[FF Freelance] Tujuh Lukisan Horror (Chapter 2)

tujuh-lukisan-horor-2nd-chapter_2

Tujuh Lukisan Horor

By marianavivin

Casting :

Jessica Jung | Tiffany Hwang | Bae Suzy

Other Casting :

Kris Wu | Kim Joon Myun | Other

Genre :

Horor | Mystery | Life School

Length :

Chapter

Rating :

PG15+

Disclaimer :

Semua cast dalam cerita ini tetap dan akan selalu menjadi milik agensi dan orang tua mereka. Fanfic ini juga di publish di marianavivin9.wordpress.com. Alur cerita terinspirasi dari buku karya Lexie Xu berjudul sama ^^ no bash or copy, happy reading^^. Special thanks buat Wolveswifeu yang sudah buatin poster ^^

Previous: Chapter 1,

Cerita sebelumnya…

Jessica dan Tiffany mendapat tugas untuk mengusut sebuah surat kaleng yang di kirim kepada kepala sekolah Genie High School. Isi surat mengatakan bahwa sang Reaper Tujuh Lukisan Horor karya Bae Suzy akan keluar dan menghukum para pelaku kejahatan tragedy tahun lalu…lantas, bagaimana cara Jessica dan Tiffany atau Duo Detektif J&H memecahkan kasus ini?

Chapter 2

-Tiffany POV

Aku memandangi celana pendek bermotif Gingerbread yang tersembunyi di balik rok Jessica.

“Sica~yaa, kau yakin kita bisa kabur lewat sini dengan aman?”. Tanyaku sambil menatap sekeliling kami dengan was-was.

“Yakin. Aku udah sering kabur lewat jalan ini. Tidak ada satupun yang bisa menggunakannya selain kita-maksudku yeoja-yeoja ‘tidak biasa’ seperti kita-atau jangan-jangan kau tidak berani loncat?”. Tanya Jessica balik dengan senyuman devilnya yang khas. Sialan. Dia merendahkanku rupanya.

“Tunggu aku sudah di atas, aku liat sikon, baru aku jawab”. Jawabku sambil mulai menaiki pohon yang satu-satunya berada di belakang toilet perempuan. Gila. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa memanjat pohon dengan kecepatan luar biasa seperti ini.

“Ottoke?”. Tanya Jessica ketika kami sudah berjongkok di atas cabang pohon yang untungnya bisa menahan berat badan kami berdua.

“Tidak terlalu tinggi”. Jawabku sambil melihat ke bawah. Ya. Tidak sampai 2 meter sepertinya.

“Kalau begitu…”.

“Oucchhh!!!”.

Bruk

Suara sepatu menghantam aspal itu langsung bersahutan setelah aku dan Jessica turun. Yeoja ini benar-benar gila. Walaupun aku bilang aku tidak takut untuk loncat, tapi tetap saja dia tidak perlu memukul punggungku keras-keras dan membuat posisiku menjadi gamang.

“Annyeong”. Sapa seorang namja yang berdiri tepat di depanku. Namja itu memakai pakaian serba hitam yang membuatnya bisa dikira sebagai malaikat kematian alias Reaper. Ah! Aku jadi teringat lukisan Suzy lagi.

“Ckckck…Sica, kapan kau bisa berubah?”. Tanya seorang namja lain yang kukenali sebagai Kris Wu. Pacar garis miring mantan supir pribadi Jessica dulu garis miring eks Harvard. Untuk yang terakhir itu aku tahu sendiri dari Jessica karena yeoja itu pernah tidak sengaja mengatakannya saat kami berdua makan di kantin.

“Wae? Kau malu?”. Tanya Jessica balik dengan nada mengejek yang justru tidak perlu di tampakkannya. Jelas saja, bagi Kris, Jessica adalah sosok yeoja sempurna yang bisa mendampinginya. Kris itu dingin, cuek. Pokoknya jika dirinya dengan Jessica menikah, aku yakin semua perabotan di rumah mereka tidak akan utuh dalam 1 hari.

“Anio, hanya saja…ah sudahlah lupakan. Ngomong-ngomong perkenalkan, ini temanku, Kim Joon Myun atau bisa kalian panggil…”.

“Suho”. Lanjut namja yang tadi menyapaku, memotong perkataan Kris. Namja itu juga membungkukan badannya di hadapan ku dan Jessica kemudian langsung tersenyum. Omo, manis sekali.

