[FF Freelance] The Bridge

The Bridge

Author : Endor Yochi

Title : The Bridge

Casts : |Park Jiyeon| |Bae Suzy| |Kim Myungsoo ‘L’| |Kim Jongin ‘Kai’|

Genre : Fantasy, Friendship

Rating : PG-15

Length : Oneshot

Disclaimer : As usual, ide cerita FF ringan ini asli berasal dari otak author yang insya Allah kaga terlalu pas-pasan amat, tanpa menjiplak dari siapapun. Para cast nya pun juga asli milik author terutama cast namjanya, wkwk *ditabokreadersnabokbalik* ^^v

Ya sudah silahkan langsung aja deh kalo gitu. Ini dia.. Soooo beast! Annyeonghaseyo, Beast imnida! *loh,kok? Wah ketauan beauty, wkwkjderr!* 😀

-Happy Reading-

Jiyeon POV

Aahh.. Udara pagi ini benar-benar sangat segar. Sambil merentangkan kedua tanganku aku berjalan menyusuri jalan setapak yang masih sepi itu. Yah, saat itu jam memang baru menunjukkan pukul lima pagi. Tapi aku sudah berada di luar untuk jogging. Aku senang sekali merasakan udara pagi yang menerpa tubuhku. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaanku sewaktu aku masih tinggal di Jepang dulu. Ya, aku memang baru saja pindah ke Korea, tepatnya di Busan. Orangtuaku sebenarnya tidak mengijinkanku pindah ke sini seorang diri. Tapi aku tetap bersikeras ingin pindah kesini karena ada beberapa hal yang ingin kulakukan di tempat kelahiranku ini. Namun karena di sini aku tidak memiliki saudara, aku memutuskan untuk ikut tinggal bersama Suzy, sahabat masa kecilku yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Dan senangnya, ternyata Suzy pun juga tinggal sendiri di rumahnya karena orangtuanya yang juga sedang ada bisnis di Seoul. Jadi keadaan ini benar-benar sangat menguntungkanku karena aku bisa lebih leluasa tinggal di sana tanpa merasa canggung pada keluarga Suzy. lagipula Suzy juga tidak merasa keberatan aku ikut tinggal dengannya. Justru dia malah antusias begitu aku bilang ingin tinggal di rumahnya. Wahh, yeoja itu memang sahabat terbaikku sejak dulu.

Beberapa menit yang lalu aku melihat dia masih tergolek manis di tempat tidurnya dan aku merasa kasihan kalau harus membangunkannya hanya untuk memintanya menemaniku jalan-jalan pagi ini. jadi aku memutuskan untuk pergi jogging sendiri saja. Saat ini aku sudah hampir melewati jembatan sungai yang mengalir cukup deras. Aku berlari kecil menghampiri jembatan itu dan berhenti sejenak. Sepertinya jembatan ini semakin tinggi. Ah, mungkin jembatan ini sudah dibangun kembali agar menjadi lebih tinggi. Aku teringat dulu waktu masih kecil aku sering sekali bermain ke tempat ini bersama Suzy. waktu itu jembatan ini masih rendah sehingga kami masih bisa menggapai air sungai yang mengalir di bawahnya. Kami sering bermain air sungai dan membasahi pakaian kami. Di saat aku sedang mengingat masa kecilku, tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit. Bersamaan dengan itu aku melihat beberapa bayangan memori melintas di kepalaku. Dan lagi-lagi aku melihat seorang anak laki-laki yang sedang bergelantung di sisi jembatan sungai berteriak minta tolong padaku. Ya, ini memang bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Entah kenapa setiap kali aku mengingat masa kecilku, aku selalu teringat hal itu pula. Anak laki-laki itu, siapa dia sebenarnya? Kenapa aku seperti mengenalnya? Tapi kenapa aku justru tak bisa mengingatnya?

Gwaenchanhayo?”

Suara itu terdengar samar seperti sebuah mimpi di telingaku. Tapi perlahan aku mulai sadar kalau aku sedang tidak bermimpi. Aku melihat seorang namja sudah berada di depanku sambil memegangi kedua bahuku. Namja itu tampak asing bagiku. Tapi kuakui kalau wajahnya sangat tampan. Aku tersadar dan dengan sedikit gugup aku pun bergegas menjauh darinya.

N-nugu?” kataku. Kulihat namja itu tersenyum.

Jeogi, aku hanya sekedar lewat tadi dan melihatmu tanpa sengaja di sini. Jeongmal gwaenchanha? Eodi appa?” tanyanya sambil mendekat dan menyentuh dahiku. Aku tertegun sejenak dibuatnya. Apa yang dilakukan namja ini? tapi entah kenapa aku merasa lebih baik saat tangan namja itu menyentuh dahiku.

“Kau tidak sedang mencoba bunuh diri kan?” tanya namja itu lagi membuatku terkejut mendengarnya. Buru-buru aku kembali menjauh darinya.

M-mwo? Kau pikir aku sudah gila? Tentu saja tidak. Aku.. aku hanya merasa pusing sedikit saja.” Kataku dengan sedikit gugup.

Keunde.. Apa katanya tadi? Bunuh diri? Tch.. Yang benar saja..

“Tapi kenapa kau berada di atas jembatan sambil melihat ke bawah? Seperti ingin bunuh diri saja.”

Aish.. Sudah kubilang tidak tapi dia masih saja berkeras kalau aku ingin bunuh diri. Mwoya?

“Kau yakin tidak ingin bunuh diri?” ulangnya sekali lagi.

Yaa!! Sudah kubilang aku hanya pusing sedikit saja. Aish.. Jinjja..” sahutku sedikit kesal.

“Oh, syukurlah. Aku jadi lega sekarang. Kupikir kau benar-benar ingin bunuh diri. Aku cemas sekali tadi.”

Aku mengerutkan kening mendengarnya. Namja yang aneh. Kenal saja tidak. Bagaimana ia bisa mencemaskanku seperti itu?

“Tidak perlu heran. Aku seperti ini karena dulu pernah ada yang bunuh diri di tempat ini.” katanya kemudian.

Mwo? J-jinjja?”

Ne, seorang yeoja bunuh diri di tempat ini karena merasa putus harapan dan merasa tidak punya semangat hidup lagi.”

Aku tertegun mendengarnya. Tidak kusangka rupanya tempat ini pernah menjadi tempat bunuh diri. Tapi tunggu dulu. Seseorang yang putus asa dan merasa tak punya semangat hidup? Yaa! Apa aku memang terlihat seperti itu sehingga namja itu menyangka kalau aku ingin bunuh diri? Tiba-tiba namja itu tertawa kecil.

“Jangan salah paham. Kau tidak tampak seperti yeoja yang sedang putus asa. Aku hanya sekedar berjaga-jaga saja tadi.” Katanya. Sekali lagi aku tertegun. Yaa!! Bagaimana namja ini bisa tahu yang kupikirkan?

“Semuanya terlihat jelas di wajahmu. Jadi aku bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan.”

Aish.. Lagi-lagi dia menjawab pertanyaan yang hanya terlintas di pikiranku.

