[FF Freelance] Between Us Just A Best Friend

BUJABF

Title : Between Us Just A Best Friend

Author : Hun-ah

Rating : T

Genre : Hurt, Romance, Sad, Friendship, Angs

Length : Oneshoot

Main Cast : Kim Him Chan (B.A.P)

Kim Im Jung (OC)

Support Cast : Park Tae Yeon (OC)

Disclaimer : ini FF sungguh asli dari pemikiran otak saya, dan sebenarnya FF ini juga terinspirasi setelah outher mendengar lagunya Shin Hye Sung – Insomnia. Kekek.. semoga suka sama ceritanya.

Happy Reading

Pengantar lagu “Shin Hye Sung – Insomnia”

Alunan di setiap alunan music terus di mainkan sampai terdengar di indra pendengaran yeoja yang sedang duduk dekat jendela di dalam cafe itu. Alunan-alunan yang terdengar merdu dan damai bagaikan sebuah kepingan-kepingan film yang memutar di otaknya, hingga mambawanya ke masa lalu yang tak bisa di katakan dengan kata-kata. Hanya dapat di rasakan apa yang di rasakannya. Namun, kepingan itu menghilang ketika adaseseorang  yang menepuknya dari belakang pundaknya. Dengan suara yang terkesan berat, memanggilnya.

“Hey, maaf mambuatmu menunggu selama ini. Mian.”Ucap namja yang menepuknya tadi. Sang empu yang mengetahui siapa dia, menoleh ke belakang, ia pun tersenyum.

“Gwaenchana, aku juga baru saja sampai beberapa menit yang lalu.”Katanya berbohong, dirinya sudah menunggunya sejam yang lalu.

“Ooo.. geurae.”Kata namja yang sudah duduk berhadapan dengannya. Hening pun tercipta tak ada yang mau membuka mulut meskipun mereka duduk berhadapan. Sampai akhirnya namja ini membuka mulutnya.

“Imjungie, kita jalan yuk. Aku bosan di sini terus.”Pintanya

“Waeyo himchanie? bukannya tadi kau minta ketemuan di sini. Kenapa sekarang kau mau keluar jalan, ckckck..” balasnya

“Mollayo, tiba-tiba saja moodku berubah. Kita jalan aja, mau ya Jungiee~~” katanya sambil mengeluarkan jurus buing buingnya, sebut saja namja itu Himchan.

“Ne ne.. kau itu ya cepat sekali berubah mood! Memangnya kita mau kemana?” tanya Imjung

“Uhmmm.. bagaimana kalau kita ke taman bermain yang ada seberang sana saja, Otte?”

“Ok. kita ke sana, jujur saja aku juga bosan di tempat ini lama-lama.”Kata Imjung sambil memberikan cengiran khasnya. Himchan terkekeh saat melihatnya.

“Kajja, kita ke sana sekarang.”Kata himchan, sambil menautkan jemarinya di tangan Imjung. Imjung pun membalas pegangan Himchan. Kemudian mereka pun keluar dari cafe ini.

Imjung POV

Kami telah sampai di taman kita bicarakan tadi, ya taman bermain yang tempatnya tak jauh dari cafe tadi. Disini tidak terdapat seorang pun bahkan bisa di bilang sangat sepi. Tentu saja tempat ini sepi, sekarang ini sudah menunjukan pukul 8 malam. Pasti sepi, aku juga merasa aneh dengannya. Kenapa dia mengajakku ke tempat seperti ini di malam hari pula.

Kami pun bermain ayunan. Di sana ada 2 buah ayunan jadi kami duduk bersebelahan. Sesekali aku memandangi wajahnya, bisaku lihat raut wajahnya yang sedih sangat menyedihkan malah. Tanpa di tanya pun aku juga tau di sedang ada masalah Dan siapa yang membuatnya seperti ini pun aku juga mengetahuinya. Pasti karena dia, ya dia Taeyeon. Seseorang yang sangat berharga untuknya.

