Because It’s You (Saranghae) Part 5a

ul-300x192

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 5

Author: Keyindra_94

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

@*@*@*@*@*

If you love somebody, let them go, for if they return, they were always yours. And if they don’t, they never were (Jika kau mencintai seseorang, biarkanlah ia pergi; karena jika ia kembali, ia akan menjadi milikmu. Namun jika dia tidak kembali, ia tidak pernah jadi milikmu)

Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own –  (Cinta adalah suatu kondisi di mana kebahagiaan orang lain menjadi penting bagi kebahagiaanmu).

 Ost. Hyorin Sistar’s – Crazy Of You (The Master’s Sun Ost Part 3)

Infinite – Eomma  (4th single 2nd Album ‘Destiny’)

@*@*@*@*@*

 

“bagaimana hubunganmu dengan Choi Siwon apa mengalami peningkatan yang sangat drastis?. Kau sudah bisa mencintainya bukan?. Selain dia kaya dia juga tampan?. Jadi kapan kalian akan merencanakan pernikahan?.”

Rentetan pertanya tersebut mengalir begitu saja dari mulut seorang yeoja setengah baya yang kini tengah duduk dengan santai sambil memperhatikan seksama raut wajah sang putri.

Im Yoona.

Sementara Yoona hanya bisa menghela napas panjang  serta memasang wajah tak minat untuk menjawab pertanyaan tersebut. baginya pertanyaan tersebut sangatlah tak berguna. Untuk apa ia menjawab pertanyaan yang jelas-jelas ia tak butuh sama sekali untuk menjawabnya. Bukankah memang mereka berdua dekat hanya karena sebuah perjodohan yang mungkin saja menyiksa batin mereka sendiri, terutama batin Yoona yang harus tersiksa saat ia harus bisa melepaskan Kim Jongwoon demi perjodohan konyol yang bahkan lelaki bernama Choi Siwon pun mungkin tak menerimanya pula.

“apakah penting eomma menanyakan hal itu jika kami berdua tak ada rasa?.” Ketus Yoona tajam. Percuma saja ia berbicara dengan sang eomma, semuanya pasti akan berakhir dalam sebuah pertengkaran.

“Im Yoona!. Bisakah kau bersikap sopan dan santun pada ibu kandungmu sendiri?!.” Gertak sang ibu. Mendadak ia menjadi emosi seketika saat jawaban yang tak ia sangka keluar dari mulut Yoona.

“eomma hanya ingin yang terbaik untukmu Yoona!!. Kau tahu keluarga Choi Siwon adalah salah satu keluarga terpandang di Korea. Harabojie pun juga sama, ia hanya ingin yang terbaik untukmu. jika kau menikah dengan Choi Siwon dan menuruti apa permintaan harabeojie. Eomma pastikan jika sebentar lagi kau akan menjadi direktur utama diperusahaan ini!.”

“apa itu obsesi eomma?!.” Tanya Yoona meremehkan, ia sudah terlalu muak dengan semua ini. Jika bisa ia ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga.

“yoong!. Dengarkan eomma!. Kau adalah putri satu-satunya eomma. Eomma melakukan semua ini demi kebaikanmu. Sudah banyak yang eomma korbankan sejak lama untuk mencapai semua ini!. Jika kau bertanya apa itu obsesi eomma?!. Ya, itu memang obsesi eomma sejak lama. Eomma sudah lelah dengan semua ini. Apapun akan eomma lakukan demi semua keinginan eomma. Termasuk menjadikanmu sebagai ahli waris satu-satunya harabojie!. Dengarkan itu!.”

“lalu apa harus dengan mengorbankan hidup putrimu sendiri eomma!.” Bentak Yoona tak kalah keras. “aku mencintai Kim Jongwoon eomma. 6 tahun sejak pertemuanku di New York aku mencntainya sejak pertama kali bertemu dengannya hingga kini. Tapi kenapa eomma selalu memaksakan kehendak eomma!.”

“IM YOONA!.”

“kali ini eommalah yang harus mendengarkanku. Aku mencintai Kim Jongwoon entah eomma tahu atau tidak dan aku sama sekali tak mencintai Choi Siwon!. aku tak peduli tentang apa Jongwoon oppa mencintaiku atau tidak. Bagiku aku hanya mencintainya, dan aku akan menyingkirkan siapa saja yang mencoba menghalangi keinginannku untuk mendapatkan hati Kim Jongwoon!.”

“Im Yoona!. Kau jangan terobsesi pada cinta sepihakmu!. Eomma menyesal telah membawamu ke Amerika jika kau harus bertemu dan mencintai lelaki itu!.”

“waeyo eomma melarangku mencintai Jongwoon oppa. dia juga berasal dari keluarga terpandang?!. Apa ada yang kurang dari dirinya?!!.”

“Jika eomma punya obsesi aku pun juga punya obsesi. Jadi kita lihat obsesi siapa yang menang!.” Lanjut Yoona sebelum ia pergi meninggalkan sang ibu yang terdiam membatu.

“AARRGGHH.”

SREEKK…

Semua dokumen-dokumen yang kini berada diatas meja menjadi sasarannya, seakan  menjadi pelampiasan yeoja setengah baya itu. Pikirannya kembali kacau saat emosinya memuncak karena perlakuan putrinya tersebut. ia sudah melangkah sejauh ini dan menyingkirkan semua kerikil penghalang yang menghalanginya. Dan yang terpenting teruntuk Yoona. Ia tak mau kejadian 7 tahun silam karena obsesinya mencintai seseorang terulang kembali. ia sudah berhasil membuat Yoona menghilangan memory ingatan dari lelaki masa lalunya dan seorang anak yang pernah Yoona lahirkan. Dan sekarang Yoona kembali jatuh cinta pada seseorang dan terobsesi untuk mendapatkannya?. Tidak!. Ia tak akan membiarkan Yoona kembali jatuh kedalam lubang yang sama karena mencintai seseorang. Rencananya harus berhasil untuk mendapatkan semua aset milik sang ayah dan menjodohkan Yoona dengan putra dari keluarga Choi itu. Karena dengan menikahkah Yoona dengan keluarga Choi otomatis mempersempit Yoona untuk mengingat semua memory masa lalunya dan menghilangkan semuanya ingatannya yang pernah terjadi selamanya.

“Tidak!!. Kau tidak boleh menikah dengan Kim Jongwoon!.”

“ARRGHH!!..”  teriaknya sekali lagi dan..

TTAARRR….

*****

Sementara itu Yoona berjalan penuh dengan amarah menahan emosi yang ada didalam hatinya. Luapan emosi itu semakin ingin meledak saja saat kedua bola matanya tak sengaja menatap dan memandang penuh rasa ketidaksukaan atas gadis itu.

Kwon Yuri.

Wanita itu tak sengaja berpapasan dengan Im Yoona. Sebagai atasannya Yuri seharusnya menunduk hormat ataupun sekedar memberikan senyum bagi atasannya tersebut. namun itu, tak berlaku baginya. Baginya Yoona masih tetap saja Yoona yang seperti sampah yang kini masuk dalam kehidupan Yuri kembali. meskipun status sebagai direktur Eksekutif kini telah disandangnya, tapi bagi Yuri ia adalah wanita rendahan yang tega meninggalkan masa lalunya dan melupakannya begitu saja.

Ting..

Pintu Lift pun terbuka dengan percaya diri sekali Yuri melangkah angkuh didepan mata Yoona tanpa menghormatinya sama sekali. Namun sebelum tombol up ditekan pada lift tesebut ia melihat kaki Yoona menghentikan agar lift tersebut jangan tertutup secara otomatis terlebih dahulu.

Im Yoona. Wanita itu tiba-tiba masuk ke dalam Lift Eksekutif yang baru saja dimasukki oleh Yuri. “lift ini hanya boleh digunakan oleh Direktur-direktur disini!.” Tekannya. Sepertinya ia berusaha menyindir Yuri agar dengan sadarnya keluar dari Lift tersebut.

Lift karyawan penuh. Jadi aku gunakan saja Lift yang ada dan masih kosong.” Seulas senyum licik melengkung tipis pada bibir Yuri dan saat itu juga Yoona bisa merasakan jika wanita yang kini tengah berbasa-basi dengannya, punya maksud tersendiri.

Bagi Yoona sedikit demi sedikit jika ia bisa menyingkirkan wanita itu atau setidaknya wanita rendahan bernama Yuri itu bisa pergi dari kehidupan Jongwoon. Sudah cukup. Dan tentunya ia bisa menggantikannya untuk memiliki hati Jongwoon.

“apa yang anda pikirkan sajangnim?. Kenapa anda terlihat tenggelam dalam pikiran anda sendiri?.”terkesan licik dan sangat benci saat harus bertemu pandang dengan Yoona. Sepertinya tak pantas bagi Yuri untuk ikut campur dalam pemikiran yang dipikirkan oleh Yoona. Tapi melihat Yoona berwajah seperti itu, menjadi kesenangan tersendiri bagi Yuri. setidaknya Yuri bisa bermain-main dengan Yoona yang emosinya sedang tidak stabil?. Sia-sia jika ia melewatkan kesempatan ini.

