[5] Where We Belong

Where We Belong

written by bluemallows

Main Cast: CNBlue’s Lee Jonghyun & Girls’ Generation’s Im Yoona || Genre: Romance, School-life || Rating: Teen || Length: Chaptered || Disclaimer: The plot is completely mine

0,5 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

            “Kalian istirahat cukup malam ini, jangan lupa besok pergi ke dinas pendidikan tepat waktu.” Entah sudah keberapa kalinya Jung-seonsaengnim mewanti-wanti regu paduan suaranya sore itu. Latihan terakhir sebelum lomba besok.

Mereka berjalan terpisah ketika menuruni tangga, ada yang mengambil sepeda di parkiran, keluar menuju halte bus, atau duduk menunggu jemputan. Soojung dan Yoona memilih untuk duduk berhadapan sambil menunggu Ibu Yoona datang menjemput. “Kau siap untuk besok?” Tanya Soojung seraya melepas karet yang mengikat tinggi-tinggi rambutnya dan mengikatkannya kembali.

“Semoga,” Yoona berbisik sambil tersenyum tipis. Jarinya meremas-remas ujung bangku panjang besi yang didudukinya, sebenarnya perasaan gugup menelusup dalam hatinya. Ini pertama kali ia mengikuti lomba paduan suara, bukan bidang yang seharusnya diikutinya.

“Hai,” Jonghyun mendadak duduk di samping Yoona, dan tersenyum pada dua gadis itu.

Satu alis Soojung terangkat, “Kau tidak pulang?”

“Aku menunggu Yonghwa dan yang lain untuk mencari makan malam nanti. Mau ikut?” Laki-laki itu menawarkan sambil memandang bola mata Yoona dan Soojung secara bergantian.

Ketika mendengar nama Yonghwa, Soojung cepat-cepat mengalihkan wajah. “Tidak, terima kasih.”

Yoona tidak dapat menjawab selain tersenyum simpul. Menikmati hangat tubuh Jonghyun di sampingnya, aroma bedak bayi yang menempel pada tubuh laki-laki itu, dan mengamati setiap lekuk wajah Lee Jonghyun. Tangannya meraih perutnya dan memegangnya. Ia merasakan ribuan kupu-kupu berkumpul di sana untuk menggelitik perutnya. Pesan singkat, telepon, berpapasan, atau apapun tidak dapat mengalahkan perasaan duduk bersebelahan dengan seseorang yang kita sukai, bukan?

“Kau memakai bedak bayi?”

Jonghyun nampak sedikit terkejut dan mencium lengan jaket yang dikenakannya bergantian antara yang kiri dengan yang kanan. “Aku tidak memakai bedak bayi,” Alisnya bertaut seolah mengingat kapan terakhir ia memakai bedak bayi. “mungkin ini wangi parfumku.” Kemudian ia tertawa renyah. Lelaki itu kembali mengadah ke luar pagar sekolah, menunggu teman-temannya datang untuk menjemput. Soojung meneruskan pembicaraan, berbicara tentang banyak sekali hal dengan Jonghyun. Tentang musik hingga tentang otomotif sekalipun.

Yoona memiringkan kepalanya. Menatap Jonghyun yang bernafas dengan tenang, jakunnya yang sesekali naik-turun saat ia menelan air liur, rambutnya yang sesekali bergoyang ketika angin bertiup, matanya yang menatap tajam ke arah gerbang sekolah.. ia mengamati sepasang bola mata itu lama sekali. Dan akhirnya, Yoona melihat tatapan sedih yang sebenarnya ada di dalamnya. Ia menyukai sepasang mata milik Jonghyun.

Kemudian Yonghwa dan Jungshin datang dengan motoro sport mereka, dan Minhyuk berada di belakang Jungshin. Mereka tersenyum ke arah Jonghyun dan Yoona, sedangkan Soojung langsung membuang pandangannya dari Yonghwa yang sebenarnya mencuri pandang ke arah gadis itu.

“Oke, aku duluan,” Ia melirik ke arah Yoona dan Soojung sebelum akhirnya menghilang di parkiran dan keluar dengan motor sport warna putihnya yang gagah.

