I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.4]

I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD-MYUNGZYYEON

Author: Anditia Nurul

Judul: I Just Wanna Give You A Child–Remake Ver. [Chap.4]

Rating : PG-13

Genre  : Marriage-Life, Drama, Angst, Romance

Main Characters: (Infinite) L / Myungsoo, (Miss A) Suzy & (T-Ara) Jiyeon

Additional Characters: (Actor) Kim Soohyun, (2AM) Jinwoon & (OC) Dr. Yook.

Length: Multichapters/ Chaptered

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. Inspirated By Hello Band – 2 Cincin MV, but the plot is mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her/their parents and his/her/their agency. OCs are mine! Versi asli dari FF ini, aku pake cast Ryeowook & OCs. Dan, untuk versi kali ini, aku membuat sedikit revisi, tapi jalan ceritanya masih sama dengan versi aslinya dengan perbaikan tata bahasa di sana-sini

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

Previous: Prolog | 1 | 2 | 3 |

HAPPY READING \(^O^)/

-Still Jiyeon’s POV-

Jung Jinwoon.

Dia pria yang membuatku memutuskan hubungan dengan Myungsoo dulu. Hah! Sungguh aku sangat menyesali perbuatanku itu. Betapa bodohnya aku meninggalkan seorang Kim Myungsoo untuk seorang pria seperti Jung Jinwoon?!

Dia tidak lebih dari seorang pria bren***k yang suka gonta-ganti pacar. Cih!

“Jiyeon-ah, kau—” ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya hendak menyentuhku.

“Jangan sentuh!” ucapku cepat, lantas membuat pria itu mengurungkan niatnya.

Jinwoon terdiam. Terserah. Aku tidak peduli lagi padanya. Boneka kucing yang masih berada di tanganku lekas kuberikan kepada gadis kecil yang berdiri di belakangnya. Setelah itu, aku memutar balik tubuhku membelakangi Jinwoon, mengambil langkah untuk meninggalkannya.

Aku ingin segera menjauh darinya, namun perutku yang besar ini cukup membuatku kesulitan untuk berjalan lebih cepat.

“Jiyeon-ah, jamkanman!” terdengar suara Jinwoon. Aku menoleh ke arahnya sekilas, melihat ia berjalan ke arahku. Aku berusaha untuk mempercepat langkahku, tapi… ya tetap saja Jinwoon bisa menghampiriku.

“Ya! Park Jiyeon!” Pria itu meraih pergelangan tangan kananku. Sontak, aku menoleh ke arahnya.

“Apa kau masih ada urusan denganku, Jung Jinwoon?” tanyaku sinis sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari tanganku. Tapi, pria ini malah memperat pegangannya.

“Kau kemana saja selama ini?” tanyanya.

Aku tertawa samar. Sungguh tidak percaya akan kalimat yang barusan ia keluarkan dari mulutnya. “Ya! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Kemana saja kau selama ini, eoh? Kemana saja kau selama 3 tahun ini?”

“Mianhae karena aku tidak memberitahumu kalau aku pergi ke Macau,” ucapnya dengan nada menyesal.

Ne. Dan kau tahu apa? Karena kau pergi tanpa memberitahuku, aku sampai bertanya kepada semua temanmu tentang keberadaanmu!”

Mianhae. Tapi, aku tidak bermaksud—”

“Cukup!” potongku. “Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Apapun itu, aku sudah tidak peduli.”

“Aku juga mencarimu, Jiyeon-ah. Setelah kedatanganku dari Macau minggu lalu, orang pertama yang aku cari adalah kau. Aku ingin bertemu kau. Aku ingin kau kembali padaku.”

Kedua mataku membulat mendengar kalimat terkhir yang ia ucapkan. “Apa kau buta? Kau tidak lihat aku sedang hamil, eoh!? Aku sudah menikah, Jung Jinwoon. Aku sudah menjadi milik seseorang! Dan meskipun aku belum menikah, aku tidak akan pernah mau kembali padamu. Kau mengerti?”

Kurasakan tubuhku sedikit bergetar dan nafasku tersengal karena emosi yang terluapkan barusan. Sejujurnya aku tidak ingin bersikap seperti ini, terlebih ini di tempat umum. Namun, ketika aku melihat wajahnya, ketika mendengar semua ucapannya—yang menurutku hanya omong kosong, aku tidak bisa menahan emosiku. Jika tidak aku sedang hamil, kurasa aku bisa membentaknya lebih dari ini.

Hah~

“Jiyeon-ah? Ah, ternyata kau di sini.” Entah dari mana datangnya, Suzy telah berdiri di dekatku. Ia melihat aku dan Jinwoon bergantian. Tampak heran.

“A-Ada apa, Suzy-ya?” tanyaku mengalihkan fokus perhatiannya.

Aniya. Aku hanya mau melihat apa kau sudah selesai membeli perlengkapan bayimu. Aku mau mengajakmu makan di restoran sebelah kalau kau sudah selesai,” jawab Suzy.

“A-Aku hampir selesai, Suzy-ya. Tunggu aku di dekat kasir saja. Masih ada sesuatu yang ingin aku beli,” kataku. Sepertinya Suzy mengerti maksudku. Ia lantas mengangguk, kemudian beranjak meninggalkan aku dan Jinwoon. Juga gadis kecil yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya.

“Dia siapa?” sambar Jinwoon setelah Suzy meninggalkan kami.

“Kau tidak perlu tahu!” ucapku ketus.

Jinwoon menghela nafas. “Baiklah. Aku mengerti,” ucapnya. “Lantas, kau menikah dengan siapa?” tanyanya lagi.

“Kau sangat mengenalnya,” ucapku, membuatnya terlihat penasaran.

Nugu?”

“Kim Myungsoo!” Jinwoon nampak sangat terkejut setelah aku mengucapkan nama itu. “Kau tidak ada urusan denganku lagi, kan!? Aku permisi.”