“Jadi, apa yang sebenarnya kalian laku…ya! Apa yang terjadi di sana?”. Jessica langsung membalik badannya ke belakang ketika terdengar suara gerungan motor bersahutan yang sepertinya berasal dari motor besar sejenis Harley.

-Jessica POV

“Nuguya?!”. Teriakku ketika melihat sekitar 5 orang berpakaian serba hitam sedang duduk di atas motor besar berjenis Harley. Gaya mereka benar-benar menjijikkan.

“Sica”. Mir mendekatiku diikuti Jae Bum dan Shindong.

“Apa yang mau kalian lakukan disini? Mengacau?!”. Tanyaku lagi dengan nada tidak sabar. Satu dari pengendara motor itu turun dan membuang puntung rokoknya tepat di depanku. Cari mati. Aku sudah hampir mengangkat tanganku ketika sebuah tangan menyentuh bahuku. Suho. Berani-beraninya dia menyentuh bahuku.

“Sica~ssi, mianhae, tapi mereka teman-temanku”. Aku siap membuka mulut untuk membalas penjelasan Suho tadi ketika namja itu lagi-lagi berbicara dengan nada halus.

“Teman-temanku hanya ingin tahu seperti apa yeojachingu-nya Kris yang legendaris itu, tidak ada maksud untuk mengacau…” Suho mengalihkan pandangannya pada si pengendara motor tadi dan berbicara dengan nada dingin “…kalian sudah liat seperti apa dia, lebih baik kalian kembali, aku tidak ingin ada kekacauan di sini”.

“Ne”. Ucap pengendara motor itu dengan patuh lalu segera memberi isyarat kepada teman-temannya untuk meninggalkan area sekolah.

“Suho~ssi, lain kali tolong jangan bawa teman-temanmu itu ke sini, aku tidak ingin ada yang mengacau di sekolah ini”. Ucapku tanpa memperdulikan tatapan bingung Mir, Jae Bum dan Shindong yang masih terus mengikuti kami.

“Perduli dengan sekolah rupanya”. Sahut Kris sambil tersenyum mengejek. Kulayangkan tinjuanku ke lengan kirinya dan berhasil membuatnya sedikit meringis.

“Tentu saja aku perduli, apa lagi sekarang sedang ada…ouch! Fany~ah, apa yang kau lakukan?”. Tiffany memberikanku tatapan dalam yang ku pahami sebagai tanda bahwa aku hampir saja menyinggung masalah Tujuh Lukisan Horor buatan Suzy. Fiuh~ untung saja.

“Ada apa?”. Tanya Kris dengan nada curiga. Kurasakan Tiffany sedikit menegang di sampingku.

“Anio, maksudku aku perduli karena sebentar lagi akan ada pameran lukisan, jadi sekolah tetap harus tenang”. Kilahku dengan nada biasa. Aku tidak berbohong sepenuhnya kan? Genie High School memang akan mengadakan pameran lukisan empat hari lagi, tapi karena ada si pembuat lukisan horror garis miring bernama Suzy garis miring si gadis Sadako, bisa-bisa pameran itu tidak akan berjalan semestinya.

-Author POV

“Namamu, Tiffany Hwang?”. Tanya Suho ketika dirinya, Tiffany, Kris dan Jessica masih berdiri di pinggir tembok yang memisahkan toilet perempuan di GHS dengan pinggir jalan besar tempat sekolah itu berdiri.

“Mmm, tapi…bagaimana bisa kau tahu namaku?”. Tiffany bertanya balik sambil bergerak tidak nyaman.

“Kris yang memberitahuku”. Suho menunjuk Kris yang masih sibuk ber-argumen dengan Jessica yang topiknya tidak diketahui oleh Tiffany ataupun Suho.

“Fany~ah”. Panggil Jessica tiba-tiba dengan wajah seperti habis menang undian besar.

“Mwoya?”. Tanya Tiffany tanpa nada tertarik sekalipun.

“Kalau kau ingat, bukankah kita mendengar sesuatu tentang geng motor baru-baru ini?”. Jessica tampak melihat ke dalam mata Tiffany ketika akhirnya kedua yeoja itu sama-sama terbelalak.

Mrs.Kwon.

