[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 3)

the sweet hate poster 2

 

Judul: The Sweet Hate (part 3)

Author: FZ

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Genre: Romantic, Friendship, Family, Comedy (?)

Main Cast: – Park Chanyeol (EXO)

–          Jang Hye-eun

Disclaimer: FF gagal (-_-) yang pernah dipost di wordpress pribadi >> allfictionstrory.wordpress.com dengan cast berbeda. FF ini udah lama dibuat dan masih belum mendapat perbaikan yang layak. Semoga gak pada ilfeel sama jalan ceritanya J just enjoy the show kkk~

Previous: Part 1, Part 2,

PART 3

Di halaman sekolah.

Chanyeol tengah berjalan menuju mobilnya. Ia terhenti saat melihat Kyungsoo sedang menunggunya seperti biasa. Chanyeol mulai jengkel dengan kebiasaan baru Kyungsoo. Ia jadi tidak bisa pergi dengan leluasa bila Kyungsoo di sampingnya.

Tapi baru selangkah Chanyeol ingin menghampiri Kyungsoo dan memarahinya, ia sudah melihat hal yang membuat panas hatinya. Kyungsoo. Kyungsoo menghampiri Hye-eun yang sedang duduk di bangku taman sekolah sambil membaca buku seperti biasa, ditemani headphone nya.

Chanyeol mematung di tempat itu dan terus mengawasi Kyungsoo.

Setelah berbincang sedikit, Kyungsoo dan Hye-eun berjalan menuju mobil Kyungsoo dan masuk lalu pergi. Chanyeol yang tidak mau kehilangan jejak mereka langsung berlari menuju mobilnya dan mengikuti mobil Kyungsoo.

Aissshh…. Untuk apa ia pergi bersama Hye-eun?” kata Chanyeol kesal.

“Aku saja baru sekali mengajaknya pulang bersama. Itu juga aku sudah bersusah payah,” lanjutnya.

Akhirnya mobil Kyungsoo berhenti di sebuah taman bermain yang cukup terkenal di daerah tersebut. Chanyeol juga memakirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Kyungsoo. Setelah member tiket, Kyungsoo dan Hye-eun masuk ke taman bermain itu. Begitu juga dengan Chanyeol. Dengan penyamaran sederhana, ia memberanikan diri untuk mengikuti mereka. Ia tidak melepaskan pengawasannya. Sampai-sampai ia salah memberikan kartu pelajarnya kepada penjual tiket, bukan uang. Setelah menyadari kesalahannya ia memberikan uang dan masuk ke sana.

Chanyeol terus mengendap-endap bagaikan seekor tikus mengincar sepotong keju yang diawasi seekor kucing. Bukan hanya itu, ia terus mencoba menjauhkan Kyungsoo dari Hye-eun. Saat Kyungsoo mencoba mengenggam tangan Hye-eun, Chanyeol langsung lewat diantara Kyungsoo dan Hye-eun sambil menunduk dan menutupi wajahnya dengan topi yang ia pakai. Lalu saat Kyungsoo mau mengelap es krim yang berada di bibir Hye-eun, Chanyeol langsung menginjak kaki Kyungsoo cukup keras sehingga Kyungsoo kaget dan menjatuhkan sapu tangannya.

Dan inilah saat-saat yang ditunggu Kyungsoo. Ia akan mengungkapkan perasaannya ke Hye-eun.

“Mm.. Hye-eun. Ada yang mau aku katakan padamu,” kata Kyungsoo ketika mereka sedang duduk di sebuah kursi panjang.

Ne,” jawab Hye-eun tanpa memandang Kyungsoo karena sedang asik dengan ponsel-nya.

Kyungsoo mengubah posisi duduknya dan memutar bahu Hye-eun sehingga mereka bertatapan, dan ia mulai memegang pipi Hye-eun dengan kedua telapak tangannya.

Chanyeol yang melihat keadaan dari balik pohon langsung mengambil tindakan. Ia menelepon Kyungsoo ketika Kyungsoo mendekatkan wajahnya ke Hye-eun.

Ponsel Kyungsoo berdering, ia langsung menjauhkan diri dari Hye-eun yang tidak mengerti apa yang dilakukan Kyungsoo tadi, lalu berdiri dan menjawab panggilan tersebut.

Hyeong kau di mana? Aku membutuhkanmu, cepat ke sini!” Chanyeol menyerocos di telepon.

“Bisakah kau memberiku waktu sebentar,” pinta Kyungsoo lalu menoleh ke Hye-eun yang sedang menyedot minuman soda nya.

“Tidak bisa!” bentak Chanyeol. “Cepat kau ke rumahku! Atau aku akan bunuh diri!” Chanyeol memutuskan panggilannya.

Kyungsoo kembali duduk di sebelah Hye-eun. “Aku harus pergi sekarang. Chanyeol membutuhkanku,” ucap Kyungsoo lemas.

“Kau pergi saja, aku tidak apa-apa,” jawab Hye-eun ramah.

“Mau ku antar pulang?” tanya Kyungsoo.

“Tidak usah. Aku masih mau bermain. Lagipula tadi temanku sudah menungguku di tempat ini.”

