebagian otak Nana masih menyimpan seberkas tentang Chanyeol. Dan masih ingin merasakan gerakan mulutnya membahas pria itu.

Pernyataan Nana mengundang Kyungsoo ikut nimbrung dengan mulut yang penuh roti.

“yang ini lebih tinggi dari pria kebanggaanmu itu. Dasar pabbo.”

“ishh !!.” Nana mendelik pada Kyungsoo sebelum akhirnya bangkit dari kursi dan berpamitan untuk unexpected date nya hari ini.

Baru saja Nana melangkah, tuan Kim memanggilnya dari belakang.

“Nana-ya….. Kau yakin pakaianmu pantas?.”

“ini bagus.” Jawab Nana enteng.

“ani..ani.. ganti bajumu.” Perintahnya, lalu memberi kode pada nyonya kim dengan matanya untuk memberi baju yang “pantas” pada Nana.

Alhasil hari itu di mulai Nana dengan raga yang bukan dirinya.

_TITA_

Tampan, putih, tinggi. Wajah Chanyeol berkeliaran dipikirannya. Betapapun di dunia ini banyak pria tampan, takkan ada yang bisa mengalahkan keteduhan di wajah tenang Chanyeol. Betapapun di dunia ini banyak pria putih, takkan ada kulit siapapun yang lebih membuat Nana kecanduan untuk menyentuhnya. Dan betapapun di dunia ini banyak pria tinggi, takkan ada yang lebih membuat Nana merasa pantas berdiri di sampingnya, kecuali Park Chanyeol. Anggap saja Nana sudah benar-benar gila. Seolah tak ada lagi hal yang menarik untuk dipikirkannya kecuali Chanyeol. Otaknya sudah tak muat dimasuki siapapun. Bahkan untuk memikirkan diri sendiri.

Beberapa langkah lagi kakinya akan sampai di toko bunga guardian. Ada seseorang disana. Sedang memperhatikan jalan raya di depannya. Nana hanya mampu melihat sisi kiri tubuh pria itu. Tapi jelas sudah Nana mengenalnya. Tanpa harus mempertajam pandangan. Wajah itu tak ada duanya. Tak mungkin ia lupa. Tower china kesayangannya.

Senyum Nana mengembang menyapa pria itu dari jauh. “kris !.”

 

Senyumnya terbalas sempurna. Sekarang Kris sedang melambai menghadap ke arahnya.

Setengah berlari Nana menghampiri Kris “sedang apa kau disini?.”

Kris memperhatikan Nana dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil melipat kedua tangannya. “aku sedang ingin memarahi seseorang yang cuti dari kampus terlalu lama.”

Nana menonjok lengan atas Kris. Tak terima dianggap sebagai pembolos. “eish!!, kau meledekku eoh.?.. Aku tak berniat bolos. Ayah yang mengharuskanku kencan dengan si itu dan si ini. Katanya untuk kepentingan bisnis.” Nana menunjukkan wajah ingin muntah. “basi.” Sambungnya lagi.

Kris tersenyum menyaksikan gaya bicara Nana yang dibumbui gadis itu dengan gerakan tangan autisnya.

“dan sekarang lihat. Aku dipaksa ayah memakai terusan rok. HALOO!!, lebih baik telanjang.” Adu Nana pada Kris. Tangannya menarik-narik terusan rok warna pastel berlengan pendek itu dengan kasar.

OH yang panjang menjuntai dari mulut kris. Wajahnya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Senyum yang unik. Tapi tak cukup menarik perhatian Nana.

“lalu?.” Tanya pria jangkung itu masih dengan senyum anehnya..

“dan aku sekarang sedang menunggu pria yang dicalonkan appa. Katanya dia tampan, putih dan tinggi..” Nana menyadari ada yang janggal hingga ia mengulangi ejaan kriteria pria pilihan ayahnya. “tampan…..putih……tinggi…” matanya menyapu bersih tubuh Kris tak bersisa.  “hoksi..KAU !.” mulut Nana tak kuasa untuk rapat. Ia menganga beberapa detik. Dan pandangannya masih belum puas memelototi detail tubuh dan wajah pria di depannya.