Jeogi.. Kalau bukan untuk bunuh diri, sedang apa kau di sini?” sekali lagi namja itu melontarkan pertanyaan padaku. Tak kusangka dia lumayan cerewet juga. Aku kembali mendekati tepi jembatan dan menatap arus sungai yang mengalir deras di bawah. Namja itu mengikutiku dan melakukan tepat seperti yang kulakukan.

“Aku hanya sedang mencoba mengenang masa kecilku. Dulu aku sering sekali bermain di sini bersama sahabatku. Tapi entah kenapa tiba-tiba orangtuaku mengajakku pindah ke Jepang. Aku tidak bisa ingat. Orangtuaku hanya bilang kalau mereka ada pekerjaan di sana sehingga harus pindah.” Kataku.

“Lalu sekarang kalian kembali kesini lagi?”

Anni. Hanya aku saja yang kembali. Aku hanya merasa ada sesuatu yang harus kulakukan di sini. Jadi aku memutuskan untuk kembali.”

Mwonde? Sesuatu apa?”

Molla. Yang jelas aku merasa ada sesuatu yang belum kubereskan di sini.”

“Seperti bayar hutang?”

Yaa!! Aku tidak pernah meminjam uang pada siapapun, arra?”

Namja itu hanya tertawa melihat keseriusanku. Aku mendengus melihatnya. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang aneh saat kulihat namja itu.

Eum, jeogi.. Apa aku mengenalmu?” tanyaku kemudian.

“Apa kau merasa mengenalku?” ia malah balik bertanya.

Aku berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Itu artinya kau memang tidak mengenalku. Namaku L.” Katanya pula.

“L? Itu saja?””

Ne. Waeyo?”

“Ahh, anni.. Hanya merasa aneh saja mendengar ada nama seirit itu.”

Namja bernama L itu tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya padaku.

“Sebutkan namamu. Bukankah aku sudah menyebutkan namaku?” katanya pula. Aku tersenyum mendengarnya, lalu menyambut tangannya.

“Jiyeon. Park Jiyeon imnida.” Kataku.

“Oh, Park Jiyeon. Bangapta, Jiyeon.”

Ne, nado..”

Jiyeon POV end

Suzy POV

Perlahan-lahan aku membuka kedua kelopak mataku. Napasku memburu. Lagi-lagi aku mengalami mimpi yang sama. Ya, mimpi yang akhir-akhir ini selalu datang di tidurku. Aku menyipitkan kedua mataku karena cahaya matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela kamarku. Mwoya? Apa Jiyeon yang membuka gordennya? Ah, rupanya dia bangun lebih awal dariku. Padahal ini adalah pagi pertamanya berada di tempat ini. Aku menguap panjang sambil menggeliatkan badanku. Setelah itu aku bangun dari tempat tidur perlahan. Aku kembali mengingat mimpiku barusan. Aku bermimpi tentang masa kecilku bersama Jiyeon. Dan aku juga melihat seorang anak lelaki bersama kami sedang menangis di atas jembatan. Aku terdiam sejenak, teringat kembali kejadian 8 tahun yang lalu itu. Andwae! Aku tidak boleh mengingatnya. Tidak boleh! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan keras. Namun samar-samar tiba-tiba saja aku mendengar suara langkah kaki mendekati kamarku. Aku menahan napas. Dadaku berdebar tak beraturan. Sesaat kemudian pintu kamarku perlahan terbuka dan seseorang muncul dari sana.

“Oh, Suzy. kau sudah bangun?”

Fiuuhh.. Aku menarik napas lega begitu aku melihat Jiyeon.

Yaa! Wae geurae? Kenapa kau terlihat seperti cemas begitu?” tanya Jiyeon lagi sambil berjalan menghampiriku.

“Ahh, anni. Aku memang suka parno sendiri akhir-akhir ini.” kataku.

Mwo? Wae? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

Molla. Hanya saja, aku sering mengalami kejadian aneh.”

“M-mwonde?”

“Aku sering merasa ada orang lain berada di rumah ini.”

Mwo? Orang lain?”

Ne. Seperti yang terjadi beberapa malam yang lalu. Tiba-tiba saja pintu depan terbuka sendiri padahal aku yakin sudah menguncinya rapat-rapat sebelumnya. Selain itu kejadian saat di kamar mandi. Aku seperti mendengar seseorang sedang menggunakan shower tapi sewaktu aku masuk, kamar mandi kosong dan shower pun juga tidak menyala.”

Y-yaa!! Jangan menakutiku begitu. Kau kan tahu sendiri ini adalah hari pertama aku di rumahmu..”

Anni.. Aku tidak menakutimu. Aku hanya memberitahukan apa yang sebenarnya saja. Lagipula aku senang sekali kau ada di sini, jadi aku sekarang tidak sendirian lagi.”

Kulihat Jiyeon terdiam sambil menggigiti ujung kuku jari tangannya. Sepertinya ia merasa ketakutan karena ceritaku barusan. Ah, aku jadi sedikit menyesal melihatnya.

“Ah, dwasseo. Kau darimana tadi? tidak kusangka kau bisa bangun lebih awal dariku.” Kataku kemudian mencoba mencairkan suasana.

“Ah matta. Tadi aku baru saja dari jembatan tempat kita bermain dulu.” Katanya dengan setengah melompat di depanku membuatku sedikit tersentak dibuatnya. Ah yeoja ini sudah kembali lagi seperti semula. Tapi apa katanya tadi? jembatan?

“G-Geurae? kenapa kau tidak membangunkanku? Aku kan bisa menemanimu?” kataku pula.

“Aku tidak tega membangunkan seorang putri yang sedang tidur pulas. Jadi aku pergi sendiri. Lagipula tadi sudah ada seorang namja yang menemaniku.”

Namja? Nugu?”

“Eum.. Dia bilang namanya L. Kau mengenalnya?”

“L? baru kali ini aku mendengar nama sependek itu.”

Mollayo?”

Molla. Ah, mungkin dia bukan orang sini.”

“Tidak mungkin. Dia bahkan tahu kalau dulu pernah ada seorang yeoja yang bunuh diri di jembatan itu. Bukankah itu artinya dia memang sudah lama tinggal di sini?”

Mwo? Bunuh diri? Di jembatan?”

Yaa!! Apa kau mau bilang kau bahkan tidak tahu kejadian itu?”

“Uhm, geuge.. Eottokhe arrachi? Aku benar-benar tidak tahu hal itu.”

Mwo? jinjja?”

Ne. Keunde, bagaimana dia bisa tahu ada kejadian seperti itu? aku bahkan yang tinggal di sini saja sama sekali tidak mengetahuinya.”

Jiyeon tak menjawab. Ia seperti sedang berpikir. Aku pun sama halnya dengannya. Seorang yeoja bunuh diri di jembatan? Nugu? Kapan itu terjadi? Bagaimana aku bisa tidak tahu? Apa mungkin namja itu hanya membohongi Jiyeon saja? L? Siapa dia?