Geurae,” kata Kyungsoo sambil berdiri, diikuti oleh Hye-eun. “A-aku pergi dulu,” lanjutnya lalu mencium pipi kanan Hye-eun. Hye-eun tidak bisa berkata apa-apa, sebab baru pertama kali ia dicium oleh orang lain, kecuali keluarganya.

Annyeong,” kata Kyungsoo lalu pergi. Hye-eun melambaikan tangan ke Kyungsoo masih dengan ekspresi kaget.

Setelah tersadar ia langsung menelepon Baekhyun, yang sudah menunggunya di restoran yang ada di dalam taman bermain tersebut.

@@@

“Sepertinya auramu sedang tidak baik,” ledek Baekhyun melihat Hye-eun yang sedang tidak bersemangat.

“Kau tahu, ternyata berbuat jahat itu tidak semudah yang aku bayangkan.” Jawab Hye-eun lemas.

Baekhyun menyodorkan segelas milkshake coklat pesanannya yang baru datang ke Hye-eun. “Lebih baik kau minum dulu! menurut penelitian, coklat dapat menghilangkan stres.”

Hye-eun meminum milkshake coklat itu.

“Ceritakan saja padaku apa masalahmu,” kata Baekhyun tenang.

“Ku pikir dengan mendekatkan diri dengan Kyungsoo akan melancarkan misi-ku. Tapi ternyata, ia malah membuat rumit misi-ku,” kata Hye-eun mulai tenang.

“Maksudnya?” tanya Baekhyun tidak mengerti sambil memajukan kursi yang ia duduki.

“Dia jatuh cinta padaku,” jawab Hye-eun singkat hingga membuat Baekhyun yang sedang menyedot milkshake miliknya tersedak.

“Apa!? bagaima… ma.. maksudku kau akan menghancurkan dua hati sekaligus?” kata Baekhyun tidak percaya.

“Aku bukan orang sekejam itu!” bantah Hye-eun. “Aku hanya harus memikirkan bagaimana caranya menjauhkan Kyungsoo.”

Baekhyun berpikir beberapa saat.

“Aku punya ide,” katanya bersemangat, hingga membuat Hye-eun tertarik dan memajukan wajahnya. “Yaitu dengan memanfaatkan keberadaan Chanyeol. Dan kali ini aku yang menjadi peran pentingnya,” Baekhyun tertawa.

“Benarkah? bagaimana?” tanyaHye-eun penasaran.

@@@

Chanyeol tengah mengendarai mobilnya di sekitar taman kota. Entahlah, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya untuk jalan-jalan sore ke taman itu. Oke, menurut Chanyeol ini tidak buruk. Malah…. ia merasa lebih baik—setelah kejadian taman bermain itu.

Taman itu memang dipenuhi banyak orang. Ada yang berjalan-jalan sendiri atau bersama pasangannya, ada yang bersepeda di trotoar sekitar taman maupun di jalan kecil, di taman tersebut, dan ada juga anak kecil yang bermain-main dengan daun-daun yang sedang berguguran. Sesekali mereka meniup-niup daun tersebut dan tertawa. Chanyeol sengaja memperlambat mobilnya ketika ia memutari taman tersebut. Untuk menikmati aroma angin musim gugur, begitu menurutnya.

Tapi ketika ia memutari taman tersebut, ia melihat dua sosok yang ia kenal. Mereka berdiri di dekat sebuah pohon besar, di taman tersebut, namun posisi mereka bisa dilihat dari trotoar taman.

Chanyeol pun memundurkan mobilnya dan berhenti di tempat yang tak terlalu dekat dari dua orang itu.

Mereka adalah Hye-eun dan Baekhyun yang sedang mengobrol sambil berdiri di dekat pohon yang sedang berguguran, menjatuhkan daun-daun yang berwarna coklat keoranyean. Mereka mengobrol sambil ditemani daun yang berjatuhan satu persatu, dan kadang terjatuh di rambut mereka berdua.

Chanyeol memperhatikan mereka dengan seksama. Ternyata mereka bukan sedang menikmati awal musim gugur ini, tapi membicarakan hal yang lebih serius. Itu bisa diketahui Chanyeol, sebab ia melihat ekspresi Hye-eun yang sedih atau bisa dibilang sudah menangis terisak.

Baekhyun memegang bahu Hye-eun. Tapi Hye-eun masih terus mengangis tertunduk sambil mengucapkan sesuatu, kemudian Hye-eun menutup wajahnya dengan tangannya. Chanyeol tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, karena jarak mereka cukup jauh, ia hanya bisa memastikan bahwa mereka berdua sedang bertengkar.

Tiba-tiba emosi Hye-eun meningkat setelah Baekhyun mengatakan sesuatu padanya. Hye-eun menampar pipi kiri Baekhyun dengan tangan kanannya sehingga wajah Baekhyun terlempar ke kanan. Baekhyun langsung memegangi pipi kiri-nya sedangkan Hye-eun pergi meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku di tempat itu.

Tanpa menunggu lagi, Chanyeol langsung menyalakan mobilnya dan pergi mencari Hye-eun yang kemungkinan besar masih ada di taman itu.

Akhirnya ia melihat Hye-eun yang tengah berjalan di trotoar sambil terus mengusap matanya. Ia terlihat begitu emosi, sehingga ia berjalan dengan tidak tenang dan sering kali menabrak orang yang berjalan di trotoar itu.

