[FF Freelance] I Love You, But…

i-love-you-but

Title: I Love You, But…

Author: Minnieasmilkyway (@ayurini59)

Rating: PG-13

Length: Ficlet

Genre: Angst, Romance

Main Cast:

  • Kim Jong Dae (EXO M’s Chen)
  • Han Nari (OC)

Support Cast:

  • Nari’s Eomma
  • Wu Yi Fan (EXO M’s Kris)

Disclaimer: Ini pertama kalinya aku send ff kesini. Semoga mendapat respon positif ^o^ mianhae kalau ada typo(s) yang tidak disengaja. FF ini bukan hasil jiplakan. Jika menemukan ff serupa seperti ini tentunya hanya ada di blog pribadiku dan EXOFF. Selain itu, berarti mereka plagiat J cerita ini aku buat sendiri. Semoga kalian suka, jangan lupa berikan RCL ya. Gamsahamnida ^^

 

– oOo –

Aku mengingat semuanya dengan jelas. Ucapanmu dengan sebuah senyuman yang menghangatkan, dan membuatku diam seribu bahasa. Hanya kau yang mampu membuatku seperti itu. Selalulah di sampingku, dan aku akan menjadi orang yang sangat bahagia di dunia ini.

Cuaca agak mendung dan membuat angin lebih kencang dari biasanya. Namun, hal itu tidak mengurungkan niatku untuk mengunjungi tempat ini. Padang ilalang di belakang sekolah seorang diri.

Akupun memilih untuk duduk di bawah pohon rindang yang paling besar. Menatap danau di hadapanku dan sesekali menjatuhkan pandanganku ke arah ilalang. Inilah kebiasaanku saat pulang. Duduk sendirian sambil menenangkan pikiran yang berkelebat sedemikian rupa.

Ketenanganku terusik saat aku mendengar suara langkah kaki yang beradu dengan ranting pohon dan daun yang bertebaran. Aku melempar pandang ke sumber suara itu, Kim Jongdae.

Ia menaruh tasnya asal dan mulai duduk di sampingku, “Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau ada disini.”

Aku menatapnya sekilas sebelum kembali mnegarahkan pandanganku ke danau. Sedangkan Chen -nama yang kuberikan untuknya- mempersempit ruang antara kami. Aku menatapnya bingung dan ia tersenyum. Aku tidak mengerti.

“Kau… jangan membuatku takut,” ujarku terus terang padanya, dan iapun hanya tertawa.

“Yaaak! Kau benar-benar menakutkan, Chen.”

Iapun menghela napas sebentar. Ia tidak tertawa lagi. Aku melihatnya mengambil sesuatu dari bawah sana. Aku tidak tahu apa itu karena tertutup oleh ilalang. Ia tidak memperlihatkanku apa yang ia pegang. Tetapi, ia menyembunyikannya di balik tubuhnya. Sorot matanya berubah. Ia tidak seperti biasanya. Itulah yang aku rasakan.

“Ja… Jangan menatapku seperti itu,” ucapku ragu.

Tangan kanannya meraih puncak kepalaku dan membelai rambutku pelan. Mataku menangkap kembali bayangan tubuhnya dan mendapati dirinya sedang tersenyum. Disibakkannya rambut yang menutupi daun telingaku. Kemudian, ia menyelipkan bunga di antara daun telingaku itu.

Aku semakin bingung. Sejak kapan ia belajar menjadi orang yang tidak aku kenal seperti ini. Kebingunganku semakin bertambah saat ia mengucapkan kalimat itu.

“Would you be my girlfriend?”

Tubuhku bergetar. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Aku benar-benar terdiam lebih dari diamku yang sebelumnya. Chen yang merupakan sahabatku sejak kecil, kini berada di hadapanku dan mengatakan hal yang benar-benar di luar dugaanku.