-Tiffany POV

Aku tidak bisa tidur tadi malam dan itu semua karena tiga insiden tahun lalu yang kemarin di ceritakan Mrs.Kwon terus berputar di otakku.

Pertama, tidak mungkin seorang siswa bisa dengan cerobohnya jatuh dari papan loncat kolam renang kami yang tidak terlalu tinggi itu. Kedua kasus pencurian yang melibatkan siswa senior. Tidak mungkin motifnya hanya karena uang semata, pasti ada sesuatu yang lain yang memaksa siswa senior itu untuk mencuri di kantor kepala sekolah. Insiden terakhir, siswi yang gantung diri. Gila. Masalah sepelik apa yang membuat seorang yeoja bisa sampai memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara tragis seperti menggantung dirinya sendiri pada seutas tali?.

Tapi kurasa masalahnya tidak hanya sampai pada itu saja. Sekarang, jika aku lengah sedikit saja dan memikirkan masalah geng motor, hal yang terlintas justru wajah montir tampan garis miring teman Kris garing miring bernama Suho itu. Gila. Bagaimana bisa di saat-saat seperti ini aku justru memikirkan namja itu?.

Mendadak kusadari tali-tali sepatuku sudah terlepas dari ikatannya dan mulai membuat simpul baru yang tidak beraturan. Kalau sekarang aku memilih berjalan, itu pasti sama saja aku memilih untuk mempermalukan diriku sendiri.

“Sica”. Tegurku dan wajah Jessica muncul dari belakang kakiku.

“Apa yang sedang kau fikirkan nona Hwang?”. Tanyanya dengan wajah santai yang tidak menampakkan fakta bahwa dia baru saja mau mengerjaiku.

Nope, hanya misteri surat kaleng itu”. Jawabku. Mata Jessica sedikit menyipit sebelum akhirnya dia membuka mulut lagi.

“Jinjjayo? Bukankah kau sedang memikirkan namja tampan garis miring montir itu?”. Mwo? Apa aku begitu mudah ditebak atau yeoja di depanku ini benar-benar cerdas?. Jessica menaik-turunkan kedua alisnya sambil menatapku. Memastikan bahwa tebakannya tadi benar. Aku memilih untuk tidak menyahutinya dan mulai menguraikan ikatan serampangan karya Jessica pada sepatuku, lalu mulai mengikatnya lagi dengan benar.

“Jinjjayo? Tebakanku benar kan?”. Tanya Jessica lagi dengan antusias.

“Kau sudah beralih profesi menjadi seorang detektif nona Jung? Lebih baik kita urus masalah surat kaleng itu daripada memikirkan masalah lain”.Sahutku mengalihkan pembicaraan. Jessica tidak tampak terkejut dengan jawabanku dan aku tahu bahwa mulai sekarang dia tidak akan pernah meloloskan gerak-gerikku jika kami sedang bersama Kris atau Suho.

Sekarang kau berharap bertemu dengannya lagi Tiffany Hwang?

-Jessica POV

“Jessica, Tiffany”. Suara berat itu seketika membuat badanku kaku. Gila. Aku tidak pernah sekalipun takut dengan guru-baiklah, sebut saja aku kurang ajar-tapi ketika mendengar suara Mrs.Kwon yang tadi menyebut namaku dan Tiffany, aku merasa benar-benar terkejut. Bisa kurasakan Tiffany juga sedikit terkejut di sampingku tapi sepertinya dia bisa dengan cepat memulihkan keadaan dengan menyapa kepala sekolah kami itu dengan sangat hormat dan sopan.

“Kenapa kalian belum masuk ke dalam kelas? Sebentar lagi bel akan berbunyi”. Tegur Mrs.Kwon dengan nada tajam dan tegas.

“Kami ingin mendengar lebih banyak soal tiga insiden tahu lalu,Mrs”. Di sampingku Tiffany menyahut dengan tenang tanda dia sudah memikirkan jawaban itu sebelumnya. Untuk sesaat Mrs.Kwon tidak membuka mulut sampai akhirnya…

“Kajja, kita ke kantor saya”. Aku dan Tiffany langsung saling berpandangan dan dengan patuh mengikuti langkah kaki kepala sekolah kami yang tegap itu dan masuk ke dalam ruangannya.