“seberapa jauh hubunganmu dengan Kim Jongwoon?!!.” Ucap Yoona spontanitas. Ia tak mau bertele-tela dalam menanggapi gadis tak berguna seperti Yuri ini. sepertinya perang dingin antara mereka berdua sudah dimulai.Berbeda jauh dengan Yuri, sepertinya gadis itu menanggapi ucapan Yoona dengan nada meremehkan seakan menganggap angin lalu saja omongan atasnnya itu. Ia bahkan tidak takut dipecat ia justru malah ingin membuat Yoona sadar dari kesalahannya.

“aku tanya seberapa jauh hubunganmu denga Kim Jongwoon itu?!.” Gertak Yoona.

Merasa tak mendapat respon dari Yuri, ia menatap tajam Yuri yang terlihat meremehkannya. “Sejak kapan kau sangat peduli dengan kehidupan pribadiku?!!.”tanya Yuri balik seolah-olah Yoona adalah pengatur hidupnya. Yoona tak menjawab tapi sepertinya Yoona harus tahan dengan sifat Arogan dari Yuri dan masih harus mengorek kembali dengan pertanyaan sejauh mana hubungan Yuri dengan Jongwoon.

“Kau kan sudah melihatnya. Aku masih berusaha merayunya.”jawab Yuri ringan. “bukankah kau sahabat dari Kim Jongwoon, Kau mengenalnya dengan baik sehingga…kau jadi hilang kesabaran dan emosi.” Tebak Yuri. dan sepertinya kesabaran Yoona kali ini benar-benar diuji. Setiap Yoona menantangnya dengannya dengan berbagai pertanyaan Yuri selalu bisa membalikkan kata-kata Yoona. Karena ia telah mengenal orang seperti Yoona, apa yang harus ia takuti?.

“Kau pasti akan terluka. Kau akan terluka dan menangis, bodoh!.” Ancam Yoona sebelum kaki Yuri melangkah keluar dan membiarkan wanita itu frustasi sendiri.

*****

Suasana malam yang indah, bulan purnama pun sepertinya menghiasi seluruh kota dengan sinarnya. Tampak dua orang manusia masih berkutat dengan pekerjaan dapurnya, sesekali terdengar gelak tawa diantara keduanya. Kim Jongwoon baru saja selesai menghias sebuah kue Tart yang telah ia beli beberapa jam yang lalu, sementara Hana putri cantik Yuri masih berkutat dengan mangkuk besar yang butter cream untuk mereka hiaskan pada kue kejutan untuk Yuri. hanya kebahagiaan yang jelas terpancara dari mereka berdua.

Jongwoon mendadak terkikik geli saat ia tak sengaja melihat wajah polos Hana yang banyak tercoret oleh tepung gula yang ia campurkan untuk membuat butter cream. Hana yang tak mengerti pun hanya bisa memandang tak tahu Jongwoon yang aneh saat melihatnya.

“waeyo Jongwoon Samchon?.”

“aniyo. Hanya aja kau terlihat lucu dan menggemaskan sekali saat ada butter cream menghias hidung dan pipimu?.”

“mwo?.”

“hahaha…” Jongwoon semkin tertawa taakala Hana Justru mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Wajah Hana bukan bersih tetapi semakin belepotan saja.

“sini.” Perintah Jongwoon, ia menepuk pahanya pelan yang membuat Hana sejenak menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan mendekat dan duduk dipangkuan Jongwoon. lalu diangkatnya tubuh kecil Hana ke pangkuannya. Mendekatkan posisinya lebih dekat dengan Jongwoon.

Pertama kalinya Hana bisa merasakan sentuhan kasih sayang dari seorang laki-laki, ia bisa merasakan sentuhan kasih sayang seorang ayah terhadap putrinya. Tangan Jongwoon begitu hangat saat menyentuh dan membersihkan pipi Hana dari noda kue tersebut. selma ini belum pernah sekalipun Hana merasakan kasih sayang seorang ayah. gadis kecil itu sadar jika ayah yang ingin sekail ia lihat sudah menginggalkan dirinya sejak ia kecil tanpa sedikitpun Hana bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.

“nah, sudah bersih.” Ujar Jongwoon setelah selesai membersihkan noda diwajah Hana.

Hana mendesah kecil lalu menundukkan kepalanya. Ia bukan malu terhadap Jongwoon yang notabene adalah teman dekat bahkan bisa disebut kekasih dari sang eomma. Tapi ia ingin sekali merasakan mempunyai seorang ayah yang tulus menyayanginya. Meskipun impian itu masih sulit diimpikan tapi Hana masih tak pernah putus berdo’a. Meski Hana tak lagi memeiliki seorang ayah yang melindunginya, ia tak putus haraan karena secercah harapan timbul dalam benak dan pemikirannya jika ia masih memiliki seorang ibu yang pernah. Meski kecil harapan ia bisa bertemu dengannya.

“hey. Kenapa kau  cantik?.” Tanya Jongwoon pelan, ia megangkat wajah Hana yang tiba-tiba saja berubah. Senyumannya mendadak hilang digantikan dengan wajah sendu miliknya itu. Setetes air mata keluar dari mata Hana mengalir dipelupuknya yang membuat Jongwoon akhirnya terkaget seketika.

“astaga!.” Kau menangis. Apa kau merasakan kesakitan lagi?.” Rentetan pertanyaan Jongwoon itu berhasil mengangkat wajah Hana dan menatap dalam manik mata Jongwoon. Tersirat sebuat harapan kecil yang selama ini ia inginkan.

“animida..” ucap gadis itu lirih lalu menggeleng pelan.

“hey, Kau bisa bercerita pada Samchon.”

“aku hanya merindukan appa Hana.” Isaknya. “Yuri eomma pernah bercerita jika ayah Hana dipanggil ke surga saat Hana masih kecil. Dan Hana tak pernah sama sekali bisa merasakan rasa sayang Appa. Apa appa Hana benci pada Hana hingga ia meninggalkan Hana?.”

“kenapa kau berbicara seperti itu?. Bukankah kau masih punya Yuri eomma yang sangat menyayangimu?..” tanya Jongwoon sekali lagi.

“ne. Tapi aku bahkan tak mengenal sama sekali eomma yang melahirkan Hana. Hana bukan anak yang diharapkan didunia ini.”

Terenyuh. Satu kata yang bisa  diungkapkan oleh Jongwoon. Miris dan ironi memang disaat anak berusia seperti ini harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang seharusnya ia dapatkan. Ia kembali menatap wajah Hana penuh rasa sayang, mencoba berbagi rasa dengan Hana dengan menatap teduh matanya. “siapa yang bilang begitu hum?. Kau tahu meski samchon tak mengenal siapa kedua orang tua Hana tapi Samchon yakin jika kedua orang tua Hana saling mencintai dan tak pernah sekecil apapun mereka membencimu chagi. Untuk apa Hana hadir keduia ini jika mereka tak saling mencintai?. Hanya mereka menyayangi Hana dengan cara mereka tersendiri yang Hana bahkan tak mengetahuinya. Percayalah jika Hana dapat merasakan sentuhan kasih sayang mereka.”

“apa Hana masih mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan eomma Hana sendiri?.” Gadis kecil itu masih saja bertanya mengenai hal yang menyesakkan dada.

“masih. Ibu kandungmu pasti sangat merindukanmu. Percayalah. Jika mereka berdua menyayangimu. Mereka menyayangimu dengan cara mereka sendiri.” Ujar Jongwoon. Lelaki itu mendekap hangat sosok kecil Hana, mencoba menangkannya meski isakan kecil masih terdengar jelas ditelinga Jongwoon. Beban yang dipikulnya cukup berat, ditengah kehidupan anak-anak seusianya yang mendapat kasih sayang yang lebih dari orang tua mereka.

Sementara itu sosok wanita yang sedari tadi sudah tiba dirumah memandang pemanadangan itu pilu dan menyesaakan dada. Hati Yuri serasa tercabik saat mem-flashback   dan mengingat kembali apa yang telah dilakukan Yoona terhadap kakak lelakinya dan putri kandungnya sendiri. Dengan itu, tangisnya pun kembali pecah. Lebih keras, namun sebisa mungkin ia menutupinya agar tak terlihat hancur didepan Hana.

‘Im Yoona harus bertanggung jawab atas semua ini!!.’

Yuri menutup mulutnya agar tak bersuara saat emosi tengah beradu dengan tangisnya, amarah serta tangisnya tak menimbulkan suara. Ia ingin sekali meluapkan semua ganjalan pada Im Yoona dan tentunya Hana. “Ji-ka karena kau masih punya hati nurani setidaknya kau masih ingat dengat putri yang pernah kau lahirkan sendiri dan kau juga yang telah membuat hidup Donghae oppa hancur. Tindakan yang kau ambil ini salah besar Im Yoona dengan mencampakkan putri kandungmu sendiri. Jangan sam-pai kau mengulangi kes-alahan yang sa-ma lagi. Atau kau a-kan kembali menye-sal nantinya!.