Seketika aku melangkah meninggalkan Jinwoon yang terdiam di tempatnya. Ya! Menikah dengan Kim Myungsoo—yang notabenenya adalah mantan kekasihku—mungkin tidak pernah terlintas di pikirannya. Hah~

-End Of Jiyeon’s POV-

Suzy’s POV-

Ini sudah ketiga kalinya aku melirik jam tanganku semenjak Jiyeon memintaku menunggunya di dekat kasir, namun wanita itu belum juga terlihat. Entah barang apa yang sedang ia beli, tapi aku tidak penasaran dengan hal itu. Aku lebih penasaran pada pria yang tadi berbicara dengannya.

Pria itu siapa?

Dan lagi, aku sempat mendengar Jiyeon membentak pria itu.

Apa… pria itu musuhnya atau… mantan kekasihnya yang lain?

“Suzy-ya, mianhae membuatmu menunggu,” ucap Jiyeon yang entah kapan datangnya.

Gwaenchana,” balasku.

Aku dan Jiyeon pun mengantri untuk membayar barang belajaan kami. Setelah itu, aku mengajaknya menuju sebuah restoran yang berada tepat di sebelah mall. Restoran tempat aku berbicara dengan Soohyun Oppa beberapa hari yang lalu.

Tiba di tempat tersebut, aku dan Jiyeon duduk di kursi yang berada tepat di tengah ruangan. Seorang pelayan menghampiri kami, mencatat pesanan, kemudian beranjak meninggalkan kami. Kuperhatikan Jiyeon yang tengah melihat ke arah layar televise yang berada di dalam restoran.

“Jiyeon-ah?” panggilku.

Wanita itu menoleh, menunjukkan mimik wajah seolah ia bertanya ada-apa padaku.

“Pria tadi siapa?” tanyaku. Seketika Jiyeon sedikit terlihat gugup. “Kalau kau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa, Jiyeon-ah. Aku hanya ingin tahu saja,” tambahku cepat setelah melihat reaksinya.

Jiyeon menundukkan pandangannya sejenak. Terlihat sedang memikirkan sesuatu. Namun, tidak lama kemudian, ia menatapku. “Sebenarnya…, dia adalah pria yang membuatku meninggalkan Myungsoo, Suzy-ya,” katanya lirih.

Selama kami berteman, Jiyeon cukup jarang menceritakan tentang pria barusan. Yang aku tahu hanya nama pria itu. Jung Jinwoon. Tadi adalah pertama kalinya aku melihat wajah pria itu secara langsung. Tapi, Jiyeon pernah mengatakan bahwa pria itu pergi ke luar negeri tanpa pamit padanya. Lantas, kenapa pria itu bisa berada di sini, eoh?!

“Aku juga tidak tahu kenapa dia kembali, Suzy-ya. Padahal, aku sudah mulai bisa melupakannya. Kenapa dia malah muncul lagi!? Terlebih di saat seperti ini~” keluh Jiyeon.

“Lalu, apa yang ia katakan padamu tadi? Aku dengar kau membentaknya.”

Jiyeon menghela nafas. “Dia… dia memintaku untuk kembali padanya.”

Aku terkejut. “Mwoya? Apa dia tidak melihat kau sedang hamil, eoh!?”

“Aku sudah mengatakan itu padanya, Suzy-ya. Aku menolak untuk kembali padanya. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku tidak mau memikirkan hal itu lagi.”

Ne. Yang penting sekarang adalah kondisimu dan juga kondisi janin di dalam perutmu.” Jiyeon mengangguk.

Tidak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri kami, menghidangkan makan siang di atas meja.

@@@@@

A Few Days Later

“Jiyeon-ah, sudah waktunya makan malam,” kataku, berdiri di ambang pintu kamar Jiyeon. Mendapati wanita itu tengah memijit-mijit pelan betisnya yang katanya terasa pegal sejak beberapa menit yang lalu.

Ne, Suzy-ya. Aku segera ke ruang makan,” ucapnya. Aku mengangguk paham, kemudian beranjak meninggalkannya.

Di ruang makan, terlihat Myungsoo Oppa yang telah duduk di tempatnya seperti biasa. Begitu melihatku berjalan dari kamar Jiyeon tanpa adanya wanita itu berajalan di sampingku, ia bertanya, “Dia tidak makan?”

“Sebentar lagi dia ke sini,” jawabku, duduk di kursi yang berada di sebelah kirinya.

Tidak lama setelah aku berbicara dengan Myungsoo Oppa, Jiyeon pun bergabung dengan kami. Acara makan malam bertiga berlangsung biasa saja. Sesekali diisi oleh obrolan oleh kami bertiga atau… hanya aku dan Jiyeon.

Usai makan malam, masih seperti biasa pula, aku dan Jiyeon membersihkan peralatan makan, sedangkan Myungsoo Oppa duduk di ruang TV, menonton berita malam.

“Persalinan nanti, kau mau cesar atau normal, Jiyeon-ah?” tanyaku basa-basi sembari mencuci piring  bersama wanita itu.

“Aku maunya normal, Suzy-ya,”jawabnya. Aku mengangguk.

“Oh, ya, kau sudah menyiapkan nama untuk calon bayimu?” tanyaku lagi.

Ajik. Aku ingin… aku ingin kau yang memberikan nama untuk anakku nanti.”

“Aku?” seruku terkejut.

Ne. Bagaimana? Kau mau, kan!?” Jiyeon tersenyum padaku.

Aku menatap wanita untuk beberapa detik, lantas mengangguk. “Ne. Tentu saja.”

“Go—Uh~” Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Jiyeon melepaskan kain lap dari tangan kanannya. Kain lap yang ia gunakan untuk mengelap piring yang aku cuci. Sepersekian detik setelahnya, ia langsung menyentuh bagian dadanya sambil bernafas tersengal.

“Kau kenapa, Jiyeon-ah?” tanyaku panik. Bergegas aku menuntunnya untuk duduk di kursi yang berada di dekat dispenser. “Kau sakit, eoh!?” tanyanya.

Dengan mimik wajah kesakitan dan sambil menyentuh bagian dadanya, Jiyeon menjawab, “E-Entahlah… hhh… Suzy. Da… hhh… dadaku… tiba-tiba… hhh… se… sesak… hhh,” jawabnya susah payah. “Se… hh… sepertinya… hhh… a… hhh… asmaku… hhh… asmaku… kambuh… hhh.”

