[4] Where We Belong

Where We Belong

written by bluemallows

Main Cast: CNBlue’s Lee Jonghyun & Girls’ Generation’s Im Yoona || Genre: Romance, School-life || Rating: Teen || Length: Chaptered || Disclaimer: The plot is completly mine

0,5 | 1 | 2 | 3 | 4

            Soojung meletakkan ponselnya di samping perutnya dan memalingkan wajahnya pada Yoona. “Aku memutuskan Yonghwa tadi siang.”

 

“Putus?” Mata Yoona terbelalak. “Kau yang memutuskan?” Ngomong-ngomong, ini baru empat hari setelah perayaan anniversary setahun hubungannya dengan Yonghwa.

 

“Ng,” Soojung menggumam membenarkan. “Tadi saat sepulang sekolah.”

 

Pikiran Yoona mendadak dipenuhi fragmen kenangan ketika pertama kali Soojung mengakui padanya bahwa ia menyukai Yonghwa dan Yoona berbisik, “Aku mendukung setiap pilihanmu.”, saat Soojung membolos pelajaran karena menangis untuk Yonghwa yang kecelakaan, nyaris setiap kali Vertical tampil, Soojung akan berdiri di baris paling depan dan melambaikan tangan pada Yonghwa.

 

Yoona masih ingat sekali ketika Soojung menceritakan kejadian di studio musik saat semuanya sudah pulang. They kissed. Itu adalah ciuman pertama Soojung dari seorang laki-laki. Dan Yoona yakin Soojung pasti masih mengingat kejadian-kejadian iu juga.

 

“Tapi.. kenapa?”

 

Sahabat Soojung itu berusaha menelusuri air wajah gadis cantik di hadapannya. Ia menyeringai seolah ia baru saja memenangkan sesuatu, tapi garis matanya yang menurun menyiratkan kesedihan di sana.

 

Soojung berkedip sekali, dua kali. “Aku mengatakan jika perasaanku padanya mulai luntur,” ia mendesah dan membasahi bibirnya yang kering dengan lidah. “tapi saat dia bertanya mengapa, aku tidak berani menjawab. Hanya mengangkat bahuku saja.”

 

Yoona menelan ludah tanpa berkomentar tentang cerita Soojung. Tidak habis pikir apa yang ada dalam otak Soojung hingga meninggalkan seorang Jung Yonghwa. Dia anak baik-baik dan bisa diandalkan.

 

“Lalu, aku berjalan menuju halte bus. Dan ketika aku berbalik, Yonghwa masih di sana. Memandangku pergi darinya,” mata gadis itu menerawang, barangkali membayangkan adegan berakhirnya kisah cinta miliknya dan Yonghwa tadi siang. “aku sebenarnya tidak tega, tapi..” kemudian ia berdecak. Yoona tahu artinya, Soojung tidak dapat memverbalkan perasaannya.

 

Yoona memilih untuk tidak menginterupsi Soojung dan tetap diam.

 

“Semuanya karena Jonghyun.” Lanjut Soojung.

 

Ketika nama ‘Jonghyun’ keluar dari mulut Soojung, Yoona tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya tiba-tiba lupa cara bernafas. Dadanya sesak sekali.

 

Soojung menghela nafas panjang sekali. “Sejak beberapa minggu lalu, tepatnya setelah Jonghyun dipilih sebagai gitaris paduan suara, kami mulai sering bertukar pesan singkat setiap malam,” satu per satu kata keluar dari mulut Soojung dengan perlahan. Dan ia tidak dapat menyembunyikan senyum yang mengembang pada wajahnya. “Bahkan, ketika kau, Jungshin, dan Jonghyun datang saat aku dan Yonghwa malam kemarin, aku lebih senang karena adanya Jonghyun ketimbang Yonghwa.”

 

“Singkatnya, aku jatuh cinta pada Jonghyun.” Soojung kembali berujar dan menatap kedua bola mata Yoona lekat.

 

Yoona segera menghindari kontak mata tersebut dan mengambil ponselnya. Mengecek apakah ada pesan dari Jonghyun seperti yang diterima Soojung atau tidak. Tidak ada satu pesan untuknya.

Soojung menunggu Yoona hingga selesai dengan ponselnya dan meletakkannya kembali di atas bantal yang membuat jarak diantara mereka. “Kau akan mendukungku, kan?”