Dan saat itu pula saat tangis Hana mereda ia bisa merasakan sentuhan kehangatan pelukan dari belakang. Hana bisa merasakan jika ada yang memeluknya, bukan Jongwoon melainkan seorang yang lain. Seorang itu menatap sendu Hana dengan senyuman hangatnya ia mengelus rambut Hana dan mencium puncak kepalanya. Meski tak terlihat lelaki itu selalu mengawasi Hana dan melihat perkembangan Hana. Sama hal-nya dengan Hana, meski ia tak dapat melihat tapi ia bisa merasakan.

Lee Donghae.

Meski lelaki itu telah tiada tapi jiwanya akan selalu ada bersama dengan putrinya dan ia masih ingin melihat tumbuh kembang putrinya dengan segenap kasih sayang yang dapat ia berikan meski terpisah alam yang berbeda.

“ayo kita siapkan kejutan ulang tahun untuk eommamu.” Jongwoon menyadarkan lamunan Hana dan beralih dengan menuntun langkah kecil Hana, mencoba menghiburnya agar gadis iti 4agar gadis itu bisa merasaku bisa melupakan kesedihannya.

*****

Hening dan sepi. Sebuah kalimat yang tergambar dari suasana sebuah lokasi pemakaman berbukit yang sepi hanya ada bau bunga musim semi yang berjatuhan disepanjang tanah makam yang sedikit kering. Mobil itu, mobil berwarna hitam pekat kini tepat berhenti disebuah area pemakaman yang berada disebuah bukit nan curam terletak dipinggiran kota Gyeonggi-Do. Choi Siwon, lelaki itu berdiri disamping pusara yang tertutup oleh bunga-bunga yang berjatuhan dan mengering. Mata sendu nan sayunya menatap sebuah pusara yang bertuliskan nama seseorang. Seorang sahabat lama yang sangat berjasa baginya, 10 tahun sudah ia tak bertemu dengan lelaki itu sejak kepergiannya meninggalkan korea untuk pindah ke USA.

Lee Donghae

Pusara bertuliskan nama tersebut.

“maafkan aku baru mengetahui semua ini. sungguh betapa bodohnya aku tak mengetahui hari kepergianmu untuk selamanya.” Siwon tertunduk lesu masih menatap nama pada pusara tersebut. hingga saat ini ia belum mengetahui apa penyebab dari kematian sahabat lamanya itu.

Sungguh menyakitkan memang 10 tahun berlalu tapi ia baru mengetahuinya. Bahkan jika bukan karena kunjungan pekerjaanya ke Gyeonggi-Do  dan kerjasamanya dengan salah satu mantan teman sekelasnya, ia tak akan pernah tahu jika Lee Donghae telah meninggal.

Sebelum Siwon beranjak dari pemakaman tersebut, ia merogoh saku celananya dan membaca sebuah alamat yang dituliskan oleh teman dekat mereka yang menjadi saksi hidup Donghae. Setidaknya ada seseorang yang memberikannya petunjuk tentang keberadaan keluarga Donghae. Ya, kelurga Donghae kini hanya tersisa seorang adik perempuannya yang harus Siwon temukan untuk mencari kejelasan tentang sebab-musahab kepergian Donghae 6 Tahun yang lalu.

Drrtt..drrtt..

Klik.

“ne, aku akan segera melaksanakan meeting dengan rumah sakit itu. Dan yayasan kami kemungkinan akan bekerjasama dengan mereka.” ucap Siwon mengakhiri penggilan dari seseorang diseberang sana dengan ponselnya.

“aku akan mencoba menemukan seseorang yang berarti dalam hidupmu sesuai amanat dari surat terakhir yang pernah kau kirimkan 6 tahun yang lalu saat aku masih berada di New York.” Lirih Siwon sebelum lelaki itu berjalan menjauhi area pemakaman tersebut dengan berbagai pertanyaan yang melintas diotaknya. Ia harap segera akan menemukan jawabannya.

**

Meeting antara kedua belah pihak akan dimulai dimana Yayasan sosial perlindunga anak-anak yang didirikan Siwon mencoba bekerja sama dengan salah satu Rumah sakit terbesar dan terkenal di Korea. Menaungi anak-anak terlantar dan mencoba memberikan harapan penyembuhan bagi anak-anak yang memiliki sedikit harapan untuk hidup.

Kim Youngmin selaku direktur utama pemilik rumah sakit tersebut sekaligus dokter kepala mengambil alih dan membuka kerjasama antar dua pemilik dan pengusaha besar tersebut. tampat terlihat wajah Siwon yang sangat cermat dan teliti membaca berkas-berkas file yang nantinya akan dibahas.

“akan aku perkenalkan siapa yag akan mengurus kerja sama rumah sakit ini dengan Yayasan Perlindungan Anak milih Tuan Choi Siwon.”

“Kim Jongwoon. Ia yang akan melakasanakan program tersebut.” ujarnya tegas sembari meoleh pada anak lelaki sulungnya itu. Sepertinya Jongwoon harus dilatih agar ia bisa menjadi penerus dari Rumah sakit yang kakeknya rintis puluhan tahun lalu mengingat kedua adik Jongwoon tak ada yang ingin menjadi dokter seperti dirinya dan memilih menggeluti bidang bisnis seperti sang ibu.

Mata dan telinga Siwon mendadak meangkap suara tersebut dan memandang lekat lelaki yang diperkenalka itu. Lelaki bernama Kim Jongwoon itu pernah ia kenal saat dirinya masih bertempat tinggal di New York dan menjadi saksi hubungannya dengan Tiffany, meski sebentar lelaki itu sangat berpengaruh pada keadaan Tiffany. Ia yang menyelamatkan hidup Tiffany dari penyakit yang diderita Tiffany meski hubungan Siwon dengan Tiffany harus kandas dan berakhir. Tak kalah dengan Jongwoon sepertinya lelaki itu tak asing dengan wajah Siwon.

Rapat berakhir sebagaimana mestinya, keputusan bahkan telah dibuat. Semua berjalan sesuai rencana. Dua orang tersebut kini masih terduduk diam dengan bebrapa file yang belum mereka bereskan diatas meja.

“kita bertemu kembali.” ucap Jongwoon yang membuka suara diantara keheningan ruangan tersebut.

Siwon tersenyum lantas menjabat tangan Jongwoon. “apa kabar Kim Jongwoon Uisanim?.”

“lama tak bertemu. Dan terimakasih Yayasan yang kau bangun mau bekerja sama dengan rumah sakit kami.”

“untuk merayakan kesuksesan kita. Mau main bowling bersama?.” Tawar Siwon.

“sepertinya tawaran itu menarik.”

*****

“bagaimana kabar New York?.”

Jongwoon melakukan frame dengan 2 kali lemparan. Ia mungkin sedikit ragu dalam melemparkan bola  berturut-turut dua kali dan bergantian dengan Siwon.  kemampuan mereka berdua pun hampir sama pula, tapi tentu saja lelaki bermarga Choi itu satu tingkat lebih tinggi diatas Jongwoon dalam hal ini.

“New York masih saja tetap New York, kota yang masih saja tak pernah sepi.” Lelaki itu mendesah pelan seraya mengkaitkan ketiga jarinya pada ujung bola bowling yang berlubang.

strike.” Seru Siwon. dalam sekali tembakan ia berhasil menjatuhkan semua pin yang berjumlah 10 yang masing-masing beratnya 3 kg.

“aku tak menyangka jika kita bisa bertemu kembali setelah setahun berlalu. Bagaimana keadaan Tiffany Hwang?. Mungkin terlalu berat menerima kenyataan jika orang yang sangat berarti untuk kita melupakan semua kenangan yang pernah dimiliki bersama seseorang.”

Siwon terdiam sejenak mengingat hubungan masa lalunya dengan Tiffany tak bisa dipertahankan kembali. kecelakaan maut yang menimpa mereka berdua membuat Siwon merasa bersalah seumur hidupnya. Tiffany Hwang tak bisa mengingat sama sekali kenangannya bersama dengan Siwon akibat benturan keras yang mengenai saraf-saraf otak penyimpan memorinya. Belum lagi setelah kecelakaan maut itu terjadi Tiffany saat itu juga diketahui menderita sebuah Tumor otak yang harus saat itu juga diangkat, namun ada konsekuensi tersendiri saat Siwon memutuskan dan menyetujui tumor itu diangkat, Tiffany akan kehilangan semua memori ingatannya dan bahkan memori ingatan tentang kebersaaman mereka.

spare.” Seru Jongwoon, kali ini ia berhasil menjatuhkan semua pin bowling pada tembakan kedua. Namun tanpa ia sadari Siwon sudah meninggalkannya terlebih dahulu. Lelaki itu duduk diam menatap meja yang ada di arena bowling tersebut lalu satu tangan yang lainnya membuka minuman kaleng yang baru saja dipegangnya.

