The One I Love [Part 10]

theoneilove

 

Tittle                     : The One I Love part 10

Main Cast            : Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Kim Yoona

Support Cast      : Sungmin,  Seohyun, Eunhyuk, Bora

Genre                   :School day, Romance, Happy

Part Sebelumnya:  Part 1  Part 2  Part 3  Part 4   Part 5  Part 6 Part 7 Part 8 Part 10

Sebenarnya ada rasa tidak enak kepada Sungmin, namun ia tidak bisa menyangkal bahwa kemungkinan itu akan terjadi pada dirinya. Ia tahu sendiri bahwa apapun yang ia lakukan telah diatur semua oleh kedua orangtuanya. Meskipun Kyuhyun ingin memilih jalan hidupnya, ia tidak bisa menyimpang sebelum berumur 25 tahun. Ia kesal sendiri jika memikirkan itu semua.

“Ibu  masih tidak percaya melihat kau bernyanyi tadi Kyu. Kau memang penyanyi terbaik.”

Kyuhyun tersenyum kearah Ibunya dan setelahnya memasang muka masam kembali. Ia tidak mengerti untuk apa Ibunya membawanya pergi ke restoran. Sebelumnya tidak pernah ada acara perayaan seperti ini. Apalagi ia harus merelakan waktunya bersama Yoona, padahal sedikit lagi mungkin ia bisa mengatakan sesuatu kepada Yoona. Kesal rasanya jika mengingat bahwa Donghae sonsaengnim datang memberi Yoona bunga, ingin rasanya ia membawa pergi Yoona saat itu juga.

“Lain kali kau ajak Yoona makam malam bersama kita Kyu. Ibu ingin mengenal Yoona lebih banyak lagi.”

Kyuhyun menoleh ke Ibunya yang kini tersenym manis kepadanya.

“Kau sudah memberitahu perasaanmu kepadanya?” tanya Ibu Kyuhyun. Seketika wajah Kyuhyun memerah sampai ke telinganya.

Ibunya tertawa. “Kau harus mengatakannya. Apapun yang terjadi nanti pikirkanlah nanti. Jika kau tidak keburu mengatakannya, Ibu tidak yakin kau akan baik-baik saja.”

“I will….”

Ibu Kyuhyun lagi-lagi tertawa. “Kau memang seperti Ayahmu.”

Kyuhyun menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Kau harus bahagia Kyuhyun. Ibu merasa bersalah karena tidak bisa membantu.”

“Aku akan tetap pergi ke Harvard. Aku tidak akan mengecewakan kalian,” ujar Kyuhyun tiba-tiba.

“Kau memang anak yang baik,” Ibu Kyuhyun mengelus kepala anaknya. “Terima kasih Kyu.”

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di restoran yang tak asing lagi bagi keduanya. Kyuhyun memandang Ibunya bingung. Untuk apa mereka datang ke restoran paling mahal seperti ini. Pelayan yang sudah menunggu kedatangan tamunya langsung mengantar ke meja yang sudah diresevarsi.

Saat pelayan tersebut mmebuka pintu dan mempersilahkan Kyuhyun dan Ibunya masuk. Langkah Kyuhyun terhenti segera, ia mendengar lantunan musik yang tidak asing. Ia mendengar nyanyiannya dan suara piano Yoona.

“Ayah sudah menunggumu didalam. Kau tidak mau masuk Kyu?”

“Eomma~ Ayah….”

“Ibu sudah bilang kan tadi. Kita akan membicarakan hal penting dengan Ayahmu.”

Kyuhyun masuk dan pelayan memberitahu bahwa 15 menit lagi hidangan akan segera disajikan. Keduanya langsung duduk dan Ayah Kyuhyun terlihat mengetahui kedatangan mereka walaupun kedua matanya tertutup. Kyuhyun khawatir pada dirinya sendiri, ini seperti bukan makan bersama dalam merayakan kesuksesan konsernya melainkan seperti ruang sidang. Sejak dulu, saat Kyuhyun duduk bersama Ayahnya dalam satu meja hanya aura kengerian dan kegugupan yang dapat ia rasakan.

“Ha Neul-sshi… anakmu sudah datang,” ujar Ibu Kyuhyun. Meskipun hanya ada mereka beriga, Ibu Kyuhyun tetap memanggil suaminya dengan namanya. Keduanya memang sudah memiliki peraturan rumah tangga, bahwa jika masih dalam waktu bekerja, keduanya hanya boleh memanggil dengan nama formal.

Ayah Kyuhyun mematikan ponselnya dan ruangan bertambah sunyi.

“Kau disini Kyuhyun?”

“Yes. Aku disini Ayah.”

“Sejak pagi Ayah sudah harus berada di kantor dan melakukan persidangan. Ibumu datang dan Ayah membayarkan bunga khusus untukmu.”

