[FF Freelance] In Your Eyes (Part 4)

in your eyes 2

Title : In Your Eyes

Author : Park Minhwa (@putrii_tasha) & Mickeymo125 (@yrkim19)

Main Cast :

Park Chanyeol || Im Yoona

Sub Cast :

Kim Jongin || Jung Sooyeon || Kim Youngran (OC) || Park Minhwa (OC)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Disclaimer : Alur/plot milik pure hasil kolaborasi kami. Cast milik mereka sendiri.

Don’t be Plagiator & Silent Reader!!!

 Previous part: Part 1Part 2, Part 3,

Holaaaaaaa .. Kami kembali;;;) Maaf untuk post-an yg terlalu lama. Dan terimakasih untuk respon yang baik untuk ff ini. Itu seperti oksigen bagi kami, jadi kami berharap kalian bisa lebih mengapresiasikannya lagi dikolom komentar, tanpa siders yang selalu membisu tentunya:)

Posted in :

mickeymo125.wordpress.com

pinkypark88.wordpress.com

exoshidaefanfic.wordpress.com

readfanfiction.wordpress.com

= Chapter 4 “When I Trully Fallin Love” =

Hanya perlu satu kata untuk sebuah jawaban dari apa yang bisa membuatku bahagia. Kau tahu apa itu? Kau!. Ketika bersamamu aku akhirnya menyadari sesuatu, bahwa aku … Terlahir untuk mengenalmu, melihat senyummu, sebelum akhirnya ditakdirkan untuk jatuh cinta padamu.

-Park Chanyeol-

***

Sesekali gadis-gadis dengan rok nyaris lima belas centi di atas lutut itu mengoleskan lagi dan lagi lipbalm merah muda yang tampak berkilau dan berkelas dari kantong make up mereka. Atau kali lainnya gadis-gadis itu menyisir surai mengkilap mereka yang entah diwarnai oleh warna coklat jenis apa yang mungkin tak kalah mahalnya. Yang jelas, salah satu diantara mereka tampak lebih mencolok. Rambut blonde dengan tubuh S line juga rupa yang jelita. Tanpa diberitahu, orang-orang tentu sudah paham betul  siapa pemimpin dari gadis-gadis itu. Ya, sang pemimpin. Sang gadis jelita.

“Majalah Vogue yang kau pinjam kemarin kapan akan kau kembalikan?.” Gadis dengan surai coklat muda tampak memasang sebuah jepit pita berwarna hitam. Gadis lain yang ditanya hanya menoleh sembari memoles-moles pipi tirusnya dengan foundation.

“Besok akan ku bawa, lagi pula menurutku edisi itu tidak semenarik edisi sebelumnya.” Jawab sang gadis sembari menutup botol foundationnya.

Si pemimpin menoleh. Matanya yang beroleskan eyeliner menatap gadis itu tajam. “Apa maksudmu? Edisi itu sangat berkelas dan penuh pesona. Kau lihat di halaman sembilan? Aku membeli salah satu pakaian di halaman itu. ”

Gadis yang ditatap perlahan menundukkan kepalanya. Ah ya, dia takut. Sang pemimpin baru saja menyanggah ucapannya. “Benarkah? Ah mungkin aku saja yang tidak memperhatikan dengan baik.”

Sang pemimpin hanya tertawa mengejek. Tatapannya kembali beralih pada cermin besar dihadapannya. “Atau mungkin selera mu saja yang kampungan.”

Dua gadis lainnya tertawa garing. Mencoba menghibur sang pemimpin yang tampak kebosanan. Ah, gadis-gadis remaja itu bahkan sudah memproyeksikan senyuman palsu yang sering dilakukan orang dewasa.

“Ah sudahlah, tapi.. Kapan kau akan mengundang kami kerumah mu dan memperlihatkan koleksi terbaru baju-bajumu itu?.” Salah satu gadis lainnya tampak memperhatikkan ekspresi sedih si gadis yang ditertawakan tadi. Bertindak cukup cepat, gadis itu mengalihkan perhatian si gadis pemimpin.

“Besok kalian bisa datang. Kebetulan besok baju-baju pesananku sudah tiba.” Jawab si gadis sembari menyibakkan surai pirangnya kebelakang. Ketiga gadis itu hanya tertawa garing lagi sembari bertepuk tangan.

Gadis cantik itu berbalik membelakangi cermin. Tangannya terlipat di depan dadanya. “Park Hyura, Hwang Sojin, Cho Minha..” Ucapnya hati- hati. Ketiga gadis yang dipanggil menoleh dengan antusias. “Anyways, apa kalian tahu Park Chanyeol dari Seoul High School?.”