Mwoya?” seruku panik. Aku berteriak memanggil Myungsoo Oppa, sementara Jiyeon masih terlihat kesusahan untuk bernafas.

“Ada apa, eoh!?” tanya Myungsoo Oppa ketika ia berdiri di ambang pintu dapur. “Omo! Kau kenapa, Jiyeon-ah?” serunya kaget melihat kondisi Jiyeon.

“Asma Jiyeon kambuh.”

Mwoya?” Myungsoo Oppa terkejut untuk kedua kalinya. “Jiyeon-ah, kau tunggu sebentar di sini, eoh. Aku akan menelepon dokter. Suzy-ya, tolong jaga Jiyeon,” katanya.

Myungsoo Oppa beranjak dari dapur, menghubungi dokter perusahaan tempat ia bekerja. Setelah itu, ia kembali ke dapur, menggendong Jiyeon ke kamarnya. Setibanya di kamar, keadaan Jiyeon terlihat semakin memburuk. Keringat dingin bahkan keluar dari pelipisnya.

“Kenapa bisa begini, Jiyeon-ah? Kenapa kau tiba-tiba asma, eoh!?” tanya Myungsoo Oppa, duduk di tepi tempat tidur Jiyeon. Terlihat sekali gurat ketakutan di wajah namja itu. Takut terjadi sesuatu pada… calon ibu dari anaknya. Sementara itu, aku berdiri di ambang pintu kamar Jiyeon, sesekali melihat ke arah pintu depan, menunggu dokter datang.

Na… hhh… nado molla… hhh…, Oppa,” jawab Jiyeon.

Sekitar 10 menit kemudian, terdengar suara pintu depan diketuk.

“Itu pasti dr. Yook!” kata Myungsoo Oppa. Aku pun berlari ke arah pintu depan, membuka pintu. Ternyata benar, itu dr. Yook.

Dr. Yook masuk ke dalam kamar Jiyeon, lekas melakukan pemeriksaan. Myungsoo Oppa masih duduk di tepi ranjang, di dekat kaki Jiyeon. Sementara itu, aku berdiri di dekatnya, memperhatikan dr. Yook melakukan pemeriksaan.

“Apa Anda alergi sesuatu, Nyonya Park?” tanya dr. Yook setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dasar.

Jiyeon mengangguk pelan. “Hhh… ne… hhh. Aku… hhh… alergi… hhh… ikan laut….”

Seketika aku tersentak.

Astaga! Apa yang telah aku lakukan?

Kenapa aku bisa ceroboh begini?

Aku lupa kalau Jiyeon alergi ikan laut. Dan tadi, Jiyeon memakan sup ikan itu. Aigoo, kenapa aku lupa mengatakan kepada Jiyeon kalau itu sup ikan laut. Aish! Jincca, Suzy-ya! Neon babo.

“Alergi Anda kambuh, Nyonya,” kata dr. Yook. Jiyeon dan Myungsoo Oppa tersentak.

“Tapi, Jiyeon kan tidak ma—”

Mianhae.” Aku memotong kalimat Myungsoo Oppa. “Aku… aku lupa kalau Jiyeon alergi ikan laut dan… dan sup ikan tadi terbuat dari ikan laut,” sesalku.

Aigo! Suzy-ya, kenapa kau bisa ceroboh begitu, eoh!?” Aku bisa menangkap nada bentakan saat Myungsoo Oppa mengucapkan kalimatnya barusan.

“Sebaiknya Nyonya Park dibawa ke rumah sakit malam ini. Takutnya terjadi apa-apa pada janin di dalam kandungannya,” ucap dr. Park, semakin membuatku merasa bersalah. Astaga, Jiyeon sampai harus masuk rumah sakit karena kecerobohanku.

“Baik, dr. Yook.”

Dr. Yook pun membuat surat pengantar untuk dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, beliau pun pulang. Myungsoo Oppa bergegas menghubungi ambulans, sementara itu, aku menyiapkan beberapa barang keperluan Jiyeon di rumah sakit.

Oppa?” Aku menghampiri Myungsoo Oppa yang tengah duduk di ruang tamu usai aku melakukan kegiatanku.

Pria yang duduk di sofa—sangat terlihat mencemaskan keadaan Jiyeon dan calon bayinya—melihat ke arahku. “Mianhae, aku tidak sengaja melakukan itu, Oppa,” gumamku pelan dengan nada penyesalan.

“Kau tahu, Suzy-ya, kau hampir membunuh 2 orang.” Ucapan Myungsoo Oppa barusan terasa begitu menusukku. Ya, aku tahu akibat dari kecerobohanku kali ini sangat membahayakan nyawa Jiyeon dan bayinya, tapi… aku sungguh tidak sengaja.

“Aku benar-benar tidak sengaja, Oppa. Mianhae.”

“Sudahlah! Tidak ada gunanya minta maaf!” ucapnya semakin terdengar sinis. Aku menundukkan kepalaku. Tidakkah Myungsoo Oppa sadar bahwa ucapan-ucapannya beberapa saat lalu semakin membuatku merasa bersalah?

Setelah beberapa menit tidak ada suara di antara kami, suara sirine ambulans di depan rumah pun terdengar. Myungsoo Oppa bergerak cepat membuka pintu, lantas mempersilahkan 2 orang mantra dan seorang suster masuk ke dalam rumah sambil mendorong brankar (tempat tidur beroda) ke dalam kamar Jiyeon.

A few minutes later

Jiyeon telah terbaring di atas brankar yang sedang didorong oleh para mantri menuju ambulans. Wanita itu masih terlihat kesusahan bernafas karena asmanya kambuh. Terlebih ia sedang hamil, perutnya yang besar itu semakin membuatnya kesulitan bernafas.

Jiyeon-ah, mianhae~

Aku ingin ikut mengantar Jiyeon ke rumah sakit, namun di saat aku hendak menyusul Myungsoo Oppa keluar dari rumah, pria itu menoleh padaku, lalu berkata, “Kau tidak usah ikut! Lebih baik kau menjaga rumah. Aku bisa menemani Jiyeon sendiri,” katanya terkesan dingin. Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk pelan.