Jongwoon yang menyadarinya pun segera menyusul lelaki itu dan menghentikan aktivitas bermain bowling-nya. sedetik kemudian lelaki itu sadar, mungkin saja ia tak sengaja menyinggung perasaan seorang Choi Siwon. waktu itu Siwon pernah menangis padanya agar menyelamatkan Tiffany denga segenap usahanya bahakan Siwon hingga berlutut padanya meminta agar Tiffany segera dioperasi meski ia harus menerima semua konsekuensinya, karena ia terlalu mencintai Tiffany.

“semua seperti apa yang pernah kau katakan. Kemungkinan Tiffany untuk mengingat masa lalu kami sangat kecil bahkan sama sekali ia tak bisa mengingatku.” Desah Siwon pelan, ia merasa harus ikhlas menerima semua ini. mungkin ini rencana Tuhan yang telah digariskan untuknya.

“aku minta maaf karena tak berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan kekasihmu.” Tak kalah dengan Siwon, Jongwoon pun menyesal perna menangani Tiffany dan membuat wanita itu kehilangan memorinya sama sekali.

“tidak. kau sudah berusaha semaksimal mungkin. Jika saja kau tak melakukan operasi mendadak waktu itu mungkin saja Tiffany sudah tak ada lagi didunia itu. Meski ia tak mengingatku sama sekali tapi aku snagat bersyukur ia masih bisa tersenyum hangat dan berbahagia dengan orang yang dicitainya kini.”

“maksudmu?.” Tanya Siwon tak mengerti.

“Tiffany menikah 4 bulan yang lalu di Las Vegas. Mungkin dengan melepasnya kami berdua bisa sama-sama bahagia.” Siwon tersenyum hambar, meski terkesan dipaksakan tapi lelaki itu sudah bisa menerima kenyataan jika Tiffany kini bukan miliknya lagi.

*****

Jongwoon dan Yuri. sejak menjalin hubungan mereka berdua jarang pernah bertemu bahakan setiap weekend pun mereka tak pernah bertemu hanya untuk sekedar bersama dalam menjalani hubungan atau lebih tepatnya kebersamaan dalam menjalin hubungan. Mereka sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

“jadi..apakah kau bisa memberiku solusi yang tepat bagiku?.” Tanya Jongwoon dengan wajah serius. Ia menatap teman dihadapannya kini dengan tatapan memelas agar ia diberi solusi untuk masalahnya kini.

“wae?. tumben sekali orang sepertimu butuh solusi?. Biasanya juga kau yang selalu memberikan solusi pada orang lain?.” Selidiknya.

Jongwoon akhirnya mau tak mau menghembuskan napas kesalnya. Beberapa hari ia frustasi dengan pemikirannya yang tak pernah berujung. Apakah ia harus melakukannya atau tidak. mau tak mau saraf yang mengatur mulut Jongwoon pun gerak dan melontarkan kata-kata yang akhirnya sendiri ia bocorkan.

“bagaimana tidak aku butuh solusi jika ini menyangkut kehidupan percintaan dan masa depanku?..” jujur Jongwoon pada akhirnya.

Yoona terhenyak seketika mendengar perkataan Jongwoon. Percintaan!!. Hubungan Percintaan Jongwoon?!!. Apakah ia sudah tahu jika gadis bernama Kwon Yuri yang ia cintai itu adalah gadis Brengsek yang tak tahu malu. Jika iya hubungannya dengan Kwon Yuri itu berakhir, tentunya ia akan sangat senang sekali. Setidaknya ia bisa mengisi kekosongan hati Jongwoon.

“memang ada apa antara kau dengan dia?.”

“aku ingin melamarnya Yoong. Menjadikannya bagian dari hidupku dengan menikahinya.” Ujar Jongwoon spontanitas yang membuat mau tak mau Yoona menjadi shock jantung seketika saat mendengar berita ini. ia hampir tersedak saat meminum cappucino dalam mug-nya.

“Mwoya?!. Aa-pa kau serius, bukankah kau baru 4 bulan yang lalu menjalin hubungan dengannya. Bbb-agaimana bisa kau mendadak melamarnya begitu saja?.”

“aku juga tak tahu. Tapi sepertinya gadis itu yang sudah mengisi kebahagiaanku. Kwon Yuri.”

“ajari aku bagaimana cara melamar.” Ucap Jongwoon pada akhirnya yang membuat Yoona saat itu juga diam membisu.

**

Penat dan frustasi yang berakhir pada emosi yang tak terkontrol, itulah kondisi yang tergambar dari Im Yoona. Belum ada 24 jam ia mendengar berita langsung dari mulut Jongwoon jika lelaki yang menjadi obsesi cintanya kini mengatakan jika ia akan menikahi gdis brengsek bernama Kwon Yuri itu, Yoona sealu saja terpancing emosi yang menggebu. Bagaimana tidak Jongwoon secara lantang mengumumkan rencana lamarannya terhadap Yuri.

Tttokk..tttookk…ttook..

Ketukan pintu seketika itu juga sukses membuyarkan Yoona dari lamunan yang tak pernah berujung jika kerkaitan dengan Jongwoon. Yoona mendesah lega lalu dengan malasnya ia mengizinkan siapa yang mengetuk pintu tadi dengan suara beratnya.

“masuklah!.”

Seketika itu mata Yoona dengan jelas melihat siapa orang yang mengetuk pintunya tadi. Choi Siwon kini tengah berdiri tegak dihadapannya dengan penuh pesona. Tapi sayangnya wanita itu dengan malas menenggelamkan kepalanya kembali, seolah tak mempedulikan lelaki itu.

“tumben sekali kau datang kesini?. Apa setan tua itu yang memintamu datang kemari?!.” tanya Yoona dengan wajah Acuhnya.

“setan tua?. Nuguya?.” Tanya Siwon yang tak mengerti.

“jika kau tak mengerti lebih baik jangan bertanya!.” Ketus Yoona.

“bukankah seharusnya kita pergi ke Busan untuk menghadiri peresmian kerjasama antara hotel kita?.”

“aku lupa!.” Jawab Yoona dengan tampang tak bersalahnya.

“coba kau cek deadline-mu minggu ini!. jika tidak maka akan banyak orang yang kecewa terhadap tender yang akan kita jatuhkan pada mereka karena merasa digantung oleh pemiliknya.”

“jika kau punya obat untuk mengusir frustasiku, maka aku akan ikut denganmu ke Busan!.” Wanita itu sepertinya enggan untuk pergi kemanapun. Alasannya singkat, ia sedang menenangkan diri untuk setidaknya memantapkan hati jika lelaki yang dicintainya kini sedang dalam proses melamar wanita yang menjadi musuh bebuyutannya kini.

“itukah yang kau mau?!.” Tawar Siwon. Ia mengernyitkan dahinya tanda mencoba mengerti dengan sifat wanita itu, meski wanita bernama Yoona itu gampang sekali labil jika terkena masalah.

Well. sepertinya Yoona harus menarik kembali kata-katanya. Karena pada kenyataannya ia memang harus pergi dengan Siwon, menahan egonya untuk bersama dengan lelaki itu. pergi bersama merupakan satu-satunya pilihan terakhirnya, mungkin saja lelaki itu bisa menjadi hiburan tersendiri baginya.

@Busan International Architectur Exhibition

Seperti yang ia duga semuanya terasa bosan. Yoona hanya seperti orang tak berguna dalam pameran miniatur beberapa gedung-gedung pencakar langit yang di-design oleh arsitektur-arsitektur Korea, termasuk Arsitektur non Korea yang tak kalah mengikuti pameran tersebut.

“bagaimana menurutmu?.” Tanya Siwon dengan mata yang tampak berbinar.

“bosan!. Semuanya membuatku bosan!.” Ujar Yoona acuh. Sepertinya ia tak punya sikap manis didepan lelaki itu, justru ia lebih suka memainkan jemari lentiknya dengan kuku yang sudah berkuteks rapi nan indah, seolah-olah mencampakkan lelaki itu.

“oh~ayolah. Bukankah kau juga punya bakat men-design meski bukan arsitektur. Setidaknya akan mempengaruhi design tiap ruangan hotel yang akan kita bangun.”

“tidak ada!.” Ketus Yoona sekali lagi.

Untuk sepersekian detik Siwon menghela napas panjangnya, membuangnya dengan dengusan kesal karena sedari tadi Yeoja yang diajak bicaranya kini hanya menjawab tak lebih dari 5 kalimat. Ia mencoba memutar otaknya kembali agar wanita itu tak bosan pergi bersamanya.

“kau mau melihat sebuah karyaku yang terinspirasi dari temanku, yang aku ikutkan pameran disini?.” Tawar Siwon.

“memang kau membuatnya?.” Selidik Yoona penuh tanya.

“tentu saja.” jawab Siwon dengan bangganya, lalu sedetik kemudian ia memgang pergelangan tangan Yoona dan menariknya.

“ya!.”