Senyum Kris menguap melihat ekspresi Nana yang jauh dari harapan.

“wae?. Kau tak suka aku yang di jodohkan denganmu?.”

“aniii…geunyang.. we are bestfriend right?.

Bukan. Aku ingin lebih dari itu Kim Nana.

“aku tahu. Tapi apa salahnya menikah dengan teman. Kau sudah mengenalku dengan baik, begitupun aku.” Senyum Kris menghiasi wajahnya lagi. “lagipula kau tak terlalu jelek untuk ku perkenalkan pada teman-teman sebagai istriku.” Kris nyengir kuda.

Dan disambut Nana dengan tonjokan yang lebih keras dari sebelumnya. Alhasil Kris meringis dibuatnya. Otot anak basket dilawan (:D)

Setelah habis tawanya mentertawakan Kris yang kesakitan tadi. Air muka Nana berubah serius “tetap saja rasanya aneh.”

“kau bahkan belum mencobanya.” Sisi anak kecil pria semacho Kris keluar dengan berpura-pura cemberut.

Tangan Nana menampar pelan pipi Kris “yak. Yak. Berhenti cemberut seperti itu. Kau tidak pantas. Geli sekali aku melihatmu. Yiiih.” Bahu Nana bergidik.

 

Krikk..krikk…

 

Hening menyerang elemen antara mereka.

Akhirnya Nana buka suara.

“baiklah. Kemana tujuan kita sekarang?. Bioskop?. Mall?. Resto?.”

Kris memperlihatkan barisan gigi putihnya. Ia tersenyum begitu tulus. Tanpa menunggu apa-apa lagi, tangan nakalnya memeluk tangan Nana dan menariknya menjauh dari toko bunga itu.

Anggap saja ini impas. Kesalahan Chanyeol kemarin akan Nana balas dengan perselingkuhan sesaatnya. Lagi-lagi bayangan Chanyeol menyeruak di pikiran Nana. Kira-kira sedang apa anak itu sekarang. Batin Nana mengerang. apa dia benar-benar tak ingin tahu keadaan Nana setelah ditinggal pergi kemarin.

Hah. Tetap saja ini takkan jadi impas. Lagipula ini tak dianggap Nana serius. Dia hanya tak ingin menyakiti hati Kris yang mungkin memang sedang ingin jalan-jalan hari ini. Hanya sebuah loyalitas pertemanan pikirnya.

Terlalu rumit kalau harus Mengandai-andai masa depan. Otaknya saat ini tak cukup baik untuk memikirkan akan jadi apa hubungan dia dan Kris nanti. Yang terpenting. Hari ini Kris tersenyum. Dan sosok Chanyeolpun masih bisa menyelinap sesekali di lorong-lorong pikirnya.

_TITA_

..18.30 KST at Nana’s house..

Nana menaiki tangga satu-satu sambil memijat pelan tengkuknya. Hendak naik ke lantai atas menuju kamar tidur. Badannya terasa pegal di sana-sini. Ditambah keringat asamnya yang mengucur dari segala arah. Terutama dibagian-bagian terlipat. Iieww. Hal itu sungguh membuat Nana ingin segera mandi.

Seharian full ia “kencan” dengan Kris. Dia tak percaya jalan-jalan seperti itu disebut kencan. Kencan itu mengunjungi tempat-tempat romantis dan saling menunjukan cinta. Bukannya menghabiskan waktu dengan bermain basket satu lawan satu. Kencan apa yang lebih buruk daripada kencan ala Kris. Setidaknya itu yang dipikirkan banyak wanita seusia Nana.

Tapi kalau boleh jujur, inilah kencan yang Nana inginkan. Bukan keliling-keliling sambil menggombal. Rasanya menyenangkan memainkan olahraga favoritmu dengan sahabat favoritmu. Waahh, apa yang lebih sempurna dari hari ini. Yahh, meski Nana harus merelakan beberapa tulangnya seakan bengkok. Dan rok eommanya penuh dengan noda bola basket.