Kyuhyun mengangguk. Dari dulu Ayahanya tidak pernah berkata sesuatu tentangnya dengan jelas. Tetapi Kyuhyun tahu Ayahnya selalu baik dan perhatian kepadanya.

“Ayah meminta rekaman video kepada Ibumu. Tapi sepertinya Ibumu terlalu semangat melihatmu diatas panggung, dia hanya mengirimiku rekaman suara saja.”

“Aku sudah begitu baik kepadamu. Bagaimana pun Kyuhyun terlihat begitu berkharisma saat bernyanyi. Ibu jadi rindu ingin bernyanyi denganmu Kyu.”

“Jangan bicarakan masa lalu Soo Young-sshi.”

“Baiklah Cho Ha Neul-sshi.”

Seperti biasanya Ayah Kyuhyun menanyakan sekolah dan persiapan ujian di Harvard. Kedua orang tuanya memang pengacara terkenal di Seoul dan sebagai anak laki-laki tunggal dari pasangan yang super terkenal ini, Kyuhyun sudah tahu cita-citanya dari umur 6 tahun. Saat semua anak-anak bebas memimpikan apapun dan melakukan kesenangan, Kyuhyun sudah terbiasa mendengar berita pembunuhan, perampokan dan sering menghabiskan waktu di ruang persidangan. Senang atau tidak Kyuhyun kecil tidak begitu paham. Satu yang ia pahami sekarang, ia tidak bisa membenci. Dirinya sudah merasakan kenyamanan ketika ia sudah menjadi pengacara.

“Kau bisa meminta bantuan kepada teman-teman Ayah di kantor. Mereka akan mengajarimu untuk bisa lulus ujian Harvard.”

“Ibu akan membuatkan snack malam dan menjaga kondisimu Kyu. Kau akan baik-baik saja.”

“Atau kau bisa datang kapan saja ke persidangan Ayah atau Ibumu.”

“Ibu pasti senang jika kau mau menjadi asisten lapanganku Kyu. Kau anak yang cerdas.”

“Jangan Soo Young. Kyuhyun belum boleh masuk ke TKP.”

“Aku sudah menemukan orang yang akan mengajariku Ayah, Ibu. Namanya Yesung. Dia akan aku kenalkan kalian jika ada waktu.”

“Mahasiswa Harvard juga,” ujar Ayahnya.

“Kuharap Ayah tidak mencurigai apapun. Aku hanya ingin guruku tidak terlalu tua.”

“Ya..ya Ayah tahu maksudmu.”

Kyuhyun sangat mengenal Ayahnya, karen apekerjaan pengacara itulah Ayahnya sering terima teroro dari beberapa orang asing yang ingin balas dendam. Dan Ayahnya tidak ingin dirinya terluka ataupun sampai dijadikan sandera. Makanya ia tidak kaget jika mungkin Ayahnya sudah sangat tahu menganai Yesung.

“Aku akan ke Harvard!” ujar Kyuhyun tegas. Ia menatap Ayah dan Ibunya dengan tatapan tajam seperti bahwa ia tidak akan main-main untuk maslaah ini.

“Aku pasti akan lulus ujian dan berangkat ke Harvard!”

Ayah Kyuhyun tersenyum. “Selamat berjuang.”

Kyuhyun mengangguk. Ia lega sekaligus senang melihat Ayahnya tersenyum kepadanya.

“Jika kau perlu apa-apa menyangkut perijinan sekolah, Ibu akan bicarakan dengan gurumu.”

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            Sementara itu di tempat lain, Yoona, Sungmin dan Seohyun tengah menikmati waktu mereka bersama di tempat karaoke. Mereka berempat memang telah berjanji untuk merayakan konser kesenian sekolah dan menghabiskan waktu bersama di karaoke. Sungmin dan Seohyun terlihat menikmati dan asyik dengan pilihan lagu mereka. Sedangkan Yoona sesekali bertepuk tangan ataupun bernyanyi setelah dipaksa kedua temannya itu.

“Aku tidak menyangka Yoona memiliki suara yang unik,” ujar Sungmin saat mendengar Yoona bernyanyi.

“Yong itu malu orangnya. Ia suka menyanyi tapi tidak suka didepan umum.”

“Tapi aku masih suka lagu yang Yoona nyanyikan bersama Kyuhyun. Tak kusangka anak itu mau menyanyikan lagu cinta seperti itu,” Sungmin masih kaget dengan ekspresi Kyuhyun tetapi setelah membayangkan pertunjukkan tadi, ada sesunging senyuman bahagia.

“Yang terpenting Kyu bahagia,” lanjut Sungmin. Seohyun menatap kakak yang tidak punya hubunga darah.