Myungsoo Oppa pun berlari memasuki ambulans dan beberapa detik kemudian, ambulans itu pun melaju meninggalkan rumah. Aku pun menutup pintu rumah, menyandarkan punggungku pada bagian belakang daun pintu.

Perlahan, air mata yang sejak tadi aku tahan pun meleleh di kedua sudut mataku. Lagi-lagi aku menangis. Aku tahu aku telah melakukan perbuatan ceroboh yang membahayakan Jiyeon, tapi aku sungguh tidak sengaja. Namun, kenapa… kenapa Myungsoo Oppa terlihat begitu menyalahkanku?

Apa karena… apa karena aku hampir membuat calon ibu dan calon anaknya meninggal?

Apa karena itu kau marah padaku, Oppa?

Apa karena itu?

“Good bye, baby good bye dwidoraseo geudaero apeuro gamyeon dwae
Amureon maldo haji malgo idaero sarajyeo juneun geoya
Good bye, baby good bye jeulgeowosseo jaemiisseotdago saenggakhalge
Geureoni yeogikkaji hagi neoui syoneun ije kkeutnan geoya
Baby good bye, good bye~”

Nada dering HP-ku membuatku bergegas menyeka air mataku. Sebisa mungkin untuk menghentikan tangisku sambil berjalan menghampiri HP yang aku letakkan di atas meja di ruang televisi. Aku duduk di sofa, kemudian tangan kananku terjulur meraih benda yang masih berdering itu.

Uh? Soohyun Oppa?

-End Of Suzy’s POV-

@@@@@

Next Day

­-Myungsoo’s POV-

Jiyeon masih dirawat di rumah sakit, namun kondisinya sudah mulai membaik. Begitu juga dengan kondisi janinnya. Mungkin…, besok dia sudah diijinkan pulang ke rumah. Hari ini, usai makan siang, aku ijin pulang lebih awal untuk menemani Jiyeon di rumah sakit.

Aku berjalan keluar dari gedung kantor. Tepat di saat itu, terdengar suara seseorang memanggilku.

“Kim Myungsoo!” Aku menoleh ke asal suara tersebut, mendapati seorang pria berdiri tidak jauh dariku. Jujur, pria ini tidak asing. Aku pernah melihatnya dan… sepertinya aku mengenalnya. Hanya saja… aku lupa siapa dia.

“Apa kau masih ingat aku?” tanyanya.

Tentu saja aku menggeleng.

“Kim Soohyun.”

Ah! Aku ingat. Kim Soohyun. Dia pria yang sangat dekat dengan Suzy. Bahkan, Suzy sudah menganggap pria ini seperti kakaknya sendiri.

“Ah! Ne. Lama tidak bertemu, Soohyun-ssi,” kataku.

“Bisa kita bicara, hm?” tanyanya dengan nada datar.

“Tapi, aku tidak punya banyak waktu,” jawabku, berniat menolak. Aku bahkan nyaris keceplosan membicarakan Jiyeon. Entah apa yang akan dikatakan pria ini seandainya ia tahu, selain Suzy, aku punya istri lain.

Kim Soohyun mengajakku ke sebuah kedai kopi di dekat gedung kantor. Duduk berhadapan di dalam kedai itu, di antara 2 cangkir espresso.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanyaku.

“Suzy,” ucapnya, “Bagaimana kabarnya?” Ia malah bertanya balik.

“Suzy!? Dia baik-baik saja,” jawabku.

Pria itu mendengus samar. “Gojitmal!” ucapnya kemudian, sukses membuatku kaget.

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

Pria itu lantas menyesap espresso-nya, lalu berkata, “Aku sudah tahu kau mempunyai istri lain selain Suzy, Kim Myungsoo!” Untuk kedua kalinya aku terkejut. Dari mana ia tahu? “Suzy sudah mengatakan semuanya padaku.” Ah, ya, Suzy.

“Lantas? Apa masalahnya untukmu?”

Lagi, pria itu mendengus samar. “Kau tidak tahu akibat dari perbuatanmu, eoh!? Suzy menderita!” ucapnya tegas sambil menatapku tajam.

“Tapi, Suzy yang memintaku untuk melakukan ini.”

“Tapi, dia juga memintamu untuk menceraikannya, bukan!? Kenapa kau tidak mau melepaskannya?”

“Karena aku mencintainya!”

Pria itu mengalihkan wajahnya ke arah lain, tertawa samar. Seolah ia tidak percaya dengan ucapanku. “Omong kosong! Kau mencintainya? Lantas kenapa kau membuatnya menderita, eoh!? Apa kau tidak melihat kondisi Suzy? Dia seperti orang yang tidak punya semangat hidup. Bahkan, semalam ia meneleponku sambil menangis. Dan di saat itu kau meninggalkannya sendirian di rumah. Apa itu yang kau sebut dengan cinta, eoh!?” Soohyun nampak emosi.

Aku menghela nafas.

“Aku tidak bermaksud untuk membentaknya semalam. Aku—”

Ne, kau mencemaskan calon ibu dari calon anakmu, kan!?” potong Soohyun. “Dengar, Kim Myungsoo, kalau kau tidak bisa membuat Suzy-ku bahagia, lepaskan dia!”

Kedua mataku membulat saking terkejut mendengar ucapan Soohyun.

“Aku tidak akan pernah membiarkan Suzy-ku menderita. Kau mengerti itu, Kim Myungsoo?”

Aku terdiam.

Soohyun kemudian menghabiskan secangkir espresso miliknya. “Hanya itu yang aku katakan padamu, Myungsoo-ssi.” Lantas, pria itu beranjak menuju kasir, kemudian berjalan keluar dari café. Aku masih terdiam di tempatku. Memikirkan kata-kata Soohyun barusan.

Ya! Apa yang telah kau lakukan, Kim Myungsoo?