***

“Oppa, apa yang akan kau lakukan?.” Minhwa kembali membuka suara setelah sebelumnya keheningan menghampiri mereka. Park Chanyeol hanya mendengus seraya mengacak rambutnya frustasi. Minhwa gadis yang berdiri dihadapannya perlahan bergerak dan duduk di samping pria itu –di ujung ranjang.

“Aku tidak tahu.”

“Apakah kau akan menentangnya?.” Gadis itu bertanya untuk kesekian kalinya. Guratan khawatir terpatri jelas di keningnya yang berkerut. Lagi, Park Chanyeol mendengus pelan.

“Aku tidak tahu.” Pria itu perlahan membalikkan badannya hingga tidur telungkup di ranjangnya.

“Jadi, kau tidak tahu akan memberitahu Yoona eonni atau tidak?.” Gadis itu berekspetasi singkat, membuat sang kakak tertegun dan menegang di tempatnya. Yoona, jika menyangkut Yoona. Semua nya akan berbeda urusan.

“Apa kau tahu siapa yang akan dijodohkan denganku?.” Kali ini Park Chanyeol membalikkan badannya. Menatap langit- langit kamar Minhwa yang bercat biru tosca. Perlahan pria itu mencoba mengingat beberapa wanita yang pernah bertemu dengannya di pesta keluarga. Sialnya, Park Chanyeol kini bahkan tidak bisa menentukkan kira-kira gadis pilihan yang mana yang akan dijodohkan dengan dirinya.

“Tidak, aku tidak tahu.” Minhwa mengendikkan bahunya singkat lalu masih tetap memperhatikan kakaknya dengan khawatir. Dia tahu, kakaknya mungkin sedikit terguncang.

Keheningan mulai menyelimuti atmosfir diantara kedua kakak beradik itu. Minhwa hanya diam menikmati dentuman jam dinding yang terpampang di sebelah kanan ranjangnya dan Chanyeol hanya terus diam melamun memandangi langit- langit yang bisu. Detik selanjutnya, ponsel yang notabenenya milik seorang Park Chanyeol bergetar pelan. Membuat adiknya menoleh singkat lalu menggapai ponsel yang tak diperhatikan sang kakak.

“Ini pesan dari Yoona eonni.. Haruskah aku bacakan? Katanya ba –.”

“Ya~! Berikan padaku.” Sekali gerakan, pria itu merebut ponselnya segera. Membuat Minhwa sedikit terjengkang dan mendelik pada dirinya. Gadis itu merapikan poninya yang sedikit acak-acakan. Lalu detik selanjutnya gadis itu tersenyum lebar pada sang kakak.

“Kau licik, kau memanfaatkanku. Tapi tidak apa- apa, toh aku juga menyukai Yoona Eonni. Baiklah, sekarang kau hanya perlu berjuang dan jangan menyerah. Arrachi?.” Minhwa bangkit lalu mengelus kepala sang kakak pelan. Senyuman lebar itu tidak juga hilang dari wajah manisnya dan kali lainnya gadis itu sudah menghilang di balik pintu. Meninggalkan Park Chanyeol sendirian dengan sebuah pesan yang sudah terbaca sebelumnya.

Bagaimana dengan Minhwa? Apa dia sudah memaafkanmu? Aku tidak terlalu yakin, tetapi kurasa Minhwa mengerti dan akan segera memaafkanmu.

 

Pria itu tersenyum sekilas. Menatap layar ponselnya dengan berbinar. Entah kenapa jantungnya berdebar dan terus berdebar jika hal-hal mengenai gadis itu ada di dekatnya. Dalam diam pria itu mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Ya, dia sudah memaafkanku. Bagaimanapun ini semua berkatmu Yoona-ya. Terimakasih. Ayo keluar, akan ku traktir ddeobokki.

 

***

‘LIMITED EDITION : SUPER JUNIOR’s EXPERIENCE KOREA’

(plus SUPER JUNIOR’s SIGNED)

Riuh-riuh teriakan dari beberapa gadis dengan seragam sekolah menjadi bukti betapa ramainya sebuah toko buku di pinggiran distrik Seoul dengan sebuah banner berwarna shappire blue terpampang jelas di kaca depan toko. Bahkan banyak diantara mereka yang memaksa menerobos masuk melewati pintu kaca dengan lonceng kecil keemasan dibaliknya. Senyum mengembang terpatri refleks dibibir mereka yang telah berhasil masuk kedalam toko tersebut. Tapi sebaliknya, cacian dan keluhan berkali-kali terlempar dari mulut mereka yang masih berdesak-desakan untuk bisa melewati pintu kaca dibawah banner berwarna shappire blue itu.