“kalau begitu ayo!.”

Siwon dengan percaya diri menarik tangan Yoona, menyeretnya sejenak hingga perempuan itu dengan jengkelnya menerima tarikan tangan darinya. Yoona mengumpat kesal dalam hati “Jika pria ini menunjukkan suatu hal tak berguna, ia bersumpah akan langsung membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Siwon.”

“ya!. Kau pikir aku ini anjing yang kau tarik-tarik seenaknya sendiri?!.” Pekiknya.

Entah mengapa saat melihat miniatur gedug didepannya Yoona sepertinya ia menyukai miniatur gedung tersebut. Yoona sepertinya pernah melihat miniatur gedung hotel yang indah itu. Ia melihat dengan jeli dan mengelilingi miniatur tersebut yang ada didalam kaca. Rasanya ada sesuatu dengan Miniatur gedung hotel tersebut.

“sudah kubilang jika kau pasti menyukainya?.” Tebak Siwon. seketika itu ia mengagetkan Yoona dari belakang.

“eh?…eeuuhhmmm..ini memang bagus. Tapi sepertinya aku pernah melihat miniatur ini?.”

“jinjayo?. Padahal selama sebulan penuh aku mengerjakan ini. aku yang membuatnya.” Kekehnya.

Siwon tersenyum jahil mengembangkan dibibirnya saat ia menyadari jika Yoona mulai tertarik dengan miniatur gedung didepannya. Ia tak menyangka jika dibalik sikap Yoona yang terlalu acuh terhadap sesuatu, ia mempunyai bakat mengagumi yang tak kalah juga dengan dirinya.

Yoona menatap intens Siwon yang terlalu berlebihan dalam ucapannya. Lelaki ini benar-benar percaya diri dengan ucapannya. Apa hanya dia saja yang bisa membuat rangkaian maket miniatur gedung hotel tersebut?. “kau terlalu percaya diri Tuan Choi!. Bahkan ada yang lebih bagus dari karya mu ini!. jangan terlalu percaya disi sekali!.”

Siwon terkekeh pelan menanggapi ucapan Yoona yang tergolong pedas dan menusuk telinga, namun justru ini yang membuatnya tertarik dengan Yoona. Ia ingin semakin menyelami kehidupan Yoona. “memang ini bukan karyaku sediri. Ini adalah karya dari mendiang teman baikku. Aku hanya bisa membuat replikanya saja.”

Cihh..seperti dugaan Yoona, seorang Choi Siwon yang kaya, dermawan, pemegang saham terbesar disalah satu perusahaan ternama di Korea dan seorang professor lulusan Stanford University, ternyata hanya meneruskan karya temannya saja. bukan karyanya. Benar-benar memalukan. “ lalu dimana temanmu itu?. Kenapa tak melanjutkannya saja?. apa dia sudah putus asa dengan karyanya, karena gagal mengikuti pameran internasional?!.”

Siwon mendesah pelan menundukkan kepalanya, lalu sedetik kemudian memaksakan senyumannya terhadap Yoona. “ia sudah meninggal 6 tahun yang lalu, bahkan aku tak pernah mengetahui hal itu. Aku baru mengetahuinya sebulan yng lalu, saat aku mengadakan kunjungan kerja ke Gyeong-gi Do dan teman satu reunian kami memberitahu jika dia itu telah tiada.”

Yoona membatin dalam, mengumpat dalam hati jika ia tengah salah menilai seseorang. Kenapa dengan percaya diri sekali ia menghina orang sedangkan ia belum tahu secara pasti siapa yang ia bicarakan itu. Demi Tuhan ia tak ingin berbicara seperti itu, jika akhirnya menyonggung seseorang. “aku minta maaf telah berbicara seperti itu.” Sesalnya.

“tak apa. Aku hanya ingin mengenang kenangan kami bersama aku bahkan terlalu sibuk dengan urusan study-ku dan tak tahu jika ia pernah menderita suatu penyakit dan akhirnya pergi meninggalkan kami semua. Sungguh aku bukan orang yang baik. Dia ada saat aku membutuhkannya, sedangkan aku?. Aku hanya seorang sahabat yang tak berguna. Bahkan saat ia sedang sekarat pun hingga tiada aku tak mengetahuinya sama sekali.”

Ternyata dibalik sikap Siwon yang super perfect, ia memiliki sifat kasih sayang yang tulus terhadap orang-orang disekitarnya. Ia salah menilai Siwon, jika lelaki itu bukanlah lelaki dingin dan pendiam.

“pasti lelaki itu sahabat terbaikmu?.” Tebak Yoona.

“Donghae..adalah sahabat baik yang pernah kumiliki.” Desahnya pelan, namun terkesan memaksakan senyumannya.

*****

Jongwoon berjalan santai menuju kesuah tempat yang menurutnya harus ia kunjungi. Mungkin ini merupakan suatu syarat utama yangharus ia lakukan agar rencana yang telah ia rancang berjalan lancar. Pemuda itu akhirnya memasuki kawasan yang cukup ramai terletak di Myeondong. Toko Bunga. Kali ini Jongwoon memasukki sebuah toko bunga.

Pemuda itu menggaruk kepalanya bingung. “Err, jadi begini … apa ada bunga yang cocok untuk diberikan  kepada seorang gadis?.” Tanyanya spontanitas.

“ada yang bisa kubantu Nak?. Sepertinya terlalu banyak bunga yang disukai oleh gadis-gadis.” Sang pemilik toko yang berusia sekitar 50-tahunan itu lantas tertawa kecil melihat Jongwoon terlalu bingung untuk memilih bunga. “gadis yang akan kau beri seperti apa?.”

“dia cantik, bukan tergolong tipe gadis pendiam, sederhana, selalu bersemangat.”

“hmm..bagaimana kalau Lily Putih?. Artinya suatu yang suci, kemurnian, dan juga kesopanan. Bunga ini indah dan menarik jika kita memberikanya pada kekasih tercinta, bahkan jika berniat melamarnya.

“Bisa kulihat dulu?”

Wanita paruh baya itu kemudian mengajak pemuda itu menuju barisan rak dimana bunga Lily Putih itu disimpan. Warna putih cantik, terlihat segar saat dilihat dan indah. Ia yakin gadis yang akan ia beri pasti menyukainya.

“baiklah. Aku ambil bunga itu sebuket. Tolong ikatkan agar buket bunga itu cantik!.”

**

Sebenarnya hari ini Yuri ingin berada dirumah saja. sungguh beberapa hari ini pekerjaan menyita semua waktunya untuk bersama dengan Hana. Dan satu lagi semua badannya terasa sangat pegal. Namun demi permintaan Jongwoon yang ingin bertemu dengannya ia rela menggerakkan kakinya menuju tempat yang telah ia sepakati dengan Jongwoon.

Yuri mengedarkan pandangannya. Ia  baru saja akan keluar rumah namun menyadari jika diuar sana tengah hujan. Yuri meraih sebuah payung lalu membawanya keluar rumah. Ia membuka payung tersebut dan berbalik untuk mengunci pintu. Setidaknya ajakan Jongwoon tak lagi membuatnya kesepian dirumah akibat ia ditinggal Hana yang sedang bersama Jung Kristal. Lalu diambilnya ponsel dan mengetikkan beberapa pesan pendek untuk Jongwoon

Aku baru saja keluar. Oppa mau mengajakku kemana? Kita bertemu di pertigaan ya. Jangan lupa bawa payung sendiri. Aku tidak mau berbagi denganmu.

Yuri tersenyum kecil sebelum menaruh handphone-nya ke saku celanya. Ia menangkat payung yang ia bawa untuk menaunginya dari hujan. Dalam hati Yuri bersyukur. Intensitas hujan sepertinya sudah mulai berkurang. Sekitar sejam yang lalu, hujan turun cukup lebat namun sekarang sudah berubah menjadi gerimis kecil.

Ketika sampai di pertigaan, Yuri dapat melihat sosok Jongwoon yang tinggi. Pria itu menyandarkan seluruh badannya ke dinding toko yang ada di sana. Yuri ketika tahu bahwa Jongwoon tidak membawa payung. Sepertinya ia harus berbagi payung lagi dengan kekasihnya.

“Hai. Yul. Sapa Jongwoon. Ia tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya untuk merangkul bahu Yuri.

“mana payungmu?!. Bukankah seharusnya kau membawa payung sendiri!.”

Jongwoon terkekeh pelan. “Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka berbagi payung denganku?.”

Yuri mendengus kesal. Bukannya ia tidak suka berbagi payung dengan kekasihnya sendiri. Hanya saja, berbagi payung dengan Jongwoon tu artinya membuat jarak antara ia dan pria itu semakin kecil. Dan itu artinya membuat jarak antara ia dan pria itu semakin kecil. Dan Yuri idak bisa menahan rasa gugup yang sering melanda dirinya ketika ia dekat-dekat dengan Jongwoon. Itulah mengapa ia mengajukan syarat jika Jongwoon ingin berbagi payung. Namun sayangnya kekasihnya itu acuh saja.