“Himchan-ah, ada apa denganmu hari ini? biasanya kau pasti cerewet kalau lagi bosan.”Tanyaku

“Aku biasa-biasa aja Imjung-ah.”Balasnya sambil pura-pura terseyum kepadaku, selalu saja begitu pura-pura terseyum padahal lagi sedih.

“Bohong, pasti karena Taeyeon kan kau jadi seperti ini. Iya bukan?” selidikku sambil menatapnya tajam, Himchan menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaanku. “Ada apa lagi dengan kalian? Apa kalian bertengkar lagi atau ada yang lain?” tanyaku lagi.

“Imjungie, aku… aku melihatnya bersama dengan namja lain dengan mesranya di cafe yang tadi.”Katanya sambil menundukkan wajahnya.

“Jinjjayo? Dia ada cafe tadi, kenapa aku tidak melihatnya masuk ke cafe itu eoh?” tanyaku padanya.

“Hmmm…”

“Aishh… tapi kenapa kau tidak menghampirinya? Jelas-jelas kau melihat taeyeon bersama dengan namja lain disana.”

“Hahh… sebenarnya tadi dia memintaku untuk mengakhiri hubungan kami, buat apa aku menghampirinya.”Jawabnya

“Oops mian, aku tidak menegtahui kalau kalian sudah putus. Eee.. kenapa kalian bisa putus?” tanyaku sedikit ragu sebenarnya untuk sekedar bertanya.

“Katanya dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia bilang aku ini keras kepala, melarangnya ini itu, aneh. Apa aku seburuk itukah? sampai dia tega meninggalkanku begitu saja, Imjung-ah.” tanyanya padaku, sungguh ironis mendengarnya berkata demikian. Melihatnya seperti ini membuat hatiku teriris-iris.

“Annio, kamu tidak seburuk yang di katakan Taeyeon padamu. Memang kau ini keras kepala, tapi yang lain tidak. Aku malah merasa kau ini hanya tidak suka jika dia dekat dengan namja lain, itu saja. Aiesshh… Taeyeon itu babo tega-teganya dia begitu terhadap kamu. Himchan-ah tenang saja kau tidak sendirian, masih ada aku disini, arra.”

“Hehehe.. kau tak perlu sampai seperti itu…. aku..”

“Aku tidak sedang bercanda, aku serius mengatakanya. Percayalah.”Kataku untuk meyakinkannya

“Eishh.. aku kan belum selesai ngomongnya, aku percaya sama kamu. gomawoyo, nae chingu.”Katanya sambil mengusap kepalaku.

“Chon maneyo, nae… chingu.”Balasku. Tapi terasa berat mengucapkannya, chingu? Apa dia hanya menganggapku sebagai teman, tak bisakah kau melihatku sebagai sosok yang lebih dari sekedar temanmu? Sedih rasanya.

“Ya Imjungie, sebaiknya kita pulang. Sepertinya kita sudah terlalu lama disini. Tidak baik di luar malam-malam, kajja kita pulang.”Katanya sambil menarik pergelangan tanganku, Aku pun mengikutinya jalan berdampingan dengannya.

Oh ya sampai lupa, kenalkan namaku Kim Imjung. Aku ini teman terdekat dari namja yang ada di sebalahku namanya Kim Himchan.Kim? Mungkin kalian merasa aneh kenapa  marga kami sama-sama Kim, tapi kami berdua hanyalah teman dekat bukan saudara kandung bisa dibilang juga saudara jauh, siapa yang peduli itu.Kami berteman sudah cukup lama, kami salalu melakukan hal apa pun bersama layaknya berpacaran. Salah satunya ya ini, dia mengenggam tanganku ketika kita hanya berdua.

Tangan ini, tangan yang selalu menggenggam tanganku dengan lembut. Bahkan rasanya hangat sekali bila dia menggenggam tanganku.Meskipun udara di sekitar kami terasa dingin hingga menusuk tulang, tapi tetap saja aku merasa hangat dalam genggamannya. Seandainya waktu bisa berhenti, aku ingin menghentikannya. Biar aku dan dirinya tetap selalu seperti ini, berpegangan. Tuhan, bolehkah aku mengaharapakan hal itu terjadi? Sungguh miris diriku ini, yang jatuh cinta dengan orang yang hanya menganggapku teman.