Chanyeol merasa kasihan dengan Hye-eun. Ia memberhentikan mobilnya dan turun lalu mengejar Hye-eun yang tengah berjalan. Ia menarik lengan Hye-eun, hingga Hye-eun berhadapan dengannya.

Chanyeol melihat mata Hye-eun yang sembab dan bengkak, serta wajah Hye-eun yang memerah. Melihat Chanyeol di hadapannya, Hye-eun langsung memeluk Chanyeol dan menangis dipelukannya. Tangisan Hye-eun cukup keras, sampai-sampai orang yang sedang lewat di sekitar melihat mereka. Sebelum orang-orang menyadari kalau dia Park Chanyeol, dan karena takut menyebar gosip yang tak sedap tentangnya, Chanyeol langsung membawa Hye-eun masuk ke mobilnya dan mengajaknya ke suatu tempat.

“Kau sudah merasa baikan?” tanya Chanyeol ke Hye-eun yang sedang duduk di bangku panjang, di sebuah taman yang sepi namun indah. Chanyeol sengaja memilih tempat itu, karena belum banyak yang tahu tentang taman tersebut. Jadi, masih belum banyak pengunjung yang datang.

Hye-eun menggeleng, sambil terus terisak dan mengusap airmatanya dengan sapu tangan yang Chanyeol berikan.

“Apa yang terjadi denganmu dan……… Baekhyun?” ucap Chanyeol. Saat mengucap nama ‘Baekhyun’ ia mempercepat pengucapannya.

Hye-eun terdiam sejenak. “Dia… dia mencampakkanku,” kata Hye-eun lalu kembali terisak pelan.

“Kau dicampakkan?!” kata Chanyeol kaget sambil menaikan nada bicaranya.

Chanyeol mulai memanas dan berdiri sambil mondar-mandir di hadapan Hye-eun. Sebetulnya, di dalam hati, Hye-eun merasa bingung apa yang Chanyeol perbuat. Maksudnya untuk apa Chanyeol mondar-mandir di hadapannya. Namun ia mencoba menahan diri sambil terus berekspresi sedih.

Chanyeol menghentikan langkahnya. “Sudahlah Hye-eun, kau memang tak pantas untuk lelaki bodoh sepertinya.”

Hye-eun mengangkat kepalanya karena sedari tadi ia menunduk.

“Aku akan membantumu melupakannya,” kata Chanyeol sambil menunjukan senyum tulusnya. Dan secara tidak langsung, Chanyeol mengungkapkan perasaannya ke Hye-eun.

Jujur baru kali ini Hye-eun melihat senyum tulus Chanyeol, jadi dia merasa sedikit kaget melihat senyum yang sangaaaaaat manis itu.

Hye-eun membalas senyuman itu. “Terima kasih. Tapi, kau tahu, aku tidak mungkin melupakannya secepat itu.”

No problem,” jawab Chanyeol singkat.

Chanyeol mengajak Hye-eun menonton film di sebuah bioskop. Tentu saja dengan penyamaran khusus. Kalau tidak, entah bagaimana nasib Chanyeol menghadapi para fans-nya. Hye-eun hanya tertawa-tawa melihat tingkah Chanyeol yang mengendap-endap agar tidak ketahuan. Tapi, menurut Hye-eun itu malah membuatnya tambah mencolok.

Setelah membeli tiket, popcorn dan minuman soda, mereka pun masuk ke ruang pertujukan. Kali ini Chanyeol sengaja memlilih film horror agar membuat Hye-eun ketakutan dan akhirnya memeluknya, begitulah pikiran Chanyeol. Ternyata rencana Chanyeol berhasil. Hye-eun memeluk lengan Chanyeol ketika ia ketakutan. Sebenarnya Hye-eun terpaksa melakukan hal itu supaya rencananya berhasil. Di dalam hatinya, Hye-eun terus menggerutu tentang apa yang ia lakukan sekarang.

Setelah film usai, Chanyeol mengantarkan Hye-eun pulang. Setelah sampai di perkarangan rumah keluarga Jang, Hyesung langsung berlari menuju mobil Chanyeol setelah mendengar suara mobil Chanyeol memasuki perkarangan rumah. Ia mendorong kakaknya sendiri yang baru saja turun dari mobil dan ingin memberikan terima kasih ke Chanyeol.

Hye-eun memutar matanya, dan langsung menghambur masuk rumah menuju kamarnya. Setelah menutup pintu dengan keras, ia menuju tempat tidur dan merebahkan badannya di sana.

“Huuh.. sungguh menyedihkan hari ini,” ucap Hye-eun pada dirinya sendiri.

Nyonya Jang mengetuk pintu kamar Hye-eun. Setelah diizinkan Hye-eun masuk, Nyonya Jang pun masuk. “Chanyeol menunggumu di bawah,” kata Nyonya Jang kepada Hye-eun yang sedang tengkurap di ranjangnya.

Eomma, aku lelah sekali. Suruh dia pulang saja,” jawab Hye-eun malas.

“Hye-eun,” kata Nyonya Jang sedikit memaksa.

Arraseo.. arraseo, aku turun,” tukas Hye-eun jengkel.

Dia harus menunjukan senyum palsunya itu lebih lama lagi. Dia sudah cukup lelah untuk berpura-pura. Namun demi misi-nya ini, dia rela.