“Insiden pertama, siswi yang tidak sengaja terjatuh dari papan loncat kolam renang. Waktu itu kolam renang sekolah sedang di kuras dan anak-anak kelas XI IPA-2 sedang mendapat tugas untuk membersihkan kolam renang dan sekitarnya. Krystal, salah satu siswi yang mendapat tugas untuk membersihkan area di sekitar papan loncat terpaksa harus menggantikan tugas temannya, Sulli yang menyikat papan. Malang untuknya, saat dia sudah sampai di atas, tiba-tiba kakinya tergelincir dan tubuhnya langsung terhempas ke dalam kolam yang kosong. Kepalanya membentur ubin dengan keras”.

“Mrs yakin dia tidak di dorong atau ada sesuatu yang di taruh di papan itu?”. Tanyaku tidak sabar. Mrs.Kwon diam sejenak tampak seperti sedang berfikir.

“Tidak, saya yakin. Bahkan ada lima siswa yang melihat kejadian itu”.

“Lima anak itu, apa Mrs bisa memberikan nama-nama mereka pada kami?”. Tanya Tiffany dengan nada sehalus mungkin untuk mencegah Mrs.Kwon berfikir kami memaksa. Sejujurnya, jika saja aku yang tadi bertanya, mungkin akan jadi seperti itu.

“Baiklah, tapi tolong rahasiakan hal ini”. Aku dan Tiffany langsung berpandangan dengan wajah seperti habis memenangkan sebuah undian besar. Belum sempat euphoria itu kami rasakan lebih lanjut, suara tegas Mrs.Kwon langsung menyela.

“Insiden yang kedua, berkaitan dengan siswa senior yang mencuri di sekolah. Tepatnya di ruangan ini”. Aku dan Tiffany langsung mengedarkan pandangan ke sekililing ruangan yang sepertinya memang minta ingin di curi itu.

“Apa yang sebenarnya ingin dia curi?”. Tanyaku penasaran. Jelas-jelas dalam ruangan ini ada banyak barang berharga seperti piala dan beberapa piagam sekolah tapi jika hal ini dilakukan geng motor, rasanya mustahil mereka mau mencuri benda-benda seperti itu.

“Kebetulan saat itu sekolah kita mengadakan penggalangan dana, uang yang terkumpul di simpan di ruangan ini. Dan tepat malam setelah acara itu, siswa senior bernama Kai beserta teman-teman geng motornya masuk ke ruangan ini secara diam-diam dan mengambil uang itu, tapi…”.

“Geng motor apa Mrs?”. Tiffany tiba-tiba menyela penjelasan Mrs.Kwon dengan nada cemas.Aneh. Pasti dia berharap bukan geng motor Suho yang dimaksud Mrs.Kwon.

“The Chaser”.

“Kami akan mengeceknya”. Kataku tegas lalu meminta Mrs.Kwon melanjutkan penjelasannya lagi.

“Tapi ada salah satu petugas security sekolah yang memergoki mereka. Takut aksi mereka di laporkan pada polisi, mereka memilih untuk memukuli security itu yang akhirnya membuat si security harus di rawat di rumah sakit selama 1 minggu. Tapi berkat kesaksiannya-lah kami bisa mengetahui keterlibatan Kai”.

“Insiden yang ketiga?”. Aku semakin semangat untuk mengetahui cerita-cerita ini lebih lanjut. Jelas. Dari semua hal yang di utarakan Mrs.Kwon, tidak ada yang insiden yang bisa mengarah pada lukisan Suzy. Pasti ada hal rumit yang tersembunyi.

“Inilah yang paling misterius. Seorang siswa baru bernama Jiyeon. Dia ditemukan gantung diri di sebuah kelas kosong tepat setelah pembagian nilai akhir. Semua berfikir mungkin dia bunuh diri karena kecewa dengan nilai-nilanya, jadi kasus ini ditutup oleh pihak yang berwajib karena kurangnya bukti yang mendukung selain perkiraan-perkiraan itu, dan…”.

“Dan?”. Tanyaku ketika Mrs.Kwon tidak melanjutkan perkataannya.

“Dan yang paling membuat saya bingung adalah…setelah saya fikir-fikir, saya rasa kejadian-kejadian ini punya hubungan”. Aku dan Tiffany langsung saling berpandangan dan berharap kepala sekolah kami ini mau melanjutkan ceritanya.