            Yoona berulang kali memutar-mutar badannya di depan kaca. Melihat satu titik yang kurang dari dirinya pagi itu. Ia sudah memakai seragam sekolah warna putih dan bawahan selutut abu-abu. Kakinya beralaskan pantofel hitam dan kaos kaki putih. Rambutnya digerai dan disisipkan bando di sana. Persis seperti apa yang dipesankan oleh Park-seonsaengnim.

“Yoona-ya, kau tidak takut terlambat?” Suara samar-samar Nyonya Im dari dapur terdengar hingga kamar gadis itu.

“Iya bu! Sebentar lagi aku berangkat!” Sahut Yoona sambil menyembulkan kepalanya dari kamar dan berteriak ke arah dapur.

Yoona bergegas meraih tasnya dan berjalan cepat-cepat menuju stasiun subway. Ia turun di stasiun dekat gedung dinas pendidikan setempat dan masuk ke dalamnya. Tempat itu sudah disesaki oleh banyak sekali peserta dari berbagai sekolah di seluruh kota Seoul. Beberapa memakai jas seragam warna hitam yang keren, ada juga yang memakai seragam identitas sekolah, mereka melakukan pemanasan pagi itu.

“Yoona! Di sini!”

Gadis itu segera berbalik dan menuju sumber suara itu. Gadis-gadis dari sekolahnya sudah berkumpul di tangga depan gedung yang tahun lalu digunakannya untuk lomba melukis. Sekilas mereka semua nampak mirip dari kejauhan, rambut yang digerai dengan bando yang menaungi kepala masing-masing dan seragam yang sama persis.

Semuanya nampak cantik dengan make-up tipis sesuai dengan pesanan Jung-seonsaengnim. Tetapi, Soojung yang paling mencolok. Ia hampir tidak pernah menggerai rambutnya sekalipun di lingkungan sekolah. Bahkan di depan Yonghwa pun, ia memilih untuk mengepang rambutnya. Jadi, mungkin ini pertama kalinya orang-orang melihat Soojung dengan rambut cokelat bergelombangnya di gerai menutupi punggungnya. Ia nampak jauh lebih mempesona.

 

Beberapa saat kemudian, Jonghyun datang menyusul dengan seragam berwarna sama dan gitar di atas punggungnya. “Maaf aku terlambat.” Ujarnya sambil membungkukkan tubuh di hadapan Jung-seonsaengnim.

 

“Tidak, tidak apa-apa,” bibir guru seni musik itu terangkat. “Kita sudah pemanasan tadi pagi. Ayo, kita masuk saja ke aula.”

 

Jung-seonsaengnim berjalan di paling depan diikuti anggota-anggota paduan suara yang lainnya.

 

“Eh? Soojung?” Jonghyun menatap Soojung dari rambut hingga ujung sepatu pantofel hitamnya. “Ini benar-benar kau?”

 

Soojung tersenyum manis ketika mendapati Jonghyun melihat kepadanya dengan tatapan terheran-heran. “Kenapa memangnya?” Ia mengibaskan rambut pelan dan membiarkan aroma buah-buahan menyeruak keluar dari helai-helai rambutnya.

“Hei, aku harus berfoto denganmu nanti. Oke?” Jonghyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menyamakan langkah kakinya dengan Soojung. “Sungguh, kau terlihat seperti seorang gadis Jepang.. atau artis-artis yang sering muncul di TV!”

Yoona mendengar nada suara antusias Jonghyun yang hampir tidak pernah didengarkannya sebelumnya. Ia hanya mengerling ke belakang dan mendapati Soojung dan Jonghyun sedang terkikik-kikik berdua.

Tapi, Soojung memang pantas mendapat pujian itu. Yoona tidak bisa membantahnya.

“Ayo, ayo, foto sekali lagi!”

Jonghyun mendesah dan mengangkat kamera SLR milik Yuri dan menghitung satu, dua, tiga untuk kesekian kalinya. Yah, tidak ada yang bisa menandingi gaya-gaya kocak anak-anak paduan suara itu.

“Sudah, sudah, gantian aku yang foto,” Jonghyun mengembalikan kamera itu pada pemiliknya dan berdiri di pojok belakang sebelah Yoona. Yuri akhirnya menurut dan memfoto berulang kali regu paduan suaranya itu.