Skip time

Outhor POV

Hari ke hari, bulan ke bulan telah berlalu sejak kejadian yang menimpa Himchan dengan yeojachingunya Taeyeon. Mungkin dari kebanyakan orang biasanya akan cepat melupakan kejadian tersebut. Namun,tidak bagi seorang Kim Himchan yang masih mencintai Taeyeon, walaupun dia setiap harinya terseyum tapi itu hanya seyuman palsu untuk menutupi kesediahannya ke setiap orang.Hanya Imjung yang mengetahui kesediahan yang di rasakannya. Terkadang Imjung kesal dengan sikap Himchan yang seperti itu. Himchan sekarang  terlihat lebih kurus, jadi suka mabuk-mabukan, tidak mau makan sedikitpun. Imjung yang melihatnya terpuruk seperti ini membuatnya harus setiap hari mengunjunginya.

“Himchan-ah, aku tinggal sebentar disini ne.”Kata Imjung hendak pergi meninggalkan Himchan di sebalahnya.

“Kau mau pergi kemana? Perlu aku antar?” kata Himchan

“Gomawo, tidak perlu aku bisa pergi sendiri, hanya sebentar saja. Tunggu aku disini nde, bye.”

“Geurae.. bye.”

10 menit kemudian..

“Aishh kenapa dia lama sekali..” gerutu Himchan yang tidak sabar menunggu Imjung kembali.

“Hahahaha…. yaa oppa.. berhenti geli tau!!” tiba-tiba saja terdengar suara dari luar pintu apartemennya.

“suara itu… aku sangat mengenalnya, untuk apa dia disini?”kesalnya. Namun, karena rasa penasaran Himchan yang besar membuatnya berjalan ke pintu apartementnya. Himchan tidak keluar, tapi ia mengintip di salah satu lubang yang terdapat di pintunya. Betapa terkejutnya Himchan saat melihat apa yang di lakukan Taeyeon diluar sana. Dia sedang bersama namjachingunya yang baru sedang melakukan hot kissing tepat depan pintu apartementnya. Himchan yang tidak kuat melihatnya langsung pergi dari pintu itu.

Himchan POV

Ige mwoya? Apa yang baru saja aku liat? Dia berciuaman dengan namja lain, DI DEPAN PINTU APARTEMENTKU!! Belum cukup dia menyakitiku. Cukup aku tak ingin melihatnya lebih dari ini. Rasa amarahku tak bisa kubendung lagi, tanpa sadar aku langsung melayangkan tinjuku ke depan kaca dekat ruang tamu.

Prangg…

Darahku terus keluar dari tanganku, aku tidak merasa sakit sedikit pun di tanganku. Yang sakit malah dadaku, terasa sesak sampai sulit bernapas. Kubiarkan darahku terus mengalir, aku tidak peduli lagi. Kusenderkan tubuhku di pinggiran sofa. Tiba-tiba saja terdengar suara pintu apartementku terbuka.

Cklek…

“Himchanie, maaf membuatmu menunggu lam… yak!!ige mwoya? Kenapa ada banyak pecahan kaca di sini? danApa yang terjadi denganmu? Himchan-ah kenapa tanganmu bisa terluka?” teriaknya sambil memegang tanganku penuh luka.

“Pergi dari tempatku sekarang, lepaskan tanganmu..” bentakku padanya, aku bingung kenapa aku seperti ini ke dia, tapi perasaanku sedang kalut.

“Aniya, aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum lukamu di obati. Aku akan mengobati lukamu, apa kau mau mati kehabisan darah eoh?”

“Apa pedulimu, biarkan aku mati. Aku tidak ingin hidup lagi, tak akan ada yang peduli juga jika aku mati. Dan juga kau tidak usah berpura-pura peduli padaku, lebih baik kau pergi dari sini. Biarkan aku sendiri.”