Kau telah membuat Suzy menangis. Kau telah membuat orang yang kau cintai menderita bersamamu. Apa itu yang kau inginkan, hm? Apa  itu yang kau inginkan!?

Mungkin kata Kim Soohyun benar. Kalau kau tidak sanggup membahagiakan wanita itu, lepaskan dia.

Aku memaki diriku sendiri. Aku benar-benar tidak menyadari kalau selama ini aku telah membuat Suzy menderita. Hah! Suami macam apa aku ini?

@@@@@

Aku berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit yang mengarah menuju kamar tempat Jiyeon dirawat. Ucapan-ucapan Soohyun beberapa saat lalu cukup menyita pikiranku saat ini. Hah~ apa yang harus aku lakukan?

“Ya! Hati-hati!” tegur seseorang saat aku tidak sengaja menabraknya.

Mianhae. Aku tidak sengaja,” sesalku.

“Makanya, gunakan matamu baik-baik!” ucapnya ketus, membuatku merasa bersalah.

Ne.” Orang itu pun mendengus, lalu berjalan meninggalkanku.

Seketika aku tersadar atas perbuatanku kepada Suzy semalam. Aku membentak wanita itu atas kesalahan yang tidak sengaja ia lakukan. Padahal, dia sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya sendiri. Tapi, aku malah memarahinya dan mengucapkan kata-kata yang… yang menyakitinya sampai ia menangis.

Aigoo, kenapa aku bisa seperti itu?

Apa yang telah aku lakukan?

Hah! Kim Myungsoo, neon baboya!

Pintu kamar Jiyeon yang tertutup rapat telah terlihat. Sedikit kupercepat langkahku agar segera tiba di sana. Aku pun membuka pintu, berjalan masuk ke dalam kamar yang didominasi warna hijau muda itu.

“Su-Suzy-ya?” gumamku saat kulihat Suzy berada di dalam kamar Jiyeon. Tengah sibuk merapikan tempat tidur Jiyeon. Mendengar namanya disebut, ia tampak terkejut, sepersekian detik kemudian ia melihat ke arahku.

“O-Oh, Oppa. Jiyeon ada di kamar mandi,” katanya, seolah ia tahu kalau aku mau menanyakan keberadaan Jiyeon padanya. Kulihat ia bergegas menyudahi kegiatannya merapikan tempat tidur.

“Sejak kapan kau di sini?” tanyaku.

“Sejak pagi tadi.”

“Jadi kau tidak pergi bekerja, eoh!?”

Tanpa melihat ke arahku, ia mengangguk. “Ne. Aku menghubungi Jiyeon dan menanyakan apa kau berada di rumah sakit pagi ini atau tidak. Tapi, dia bilang tidak. Karena itu aku ke sini untuk menemaninya.”

Tidak lama kemudian, Suzy telah selesai merapikan tempat tidur Jiyeon. Ia lantas mengambil tasnya yang berada di atas meja. Kulihat ia hendak berjalan menuju pintu, sepertinya hendak pulang, namun cepat aku mencegahnya.

“Kau mau kemana?” tanyaku sambil memegang lengan kirinya tepat di saat ia melintas di sebelahku.

“Pulang,” jawabnya singkat tanpa melihatku.

“Kenapa kau mau pulang?”

“Lebih baik aku menjaga rumah. Bukankah oppa bisa menjaga Jiyeon sendirian? Seperti itu kan yang oppa ucapkan semalam?” Nada bicara Suzy terdengar sinis. Malah, ia mengulang ucapan yang semalam aku ucapkan padanya. “Tolong lepaskan tanganku, Oppa,” pintanya.

Aku tidak menuruti permintaannya. Malah menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukanku. “Mianhae, Suzy-ya. Mianhae. Aku tidak bermaksud untuk memarahimu semalam. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Mianhae,” bisikku di telinganya.

Suzy terdiam. Tidak memberi respon apapun.

Saranghae~” bisikku di telinganya.

Nado saranghae~” balasnya.

-End Of Myungsoo’s POV-

-Jiyeon’s POV-

“Kau mau kemana?” Tepat di saat aku membuka pintu kamar mandi—hendak keluar dari ruangan itu, aku melihat Myungsoo Oppa sedang memegang lengan Suzy yang sepertinya ingin pulang ke rumah. Kuurungkan niatku untuk keluar, malah menyimak percakapan antara Suzy dan Myungsoo Oppa. Mengintip melalui celah pintu yang sengaja aku buka sedikit.

“Pulang.”

“Kenapa kau mau pulang?”

“Lebih baik aku menjaga rumah. Bukankah Oppa bisa menjaga Jiyeon sendirian? Seperti itu kan yang oppa ucapkan semalam?” Nada suara Suzy terdengar sinis. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua, tapi… sepertinya mereka sedang bertengkar. Dan…, sepertinya aku yang menjadi penyebab pertengkaran mereka.

A-Aigoo.

Apa yang sudah terjadi?

Ini pertama kalinya kulihat mereka bertengkar, terlebih… penyebab pertengkaran mereka adalah aku. Astaga, apa yang telah aku lakukan?

Tiba-tiba, kulihat Myungsoo Oppa menarik Suzy ke dalam pelukannya. Memeluk wanita itu erat. Suzy diam saja diperlakukan seperti itu, namun aku bisa melihat bibirnya mengukir senyum simpul ketika Myungsoo Oppa membisikkan sesuatu di telinganya, “Mianhae, Suzy-ya. Mianhae. Aku tidak bermaksud untuk memarahimu semalam. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Mianhae.”

Mwoya?

Myungsoo Oppa memarahi Suzy semalam? A-Aigo.

Suzy masih terdiam.

Saranghae~ bisik Myungsoo Oppa di telinga Suzy.

Nado saranghae~” balas Suzy.

Dan selanjutnya, kulihat mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. Lalu, sepersekian detik kemudian, Myungsoo Oppa mendekatkan wajahnya ke wajah Suzy. Cepat aku menutup rapat pintu kamar mandi, menyandarkan punggungku di balik daun pintunya. Tidak ingin melihat adegan yang sedang berlangsung di antara mereka berdua.

