[Chapter 3] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji, Nam Woohyun, Park Chorong || Genre : Romance, School Life || Length : Chapter 3/? || Rating : PG-15 || Credit Poster: Fearimaway

Hard to Love  Chapter 3 – Missing

oOo

Gadis itu mendengus kesal sambil menatap kesal ke arah semua orang. Semua orang yang melihat gadis itu hanya tertawa kecil, mereka tahu kalau gadis itu tengah marah. Ya, bagaimana tidak?

BRAK!

Pintu kelas 3-2 itu langsung terbuka. Semua murid di dalam kelas itu langsung menatap ke arah ambang pintu dimana gadis itu berdiri. Woohyun yang tengah makan siang itu langsung tersenyum melihat gadis itu.

“Son Naeun?”

Naeun tak mempedulikan panggilan Woohyun, ia terus berjalan masuk ke dalam kelas itu lalu ia berdiri menghadap ke arah meja Myungsoo. Myungsoo langsung menghentikan aktifitas makan siangnya itu.

Ia mendengus kecil ke arah gadis itu sambil tersenyum mengejek. “Ada apa?”

“Kim Myungsoo!”

Mendengar bahasa yang digunakan oleh Naeun membuat murid-murid kelas 3-2 tercengang karena ketidaksopanan Naeun. Murid-murid yang mendengar berita itu langsung berkumpul untuk menonton adegan itu.

“Kau telah menyebarluaskan foto diriku dan Lee Taemin yang tidak pantas semua orang lihat. Karena foto ini, poinku dikurangi 100 oleh Jung ssaem!”

Semua murid yang tengah menonton adegan itu terkejut bukan main karena poin adalah segalanya. Jika sampai dikurangi artinya murid tersebut telah melakukan sesuatu yang sangat melanggar.

Myungsoo mendesis pelan lalu ia menatap ke arah Naeun yang tengah membara itu. “Hei, Son Naeun, kupikir poinmu tidak akan apa-apa. Toh-.” Myungsoo berhenti lalu menatap ke arah jumlah poin Naeun. “Poin mu masih 390 poin! Tinggal tambahkan 10 poin lagi, poinmu jadi 400.”

“APA?! 390 poin?!” teriak semua murid yang tengah menonton adegan itu.

Naeun tersenyum. “Oh, kau memang tidak tahu kata minta maaf ya? Bagimu maaf itu bukanlah apa-apa. Toh, kau tentu saja bisa dengan mudah mengeluar-masukkan murid yang ada disini.”

“Naeun-ah.” Kata Woohyun pelan.

Naeun menghiraukan panggilan Woohyun. “Apalagi kakakmu itu. Kim Jongwoon! Laki-laki menyebalkan berkepala besar yang telah merusak sepeda kakak-.”

Ngomong-ngomong darimana Naeun tahu bahwa Jongwoon adalah kakak dari Myungsoo? Ya, tadi malam saat telponan dengan Eunji, tidak sengaja Eunji mengatakan ‘Kim Jongwoon’ lantas Naeun segera bertanya. Ternyata dia adalah kakak dari Myungsoo. Eunji yang ahli dalam bercerita menceritakan segalanya panjang lebar.

“Apa urusannya denganku? Kalau kau membenci kakakku, silahkan protes pada kakakku bukan padaku. Lalu kalau sepeda kakakmu rusak, kau minta aku yang membenarkan? Kau meminta aku mengganti rugi?! Aku bisa-.”

PLAK!

Naeun menampar keras pipi Myungsoo. Seluruh murid langsung tercengang. Myungsoo mengalihkan pandangannya sambil memegang pipinya. Tanpa disadari, air mata Naeun kini sudah mengalir. “Kau bisa menggantinya sekarang dengan uangmu yang begitu berlimpah bukan? Tapi harga diri kakakku, kau tidak bisa menggantikannya!”