Yuri menurunkan kameranya dan membiarkannya menggantung di lehernya sambil melihat gadis-gadis itu mengambil stayrofoam berisi makan siang yang disediakan panitia. “Yuri, tolong fotokan kami!”

Jonghyun berseru sambil memegang lengan Soojung yang berusaha menghindar darinya. “Aah, aku tidak mau,” ucap Soojung sambil menutup pipinya yang merona malu.

“Ayolah Soo, Kapan lagi aku bisa berfoto denganmu?”

Akhirnya gadis itu berdiri di samping Jonghyun, merapikan poninya sekilas dan tersenyum ke arah kamera yang dipegang oleh Yuri. Kemudian Jonghyun mengeluarkan ponselnya dari saku celana seragamnya dan memberikannya pada Yuri.

“Tolong fotokan dengan ponselku juga.”

Yuri menurut saja, dan mengambilkan beberapa foto Jonghyun dan Soojung. Beberapa murid paduan suara berhenti di dekat mereka dan menyorak-nyoraki mereka seolah mereka pasangan yang baru saja berpacaran.

Yoona yang duduk di anak tangga gedung belakang Soojung dan Jonghyun berdiri ikut tersenyum lebar dan menyoraki mereka sebagai sahabat-yang-mendukung-pilihan-sahabatnya.

Setelah sesi pemotretan mini itu usai, Soojung duduk menyempil di antara Yoona dan Taeyeon. Gadis itu tidak dapat menyembunyikan senyum sumringah yang mengembang di wajahnya, membuat sepasang lesung pipit kecil di pipinya nampak jelas. Siapapun yang melihat Soojung, pasti tahu gadis itu sedang bahagia.

“Hai,” Jonghyun duduk di samping Yoona—dengan jarak belasan senti meter tentunya. “Mau?” Ia mengangkat dua gelas kecil berisi yoghurt cair rasa stroberi dari kantong plastik mini-market sekitar situ.

Sebenarnya Yoona tidak terlalu menyukai rasa stroberi, tapi ia mengangguk singkat dan mengambil gelas plastik yoghurt yang ada di tangan Jonghyun. Tangannya segera membuka tutup yang menaungi gelas itu dan bersiap meneguknya.

Cheers?”

Satu alis Yoona terangkat dan ia menurunkan kembali gelas yoghurt cair itu. Jonghyun memiringkan tubuhnya dan memandang lekat sepasang matanya. Lupakan tentang kupu-kupu yang biasanya menggelitik perutnya, ia merasa seisi kebun binatang menyerbunya dalam waktu bersamaan. Jonghyun mengangkat gelasnya dan mengguncangkannya sedikit.

Akhirnya Yoona menyambut ajakan laki-laki itu. “Cheers,” Ia menyentuhkan bibir gelas miliknya dengan milik Jonghyun dan meneguk yoghurt miliknya hingga tak bersisa. Ia memang tidak menyukai yoghurt berperisa stroberi, tapi apa artinya itu jika ia meminumnya bersama Jonghyun?

Yoona duduk di anak tangga gedung sambil mendengarkan suara mikrofon yang berdenging hingga keluar, mengumumkan pemenang lomba paduan suara. Yang tersisa hanya dirinya, Jonghyun, Jung-seonsaengnim, dan Yuri. Sedangkan yang lain sudah berdesakan di depan pintu aula untuk mendengarkan pengumuman.

“Aku selalu takut mendengar pengumuman pemenang lomba seperti ini,” Ujar Yuri, murid kelas tiga yang memiliki vokal menonjol di antara yang lainnya. Ia menunduk dan membenamkan wajahnya pada telapak tangannya. “Seonsaengnim, menurutmu pikir kita akan menang atau tidak nanti?”

Jonghyun mengerling ke arah Yuri, “Kupikir tidak, kita akan dapat juara dua atau tiga, mungkin.”

Yuri menyelipkan helai-helai rambutnya di belakang telinga dan memukul paha Jonghyun. “Ck, kenapa pesimis sekali sih?” Gadis itu melotot ke arah Jonghyun dengan tatapan tidak enak.