“Apa benar Kyuhyun tidak akan ikut kelulusan sekolah?” tanyanya.

“Aku berharap dia akan berusaha dan tetap lulus bersama kita.”

“Kalau dia benar-benar akan pergi setidaknya jangan membuat perempuan jatuh cinta padanya!” Seohyun memakan snack dengan kesal. Ia memang tidak begitu yakin akan perasaan Yoona terhadap Kyuhyun tetapi melihat tingkah Yoona akhir-akhir ini ia merasakan sahabatnya itu mulai berubah jika berada di dekat Kyuhyun.

“Aku kesal karena Kyuhyun tidak pernah menolak apapun keputusan kedua orang tuanya,” Sungmin batuk sebentar. “…yah bagaimana pun juga menjadi pengacara memang impiannya. Tetapi untuk ke Harvard, aku tidak yakin Kyuhyun menginginkannya.”

Sebelum Seohyun bisa membantah lagi, Yoona terlebih dahulu duduk disampingnya. Membuat Sungmin dan Seohyun salah tingkah.

“Kalian sedang membicarakanku?”

Keduanya serempak menggeleng.

“Lalu”

“Kyuhyun!” seru Seohyun.

Seketika raut muka Yoona berubah murung.

“Aku tidak pernah menyangka, Kyuhyun ingin kuliah di Harvard. Aku tidak tahu apakah aku senang atau iri kepadanya. Selama ini aku tidak pernah berpikir tentang masa depanku. Apa yang ingin aku raih dan ingin menjadi orang seperti apa nantinya. Semuanya aku lalui karena aku memang lulus ujian.” Yoona menghela nafas.

“Sungmin ingin mnejadi perancang busana dan mengadakan show di Paris. Seohyun melanjutkan kuliah dan akan melamar sebagai pramugari. Kyuhyun akan kuliah di Harvard dan meraih gelar pengacaranya. Lalu aku sendiri, masih tidak tahu akan jadi apa setelah kuliah nanti…..”

“Yoong… kau pasti akan menemukan apa yang kau cari.”

“Kau perempuan pintar, apapun pasti akan mudah bagimu,” sahut Sungmin menenangkan Yoona.

Yoona tersenyum. “Ya. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.”

Tiba-tiba, Kreeek….

“Apakah aku mengganggu?” sebuah kepala muncul sebagian dan itu adalah Kyuhyun.

“Kau sangat terlambat Kyu!”

“Baru kali ini aku menunggu orang begitu lama.”

“Selamat datang.”

Kyuhyun masuk ke ruang karaoke dan tak lupa memberikan plastik kepada Sungmin. Isinya seperti apa yang dipesan anaanak kepadanya dan ia menambahkan beberapa snack yang mungkin bisa dinikmati bersama.

“Maaf…maaf… membuat kalian menunggu lama.”

Sungmin dan Seohyun sepakat tidak menggubris kata-kata Kyuhyun sedangkan Yoona tidak mengatakan apapun.

“Hei… ayolah, jangan marah kepadaku. Apa sekarang aku sedang dijadikan musuh?” tanya Kyuhyun kembali.

“2 jam bukan waktu yang sebentar. Kau harus sadar!” ujar Yoona.

“Ah…”

“Kita bersenang-senang saja,” lanjut Seohyun. Ia menarik lengan Kyuhyun dan memaksa laki-laki itu memegang mic.

“Kau harus menynayi untuk kami, Kyuhyun,” Seohyun meminta Sungmin untuk memilih lagu dan tanpa waktu lama, ia menyebutkan kode lagu dan terdengar intro lagu anak-anak.

“YA! Sungmin! K-kau…!”

“Kyuhyun! Kyuhyun!”

Tanpa memiliki hak suara dan membela diri akhirnya Kyuhyun menyanyikan lagu-lagu anak yang dipilih oleh Sungmin. Pertama kali ia merasa tidak sanggup mengeluarkan suara tetapi lama-lama suasana mencair. Kyuhyun menikmati dan lega saat melihat Yoona yang tengah tertawa. Baginya itu sudah cukup.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

            “Berhenti disini.” Yoona kaget saat mendnegar perintah Kyuhyun kepada sopir. Kyuhyun keluar dan membukakan pintu disebelah Yoona.

“Rumahku masih jauh,” kata Yoona.

“Aku akan mengantarmu sambil jalan kaki.”

Walaupun masih bingung Yoona tetap turun dari mobil dan mengikuti Kyuhyun. Mereka berdua berjalan berdampingan. Tidak ada yang mulai berbicara. Angin malam dan suara-suara alam hanyalah yang terdengar.

“Bagaimana perasaanmu setelah mendapat buket bunga dari Yesung?”