Pletak…

Tiba-tiba saja imjung menamparku cukup keras hingga sudut bibirku sedikit robek. “YAK KIM HIMCHAN, AKU TIDAK BERPURA-PURA PEDULI DENGANMU, AKU SANGAT PEDULI PADAMU. TIDAK AKAN KU BIARKAN KAU MENGHANCURKAN HIDUPMU HANYA KARENA DIA. INGAT ITU!” bentaknya sambil menahan tangisnya, aku terdiam melihatnya sekarang yang mulai menagis di depanku. Perlahan ku ulurkan tanganku untuk mengahapus air matanya yang jatuh dari mata indahnya.

“Imjung-ah, mian…” kataku, Imjung memegang tanganku kemudian mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk.

“Himchan-ah, jangan lakukan hal seperti itu lagi hiks… itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Apa kau tahu aku sedih setiap melihatmu minum bir berkaleng-kaleng bahkan kau juga tidak mau makan apa pun.. kamu bisa sakit nantinnya bila seperti itu terus.Kumohon berhentilah, jaebalyo..” katanya, tapi aku tetap saja diam. Sampai ia memapah tubuhku duduk di atas sofa, lalu ia mengambil kotak obat di kamarku. Kemudian mengobati lukaku dengan lembut namun dia tidak megeluarkan sepata katapun. Sampai akhirnya aku berani mengeluarkan suaraku.

“Imjung-ah, jeongmal mianhaeyo..”kataku, Imjung terdiam sejenak  kemudian lanjut memperban lukaku. “Aku akan melupakannya,aku janji akan  kembali ke kehidupanku yang normal seperti dulu. Mian selalu merepotkanmu untuk merawatku selama ini, Imjung-ah gomawoyo.”Kataku.Saat selesai mengobati lukaku ia mendongakkan kepalanya menatap mataku.

“Jinjja? kupegang janjimu padaku. Bukalah hatimu untuk orang lain yang lebih mencintaimu dengan tulus, biarkan ini berlalu bagaikan air yang mengalir, arrachi?” katanya sambil terseyum

“Ne arrayo…” kataku, tapi tiba-tiba saja tanganku menghentikan langkahnya saat meilhatnya akan  berdiri, “Kau mau kemana?” tanyaku.

“Aku hanya mau manaruh kembali kotak obat ini.”Jawabnya, saat dia hendak pergi kutarik tangannya hingga terjatuh ke sofa, langsung kurebahkan kepalaku di pahanya. Imjung tampak kaget, karena kelakuanku.

“Jangan pergi, temani aku disini. Aku merasa lelah sekali..” setalah itu mataku pun terpejam, dapat kurasakan dia membelai surai rambutku dengan lembut. Rasanya nyaman sekali, belum pernah aku merasakan senyaman ini sebelumnya.“Imjung-ah, boleh aku meminta sesuatu padamu? Jangan pernah meninggalkanku sendirian, aku tidak suka sendiri.”Tanyaku, entah kenapa aku takut jika suatu saat dia akan pergi jauh meninggalkanku.

“Aku ada disini, tidak akan membuatmu sendiri.”Balasnya.

*****

Imjung POV

Aku senang sekarang. Kenapa? Ya karena orang yang paling terdekat denganku telah kembali seperti dulu. Himchan sudah kembali semangat seperti dulu, sudah mulai mau memakan makanan. Dan membuang semua kaleng bir yang ada di apartementnya. Aku tahu walaupun dia sudah mulai kembali ke kehidupan normalnya, tapi tetap saja Himchan belum bisa sepenuhnya melupakan Taeyeon di hatinya. Dia bilang sudah tidak mencintainya tapi aku tahu dia pasti masih ragu untuk melupakan mantannya. Bisakah diriku masuk ke kehidupannya walaupun hanya seberkas cahaya yang menerangi dalam kehidupannya? Hah, tidak akan pernah terjadi dalam hidupku. Biarlah dia tetap menganggapku teman, teman terbaik yang pernah dia punya di dunia.