Dari arah yang berlawanan, dua orang gadis dengan seragam sekolah yang berbeda tengah berlari menuju kerumunan di depan toko buku itu. Keduanya terengah setibanya di barisan paling belakang kerumunan itu.

“KAU?.” Kedua gadis itu saling menunjuk satu sama lain. Nafas mereka yang abnormal tidak menghilangkan kesan terkejut satu sama lain.

Salah satu gadis dengan rambut tertata rapi sebahu mendengus pelan. “Aissh, kenapa aku bertemu dengannya lagi?.”

“Hey kau! Apa yang kau lakukan disini?.” Gadis yang satunya melipat tangan di dada. Rambutnya yang hitam sedikit dibuat ikal pada ujungnya. Manik-manik kecil pada ikat rambut gadis itu berkilauan terkena hamparan cahaya matahari.

Gadis pertama yang tidak lain adalah Kim Youngran mendesis lewat sela-sela giginya. Lalu menatap kearah banner diatas toko beberapa detik dan kembali menatap gadis dihadapannya dengan tatapan tak terbaca. “Tentunya jawaban yang sama denganmu Park Minhwa.”

Park Minhwa hanya mendelik singkat, untuk sejenak berpikir keras tentang hal-hal apa yang akan memicu kemarahan gadis dihadapannya. Belum sempat gadis itu berbicara, Youngran sudah  ikut masuk berdesak-desakan bersama yang lainnya. Untuk sesaat Park Minhwa kehilangan bayangan gadis itu, namun saat kepalanya menoleh kearah kiri, ia mendapati Youngran sudah mendahuluinya untuk mengantri . “Cih, dia mencuri garis start.”

Tanpa menunggu lama lagi Minhwa segera menerobos kerumunan mencoba menyusul Youngran. Keduanya mengeluarkan tenaga yang mereka punya hanya untuk bisa masuk kedalam sebuah toko dengan puluhan gadis cerewet yang sedari tadi tak henti-henti nya berteriak pada pemilik toko untuk membukakan pintu sepenuhnya.

“Ahjussi! Kumohon sisakan satu untukku!.”

***

“Yoona-ya?.”

Yoona tersentak kaget ketika pria sepupunya itu tiba-tiba muncul dihadapannya sedetik setelah ia menutup pintu rumah. “Ya~! Kim Jongin! Kau mengagetkanku.”

Pria itu hanya tersenyum kecil dan mengacak sedikit rambut bagian belakangnya. Seragam yang dipakainya sedikit kusut dan sebuah tas hitam tersimpai asal di bahunya yang ramping. “Kau akan pergi?.” Pria itu memperhatikan Yoona dari bawah hingga ke atas. Mendapati objek tatapannya kini sudah tampak luar biasa cantik. Walaupun hanya dengan sebuah jepitan di sisi kiri rambutnya. Saat ini dia benar- benar mengerti betul tentang ‘kesempurnaan’ yang sederhana.

Gadis itu mengangguk sekilas, mencoba tersenyum sewajarnya karena Jongin menatapnya seperti itu.

“Kemana?”

“Aku akan keluar sebentar dengan temanku.” Yoona sedikit mengusap rambutnya yang rapi. Mencoba menghilangkan kecanggungan dan menekan rasa ingin cepat- cepat pergi yang mulai membuncah. Jongin, pria itu mengerutkan keningnya untuk beberapa detik. Perlahan melangkahkan kakinya mundur sebagai tanda untuk mempersilahkan Yoona pergi.

Gadis itu hanya tersenyum simpul. Lalu berjalan melewati tubuhnya. Feromon gadis itu sempat tertangkap indra penciuman Jongin, membat jantungnya berdetak dengan cepat. Perlahan tubuhnya memutar seratus delapan puluh derajat. Menatap punggung Yoona yang menghilang dibalik gerbang rumah. Pria itu tersenyum miris. Kepalanya tertunduk dan menatap sepatu sneakersnya dalam diam.

Youngran menggeleng “Jangan percaya diri, bodoh! Dia itu saingan terberatmu.”

Jongin mengernyit, ia sedikit bingung dengan ucapan adiknya itu.

“Sepertinya Yoona eonni juga menyukai Chanyeol oppa, tampak jelas dari tatapannya.” Youngran menambahkan. Ia kembali menyendok eskrim dalam mangkuk ke-7 nya.

“Tsk! Kau bercanda? Kau bilang mereka belum lama kenal. Mana mungkin dengan secepat itu Yoona menyukainya.” Jongin dengan keras membantah. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, tidak setuju dengan ucapan Youngran barusan.