Yoona menoleh lalu tertawa geli. “Puas. Aku benar-benar puas dan bahagia.”

“Lalu saat bernyanyi denganku, apa yang kau rasakan?”

“Hmmmm…… cukup.”

“Huh? Ya! Kim Yoona.” Kyuhyun menghentikan jalannya dan menahan lengan Yoona untuk menoleh memandangnya.

“Apa yang kau maksud dengan cukup?”

Yoona memutar bola matanya dan itu membuat Kyuhyun tambah kesal. dan tak lama kemudian Yoona melepaskan lengannya dari tangan Kyuhyun lalu berjalan ke depan.

“Aku tidak pernah menyangka akan bernyanyi di hadapan begitu banyak orang, di hadapan keluargaku dan apalagi aku harus berduet denganmu. Laki-laki yang sudah membuat banyak murid perempuan dan guru-guru terpikat karena mendnegar suaranya. Kurasa aku tidak begitu puas.”

“Wae?” Kyuhyun menghadang langkah Yoona tiba-tiba, spontan Yoona menghentikan langkahya. Beberapa detik keduanya sama-sama terdiam dan hanya bertatapan mata saja. Lalu Yoona mengambil celah lain untuk melarikan diri dari Kyuhyun.

“Mungkin…. aku belum puas jika hanya menyanyikan satu lagu bersamamu.”

“Huh? Kau mulai membingungkan Yong. Ucapanmu tidak bisa aku terima,” ujar Kyuhyun.

“Lalu aku harus bicara apa. Memang kenyataannya begitu.”

“Kalau kau jujur tidak puas hanya karena menyanyikan satu lagu, mengapa tidak kau nyanyikan lagumu..”

“Aku hanya ingin bernyanyi denganmu Kyu.”

Kyuhyun diam di tempat sedangkan Yoona masih jalan dan berbicara seolah-olah Kyuhyun ada di sampingnya. Entah mengapa saat itu perasaan Kyuhyun seperti tumpah ruah dan tdak bisa ditahan lagi. Kata-kata Yoona barusan bagaikan setruman bagi otaknya untuk sadar bahwa seperti apa kata ibunya. Ada kebahagiaan yang harus dia kejar, jangan sampai menyesal.

“Yoona!” teriak Kyuhyun.

Yoona berhenti dan baru menyadari bahwa Kyuhyun tidak ada disampingnya. Ia memutar badan menghadap Kyuhyun. Mereka berdua terpisahkan jarak beberapa langkah.

“Mengapa kau mau berduet denganku?” tanya Kyuhyun.

Yoona merapatkan jaketnya lalu tanpa menjawab pertanyan Kyuhyun ia kembali memutar badan dan melanjutkan langkahnya menuju rumahnya. Kyuhyun kaget dengan respon Yoona dan ia berlari mengejar lalu mencegatnya.

“Jawab dulu,” kata Kyuhyun tepat dihadapan Yoona.

Yoona mencoba mengecoh Kyuhyun dan mencari celah untuk kabur tetapi Kyuhyun tidak ingin terjebak lagi. Ia menahan Yoona untuk tidak bisa kabur darinya.

“Baiklah….” ujar Yoona menghela nafas.

“2 minggu dari sekarang. Sabtu jam 7 pagi. Kutunggu di stasiun Daegu.”

“Huh?” Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan wajah kebingungannya.

“Aku ingin pulang ke rumah. Minggir!” ucap Yoona dan tanpa sadar Kyuhyun memberika jalannya.

“Kau tidak akan melanggar janji bukan Kyu? Aku mengajakmu menghabiskan satu hari hanya berdua saja.”

Wajah Kyuhyun langsung memerah dan cepat-cepat ia menampar pipinya sendiri. Yoona tertwa melihat kelakuan Kyuhyun barusan.

“Oke. Aku janji.” Kyuhyun menjajari langkah Yoona.

“Jadi Yong… apa kau bisa mengulangi janji yang kau katakan tadi?”

Yoona menggeleng. “Kau cerdas. Harusnya tidak sulit bagimu untuk menghapal.”

Kyuhyun meremas kepalan tangannya sendiri. “Sial.”

Yoona tersenyum dan cukup baginya hari ini menghabiskan waktu dengan Kyuhyun.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            Minggu pagi yang cerah, hari yang dinantikan Kyuhyun dan Yoona tiba juga. Kedunay mungkin tidak akan pernah melewatkan hari ini. Yoona sejak pagi sudah mulai memilih baju dan beberapa tempat yang perlu dikunjunginya bersama Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun sedikit kesal karena Ayahnya yang tidak melihat begitu pentingnya hari ini sehingga ia harus ditahan beberapa jam di rumah untuk membahas kasus. Kyuhyun tidak mengerti apa yang dipikirkan Ayahnya yang masih sibuk di waktu libur seperti ini.