“Wah lelahnya tubuh ini…” kata Himchan sambil meniduri tubuhnya di tengah hamparan rerumputan. Ya sekarang kami sedang berada di tempat di mana banyak rerumputan yang tingginya selutut, bisa di bilang kami sedang di padang rumput dekat pinggiran kota. Tempat yang tenang dan damai untuk berduaan dengannya hari ini. Aku pun meniduri tubuhku juga di sampingnya. Hening, tanpa ucapan yang terungkap dari bibir kami masing-masing. Kubiarkan terpaan semirik angin yang mengenai kulitku dengan mulus, sinar matahari yang semakin lama mulai tertidur kembali ke asalnya di ganti dengan rembulan yang menempati posisinya di atas sana dengan sinar bintang yang gemerlap menghiasi malam ini, ‘cantik’.

“Imjungie, gomawo..” kata Himchan

“Eh! Mwo, berterimakasih buat apa?” tanyaku bingung sambil menyerengitkan dahi.

Dia kemudian bangkit menjadikannya dalam posisi duduk, aku pun mengikutinya. Lalu dia menatapku dan aku membalas tatapanya.

“Untuk segalanya yang kau berikan, untuk waktu yang kau berikanku di kala diriku terpuruk, untuk seyuman tulus yang kau berikan hingga membuatku bisa bersemangat kembali, maaf jika sikapku yang kasar waktu itu ke kamu. kau itu penyemangat hidupku yang pernah kupunya.”Tuturnya padaku, terpaku diam tanpa apa yang bisa ku ucapkan lagi.

“Bolehkah aku…” katanya lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jantungku terus berdetak kencang seiring jarak kami yang dibilang sangat dekat, hanya 5 cm dari wajahku. Hidung kami bersentuhan satu sama lain, aku pun tak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Kini bibirnya telah menyentuh bibirku, kupejamkan mataku, meresapi setiap inci bibirnya. Dia mulai melumat bibirku, aku pun membalasnya. Awalnya aku terkejut, tapi kubiarkan saja dia melakukanya, bahkan aku menikmatinya. Rasanya manis, tapi terasa sangat sakit di dadaku entah antara harus merasa senang atau merasa sedih. Aku merasa mataku mulai memanas tapi kutahan untuk tidak megeluarkan air mataku. Dia pun melepaskan ciuman kami. Lalu kutatap manik matanya.

“W-waeyo… kenapa kau lakukan ini padaku?” tanyaku

“Itu.. Aku juga tidak tahu kenapa, hanya saja aku ingin melakukanya.”Jawabannya membuatku lebih dari sakit yang kurasakan tadi.

“Hanya itu? apa hanya itu saja?”

“……. Karena kau adalah temanku, mungkin?” jawabnya ragu, cukup! Aku sudah tak tahan lagi dengan sikapnya yang seolah-olah dia bisa memperlakukan seanaknya padaku.

“Teman, just a friend? Ya neo! Dengar mungkin ini terdengar gila bagimu, tapi asal kamu tahu aku sudah memendam rasa padamu selama ini. Bahkan saat kau sudah memiliki kekasih. Awalnya aku kesal saat melihatmu bersama yeoja-yeoja lain, bermesraan, itu membuatku sakit hati melihatnya. Tapi ku biarkan begitu saja, Apa kau pernah tahu itu? pernahkah kau melihatku sebagai wanita bukan hanya sekedar teman wanitamu?” bentaku sambil menahan air mataku.

“Enghh… itu itu a-aku hany…”

“Ya aku tau kau akan berkata apa kepadaku, kau hanya ingin bilang bahwa kau menganggapku hanya sebatas teman ya kan?, Aku cukup sadar untuk itu.” tangisku pecah seketika itu juga, tak dapat kubendung lagi air mataku untuk tidak keluar dari mataku. Dia terdiam menatapku, kemudian saat ia akan mengusap air mataku, aku menepis kasar tangannya. “Himchan-ah, berhenti.. berhenti bersikap seperti ini padaku, itu hanya akan membuatku semakin mencintaimu… hiks…” kataku lagi lalu bangkit berdiri kemudian berlari meninggalkanya yang masih diam terpaku melihatku.