Tepat beberapa langkah di depan pintu kamar. Ia melihat kamarnya menyala dan pintunya sedikit terbuka. Seingat Nana, ia meninggalkan kamarnya dalam keadaan gelap dan terkunci. Satu-satunya orang yang bisa masuk hanyalah kakaknya yang menyebalkan itu. Karena di rumah hanya kyungsoo yang memiliki kunci duplikat kamarnya. Kenapa?, karena meski Kyungsoo begitu menyebalkan sampai Nana ingin memecatnya dari jabatan kakak, tapi entah dia sudah gila atau apa. Kepercayaannya jatuh pada kyungsoo soal apapun. Kyungsoo bahkan hampir mengetahui seluruh rahasia Nana. Lebih dari kedua orangtuanya. Makannya Nana hanya memberikan duplikat kunci kamarnya pada Kyungsoo. Saja.

Kreekk…

Pintu kamar, Nana buka perlahan. Dilihatnya Kyungsoo sedang asyik mengotak-atik sebuah kamera di pinggiran kasur Nana.

“oppa mwosunirriseo ?.”tanyanya sambil berjalan menghampiri Kyungsoo.

Kyungsoo menoleh ke asal suara. “eoh Nana-ya, whose camera is it?.”

Nana menyimpan tas kecilnya di meja samping tempat tidur. Lalu berdiri di depan Kyungsoo. Memperhatikan camera itu dengan air muka bingung. Dan seakan menemukan pencerahan Nana menjentikan jarinya.

“ah arrata..!!, it’s belong to Chanyeol, Oppa. Dimana Oppa menemukan kamera itu?.”

Kyungsoo mendongak ke atas. Posisi Nana yang berdiri mengharuskan ia seperti itu.

Kyungsoo lalu menunjuk kantong kertas di dekat kakinya. “here.. in your paper bag.” Nana mengalihkan pandangannya ke arah kantong kertas tempat membungkus sweater pemberian Chanyeol kemarin. Oh, pasti tertinggal saat pria itu meninggalkannya ke kamar mandi selama “5 menit”. 5 menit yang menyebalkan dan sangat-sangat-sangat sebentar. Huh. Ada saja yang mengingatkannya tentang kejadian kemarin.

Kyungsoo kembali terfokus ke kamera itu. “tenyata kalian sudah sejauh itu yah.. sok sok saling tukar foto segala.” Sindir Kyungsoo.

Nana menggerak-gerakkan sebelah tangannya berulang-ulang secara horizontal (apa banget lah bahasa gue :D). Dia panik dituduh sebagai alay couple dengan Chanyeol.

“ne?, aniooo… kapan kami melakukannya ?.”

“geurom, ige mwoya??.”

Tangan Kyungsoo memanjang menunjukkan sebuah gambar pada Nana. Gadis itu agak memajukan wajahnya untuk memperjelas penglihatan. DEG. Jantungnya tiba-tiba mempercepat detaknya. Pori kulitnya mendadak memproduksi peluh lebih banyak dari sebelumnya. Tubuhnya mematung. Merasakan aliran darahnya terhenti di kepala. Dan sebentar lagi akan meledak. Kenapa?, kenapa ada foto kecilnya bersama Dobi di kamera Chanyeol?, tak pernah bahkan sekalipun ia menceritakan masa kecilnya. Tentang wajah kecilnya, kehidupan kecilnya, apalagi tentang Dobi-nya.

Logikanya berputar. Memecahkan teka-teki tentang pria itu. Sosok Chanyeol tanpa ampun menghabiskan setiap sudut di pikiran Nana sekarang. Tanpa sisa. Rasionya mulai menggabungkan fakta yang terbentang. Masih jelas di ingatannya saat pria itu dengan refleks menyebutkan umurnya. Lebih anehnya, dia mengetahui warna favorit Nana. Sesuatu yang bahkan ayah dan ibunya tak tahu. Kecuali Kyungsoo. Tentu.