Suzy POV end

Author POV

Dua orang yeoja berseragam sudah terlihat duduk manis dalam bus. Keduanya tampak ceria sambil sesekali tertawa dan saling memukul. Mereka seolah tak menghiraukan orang-orang di sekitar yang sejak tadi melihat mereka dengan tatapan merasa terganggu atas kebisingan yang mereka ciptakan itu.

Yaa!! Bukankah itu toko ramen milik Ahjussi yang sering kita kunjungi dulu? Wah, sekarang sudah menjadi sebesar itu? Daebak!” kata Jiyeon dengan menunjukkan ekspresi kagumnya.

Geurae. sejak kau pindah 8 tahun yang lalu toko itu sempat berhenti karena ada musibah yang menimpa keluarga Ahjussi. Tapi setelah beberapa bulan kemudian tokonya berjalan lagi dan menjadi sesukses sekarang.” Sahut Suzy menjelaskan.

Mwo? musibah? Musibah apa?”

Nado molla. Setahuku Ahjumma istri Ahjussi itu menghilang dari rumah bersama anaknya. Tidak ada yang tahu kejadiannya. Setiap kali ada yang bertanya tentang hal itu ahjussi tidak pernah mau menjawab.”

“Oh, Sō ka..”

“Ah, sebentar lagi kita sampai. Selamat datang di sekolah barumu, Jiyeon.”

“Waahh.. Arigatōu ne..”

Suzy hanya mengangguk sambil tertawa mendengarnya. Jiyeon memang baru pindah dari Jepang jadi ia maklum setiap kali yeoja itu bicara bahasa Jepang.

Kajja, kutunjukkan kelas kita.” Ajak Suzy begitu mereka sampai di sekolah. jiyeon hanya mengangguk dan mengikuti langkah Suzy. Namun di tengah perjalanan, tanpa sengaja seorang siswa menabrak Jiyeon.

“Oh, jeoseongeyo.. Gwaenchanha?” tanya Jiyeon khawatir.

Siswa yang menabraknya itu terdiam sejenak dan hanya memperhatikan Jiyeon membuat yeoja itu keheranan ditatap seperti itu.

“Kai. Neon gwaenchanha?” tanya Suzy pula.

Siswa bernama Kai itu sedikit tersentak dan mengangguk. Setelah itu ia berlalu tanpa mengucap sepatah kata pun. Jiyeon jadi heran dibuatnya.

Yaa, kenapa dia? Sepertinya dia membenciku. Apa karena tabrakan tadi? Tapi bukankah dia yang menabrakku? Bahkan seharusnya dia yang meminta maaf padaku.” Kata Jiyeon sambil melanjutkan langkahnya.

“Dia Kai, hoobae kita. Dia memang seperti itu. Tapi dia namja yang baik. Walaupun seorang hoobae, tapi banyak teman-teman kita yang menyukainya. Mungkin karena wajahnya yang tampan dan kebaikannya itu.”

Jinjja? Wah.. Apa mungkin kau sendiri juga menyukainya?”

“M-mwo? Yaa!! Jangan konyol! Mana mungkin itu terjadi? Aish dwasseo! Kajja!”

Yaa!! Aku tahu kau pasti juga menyukainya kan? Aigoo.. Suzy, jangan begitu. Bagaimana kalau dia buatku saja. Sepertinya aku juga menyukainya. Eotte?”

Tapi Suzy tak mempedulikannya dan hanya berjalan saja mendahului Jiyeon. Sementara Jiyeon terus membuntutinya kemanapun ia melangkah.

Saat pelajaran pertama berlangsung, Jiyeon tampak gelisah. Ia sudah mengegeser-geser posisi duduknya sejak tadi. sebenarnya ia ingin minta ijin ke belakang tapi ia masih belum ada keberanian untuk bicara pada seonsaengnim. Suzy yang kebetulan duduk di sebelahnya itu jadi sedikit terganggu.

Yaa, mwohaeyo?” bisiknya.

“Aku kebelet, sudah tidak tahan lagi.” Balas Jiyeon.

“Ck.. Geureom cepatlah minta ijin ke belakang.”

“Apa tidak apa-apa?”

Aigoo.. Neo jinjja. Ppalli!”

Jiyeon tersentak akibat bentakan pelan dari Suzy itu hingga tanpa sadar ia berdiri dari kursinya. Semua mata pun serempak memandang ke arahnya.

“Park Jiyeon? wae geurae?” tanya seonsaengnim.

“Uhm, jeogi, seonsaengnim. Saya.. mau minta ijin ke belakang sebentar, apa boleh?” tanya Jiyeon ragu-ragu. Suzy hanya menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya dengan membatin, “Aigoo.. Ada apa dengannya? Tentu saja boleh, pabo..”

“Oh, geurae. kembalilah dalam waktu lima menit.”

“Ah, arigat~ uhm maksud saya, kamsahamnida, sensei~uhm, seonsaengnim.”

Tanpa menunggu jawaban dari seonsaengnim, Jiyeon bergegas keluar dari kelas dan segera berlari. Tapi di perjalanan ia justru kebingungan sendiri.

Aigoo.. Dimana kamar kecilnya? Ck.. Habis sudah riwayatku. Beginilah susahnya jadi murid baru. Eottokhe? Yaa! Toilet! Neon eodiya?” desis Jiyeon sambil berjalan kesana kemari tak tentu arah. Di sepanjang koridor benar-benar sepi karena semua murid berada di dalam kelas.

Mwohaeyo?”

Jiyeon menoleh mendengar teguran itu. ia terkejut sekaligus senang ketika melihat siapa yang menegurnya.

“L? Yaa, kau sekolah di sini juga? Aigoo.. Belum pernah aku merasa sesenang ini melihat ada orang lain datang. Yaa, kau tahu di mana toilet kan? Juseyo beritahu aku di mana. Aku benar-benar tak tahan lagi.”

L tersenyum geli melihat ketidaksabaran Jiyeon.

“Kau baru kan di sini? Kajja, kutunjukkan padamu.” Katanya kemudian. Jiyeon pun berjalan mengikutinya.

“L, tak bisakah kita berlari? Aku benar-benar tak kuat lagi.” Seru Jiyeon panik.

“Toilet berada di ujung koridor, kau bisa lari ke sana sekarang.” Kata L.

Jinjja? Geurae, aku pergi sekarang.” kata Jiyeon yang sejurus kemudian langsung melesat meninggalkan L.

Beberapa saat kemudian Jiyeon keluar dari toilet. Ia menoleh kesana kemari mencari L tapi tak melihat namja itu dimanapun.

“Apa dia sudah masuk kelas? Ah, aku bahkan belum berterima kasih padanya.” Gumamnya sambil melangkahkan kakinya.

Sunbae~nim.”

Jiyeon menoleh mendengarnya. ia melihat seorang siswa berjalan mendekatinya.

“Oh, kau?” Jiyeon terkejut karena ia tahu siswa itu adalah Kai yang baru saja bertabrakan dengannya pagi tadi.

Mianhae tadi aku sudah menabrak sunbae tanpa bilang apa-apa.” Kata Kai.

“Oh.. Geugae.. Gwaenchanhayo..”