Yoona sudah siap dengan dadanan yang tidak biasa, kali ini entah mengapa ia sedikit berharap bahwa penampilannya akan dipuji Kyuhyun. Ia mengamati jam dinding di kamarnya dengan gelisah, ia berharap Kyuhyun tidak melupakan janji mereka untuk pergi hari ini.

“Jangan terlalu banyak berharap dengan Laki-laki itu Yong,” ujar Yesung yang tiba-tiba saja masuk ke kamar Yoona, adiknya. Yoona melirik tajam kearah kakaknya. Ia tidak suka kata-kata kakaknya atau lebih suka kakaknya tidak mengatakan apapun saat ini juga.

“Untukmu.” Yesung meletakkan amplop di meja belajar Yoona. “Semoga berguna untukmu.”

“Aku tidak butuh uang oppa,” kata Yoona.

“Siapa juga yang memberimu uang. Kau pasti akan sangat berterima kasih padaku saat melihat isi amplop itu.”

Yoona bangkit dari kasurnya dan mengambil amplop dari meja belajarnya.

“Kyuhyun bilang 30 menit lagi dia akan menjemputmu. Barusan dia menelponku.”

Yoona menoleh ke Yesung sesaat sebelum laki-laki itu menutup pintu kamarnya. Ia kembali fokus ke amplop pemberian kakaknya, ia membuka dan melihat passport serta tiket pesawat ke Amerika. Sejenak Yoona bingung tetapi setelahnya…..

“Memangnya siapa yang akan ke Amerika,” ucap Yoona lirih.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            Kyuhyun tidak akan pernah melupakan hari ini. Bisa mengahabiskan waktu satu hari dengan Yoona memang bukan hal yang luar biasa tetapi baginya ini adalah hari paling bahagia untuknya. Ia berharap bisa menghabiskan beberapa hari seperti ini bersama Yoona. Ia masih tidak percaya bahwa 10 jam ini telah ia lewati bersama Yoona.

“Aku tidak tahu kau akan mengikuti apa yang sudah aku rencanakan Kyu.”

“Aku akan mengikuti kemanapun kau mau Yong.”

Yoona tertawa.

Kyuhyun tidak pernah ingin mengingat kepergiannya dan keputusannya untuk ke Harvard. Hari ini ia hanya ingin mengingat senyuman, tawa, wajah cemberut dan lucu milik Yoona. Sehingga saat waktu itu datang, saat ia tidak bisa melihat wajah ini lagi, Kyuhyun masih bisa mengingat dan memutar memori otaknya dan mengingat semuanya.

“Kau punya uang Kyu?”

“Tentu. Kau mau aku membelikan untukmu?”

“Jika kau tidak keberatan.”

Kyuhyun tidak akan pernah menolak. Ia sangat mengenal dirinya, sekali ia menyukai sesuatu dirinya akan berjuang sampai akhir. Tetapi apakah untuk perasaannya kepada Yoona bisa ia perjuangakan. Waktunya memang tepat tetapi kadang ia tidak percaya diri untuk mengatakan semuanya dan membuat perempuan ini menunggunya.

“Aku juga akan membelikanmu sesuatu.”

Kyuhyun tersenyum mendengar suara Yoona. Entah apa yang akan ia lakukan jika saat ini ia tidak bisa mengontrol perasaannya kepada Yoona.

Yoona memilih beberapa sweater untuknya dan menjatuhkan pilihan ke warna pink muda. Ia melilitkan sweater tersebut ke leher Kyuhyun dan tersenyum puas dengan apa yang sudah ia lakukan.

“Aku beli ini ahjuma!”

“Hei?!”

“Aku baru tahu, Kyu tampak cocok dengan warna pink.”

Yoona menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ke ahjumma pemilik toko tersebut. Ia berjalan lagi dan Kyuhyun mengikuti dari belakang. Mereka berdua masih berjalan dan mulai meninggalkan keramaian menuju ke jalan setapak. Yoona tampak sibuk dengan GPS di ponselnya, seperti kebingungan dengan jalan yang ada dihadapannya.

“Apakah kita tersesat?” tanya Kyuhyun.

“Oohh… semoga tidak.”

“Apa yang sedang kau cari Yong?” Kyuhyun ikut mengamati ponsel Yoona dan mulai bingung apa yang dilihat gadis ini tentunya bukan GPS tetapi petunjuk arah yang entah dibuat oleh siapa. Yoona tersenyum meringis.