“Sesuai dengan yang Yoona eonni ceritakan semalam, mereka memang belum lama saling mengenal. Tapi, aku bisa melihat jelas dari sorot mata Yoona eonni, dia tertarik pada Chanyeol oppa. Begitupun sebaliknya. Chanyeol oppa terlalu mempesona bagaimanapun.”

Jongin kembali mengingat obrolan –yang begitu menguras dompetnya – dengan Youngran kemarin. Dengkulnya menjadi lemas setelah ia mencoba menyimpulkan dengan siapa Yoona pergi. Selain Yuri dan Sooyoung, seingatnya Yoona tidak terlalu dekat dengan siapapun. Ya, kecuali dengan pria yang menjadi topik perbincangannya dengan Youngran kemarin. Park Chanyeol.

***

15 menit sudah Youngran dan Minhwa mencoba menerobos kerumunan didepan toko itu. Terhitung kali kesekian mereka mencoba mendorong beberapa gadis dihadapan mereka untuk menyingkir dan memberi mereka akses untuk lebih dekat dengan pintu masuk. Dan kali kesekian juga mereka terkena makian gadis-gadis yang merasa terganggu karena ulah mereka, kedua gadis dengan kepala seperti batu itu tak ayal melakukan hal gila seperti itu hanya karena tidak ingin kehabisan buku limited edition yang dijual di toko itu. Toko buku ini hanya tinggal satu-satunya di Seoul yang menjual buku pemandu wisata Super Junior plus dengan tanda tangan para membernya. Dengan peluh yang bercucuran didahi mereka masing-masing, keduanya bernafas lega ketika gadis-gadis dihadapan mereka perlahan menyingkir diiringi dengan desahan-desahan penuh kekecewaan.

Youngran dan Minhwa saling melempar pandangan bingung. Tentu saja, gadis-gadis yang satu menit lalu saling berdesak-desakkan disini kini sudah menyebar menjauhi toko.

Detik selanjutnya mereka dengan serempak menatap pintu kaca toko buku. Sebuah kertas putih dengan tulisan menyebalkan sudah tertempel rapi disana, membuat perjuangan mereka selama dua puluh menit itu terbilang sia-sia.

SOLD OUT.

“ANDWEEEEEEE!.”

***

Lonceng natal dengan warna keemasan itu berbunyi ketika pintu kaca terbuka. Seorang gadis dengan surai kecoklatan berjalan masuk dengan sebuah tas bahu kecil yang menemaninya. Ia membagi pandangan keseluruh penjuru ruangan dengan dinding yang berwarna orange itu, mencoba mencari sesuatu.

“Yoona-yaa?.” Sebuah teriakan kecil tiba-tiba menyeruak melewati gendang telinga si gadis. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sebuah tangan kurus milik seorang pria dengan rambut cepak hitam dan tubuh yang berbalut sweater hitam tengah duduk di meja ujung dekat jendela kaca. Pria itu tersenyum menyambut gadis yang tengah berjalan menghampiri meja yang ia duduki.

“Apa sudah menunggu lama?.” Yoona bertanya lembut, suaranya sedikit bergetar karena gugup. Disisi lain, Park Chanyeol juga sama gugupnya. Pria itu susah payah menahan tangannya yang sedikit gemetaran.

Chanyeol menggeleng lembut. “Mungkin ya, tapi tak apa jika untuk menunggumu.” Sebuah kalimat manis tiba-tiba keluar begitu saja dari mulut pria dengan sweater hitam itu. Ia bahkan begitu ragu jika kalimat itu benar-benar keluar dari mulutnya. Sejak kapan aku seberani ini? Astaga!. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal setelah menyadari ucapannya barusan membuat sang gadis merona.

“Maaf aku terlambat. Jalanan macet siang ini, mungkin karena festival kembang api di taman kota nanti malam.” Yoona beralasan, mencoba untuk mengalihkan suasana sembari melepas tas bahu nya dan menaruhnya segera diatas meja.

Pria itu -Chanyeol- hanya mengangguk setuju lalu tersenyum ringan. “Seharusnya aku menjemputmu tadi.” Senyuman malu- malu itu terasa sangat menggemaskan. Setiap ucapan pria itu, selalu tampak tulus dan polos. Membuat jantung Yoona semakin berdebar tidak karuan.

“Ani, gwaenchana. Jarak tempat ini dengan rumahku tidak terlalu jauh. Akan menjadi sangat merepotkan jika kau menjemputku.”