Yoona mengangkat kedua sudut bibirnya dan bangkit dari ranjangnya. “Ya, aku mendukung setiap pilihan-pilihanmu.”

Malam itu, Soojung menunjukan deretan percakapan lewat SMS antara dia dan Jonghyun kepada Yoona. Dalam satu menit bahkan mereka dapat mengirim beberapa pesan sekaligus. Dibanding dengan Yoona? Ketika ia meng-sms Jonghyun saja belum tentu dibalas.

 

Pesan itu diisi dengan humor-humor dari Jonghyun yang dapat membuat Yoona sesekali tergelak meski ia merasa barangkali kupu-kupu yang ada di perutnya sudah mati.

 

Ketika Soojung terlelap di sampingnya, Yoona masih tetap membuka lebar matanya dan mengadah ke langit-langit kamarnya yang bahkan tidak terlihat karena gelap. Ia tidak tahu perasaan apa yang datang menyerbunya ketika Soojung menyatakan bahwa ia menaruh perasaan pada Jonghyun.
“Aku jatuh cinta pada Jonghyun.”, “Aku jatuh cinta pada Jonghyun.”, “Aku jatuh cinta pada Jonghyun” kalimat itu terus saja berputar-putar pada kepala Yoona.

 

Dia berbalik dan melihat Soojung memeluk guling erat-erat dengan kedua tangannya dan matanya terpejam. Tahun kemarin, mereka bersaing sehat untuk mendapat peringkat pertama di kelas. Dan tahun ini, mereka akan bersaing ketat untum mendapatkan Lee Jonghyun. Persaingan yang sudah dapat diprediksi siapa pemenangnya.

 

Tidak, tidak. Yoona sudah berjanji untuk mendukung Soojung. Jadi, ia memilih untuk menyembunyikan perasaannya lebih dalam lagi. Menutupinya dengan perkataan-perkataan seputar Jonghyun yang galak, yang tidak bersahabat, yang dingin, dan lain-lain.

 

Ia hanya berharap tidak ada orang yang tahu tentang perasaannya. Cukup dirinya saja seorang.

“Jonghyun, jam 5 ini kita latihan paduan suara di studio musik.”

 

Yoona sudah mengirimkan pesan itu dari pukul empat sore, tapi tetap tidak ada balasan dari sang penerima pesan.

 

“Mana Jonghyun dan yang lain? Ini sudah hampir setengah enam.” Celetuk Yuri sambil menilik jam tangannya.

 

Yoona melirik ke luar satu-satunya jendela kaca studio musik. “Di luar hujan, mungkin yang lain tidak bisa datang.” Gadis itu kembali mengirimkan pesan pada Jonghyun agar ia cepat-cepat datang. Padahal hanya ada delapan anggota paduan suara yang datang.

 

Sejurus kemudian, Jonghyun masuk ke dalam studio dengan jaket yang basah karena air hujan, nafas yang terengah-engah, dan aroma bedak bayi pada tubuhnya. “Hanya ini saja yang datang?” Ia menoleh ke arah Yoona. “Mana Jung-seonsaengnim?

 

“Hari ini Jung-seonsaengnim tidak bisa datang.”

 

Jonghyun mendengus kesal. “Ck, tidak ada gunannya berlatih hanya sebagian orang seperti ini,” ia mengeluarkan gitar dan hanya memberi kesempatan regu paduan suara berlatih dua kali, dan kemudian ia memasukkan gitarnya kembali dan pergi begitu saja.

 

“Kenapa Jonghyun?” Tanya Soojung sambil mengedarkan pandangan kepada teman-temannya. “Dia marah?”

 

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Tidak ada yang tahu Jonghyun orang seperti apa. Yuri, Jinri, dan anggota paduan suara lainnya memilih untuk pulang dan menghangatkan diri di dalam rumah ketimbang mencampuri urusan Jonghyun-yang-mendadak-marah-dan-pulang itu, menyisakan Soojung dan Yoona di studio musik.

Soojung berjalan mondar-mandir dengan menggigit bibirnya. Ia selalu melakukan hal itu saat sedang gelisah.“Jonghyun kelihatan marah sekali tadi, raut wajahnya dingin.” Kemudian ia berpaling pada Yoona. “Sepertinya kita harus meminta maaf pada Jonghyun sekarang.”