“Sebaiknya kita balik ke jalanan besar dan menanyakannya ke orang.” Yoona bergegas balik arah dan mulai berlari. Kyuhyun mengejar Yoona dan sebelum mereka sampai ke jalan besar, tanpa disari Kyuhyun tangannya telah menarik lengan Yoona. Tarikannya begitu kuat membuat Yoona tertarik dan jatuh tepat di pelukan Kyuhyun.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            Yoona mencuri pandang kerah laki-laki yang tengah duduk di hadapannya. Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dan terus menerus mengamati apa yang tengah dilakukan Kyuhyun. Bahkan makanan didepannya belum berkurang, ia hanya membolak-balikan daging steak yang dipilih sebagai menu makan malam mereka.

“Kau tidak makan Yong?” tanya Kyuhyun yang masih tidak peduli dengan pikiran kacaunya.

“Oooh..oh. Aku makan Kyu.”

Yoona memotong daging steaknya dan memasukkan daging tesebut. Masih saja dirinya mencuri-curi pandang ke Kyuhyun. Kejadian yang barusan terjadi diantara mereka berdua masih menyisakan debaran di hatinya. Yoona tahu bahwa hal yang dilakukan Kyuhyun saat memeluknya tidak ada arti apapun bagi laki-laki ini. Toh sekarang Kyuhyun menikmati makan malamnya dan bersikap seperti biasa.

“Babo~…”

“Hem? Kau bicara kepadaku Yong?”

Yoona menggeleng kuat dan kembali memotong daging staknya. Ia berjanji bahwa tidak akan lagi berbuat sebodoh ini. Ia tidak seharusnya terjebak dalam situasi seperti sekarang, Yoona merasa ini bukan dirinya.

“Jangan lupakan hatimu Yong. Kau tidak pernah bisa menyangkal apa yang kau rasakan selama berada di dekat Kyuhyun.”

Tiba-tiba perkataan Seohyun teringat dan muncul saat Yoona tengah menikmati steknya. Ia lupa bahwa sebelumnya pernah ada percakapan antara dirinya dan Seohyun menyangkut perasaanya dengan Kyuhyun.

“Yong…”

Yoona tersentak dan tanpa sadar wajahnya memerah saat bertemu mata dengan Kyuhyun.

“Selamat ulang tahun,” ujar Kyuhyun dan bersamaan dengan itu seorang pelayan mendekati meja mereka sambil membawa cake bertabur coklat dengan tulisan ucapan ulang tahun. Yoona berdiri dan menerima cake tersebut.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            “Hhhh..” Yoona menghembuskan nafas panjang dan berat. Sejak seminggu yang lalu mereka menjalani tes akhir semester genap, dan itu artinya mereka tinggal menunggu hasil tes tersebut. Lulus atau mengulang setahun lagi. Setiap hari rasanya begitu lama. Kegiatan setiap hari selalu sama. Pagi bangun tidur, mengerjakan soal-soal latihan, tidur siang, makan, belajar sampai larut lalu banguan pagi lagi. Menjenuhkan! Tapi itulah yang dirasakan Yoona, Seohyun, Sungmin, Kyuhyun dan juga murid lainnya. Ujian ini benar-benar kartu mati bagi mereka.

Yong…sepertinya aku tidak bisa ke rumahmu malam ini, kita pesta besok bagaimana? Ada hal yang perlu kuurus, sampai ketemu besok ^^

            Yoona mengetik pesan balasan untuk Seohyun, acara mereka tertunda lagi. Sepertinya Seohyun benar-benar mengurus beasiswanya ke perguruan tinggi. Tidak sangka temannya yang manja itu bisa mengurusnya sendirian. Setelah memasukkan ponsel ke saku, lagi-lagi Yoona menghembuskan nafas panjang.

Yoona mendongak menatap langit, siang ini begitu terik, matahari sama sekali tidak bermaksud berlindung dibalik awan. Yoona menarik nafas dalam-dalam lalu memutuskan untuk terus berjalan pulang sendirian ke rumahnya. Kyuhyun menghilang entah kemana sejak selesai tes tadi. Mungkin langsung menuju rumahnya dan bermain game yang mungkin belum ia selesaikan. Tau lah. Tapi anehnya, saat Yoona butuh bantuan Kyuhyun ataupun hanya sekedar ingin melihat wajah nakal anak itu pasti Kyuhyun akan datang dihadapannya.

Ahhh…

Yoona bersiul riang, sambil menikmati langkah kakinya. Ia mulai bersiul menirukan nada lagu yang dinyanyikan Kyuhyun saat winter concert dan mulai melupakan teriknnya matahari siang itu.

“Yoona!”

Langkah kaki Yoona langusng terhenti, ia sangat mengenal suara panggilan tersebut. Itu pasti…

“Pulang sendirian? Kyuhyun?”

“Sepertinya pulang lebih dulu. Guru sedang apa?”

“Bagaimana kalau aku temani sampai rumah?” tanya Donghae. Yoona menatap sesaat lalu tertawa.