Pria itu menatap Yoona lagi. Dalam diam larut kedalam pesona indah gadis itu. “Baiklah, kau ingin pesan apa? Aku traktir.”

***

“Ini.” Minhwa memberikan sebuah kapsul dan sebotol air mineral pada Youngran. Gadis dihadapannya itu hanya menatap tangan Minhwa ragu.  “Ambilah, wajahmu sangat menggenaskan jika pucat seperti itu.” Tangan Minhwa yang terulur dia ulurkan lagi lebih dekat pada wajah Youngran. Membuat gadis berambut sebahu itu memundurkan kepalanya.

Youngran berdecak, tangannya terulur menerima kapsul dan botol air minum dari Minhwa. Ia memalingkan wajahnya seraya bergumam rendah. “Terimakasih.”

Minhwa tersenyum, ia mendudukkan diri disamping Youngran. “Kenapa hariku begitu sial setiap bertemu denganmu?.” Gadis itu tersenyum lagi sembari menengadah menikmati cahaya matahari yang terik. Matanya menyipit karena cahaya-cahaya itu menyilaukan retinanya. Gadis itu terkekeh kemudian sembari menoleh kepada Youngran yang tetap diam dengan botol airnya. “Aku kehilangan buku limited edition-ku itu karena bertemu denganmu!.”

“Jadi, maksudmu aku pembawa sial?.” Youngran menanggapi dengan wajah datarnya. Mungkin gadis itu sedang malas adu mulut dengan Minhwa atau mungkin memang sudah tidak punya tenaga.

“Youngran-sshi, kau pemarah sekali. Aku lelah berdebat denganmu. Jadi,  Ayo kita berbaikan saja.” Minhwa mengulurkan tangannya pada Youngran. Membuat gadis itu mengernyit bingung, merasa aneh dengan perubahan mood pada gadis itu yang sangat cepat.

“Kenapa kau tiba-tiba berubah menjadi baik?.” Bukannya menjawab, Youngran malah melemparkan pertanyaan yang membuat Minhwa menurunkan tangannya. Gadis itu cemberut.

“Aissh, sebenarnya aku ini orang baik. Kau saja yang tak tahu!.” Kini, Minhwa yang menatap kesal kearah Youngran.

Youngran mendengus, ia mengangkat kelingking tangan kanannya di detik berikutnya. “Baiklah, kita berbaikan saja.”

Minhwa tersenyum lebar dan langsung menautkan kelingking tangannya dengan bersemangat. Mereka berdua saling bertatapan lalu tertawa kecil.

“Minhwa-ya, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?.”

“Tentu saja,.”

Youngran menggaruk rambutnya yang tak gatal, sedikit ragu untuk mengatakan pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Minhwa. “Emm, apakah kakakmu … menyukai Yoona eonni?.”

Minhwa menoleh kearah Youngran segera, ia berfikir sejenak dan beberapa detik kemudian mengangguk pasti. “Kurasa ya.” Gadis itu mengerucutkan bibirnya, berfikir lagi tentang keakuratan fakta yang baru saja dilontarkannya.

Youngran tersenyum seraya menghela nafas lega. “Syukurlah, sudah kuduga.”

“Memangnya kenapa?.” Kali ini Minhwa menatap Youngran dengan penasaran. Sesekali, kedua gadis itu lupa kini mereka tengah duduk di halteu bis. Mereka terlalu larut dalam pesta berbaikan mereka.

“Kupikir Yoona eonni juga menyukai Chanyeol oppa. Rasanya begitu lega jika bisa melihat Yoona eonni bahagia.”

“Apa kau begitu menyayangi Yoona eonni?.”

“Ya, aku sudah menganggapnya kakak kandungku sendiri. Dia sudah banyak melewati masa yang sulit.” Youngran memelankan suaranya. Tatapannya berubah sendu dan gadis itu menghentak-hentakkan sepatunya pelan.

Minhwa berjengit. “Maksudmu?.”

“Kau tahu? Dulu, emm kira-kira tiga tahun yang lalu sebelum Yoona eonni tinggal bersama kami, ia begitu menderita. Im imo meninggal ketika Yoona eonni berumur 12 tahun, aku pun masih begitu kecil saat itu. Yoona eonni hanya tinggal bersama Im samchon setelah itu. Entahlah, apa karena depresi atau apa. Samchon berubah, ia sering menggunakan kekerasan bahkan pada Yoona eonni yang masih duduk ditingkat junior. Aku mengetahuinya ketika melihat beberapa luka memar ditubuhnya ketika eomma membawa Yoona eonni menginap dirumah. Dalam tidur pun, aku sering melihat Yoona eonni mengeluarkan airmata nya, ia mengigau sembari memanggil nama imo, ia bahkan pernah mengigau agar imo menjemputnya. Itu gila bukan?” Youngran menarik nafas, sekilas melirik pada eksresi serius dari Minhwa.