“Imjung-ah.. ya Imjung…” teriaknya dari ujung sana tak kupedulikan lagi, mencoba menulikan telingaku dari teriakannya memanggil namaku. Aku terus berlari sampai tak kudengar lagi suaranya memanggil diriku. Aku berhenti di sebuah pohon lalu merosot duduk di dekat pohon ini. Kulipat kakiku, lalumembenamkan kepalaku di dalam sana dan menangis dalam diam.

*****

Sejak kejadian hari itu hubungan mereka menjadi renggang, tidak pernah saling bertemu lagi satu sama lain. Baik Himchan maupun Imjung sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai suatu ketika Himchan duduk termenung sambil merenungi ucapan Imjung padanya saat itu.

“Ya aku tau kau akan berkata apa kepadaku, kau hanya ingin bilang bahwa kau menganggapku hanya sebatas teman kan, Aku cukup sadar untuk itu.”

Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang di otak Himchan. “Aish.. apa yang harus ku lakukan sekarang?” runtuk Himchan sambil mengacak-ngacak rambutnya.Terdiam sejenak,“Aku harus segera menjelaskan ini padanya.”Lanjutnya. Tampaknya Himchan telah menemukan jawaban setelah bedebat cukup lama dengan pikiranya. Kini Himchan segera melesat menuju ke tempat dimana Imjung berada, di rumahnya.

Himchan POV

“Aku harus segera menjelaskan ini padanya.”Tegasku, aku tahu sekarang bahwa rasa yang kumiliki padanya bukan hanya sebatas teman, lebih tepatnya aku menyukainya sangat menyukainya. Aku sadar diriku ini tidak bisa hidup tanpa dirinya, dirinya yang selalu memberi warna dalam hidupku, seyumannya yang indah dapat membuatku damai bersamanya. Entah dia akan memaafkan kebodohanku yang telat menyadarinya yang pasti aku ingin menjelaskan ini semua padanya.

Kini aku telah sampai depan pintu rumahnya yang berwarna coklat muda dengan sedikit warna emas di gagang pintunya. Ku beranikan diri memencet bel yang tak berada jauh dari pintu rumahnya.

Ting Tong….

Ting Tong….

Ting Tong…

Ku pencet bel itu berkali-kali namun hasilnya nihil, tampaknya tak ada orang di dalam. Tapi  Aku tidak akan menyerah begitu saja sampai ku beranikan untuk mengetuk pintu rumahnya.

Tok Tok…

“Imjungie, buka pintunya.. Imjung-ah, apa kau di dalam? Tolong buka pintunya..” pintaku.

Cklek….

Sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka, saat itu juga keluarlah seorang wanita paruh baya dengan seyumnya yang sama dengan seyuman Imjung.

Aku menundukan badanku sopan. “Anyeonghasiminika  Ahjumma, Apa Imjung ada di rumah?” tanyaku to the point.

“Anyeonghasiminika, eoh apa imjung tidak memberitahumu kalau hari ini dia pergi?” tanyanya bingung.

“Eh… Apa maksud ahjumma? Aku tidak mengerti? Memangnya dia pergi ke mana?” tanyaku penasaran.

“Dia pergi ke jepanguntuk melanjutkan studynya disana, baru saja tadi pagi dia berangkat. Kau tidak tahu itu?” tuturnya sukses mebuatku tecengang , lemas, apa pun lah itu.

“J-Jepang? Aku tidak tahu itu, kalau begitu aku permisi dulu ahjumma.”Pamitku dengan lemasnya, saat ingin meninggalkan rumahnya, tiba-tiba saja ahjumma memanggilku.Akupun menoleh kebelakang.

“Himchan-a, tadi sebelum Imjung meninggalkan korea, dia ada menitipkan barang ini ke Ahjumma. Katanya untuk tolong memberikan ini ke kamu. ambilah.”

“Ne, kamsahamnida.”Balasku lalu meninggalkan rumahnya.

****

Sekarang Himchan berakhir duduk di taman pinggiran kota yang jauh dari kebisingan lalu lintas. Himchan pun terus memandangi kotak kecil berwarna hitam kelam, sebut saja itu alat perekam suara. Himchan meronggohkan sakunya untuk mencari alat pendengar suara, setelah mendapatkannya lalu mencolok ke alat itu kemudian memasangkan alat pendengaran di telinganya dan memencet tombol play.