Sebisa mungkin Yoona menyembunyikan gestur yang menunjukkan jika ia sebenarnya khawatir. Walau jika dipaksa, Yoona akan mengakui jika sebenarnya ia jauh lebih takut, mungkin lebih dibandingkan Soojung. “Bagaimana kalau ditelepon saja?” Usul Yoona.

Cepat-cepat Soojung mengangguk setuju. “Aku saja yang meneleponnya,”

Tetapi Yoona menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya dan menunjukkan ponselnya yang sudah menghubungi Jonghyun. Pada detik-detik terakhir, ketika harapan Yoona dan Soojung tentang Jonghyun yang akan mengangkat telepon itu sudah mulai memudar, akhirnya suara Jonghyun terdengar di ujung sana.

Halo? Bagaimana, Yoon?”

Yoona cepat-cepat mengaktifkan pengeras suara sehingga Soojung dapat mendengar suara Jonghyun.  “Kami—kami—minminta—maamaaf” Suara Soojung dan Yoona bertumpuk-tumpuk satu sama lain.

“Apa? Di sana mati lampu?” Jonghyun menyahut dengan suara lebih keras, tersamarkan oleh rintik-rintik hujan yang berjatuhan. “Di rumahku mati lampu. Kau takut?”

“Aku minta maaf, Jonghyun,” Soojung berujar lebih dulu.

“Aku minta maaf—kami minta maaf menyuruhmu datang cepat-cepat kemari saat hujan seperti ini.” Timpal Yoona, mengingat ini kurang dari seminggu menjelang perlombaan.

Terdengar suara kekehan Jonghyun di ujung telepon. Ringan, menyengarkan, dan tentu saja sedikit sinis—seperti biasa. “Marah apanya? Aku hanya terburu-buru untuk pulang. Kakakku, Sohyun datang dari Amerika malam ini.” Ia terkekeh lagi sekarang, jauh lebih keras. “Sudah, santai saja denganku.”

“Kau.. tidak marah?” Soojung bertanya lagi pada Jonghyun. “Uh, ngomong-ngomong, ini aku, Soojung.”

“Hei, dengar ya, aku tadi hanya terburu-buru. Aku tidak marah sama sekali.” Sahut Jonghyun masih diselingi kikikan geli. “Ngomong-ngomong di sana mati lampu?”

“Tidak, kok.” Sahut Yoona sambil mendekatkan ponsel ke arahnya, tetapi Soojung kembali menariknya ke tengah-tengah mereka.

 

“Oh, kukira kau meneleponku karena ketakutan. Di rumahku mati lampu sekarang.” Jonghyun kembali tertawa. “Ah! Sekarang sudah menyala!”

 

“Lanjutkan saja acaramu, terimakasih Jonghyun!” Ucap Soojung.

 

Terdengar gumaman dari Jonghyun yang tak terdengar jelas, mungkin semacam ya. Dan kemudian sambungan telepon terputus.

Soojung dan Yoona sama-sama duduk di dekat pagar besi lantai dua sambil menyesap teh manis dari kantin yang baru saja mereka beli tadi.

 

Sesekali Yoona akan melirik ke arah Soojung, mendapati ekor mata gadis itu tidak pernah lepas dari Jonghyun. Mengikuti Jonghyun yang berlari mengitari lapangan dengan hasil membungkuk dan bernafas terengah-engah, ketika senior yang lain melempar bola basket kepada Jonghyun, dan setiap kali rambut hitamnya seakan hampir lepas saat ia melompat.

 

Sesekali Soojung menoleh ke arah Yoona, kemudian kembali menghadap ke lapangan dan memperhatikan Jonghyun. Ia bersorak keras ketika Jonghyun berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket. Dan ketika mendengarnya, Jonghyun akan menengok ke atas dan melamabaikan tangannya pada Soojung. Yoona dapat melihat mata sahabatnya begitu berbinar-binar ketika Jonghyun tersenyum padanya. Dia benar-benar jatuh cinta pada Jonghyun.

 

Baru dalam hitungan hari Soojung putus dari Yonghwa dan memilih menaruh perasaan pada Jonghyun. Tetapi apa yang diketahuinya tentang Jonghyun rasanya banyak sekali. Padahal Yoona berkali-kali lipat lamanya menyimpan perasaan pada Jonghyun. Ia hanya merasa kalahdibandingkan dengan Soojung.