“Jiyeon adalah sepupu Krystal, dan Krystal…pernah punya ‘hubungan’ dengan Kai”. Aku hampir berteriak ketika sadar dimana posisiku sekarang. Geez…cerita ini semakin seru saja.

“Saya sudah menceritakan apa yang perlu kalian dengar, jadi tolong rahasiakan ini agar tidak menimbulkan kepanikan di antara para siswa”.

-Author POV

Dua siswi berbeda kepribadian itu hanya bisa diam dengan menyilangkan tangan di depan dada. Tidak ada satupun yang berusaha membuka pembicaraan.

“Masalah geng motor itu…” Kata Jessica lambat “…kita bisa bertanya pada Kris atau Suho”. Tiffany mengangguk.

“Eh kalian berdua!”. Tiba-tiba Jessica menarik dua kerah baju seorang siswa perempuan dan laki-laki yang kebetulan lewat di depan dirinya dan Tiffany. Tiffany hanya bisa melongo melihat tingkah Jessica sampai akhirnya dia sadar kenapa Jessica melakukan hal itu.

“Kalian yang bernama Eunjung dan Junho?”. Tanya Jessica dengan gaya menyelidik bak residivis.

“Ne, waeyo?”. Tanya si yeoja bernama Eunjung dengan nada sinis. Jessica tersenyum kecil. Dingin .

“Kalau gitu kalian pasti  tidak keberatan jika kami tanyai tentang kasus teman kalian, Krystal?”. Tanya Jessica dengan nada semanis mungkin.

“Krystal? Ada apa lagi? Bukankah kasusnya sudah ditutup?”. Tanya si namja bernama Junho yang tiba-tiba terlihat gugup.

“Memang, tapi ada orang iseng yang tiba-tiba ‘ngebuka’ lagi, jadi apa kalian mau memberikan informasi?”. Jessica memajukan wajahnya pada dua wajah yang sedang ketakutan itu.

“Itu…”

-Tiffany POV

Aku hampir tersedak Caramel Macchiato-ku sendiri ketika melihat Jessica sedang berjalan masuk dari gerbang sekolah bersama dua namja tampan yang salah satu dari mereka berhasil membuat beberapa hari hidupku sedikit berubah ketika memikirkannya.

“Fany~ah”. Sapa Jessica sambil menepuk bahuku dengan ‘cukup’ keras. Aku hanya bisa menahan sakit dengan tersenyum lebar kepada Kris dan Suho.

“Kenapa mereka bisa ada di sini?”. Tanyaku sambil menarik Jessica ke luar jarak dengar Kris dan Suho. Jessica tersenyum lebar sambil menepuk pipiku.

“Kau lupa? Hari ini kita ‘diharuskan’ membawa teman dari luar untuk menambah nilai kesenian, jadi…aku memutuskan untuk membawakan Suho untukmu, sementara Kris…” Jessica melirik sebentar ke belakang “…dia selalu patuh dengan perintahku”.

“Tapi tidak harus Suho kan?”. Tanyaku lagi sambil melempar senyum kecil pada Suho yang kurasakan sedari tadi terus memperhatikanku. Jessica memandangku dengan tatapan sulit di tebak.

“Nona Hwang, kau tidak bisa berbohong padaku, aku tahu kau pasti senang jika aku membawa Suho…sudahlah akui saja, ne?”. Aku hanya bisa cemberut mendengar kata-kata Jessica tadi walaupun sebenarnya dalam hatiku aku sedang kegirangan. Oke stop Tiffany.

**

Tidak kusangka auditorium yang cukup luas itu sekarang sudah disesaki oleh banyak orang yang penasaran dengan hasil karya seni sekolah kami.

“Huuuaaaaa!!!”. Koor teriakan itu sontak membuat diriku dan Jessica berpaling ke belakang dimana para namja yang terdiri tadi Kris, Suho, Mir, Jae Bum dan Shindong sedang menatap ngeri ke sebuah sosok yeoja yang wajahnya tertutup rambut panjang.

“Lukisanku diubah lagi”. Ucap Suzy dengan nada datar. Kurasakan Jessica langsung memfokuskan diri pada Suzy dengan mendekati yeoja itu.