Naeun segera melangkah pergi meninggalkan kelas itu sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Namun kemudian ia berbalik menuju kelas 3-2 itu lagi kemudian ia menatap Myungsoo tajam. “Kau bukanlah yang terhebat disini, kau hanyalah kakak kelas yang sombong dan tidak mengerti kehidupan orang lain.”

Seluruh murid yang tengah menonton acara itu tercengang mendengar perkataan Naeun. Naeun menghela nafas kemudian ia berjalan pergi meninggalkan kelas itu. Lalu ia berlari sekencang-kencangnya sambil menangis.

 

“KIM MYUNGSOO!!! SIALAN!!!”

Naeun berteriak sekencang-kencangnya sambil menangis. Ia tidak bisa menahan perasaan itu, kemudian ia mengeluarkan ponselnya. Ia segera menelpon ibunya. “Eomma! Berhentilah menjadi pembantu Kim Myungsoo sialan itu!”

Oh, Naeun-ah? Wae guraeyo? Kau menangis?”

Argh!!! Sudahlah, lupakan saja!” teriaknya lalu ia segera menutup ponselnya. “Kim Myungsoo! Lihat saja nanti. Aku pasti akan membuatmu malu di depan seluruh murid Hangeum!”

Son Naeun yang tengah asik berteriak-teriak itu tak menyadari kehadiran Woohyun yang sudah dari awal mendengar pembicaraannya. “Naeun?”

Dengan cepat Naeun menolehkan kepalanya. Ia tercengang ketika melihat siapa yang berdiri di belakangnya. “Oh! Sunbaenim?” ujarnya. “Sudah berapa lama sunbaenim berdiri disini?”

‘Eh, kenapa aku jadi sopan dengannya?’ pikir Naeun. Tak ada salahnya dia baik dengan Woohyun, toh Woohyun bukanlah laki-laki sejahat Myungsoo. Atau juga Hoya yang dia pikir juga baik.

Woohyun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Naeun. “Aku sudah dari awal mendengar teriakanmu. Tadi aku sedang baca buku disana. Tiba-tiba aku mendengar teriakanmu itu, jadi aku menghampirimu.”

“Oh, begitu.” Kata Naeun sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun sebenarnya, ia malu karena Woohyun telah mendengar apa yang diucapkannya.

Lantas Woohyun segera duduk disamping Naeun. Lalu ia melirik ke arah ponsel Naeun. “Oh, ponselmu?”

Waeyo?

“Tidak.” Woohyun segera merebut ponsel Naeun lalu memasukkan kontaknya ke dalam ponsel Naeun. Ia tersenyum kecil. “Nah, ini sudah selesai.” Kata Woohyun sambil menyerahkan ponsel Naeun.

Mwoya? Kau menulis apa di ponselku.”

“Eish, sudahlah, lihat saja nanti saat sudah di rumah.”

Namun, di kejauhan ada sepasang mata yang tengah menatap mereka berdua. Lebih tepatnya pandangan cemburu.

 

Gadis berponi itu tampak berdiam diri disana. Ia tampak berpikir dalam. “Bagaimana bisa Naeun menampar Myungsoo oppa?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Tapi setidaknya dia tidak menampar Howon oppa. Tapi…”

“Apa yang kau lakukan disini?”

“OH! Howon oppa.” Katanya langsung berdiri sambil membungkuk.

“Tidak perlu membungkuk, Eunji.”

Kini Eunji tidak sekasar kemarin, karena ia menyerah setelah melihat wajah Howon yang tampak masam saat Eunji mengajaknya untuk berfoto. Memang pada dasarnya, Eunji bukanlah perempuan yang sekasar itu hanya saja mungkin ada sedikit kelaki-lakian yang muncul dari dalam dirinya.

“Maaf aku tahu ini tempat dudukmu.”

Eunji segera meninggalkan Howon, namun Howon menarik tangannya. Kemudian ia menepuk bangku itu. “Duduk saja, toh ini bukan bangku milikku.”