 

Tetapi Yoona juga tahu beberapa hal tentang Jonghyun. Cara laki-laki itu menyeduh kopi; menghirup aromanya dalam-dalam, memasukkan dua sendok teh gula, dan membiarkan kopi mengaliri kerongkongannya. Yoona tahu Jonghyun tidak terlalu senang membaca, tetapi ia tahu novel sastra apa yang terakhir dibaca Jonghyun. Ketika band beraliran rock datang jauh-jauh dari negeri barat, Jonghyun akan memesan tiket festival dan bersenang-senang sendirian di tengah keramaian bersama orang-orang asing, dan Yoona hafal band apa saja yang sudah pernah disaksikan Jonghyun secara live.

 

Gadis itu hafal bagaimana cara Jonghyun berpenampilan di luar sekolah; jam tangan rolex di pergelangan kirinya, bedak bayi, celana pendek selutut atau jins yang menutupi mata kaki, dan sepatu sandal yang selalu diinjak bagian belakangnya.

 

Ya, hal-hal kecil seperti itu saja yang diketahui oleh Yoona. Tidak lebih dan ia memang tidak berharap lebih.

Yoona berulang kali menggoreskan pensil dan mengapusnya kembali di atas kanvas. Ia berada di ruang kesenian lagi siang ini. Hanya ada Park­-seonsaengnim yang sibuk menilai hasil lukisan murid-muridnya dan Yoona yang duduk dengan gusar memikirkan ide untuk melukis sesuatu.

“Ide itu tidak bisa dipaksakan, Yoong,” Park-seonsaengim membetulkan letak kacamata bacanya. “santai, dan biarkan idemu mengalir dengan sendirinya.”

Gadis itu mendesah, ia benci saat Park-seonsaengnim dapat membaca pikirannya dengan begitu akurat. Sesungguhnya, ia penasaran akan jampi-jampi apa yang digunakan oleh laki-laki itu untuk membaca hingga menyelami hati seseorang. Yoona memiringkan kepalanya, berusaha menelusuri setiap garis-garis wajah guru seni rupanya yang mulai keriput, tetapi masih terbilang muda untuk usia lima puluhan.

“Kau tahu banyak tentang Jonghyun, kan, seonsaengnim?”

“Hmm, lumayan,” Park-seonsaengnim merapikan tumpukan kertas yang sudah dinilainya dan kembali memeriksa daftar absen kelas.. entah kelas berapa.  “yah, bisa dibilang lumayan. Dia banyak bercerita padaku.”

Kepala Yoona mengangguk-angguk. Ia menggeser kursi tempat ia duduk sehingga menghadap ke arah Park-seonsaengnim di ujung ruangan. “Tolong, ceritakan aku tentang Jonghyun. Apa saja.”

Pria paruh baya itu meletakkan kacamatanya dan memangku dagunya pada kedua tangannya. “Katakan yang spesifik, Yoong,” ujarnya. “aku tahu lumayan banyak tentang Lee Jonghyun.”

Bola mata gadis kelas dua itu berputar, mencoba berpura-pura berpikir tentang apa yang ingin diketahuinya tentang Jonghyun. “Tentang Jonghyun dan Tiffany-sunbae, mungkin?”

Yoona tahu, Park-seonsaengnim bukan tipe guru yang senang bergosip tentang murid-murid yang ini atau yang itu dan dapat menutup maupun membuka mulut pada saat yang tepat. Jadi, Park-seonsaengnim pasti juga tahu tentang Jonghyun dan Tiffany. Lelaki itu menyeringai, seolah sudah menebak itu permintaan Yoona.

Lee Jonghyun—junior baru yang baru berusia lima belas tahun—akhirnya merasakan bagaimana euforia jatuh cinta yang sebenarnya. Salah satu dampaknya, ia mendadak belajar mati-matian berbahasa Inggris (Meski pada faktanya ia membencinya.)

Dia mulai melirik gadis kelas tari seangkatannya, Stephanie Hwang. Ia keturunan barat dan parasnya begitu cantik seperti boneka Barbie. Beberapa senior memanggilnya dengan sebutan Barbie San Fransisco. Dan Jonghyun sangat setuju dengan panggilan itu.