“Itu terjadi sampai bertahun-tahun lamanya. Dan akhirnya, aku dan Jongin oppa sepakat untuk membicarakannya dengan appa dan eomma, tanpa sepengetahuan Yoona eonni tentunya. Unnie selalu melarangku untuk memberitahu hal itu pada siapapun. Hanya karena satu alasan, Yoona eonni takut samchon akan semakin terus menyiksanya. Dan akhirnya, appa melaporkan samchon ke polisi dengan tuduhan penganiayaan. Samchon masuk penjara dan Yoona eonni tinggal bersama kami semenjak saat itu. Yoona eonni bahkan tak punya teman pria, ia hanya dekat dengan appa dan Jongin oppa. Dan dua tahun yang lalu, samchon meninggal. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa melihat Yoona eonni hidup tanpa dihinggapi rasa ketakukan pada samchon. Dan beberapa hari terakhir, Yoona eonni terlihat begitu bahagia. Ia sering kali tertangkap basah tengah tersenyum ketika melamun. Dan kurasa kau bisa menebak sendiri apa yang membuatnya bahagia.” Youngran berbicara panjang lebar, matanya sedikit berkaca-kaca. Tapi tersenyum lega setelahnya. “Aku bahkan sangat ingat. Di hari kematian samchon, Yoona eonni terus bergumam ‘sudah berakhir, ini sudah berakhir’.”

“Oppa-ku? Chanyeol oppa kah yang sudah membuat Yoona Eonni tersenyum lagi?.”

Youngran tersenyum, ia menengadah menatap bulatan sinar yang menyilaukan dibalik hamparan awan seperti yang dilakukan Minhwa sebelumnya. “Ya, kau benar.”

***

“Apa kau ada urusan setelah ini?.” Chanyeol bertanya, ditangannya tergenggam satu buah ddeobboki dengan beberapa bekas gigitan. Pria itu menatap Yoona yang tampak sedang mengunyah.

Yoona tampak berpikir. Kemudian menggeleng setelahnya. “Waeyo?.”

Bibir Chanyeol melengkung membuat sebuah senyuman. “Emm, bagaimana kalau setelah ini, kita melihat festival kembang api?.” Pria itu menyimpan makanannya dan menatap Yoona dengan berbinar. membuat gadis itu sedikit salah tingkah.

“Baiklah.”

Saat itu juga, Chanyeol mendengar dirinya menjerit tertahan. Dia merasa baru saja bunga- bunga di sekitar Arizona bermekaran. Edelwise di pegunungan berterbangan dan ribuan kupu- kupu membawanya ke udara. Pria itu terhenyak kemudian, tidak tahu tentang apa yang baru saja terjadi pada pikirannya. Yoona tampak kembali sibuk dengan makannya dan lagi, Park Chanyeol tersenyum diam memandanginya.

***

Youngran tertegun. Ia terbata setelah mendengar ucapan Minhwa di telepon. “A –apa? Kau tak bercanda? Chanyeol oppa dijodohkan?.”

/“Sungguh, aku tidak berbohong. Chanyeol oppa sudah dijodohkan.”/

“Lalu, bagaimana dengan Yoona eonni?.”

Terdengar desahan nafas diujung telepon. /“Kurasa Yoona eonni belum mengetahuinya, Chanyeol oppa tak akan memberitahunya.”/

“Bagaimana jika Yoona eonni tahu?.” Youngran sedikit memelankan suaranya. Lebih seperti berbisik tepatnya.

/Youngran-ah, kau harus membantuku dan Chanyeol oppa.”/ Terdengar Minhwa sedikit memelas di ujung telepon. Membuat Youngran memejamkan matanya singkat.

“Mworago?.”

/“Membatalkan perjodohannya.”/

Youngran menahan nafasnya. Untuk beberapa detik terdiam untuk mencerna permintaan Minhwa “Apa yang bisa kulakukan?.”

/Untuk sementara jangan beritahu Yoona eonni, aku akan mencari tahu tentang siapa gadis yang akan dijodohkan dengan Chanyeol oppa. Aku akan menghubungimu lagi nanti.”/

“Baiklah.”

PLIP. Sambungan terputus, Youngran mendesah panjang. Ia membenamkan wajahnya dibantal. “Kenapa kisah cinta Yoona eonni juga tidak berjalan mulus?.”