“guru Lee jangan terlalu baik padaku, ini membuatku tidak nyaman. Guru tahu kan banyak sekali rumor tentang kita berdua, guru mau membuat image-ku buruk sebelum lulus nanti. Atau…”

Donghae mengacak rambut Yoona sekilas, “Bercanda. Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Pacarmu itu memang pencemburu. Hahaha… ya sudah kau jalan duluan saja.”

Yoona seperti tidak mengerti maksud perkataan  Donghae barusan. “Berjalanlah.. setelah hitungan 30 aku akan berjalan di belakangmu..” ujar Donghae menambahkan. Dan Yoona pun tahu apa maksud gururnya. Ia tersenyum lalu berbalik badan memulai langkahnya kembali tanpa berbalik badan menatap Donghae.

Andai Yoona tahu, saat ini wajah Donghae sangat kecewa. Atau lebih tepatnya hatinya telah sakit, kenyataan membuat Donghae harus merelakan cintanya. Mana mungkin ia akan merebut Yoona, melihat pasangan muda itu bahagia sudah  cukup membuat Donghae senang dalam kepedihan.

Saranghae Yoona…” merasa yakin hitungan 30 sudah berlalu. Donghae mulai berjalan sambil memandangi punggung Yoona yang mulai tak terlihat pandangan matanya.

Selama menjalani hubungan dengan Kyuhyun, Yoona merasakan ada yang aneh. Seharusnya mereka berdua sering bertengkar karena emosi yang belum stabil dan karena memiliki pemikiran yang berbeda. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Setiap kali dirinya tertekan atau ingin meledakkan emosinya, Kyuhyun selalu datang membawa pertolongan pertama. Entah itu membuat kejutan romantis, nyanyian lembut, ataupun hal-hal yang membuatnya tertawa. Begitu juga dengan Kyuhyun, saat laki-laki itu merasa bosan dan ingin berbuat hal jahil padanya maka hanya ada satu cara yang dimiliki Yoona untuk merubah tabiat Kyuhyun yang evil itu. Kyuhyun boleh bermanja-manja dengannnya dan anehnya Yoona tidak merasa risih setiap kali Kyuhyun meminta Yoona menyuapinya makan atau hanya sekedar bermain piano untuknya di rumah.

Kadang Yoona dan Kyuhyun berselisih hanya karena masalah sepele tapi setelah tiga menit salah satu akan mengalah dan semuanya terselesaikan. Benar-benar aneh. Apakah kebencian dan kemarahan mereka sudah habis semasa jadi musuh?? Yoona tak tahu itu, yang pasti ia merasa sangat bahagia bersama Kyuhyun walaupun kadang ia capek juga melihat Kyuhyun sibuk sendiri dengan psp- nya dan juga Sungmin.

Tiba-tiba seseorang menutup mata Yoona dari belakang. Langkahnya terhenti. Yoona sempat panik, namun ketika instingnya menemukan aroma familier, ia pun tersenyum.

“Mungkin kau perlu ganti parfum sebelum melakukan ini, Cho Kyuhyun?”

Yoona tertawa kecil.

Kyuhyun pun tertawa lalu melepaskan tangannya. Dia mengambil dua langkah dan kini berdiri di depan Yoona. Menatap gadis yang ia cintai sepenuh hati.

“Capek?” Kyuhyun bertanya sambil tersenyum.

Yoona mendongak dan menatapnya. Terkadang ia sangat merindukan senyuman milik Kyuhyun  yang khas, yang sangat susah dilihat. “Tidak.” Yoona tersenyum dan menggeleng sedikit, berbohong.

Kyuhyun tertawa kembali, ia pasti tahu Yoona berbohong padanya. Kyuhyun menarik tangan kiri Yoona, dan meletakkan sesuatu didalamnya. Ketika Yoona mengeceknya, dua sebungkus permen karet kesukaannya.

“Gomawo,” Yoona segera membuka bungkusan dan melahapnya. Dan satu bungkusan lagi ia suapkan ke mulut Kyuhyun.

Johae?”

“Hemm… manis. Kau memberiku dua karena ingin disuapi kan?”

Kyuhyun tidak menjawab tapi hanya tersenyum. “Aku antar pulang?”

Yoona melirik ke jalanan, dan ia menemukan mobil milik Kyuhyun. “Ahh…. pas sekali badanku remuk semua. Ingin segera tidur di kasur yang nyaman.”

“Di rumahku?” ujar Kyuhyun tiba-tiba.

Yoona menyipit, “Kau tidak keberatan, aku meminjam kamarmu lagi.”

“Selagi kau yang meminta dan tidur disana. Aku pasti tidak sanggup menolak.”

Yoona tersenyum, “Kajja…!”