Matanya menatap lurus ke arahku, seolah ia sedang mendesak jawaban atas pertanyaannya. Aku hanya menunduk menahan malu. Meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya, tapi rasa itu benar-benar hadir. Perasaanku semakin tidak karuan. Aku bahkan sulit untuk berpikir jernih tentang jawaban yang akan kuberikan.

“Emmm… I do oppa.”

Aku ingin melihat langit malam bersamamu lagi. Tapi, bukan yang seperti ini…

Jam tepat berada di angka sebelas pagi ini. Telat sepuluh menit, namun aku masih setia menunggu namja itu. Sudah beberapa kali aku melihat dari jendela kamarku di lantai dua, memastikan ada yang datang atau tidak. Tapi hasilnya nihil.

Akupun turun ke lantai satu. Menemui Eomma dengan pakaian dan aksesoris yang lengkap. Hal ini membuatnya ‘muda’ kembali. Aku jarang sekali bahkan tidak pernah melihat Eomma sudah berdandan pagi-pagi begini. Ia bilang ada acara dengan temannya. Tapi, ia tidak menjelaskan secara detail padaku.

Alhasil, kini aku sendirian di rumah. Namun tidak lama kemudian Chen datang, membunuh rasa bosanku berada di rumah sendirian seperti ini. Aku dengan sigap langsung menghampiri Chen dan mengenakan helm yang ia berikan padaku. Kemudian duduk di belakang.

Hari ini Chen berencana untuk mengajakku ke COEX untuk sekadar makan siang dan ia bilang, ia ingin memberikan sesuatu untukku. Aku sudah tahu bahwa dia orang yang penuh dengan kejutan.

Setelah sampai di COEX, ia segera menarikku ke toko perhiasaan dan memperbolehkanku untuk memilih satu diantara banyaknya gelang yang tertata di etalase toko tersebut. Setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan, ia menarikku kembali ke area food court. Ia bilang, perutnya sudah minta diisi, dan aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.

Aku sempat menangkap bayangan sepasang namja-yeoja yang umurnya sekisaran 30-40an sedang berbincang dengan asyiknya. Belum lagi, aku sangat mengenal sosok yeoja itu yang tak lain adalah eommaku sendiri. Pemandangan itu sangat menyakitkan. Pasca meninggalnya appa, eomma berjanji padaku untuk menjagaku sebaik mungkin dan tidak akan berniat untuk menikah lagi. Tapi, pemandangan di depanku membuat hatiku seolah terbelah. Namja itu memegang kedua tangan eommaku seolah ia adalah istrinya sendiri.

“Appa…” lirih Chen kemudian.

Aku menatapnya heran. Ya, aku tahu bahwa kami adalah sahabat baik. Tapi tentang orang tua masing-masing, kami tidak saling mengetahui atau memberitahu. Aku mengikuti langkahnya yang mulai mendekati pasangan yang sedang duduk di depan kami.

Aku tidak mendengar apa yang pria tua tersebut katakan kepada eommaku. Tapi, aku bisa mendengar eommaku yang baru saja berucap bahwa ia mau. Apa maksudnya?

“Eomma…” lirihku begitu sampai di hadapan eomma dan pria yang tidak kukenal.

Tangan mereka masih bersatu. Bahkan semakin erat saja.

“Apa maksud semuanya eomma?” tanyaku to the point.

Eomma berusaha menenangkanku. Ia sudah tahu bahwa aku pasti akan menolak jika ia bilang akan menikah lagi.

“Eomma berani sekali mengkhianati mendiang appa…”

Aku tahu perkataanku sebelumya sudah melebihi batas. Tapi, itulah yang aku rasakan sekarang. Akupun berlari dari hadapan mereka sambil terus menyeka air mata yang terus menerus keluar dari pelupuk mataku.

Langkah besar Chen mampu mengejarku meskipun aku merasa telah lari secepat mungkin. Ia menarik tanganku sehingga aku berhenti dan berakhir di pelukannya. Tangisanku mulai susut perlahan karena bibirnya menyapu bibirku. Membuatku tidak bisa terisak seperti apa yang kulakukan beberapa menit lalu.