Tanpa sepengetahuan Youngran. Dibalik pintu kamarnya, sesosok Kim Jongin berdiri disana, mendengarkan percakapan adiknya itu dengan seseorang yang selalu ia panggil Minhwa. Pria itu terdiam sesaat lalu kemudian membalik badannya dan mengacak rambutnya perlahan.

“Kurasa aku masih punya kesempatan.” Gumamnya dengan sebuah seringaian terlukis di bibirnya. Pria itu terus menggumamkan hal yang sama sembari berlalu menjauhi kamar Youngran.

***

Duduk disana, Im Yoona dengan rambut kecoklatan yang panjang dan tergerai indah. Tas tangan yang menemaninya dia selipkan di samping tubuhnya yang kini terduduk di salah satu kursi taman. Angin malam selalu menggelitik kulit putih susunya. Membuat gadis itu sesekali merinding kedinginan. Dari arah lain. Park Chanyeol dengan segala kegugupannya, berjalan tak kalah gugup dari perasaannya. Dua buah cup frappaccino panas kini tergenggam penuh di kedua tangannya. Pria itu berdehem singkat. Membuat Yoona menatapnya dengan sebuah senyum garing.

“Ini.” Sebelah tangannya terulur memberikan cup frappaccino. Yoona hanya tersenyum lalu menerimanya,

“Terimakasih Park Chanyeol–ssi..”

Pria itu tersenyum lagi, tapi kali ini diiringi dengan semburat merah di pipinya. Pria itu berusaha meneguk frappaccino panasnya untuk menghilangkan gugup.

“Kapan festival kembang apinya dimulai?.” Yoona bertanya seraya menatap pria disampingnya dengan tenang. Chanyeol menyimpan cup frappaccino-nya ke samping. Lalu beralih menatap jam tangan hitam yang kini melingkar di tangan kirinya.

“Sekitar lima atau tiga menit lagi.” Pria itu tersenyum lagi, Yoona hanya mengangguk lalu kembali meneguk frappaccino digenggamannya. “Yoona–ya. Apa kau pernah melihat festival kembang api sebelumnya?.”

Kali ini giliran Yoona yang menyimpan cup frappaccino-nya. Lalu menoleh pada Park Chanyeol yang tengah menanti jawaban darinya. “Dulu aku sesekali melihatnya ketika ayah Youngran mengajak kami, tapi beberapa tahun kebelakang aku tidak pernah melakukan hal–hal seperti itu lagi.” Yoona tersenyum sekilas. Lalu menatap beberapa orang yang berlalu lalang. “Selama ini yang kulakukan hanya pergi sekolah, belajar, ke perpustakaan dan bekerja. Aku tidak pernah, makan di restaurant, atau pergi ke mall, atau menonton festival kembang api seperti ini, dan aku bersyukur bisa merasakannya kini, dengan dirimu Chanyeol,” Chanyeol mendengar jantungnya berdetak sangat cepat. Pria itu segera mengalihkan pandangannya kedepan dan sekuat tenaga mencoba menahan teriakan yang ingin sekali dia lontarkan. “Dan kau? Apa kau sudah sering pergi ke tempat seperti ini?.”

Kali ini pria itu memberanikan diri untuk menoleh kembali. Yoona tengah menatapnya penuh minat. “Sebenarnya aku tidak pernah tertarik pada hal-hal seperti ini, terlalu membuang- buang waktu. Tapi kau tahu Minhwa? Dia adalah manusia dengan kepala batu. Jadi mau tidak mau aku harus menemaninya jika dia merengek ingin nonton festival kembang api.” Chanyeol balas menatap Yoona. Senyuman gadis itu perlahan memudar. Dan entah kenapa Chanyeol merasakan dirinya kecewa.

“Jadi apa kau tidak senang saat ini? Kau bilang kau tidak tertarik pada hal-hal seperti ini.” Yoona jelas- jelas cemberut. Dan anehnya, Chanyeol merasa itu adalah hal paling imut yang pernah dia lihat.

“A –aniyo, tentu saja tidak saat kau bersamaku.”

Saat itu juga. Yoona membelalakan matanya dan jantungnya melompat-lompat. Pipinya sontak memanas dan gadis itu hanya menunduk untuk menutupinya. Sisi lain, Park Chanyeol merutuki kebodohannya mengatakan hal-hal yang membuat gadis itu kembali membisu.

“Yoona –ya, sebenarnya aku–.”