Aku tahu aku tidak akan pernah bisa lagi mendapatkan cinta Myungsoo Oppa yang seutuhnya karena… pria itu mencintai Suzy.

Ne, Suzy. Bukan aku.

@@@@@

A Week Later

Aku sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu. Beruntung, aku tidak banyak memakan sup ikan malam itu sehingga reaksi dari alergiku tidak begitu parah. Pagi ini, aku sengaja bangun lebih cepat. Ingin berjalan-jalan di sekitar rumah sambil menghirup udara pagi. Setelah puas berjalan-jalan aku kembali ke rumah.

Roly Poly Roly Roly Poly
Nan mireo naedo nan
Dashi negero daga ga seo
Roly Poly Roly Roly Poly
Naman bo il kkeoya
Neo ege nareul boyeo jul kkeoya~

HP yang aku letakkan di atas tempat tidur, berdering tepat di saat aku masuk ke dalam kamarku. Sedikit terburu-buru aku berjalan menuju tempat tidur, meraih HP yang masih berdering itu. Aku mengerutkan kening begitu terlihat sebaris nomor yang tertera di layarnya. Uh? Unknown number!?

Yo-Yoboseyo?” Aku menjawab panggilan itu sedikit ragu.

Tidak ada suara yang terdengar di seberang.

Yoboseyo?” ulangku sekali lagi, namun tetap tidak ada sahutan. Pikiranku mulai melayang kemana-mana, menebak-nebak siapa gerangan orang yang meneleponku di pagi ini.

“Kalau kau tidak mau bicara, aku tutup teleponnya,” ucapku sedikit sinis, berharap dengan begini, orang yang menelepon mau bersuara.

“Jiyeon-ah!?” Untuk sesaat kurasakan nafasku berhenti ketika mendengar suara itu. Refleks aku memutuskan panggilannya.

Da-darimana dia tahu nomor HP-ku?

Roly Poly Roly Roly Poly
Nan mireo naedo nan
Dashi negero daga ga seo
Roly Poly Roly Roly Poly
Naman bo il kkeoya
Neo ege nareul boyeo jul kkeoya~

HP yang masih berada di dalam genggamanku itu kembali berdering dan masih dari penelepon yang sama. Jung Jinwoon. Untuk kedua kalinya, aku me-reject panggilan dari pria itu.

Aish! Kenapa orang ini menghubungiku, eoh!?

Apa dia tidak mengerti kalau aku tidak mau bertemu dengannya lagi?

Untuk ketiga kalinya HP-ku berdering dan untuk ketiga kalinya pula aku me-reject panggilan tersebut sampai aku memutuskan untuk mencopot baterai dari HP, lantas membuangnya ke atas tempat tidur.

“Ada apa, Jiyeon-ah?” Suara Myungsoo Oppa yang terdengar begitu dekat dengan telingaku membuatku kaget. Ternyata Myungsoo Oppa berdiri tepat di belakangku, sehingga saat aku berbalik, wajahku langsung menabrak dadanya.

Seketika aku mengambil satu langkah mundur untuk membuat jarak di antara kami. “O-Oppa, kau mengagetkanku.”

“Apa yang terjadi dengan HP-mu, hm? Rusak?” tanyanya, duduk di tepi tempat tidurku, lalu meraih HP-ku dan memasang kembali baterainya.

A-Aniya,” jawabku sambil merebut HP-ku dari tangannya. “O-Oh, ya, ada perlu apa, Oppa?” tanyaku.

Pria itu menggeleng pelan. “Hanya ingin melihat keadaanmu dan keadaan bayi di sini,” ucapnya sambil mengelus perutku. Menurut perhitungan dokter, bayi di dalam kandunganku ini akan lahir di awal bulan depan. Itu artinya, sekitar 2 minggu lagi.

“Oh, kami baik-baik saja,” jawabku.

Pria itu tersenyum, lalu memandangiku beberapa saat. “Kau pulang jalan-jalan pagi lagi, eoh!?”

Aku mengangguk.

“Oh~” Hanya itu ucapan yang kemudian keluar dari mulutnya. Tidak lama, ia berdiri, lantas berkata, “Aku pergi ke kantor dulu. Hati-hati di rumah,” ucapnya, lalu mengecup keningku.

Lagi, aku hanya mengangguk. Pria itu lantas beranjak menuju pintu kamar, namun baru lima kali ia melangkah—seolah melupakan sesuatu, ia menoleh padaku. “Kalau ada apa-apa, ceritakan saja pada Suzy atau aku, ara!? Jangan simpan sendiri.”

Ne~” gumamku pelan.

Persis di saat Myungsoo Oppa keluar, HP-ku kembali berdering. Ck! Baiklah, Jung Jinwoon, aku akan bicara denganmu.

“Ya! Kau ada perlu apa, eoh!? Bisakah kau berhenti menghubungiku terus?” tanyaku sinis saat aku menjawab teleponnya. Aku duduk di tepi tempat tidur, merapatkan HP di telinga kiriku.

Mianhae,” ucapnya di seberang, “Aku hanya ingin bicara denganmu.”

Sirheo!” tolakku. “Aku tidak mau bicara denganmu, jadi tolong berhenti menghubungiku.” Aku hendak memutuskan panggilannya, namun suara Jinwoon yang memohon terdengar.

“Jiyeon-ah, jebal. Aku ingin bicara denganmu secara langsung. Ada banyak hal yang perlu kita perjelas.”

Aku mendengus samar. “Kita? Apa yang perlu aku jelaskan padamu, Jung Jinwoon? Justru kau yang punya utang penjelasan padaku.”

“Kalau begitu bertemulah denganku, aku akan membayar semua utang penjelasanku,” ucapnya memelas.

“Tidak perlu!” ketusku. “Aku tidak butuh penjelasanmu, ara?”

Jebal, Jiyeon-ah. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting.”

Aku terdiam sejenak untuk memikirkan kata-katanya. “Sepenting apa, eoh? Kenapa tidak bicarakan sekarang saja?”

“Aku tidak bisa mengatakannya melalui telepon, Jiyeon-ah. Kita harus bertemu!” paksanya.