Kai hanya tersenyum. Jiyeon tertegun melihatnya. Sepertinya Suzy benar. Namja ini memang tampan. Tapi ada hal lain yang mengganggu pikiran Jiyeon, tapi ia tak bisa mengerti apa itu.

Sunbae sedang apa di sini?” tanya Kai lagi.

“Jangan panggil aku sunbae. Namaku Jiyeon.”

“Oh, Jiyeon.. Noona?”

Jiyeon kembali tertegun sejenak. Noona? Entah kenapa hatinya mendadak berdesir saat Kai memanggilnya dengan sebutan Noona.

“Uhm, Kai? Namamu Kai, kan?” tanyanya kemudian.

Ne, Noona pasti sudah mendengar namaku dari Suzy sunbae.”

Geurae.”

Noona belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa Jiyeon Noona di sini?”

“Ah, aku baru saja dari toilet..”

“Toilet?” Kai mengerutkan kening pertanda heran mendengar jawaban Jiyeon.

Ne, waeyo?”

Keunde.. Bukankah toilet ada di lantai atas? Apa.. Noona menggunakan toilet yang sudah rusak di ujung koridor sana?”

“M-mwo? Rusak?”

Ne. toilet yang berada di ujung koridor itu rusak dan sudah tidak dipakai lagi selama 2 tahun terakhir.”

Jiyeon tak menjawab. Ia benar-benar bingung. “Rusak? Tapi bukankah..”

“Ah, matta. Noona, aku harus kembali ke kelas karena hanya diberi waktu 8 menit oleh seonsaengnim. Annyeong, Jiyeon noona.”

Jiyeon hanya mengangguk saja dan membiarkan Kai berjalan meninggalkannya. Dalam hati ia bertanya-tanya. “Toilet rusak? Mana mungkin? Aku bahkan baru saja memakainya dan tidak ada kerusakan apa-apa. Dan kalaupun memang rusak, tidak mungkin L memberitahuku toilet yang itu. Haish, molla, molla!” Pikirnya. Tiba-tiba saja ia tersentak.

Ohmo! Aku terlambat masuk!” serunya panik lalu bergegas lari kembali menuju kelasnya.

Author POV end

Suzy POV

Bel tanda istirahat terdengar berbunyi. Kulihat Jiyeon menelungkupkan kepalanya di atas meja.

“Huahh.. Aku lelah sekali. Yaa, kenapa bel pulang lama sekali? Aku sudah tidak sabar ingin segera beristirahat di rumah.” keluhnya sambil memejamkan kedua matanya.

Aku tersenyum geli melihatnya. Pasti ia masih lelah karena perjalanan dari Jepang ke Korea kemarin.

“Kau bisa beristirahat di UKS kalau kau mau.” Kataku.

Jinjja? Ah, keunde.. Pasti di sana sepi. Aku tidak suka sendirian. Apalagi aku baru saja mengalami kejadian aneh tadi.”

“Kejadian aneh? Mwonde?”

“Ah, sebelumnya ada yang ingin kukatakan padamu. Rupanya L sekolah di sini juga. Neon mollayo?”

Mwo? L namja yang kau ceritakan tadi pagi?”

Geurae. tadi aku bertemu dengannya sewaktu di toilet. Ah, matta. Suzy, apa benar toilet yang di ujung koridor itu rusak?”

“Eum.. Ne, toilet itu sudah rusak dan tidak pernah dipakai selama 2 tahun. Waeyo?”

Ohmo, jadi benar toilet itu rusak? Yaa!! Eottokhe? Padahal baru saja aku memakainya dan tidak ada kerusakan apapun.”

Yaa! Jangan bercanda.”

Anniya.. Aku tidak bercanda. kalau kau tidak percaya, kajja kita periksa sekarang.”

Sesampainya di toilet..

Yaa, tapi tadi aku memakainya dan tidak ada kerusakan apa-apa. Tapi sekarang, bagaimana bisa..” Jiyeon tampak kebingungan sambil menggigiti kuku jari tangannya. Aku menghela napas melihatnya.

“Jiyeon, kau pasti masih lelah makanya kau berhalusinasi. Bukankah kau lihat sendiri bahkan pintunya saja digembok rapat begini mana mungkin kau bisa memakainya di dalam?” kataku. Kulihat ia masih tertegun seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perlahan kutepuk bahunya.

Kajja, kuantar ke UKS. Kau bisa beristirahat di sana. Geogjongma, di sana ada Choi seonsaengnim.” Kataku pula. Jiyeon hanya mengangguk dan mengikutiku menuju UKS. Dalam hati sebenarnya aku sedikit heran dengan sikap Jiyeon. sejauh aku mengenalnya, ia tidak pernah seaneh ini. Bagaimana bisa ia mengatakan kalau baru saja ia memakai toilet yang bahkan jelas-jelas pintunya saja tidak bisa dibuka. Apa memang dia benar-benar sangat kelelahan hingga berhalusinasi sejauh itu? Semenit kemudian kami sampai di UKS. Tapi di sana aku tidak melihat siapapun termasuk Choi seonsaengnim.

“Kenapa sepi? Apa Choi seonsaengnim tidak masuk hari ini?” kataku. Kulihat Jiyeon sudah membaringkan dirinya di atas tempat pembaringan UKS. Aku tersenyum melihatnya.

Yaa, aku akan keluar sebentar mencari Choi seonsaengnim. Kau berani sendirian di sini?” tanyaku kemudian.

Ne tapi jangan lama-lama. Kalau kau tidak segera kembali, aku akan membunuhmu.” Kata Jiyeon. Aku tertawa mendengarnya.

Geurae, berbuatlah sesukamu. Na galgae.” Aku pun keluar dari UKS dan menutup pintu UKS dari luar. Setelah itu aku beranjak menuju ruang guru untuk mencari Choi seonsaengnim.

Suzy POV end

Jiyeon POV

Suzy meninggalkanku seorang diri di ruang UKS. Sebenarnya aku agak takut ditinggal sendiri begitu. Apalagi setelah kualami kejadian aneh perihal toilet tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar merasa lelah sekali hari ini tidak tahu kenapa. Padahal tadi pagi aku masih merasa segar bugar. Mungkin memang aku kurang beristirahat saja. Ruang UKS ini benar-benar sepi. Apa para penghuni di sekolah ini sehat-sehat semua? Bahkan tidak ada satu pun yang berada di UKS. Hah, kenapa Suzy lama sekali? Kemana perginya yeoja itu? Aku benar-benar harap-harap cemas menantinya. Namun sebentar kemudian tiba-tiba saja aku melihat gagang pintu UKS bergerak. Yosh! Itu dia. Sesaat kemudian pintu pun terbuka, namun aku terkejut karena yang masuk bukanlah Suzy melainkan orang lain.

“Oh, kau.. L?” kataku.

Ya, siswa yang baru masuk itu memang L. Namja itu tersenyum padaku dan menghampiriku. Aku hendak bangun dari tidurku tapi dia mencegahku.

“Tiduran saja. Aku tahu kau lelah.” Katanya. Aku pun hanya bisa menurut saja. Kulihat ia mengambil kursi dan duduk di samping pembaringanku. Aku heran melihatnya seperti itu.