Telinga panjang Chanyeol yang dari awal sudah menarik perhatian Nana kini menjadi biang pertanyaan-pertanyaannya yang bermunculan. Apakah itu ada hubungannya?. Kalau iya dia adalah Dobi kecilnya berarti kulit putih Chanyeol yang menyamarkan seluruh petunjuk itu. Dobinya berkulit hitam manis sejak dulu. Dan perubahan besar itulah yang menghalangi otaknya membandingkan kemiripan Chanyeol dan Dobi. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan wajah Dobi kecil. Kesalahan dasar yang fatal. Kemudian semuanya menjadi jelas. Betapa meyesalnya Nana tak menyadarinya dari awal. Park Chanyeol adalah Park dobi. Cinta pertama dan keduanya adalah orang yang sama. Betapa rumitnya kisah si tuan telinga panjang. Dia pergi dan datang dengan nama berbeda. Kemudian menggantikan sosok dirinya sebelumnya dengan dirinya yang sekarang di hati Nana. Apalagi yang lebih berbelit dari itu.

Nana membekam mulut dengan kedua tangannya dan agak limbung.

Sontak Kyungsoo panik dan bingung. “Nana wae geure?.”

Nana sibuk menangis. Terdapat pergolakan rumit dalam Batinnya. Sedih. Bahagia. Kecewa. Sedih karena ternyata cintanya pada Dobi belum sampai ke tahap dimana dia mampu peka akan keberadaan Dobi, dimanapun dan dalam raga seberbeda apapun. Bahagia atas takdir yang masih berbaik hati menyisakan waktu baginya untuk menemukan Dobi. Dan kecewa karena Chanyeol tak membeberkan identitasnya pada Nana. Lihat saja. Kepalan tangan Nana sudah siap menonjok pria itu.

Tanpa menjawab pertanyaan khawatir dari sang kakak. Nana berbalik dan berlari keluar kamar. Meninggalkan Kyungsoo yang mematung masih dengan kamera dikedua tangannya. Dalam keadaan menerka-nerka.

_TITA_

Masih dengan isaknya Nana berlari menuju pemberhentian bus malam itu. Saking bahagia. Badan lengket dan bau dimana-mana tak dihiraukannya sama sekali. Ia hanya berlari dan berlari. Demi seseorang yang sedang merajai pikirannya saat ini.

Bus seolah merangkak layaknya siput. Sampai-sampai dengan tak tahu malunya Nana berteriak-teriak memerintah supir bus itu untuk mempercepat perjalanan. Alhasil, bukannya bus semakin cepat, malah Nana yang kena getah dipandangi aneh oleh penumpang lain. Dress lusuh penuh noda. Pipinya yang basah dengan air mata. Dan kakinya yang telanjang. Oh tuhan, manusia mana yang mungkin mengira dia waras.

Nana menghadap ke jendela. Memandangi jalanan seoul yang semakin malam semakin ramai itu. Kerlip lampu toko dan gedung pencakar langit memenuhi lensa mata Nana. Tapi apapun yang dilihatnya. Yang ada di pikirannya masih tetap Park Chanyeol. Kini sebagian diri Nana mulai main tebak-tebakan. Harus mulai darimana menjelaskannya?. Dan bagaimana cara menerangkannya?. Menerangkan rasa yang berpuluh tahun silam telah ada. Sebagian otaknya sibuk mengontrol emosi. Sedang yang lainnya sibuk merumuskan baris kalimat yang membantunya bicara pada Chanyeol. Sambil tetap memandang jalanan kota seoul.

Sampailah Nana didepan sebuah rumah. Rumah yang sudah dua kali didatanginya. Dan untuk alasan-alasan tertentu ingatan Nana diam-diam merekam detail perjalanan untuk sampai ke rumah bernuansa hijau ini. Tanpa kurang suatu apapun.