“Yang mana?”. Tanya Jessica dengan suara tajam. Suzy segera berjalan ke arah sebuah lukisan yang berada di sudut ruang auditorium dan untuk beberapa saat aku merasa sedang menahan nafas. Aku ingat lukisan ini adalah lukisan  pertama dari tujuh lukisan horor milik Suzy, tapi kurasa yang ini lebih horor lagi. Kali ini sosok yeoja yang berada di lukisan itu terlihat sangat jelas. Rambut hitam yang menutupi mata dengan highlight berwarna biru.

“Eunjung”. Ucap Mir yang berada di belakangku.

“Aku udah nyoba cari dia dari tadi, bahkan aku juga nanya sama Junho dan teman-temannya yang lain, tapi hasilnya nihil. Gak ada satupun diantara mereka yang ngeliat Eunjung”. Suzy menjelaskan dengan panjang apa yang tadi dia lakukan dan itu membuatku justru semakin ketakutan.

“Kita bepencar. Fany dan Suho di sekitar sini. Mir dan Jae Bun nyari di setiap ruang kelas. Shindong di lab, terakhir aku sama Kris bakal nyari di gym”. Jadilah kami seperti pasukan pengintai yang di perbudak oleh Jessica. Tidak ada yang membantah.

“Aku?”. Sebuah suara tiba-tiba menyeruak di antara kami. Astaga, hampir kami melupakan Suzy.

“Lapor ke Minwoo sonsaeng dan ceritain semua yang tadi kamu ceritain ke kita. Juga tentang pencarian ini”. Suzy mengangguk patuh mendengar perintah Jessica dan dua detik kemudian kami sudah berpencar.

“Fany~ah, ruangan apa itu?”. Tanya Suho ketika kami sibuk mencari sosok Eunjung yang bahkan rambutnya saja tidak kami lihat. Aku sontak mengalihkan pandangan ke tempat yang di tunjuk Suho dan merasa ada sesuatu yang janggal pada ruangan itu. Aku tahu itu ruangan yang sering di gunakan oleh para siswa yang ikut Klub Tari untuk menyimpan beberapa property mereka, dan biasanya jika sedang tidak digunakan, lampu di ruangan itu akan di matikan. Tapi tidak dengan saat ini. Seberkas cahaya redup yang kutebak berasal dari senter sedikit menyinari ruangan itu. Mungkin itu sebabnya kenapa Suho tiba-tiba menunjuk ruangan itu.

“Mau mencoba masuk?”. Tanya Suho lagi ketika aku tidak juga membuka mulut. Aku terlalu sibuk memperhatikan sebuah bercak kemerahan yang muncul di tepi pintu yang banyak menerima cahaya. Aku yakin orang-orang yang lewat di sini tidak akan menyadari hal itu kecuali mereka benar-benar memperhatikannya. Aku segera melangkahkan kaki ke depan tanpa menjawab sama sekali pertanyaan Suho tadi, tapi kurasa dia sudah tahu maksudku dan mulai mengikutiku dari belakang.

“Darah?”. Ucap Suho menyuarakan apa yang ada di fikiranku saat melihat bercak-bercak merah yang menempel pada kusen pintu. Dengan sapu tangan yang tadi sudah kuambil dari kantung, aku mencoba membuka pintu itu tapi…

“Terkunci? Kalau begitu tidak ada cara lain kan?”. Tanya Suho dengan nada ringan yang sedikit banyak membuat hatiku kembali tenang. Ya. Aku khawatir dengan Eunjung walau boleh kukatakan aku tidak terlalu senang dengan sikapnya yang terlalu sombong.

Brak!!

Pintu kayu itu terhempas dengan sekali tendangan dari kaki Suho dan pemandangan selanjutnya yang kulihat benar-benar mengejutkanku dan membuat tubuhku lemas.

Tidak ada siapa-siapa. Atau setidaknya, sekarang tidak ada siapa-siapa. Hanya ada berkas pergulatan yg terjadi. Beberapa barang hancur berantakan, termasuk meja bahkan lemari. Yang paling mengerikan adalah bercak darah yang menyebar kemana-mana, terutama bekas tubuh yang diseret di lantai, menguarkan bau amis yang semakin membuat tubuhku lemas.

Tanda-tanda penghancuran tampak dibuat oleh senjata tajam besar sejenis kapak. Geez…otakku seketika melayang pada lukisan horor pertama yang tadi kami lihat. Tidak salah lagi, Eunjung diteror dengan cara yang sama seperti gambar pada lukisan itu.