Yaa, yeogi mwohaeyo?” tanyaku pula.

Neon gwaenchanha?” ia malah balik bertanya padaku.

Ne, hanya sedikit lelah saja. Darimana kau tahu kalau aku ada di sini?”

“Tadi tanpa sengaja aku melihatmu masuk. Jadi aku pun menyusulmu. Sepertinya kondisimu sedang lemah ya?”

“Ahh, anni.. Sudah kubilang aku hanya lelah saja. Gomawo sudah memperhatikanku.”

L hanya tersenyum. Aku ikut tersenyum melihatnya. Namja ini, entah kenapa aku merasa nyaman berada bersamanya seperti saat ini.

“Jiyeon, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Kata L tiba-tiba.

Mwonde?”

“Ini.. mengenai kejadian 8 tahun yang lalu.”

Aku tertegun sejenak mendengarnya. 8 tahun yang lalu?

Geuge.. Museun mariya?” tanyaku pula.

“Apa kau ingat dengan seorang anak lelaki yang bermain bersamamu di jembatan waktu itu?”

Aku kembali tertegun. Seorang anak lelaki? Nugu? Aku hanya menggeleng saja mejawab pertanyaan L itu.

“Anak lelaki itu bersama adiknya. Mereka bermain bersamamu dan juga dengan Suzy di jembatan. Apa kau benar-benar tak bisa mengingatnya?” ulang L lagi.

Aku terdiam sejenak mendengarnya. sekali lagi aku mengingat-ingat kejadian saat berada di jembatan beberapa tahun yang lalu. Dan lagi-lagi samar-samar aku melihat seorang anak lelaki sedang berteriak ketakutan meminta tolong padaku. “Noona.. Noona..” Tapi semuanya benar-benar tidak terlihat jelas. Bersamaan dengan itu aku merasa sesuatu menyerang kepalaku lagi. Benar-benar sakit rasanya. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tanpa sadar aku hanya menutupi kedua telingaku sambil menggeleng-geleng keras seolah ada sesuatu yang menyuruhku untuk tidak mengingat kejadian yang berusaha untuk kuingat itu.

Andwae! Andwae!”

“Jiyeon! Jiyeon! Sadarlah!” samar-samar aku melihat wajah L di depanku. Sepertinya aku sudah kembali ke dunia nyata. Aku melihat L memandangku dengan tatapan sedih. Waeyo? Ada apa dengannya?

Gwaenchanhayo?” tanyanya kemudian padaku.

“L.. Aku.. aku tidak bisa mengingatnya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku selalu seperti ini setiap kali aku mencoba mengingat masa laluku?” kataku padanya. Tapi kulihat L hanya tersenyum padaku.

Gwaenchanha. Jangan paksakan dirimu. Aku yakin kau bisa mengingatnya secara perlahan.” Katanya.

“K-keunde.. Kenapa kau menanyakannya? Apa ada yang terjadi? Apa kau tahu sesuatu?”

Lagi-lagi L hanya tersenyum saja. Tiba-tiba ia bergerak mendekatiku. Setelah itu ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajahku. Aku merasa jantungku hampir lepas dibuatnya. Dengan agak takut aku memejamkan kedua mataku rapat-rapat. Sesaat kemudian aku merasa sesuatu yang hangat menyentuh dahiku. Mwoya? Apa baru saja L mencium keningku? Tapi.. Untuk apa? Dan kenapa? Perlahan aku membuka kedua mataku. Aku melihat L sudah berdiri di samping pembaringanku. Ia masih tersenyum seperti tadi.

“Beristirahatlah.” Katanya kemudian.

Aku tak mampu mengucap apa-apa selain mengangguk saja. Aku benar-benar shock atas perlakuannya barusan. L mencium keningku. Yaa! Apa aku sedang bermimpi? Aku bahkan baru mengenalnya beberapa jam yang lalu tapi dia sudah berani menciumku? Ya walaupun hanya dahi tapi tetap saja itu lancang namanya. Tapi kenapa aku juga tidak berniat menolak? Aish! Mwoya? Kulihat L berjalan perlahan meninggalkanku kemudian membuka pintu UKS dan menghilang di balik pintu. Aku masih terhenyak di tempatku. Jantungku masih berdetak tidak karuan. Aku bahkan sudah menekannya beberapa kali tapi masih saja berdebar-debar abnormal. Yaa! Aku bahkan lupa tidak menanyakan soal toilet tadi. Aish! Beberapa saat kemudian kulihat gagang pintu UKS bergerak kembali. Aku membelalak melihatnya. Apa L kembali lagi? Dengan cepat aku memejamkan kedua mataku dan berpura-pura tidur. Kudengar seseorang masuk ke dalam.

Seonsaengnim, sepertinya Jiyeon sudah tertidur.” Terdengar suara seseorang yang sangat kukenal. Aku bernapas lega mendengarnya. Ternyata itu Suzy. Dan sepertinya ia sedang bersama Choi seonsaengnim. Yaa! Suzy! Apa aku harus menceritakan kejadian barusan tadi padanya?

Jiyeon POV end

Suzy POV

Aku tertegun mendengar cerita Jiyeon barusan. Bukan karena namja bernama L yang mencium keningnya itu, melainkan tentang kenapa namja itu menanyakan kejadian 8 tahun yang lalu. Aku benar-benar penasaran siapa sebenarnya namja bernama L yang dimaksud Jiyeon itu? kenapa aku bahkan tidak tahu kalau dia juga bersekolah di tempat kami? Apa dia memakai nama samaran? Tapi untuk apa? Sebenarnya siapa dia? Berbagai pertanyaan tanpa jawaban itu terus saja memenuhi kepalaku.

“Ah, Suzy! Ayo kita makan di tempat Ahjussi. Aku sudah rindu ingin makan ramen di toko itu.” Perkataan Jiyeon itu menyadarkanku.

“Oh, ne..” kataku. Setelah mengganti pakaian, kami pun keluar dari rumah dan berjalan menuju toko ramen milik ahjussi yang dulu sering kami kunjungi.

Oseo oseyo..” seorang yeoja tampak ramah menyambut kami. Aku memang sudah jarang pergi ke tempat ini sejak kepindahan Jiyeon karena aku merasa ada yang kurang kalau hanya pergi sendiri. Kami berdua memilih tempat duduk di dekat jendela sehingga kami bisa melihat keluar toko dengan leluasa. Sesaat kemudian tanpa sengaja aku melihat seorang namja yang sepertinya tidak asing bagiku tengah berdiri tak jauh dari toko ramen tempat kami berada.

“Oh bukankah itu Kai?” gumamku tanpa sadar.

Mwoya?” tanya Jiyeon heran.

“Ahh, anni..” aku memalingkan pandanganku dari tempat Kai berada. Bersamaan dengan itu ramen untuk kami telah datang. Setelah kami mengucapkan terima kasih, yeoja yang melayani kami itu pun beranjak pergi. Diam-diam aku melihat ke luar kembali. Namun aku sudah tak melihat Kai di tempatnya. Aku mengerutkan keningku heran. Sebenarnya apa yang dilakukan namja itu di sana? Kenapa dia hanya berdiri saja menatap ke arah toko ramen ini?