“Terserahlah,” gumam Yuri.

Jongwoon tersenyum kecil lalu menggeser badannya ke bawah naungan payung.

“sebenarnya kita mau kemana?.”

“pergi membeli eskrim.”

Alis Yuri terangkat sebelah. “Makan es krim? Di cuaca sedingin ini?”

“Iya. Oh, ayolah. Aku sedang ingin makan es krim…”

Yuri merapatkan jaketnya ketika angin mulai berhembus. Matanya menatap lurus ke arah Jongwoon yang sedang memesan es krim. Apa pemuda itu gila? Mengajaknya makan es krim saat cuaca seperti ini? Yuri yang melihat itu hanya mengkerutkan dahinya karena tiba-tiba saja Jongwoon tersenyum.

“hei tali sepatumu lepas.” Ucap Jongwoon menyadarkan Yuri dari lamunannya.

“Eh?” Reflek Yuri menunduk untuk melihat sepatunya. Dan benar saja, tali sepatu bagian kanannya sudah lepas. Yuri berjongkok untuk membetulkan ikatan tali sepatunya, tapi Jongwoon menarik tangannya lebih dahulu.

“Biar aku yang membetulkannya.”

Yuri kembali menegakkan badannya dan hanya menenonton kekasihnya yang berjongkok sedang memasangkan tali sepatunya. Sesaat kemudian, Jongwoon kembali bangkit dan tersenyum kearah Yuri.

“sudah bagus lagi.” Ucap Jongwoon.

Yuri membalas Jongwoon dengan Senyuman termanisnya. “Gomawo oppa.”

“ayo kita masuk.” Lelaki itu mengajak Yuri memasukki sebuah cafe kecil yang seperti ia bicarakan tadi. Perlahan langkah kaki Yuri mulai memasukki cafe tersebut, ia menggerutu kecil saat Jongwoon sudah meninggalkannya terlebih dahulu memesan tempat untuk memakan ice cream.

Baru beberapa langkah Yuri mearik pintu kaca untuk memasukki restaurant tersebut. ia tak sengaja menundukkan kepalanya menatap sepatunya yang kembali bagus karena telah diikatkan oleh Jongwoon. Tiba-tiba ia melihat sesuatu melingkar—atau lebih tepatnya terikat—di tali sepatu kanannya. Yuri mempertajam penglihatannya. Benda itu nampaknya seperti… cincin?.

Yuri pun berjongkok untuk melihat dengan lebih jelas benda itu. Dan benar sesuai dugaannya. Benda itu adalah sebuah cincin berwarna perak dengan mata berlian putih. Yuri melepaskan ikatan yang mengikat cincin itu. Ia berdiri lagi dan mengangkat benda itu ke udara—seolah untuk memperjelas wujud benda itu. Melepaskan ikatan yang mengikat cincin itu. Ia berdiri lagi dan mengangkat benda itu ke udara—seolah untuk memperjelas wujud benda itu. Yuri yakin seratus persen kalau tadi ia sama sekali tidak mengikat benda apapun di tali sepatu. Jadi siapa?.  Jangan-jangan Jongwoon yang melakukannya. Tapi untuk apa namja itu melakukan ini?. dan ia yakin pula jika cinin yang ia pegang tadi adalah cincin berlian. Pada akhirnya Yuri hanya memandangi cicncin ditangannya dengan tatapan heran.

“hei.” Suara bass Jongwoon menyadarkan Yuri. Ia menolehkan kepalanya dan melihat jika Jongwoon menghampirinya dan membawa dua buah mangkuk ice cream dan duduk didepan meja yang sudah ada kue pastri sebagai teman makanannya.

Yuri yang tersadar segera menghampiri pria itu dan duduk tepat didepannya. Satu tangannya masih menggengam bernda berbentuk lingkaran kecil tersebut. “oppa aku ingin bertanya.”

“ne. Silahkan saja.” Jongwoon melirik Yui dan tersenyum sekilas. “aku juga memesan pastry untukmu. “ayo dimakan!.”

“oppa. ini apa?.” Tanya Yuri tak mengerti yang kemudian memperlihatkan cincin tersebut  pada Jongwoon.

“Tentu saja itu cincin,” jawab Jongwoon ringan.

“Aku juga tahu itu! Maksudku, kenapa oppa mengikat cincin ini di tali sepatuku?.”

Jongwoon pura-pura berpikir keras. “memang kenapa ya?.”

“oppa!.” Yuri sudah tidak sabar dengan sikap Jongwoon yang berpura-pura. Ia meletakkan cincin tersebut tepat didepan Jongwoon.  Sepertinya ia sudah mulai kesal dengan sikap Jongwoon yang pura-pura tak tahu. Yuri kembali memotong pastry yang ada didepannya tanpa melihat Jongwoon sedikitpun daripada ia harus memakan ice cream seperti Jongwoon, giginya pasti akan merasa ngilu untuk sekejap.

Ketika Yuri memotong bagian tengah kue pastry miliknya tersebut melihat sesuatu benda tertimbun isi dari pastry tersebut. ia mengorek iso dari pastry tersebut dengan pisau dan garpunya sampai akhirnya ia melihat benda yang tertimbun itu.

Sebuah gulungan kertas?.

Yuri mengangkat gulungan kertas tersebut ke udara. Alisnya bertautan heran dan mulutnya sedikit menganga. Apakah ada isi dari sebuah pastry adalah gulungan kertas?. Seperti undian berhadiah saja. perlahan Yuri mulai membuka gulungan kertas tersebut dan mulai membacanya.

‘Would You Marry Me?.’

Tanpa sadar gadis itu membaca 4 kata ampuh tersebut dengan suara yang dapat didengar oleh Jongwoon. Ia mengalihkan pandangannya pada Jongwoon yang tersenyum aneh padanya. Berkali-kali mata Yuri berkedip tak mengerti dengan apa yang dimaksud dari semua ini, namun saat itu juga mata Yuri menangkap cincin yang berada disepatunya tadi terpasang manis pada jari manisnya.

Jongwoon tertawa geli melihat tingkah Yuri. “Baiklah. Sebenarnya, itu adalah cincin untuk melamarmu.” Ucap Jongwoon ringan  

“Mwoya?!!.” Sepertinya otak Yuri sedang mengalami slow loading. Otak Yuri membeku sesaat. Apa kata Jongwoon?. Cincin untuk melamar?.

“kk-kau tidak bercanda kan?.”

Rasanya ingin tertawa melihat ekspresi Yuri yang nampak seperti orang bodoh itu, tapi Jongwoon berusaha menahannya. Ia tahu, ini adalah sesuatu yang tidak patut untuk ditertawakan. “sesuai dengan isi dari kertas itu. Maukah kau menikah denganku?. Kwon Yuri?. Menjadi ibu dari anak-anakku kelak?. Dan aku serius ingin menikahimu.”

Meskipun Jongwoon sudah mengatakannya dengan cukup jelas, namun rupanya telinga Yuri memang sedang tidak mau berkompromi dengan otaknya. Ia masih saja melongok seperti orang bodoh.

“Kwon Yuri menikahlah denganku. Kita besarkan Hana bersama dengan anak-anak kita kelak. Menjadi orang tua bagi Hana.” Sekali lagi Jongwoon berucap untuk melamar gadis itu. Tapi kali ini pria itu sudah berjongkok didepan Yuri dengan sebuket bung Lily putih yang ia letakkan di atas pangkuan Yuri.

Yuri tersenyum malu. Perlahan tangan Yuri menggenggam tangan Jongwoon erat. “terima kasih. Jeongmal gomawoyo. Atas kepercayaanmu padaku untuk menjadi istrimu.”

“Apa itu artinya kau menerima lamaranku?.”

Yuri mengangguk pelan dan tersenyum malu mengambil buket bunga dipangkuannya. “apa kau yakin dengan keputusanmu?. Kita belum genap satu tahun menjalani hubungan.”

“tentu saja aku yakin!. Aku tak mau terlalu lama menjadikanmu kekasih. aku hanya ingin mengikatmu dalam suatu ikatan yang sakral dihadapan Tuhan, tentunya hidup denganmu selamanya.”

Seulas senyum tersungging dibibir Jongwoon. Ia mendekatkan badannya ke  Yuri lalu mencium bibir gadis itu sekilas tanpa peduli lirikan-lirikan cemburu di sekelilingnya.

“terima kasih karena telah memberikan cintamu padaku, Kwon Yuri.”

*****

Yuri mendesah lega sambil mengusap lembut penuh sayang rambut panjang Hana sebelum gadis kecil itu selesai dengan tugas sekolah yang telah diberikan gurunya beberapa hari yang lalu. sejak beberapa hari ini ia selalu saja tersenyum bahagia saat mengingat jika Jongwoon akan mengikatnya dalam suatu pertalian kasih yang resmi dan abadi. Sementara gadis kecil disebelah Yuri menatapnya dengan bingung dengan memainkan pensilnya.