Annyeong Himchan oppa, hehehhe… ini kali pertamanya aku memanggilmu oppa, ya walaupun umur kita sama tapi bolehkan aku memanggilmu oppa untuk hari ini. Pertama-tama aku ingin mengucapkan ‘saengilchukhahaeyo Himchanie oppa’ kekeke.. hari ini tepat tahun ke 5 aku mengucapkanmu ulang tahun. Maaf, aku tidak bisa mengucapkannya lansung, jadi aku memberikan hadiahnya barang ini. Ya siapa tahu oppa meridukanku, aku juga tidak tahu apa oppa akan merindukanku sekarang. Mungkin saat oppa mendengar suaraku aku sudah tidak di korea lagi. Maaf sekali lagi untuk hal ini juga aku tidak memberitahumu akan kepergianku.Sebenarnya aku juga tidak mau pergi tapi, jika aku takut akan sulit melupakanmu bila aku masih berada di dekatmu, takut akan mencintaimu lebih dalam, takut akan segalanya bila dekat denganmu.

Apa oppa tahu kalau aku menyukaimu selama 5 tahun kita berteman? Ya pastinya kau tidak akan pernah tahu. Jujur saja mencintai orang secara diam-diam itu rasanya menyakitkan, harus melihatnya bersama dengan yeoja lain. Pokoknya intinya aku sedih. Terkadang aku senang kau memperlakukanku dengan manja, memelukku, merangkul, menemaniku saat tidur, dan juga… saat kau merebut ciuman pertamaku, rasanya manis seperti gula. Tapi saat aku sadar bahwa kau memeperlakukanku seperti ini hanya semata-mata sebagai seorang teman tak lebih, rasanya pahit bila harus menegtahui kenyataan itu. Hiksss… intinya aku mencintai orang yang sama sekali tak mencintaiku sebagai wanita…. gomawoyo, sudah memberikan warna dalam hidupku walaupun terkadang membuatku menangis bila mengingatkenaganku bersamamu, aku tetap menyukainya. Satu pesan buat oppa, jika kau bertemu dengan wanita lain, jangan memperlakukanya layaknya kau memperlakukanku, itu hanya akan membuatnya sedih,ingat pesanku! Satu lagi, maaf tidak menempati janji yang kuucapkan waktu itu. aku tidak bisa berada di sisimu selamanya, mianhae. Hehehe…. jaga dirimu.

when I saw there was a distance between us

I just realized that we can not be together forever

Me and you could just be friends

You are the best friend I’ve ever had in the world…..

‘Saranghaeyo Kim Himchan’

Himchan menutup mulut yang tak kuasa menahan rasa sakit yang begitu dalaam saat mengetahui kenyataan yang pahit ini. Ya penyesalan selalu datang terlambat bukan? Itu lah yang di rasakan himchan sekarang, ia meruntukki dirinya yang telat mengetahui dia mencintai imjung begitu dalam.

“Waeyo? Kenapa kau tega meninggalkanku? Bukannya kau pernah bilang tidak akan meninggalkanku sedirian..” ia pun mulai menaggis

Ingatan demi ingatan akan memori di masa lalu berputar begitu saja di otak Himchan. Dia memukul dadanya berkali. “Babo, kau sangat bodoh Kim Himchan, kau tak bisa menahanya dalam genggaman tanganmu.”Runtuknya yang sudah kesekian kalinya.

Tangisnya semakin lama semakin kencang sambil meremas baju di sebalah kiri dadanya. “Mianhae imjung-ah… mianhaeyo…. nado nado saranghaeyo Kim Imjung..” teriaknya.

Langit yang tadinya cerah kini memudar hingga menitikan setetes demi setetes air yan makin lama semakin deras tetesan air itu menjadi hujan yang cukup deras. Himchan yang masih berada di taman seolah tidak mengetahui tubuhnya yang sudah basah karena hujan. Hanya satu yang ia tahu yaitu terlambat mengetahuinya….

.

.

END

Mohon kritik dan sarannya, kamsahamnida ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s