-Jessica POV

Aku dan Kris sudah hampir 10 menit menggeledah gymnasium ketika kami tidak juga mendapatkan tanda-tanda si yeoja bernama Eunjung itu.

“Mungkin Suho sama Tiffany udah dapat petunjuk, gak ada apa-apa di sini”. Ucap Kris sambil terus mengedarkan pandangan pada ruang kosong itu. Benar juga. Kalau memang Eunjung di culik,akan aneh jika si pelaku membawanya ke gymnasium. Tidak ada satupun ruang tersembunyi dalam tempat para atlet sekolah kami biasa berlatih ini. Dengan kecewa aku lalu menuruti kata-kata Kris tadi dan menuju tempat kami janjian bertemu dengan Tiffany, Suho dan yang lain.

“Sica”. Panggil suara Tiffany yang berasal dari belakang. Aku langsung berbalik dan mendapati wajah yeoja garis miring sahabatku itu-ya aku mengakui kalo Tiffany adalah sahabatku sekarang- sedikit pucat.

“Waeyo? Kau menemukan sesuatu?”. Tanyaku langsung. Dia mengangguk tapi Suho-lah yang menjelaskan.

“Kami nemuin ruangan yang hancur berantakan, gak ada siapa-siapa, tapi ada banyak bercak darah”. Tiffany mengangguk untuk mendukung penjelasan Suho tadi.

“Persis seperti lukisan Suzy?”. Tebakku. Tiffany kembali kembali mengangguk. Geez.

“Ssica~ssi, Tiffany~ssi”. Panggil suara yang kukenali sebagai suara Minwoo sonsaeng. Dibelakang beliau terlihat Suzy yang sedang berusaha menyamai langkah besar Minwoo sonsaeng.

“Sem”. Sapa Tiffany sambil membungkuk..

“Apa kalian mendapat petunjuk? Suzy sudah menceritakan semuanya kepada saya”. Tanya Minwoo sonsaeng sambil menunjuk Suzy yang hanya berdiri dengan kepala tertunduk.

“Ne sem. Saya dan Suho menemukan ruangan yang biasanya dipakai Klub Tari sudah hancur berantakan dengan beberapa bercak darah, tapi tidak ada tanda-tanda Eunjung di sana”.  Untuk sekilas bisa kulihat Minwoo sonsaeng sedang memperhatikan Kris dan Suho dengan seksama. Mungkin berusaha mengenali mereka.

“Sem, lebih baik kita laporkan ini pada Mrs.Kwon”. Selaku cepat-cepat ketika kulihat mulut Minwoo sonsaeng sudah membuka untuk bertanya tentang Kris dan Suho.

“Kau benar, kajja”. Minwoo sonsaeng segera memandu kami untuk menuju ruangan Mrs.Kwon.

“Chakkaman”. Tiba-tiba suara Tiffany menghentikan langkah kami berlima.

“Mwoya?”. Tanyaku penasaran.

“Tidakkah lebih baik kita mengecek apa Eunjung benar-benar datang ke sekolah hari ini atau tidak, karena kalau tadi kuingat dan kalian sadar…ruang Klub Tari tidak punya pintu belakang”. Mataku langsung terbuka lebar. Kata-kata Tiffany masuk akal. Ruang Klub Tari berada di koridor yang lumayan sering dilalui siswa, jika memang Eunjung dibawa kesana oleh pelaku, seharusnya ada yang melihatnya.

“Kita cek daftar tamu”. Ucapku .

“Eunjung pasti datang”. Suara dingin itu tiba-tiba menghentikkan gerakanku. Aku berbalik dan mendapati Tiffany serta yang lain juga sibuk mencerna kata-kata Suzy tadi.

“Mworagu?”. Tanyaku tajam.

“Eunjung pasti datang karena dia anggota Klub Kesenian. Sama seperti Shindong, dia pasti datang pagi”.

“Dan masalah bagaimana cara dia dipindahkan tanpa menarik perhatian orang , aku rasa aku juga tahu jawabannya”. Suzy menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Kami, Klub Kesenian punya kotak-kotak kayu yang biasa digunakan untuk memindahkan patung-patung karya anak kelas sepuluh dan kurasa…” Suzy berhenti sejenak dan menundukkan kepalanya “…mungkin Eunjung di bawa menggunakan kotak-kotak kayu itu”.