Akhirnya Chanyeol pulang juga, setelah Nyonya Jang dan Hyesung menjamunya dengan baik—bahkan berlebihan. Hye-eun berjalan menuju kamarnya, tapi Hyesung mencegahnya.

Eonni, kau berpacaran dengan Chanyeol Oppa?” tanya Hyesung.

“Kau tidak perlu tahu,” jawab Hye-eun cuek dan melanjutkan langkahnya.

Hyesung berlari mendahuluinya dan merentangkan tangannya di hadapan Hye-eun, membuat Hye-eun menghentikan langkahnya.

“Kau mau apa sih?” tanya Hye-eun kesal sambil berkacak pinggang.

Eonni harus berpacaran dengan Chanyeol Oppa. Supaya aku dikenal oleh semua orang bahwa aku, calon sepupu Park Chanyeol,” kata Hyesung memasang wajah tidak sukanya.

Hye-eun menghela nafas, mencoba untuk tidak tertawa mendengar perkataan dangkal adiknya. Dan juga mencoba untuk tidak meninju wajah adiknya yang sangat menyebalkan itu.

“Nanti ku usahakan,” kata Hye-eun mencoba menyenangkan Hyesung.

“Kau sungguuuuuuuh baik,” puja Hyesung sambil memeluk pinggang Hye-eun.

Ya! sudahlah, aku mau mandi,” kata Hye-eun sambil melepaskan pelukan Hyesung.

“Kau belum mandi? pantas daritadi aku mencium bau seperti kaus kaki Appa,” ucap Hyesung iseng, lalu berlari.

“HYEEESUUUUNG !!!!!”

@@@

Pagi hari, di sekolah.

“Hyeeuuunn…” seseorang memanggil Hye-eun yang sedang membuka lockernya.

Sooji menghampiri Hye-eun dengan terengah-engah sambil memegangi lututnya. “Kau sudah putus dengan Baekhyun?” tanya Sooji.

Setelah menaruh bukunya di locker, Hye-eun menutupnya dan menoleh ke Sooji. “Tahu dari mana?”

“Semua sedang membicarakanmu. Kalau bukan Chanyeol pasti Eunjung yang menyebar gosip ini,” kata Sooji mulai tenang.

“Sooji,” kata Hye-eun pelan. “Menurutmu, aku ini artis? mengapa semua orang selalu membuat gosip tentang diriku, sih?” tanya Hye-eun gusar.

“Mungkin kau berbakat menjadi artis,” ucap Sooji lugu.

Hye-eun memutar bola matanya dan pergi dari Sooji. Sooji terus memanggilnya, tapi ia pura-pura tidak mendengarnya.

Di lapangan basket. Chanyeol tengah berbincang dengan Sehun dan Luhan, di pinggir lapangan, tempat bangku penonton. Chanyeol asik bersandar dengan sebelah sikunya yang ia letakkan di bangku penonton di atasnya. Hye-eun mendatangi mereka dengan langkah marah. Ia berhenti di hadapan mereka bertiga. Chanyeol menoleh ke wajah kesal Hye-eun, lalu berdiri.

“Sudahkah kau puas menyebar gosip tentangku?” tanya Hye-eun.

“Ayolah, ini hanya masalah kecil, kau tidak harus marah-marah begitu,” kata Chanyeol memegangi kedua pundak Hye-eun.

Hye-eun melepaskan pegangan Chanyeol. “Bisa-bisa aku menjadi artis nantinya.”

Chanyeol tertawa. “Bukankah itu bagus? kau, dan aku, akan menjadi pasangan teromantiiiiiiiiiiis sedunia.”

Hye-eun mulai naik darah. Wajahnya mulai merah padam, menahan amarahnya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Hye-eun, bagaimana kencanmu kemarin dengan Chanyeol?” tanya Sehun tiba-tiba.

Hye-eun menatap tajam Sehun lalu berpindah ke Chanyeol. Lalu memunculkan senyum palsunya ke arah Chanyeol. “Tentu saja menyenangkan. Ya kan, Chanyeollie,” sahut Hye-eun sedikit tajam pada akhir pengucapannya.

Chanyeol mulai takut dengan perubahan sikap Hye-eun yang begitu cepat.

“Nanti kita jalan-jalan lagi ya!” sambung Hye-eun. Lalu pergi dengan ekspresi datar.

“Dia itu sedikit…..” kata Luhan sambil memutar jari telunjuknya di pelipis.

Chanyeol hanya tertawa ringan. “Anak Babi Gendut memang seperti itu sifatnya.”

Pulang sekolah, Chanyeol melihat Hye-eun tengah berdiri sambil melipat tangannya di samping mobil sport merahnya, yang  ia bawa hari ini ke sekolah. Ia pun berhenti sejenak. Wajah Hye-eun tampak tidak menggambarkan suasana hati yang baik. Hye-eun merapatkan jaketnya, ketika angin mulai bertiup.

Hye-eun menoleh ke arah Chanyeol yang sedang berjalan menghampirinya. Ia mendahului mendekati Chanyeol, dan berhenti. “Chanyeol, maukah kau membantuku?” tanya Hye-eun memelas.

Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aneh, kemarin ia marah-marah pada Chanyeol, kini Hye-eun memelas ke Chanyeol. Kali ini, Chanyeol benar-benar merasa takut akan kejiwaan Hye-eun. Ia sudah bersiap-siap memanggil ambulans, bila nanti Hye-eun langsung marah-marah kepadanya.

“Maksudmu?” tanya Chanyeol balik.

Hye-eun menghela nafas panjang dan mulai bercerita. “Baekhyun terus memintaku agar aku kembali padanya. Tapi, aku sudah tidak bisa lagi. Malah, malam ini, ia mengajakku makan malam.”

Chanyeol terperanjat kaget. Makan malam?? berdua dengan Baekhyun?? sial!!.

“Jadi kau mau berpura-pura menjadi…….” Hye-eun memikirkan kata-kata. “Pacarku?” tawar Hye-eun hati-hati, takut ada yang mendengar perkataan mereka. Salah-salah nanti ada gosip baru.

Chanyeol mengangguk yakin. “Tentu saja. Sebagai teman aku pasti akan membantu.” Sebenarnya bukan karena hal itu. Chanyeol hanya mau dekat-dekat dengan Hye-eun saja. Jangankan pacar bohongan, pacar sungguhan pun Chanyeol setuju. Ternyata rencana Hye-eun berjalan mulus. Chanyeol mulai termakan rayuan Hye-eun. Dalam hati Hye-eun terseyum bahagia melihat tanggapan Chanyeol.

“Benarkah??” tanya Hye-eun penasaran, Chanyeol mengangguk lagi. “Terimakasih Chanyeol!!!” kata Hye-eun sambil memeluk Chanyeol.

Chanyeol menikmati eommaent yang berharga ini. Akhirnya Hye-eun melepaskan pelukannya.

“Kau bisa kan, menjemputku malam ini, jam tujuh malam?” tanya Hye-eun sambil melihat Chanyeol dengan puppy facenya.

As your plesure, my Princess,” kata Chanyeol sambil mencubit pelan kedua pipi Hye-eun. Dia jadi teringat kenangan masa kecilnya. Ia sering mencubit pipi Hye-eun yang tembam, sampai merah, dan tentunya sampai Hye-eun menangis.

Hye-eun tersenyum. Setelah berpamitan, ia pergi meninggalkan Chanyeol. Ia mengambil langkah seribu menuju wastafel terdekat. Setelah menyalakan keran, ia menyapu air di kedua pipinya. Setelah merasa cukup, ia mengeringkan pipinya dengan tisu steril.

“Apa-apaan dia? seenaknya menyentuh pipiku,” Hye-eun mendumel sendiri sambil terus menyeka pipinya.

@@@

            Malam hari.

Chanyeol menjemput Hye-eun lebih awal dari yang dijanjikan. Ia memakai kemeja abu-abu-putih, dan jas yang berwarna sama dengan celanannya, yaitu abu-abu tua.

Hyesung langsung menghampiri Chanyeol dan menariknya ke ruang tamu untuk mengajaknya berbicang. Aneh. Kalau ia menyukai Chanyeol, mengapa dia menyuruh Hye-eun agar berpacaran dengan Chanyeol? Sebenarnya, dari awal Hye-eun juga memikirkan itu. Dia baru menyadari, kalau Hyesung sedikit memiliki gen Eomma-nya, sebagai orang yang tidak dapat ditebak jelas maksud tujuan hidupnya.

Hyesung, Nyonya Jang dan Tuan Jang sedari tadi memanggilnya dari balik pintu kamarnya secara bergantian. Hye-eun yang belum siap mental karena harus memunculkan senyum palsunya itu (lagi), membalas dengan kalimat yang sama. “Iya sebentar aku sedang bersiap-siap.”. Berkali-kali Hye-eun melakukan senam wajah dari tadi siang. Sebetulnya Hye-eun sangat ingin mengeluarkan sifat aslinya ke Chanyeol, tapi kalau begitu rencananya akan gagal.

Akhirnya ia keluar dari kamarnya, berjalan menyusuri ruang keluarga yang berada di lantai dua, lalu menuruni tangga. Ia memakai gaun chiffon dengan kombinasi dua warna, yaitu biru tua dan hitam dengan aksen frill pada bagian leher, sepanjang lima senti di atas lutut, dan memakai tanktop hitam sebagai dalamannya. Ia juga menggunakan sepatu flat hitam, ballerina dengan pita kecil polkadot putih dibagian depannya. Rambutnya yang diikat setengah, dihiasi dengan jepitan pita putih yang unik. Ya, Hye-eun termasuk orang pecinta pita. Ia juga membawa dompet tangan hitam.

Chanyeol tertegun melihat penampakan Hye-eun, seperti melihat bidadari yang turun dari langit ke tujuh. Ia mendekati Hye-eun yang sudah menginjakan kakinya di anak tangga terakhir. Ia menadahkan tangannya, bermaksud untuk bergandengan dengan Hye-eun. Dengan berat hati atau bisa dibilang terpaksa, Hye-eun menyambutnya sambil tersenyum lembut.

Setelah berpamitan dengan Nyonya Jang, Tuan Jang, dan Hyesung, mereka berdua mulai berangkat ke tempat tujuan.

Di perjalanan.

“Di sana kau harus berpura-pura menjadi pacarku, ya!” kata Hye-eun dingin.