Seperti biasa, Jonghyun hanya tertawa sinis menanggapi Yuri. “Belum dengar kabar kalau juara satu SMA Negeri unggulan itu ya?” Ia bergantian memandang Yuri dan aula yang berjarak beberapa langkah dari tempat mereka duduk.

“Sungguhan? SMA Negeri yang tampil sebelum kita itu?” Yoona memandang ke arah Jonghyun. Garis matanya menurun, menandakan kekecewaan.

Jonghyun mengangkat kedua alisnya bersamaan pada gadis itu. “Sayang sekali kita tidak bisa mendapat juara satu ya..”

Tak berselang lama, suara dengung mikrofon tidak kembali terdengar karena tersamarkan oleh teriakan gadis-gadis anggota regu paduan suara termasuk Soojung yang melonjak-lonjak girang dan segera berlari berhambur menuju tempat Jung-seonsaengnim, Jonghyun, Yoona, dan Yuri duduk.

“Kita juara satu! Kita juara satu!” Pekik mereka dari kejauhan.

Yoona memalingkan wajahnya ke arah Jonghyun yang memperlihatkan deretan giginya. Jarang-jarang ia akan tersenyum selebar ini. “Kita.. juara satu? Bagaimana bisa?”

Jonghyun terkekeh dan mengguncang-guncangkan bahu Yoona, membuat tubuh gadis itu menjadi kaku seketika. “Karena ada kau yang ikut regu paduan suara ini, kita menang.”

Jung-seonsaengnim yang sejak tadi hanya diam setengah menahan nafas akhirnya mengeluarkan udara lewat hidungnya dengan lega. “Sudah kuduga Jonghyun hanya mengeluarkan omong kosong saja.”

Yuri kembali berdecak sambil menatap Jonghyun sebal. Sedangkan laki-laki itu hanya membalasnya dengan senyum ejekan yang menggelikan. Tidak biasa Jonghyun terus tersenyum dalam beberapa waktu terakhir ini.

Mungkin ada sesuatu yang membuatnya bisa tersenyum lebih lebar dan lebih tulus dibanding sebelumnya. Entah apa, namun Yoona menebak, itu pasti karena Soojung.

Tidak berselang lama setelah Yoona membuat hipotesa itu, Soojung berjalan menghampiri Jonghyun dengan wajah cerahnya yang berseri-seri—seperti biasa. Kemudian ia mengangkat tangannya di hadapan laki-laki itu, mengajak hi-five. Jonghyun tersenyum dan menyambutnya. “Usaha kita tidak sia-sia, kan?”  Mungkin itu pertama kalinya, Yoona melihat Jonghyun tersenyum lebar sambil menatap dalam lawan bicaranya—Kim Soojung—dalam-dalam dan nyaris tidak berkedip sekalipun.

Senyum bahagia Yoona perlahan mulai luntur. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di sana sejak dulu. Mengapa Soojung? Mengapa selalu dia yang berada di atas segalanya? Mengapa dirinya selalu kalah? Mengapa? Sejenak ia merasa waktu berhenti. Maniknya terus menyaksikan kontak mata antara Soojung dan Jonghyun, ia tidak menyukainya.

Kadang, Yoona merasa kamera kehidupan harus memiliki durasi yang dikhususkan untuk menyorotnya. Meski ia tidak selalu berbicara, meski ia tidak selalu menjadi nomor satu.. tapi ia ingin merasakan menjadi peran utama dalam kehidupan. Ia ingin orang lain tahu berapa kali ia harus berulang-ulang menghapus dan menggambar sketsa di atas kanvas, melihat bagaimana ia menggoreskan kuas di atas kanvas. Tidak melulu gadis yang bernyanyi di atas panggung.

Mengapa Jonghyun tidak sedikit pun melihatnya?

            Di dalam subway menuju rumahnya, tangannya mencengkeram pegangan yang menggantung di sepanjang besi yang menggantung di atas langit-langit kereta bawah tanah itu. Sesekali ia memainkan ponselnya, melihat-lihat lukisan di galeri online hingga satu pesan dari Soojung masuk.

Jonghyun sialan, aku kecewa pernah menaruh perasaan padanya. Haha.”