Ia rasa sepertinya sang ibu sudah mulai sedikit tidak waras.

“eomma..” panggilnya pelan.

“ne. Waeyo?.”

“apa eomma membeli cincin baru?.” Selidik Hana, sedari tadi ia tak henti-hentinya melirik benda berkilau yang melingkar dijari telunjuknya. Dan  sepertinya Hana tipikal gadis kecil yang ingin tahu segala hal, mengingat ia sama sekali tak pernah melihat Yuri mengenakan perhiasan sama sekali.

“eeuuhh —waeyo?.” Jawab Yuri yang tampak diselimuti sedikit kegugupan dan keraguan untuk mengatakan jika ia telah dilamar Jongwoon untuk menjadi istrinya. Bagaimana reaksi Hana, apa Hana akan menerima Jongwoon.

“ini dari Jongwoon Samchon.” Ucap Yuri pada akhirnya. Ia terpaksa mengatakan sejujurnya, kalau tidak Hana pasti akan terlalu banyak bertanya dan tentunya Yuri pasti akan terpojokkan.

“mwo?. Jongwoon Samchon?. Apa Jongwoon samchon melamar eomma?.”

“mwoya?!!. Kenapa kau bisa tahu tentang hal itu?.” Pekik Yuri kaget. Kenapa anak sekecil itu mengetahui hal-hal semacam ini?. benar-benar.

“Soojung Imo pernah bilang padaku jika Minho Ahjussi memberikannya cincin agar bisa melamarnya.” Jawabnya polos.

“apa kau setuju jika eomma menikah dengan Jongwoon samchon?.” Tanya Yuri ragu-ragu. Ia takut jika Hana akan menolak lelaki itu saat Jongwoon ingin menikahinya.

“jinjayo eomma..Huwaaa…kenapa eomma tak bilang jika Jongwoon samchon akan menjadi appa Hana!.” Gadis kecil itu berteriak girang lalu sesaat kemudian menciumi pipi sang eomma berkali-kali, meluapkan semua kebahagiannya.

“sudah!. Lanjutkan kembali pekerjaanmu!.” Perintah Yuri. ia sedikit lega karena Hana tak keberatan sama sekali saat Jongwoon hadir dalam kehidupan gadis kecil itu.

“sudah selesai!.” Celoteh gadis kecil itu senang mengakhiri tulisan terakhirnya sebelum menutup buku pelajaran dan menyerahkan hasil pekerjaan rumahnya pada Yuri untuk dikoreksi.

Mata Yuri dengan cermat dan teliti memeriksa satu persatu pekerjaan rumah milik putrinya itu. Bola mata Yuri bergerak dari atas kebawah memastikan jika semua jawaban yang dijawabnya benar. “perfect.”ujarnya sambil mengerlingkan matanya gemas menatap Hana dengan wajah cantiknya.

“aku memang pintar!,”

“kajja ganti baju dan cepat tidur. Besok kau akan terlambat lagi kesekolah jika telat tidur diatas jam tidurmu. Sebelum itu cuci kaki dan tanganmu, serta ganti bajumu!. Arrachi..” Perintah Yuri sambil satu tangan yang lainnya mengusap penuh sayang kepala Hana.

“ne..ok.” jawab gadis itu ceria, kedua ibu jarinya mengacung tepat didepan wajah Yuri, tanda menyetujuinya. Lalu dengan cepat gadis kecil itu melangkah keluar dan memasukki kamarnya.

‘semoga Tuhan selalu menjaga dan melindunginya agar bisa tetap bisa melihatnya ceria. Karena senyumannya merupakan suatu anugerah terindah yang luar biasa’

**

Langkah pelan  kaki Yuri terhenti didepan sebuah kamar bernuansa anak-anak, ia memutar pelan knop pintu berwarna putih tersebut yang kini tepat berada didepan matanya. Ia menjulurkan kepalanya kecelah pintu yang telah terbuka, lalu tersenyum senang saat mendapati putri kecinya tengah bersiap-siap untuk bertemu dengan alam mimpinya.

“eomma.” Gadis kecil itu tersenyum lebar saat kedua matanya melihat sosok Yuri yang berjalan memasuki kamar dengan membawa segelas susu untuk dirinya.

“gomawo.” Ujar Hana berterima kasih. Sebelum ia meletakkan gelas setelah meminum susu hangatnya. “eomma.” Panggilnya kembali.

“ne.”

“bolehkah aku bertanya?.” Ucap Hana ragu. Ia berpikir sejenak sebelum berani melanjutkan perkataannya lagi. Sungguhnya ia takut jika bertanya seperti ini pada Yuri, karena ia tak mau membuat Yuri menangis kembali. Tapi seperti anak kecil seusianya merindukan kehangataan dan sentuhan kasih sayang sang ibu, meski sesungguhnya ia telah mendapatkannya dari Yuri. dan itu pun masih belum cukup, karena kasing sayang dari seorang ibu kandung adalah sebagian dari hidupnya.

“mwoya?.” Heran Yuri.

“tapi eomma harus janji padaku jika eomma harus menjawabnya dengan jujur.”

“tentu saja.”

“apa Hana masih mempunyai eomma?.” Tanyanya pelan.

“tentu saja. bukankah eomma selalu ada saat Hana butuh.” Ujar Yuri ringan.

Hana menggeleng lemah menundukkan kepalanya, lalu ia merangkak kecil mengambil sesuatu dari laci meja disamping tempat tidurnya. “aku merindukkan appa.” Lirihnya.

“ne, eomma mengerti.”

“aniyo eomma..apa Hana masih punya harapan untuk bertemu dengan Eomma. Sekali saja, Hana hanya ingin melihat wajah eomma. Jika pun Tuhan tak mengizinkan Hana untuk bertemu eomma setidaknya Hana ingin melihat foto eomma. Hana janji akan pergi setelah bertemu dengan eomma, walau tak mendapat pelukan kasih sayang seorang ibu Hana sudah cukup senang melihat wajah cantik eomma Hana.” Isaknya lirih, meski tak terkesan menangis namun Hana meneteskan air mata juga namun secepat kilat ia menghapus air matanya kembali agar tak terlihat Yuri jika ia menangis.

Hati Yuri mencelos seketika, ia tak tega dengan sikapnya seperti ini pada Hana. Sebenarnya ia juga tak mau menutupi semua keadaannya seperti ini. saat ini ia sedang bingung dengan keputusannya. Ia hanya takut jika Hana akan kecewa jika mempuyai ibu seperti itu. Sekian tahun meninggalkannya dan bahkan melupakannya. Apa ia ingat jika mempunyai seorang putri yang harus ia lindungi?. Janganan untuk melindungi, menjenguknya tak pernah sama sekali dilakukannya. “maafkan Hana eomma…eomma bukan bermaksud…”

Omongan Yuri terpotong seketika saat Hana menghentikannya tiba-tiba-tiba. Hana tahu bukan Yuri-lah yang patut dipersalahkan. Tidak ada yang salah baik Yuri, Appa Hana ataupun ibu kandung Hana. Semuanya sudah menjadi takdir, jikapun Hana ia tak dipertemukan dengan ibu kandungnya, Hana hanya ingin melihat dari jauh jika ia bisa melihat sang ibu bahagia. Sudah cukup, meski ia ingin sekali memeluk ibu kandungnya. “aniyo eomma tidak ada yang salah. Apakah Hana bukan anak yang diharapkan kehadirannya seperti anak yang lain?.”

Lontaran pertanyyan Hana membuat Yuri mau tak mau akhirnya menagis juga, hatinya serasa tertohok. Anak sekecil Hana berbicara seperti itu. Yuri  memejamkan kedua matanya. Menyesap aroma rambut puterinya dan memeluk hangat dari belakang dalam dekapannya. “Eomma, Hana pasti nakal ya. Sampai umma pergi meninggalkan Hana. Hehe..bahkan sekarang Hana sedang sakit, pasti eomma tak ingin memiliki anak yang berpenyakitan seperti Hana. Hehe..” lanjut Hana yang mencoba tertawa padahal airmatanya sudah membasahi boneka kesayangannya.

Cukup sudah. Pertahanan Yuri akhirnya roboh. Dia tidak perduli bila dia kini terlihat seperti gadis munafik yang memunafikki banyak orang. “Hana tak pernah nakal. Dan siapa bilang Hana sakit-sakitan, Hana hanya butuh seorang pendonor saja, lalu Hana pasti akan sembuh. Hanya waktu saja yang tak mengizinkan Hana untuk bersama dengan eomma Hana. Bersabarlah, Hana pasti akan bertemu dengan eomma Hana.”

Tanpa mereka sadari sedari tadi seseorang melihat mereka kembali. lelaki itu selalu datang saat sang putri merindukannya. Ia menangis, saat melihat adik perempuan satu-satunya itu dan putri kecilnya menangis pilu. Seseungguhnya ia mengerti benar perasaan keduanya, seandainya ia bisa mengelus sayang putri kecilnya, maka ia akan melakukan itu. Tpi tak bisa, bagaimanapun juga mereka telah berbeda dunia. Meski begitu ikatan batinnya tak pernah terputus dengan putrinya.