Aku menghela nafas. “Baiklah. Aku akan menemuimu. Tapi, ini yang terakhir kalinya, Jung Jinwoon! Dan jangan pernah menghubungi aku lagi!” tegasku.

“Kita bertemu di Grant Café, jam 10 hari ini.”

“Baiklah~”

“Sampai jumpa.”

Ne.”

Setelah satu kata terakhir itu terucap dari mulutku, Jinwoon pun memutuskan panggilannya. Kembali aku terdiam. Hah, apa yang mau dibicarakan orang itu, eoh!?

-End Of Jiyeon’s POV-

-Suzy’s POV-

Hari ini aku tidak pergi ke redaksi. Kerja lembur beberapa hari cukup membuat staminaku melemah sehingga aku membutuhkan waktu setidaknya satu hari ini untuk beristirahat sejenak dari serangkaian pekerjaan edit-mengedit.

Acara santai hari ini kumulai dengan menonton sebuah kaset film—tentu saja ini aku lakukan setelah sarapan dan membersihkan rumah—yang telah aku beli sebulan yang lalu, namun baru sempat aku tonton sekarang. Ditemani segelas es jeruk dan ubi rebus, kedua mataku menatap lurus layar televisi.

“PRAAK!” Suara sebuah benda yang terjatuh di atas lantai tersebut berhasil membuatku mengalihkan pandanganku dari layar televisi.

“Jiyeon-ah?” gumamku. Lekas aku menghampiri Jiyeon yang tengah kesulitan menunduk untuk mengambil HP-nya yang terjatuh. “Kau mau kemana, eoh!?” tanyaku sambil menyerahkan HP-nya yang sudah aku pungut.

“A-Aku mau… aku mau ke—” Jiyeon tampak ragu mau mengatakan tempat tujuannya. Bahkan, sepertinya berniat pergi diam-diam.

“Kau tunggu di sini, eoh!? Aku akan menemanimu. Jangan coba-coba pergi sendiri Jiyeon-ah,” pesanku, lalu berlari ke kamar dan segera mengganti pakaianku.

A few minutes later

Di dalam taksi menuju Grant Café, Jiyeon duduk di sebelahku sambil memandang ke arah luar jendela. Sesekali ia mengelus perutnya. Tidak mengajakku bicara, bahkan tidak menanggapi pertanyaan yang aku ajukan kepadanya.

Aku menghela nafas. Kuikuti kemaunnya untuk tidak berbicara sampai kami tiba di Grant Café. Meski sebenarnya, aku sangat penasaran, mengapa ia mau pergi ke tempat itu sendirian—jika tadi aku tidak memaksa untuk ikut dengannya.

Taksi yang kami tumpangi pun menepi di depan Grant Café yang berada di kawasan Yongsan-gu. Jiyeon merogoh hobo bag merah marunnya, lantas keluar dari taksi usai menyerahkan sejumalah uang sesuai dengan angka yang tertera di argo. Aku pun menyusulnya keluar dari taksi.

“Jiyeon-ah, mau apa kau ke tempat ini, hm?” tanyaku sekali lagi, berharap kali ini Jiyeon akan menjawab pertanyaanku.

Wanita itu menoleh padaku. “Jinwoon.”

Mwo?

“Aku ingin bertemu Jinwoon di tempat ini.”

Mwoya?” seruku terkejut. “Kau ingin bertemu dengan pria itu?”

Jiyeon mengangguk pelan. “Tolong jangan katakan ini pada Myungsoo Oppa.”

“Tapi, Jiyeon-ah, kau—”

Gwaenchana, Suzy-ya. Kami hanya bicara. Tidak akan terjadi apa-apa.”

“Baiklah, aku akan menemanimu masuk. Aku takut dia mengganggumu lagi.” Jiyeon mengangguk saja. Lalu, kami berdua pun melangkah masuk ke dalam café, mencari keberadaan pria itu.

“Dia di sana.” Jiyeon menarik tangan kiriku menghampiri seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna hijau daun, tengah duduk di kursi, memandangi Jiyeon.

Tepat di saat aku hendak menarik kursi, tiba-tiba pria itu berkata, “Aku ingin kita bicara 4 mata, Jiyeon-ah.”

Mengerti maksudnya, aku pun mengurungkan niatku untuk duduk di sebelah Jiyeon. “Aku duduk di tempat lain, Jiyeon-ah,” kataku, lantas meninggalkan mereka berdua.

-End Of Suzy’s POV-

-Jiyeon’s POV-

Sekarang aku dan Jinwoon duduk berhadapan. Sementara itu, Suzy duduk di kursi yang berada tidak jauh dariku.Kuletakkan tasku di kursi yang berada di sebelahku, kemudian menatap ke arah Jinwoon. Aku menghela nafas, lalu meminta Jinwoon untuk segera mengatakan maksudnya memintaku datang ke tempat ini.

“Aku akan ke Macau,” ucapnya.

“Lantas?” tanyaku, meminta penjelasan lebih.

“Aku ingin kau ikut denganku.”

Aku terkejut mendengar ucapannya yang begitu lancar keluar dari mulutnya. Entah, apa yang ada di pikira pria ini. Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku sudah menikah. Aku bahkan sedang hamil sekarang. Dan dia memintaku untuk ikut dengannya ke Macau? Gila!

“Apa perlu aku mengulang ucapanku, Jung Jinwoon? Aku sudah menikah dan sebentar lagi aku punya anak. Aku tidak akan ikut denganmu. Bahkan jika kau memohon.”

“Oh, ya?” katanya. “Kau pikir aku tidak tahu kalau kau adalah ISTRI KEDUA Kim Myungsoo?!” ucapnya, menekankan nada bicaranya pada kata ‘istri kedua’ seolah dia meledek statusku itu.

Untuk kedua kalinya aku terkejut. “Dari mana kau tahu?”

Pria itu tertawa samar. “Tidak penting aku tahu berita itu dari mana. Tapi, itu benar, kan!?” tanyanya. “Dan wanita tadi, dia adalah istri pertama Myungsoo, kan!?”