“Ehm.. disana tidak ada …….”

“Ya, di sana tidak ada wartawan yang bakal mengeksposmu. Kalaupun iya, aku pasti akan mencari alasan, bisa berdua denganmu ke sana,” tukas Hye-eun sebelum Chanyeol melanjutkan perkataannya.

“Walaupun ada, tidak apa-apa,” kata Chanyeol sambil tersenyum. “Nantinya kau juga menjadi pacarku. Hmp…” Chanyeol langsung mendekap mulutnya sendiri.

Hye-eun tidak peduli dengan perkataan Chanyeol. Malah sekarang ia memasang headset di telinganya. Daripada mendengar Chanyeol yang menyerocos, lebihbaik ia mendengar lagu-lagu Beyonce dan Rihanna.

Akhirnya mobil memasuki lapangan parkir salahsatu restoran Prancis. Setelah memberhentikan mobilnya, mereka pun turun. Hye-eun langsung melingkarkan lengannya di lengan Chanyeol. Dia bilang, itu dilakukan supaya Baekhyun percaya bahwa mereka benar-benar pacaran.

Mereka masuk, dan menuju meja yang sudah diduduki sesosok pria yang memakai jas hitam, yang sudah mereka kenal, Baekhyun. Ia sedang menunggu mereka sambil meminum segelas anggur. Baekhyun langsung mendongak melihat Hye-eun berjalan mendekatinya sambil merangkul lengan Chanyeol.

“Maaf. Sudah membuatmu menunggu,” kata Hye-eun datar.

Baekhyun bangun dari duduknya. “Hye-eun, kenapa kau membawa ……. Dia!” saat mengucap ‘dia’, mata Baekhyun langsung menatap tajam Chanyeol. Chanyeol juga tidak mau kalah, ia malah menggenggam tangan Hye-eun yang dilingkarkan di lengannya.

Hye-eun yang masih berdiri menjawab. “Sekarang, dia ini pacarku,”

“Dan….. bolehkah kami duduk?” lanjut Chanyeol.

Akhirnya Baekhyun mempersilahkan mereka duduk dengan wajah yang menggambarkan bahwa ia terpaksa menyuruh Chanyeol duduk. Setelah memesan makanan, suasana disana menjadi serius, bahkan hening.

“Hye-eun, kenapa kau mau dengan anak cengeng seperti dia?” tanya Baekhyun. Lagi-lagi sambil menatap tajam Chanyeol.

“Mungkin karena aku lebih pantas darimu,” sahut Chanyeol dengan tatapan merendahkan.

Hye-eun menginjak kaki Chanyeol, sehingga ia meringis kesakitan. Maksud Hye-eun, supaya Chanyeol tidak terus menyerocos. Untung saja Hye-eun tidak menggunakan stileto. Kalau iya, pasti kaki Chanyeol langsung lecet, dan sepatu mahalnya akan memiliki bekas ceplakan hak sepatu tersebut.

“Maaf Baekhyun. Mungkin dengan hal ini, kau bisa melupakanku.” jawab Hye-eun, berpura-pura tertekan.

Baekhyun meraih tangan Hye-eun yang berada di atas meja dengan kedua tangannya. “Aku tahu, kau pasti masih memiliki rasa terhadapku.”

Waakkksss.. Chanyeol tidak tinggal diam. Ia langsung memisahkan tangan Baekhyun dari tangan Hye-eun, lalu memegang tangan Hye-eun erat-erat, dan memamerkannya kepada Baekhyun. Hye-eun menatap Chanyeol dengan tatapan aneh. Lalu menoleh lagi ke Baekhyun.

“Tidak ada yang tahu perasaanku sebenarnya. Jadi……” Hye-eun mulai menangis. “Jadi maafkan aku,” kata Hye-eun lalu melepaskan pegangan Chanyeol dan berdiri dari kursinya, kemudian berlari meninggalkan meja tersebut.

Baekhyun dan Chanyeol memandang heran Hye-eun. Chanyeol pun mengejar Hye-eun, dan tentu sebelumnya mengancam Baekhyun.

@@@

“Tadi sangat menyebalkan, seonbae tahu?” kata Hye-eun di telepon. Kini ia sudah berada di kamarnya, berganti pakaian menjadi piyama, membersihkan make-up, tengkurap di kasur empuknya. Setelah Chanyeol mengejarnya, dan mengajak Hye-eun ke rumah Chanyeol.

Baekhyun tertawa. “Bagaimana kau bisa berada disana setelah berpisah denganku?”

“Chanyeol terus membujukku untuk ke rumahnya. Ku kira ia akan melakukan macam-macam terhadapku. Ternyata ia hanya mengajakku makan malam di sana, setelah ia menyadari bahwa aku tidak menyentuh makananku sama sekali,” jelas Hye-eun, menggambarkan kejenuhannya.

“Ternyata ia tidak terlalu buruk, untuk seorang pria.”

“Memang. Tapi, aku harus membuang airmataku secara Cuma-Cuma dihadapannya,” tukas Hye-eun kesal, Baekhyun tertawa lagi. “Ini semua gara-gara seonbae menyuruhku sampai menangis segala.”

Mianhae… mianhae..,” kata Baekhyun masih terisak, setelah tertawa.