3 Minggu kemudian…

Aku berencana untuk mencari udara segar dan melihat bintang dari balkon kamar. Saat aku keluar, aku melihat namja itu dengan lirih menyanyikan lagu yang sepertinya adalah buatannya sendiri. Seketika, ia menghentikan petikan gitar dan senandungnya lalu menatap ke arahku.

“Bintang yang indah, bukan?” tanyaku basa-basi.

Kulihat ia hanya menatapku sebentar, kemudian mengangguk sambil tersenyum. Namun, aku bisa melihat dari sorot matanya bahwa ia merasakan kegelisahan yang mendalam. Atau mungkin, dia memiliki masalah yang tidak kuketahui?

“Aku tahu sekali tentangmu. Kau tidak seperti biasanya,” ucapnya kemudian.

Aku menatapnya heran. Tidak. Tatapannya yang seperti itu… Kukira ia memiliki masalah. Jadi, selama ini ia sedang… memikirkanku?. Aku mencoba menafsi beberapa kemungkinan yang terjadi.

“Sudah lama aku tidak melihat bintang, aku ingin melihatnya lagi.”

Ia tersenyum sebentar, “Kau benar. Terakhir kita melihatnya bersama sekitar sebulan yang lalu. Sudah cukup lama.”

Akupun ikut tersenyum mendengar jawabannya. Kemudian melempar pandanganku kembali kepada sosok namja yang berada di balkon sebelah.

“Oppa, kalau ada sesuatu yang terjadi di antara kita berdua… apa yang akan kau lakukan?”

“No matter what happen, I’ll always love you, dear.”

Jika semuanya berubah menjadi suatu hal yang jauh dari apa yang kita genggam selama ini,apa yang harus kita lakukan?

Tak lama setelah kudengar jawaban dari Chen, teriakan eomma memaksa kami berdua untuk turun dan berkumpul di meja makan. Seperti biasa. Makan malam bersama. Kupastikan telingaku terpasang dengan baik saat eomma dengan jelasnya mengatakan bahwa ia akan mengumumkan suatu hal yang penting.

“Eomma akan menjodohkanmu dengan anak dari salah satu teman kolega appa, Nari.”

Mataku terbelalak mendengar pernyataan eomma. Tidak mungkin. Bahkan usiaku baru 17 tahun. Apa yang ada di pikiran eomma? Agar aku bisa terpisah dari Chen?!

“Aku tidak mau!!!” bantahku dan mendapat kecaman keras dari eomma.

“Kau harus menikah dengannya. Mereka sudah mempersiapkan semuanya. Tepat esok malam, kau akan menjadi pengantin baru,” jelas eomma lagi. Aku tidak bisa mengelaknya lagi.

Chen seperti bisa membaca pikiranku. Ia hanya tersenyum seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Keesokan harinya…

Benar saja, eomma bilang bahwa ini adalah permintaan terakhir darinya. Membuatku merasa tidak enak. Sehingga, aku memutuskan untuk menyetujui perjodohan ini. Sebelumnya, aku meminta pendapat kepada Chen akan hal ini. Ia menghembuskan nafas beratnya sebelum berkata iya.

Namja yang akan mejadi suamiku sudah berdiri di altar. Aku berjalan dengan langkah kecil. Berusaha menangkap bayangan para tamu dan berusaha untuk menemukan Chen tentunya. Namun nihil. Aku tidak melihatnya datang ke acara ini. Padahal, aku ingin ia hadir. Meskipun itu akan sakit baginya.

Aku ingin menangis bersamamu. Bukan membiarkan dirimu menangis sendiri karenaku. Mianhae, Jeongmal mianhae. Ini bukan mauku, ataupun maumu…

Tentu saja. Dulu kami sering bermain di tempat ini. Berkejaran satu sama lain. Serta tempat dimana ia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Semua terlintas begitu saja. Seolah Tuhan sedang memutar kisah kehidupanku sejak pertama kali aku berada di dunia ini.