“Tapi kan sekolah ini milikmu.”

Howon menggeleng pelan. “Sekolah ini milik ayahku.”

**

“Son Naeun, bagaimana kalau kita pulang bersama?”

“Oh, terimakasih sunbaenim. Aku harus pulang dengan Eunji.”

“Yasudah, kalau berubah pikiran bilang saja padaku.”

Naeun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Woohyun yang sudah memasuki mobil mewahnya. Naeun segera berlari menuju kelasnya lalu mengambil tasnya.

Saat melangkah keluar dari kelas, langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah kaki jenjang yang menghalanginya. Ia segera mengangkat kepalanya. Dilihatnya laki-laki itu tajam. “Mau apa kau kesini, Kim Myungsoo?”

“Oh, jadi kau masih kurangajar padaku? Kau mau ibumu aku pecat?”

“Pecat saja! Toh masih banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh ibuku daripada harus mengurus anak bayi sepertimu.”

“Baik, jika itu maumu.”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian ia segera menabrak Myungsoo lalu melangkah keluar dari kelasnya. Ia tak mau mencari masalah dengan laki-laki itu panjang. Ia tahu bahwa Myungsoo adalah laki-laki yang tak bisa sabar.

Di sisi lain, Myungsoo merasa gelisah. “Kenapa aku harus mengurusinya? Sial benar. Kenapa aku jadi mengurusinya. Toh, lagipula aku tidak bisa memecat ibunya.” Kata Myungsoo sambil menatap langkah Naeun yang semakin menjauh.

Akhirnya Myungsoo mengikuti Naeun yang sudah jauh darinya. Dilihatnya Naeun tampak mengeluarkan ponselnya kemudian ia mendekatkan ponselnya ke arah telinga. Naeun menghentikan langkahnya lalu menyenderkan tubuhnya ke arah pohon.

“Oh, Dongwoon oppa!” katanya sambil berteriak. “Oppa dimana? Hm…. Arasseo, aku akan menunggumu di depan gerbang sekolah. Ne…” katanya lalu menutup ponselnya. Kemudian ia berjalan menuju gerbang sekolah.

Myungsoo yang penasaran dengan sosok Dongwoon itu akhirnya berdiri tak jauh dari posisi dimana Naeun berdiri. Tak lama kemudian munculah seorang laki-laki dengan wajah tampan yang mengendarai sepeda berhenti di depan Naeun. Naeun tersenyum kemudian ia segera memeluk laki-laki itu.

Tampak Dongwoon menyuruh Naeun untuk naik ke atas sepeda. Naeun segera menurut lalu ia naik ke atas sepeda. “Oh, itu yang namanya Dongwoon. Sebenarnya Jongwoon hyung mau apa sih dengannya.”

**

“Oh, hyung!”

“Oh, Myungsoo. Kau sudah pulang? Makanan ada di ruang makan!” kata Jongwoon yang tengah asik memainkan playstation nya itu. Kemudian ia mengambil sebuah cemilan.

Hyung, kau merusak sepeda Dongwoon hyung?”

Ne!” katanya sambil berteriak. Namun, dengan cepat ia menghentikan aktifitasnya kemudian ia menatap Myungsoo. “Kau mengenal Dongwoon?!”

“Tidak, hanya saja adiknya-.”

“Adik?! Dia punya adik? Perempuan atau laki-laki?!”

Myungsoo menghela nafas berat. Dia tahu kakaknya yang suka main perempuan itu pasti akan mengacaukan segalanya. “Perempuan.”

“Oh! Cantik atau tidak?”

“Entahlah.”

“Kau ini! Tidak bisakah kau mengatakan seorang perempuan cantik atau tidak? Atau tidak bisakah kau menghapus memori Yoon Sohee?!”

“Diamlah, hyung!”

“Eish, kau ini. Namanya siapa?”

“Son Naeun.”