Sebelum memutuskan mau melakukan apa. Ia melamun sesaat. Mengamati rumah ini. Menelusuri tiap jengkalnya. Sedang Nanapun tak tahu apa fungsi semua itu. Hanya ingin saja. Alasan yang paling sederhana dan logis.

Seseorang mengintip di balik pintu rumah, sebelum akhirnya menunjukan seluruh bagian tubuhnya. Orang itu berjalan mendekat perlahan dengan wajahnya yang terlihat pucat dan layu.

Nana menatap tajam kearahnya. Seakan hendak menelannya bulat-bulat. Sedang pria itu hanya tersenyum lega. Nana belum paham kebodohan macam apa lagi yang ada di pikiran pria itu. Dari seseorang yang telah meninggalkannya dan membiarkannya menunggu begitu lama. Hanya senyum yang dia dapat. Seakan pria itu tak melakukan kesalahan apapun. Nafasnya kini terengah-engah. Karena lagi-lagi, jantungnya demo seiring pria itu mendekatinya. Dia makin dekat.. mendekat.. dan kali ini tepat berada didepan Nana. Gadis itu masih memandangnya marah. Seolah tubuh pria itu akan bolong 5 menit saja dipandang Nana.

Pria bodoh itu adalah Park Chanyeol. Ya, pria bodoh yang memporak-porandakan isi hatinya 12 hari kebelakang. Pria bodoh yang ternyata dengan cara unik dicintainya selama bertahun-tahun. Mereka bertatapan dalam hening. Angin membungkus keduanya dengan dingin. Melahap dua insan yang tengah sibuk mengurai pikiran masing-masing itu. Yang satu tersenyum dan satunya lagi mengeluarkan api amarah di kedua sinar matanya.

 

Nana : apa salahku Park Chanyeol?, kenapa kau menjungkirbalikan aku begitu mudah. Gadis itu mulai menangis lagi.

 

Chanyeol : apa kau begitu terluka karena aku?. Bagaimana kabarmu Nana-ya?.

Dengan sisa tenaganya bibir manisnya masih membentuk sebingkai senyum.

 

Nana : berhenti tersenyum seperti itu !. berhentilah melemahkan indra-indraku.

Butir-butir air mulai menetesi pipi tirusnya. Lagi.

 

Akhirnya keheningan itu tumpur dengan suara bass Chanyeol.

“neo gwaenchana?.”

Sontak sapaan Chanyeol yang masih sehangat biasa membuat isaknya semakin menjadi. Pertanyaan Chanyeol ada benarnya. Karena keadaan Nana tak bisa dibilang baik saat ini. Rambutnya setengah acak-acakan. Roknya penuh noda. Kakinya bertelanjang. Dan wajahnya yang banjir airmata. Itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan Chanyeol bahwa Nana benar-benar sedang terluka. Luka yang tak tampak. Namun begitu nyata menganga di hatinya. Hanya dua yang tersisa. Wajah cantiknya. Dan cintanya untuk Chanyeol. Untuk Dobi kecilnya.

Nana belum menjawab pertanyaan singkat Chanyeol. Gadis itu masih sibuk menata nafasnya yang tersenggal-senggal. Mengontrol kekacauan hatinya.

Sampai akhirnya Nana memukul pundak kiri Chanyeol dengan kepalan tangannya. Agak keras. Namun penuh perasaan.

“pria jahat !.”

Seterusnya seperti itu. Pukulan-pukulan Nana makin intens seiring dengan mulutnya yang terus mengoceh “pria jahat” berulang kali. Dan Chanyeol masih tak bergeming. Membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan kesal gadis itu. Sampai gadis itu puas. Sampai setidaknya sebagian lukanya hilang menguar.

Kini Nana berhenti memukul. Tenaganya sudah terkuras habis untuk menangis. Tak ada sisa.  Yang bisa dilakukan Nana saat ini hanya mencengkram kuat kerah kaos Chanyeol. Dan menatap pria itu lekat sambil menangis. Isaknya seakan tak usai.