            Belum sempat Yoona mencerna pesan singkat dari Soojung yang dikirimkan padanya, pesan yang jauh lebih panjang dari Soojung dikirimkan pada Yoona.

“Bodoh sekali aku memutuskan Yonghwa demi Jonghyun. Foto kami berdua yang di-upload di Instagram-nya menerima banyak komentar, salah satunya dari Tiffany. Begini katanya: ‘Wah, calon pacar barumu ya? Selamat :p’. Dan kau tahu apa balasan Jonghyun? ‘Tidak, hanya sekedar gadis sementara. Kau tidak usah khawatir hahaha.’ Apa dia pikir aku tidak bisa membacanya?Kurang ajar.”

            Tidak, tidak mungkin Jonghyun akan berbuat seperti itu pada Soojung. Tidak mungkin Jonghyun sekejam itu. Gadis itu cepat-cepat membuka akun Instagram milik Jonghyun dan menemukan foto terbaru di sana. Seorang gadis dan seorang pemuda memakai seragam sekolah dengan senyum simpul di bibir masing-masing.

Ia membaca komentar yang ada di sana, dan sesuai yang diceritakan Soojung, ada nama Tiffany yang mengirimkan komentar—persis seperti yang dikirimkan Soojung. Dengan susah payah, Yoona menelan air liurnya sendiri.

Bukankah barusan Jonghyun melambungkan Soojung tinggi-tinggi hingga gadis itu tidak dapat berhenti tersenyum selama seminggu ini? Bukankah Jonghyun yang membuat Soojung memutuskan Yonghwa? Kenapa dalam beberapa jam saja laki-laki itu dapat menghempaskan Soojung kembali ke tanah?

Oke, Yoona sebenarnya juga menyukai Jonghyun. Tapi bukan berarti ia tidak mempedulikan sahabatnya yang juga menyukai laki-laki yang sama. Gadis itu bertindak cepat, ia segera turun di stasiun perhentian subway berikutnya dan berganti arah menuju sekolahnya.

Dalam perjalanan kereta itu, gadis itu terus meremas-remas jemari tangannya. Perasaan takut, cemas, dan khawatir mendadak menyelimutinya. Ia termagu sejenak sambil menatap tembok hitam yang melintas cepat di terowongan dan memikirkan tingkahnya. Kadang ia merasa terlalu baik pada Soojung, tetapi di saat yang bersamaan ia merasa terlalu jahat pada sahabatnya itu.

Murid kelas dua itu segera berlari dari gerbang sekolah menuju ruang kesenian di bagian belakang sekolah. Ia mendapati Park-seonsaengnim sedang duduk dengan kacamata yang menggantung di batang hidungnya dan menilai setumpuk gambar siswa di atas mejanya.

Seonsaengnim,”

Pria paruh baya itu menoleh dan mengulas senyum yang menghangatkan. “Yoona?” Ia melepas kacamatanya dan mengulurkan tangan. “Kudengar kau menang lomba paduan suara itu ya? Selamat!”

Dengan masih terengah-engah, Yoona menarik kursi dan duduk di depan meja Park-seonsaengnim. “Menurutmu, Jonghyun masih memiliki hubungan dengan Tiffany?” Ia memajukan tubuhnya, matanya mendelik seolah menagih jawaban kilat dari gurunya.

Park-seonsaengnim mengerutkan dahinya sejenak. “Jonghyun bercerita banyak padaku, tapi sepertinya ia tidak punya perasaan apa-apa lagi pada Tiffany.” Ia menopang wajahnya dengan tangan dan menggaruk-garuk dagunya yang ditumbuhi janggut yang belum dicukurnya. “Memangnya ada apa?”

Cepat-cepat Yoona mengeluarkan ponselnya dan membuka Instagram milik Jonghyun dan menunjukkan percakapan singkat antara Jonghyun dan Tiffany. “Lalu, bagaimana pendapatmu tentang ini?” Ia membiarkan Park-seonsaengnim meraih ponselnya dan membaca satu per satu kata yang dituliskan oleh Tiffany dan Jonghyun. “Itu foto Jonghyun dan Soojung—temanku itu. Dan.. dia juga menyukai Jonghyun. Jonghyun sudah membuat Soojung begitu senang, dan seolah-olah Jonghyun menyatakan bahwa ia hanya mempermainkan Soojung saja.”