“Nama yang bagus! Kalau bisa besok kau membawanya ya ke rumah?”

“Hah?! Kau gila? Dia anaknya Yejin Ajjuma!”

“Yejin? Memangnya ada?”

“Ada, bodoh.”

Jongwoon hanya bisa memutar bola matanya. “Yang penting besok bawa dia ke rumah! Bilang saja aku mau memberinya sesuatu sebagai tanda terimakasih ibunya bekerja disini.” Kata Jongwoon.

Tepat saat itu Yejin memasuki rumah mereka. Sepertinya ia baru saja pulang dari pasar. Kemudian ia menatap Myungsoo. “Tuan muda, makanan anda sudah dimasak. Ada di ruang makan.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Terimakasih.”

Yejin segera meninggalkan kedua adik kakak tersebut. “Yah, ibunya saja masih muda cantik. Pasti anaknya juga cantik.”

**

“Naeun, besok bantu eomma ya?” tanya ibunya saat baru saja pulang bekerja sebagai pembantu di rumah Myungsoo. Naeun menganggukkan kepalanya. Karena besok kebetulan adalah hari libur jadi ia memutuskan untuk membantu ibunya, apapun itu. Tapi-.

“Tapi, bantu apa?”

“Bantu masak-masak di rumahnya Myungsoo-.”

“APA?!”

“Memangnya kenapa sayang? Ada masalah?”

Naeun cepat-cepat menggeleng.

“Besok adalah hari dimana orangtua Myungsoo menyempatkan waktu mereka untuk menengok Myungsoo. Jadi mereka memintamu untuk datang.”

“Lalu, Dongwoon oppa?”

“Oh, Dongwoon juga ikut.”

“Bagus, ini akan menjadi hari yang menyenangkan.”

**

Yejin membuka pintu rumah Myungsoo. Hari itu masih pagi, namun Yejin dan Naeun sudah datang. Dimana Dongwoon? Dia masih molor dengan boneka onta kesayangannya. Dongwoon mengatakan bahwa dia sangat capek.

“Oh, eonni sudah datang.”

Yejin menolehkan kepalanya. “Gain? Kau sangat pagi pasti. Sudah beli semua bahan-bahannya?” tanya Yejin sambil tersenyum. Gain menganggukkan kepalanya.

“Sudah, aigooo, ini pasti Son Naeun. Cantik benar anakmu, eonni.” Kata Gain sambil tersenyum lalu mengelus kepala Naeun. Cepat-cepat Naeun membalas senyuman Gain malu-malu.

“Aish, anakku memang cantik. Ayo, sekarang saja kita buat makanannya. Katanya tuan dan nyonya tiba jam 10 pagi.”

“Masih lama, jadi kita bisa sambil mengobrol.” Kata Gain sambil menunjuk jam dinding yang menunjukkan angka pukul 6 pagi – jam dimana Kim Myungsoo dan Kim Jongwoon masih molor enak di tempat tidur masing-masing.

 

Kim Jongwoon yang baru saja bangun segera mandi. Setelah selesai mandi ia segera turun dari kamarnya lalu berjalan menuju dapur untuk meminta makannya. Tepat saat ia hendak memasuki dapur, seorang gadis keluar dari dapur.

Jongwoon mengucek matanya. “Oh, ada gadis cantik disini?” tanya Jongwoon sambil menatap gadis yang tengah mengambil buku-bukunya yang jatuh itu karena tabrakan tadi. Gadis itu segera berdiri lalu menginjak kaki Jongwoon. “Kau yang membuat sepeda Dongwoon oppa rusak!”

Sedangkan Jongwoon berteriak kencang karena injakan kaki Naeun. Naeun segera mengambil makanan yang harus dibawanya keluar. Tepat saat ia hendak menata makanan-makanan itu, Kim Myungsoo turun dari kamarnya lalu melihat ke arah Naeun.

“Oh, siapa itu?”