“Apa dia masih belum pulang?”

Nugu? Kim Jongin? Belum. Sepertinya ia tidak pulang lagi hari ini.”

Aish! Kenapa anak itu sebenarnya? Kenapa sikapnya menjengkelkan sekali akhir-akhir ini?”

Aku tertegun mendengar percakapan yang terjadi antara Ahjussi pemilik toko dengan pelayan yeoja tadi. Dalam hati aku bertanya-tanya. Kim Jongin? Nuguji? Apa dia anaknya Ahjussi?

Suzy POV end

Jiyeon POV

Seperti halnya kemarin pagi, pagi ini aku kembali bangun lebih awal untuk pergi jogging. Dengan penuh semangat aku berlari-lari kecil meyusuri jalan setapak yang kulalui kemarin, tepatnya menuju jembatan sungai. Namun begitu tiba di sana aku sudah melihat seorang namja berada di tepi jembatan sambil menatap lurus ke bawah sungai. Aku mengerutkan keningku. Siapa namja itu? Apa mungkin itu L? Dengan perlahan aku menghampirinya. Ah ternyata dia bukan L, melainkan Kai! Wah, sebuah kebetulan yang langka.

“Kai!”

Kulihat Kai terkejut mendengar teguranku.

“Oh, Jiyeon noona? Noona mwohae?” tanyanya.

“Aku sedang jogging. Kau sendiri? Kenapa berdiri dan menatap ke bawah seperti itu?”

“Ah, aku.. Aku hanya jalan-jalan saja.” Kata Kai. Wajahnya terlihat sedih. Aku heran melihat tampangnya itu.

Wae geurae? Apa ada masalah?” tanyaku kemudian.

Kai tak segera menjawab. Ia kembali pada posisinya semula, menatap lurus ke arah arus sungai di bawah.

Noona, apa noona pernah kehilangan seseorang yang berharga bagi Noona?” tanyanya kemudian membuatku sedikit terkejut mendengarnya.

“Eum.. Terus terang, aku belum pernah mengalaminya. Waeyo? Apa.. Kau baru saja kehilangan seseorang yang berharga bagimu?” tanyaku pula.

Ne, kejadiannya sudah hampir 8 tahun yang lalu. Aku kehilangan hyungku. Di sini. Di jembatan ini..”

Aku mendadak merasa disambar petir mendengarnya. Apa katanya? 8 tahun yang lalu? Di jembatan ini?

“Bukan hanya itu saja. Eommaku.. Eommaku juga hilang di tempat ini, tepat seminggu setelah hyungku menghilang..”

Aku semakin tertohok mendengarnya. Apa ini? Tiba-tiba saja aku teringat kembali dengan anak lelaki itu. Anak lelaki yang berteriak minta tolong padaku. Dan lagi-lagi kepalaku terasa sakit dibuatnya.

Noona! Noona gwaenchanha? Noona!” samar-samar aku mendengar Kai memanggilku.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku teringat lagi kejadian itu. Anak itu. Anak lelaki itu memanggil-manggilku. “Noona! Noona! Jebal tolong hyungku! Jebal!” Aku menggeleng semakin keras.

Andwae! Andwae! Andwae!!”

Noona! Noona wae geurae? Noona sadarlah!”

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang terjadi denganku? Sebentar kemudian aku merasa pandanganku buram dan akhirnya pun menjadi gelap.

Jiyeon POV end

Author POV

Suzy terduduk lemas di atas rerumputan begitu tanpa sengaja ia mendengar cerita dari Kai barusan. Tubuhnya mendadak gemetar. Dia baru saja bermaksud menyusul Jiyeon untuk pergi jogging tapi dia malah mendengar cerita yang sama sekali tak pernah ingin didengarnya itu.

“Kai.. Jadi dia.. Dia anak lelaki itu..” gumamnya lirih.

-Flashback –

Matahari saat itu sudah hampir menenggelamkan dirinya, tapi di atas jembatan sebuah sungai yang cukup deras airnya masih tampak dua orang anak perempuan yang bermain-main di sana sambil sesekali mencipratkan (?) air sungai satu sama lain. Di tempat itu ada dua anak lelaki juga namun mereka hanya berdiri di kejauhan saja sambil memandangi kedua anak perempuan yang asyik bermain itu.

“Yaa, Jiyeon! Apa kau kenal mereka?” terdengar salah seorang anak perempuan itu berkata. Anak yang dipanggil Jiyeon itu menoleh ke arah yang dimaksud temannya tadi, lalu menggeleng.

Anni.. Aku tidak mengenal mereka. Nugu?” katanya pula.

Molla. Yaa, kalian berdua. Kemarilah! Kajja bermainlah bersama kami!”

Dua anak lelaki itu saling berpandangan.

Kajja, kita bermain bersama mereka.” ucap salah satu dari mereka.

Shireo. Aku takut sungai, hyung. Bagaimana kalau nanti kita jatuh?” sahut adiknya.

Geogjeongma. Aku akan melindungimu. Kajja. Pasti asyik bermain bersama mereka.”

Walaupun masih ragu akhirnya sang adik pun mengikuti langkah hyungnya itu. mereka berjalan pelan-pelan mendekati kedua anak perempuan tadi menuju jembatan. Namun karena jalanan di sana licin, sang adik terpeleset hingga jatuh dan hampir tercebur sungai. Akan tetapi hyungnya dengan sigap segera memegangi pergelangan tangannya.

Hyung! Tolong aku! Aku takut, hyung!”

Geogjongma aku akan menarik tanganmu. Kajja naiklah!”

Sementara kedua anak perempuan yang melihatnya itu sudah ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa. Setelah bersusah payah akhirnya sang kakak pun berhasil menarik adiknya ke atas jembatan lagi. Namun baru saja sang adik berdiri di atas jembatan, sang kakak malah ikut terpeleset. Namun ia sempat berhasil berpegangan pada sisi jembatan.

Hyung!” teriak sang adik ketakutan.

“Kai, tolong aku! Tarik tanganku, Kai!” teriak sang kakak.

“K-keunde hyung, ak—aku takut..” sang adik malah menjauh karena takut mendekati sungai.

Noona! Noona tolong hyungku! Jebal selamatkan hyungku! Noona! Jeballyo!” isak sang adik kemudian pada kedua anak perempuan yang masih berdiri ketakutan melihat kejadian itu.

“S-Suzy, eottokhe? Anak itu mau jatuh!” desis Jiyeon cemas.

M-molla. Aku juga takut..” sahut Suzy mulai menangis.

Kajja kita tolong dia.. Ppalli, Suzy!”

Walaupun dengan ragu kedua anak itu pun mendekati sang kakak yang masih bergelantungan di sisi jembatan.