Dengan masih menatap ponsel Yoona, Park-seonsaengnim menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau yakin ini Jonghyun yang menuliskannya?” Akhirnya laki-laki itu memandang ke arah Yoona dan mengembalikan ponsel yang dipegangnya pada pemiliknya. Dahinya masih berkerut dalam, mengisyaratkan bahwa ia masih berpikir keras. “Kalau ini memang benar-benar Jonghyun, aku tidak percaya dia tega melakukannya.”

Yoona mengendikkan bahunya. “Entahlah, tapi siapa lagi jika bukan Jonghyun?” Ia mendesah pelan. “Rasanya dia jahat sekali, memperlakukan seorang gadis seperti itu. Dan kurasa ini jauh dari penilaianmu tentang Jonghyun selama ini.” Jemarinya saling terpaut dan meremas satu sama lain kuat-kuat. Gadis itu dapat merasakan matanya panas dan pandangannya semakin memburam karena air mata yang menumpuk di sana.

Gadis itu akhirnya berdiri dan menarik kursi, kemudian berjalan keluar dari ruang kesenian. Ia memang tidak berhak merasakan ini—dia tidak dibuat bahagia, dia tidak pula dicampakkan—tapi ia tidak bisa menahan air matanya. Sejenak ia merasa ia kehilangan keseimbangan tubuhnya, tetapi ia memilih berlari keluar dari ruangan itu sambil menangis.

Park-seonsaengnim yang berniat mengikuti gadis itu akhirnya tidak berhasil. “Yoong, Tunggu! Jonghyun tidak melakukan itu!”[]

 

Note: Hai! Akhirnya sudah sampai di part 5, dan berhubung part 6 adalah bagian terakhir, maka saya akan memproteknya dengan password yang hanya diberikan pada good reader yang mau meninggalkan komentar di setiap part.

Request Password bisa lewat @_bluemallows via twitter atau tirzasetiabudi di line/kakaotalk. Terimakasih🙂

92 thoughts on “[5] Where We Belong

  1. aku mbayanginnya nanti jonghyun bakal ketemu yoona yang lagi nangis itu hehehe..

    harus minta pswordnya nih. penasaran bgt..

  2. Seperti biasa. Bagus dan dapet feel nya. Tapi… kenapa chap 6 nya harus di protect siiih,??? Minta nya harus dari Twitter atau line/kakaotalk. Aku gak main itu semuaaa😥
    Jadi aku harus minta dari mana?

    • Apa author-nim gak merasa bersalah kalau misalnya ada reader yg udah ngikutin Where We Belong dari chap 1 dan dengan setianya ngasi komentar/respon untuk setiap partnya tapi harus berhenti di chapter 5 karna gak punya akun Twitter , Line, atau Kakao talk buat minta password?
      Karena serius aja, aku gak punya akun Twitter, Line, ataupun kakao talk. Dan harus minta password dari mana?
      Mohon kebijakan yg lebih ‘bijak’ dari author-nim deh, untuk masalah yg satu ini.

  3. Aku rasa si emang itu bukan tulisannya jonghyun deh, kali aja itu perbuatan orang lain bukan dia. Thor aku ntar mau minta pw melalui twitter nama twitter aku @jengqish. Tolong dibales secepatnya ya thor soalnya gak sabar baca chapter selanjutnya. Gomawo

  4. aku baru baca dari awal sampe part ini keren banget thor!!!
    aahhh nggak tau gimana kalo aku yang jadi yoona, pasti sakit banget kalo sahabatnya suka sama orang yang dia suka

  5. aku baru baca dari part 1 sampe part 5 ini
    penasaran banget jonghyun sebenernya masih sayang tiffany, atau udah berpaling ke soojung?
    terus perasaannya ke yoona gimana? dan gimana nasib yoona?
    huaaaaa deg2an loh bacanya
    kasian yoonanya, dia baru pertama kali suka sama namja dan kalo jonghyun nggak suka sama yoona pasti rasanya sakit banget

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s