“Apakah adikmu mau membantuku, seperti yang kau janjikan?” tanya Hye-eun antusias, sambil duduk bersila di kasur tersebut.

“Ya. Baek Hyo berhasil kurayu, setelah aku menjanjikan nomor ponsel Chanyeol kepadanya,” jawab Baekhyun.

Ne!? Maksud seonbae dia penggemar si Mulut Lollipop itu?”

Baekhyun mengangguk, ternyata ia begitu bodoh. Mana mungkin Hye-eun dapat melihat anggukannya itu. “Ne.” jawabnya singkat.

Hye-eun menghela nafas. “Ya sudahlah. Daripada aku harus memohon pada Hyesung, lebih baik kepadanya,” kata Hye-eun akhirnya.

“Dan sepertinya kau harus berakting menangis lagi, Hye-eun,” kata Baekhyun.

@@@

Chanyeol menyerahkan sekaleng minuman soda ke Hye-eun. Kini mereka sedang berada di taman yang sepi, yang dulu pernah mereka datangi. Tentunya, kerena tidak mau terkena resiko, Chanyeol harus menyamar.

Chanyeol duduk di bangku taman, di sebelah Hye-eun. “Kau sudah baikan, dari semalam?” tanya Chanyeol sambil membuka tutup minumannya.

Hye-eun meneguk minumannya. “Kiranya begitu. Tapi, aku belum yakin dengan perasaanku,” jawab Hye-eun memasang wajah sedih.

“Sudahlah, orang seperti dia tidak usah dipikirkan!” balas Chanyeol.

Sesaat kemudian Chanyeol melihat Baekhyun berjalan sambil merangkul seorang gadis di jalan yang tak begitu jauh dari tempatnya. Ia begitu terkejut, dan langsung menutup kedua mata Hye-eun, yang sedang menunduk.

Aisshh… mwoya??,” kata Hye-eun mencoba melepaskan tangan Chanyeol.

An..aniya. A..aku hanya ingin memberikanmu kejutan,” jawab Chanyeol masih menoleh ke Baekhyun.

Baekhyun tidak pergi dari tempat tersebut. Ia malah duduk di bangku taman yang berada di sisi jalan tersebut, dan tentunya Chanyeol dapat melihatnya dengan jelas. Baekhyun terus bermesraan dengan gadis itu. Mereka terlihat begitu senang dan akrab. Awalnya, Chanyeol pikir gadis itu adalah saudara Baekhyun, namun melihat gelagatnya, sepertinya bukan.

“Chanyeol, sudah belum?” tanya Hye-eun, membuyarkan lamunan Chanyeol.

“Sebentar lagi.”

“Aku mau ke toilet.”

“Di..disini tidak ada toilet.”

“Baiklah kalau begitu. Antar aku pulang saja.” pinta Hye-eun.

“Oke, tapi aku harus tetap menutup matamu.”

Hye-eun mulai kesal. Dengan sekuat tenaga ia melepas tangan Chanyeol, dan berhasil. Hye-eun berdiri dan menatap Chanyeol yang masih duduk. “Waeyo???” tanyanya kesal.

Chanyeol terdiam, tidak menjawab. Ia terus menunduk. Hye-eun yang kesal, langsung berbalik untuk meninggalkannya. Dan…… Hye-eun berdiri mematung di tempat itu. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa. Melihat tingkah Hye-eun, Chanyeol tahu bahwa tebakannya benar.

Chanyeol merasa iba dengan Hye-eun. Kemudian, ia menarik Hye-eun dan meletakannya di pelukannya. Memendamkan kepala Hye-eun di pundaknya, dan mengelus lembut kepalanya.

Hye-eun sungguh ingin pergi. Pergi jauh berlari dari Chanyeol. Baekhyun seonbae sial, pikir Hye-eun. Ia jadi terpaksa melakukan hal yang membuatnya ingin muntah. Dia tahu bahwa dalam hati, Baekhyun tertawa melihat penderitaan Hye-eun. Dan sekali lagi, ia harus menyia-nyiakan airmatanya di pelukan Chanyeol.

“Menangislah. Menangislah sepuasmu,” kata Chanyeol lembut.

DEEEEGG. Hye-eun tertegun sejenak, mendengar suara tulus Chanyeol. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.

“Chanyeol, bisakah kau membawaku pergi dari tempat ini? ku mohon. Kemana saja, asal jangan ke rumah,” pinta Hye-eun sambil mengapus airmatanya, setelah Chanyeol melepas pelukannya.

Chanyeol mengangguk. Lalu, menggenggam tangan Hye-eun, dan membawanya pergi dari tempat itu.

@@@

Baekhyun mengirim pesan ke Hye-eun. Bagaimana rasanya dipeluk si Lollipop? hahahahahaha

Hye-eun membalas. Menyenangkan -_-   Aku tidak tahu dimana harus memuntahkan isi perutku.

“Dari siapa?” tanya Chanyeol yang sedang mengendarai mobilnya.

Hye-eun mematikan ponsel-nya, dan menaruhnya di tas selempang miliknya. “Temanku saat di Paris. Sepertinya ia begitu merindukanku.”

“Ooh..”