Naeun mengangkat kepalanya. Kemudian ia tercengang saat melihat Myungsoo yang baru saja turun dari tangga dengan rambut setengah basah yang membuat wajahnya semakin tampan. Cepat-cepat Naeun menghindar lalu ia meninggalkan ruangan makan itu.

“Myungsoo, itu Son Naeun?”

Myungsoo terdiam. Ia menatap rambut gadis itu. Tepat, itu adalah Son Naeun. “Oh! Kau benar, itu Son Naeun.”

 

Myungsoo yang merasa risih atas kehadiran Naeun, hanya bisa terdiam. Apalagi ketika mengingat kejadian tampar-menampar kemarin. Dan kini, mereka harus duduk berhadapan. Naeun hanya memberinya pandangan death glare.

“Ayo, kita makan. Yejin, makanlah sepuasnya. Oh ya, mulai hari ini kau bekerja sebagai pembantu di rumah ini selamanya.”

“Oh, benarkah? Terimakasih, nyonya, tuan!”

Cepat-cepat Naeun tersenyum ke arah orang tua Myungsoo dengan perasaan sedikit tidak ikhlas. Kedua orang tua Myungsoo membalas senyuman Naeun.

Aigo, Yejin, anakmu cantik benar.” Ujar Ayah Myungsoo – Kim Jonghyun – sambil tersenyum kecil.

“Ya, tentu saja, ibunya saja cantik.” Jawab Ibu Myungsoo – Kim Taeyeon.

“Haha, cantik apanya?” kata Myungsoo menengahi pembicaraan itu. Mendengar perkataan Myungsoo, Naeun segera memberinya tatapan membunuh. Cepat-cepat Myungsoo terdiam.

**

“Myungsoo, sekolahmu pulang jam berapa?”

“Jam 3 sore. Kenapa memangnya? Kau mau bertemu dengan Naeun?” tanya Myungsoo tenang sambil mencomoti keripiknya.

“Ya, rasanya dia sangat menarik.” Kata Jongwoon.

“Yasudah, temui saja sepulang sekolah. Dia juga pasti harus menunggu Dongwoon hyung sebelum pulang.”

Jongwoon menatap Myungsoo yang tengah asik bermain ponselnya di atas tempat tidur. “Darimana kau tahu?”

“Ah… eh… Mm.. Itu, dia pernah menyuruhku untuk menemaninya sebentar karena sekolah sudah sepi.” Kata Myungsoo berbohong. Padahal dia meningkuti Naeun waktu itu. Jongwoon hanya bisa menganggukkan kepaalnya.

**

“Naeun kenapa belum pulang?” tanya Dongwoon pada dirinya sendiri yang semakin gelisah saat ia menatap jarum jam yang menunjukkan pukul 5 sore. Adiknya tidak pernah pulang seseore itu.

Karena gelisah akhirnya ia menelpon ponsel Naeun. Tidak aktif.

Dongwoon akhirnya pergi keluar dari rumahnya lalu menuju rumah Myungsoo untuk menemui ibunya. Namun, sebelum ke rumah Myungsoo, ia menghampiri Hangeum High School, pagarnya sudah tertutup. Tepat setibanya di rumah Myungsoo, Myungsoo keluar dari rumah.

“Myungsoo!”

“Oh, pasti Dongwoon hyung. Ada apa?”

“Naeun ada disini?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Ada apa?”

“Naeun belum pulang!”

“Apa?!”

**

12 thoughts on “[Chapter 3] Hard to Love

  1. yaaaahhh…. ini kependekan😦
    aku suka banget sama ff ini, jadi mohon dipanjangin lagi ya?^^
    naeun kemana? kok belum pulang?
    lanjutin ya? lebih panjang!😀

  2. Hah? Kemana son naeun? Jangan-jangan dibawa kabur jongwoon. Oh iya saran lagi sebaiknya buat cast tambahan yg jadi cameo sebaiknya juga ditulis di part dimana mereka muncul

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s