Kini, aku tidak bersamanya. Namja berperawakan lebih tinggi dari dirinya, kini sedang menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya heran. Sedangkan ia hanya balas menatapku tanpa berkata apa-apa.

Kulihat kembali pemandangan di hadapanku. Dirinya, seseorang yang sangat aku rindukan. Seseorang yang belum pernah kutemui kembali setelah hari pernikahanku dua minggu yang lalu. Ia sedang duduk menghadap danau yang tenang. Tangannya memainkan ilalang yang ia petik sebelumnya.

“Aku ingin bertemu dengannya,” pintaku kepada Kris.

Dengan tampangnya yang kaku, ia hanya mengangguk pelan. Lalu, melepaskan genggaman tangannya dan masuk ke dalam mobil.

“Aku menunggu di mobil saja,” ucapnya sambil menyunggingkan seulas senyum setengah terpaksa kepadaku.

Akupun berjalan mendekati Chen dan mulai mendapati bahwa ia sedang menangis. Sepertinya ia juga menyadari kehadiranku. Karena, tak lama kemudian ia menghadap ke belakang. Tepat ke arah dimana aku berdiri. Bibirnya mengulas senyum pahit. Akupun duduk di sebelahnya. Sama seperti yang ia lakukan sebelumnya. Aku menghadap ke arah danau.

“Sedang apa di sini?” tanyanya datar.

Aku menatap heran ke arahnya. Dia tidak seperti biasanya. Tidak ada eyes smile seperti biasanya dan senyuman yang manis dari bibirnya itu. Sungguh, aku tidak ingin melihatnya menderita seperti ini. Ini semua bukan keinginanku.

“Saeng-i, harusnya kau pulang dengan suamimu.”

“Saeng-i? begitu ya?” ulangku yang kemudian menunduk.

Hatiku mencelos seketika. Kenapa aku belum bisa menerima kenyataan bahwa kini, aku hanyalah adik tiri baginya. Bukan sebagai sepasang kekasih lagi. Butiran beningpun mulai keluar dari pelupuk mataku.

Ia yang mendapati diriku sedang menangis, kemudian mengangkat wajahku pelan. Menyapu bersih kedua sungai tersebut dengan tangannya dan mencoba tersenyum meski aku tahu hatinya masih sakit untuk melakukan hal itu.

Ia menatapku dengan tatapan sendu seolah ini adalah terakhir kalinya kami bertemu. Aku juga tidak berani jamin. Mungkin, akan benar adanya. Setelah hari ini, aku tidak akan melihat dirinya lagi.

Tangannya mengelus pipiku dan aku hanya dapat menatap matanya yang berkaca-kaca. Aku masih sedikit terisak sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mencium bibirku lembut. Basah. Ia menangis lagi.

Aku tidak peduli apakah Kris akan melihat kejadian ini atau tidak. Aku tidak peduli. Karena, setelah ini tidak akan ada lagi cerita cinta tentang kami. Aku dan Chen. Tidak ada lagi ciuman. Kata sayang atau bahkan hanya sekadar bertemu satu sama lain.

Kulihat Kris keluar dari mobilnya. Aku terkesiap dan kemudian bangun dari dudukku. Chen yang berada di sebelahku juga ikut terbangun karenanya. Tanpa pikir panjang, kupeluk tubuhnya dan kucium sekilas bibirnya.

“Aku sangat mencintaimu,” bisikku sebelum akhirnya berlari menuju Kris yang tampak tidak senang melihatku.

Biarpun kita tidak saling terikat lagi, tapi hati kita mengatakan yang sebaliknya. Sekali lagi, maafkan aku. Jika aku bisa memilih jalan hidupku sendiri, aku akan lebih memilih untuk tidak menerimamu. Tapi perasaan ini, aku tidak akan pernah bisa untuk melarangnya. Selamat tinggal, aku akan selalu mencintaimu…

 

THE END

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] I Love You, But…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s