“Kita tetap harus mengecek daftar tamu untuk melihat siapa saja selain Eunjung dan anggota Klub Kesenian yang datang pagi”. Tiffany memberikan argument yang langsung kusetujui. Kali ini tidak ada lagi suara dingin yang menyela.

“Hyoyeon~ssi, boleh kami melihat daftar tamu yang datang tadi pagi?”. Tanya Minwoo sonsaeng dengan nada tegas. Tidak rugi kami membawa guru yang satu ini. Yeoja bernama Hyoyeon itu langsung mengangguk dan membuka buku besar tempat para tamu mendaftarkan kehadirannya.

“Suzy benar. Tapi….siapa yang bernama Thunder ini?”. Tanyaku penasaran.

“Dia teman kaya dari temanmu, Mir”. Tidak kusangka Minwoo sonsaeng yang menjawab pertanyaanku.

“Teman kaya?”. Ulang Tiffany bingung. Minwoo sonsaeng melihat sekeliling sebelum akhirnya menjawab dengan nada rendah. “Teman poker”. Oohhhh.

“Sem dengar dia dikerjai habis-habisan oleh Mir sehingga uanganya habis”.  Ada sedikit rasa puas tidak wajar yang terdengar ketika Minwoo sonsaeng mengatakan hal itu. Aneh. Pasti dia sangat membenci namja bernama Thunder ini.

“Sudahlah, lebih baik sekarang kita menuju ruangan Mrs.Kwon”. Minwoo sonsaeng langsung mendorong tubuhku dan Tiffany agar bergerak maju.

-Author POV

Keenam orang itu sudah sampai di depan pintu kayu tebal yang memisahkan koridor dengan ruang kepala sekolah Genie High School ketika Mir,Jae Bum dan Shindong muncul dengan nafas terengah-engah.

“Kami gak dapat apa-apa”. Ucap Mir masih berusaha mengontrol nafasnya.

“Dasar gak berguna”. Umpat Jessica sambil menginjak kaki Mir dengan keras dan sukses membuat namja itu berteriak kesakitan.

“Sudah-sudah, sekarang para namja kecuali saya tolong tunggu di sini saja, awas sampai ada yang berani ikut masuk”. Ancam Minwoo sonsaeng kepada Kris, Suho, Mir, Jae Bum dan Shindong yang terlihat kecewa.

-Tiffany POV

Untuk sekilas aku bisa melihat Suho sedikit terkejut ketika aku balas memandanginya dengan intens. Tapi tidak lama kemudian keterkejutan itu berubah menjadi sebuah senyum yang sialnya membuat jantungku meloncat-loncat kegirangan.

Dan dengan perasaan itulah aku memasuki kantor Mrs.Kwon.

Dan menemukan ruangan itu hancur berantakan. Benda-benda kayu hancur seperti habis di hantam dengan senjata besar sejenis kapak seperti pada ruang Klub Tari tadi. Bahkan ada genangan darah di dekat meja kepala sekolah kami itu. Tapi, yang paling membuat nafasku tercekat adalah ketika Jessica menunjuk sebuah lukisan yang suasananya persis seperti ruangan itu.

Apakah kepala sekolah masih hidup? Atau sudah mati?

Sang Reaper Tujuh Lukisan Horor akan membiarkannya menjadi misteri.

To Be Continue…

Jelek ya? Maaf kalo ceritanya agak membosankan. Author agak kesulitan juga nyusun jalan ceritanya biar tetep sesuai sama yang asli tapi gak bertele-tele. Koment dan saran sangat diperlukan. Gomawo ^^

12 thoughts on “[FF Freelance] Tujuh Lukisan Horror (Chapter 2)

  1. Jujur aja yang part 2 ini agak membingungkan. Terutama pada perpindahan latarnya *tunjuk bagian awal* dan juga masuknya beberapa Support Cast yg terlalu tiba-tiba n dalam jumlah banyak cukup buat pembaca pusing. Pemilihan katanya juga ada beberapa yang berbelit ._.v
    Kalo masalah membosankan atau ngga, menurutku tidak. Malah makin seru^^
    Ditunggu part selanjutnya yaa😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s