Jonghyun memilih kelas seni lukis dan berkali-kali ia ijin pergi ke toilet yang melewati ruang tari untuk melihat Tiffany menari di sana. Kadang pandangan mereka bertemu dan seringkali salah satu dari mereka akan tersenyum dan yang lain akan membalas.

Semuanya berawal dari sana, hingga pada malam pentas seni tahunan, Jonghyun memberanikan diri untuk mengulurkan tangan lebih dulu dan mengajak gadis itu berkenalan hingga bertukar nomor ponsel.

Tetapi untuk mendapatkan hati seorang Tiffany tidak semudah yang dibayangkan oleh Jonghyun. Begitu banyak siswa dari kelas satu, dua, atau tiga yang mengejar-ngejar gadis itu. Pernah laki-laki itu mati-matian meminta Park-seonsaengnim mengajarinya melukis wajah Tiffany, tetapi gadis itu hanya melempar senyum setengah mengejek pada lukisan gagal karya Jonghyun itu.

Pada akhirnya, Jonghyun berhasil membuat Tiffany tergila-gila padanya karena ia bisa menyanyi sambil memetik gitar. Dan pada hari Jonghyun menyatakan cinta, ia membawa gitar dan menyerahkan setangkai bunga mawar putih. Siapa yang bisa menolak pernyataan cinta semacam itu?

Karena Tiffany pula, Jonghyun memilih kelas seni musik pada kelas keduanya di SMU. Gadis itu selalu berada di bangku paling depan saat Vertical tampil, ia akan meneriakkan nama Jonghyun keras-keras ketika jari-jari kekasihnya itu meliuk-liuk di atas fret gitar. Kadang ia akan meminjam kamera DSLR milik temannya dan memotret Jonghyun dari berbagai sudut.

Biasanya pada jam-jam terakhir sekolah Jonghyun akan lewat di depan kelas Tiffany dan melirik ke arah gadis itu, kemudian mengisyaratkannya untuk berhenti mengikuti pelajaran dengan izin pergi ke toilet. Dan berakhir dengan menghabiskan waktu bersama di UKS atau studio musik. Mereka akan bercerita tanpa arah selama berjam-jam, menikmati suasana dimana tidak ada yang berbicara tanpa merasa canggung sedikit pun.

Saat malam minggu, kadang Tiffany pergi ke apartemen yang dikontrakkan orang tua Jonghyun untuknya di dekat sekolah. Mereka akan menghabiskan semalaman dengan menonton film action, horror, atau thriller, dan setelah lewat tengah malam Jonghyun akan menyalakan stereo yang memutar lagu beraliran rock dengan versi akustik, aliran favorit mereka berdua.

Suara petikan gitar sayup-sayup itu akan mengiringi pembicaraan mereka sepanjang malam. Seperti pada salah satu malam, Tiffany berbaring di sebelah Jonghyun dan memeluk lengan pemuda itu. Mencium aroma bedak bayi yang menempel pada laki-laki itu, meski Jonghyun meyakinkan Tiffany ia tidak memakai bedak bayi. Tapi Tiffany senang sekali dengan bau yang melekat pada tubuh Jonghyun.

“Kau punya impian?” Suatu kali Tiffany bertanya.

Jonghyun mengangguk dan mengerling ke arah Tiffany yang berbaring di sampingnya. “Tentu saja,” matanya kembali terarah pada langit-langit kamarnya yang sengaja diberi wallpaper yang menyerupai langit malam. Ada banyak kelap-kelip glitter sebagai bintang di sana. “aku ingin jadi seorang musikus. Komposer terkenal, berkeliling dunia..”

Tiffany melirik Jonghyun dan tesenyum getir. “Aku.. tidak tahu apa impianku..” Ia menghela nafas panjang. “Kita di SMU tinggal satu setengah tahun, dan rasanya masa depan itu sangat dekat. Aku hanya.. hanya takut menghadapinya.”

Jemari Jonghyun terselip diantara helai-helai rambut gadis itu dan ia mencium aroma vanila di sana. “Aku akan membantumu menemukan impianmu,” ia tersenyum dan memandang kedua bola mata gelap milik kekasihnya. “setelah kita menentukan dan mewujudkan setiap impian-impian kita, let’s get married.”