*****

Klikk…

Sambungan telepon dari seberang sana terputus begitu saja. sudah ia duga jika akan berakhir seperti ini. kim Jongwoon akhirnya melamar Kwon Yuri juga. Ingin sekali ia merobek mulut gadis itu saat gadis itu mengatakan “ya” untuk menerima lamaran Jongwoon.

Dentuman musik yang keras didalam club bahkan ia abaikan pikirannya terlelu pada Jongwoon. Lelaki itu sama saja dengan lelaki lain. Sama-sama berengsek. “apakah begini rasanya orang yang tak pernah diberi harapan akan cinta?.” Ujarnya.

“aku sudah minum semalaman, tetapi aku belum juga mabuk.” Racaunya, sebenarnya ia sudah mabuk namun ia tak peduli selama ia masih sadar dan masih bisa berpikir dengan dua orang brebgsek itu.

“apa kau baru berkelahi dengan kekasihmu itu?.” Seloroh bartender didepannya, ia kembali menuangkan soju dalam gelas Yoona kembali.

“kenapa kau tak mencoba meminta maaf saja kekasihmu itu dan mencari akar permasalahannya?.”

“yak!. Ahjussi. Mengapa kau selalu berpihak pada..huk..huk..huk..Kim Jongwoon dan Kwon Yuri brengsek itu?.”

“baiklah..aku mungkin yeoja bodoh yang selalu gagal mendapatkan cinta. Tapi..huk..huk..aku mau tambah lagi minumannya.” Racaunya semakin tak menentu. Emosinya tak terkontrol ditambah lagi dengan keadaannya yang mabuk seperti ini.

“apakah aku harus membuatkanmu minuman dengan campuran 50-50% agar bisa segera mabuk dan kau meninggakan tempat ini?.” tawar Bartender itu.

“anii..anii..”

“buat 70% suju dan 30%bir.”

“ne. Agaeseumnida.”

Belum sempat Yoona kembali meminum minumannya, ponselnya sudah berdering kembali, menandakan jika ada panggilan masuk yang tertera pada layar ponselnya. Oh. Jongwoon lagi, sepertinya ia ingin sekali melampiaskan amarahnya pada lelaki itu.

“ne.” Jawabnya asal.

“eoddiga?. Apa kau sedang berada di bar dan minum lagi?.” Selidik lelaki itu.

“untuk apa kau menelponku kembali?. ya, aku sedang minum karena frustasi, tapi hanya sedikit.” Kilahnya. “mengapa kau bertanya?. Apa kau akan membuatku merasa baik?.”

“minumlah dengan wajar. Dan sepertinya hanya bar yang bisa memberimu sebuah kenyamanan. Aku sudahi sekarang.”

“yeoboseo..yeob..so..” seketika itu Yoona meletakkan kasar ponselnya. Wanita itu kini benar-benar dirundung amarah yang menggebu dengan oranga yang bernama Jongwoon sekarang. Ia bersumpah tak akan pernah membiarkan lelaki itu lepas dari cengkeramnannya.

“ahjussi!!. Campurkan segala bir yang kau punya aku akan minum semuanya disini. Jangan khawatir aku akan membayarnya dengan lebih.” Ujarnya. Ia memutar kursi susuknya dan berteriak-teriak tak jelas layakanya orang mabuk. Hingga menaruh beberapa perhatian orang-orang terhadapnya.

“semuanya!!.” teriaknya sekali lagi.

**

“lihat kemari..”

Entah apalagi yang kini diperbuat Yoona, wanita itu menari-nari dan bersenandung tak jelas disepanjang jalan seperti orang gila.

“dan lihat kesana..”

“aku tak bisa mengerti…Kim Jongwoon orang sialan itu..hehehe..”

“yak!. Hei!. Jika kau mabuk, pulanglah ke rumah dan tidur!. Tolonglah.” Suara teriakan tersebut mengagetkan Yoona dari belakang. Sebenarnya ijuga tak tahu dari mana suara itu berasal, ia menegeok keatas pun suara itu hanya bisa terdengar tanpa bisa melihat orangnya secara langsung.

“itu suara datang darimana?.” Racaunya kembali masih dengan langkah terhuyung-huyung, ia bernyanyi tak jelas.

“apakah kau menyambungkan amplifier ke tenggorokanmu?!.” Teriak Yoona keras. “suaramu sangat keras!. Kau!.”

“wanita ini..benar-benar. Jika kau terus berisik, aku akan melaporkanmu ke polisi.” Ancamnya.

“lakukan..lakukanlah. aku dapat menumpang mobil polisi untuk pertama kalinya. Menyebalkan..”

BRUKK..

Saat itu juga Yoona terhuyung kedepan jatuh tersandung sebuah kerkil besardan lututnya bersentuhan dengan aspal jalan raya. Ia tak tahu mengapa, rasanya sangat sulut hanya untuk sekedar bangun. Mungkin akibat efek alkohol yang terlalu banyak diminumnya dalam sekali tempo.

“hikksss..hikss..huwaa…” tangisnya mulai mengeras. Bukan tangis ala anak kecil yang merasakan sakit saat terjatuh, namun skit karena perasaannya tersakiti oleh seseorang. Ya, saat ini Yoon sedang patah hati dan kecewa karena cinta.

“huwaa..Jongwoon sialan..hikkss.,..hikss. Kwon Yuri brengsek..apa kau tak melihat aku begitu mencintaimu lalau kenapa kau malah mencintai wanita brengsek itu Kim Jongwoon.” Teriaknya sekali lagi. Namun kali ini Yoona kurang beruntuk, tubuhnya lemas dan ambruk dijalan. Matanya terasa berat, ia ingin sekali memejamkan matanya,.

Dalam keadaan setengah sadar Yoona bisa merasakan jika ada seseorang disebelahnya tau malah mungkin didepannya. Dalam keadaan setengah sadar Yoona masih meracau pula sebelum manik matanya melihat orang yang kini didepan matanya. Ya, seseorang, lebih tepatnya seorang laki-laki yang kini mengulurkan tangannya untuk membantu Yooba berdiri. Tak salah lagi, lelaki itu dengan baik hati mengulurkan tangannya pada Yoona. Yoona tersenyum sekilas mendapati lelaki tampan itu berdiri didepannya, wajahnya yang rupawan dan bersinar menampakkan sisi kebaikan ang dimilikinya pula. Tapi ada yang lelaki yang memakai baju putih tersebut berbinar dan berseri. Bahkan tampak seperrti malaikat.

“”kau sepertinya kelelahan. Mari kubantu.”

Yoona tersenyum seketika sebelum pandangannya mengabur kembali dan semuanya terasa gelap untuk sesaat.

*****

—TBC–

Sebelumnya saya sangat meminta maaf sekali karena baru bisa publish ff dalam jarak yang lama banget dr part sebelumnya. aku sempet pending ini ff selama 2 bulan karena sakit selama puasa kemaren dan Ini dikarenakan Tablet yang sy gunakan bwt nulis sedang mengalami sedikit gangguan dan akhirnya harus masuk lg ke tokonya untuk diperbaiki..#ga penting *abaikan*..juga selain itu aku paling males kalo buka laptop bwt ngetik tulisan, ide ada tp ngadep laptop itu yang males, endingnya selalu nonton film..hehehe..

oh ya mungkin cerita ini ada sangkut sm hantu dan arwah hahaha..itu karena efek saya nonton master’s sun wkwkw..

okelah itu ekedar bacotan saya yang ga penting, komentarnya monggo..#kalo isa panjang..#nagih..hahaha..

aku mematok 40 komentar bwt lanjut ke part selanjutnya secepatnya. oh, ya mungkin untuk next kemungkinan besar akan aku PW untuk menghindari siders...dan juga tolong hargai author yang susah2 nulis dan berpikir keras bwt bikin cerita ini , jika memberikan komentar pada keseluruhan cerita termasuk cast-castnya, jangan cm cast yang kalian sukai saja bwt dicomment!!. terus fungsinya apa donk author ngelanjutin cerita ini jika komentar kalian begitu.

jika masih terjadi saya hentikan cerita sampai disini. terima kasih!!!..

sekian..thanks readers..

86 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 5a

  1. Hhuuuaa gak Tega sama Hana…se
    kecil itu cobaan hidupnya berat
    bangettt…Cuma pengen ketemu sama
    Eomma Dan appanya…chukhae Yuri
    dilamAr sama Jongwoon

  2. Aku sudah ketinggalan jauh ya kak, trakhr d part 4 q bacanya dan lanjut sekarang. Q msh kemutan ff u yang the 1 i lop. Kdang q msh bca.*curhat.
    Q netral og ka suka couple yoonwon n yeyul. Tp ya rada sebel ama yoona dsni. Tapi ini mbuktikan bhwa kakak ngbwt feel dsni smkn ky nyta*lebay ya aku.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s