Aku terdiam. Dari mana Jinwoon tahu semua hal ini? Apa dia menyewa mata-mata? Dektektif? Apa dia menanyakan hal itu pada teman-teman sekantor? Dari mana dia tahu sampai sejauh itu?

Tiba-tiba, pria itu menyentuh punggung tangan kananku yang berada di atas meja. Mengelusnya lembut. “Ayo, Jiyeon. Ikut denganku ke Macau.”

“….”

“Jiyeon-ah, aku berjanji, kali ini aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan membayar semua kesalahanku di masa lalu, Jiyeon-ah. Aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku akan mencintaimu sepenuhnya. Aku berjanji.”

“….”

“Aku tahu kau masih mencintaiku, kan!? Karena itu kau mencariku. Karena itu, Jiyeon-ah. Ikut denganku ke Macau. Tinggalkan Myungsoo. Tinggalkan pria yang sudah tidak mencintaimu itu.”

Aku terdiam untuk mencerna semua ucapan Jinwoon. Terlebih kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya. Ya, aku tahu dan aku sadar kalau Myungsoo tidak mencintaiku. Dia mencintai Suzy. Dia hanya bersikap baik  padaku karena tidak mau mengecewakan Suzy.

Tapi, aku masih mencintainya. Aku masih mencintai Myungsoo.

“Aku… aku tidak bisa ikut denganmu, Jinwoon,” ucapku akhirnya.

“Tapi, Jiyeon-ah—”

Aku menghela nafas, sebisa mungkin menahan air mataku agar tidak mengalir. “Aku akan tetap di sini karena aku adalah istri Kim Myungsoo.”

“Tapi, dia tidak mencintaimu.”

“Tapi, aku mencintainya!” bantahku cepat, berhasil membuat Jinwoon terdiam. “Karena itu, aku tidak bisa ikut denganmu. Mianhae. Kuharap kau mengerti, Jinwoon.”

Pria itu terdiam.

“Kalau hanya itu yang ingin kau bicarakan, aku permisi,” pamitku, lalu beranjak meniggalkan Jinwoon yang tidak mengucapkan satu patah kata pun. Berjalan begitu saja keluar dari café, hingga aku tersadar bahwa Suzy ikut bersamaku ketika ia berusaha untuk menyamai kecepatan langkahku.

“Apa yang terjadi, Jiyeon-ah?” tanyanya.

“Tidak terjadi apa-apa, Suzy-ya.”

“Lantas, kau mau kemana, eoh?!” tanyanya.

Aku masih berjalan. “Aku ingin duduk di taman itu. Aku lelah.”

“Kalau begitu, kita pulang saja,” usulnya.

-End Of Jiyeon’s POV-

-Suzy’s POV-

“Aniya. Aku mau ke taman itu sebentar, Suzy-ya. Aku ingin menghirup udara segar.” Aku mengangguk paham, lalu berjalan bersama Jiyeon menuju bangku taman yang dimaksudnya. Ia masih terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Ah! Tasku! Tasku ketinggalan di café!” seru Jiyeon tepat ketika kami telah berada di seberang jalan. Berhasil membuatku kaget. Ia terlihat berbalik, hendak kembali ke café, namun lekas aku menahan tangannya.

“Biar aku yang ambil. Kau di sini saja,” kataku.

“Tapi—”

“Kau di sini saja!” tegasku. Jiyeon menurut.

Aku melangkah cepat menyeberang jalan karena mobil yang melintas tidak begitu banyak, namun tiba-tiba, terdengar suara teriakan Jiyeon, “SUZY-YA! AWAAAAS!”

Seperti ada sesuatu yang menahan kakiku untuk melangkah dan begitu kualihkan wajahku ke arah kiri, sebuah mobil tengah melaju kencang ke arahku. “SU—” Aku bisa merasakan tangan Jiyeon menyambar tangan kananku, bermaksud untuk menarikku, tapi ia gagal.

“BUUUUKKK!”

Sebuah benturan yang cukup keras terjadi. Aku terpental dari tempatku berdiri hingga kurasakan tubuhku terbaring di aspal. Sakit. Sakit sekali. Ada cairan kental yang kurasakan mengalir di pelipisku. Cairan kental yang aku yakin adalah darah.

Beberapa orang terlihat menghampiriku seiring dengan penglihatanku yang mulai buram. Suara-suara di sekitar terdengar begitu berisik. Entah mereka bicara apa. Aku tidak tahu. Tapi, dimana Jiyeon?

Sedetik kemudian kurasakan banyak tangan menyentuh tubuhku, lantas mengangkatku masuk ke dalam sebuah mobil. Tepat di saat itu, aku sempat melihat Jiyeon juga tengah digendong oleh seorang pria masuk ke dalam mobil. Jung Jinwoon.

A-Apa dia baik-baik saja?

“Ji-Jiyeon-ah?”

Dan aku tidak tahu apa yang terjadi padaku selanjutnya.

-TBC (>/\<)-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also published on HSF

A/N: Annyeong~ ^^/

Ehm, mianhae ya kalo FF ini lagi-lagi di-post agak telat dan cuma satu minggu sekali. Berhubung karena saya sudah tingkat akhir di kampus (ketahuan tuanya) dan ya… kalian tahulah kalo udah tingkat akhir itu identik sama benda maharibet yang terdiri dari 7 huruf. Jadi harus bagi waktu sama benda-tujuh-huruf-itu dan juga FF ini.

Oh, ya, kemarin ada yang kasi saran buat author kan, ya!? Hehe… saran yang kamu (buat yang merasa) kasi ke author itu juga sempat author pikirkan dan yap… aku pakai di chapter ini. Makasih buat sarannya. ^^

Mmm…, sebelum mengakhiri pertemuan(?) kita di chapter ini, aku mau bilang kalo chapter depan itu mau aku PROTECT. Jadi, minggu depan, kalo mau minta password-nya, bisa contact author via twitter (@im_NRL), FB (Cho Nurul K-Popers II) atau e-mail (anditia.nurul@gmail.com).

Oke deh. Sekian informasinya.

Ditunggu komennya.

355 thoughts on “I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.4]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s