“Tolong! Tolong aku!” teriak anak lelaki itu ketakutan. Kedua anak perempuan itu pun mencoba menarik tangan anak itu ke atas namun karena tanah yang mereka injak terlalu licin, Jiyeon malah ikut terpeleset sehingga pegangan tangan mereka terlepas. Akhirnya Jiyeon dan anak lelaki itu pun tergelincir dan jatuh terseret ke dalam arus sungai yang deras.

“Jiyeon!!”

Hyuung!!”

Teriakan Suzy dan Kai itu terus terdengar berkali-kali sehingga orang-orang yang mendengarnya langsung berdatangan dan mencari tahu apa yang terjadi. Setelah itu beberapa orang dewasa pun ikut terjun untuk mencari tubuh Jiyeon dan anak tadi. Satu jam kemudian, seorang penduduk berhasil menemukan tubuh Jiyeon yang terdampar di bebatuan. Kepalanya berdarah karena ombak yang besar membenturkan dirinya ke batu tersebut dan hal itu membuat dirinya menjadi amnesia jangka pendek. Jiyeon bisa mengingat semuanya kecuali kejadian naas yang hampir membuatnya hilang ingatan sepenuhnya itu. tubuh Jiyeon memang berhasil ditemukan, akan tetapi tubuh anak lelaki itu tak berhasil ditemukan.

-Flashback author POV end-

Suzy POV

“K-Kai..”

Kai menoleh. Ia tampak terkejut saat melihatku.

Sunbae. Jiyeon noona.. Tiba-tiba saja dia pingsan..” kata Kai khawatir.

“Kai.. Jadi waktu itu.. itu.. kau?”

Kai tak segera menjawab. Ia tertegun sejenak. Seperti baru menyadari sesuatu.

“Jadi.. Sunbae.. Noona.. itu..” katanya gugup, lalu menatap Jiyeon yang masih tergeletak tak sadarkan diri.

“..dan juga Jiyeon noona..?” lanjutnya.

Aku hanya mengangguk dan mulai terisak.

Mianhae, Kai. Itu semua salahku.. Kalau saja aku bisa menolong hyungmu.. K-kalau saja waktu itu aku tidak mengajak kalian.. Mmianhae..”

Aku menangis terisak sambil menunduk. Aku sudah siap menerima semua pelampiasan kemarahan dari Kai. Ini semua memang salahku. Jadi aku pantas menerima semua kemarahannya. Namun tanpa disangka-sangka Kai mendekatiku dan malah menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku terkejut karenanya namun aku juga tak menolak. Kai.. Kenapa dia melakukan ini?

Noona. Gwaenchanha. Aku juga salah karena aku bahkan tidak berani menolong hyungku sendiri. Ini bukan salah Noona.. Seharusnya aku juga ikut menolong hyungku..” katanya kemudian membuatku hampir tak percaya pada pendengaranku.

“K-Kai..”

“Aku hanya sedih karena jasad hyung masih belum ditemukan sampai sekarang. Aku sudah kehilangan dua orang yang kusayangi sekaligus. Aku hanya ingin menemukan jasad hyungku.”

“Kau bilang.. Eommamu juga menghilang di sini. G-geuge.. Museun..?”

Ne. seminggu setelah hilangnya hyungku tanpa menemukan jasadnya, eomma merasa sangat terpukul dan sedih. Dia hampir seperti orang gila. Hingga pada suatu malam eomma sudah berada di luar kendali. Eomma menjerit-jerit sambil berlari ke tempat ini. Aku dan Appa tak sempat menyelamatkannya. Eomma sudah terlanjur menceburkan dirinya ke dalam arus sungai yang deras. Tapi masih untung jasadnya bisa ditemukan, walaupun nyawanya sudah tak tertolong lagi..”

Aku terdiam mendengar cerita Kai. Aku benar-benar terpukul mendengar kisah pahitnya itu. Kai.. Tidak kusangka kau harus mengalami kejadian sepahit itu saat kau masih begitu kecil.

Suzy POV end

Jiyeon POV

Aku membuka kedua mataku perlahan. Aku heran karena aku berada di tempat yang begitu asing bagiku. Tempat itu penuh dengan bebatuan dan air. Aku merasakan sakit di kepalaku yang berdarah. Samar-samar aku mendengar seseorang merintih.

“Tolong.. Tolong aku..”

Aku pun mencoba berenang sekuatku untuk mendekati arah suara itu. Beberapa saat kemudian aku melihat seorang anak lelaki tengah terjepit oleh batu besar. Wajahnya tampak kesakitan. Aku menjerit dan menangis ketakutan melihatnya.

“Tolong..” ia terus saja merintih dan menatapku seolah meminta tolong padaku. Walaupun kaki dan sekujur tubuhku gemetar, aku berusaha menggapai tubuh anak itu. begitu aku berhasil mencapainya, aku berusaha membebaskannya dari jepitan batu itu, tapi batu itu terlalu besar untuk anak sekecil diriku. Ditambah lagi dengan kondisi tubuhku yang juga terluka. Juga arus sungai yang semakin deras. aku hanya bisa menangis saja di tempat itu sambil berpegangan pada batu tersebut.

“M-mianhae.. Aku tidak bisa menolongmu.. Batunya terlalu besar. Eottokhe.. Hiks..”

“Pergilah.. Mintalah bantuan pada orang-orang.. Aku akan menunggumu di sini..” rintih anak itu membuatku semakin menangis sedih dan takut.

N-Ne, aku janji akan kembali lagi. Tunggulah aku di sini..” kataku, lalu dengan bersusah payah aku mencoba melawan arus sungai yang mengalir untuk mencari bantuan. Namun aku sudah kehabisan tenaga dan tak mampu bertahan lagi. Tubuhku terbawa arus dan terpental jauh. Kepalaku membentur sebuah batu besar dan setelah itu aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Bersamaan dengan itu aku kembali membuka kedua mataku perlahan. Samar-samar aku melihat Suzy dan Kai di depanku. Mwoya? Apa yang baru saja terjadi? Apa aku tadi bermimpi?

“Jiyeon! Neon gwaenchanha?” kata Suzy terlihat khawatir.

Noona.. Wae geurae? kenapa Noona tiba-tiba pingsan?” sambung Kai pula. Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. Kai.. Namja ini, entah kenapa tiba-tiba aku merasa sedih saat melihatnya.

“Kai.. Dia.. Dia terjepit batu.. Aku.. Aku tidak bisa menolongnya.. Hiks.. Mianhae.. Mianhae, Kai.. Ini salahku.. Aku sudah meninggalkannya.. Mianhae..”

Ya, sekarang aku ingat semuanya. Semua kejadian naas yang terjadi 8 tahun yang lalu itu. Anak itu.. Aku sudah meninggalkannya.. Ini semua salahku.

Eodi? Noona di mana hyungku terjepit? Noona! Eodi?”

Jiyeon POV end

Author POV

Sore itu di sekitar sungai, beberapa orang dari tim SAR sudah datang dan mengangkat sebuah kotak besar berisi kerangka manusia yang ditemukan terjepit di antara batu besar. Di sana tampak juga beberapa orang lain yang ikut menyaksikan kejadian itu. Kai tampak memandang sedih ke arah kotak tersebut namun ada sedikit perasaan lega karena jasad hyungnya yang sudah menjadi kerangka itu sudah berhasil ditemukan. Tanpa terasa buliran air bening mengalir ke pipinya.