Setelah kejadian tersebut, Chanyeol sangat berusaha untuk menghibur Hye-eun. Ia terus membuat lelucon (dan tentunya menurut Hye-eun tidak lucu), dan membuat Hye-eun tertawa kecil (lebih tepatnya terpaksa), sehingga Chanyeol senang. Chanyeol mengajak Hye-eun ke kebun binatang, yang sebetulnya tempat yang paling dibenci Hye-eun karena dulu, waktu darmawisata SD, ia ditinggal sendirian di sana sampai malam, dan akhirnya orangtuanya menjemputnya, lalu memaki-maki guru pembimbingnya. Hye-eun benar-benar terpaksa harus ke sini.

Sejak mengenal Hye-eun, sifat kenakkan Chanyeol sudah berkurang. Mungkin karena Chanyeol tidak mau menjadi Chanyeol yang menyebalkan untuk Hye-eun lagi. Ia mau dilihat sebagai Chanyeol yang dewasa, yang bisa Hye-eun banggakan nanti.

Akhirnya siang berganti malam, Chanyeol mengantarkan Hye-eun pulang, namun tidak sampai masuk ke perkarangan rumah Hye-eun. Ia takut Hyesung akan menyerangnya.

“Kau tidak masuk?” tanya Hye-eun sambil tersenyum sambil memasang wajah manis, setelah ia keluar dari mobil dan berada di depan pintu gerbang rumahnya.

“Aku tidak mau menjadi daging stik lagi,” jawab Chanyeol sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Hye-eun tertawa kecil. “Terimakasih banyak atas hari ini.”

“Ah.. itu bukan apa-apa.”

Hye-eun mendekat dan mencium sisi kiri bibir Chanyeol. “Selamat malam,” ucapnya lalu masuk.

Chanyeol tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan ia lemas untuk berdiri, sampai-sampai ia merasa seperti orang lumpuh. Kemudian ia berteriak karena senang.

“Akhirnya aku mendapatkannya!!!!!!!!!!!!” teriaknya sambil melompat. Kemudian ia masuk ke mobilnya sambil tersenyum-senyum.

Sementara itu, yang terjadi dengan Hye-eun.

Hye-eun terus berlari, setelah ia memasuki perkarangan rumahnya. Ia terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang ada dirumahnya. Ia menuju kamar mandi, yang berada di kamarnya. Setelah itu ia mencoba muntah, dan tidak mengeluarkan apa-apa. Kemudian ia mengambil mouthwash yang berada di laci, di atas wastafel. Ia kumur-kumur dengan itu, dan membuangnya di wastafel, ia mengulanginya sebanyak tiga kali. Setelah itu ia menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi super banyak dengan wangi mint terpedas yang pernah ia beli, dan menggosoknya sampai menghasilkan busa yang begitu banyak sampai ke bagian bibirnya. Sudah selesai kumur-kumur, ia muntah lagi. Kini ia muntah semuntah-muntahnya.

Nyonya Jang, Tuan Jang, dan Hyesung yang daritadi memperhatikannya, terlihat bingung. Akhirnya Nyonya Jang menghampiri Hye-eun yang sedang berdiri menunduk di wastafel.

“Apa yang terjadi, sayang?” tanya Nyonya Jang dari belakang Hye-eun, sambil mengelus punggung putrinya yang masih tertunduk di wastafel.

“Tidak apa-apa Eomma. Aku hanya ………” Hye-eun muntah lagi.

Eonni, jangan-jangan kau…. Hamil?” kata Hyesung dari mulut pintu kamar mandi, mengejutkan semua yang ada di sana.

Hye-eun menatap tajam Hyesung. “Micheoseo???!!! umurku baru tujuh belas tahun!!”

“Habisnya kau daritadi muntah terus,” jawab Hyesung polos.

“Hyesung, jangan bicara seperti itu tiba-tiba,” ucap Tuan Jang. Hyesung tertuduk lesu.

“Aku hanya masuk angin, Eomma,” jawab Hye-eun mengalihkan pembicaraan, ia menyeka mulutnya dengan handuk kecil yang tergantung di sebelah wastafel.

“Baiklah. Kau harus cepat-cepat minum obat, sebelum tambah parah,” kata Nyonya Jang.

Hye-eun mengangguk sambil tersenyum. Lalu Nyonya Jang mencium keningnya. “Selamat tidur, sayang,”

“Selamat tidur, Eomma,Appa dan… Hyesung,” jawabnya. Saat menucap ‘Hyesung’ ia terlihat begitu malas mengucapkannya.

Hyesung membalas dengan nada mengejek. “Selamat tidur kakakku.”

@@@

Baekhyun tertawa terbahak-bahak, sampai akhirnya ia terbatuk.

“Sudah puaskah seonbae menertawaiku?” tanya Hye-eun kesal di telepon.

Baekhyun berdeham, mencoba untuk tidak tertawa lagi. “Kau sungguh gila, Hye-eun. Aku salut padamu,” Baekhyun tertawa lagi.

SEONBAEEE!!!” Hye-eun berteriak, sehingga Baekhyun menjauhkan telinganya dari ponsel.

Bukannya diam, Baekhyun malah tertawa lebih keras lagi. “Untung kau tidak pingsan.”

Hye-eun menghela nafas, mencoba tenang. Lalu menjawab dengan nada mengejek dan penekanan. “Ya, untung saja.”

 

-tbc-

4 thoughts on “[FF Freelance] The Sweet Hate (Part 3)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s