Chanyeol yang sudah tak tahan lagi melihat gadis itu menghamburkan air mata. Akhirnya memegang tangan Nana yang tertempel di pundaknya. Melepaskan cengkraman gadis itu kemudian menggenggam tangan Nana erat. Mencoba menjalarkan kedamaian lewat tangannya. Berharap semoga dengan begitu sakit di hati Nana sedikitnya berkurang. Sedikit saja.

Dan didetik kemudian Chanyeol sudah menarik Nana ke dalam dekapannya cepat. Sampai tak ada jarak antara keduanya. Nana beradaptasi dengan tubuh pria itu. Merasakan setiap kehangatannya. Kehangatan yang bahkan lebih berguna daripada sebuah mantel saat dingin menggigilkan tubuh mereka berdua.

Chanyeol agak membungkuk. Menempelkan pipi kanannya di rambut Nana. Mengalungkan tangannya ke leher Nana erat. Dan dagu gadis itu bersentuhan tepat dengan pundak kanannya.

“kenapa kau tak memberitahu aku.. Kau Park Dobi.. kenapa kau tak memberitahuku?.”

Tanya Nana lemah sambil sesenggukan. Sementara airmatanya sudah surut.

“aku ingin kau yang mengenaliku lebih dulu… tanpa harus menjelaskannya..”

Jawab Chanyeol tegas namun hati-hati. Tangannya mengelus pelan rambut coklat Nana.

“tapi bukan seperti ini.. kau menyiksa dirimu.. kau pasti kecewa aku baru mengenalimu sekarang.” Sisa  sesenggukannya masih terdengar disela kalimatnya.

“ani.. aku senang kau menyadari secepat ini. Kau tahu kenapa aku keluar rumah?.”

“wae?.”

“karena percaya atau tidak. Lagi-lagi instingku sedang bagus tadi… aku merasa kau akan datang malam ini. Entah bagaimana tuhan memberitahuku begitu mudahnya.”

“gombal !.” Akhirnya satu senyum terukir indah di pipi penuh air mata Nana.

“jinjjareo !..” Chanyeol melanjutkan “Nana-ya.. kau belum mandi yah..?..” hidungnya mengendus-endus kepala Nana.

Sontak Nana meloncat keluar dari pelukan Chanyeol. Dan menciumi ketiaknya repleks.

Chanyeol tertawa puas melihat tingkah Nana yang sama sekali tak tahu arti JAIM di depan pria.

“tak ada waktu untuk mandi kau tahu.. aku berlari seperti orang gila untuk menemuimu.. terimakasih juga sudah cukup. Malah meledek. huuuh” Nana mendengus.

Chanyeol menghentikan tawanya. “mandi atau tidak… kau tetap Nana yang cantik.. dan mungkin akan selalu begitu.”

SWING.. Nana terbang ke langit ke tujuh. Lihatlah bagaimana Chanyeol mengungkapkannya dengan tulus. Nyaris tak terdengar seperti merayu. Karena kenyataannya dia merasa Nana memang cantik (sekali) malam ini. Pipinya merona diperlakukan sebagai wanita.

Bahu Nana bergidik menutupi saltingnya cepat. “Oh ya ampun…. darimana kau mempelajarinya.?.”

Chanyeol menaikkan bahunya. “molla.” Kemudian tersenyum.

Mereka saling tersenyum.

Bagaimanapun kisah kecil mereka akan lebih panjang dari yang bisa mereka bayangkan.

 

_TITA_

 

 

 

 

7 thoughts on “Your Kiss Is My Camera (3)

  1. ternyata cinta pertamanya nana itu chayeol..? wow.. 🙂
    kasian kris dong bertepuk sebelah tangan perasaannya ama nana *puk-puk kris* ekekeke
    nextnya.. tetep ditunggu ya, gomawo… ^^

  2. Wuaah keren bgt, pokoknya 2 jempol deh buat author yg udh bikin cerita yg keren ini..d^^b
    kira2 kisah percintaan chan hana berjalan mulus gak ya, penasaran,,cepet dilanjut ya gak sabar nih..:-D

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s