Hyung, bangapta..” gumamnya.

Jiyeon dan Suzy yang mendengar gumaman Kai itu merasa terharu. Keduanya pun turut menangis. Tiba-tiba seseorang baru datang dan mendekati Kai.

“Kai. Apa yang sudah terjadi?” tanya namja itu.

Jiyeon dan Suzy serempak menoleh ke arahnya.

“Oh, Ahjussi?” kata mereka terkejut karena namja itu adalah ahjussi pemilik toko ramen langganan mereka.

Appa.. Jasad Hyung sudah ditemukan. Sekarang dia bisa beristirahat dengan tenang..” ucap Kai sambil tersenyum. Ahjussi merasa terharu mendengarnya. ia pun menarik tubuh Kai dan merangkulnya sambil menangis terisak.

“Kai.. Mianhae, selama ini Appa terlalu sedih memikirkan hyung dan eommamu sehingga kau selalu menjadi pelampiasan kemarahan Appa. Mianhae..” isak ahjussi.

Gwaenchanha, Appa.. Naega arra..”

Jiyeon dan Suzy yang melihatnya sekali lagi merasa terharu. Rupanya Kai adalah anak dari Ahjussi pemilik toko ramen itu. Mereka baru tahu hal itu sekarang. Kai melepaskan pelukan Appanya kemudian berjalan mendekati Jiyeon dan Suzy.

Noona.. Gomawo, noona sudah membantuku menemukan jasad hyung.” Katanya.

“Anni.. Aku justru minta maaf padamu karena gara-gara aku hilang ingatan jadi aku tidak bisa menolong hyungmu. Mianhae..” ucap Jiyeon sambil menunduk sedih.

Noona, uljimayo. Aku yakin hyung pun akan memaafkan noona. Karena dari awal noona memang sudah berniat ingin menolongnya. Hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan hal itu. Gwaenchanha, Noona..”

“G-gomawo, Kai..”

Kai hanya mengangguk sambil tersenyum.

Jeogi, Kai. Jadi ahjussi itu.. Appamu?” tanya Suzy kemudian.

Ne. waeyo?”

“K-keunde, kalau aku tidak salah dengar, bukankah nama anak ahjussi itu Kim Jongin? Atau.. Apa itu nama hyungmu?”

Anni.. Kim Jongin itu namaku. Tapi aku biasa dipanggil Kai. Dan nama hyungku, Kim Myungsoo. Tapi ia biasa dipanggil dengan panggilan L saja.”

Mmwo?” Jiyeon dan Suzy terkejut sekali mendengarnya. keduanya saling berpandangan dengan heran. Terlebih-lebih Jiyeon. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia teringat pada namja yang mengaku bernama L yang akhir-akhir ini bertemu dengannya. Disusul dengan kejadian aneh yang dialaminya. Tubuhnya mendadak gemetar.

“Tidak mungkin..” gumamnya.

Noona, wae geurae?” tanya Kai heran.

“Tidak mungkin.. Jadi.. Selama ini aku… Aku berbicara dengan.. Arwah?”

Karena terlalu shock, dan karena kondisinya yang juga masih lemah, akhirnya Jiyeon pun jatuh pingsan kembali.

Begitu ia membuka kedua matanya, samar-samar ia melihat seorang namja sudah berada di depannya. Namja itu tersenyum padanya.

“Kau.. L?” kata Jiyeon lirih.

L hanya tersenyum dan mengangguk.

Gomawo, Jiyeon.. Kau sudah menepati janjimu. Sekarang, aku akan pergi jauh, dan ini adalah pertemuan terakhir kita..” kata L.

Jjamkkan! Kkeunde.. Bagaimana bisa..”

“Karena kau yang sudah berjanji padaku. Dan penantianku selama 8 tahun ini tidaklah sia-sia. Kau datang menepati janjimu. Gomawo, Jiyeon. Tolong jaga Kai baik-baik. Annyeong!”

“L.. Jamkkanman!! L..!!”

Jiyeon terus berteriak memanggil L tapi L sudah menghilang dan memudar bersama dengan cahaya putih yang bersinar menyilaukan kedua matanya.

Sayōnara.. Kim Myungsoo..” ucap Jiyeon kemudian dengan lirih.

Author POV end

-End-

Annyeong readers! Hehe gimana ffnya? Suka gak? Kepanjangan ya? Maap yah kalo ada ketidaksinambungan dalam ceritanya. Oh iya kayaknya udah lama ya kita gak ketemu, haha kangen gak sama author Yochi? Wkwk halah ya sudahlah readers segitu aja silahkan tinggalkan apa aja di bawah asal bukan bom ya? 😀

Sampai jumpa di wahana ff berikutnya dan gomapseumnida 😉

10 thoughts on “[FF Freelance] The Bridge

  1. wahhh gk nyangka trnyata L itu arwah..
    jdi slma ini yg am jiyeon itu arwahnya L ,,
    tpi gk papa sih cz arwahnya cakep sihhh jd betah mskipun lama .. hehe 🙂
    bagus ffnya thor
    ffnya bsa d bilang “TAK TERDUGA” ceilehhh #reader aneh# 😀
    d tnggu ff yg laennya 😉

  2. daebakkkkkk kereennn banged ff nya…bagus koq aku suka… udah mulai curiga sih pas pertama kali L ketemu jiyeon di jembatan..
    trus rada merinding pas baca jiyeon ke toilet yg rusak, tp pas di pake jiyi tuh toilet ga rusak… jinjja nuansa horor nya tuh dpt banged…

    bikin ff jiyeon lagi yaa 😀

  3. DAEBAKKK… THOR!!!
    merinding tiap myungsoo datengin jiyeon tapi nyesek pas baca terakhirnya T.T
    ditunggu segera ya karya lainnya 🙂

  4. serius udah merinding baca awal-awalnya…
    sudah kuduga, kalo L itu ada apa-apanya/?
    apalagi yang scene kamar mandi *apabanget ini nama scene nya-,-*
    jadi sebenernya L itu apa, sampe kamar mandi rusak pas dia kasih tau jadi bener?
    hampir aja tadi ngga aku lanjutin bacanya, soalnya aku penakut.. hehehe *malah jadi curhat -,-
    tapi akhir-akhirnya sedih… kasian sama kai, sama soalnya myungyeon ga bersatu(??)
    hahaha… tapi keren ffnya thor 😀
    duh, maaf komennya kepanjangan… hehehe

    ditunggu ff lainnya 😀
    ff jiyeon kalo bisa ^^

  5. rada horror gini bacanya serem 😀 kekeke tapi seru ff nya 😀 haha
    tuh kan sebenernya udah ngeduga dari pas kejadian toilet itu kalo sebenernya L itu bukan manusia hehe
    asli ff nya keren! aku suka 😀 haha

  6. Horor tapi kurang greget karna arwahnya cakep/?
    Di tunggu ff myungyeon lainnya thor,mohon bgt ya banyakin ff park jiyeon eonni *bow*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s