Kyuhyun membukakan pintu mobilnya dan Yoona langsung masuk didalamnya. Segera ia nyalakan cd mobil yang dan memilih lagu yang sangat mereka sukai.

Hancham jinaseo na jigeum yeogi wasseo

Geuttaega geuriweoseo

Moreunche sarado saenggakna deora

Gereon neoraseo jakku nune balbhyeoseo

Hamkke bonaen shigandeul

Chueokdeuldo byeol cheoreom ssoda jineunde

Neon eotteoni

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            Yoona menahan tangan Kyuhyun saat mereka sudah berada di samping mobil. Kyuhyun berhenti dan memutar badannya menghadap Yoona. Seketika Yoona menahan nafas ketika menyadari begitu sulit sekali membiarkan udara melewati pita suaranya. Padahal dirinya hanya ingin mengucapkan kata terima kasih. Tapi lidahnya terlalu kaku dan sulit sekali digerakkan.

“Ne?” Kyuhyu mulai khawatir melihat Yoona yang tampak kebingungan. Walaupun hanya ucapan terima kasih, Yoona ingin mengatakan sesuatu hal yang penting juga, hanya saja ini tidak mudah baginya.

Cukup lama mereka berdua terdiam. Hingga akhirnya Kyuhyun tersenyum, terlihat seperti ingin mengerjai Yoona sedikit. “Hemm.. kau ingin mengatakan gomawo? Atau saranghae? Johae?”

Yoona tersentak. Pertanyaan Kyuhyun benar-benar membuatnya hampir tersedak. Cepat-cepat dan penuh usaha Yoona segera mendorong udara keluar dari tenggorokannya.

“Bukan keduanya,” ujar Yoona spontan dan nampak sekali jika bahwa dirinya tengah berbohong.

Kyuhyun tertawa. Entah sudah keberapa kali Yoona tidak bosan melihat Kyuhyun tertawa. Mata laki-laki itu menyipit dan terlihat bahagia sekali melihat kepanikan dalam pandangan Yoona. Dia menutupi bibirnya dengan punggung tangannya.

“Okey.. aku tahu kalau kau ingin mengucapkan terima kasih. Sama-sama kalau begitu,” Kyuhyun meredakan tawanya. Lalu tersenyum kearah Yoona dan menepuk kepala gadis itu pelan, tanpa merusak tatanan rambut.

“Chankaman! Bagaimana kalau itu bukan terima kasih?” Yoona segera membekap mulutnya saat itu juga. Ia sendiri tidak sadar apa yang tengah ia katakan barusan. Yoona malu sekali. Ia menundukkan wajahnya dan matanya terpejam rapat. Ingin sekali ia memukul kepalanya sendiri saat itu juga jika mungkin.

Kyuhyun diam.

Yoona pun diam, tentu saja dirinya tidak bisa mengatakan apapun lagi setelah keceplosan tadi. Yoona tidak sanggup mengangkat wajahnya, tidak sebelum Kyuhyun mengatakan sesuatu.

Membiarkan suasana berubah dengan sendirinya terasa lebih bijak untuk Yoona.

“So.. it must be I love you.. saranghae~,” akhirnya Kyuhyun menjawab, membuat Yoona kembali bisa bernafas lega.

Yoona masih saja menunduk. Bingung harus melakukan apa.

Dan entah bagaimana, ketika sadar bahwa dirinya sudah mengangguk beberapa kali atas pernyataan Kyuhyun barusan.

Saat itu juga Yoona merasakan tangan Kyuhyun melingkar di pinggangnya, mendekap tubuhnya, dan  Kyuhyun juga membaringkan kepalanya diatas kepala Yoona. Karena tubuhnya yang tinggi.

Kyuhyun memeluk Yoona!

Tapi itu hanya terjadi selama beberapa detik. Kemudian, Kyuhyun melepaskannya.

“Wow! Ini benar-benar kejutan Yoona!” Kyuhyun tertawa.

“Kau senang?”

“Tentu, mana mungkin aku sedih tapi lebih bahagia lagi kalau kau mengucapkannya sendiri.”

Kyuhyun mengangkat dagu Yoona, memastikan bahwa gadis itu tidak menunduk menghindari tatapannya lagi. “Hey Kim Yoona, dengar… mulai sekarang  kau milikku.” Kyuhyun tersenyum lalu mengedipkan matanya pada Yoona.

Yoona tertawa mendengarnya. “Akan aku pertimbangkan.”

“Ya!”

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

To be continue……..

2 thoughts on “The One I Love [Part 10]

  1. gak tega lihat donghae, tapi seneng juga lht kyuna. hehehe
    ayo thor lanjutannya jangan lama2, sudah penasaran nih
    fighting!!^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s