Detik yang sama. Kembang api bermekaran di angkasa. Menghiasnya dan menghidupkannya seolah langit malam adalah langit siang, dan seolah bulan adalah matahari. letupan–letupan istimewa itu tampak menakjubkan saat warna–warna disana tampak berpadu satu menjadi sebuah visualisasi seni yang ajaib. Beberapa orang bertepuk tangan senang, beberapa anak kecil bahkan terdengar menjerit riang.  Dan kedua insan itu kini teralihkan sepenuhnya. Yoona menatap langit malam dengan berbinar, Chanyeol melakukan hal yang sama, namun detik selanjutya pria itu mengalihkan pandangannya pada sosok Yoona yang sepertinya beribu kali lipat lebih indah dibandingkan kembang-kembang api itu. Ditatapnya lekukan wajah Yoona yang sempurna. Dan kini pria itu tersenyum riang. Mendapati dirinya kini sadar sepenuhnya. Gadis itu kini menoleh juga, bertemu pandang dan melemparkan senyum yang sama riangnya. Dalam hati keduanya berkata.

“aku tidak tahu, tapi aku rasa aku telah sepenuhnya jatuh cinta”

***

Yoona turun dari kendaraan roda dua berwarna merah mengkilap yang di duduki Chanyeol. Gadis itu tersenyum kecil seraya melepas helm yang dipakainya.

“Terimakasih Park Chanyeol.” Yoona mengulurkan helm yang dipegangnya seraya tersenyum. Chanyeol hanya balas tersenyum sembari mengangguk.

“Terimakasih Im Yoona.”

Yoona menaikkan sebelah alisnya. “Untuk apa?.”

Pria itu hanya terkekeh pelan, menatap Yoona penuh minat. “Untuk mu.”

Keduanya tertawa kecil sembari saling menatap. Sampai-sampai keduanya lupa . waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Angin pun semakin ganas dengan suhu minusnya.

Chanyeol melambaikan tangannya. “Masuklah, kau bisa mati kedinginan. Sampaikan salamku pada Youngran.”

Yoona hanya mengangguk, tangannya terangkat ragu untuk balas melambai. “Aku akan masuk, kau hati–hati dijalan. Sampaikan salamku pada Minhwa.”

Gadis itu membalik tubuhnya pelan. Sedikit keget saat tahu kini dirinya merasa enggan berpisah dengan pria itu. Langkah kakinya dibuat pelan-pelan dan itu membuat sebuah tawa kecil terdengar dibelakangnya, –Chanyeol tertawa. “Yoona?.”

Gadis itu menoleh, dengan senyuman mengembang dan sorot mata yang antusias. Chanyeol lagi-lagi terkekeh dibuatnya. “Selamat malam.”

Yoona ikut terkekeh. “Selamat malam juga untukmu.” Chanyeol mengangguk, membiarkan Yoona kembali melanjutkan langkahnya yang kini normal.

Saat gadis itu sudah menghilang sepenuhnya. Park Chanyeol kembali memakai helmnya lalu bersiap akan memacu motornya. Tapi sebuah siluet di kegelapan membuatnya tertahan sejenak. Mata pria itu menyipit dan semakin jelas bahwa seorang pria dengan mantel hitam dan rambut sedikit teracak angin tengah menatapnya dingin. Chanyeol memiringkan kepalanya, mencoba mengingat akan wajah familiar itu. Tapi nihil, otaknya tidak merespon apapun.

“Park Chanyeol.” Suara pria itu berat. Tubuh jangkungnya kini sudah berdiri tepat di depan motornya. Chanyeol mengernyit.

“Jauhi Yoona maka dia akan baik-baik saja.”

***

To be continued …

6 thoughts on “[FF Freelance] In Your Eyes (Part 4)

  1. akhirnya ni ff muncul jg..
    makin seruuu + makin pnsran am klnjutannya
    nextnya jgn lama” thor
    😉🙂🙂

  2. ternyata masa lalu yoona menyedihkan juga ya ><
    yeoja yang dijodohkan ma chanyeol tu sapa?? moga2 aja rencana minhwa ma youngran buat ngegagalin perjodohan itu berhasil,,,hoho
    namja yang nyuruh chanyeol buat jauhin yoona tu jongin??
    ditunggu kelanjutan partnya segera🙂

  3. Ok. Jadi tau masa lalu yoona. Dan, buat apa chanyeol dijodohiiin?? Terus yoona gimana entar ??
    Semoga chanyeol-yoona tetap bersatu ya. Lanjutt thor..

  4. kim jong in.. jangan ganggu yoona sam yeol ˋ△ˊmereka baru bahagia kaiiii lo bikin gua naik darah ╰_╯╰_╯╰_╯ˋˍˊˋ﹏ˊˋ︿ˊˋωˊˋ 3ˊˋε ˊˋ△ˊˋ▽ˊ

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s