Tiffany hanya membalas ajakan Jonghyun itu dengan senyum manis dan kecupan singkat pada bibir Jonghyun. Laki-laki itu akan membuka gulungan matras dan menggelarnya di samping tempat tidur untuk berbaring di sana dan membiarkan Tiffany tertidur di atas ranjangnya. Mereka terlalu kekanak-kekanakkan saat itu.

Mereka hanya sepasang remaja yang saling jatuh cinta, mencoba menyempatkan waktu untuk sekedar menelepon dan mengerjakan tugas bersama meski berada di kelas yang berbeda. Hingga akhirnya, Tiffany menelepon Jonghyun dengan tersedu-sedu, mengatakan bahwa ayahnya menginginkan Tiffany untuk kembali ke San Fransisco.

Dan akhirnya, Jonghyun memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Tiffany. Malam ketika Tiffany meneleponnya. Ia tidak punya alasan lain kecuali jarak. Jarak antara Seoul dan San Fransisco tidak seperti kau dengan mudahnya menyeberang ke pulau Nami untuk berjalan-jalan. Daratan pulau, negara, benua, bahkan samudera memisahkan mereka.

“Kita.. kita tidak bisa meneruskan hubungan ini, Fany.” Malam itu Jonghyun berbisik di telepon. Suaranya bergetar hebat.

Masih dengan tangis yang pecah, Tiffany menyahut di ujung telepon. “Kenapa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ketika aku pergi ke San Fransisco?”

“Jarak kita terlalu jauh, Fany. Kita.. kita tidak mungkin sanggup.”

Fuck the distance, kau lupa janjimu?”

“Maaf, tapi aku tidak bisa, Fany.” Jonghyun berusaha menghapus air mata akhirnya berhasil mengalir pada pipinya. “Satu hal yang mengerikan tentang jarak, kau tidak pernah tahu orang itu akan merindukanmu atau melupakanmu.”

Gadis itu menutup telepon tanpa menjawab lebih panjang lagi. Menghabiskan waktu semalaman untuk menangis hingga keesokan harinya ia nyaris tidak dapat membuka matanya.

Sejak telepon malam itu, mereka tidak pernah sekali pun berkomunikasi. Sebisa mungkin, mereka akan menghindari untuk berpapasan apalagi saling menyapa. Hanya pada hari terakhir Tiffany berada di sekolah, ia memasukkan selembar kertas di dalam laci Jonghyun. Mengatakan bahwa ia akan menerima kembali Jonghyun jika mantan pacarnya itu mau datang ke bandara saat keberangkatannya ke San Fransisco.

Tapi akhirnya Jonghyun melepaskan Tiffany.

            “Kupikir Jonghyun terlalu gegabah dan Tiffany terlalu mendramatisir keadaan saat itu. Tapi mungkin itu yang terbaik.” Park-seonsaengnim menyelesaikan ceritanya. Kisah cinta yang berakhir ketika salah satu diantaranya pergi dan tidak kembali lagi. “Banyak sekali gadis yang mengejar-ngejar Jonghyun setelah Tiffany pergi,” Ia berdeham sejenak. “Mereka mengatakan Jonghyun sangat tampan, keren, rajin, dan sebagainya.”

“Lantas, apa alasanmu menyukai Lee Jonghyun?” Pria paruh baya itu melanjutkan.

Mata Yoona membelalak tersinggung. “Hei, aku tidak pernah bilang aku menyukai Jonghyun, seonsaengnim.” Ia mencoba menaikkan nada bicaranya.

Laki-laki itu tertawa kecil melihat tingkah Yoona. “Simpan saja jawabannya untuk dirimu sendiri. Perasaan ada untuk dinyatakan, bukan untuk disangkal, Yoong,” Ia menggulung kertas-kertas gambar dan mengikatnya dengan karet gelang.  “Ayo, pulang.” lanjut Park-seonsaengnim.

Sebenarnya Yoona tidak menyukai Jonghyun karena ia tampan, keren, atau sebagainya. Ia hanya menyukai Jonghyun sebagai Jonghyun—dirinya sendiri (meski sebenarnya Jonghyun juga tampan). Tunggu, baru saja Yoona berpikir tentang mengapa ia menyukai Jonghyun?

Oh, perasaannya memang tidak bisa disangkal lebih jauh lagi.[]

62 thoughts on “[4] Where We Belong

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s